ARTIFICIAL LOVE

Chapter Two

.

.

Main Cast :

CHANBAEK

.

Other Cast :

Kim Heechul

Park Dajung (OC)

.

Genre :

Romance, Angst

.

Rate :

/ M / YAOI /

.

.

Disclaimmer :

FF ini adalah murni karya BaekQiu.

Jika terjadi kesamaan alur dan cerita, itu hanyalah sebuah kebetulan semata

.

.

My first yaoi fic ever!

Hope you guys enjoy it!

Beware of typos!

.

.

Happy reading!

.

.

.

.

.


Yang Baekhyun ingat hari itu adalah akhir dari musim dingin. Itu artinya, hari ini adalah awal musim semi. Dia membuka mata di pagi hari dan mendapati matahari bersinar terang dan terasa hangat menembus jendela kamarnya. Dan kabar baiknya adalah hari ini adalah hari libur.

Berniat kembali bergelung di bawah selimut, Baekhyun harus dikejutkan dengan sebuah ketukan kencang di pintu kamarnya. Memutar bola mata kesal, dia menuruni tempat tidur dan menyeret kakinya menuju pintu. Kalau dia tidak segera membuka pintu, mungkin beberapa saat lagi pintu kamarnya akan jebol.

"Ada apa, bu?" tanya Baekhyun sambil mengucek matanya.

"Seseorang bernama Park Chanyeol mencarimu," kata ibunya acuh.

Seketika itu juga Baekhyun melebarkan bola matanya. "Park Chanyeol?" pekik Baekhyun tak percaya.

Heechul langsung menutup telinganya. "Brengsek, tidak bisakah kau bicara sedikit pelan?"

"M-maaf. Di mana dia, bu?"

"Di ruang tengah," tunjuknya dan berlalu meninggalkan Baekhyun menuju dapur.

Baekhyun tiba-tiba berada dalam kondisi kalang kabut. Dia mengunci pintu kamarnya dan segera membongkar isi lemari pakaiannya. "Sial, tidak adakah satu saja pakaian yang pantas di sini?" gerutunya hampir menangis.

Seluruh pakaiannya memang sudah usang—ketinggalan jaman. Dan sebenarnya, dia tidak perlu mengenakan pakaian bagus untuk bertemu Chanyeol. Tetapi Baekhyun tetap saja tidak menyerah untuk menggeledah isi lemarinya. Dia ingin sekali tampil sedikit 'pantas' di hadapan Chanyeol.

Dan pada akhirnya, hanya sebuah kaos hitam polos dan jins belel yang bisa dia temukan.

Baekhyun rasanya ingin menangis. Dia segera membasuh wajah dan menyikat gigi. Setelah dirasa penampilannya sudah lebih baik, dia keluar dari kamar dan menghampiri Chanyeol yang sedang mengobrol dengan ibunya di sofa ruang tengah.

"Bagaimana bisa pangeran tampan ini tersesat di gubuk kita?" kata ibunya mengusap-usap lengan berotot Chanyeol penuh kagum, yang membuat Baekhyun malu setengah mati.

"Bu..." Baekhyun memelas.

"Dan kau tahu, aku dan Park Chanyeol ini ternyata seumuran. Iya kan?" ibu menoleh pada Chanyeol untuk meminta konfirmasi.

"Ya. Kami seumuran."

Baekhyun menghela napas resah. Pelacur tetaplah pelacur. Ibunya memang wanita paling jalang yang Baekhyun kenal. Tapi setidaknya ibu berhasil mengorek sedikit informasi tentang Chanyeol ; dia berusia tiga puluh tiga tahun.

"Bu, bisa tinggalkan kami sebentar? Mungkin ada hal penting yang ingin Chanyeol bicarakan denganku."

Heechul memutar bola matanya. "Hal penting apa maksudmu? Kenapa kau berlagak sekali? Cih!" Tetapi tak ayal ibunya meninggalkan ruang tengah dan sebelum masuk ke kamarnya dia mengedipkan mata pada Chanyeol. "Kita akan bertemu lagi nanti ya, tampan!"

"Maafkan ibuku," kata Baekhyun sambil berdiri tak jauh dari sofa.

"Tidak apa. Mau keluar dan mencari udara segar?" tawar Chanyeol dengan senyum ramahnya.

"Oke."

.

.

.

Musim semi akhirnya tiba. Es di jalanan mencair dan udara segar menyambut paru-paru Baekhyun ketika dia dan Chanyeol keluar dari gang di mana dia pernah diganggu pria-pria mabuk hidung belang. Akhirnya gang sempit itu tidak gelap lagi. Ada secercah cahaya matahari yang bersedia menyinarinya.

"Sudah kaupikirkan tawaranku?" tanya Chanyeol.

Baekhyun sedikit menegang mendapati pertanyaan itu. Dia menatap ujung sepatunya yang sudah butut dengan resah. Dia sudah mendapat jawaban untuk pertanyaan itu. Akan tetapi Baekhyun masih ragu untuk memulai. Ini adalah langkah besar yang harus diambil anak usia enam belas tahun sepertinya. Tentu saja dia tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan. "Belum."

"Sulit sekali ya untuk memutuskan?" tanya Chanyeol.

"Begitulah," desah Baekhyun. Dia mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke jalanan. "Boleh aku tanya sesuatu?"

"Tentu."

"Kenapa kau mengajakku tinggal bersamamu?"

"Kau bilang kau ingin memulai hidup baru, kan?"

"Selain itu?"

"Kalau kau tinggal bersamaku, kurasa aku tidak akan kesepian lagi. Kita bisa berteman," kata Chanyeol.

Tidak. Aku tidak ingin berteman.

Mereka terus berjalan dan berjalan hingga menemukan satu halte bus sepi. Keduanya duduk bersampingan dan diam untuk beberapa saat lamanya di sana. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sampai Baekhyun kembali berbicara. Dia sudah lebih berani menyuarakan isi kepalanya sekarang. "Ada alasan lain selain itu?"

"Apa yang ingin kaudengar dariku?" Chanyeol malah bertanya balik.

"Istrimu bagaimana?"

"Dia hanya akan pulang saat akhir pekan. Tapi aku akan membicarakan ini padanya nanti. Aku yakin dia pasti setuju."

Baekhyun kembali diam. Apa mungkin Dajung akan menyetujuinya? Baekhyun ragu akan hal itu. Tetapi kalau dia pikirkan lebih dalam lagi, pria dan pria tinggal di satu atap yang sama sangatlah normal. Tidak akan menimbulkan kecurigaan apa-apa. Toh, Chanyeol adalah pria straight.

Tetapi yang membuat Baekhyun tidak yakin adalah dirinya sendiri. Bagaimana kalau dia semakin menaruh hati pada Chanyeol?

"Akan kupikirkan lagi. Tapi terima kasih atas tawaranmu," kata Baekhyun dan Chanyeol tersenyum hangat padanya.

Hari itu Chanyeol mengajaknya berkeliling Seoul. Mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah Baekhyun kunjungi. Mengajak Baekhyun makan di restoran mahal. Bahkan mengambil beberapa foto bersama. Rasanya ini seperti mimpi. Ini juga seperti kencan-kencan yang sering dilihatnya di drama malam yang picisan itu. Tetapi Baekhyun tidak mengeluh. Dia malah merasa berdebar dan ada gelenyar bahagia yang menghinggapi hatinya.

Tidak pernah dirinya merasa sebahagia ini.

Dan waktu akan cepat sekali berlalu ketika kita benar-benar menikmatinya. Tanpa terasa hari sudah malam. Chanyeol mengantarkan Baekhyun pulang kembali ke flatnya. Kawasan lampu merah kembali temaram. Plang-plang besar bertuliskan motel menyala terang di beberapa tempat. Dan kemungkinan besar saat ini ibunya berada di salah satu motel itu sedang melayani pelanggannya.

"Terima kasih untuk hari ini," kata Baekhyun sambil menunduk menyembunyikan rona bahagianya.

"Well, itu bukan apa-apa." Kemudian Chanyeol merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Sebuah kotak berwarna hitam terbuat dari bahan kulit. Dia menyodorkan kotak itu pada Baekhyun.

Baekhyun menerimanya dalam keremangan, juga dalam kebingungan. "Apa ini?"

"Buka saja."

Baekhyun menurut dan membukanya. Sebuah jam tangan menyambut penglihatannya. Dia hanya mampu menatap benda berdetak itu dengan mata melebar. Baekhyun mengangkat wajahnya untuk menatap mata Chanyeol.

"Maaf aku tidak bisa menemukan jam tanganmu yang hilang. Sebagai gantinya, pakai jam tangan ini."

"Ini mahal." Baekhyun mengerutkan dahinya. Dia menaruh kembali jam tangan itu ke tempatnya dan menyodorkan kotak itu kembali pada Chanyeol. Namun Chanyeol menolaknya dan malah memaksa Baekhyun untuk menggenggamnya erat.

"Ini milikmu sekarang."

"Kalau begitu, terima kasih," ucap Baekhyun pada akhirnya.

"Aku akan pulang sekarang," kata Chanyeol. Baekhyun yang sedang terpaku menatap jam tangan barunya segera mengangkat wajahnya, menatap Chanyeol. Pria itu juga sedang menatapnya. Kedua manik mata mereka bertemu.

"O-oke."

Dan Baekhyun hampir terkesiap ketika Chanyeol mendekatkan wajah padanya. Chanyeol mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipinya. Begitu singkat sampai Baekhyun merasa dirinya seperti tengah bermimpi atau berimajinasi. Tetapi ini benar-benar nyata. Park Chanyeol sudah menciumnya.

.

.

.

Kim Heechul mengerang kesal ketika dia masih harus mengenakan pantyhose sementara pelanggannya sudah menanti di motel seberang jalan. Kenapa dia harus repot-repot mengenakan benda itu kalau pada akhirnya nanti akan dirobek paksa juga? Dia tidak habis pikir pada fantasi seks pria-pria itu. Apanya yang menggairahkan dari kain tipis elastis ini?

Tersaruk-saruk Heechul menuruni tangga. Tempat tinggalnya di lantai tiga tidak memberinya keuntungan sama sekali. Dia harus berjuang keras menuruni tangga dengan heel-nya yang menjulang dan mini dress murahnya yang kelewat ketat, mencetak seluruh lekuk tubuhnya. Kegiatan malamnya baru akan dimulai tapi Heechul sudah dalam keadaan mood yang buruk.

"Apa ini?" Heechul mendengar suara yang sangat familiar ketika dia melintas di dekat semak, bagian terisolir dan cukup temaram di sisi flat tempat tinggalnya. Dia mengedarkan pandangannya dan menemukan Baekhyun tengah berdiri berhadapan dengan Park Chanyeol, pria yang tadi siang datang membawa Baekhyun pergi.

Heechul tidak jadi melangkah dan memutuskan untuk mencuri dengar. Dia mencari tempat yang cukup aman untuk menguping juga mengintai mereka berdua.

"Buka saja," kata Chanyeol. Heechul menajamkan telinganya. "Maaf aku tidak bisa menemukan jam tanganmu yang hilang. Sebagai gantinya, pakai jam tangan ini."

Heechul melihat benda berkilau di bawah cahaya temaram. Sebuah jam tangan. Pria itu memberikan anaknya sebuah jam tangan!

"Ini mahal," kata Baekhyun.

"Ini milikmu sekarang," kali ini Chanyeol lagi yang berkata.

Heechul masih mengawasi mereka. Ada perasaan berkecamuk di dadanya yang sulit sekali dijelaskan. Dilihat dari bagaimana cara Baekhyun berbicara dan bersikap di depan pria itu, mungkinkah...anaknya itu menyukai Chanyeol? Tetapi Heechul segera menggelengkan kepalanya kencang. Mengusir dugaan buruk itu jauh-jauh.

Tetapi semua pertanyaan di kepalanya seperti mendapat jawaban ketika Heechul dengan mata kepalanya sendiri melihat Chanyeol mencium pipi anaknya. Matanya menjadi dua kali lebih lebar. Amarah dengan cepat berkumpul di dadanya dan meletup-letup. Heechul urung untuk pergi menemui pelanggannya. Dia memutuskan untuk kembali ke rumahnya dan mendamprat Baekhyun. Memberi bocah tengik itu pelajaran hidup.

Dan benar saja, ketika Baekhyun masuk ke dalam rumahnya, dia disambut oleh sebuah tamparan cukup keras dari ibunya. Baekhyun memegangi pipinya dengan terkejut. Dan menatap sang ibu tak percaya. Sepanjang hidupnya, Baekhyun tidak pernah menerima kekerasan fisik. Ibunya memang senang memaki, tetapi tidak pernah memukulinya. Ini pertama kalinya dia melihat ibunya begitu marah.

"Anak haram tidak tahu diri! Kau begitu menjijikan!" pekik ibunya.

Baekhyun yang belum mengerti betul situasi yang sedang dihadapinya hanya mampu melebarkan matanya. Bingung bercampur rasa takut melihat amarah ibunya itu. "Apa salahku, bu? Kenapa ibu memukulku?"

"Kau bertanya apa salahmu?" ibunya melotot tajam dan bersiap untuk menjambak rambut Baekhyun. Dia menyeret anaknya yang sedang menjerit-jerit kesakitan kemudian menghempaskannya ke sudut ruangan. Dadanya naik turun menahan emosi yang tengah membakarnya. "Aku jijik pada manusia penyuka sesama jenis! Kau lebih kotor dari pelacur sepertiku! Kau lebih menjijikan dari pada binatang!"

Baekhyun menatap ibunya dengan nanar. Jadi...ibunya tahu? Air mata meluncur deras di pipi Baekhyun. Hatinya sakit, wajahnya juga sakit. Batinnya terluka. Dia tahu ibunya tidak pernah menyukainya. Dia selalu dicaci dimaki, akan tetapi tidak pernah sampai ibunya bermain tangan seperti ini. Tetapi Baekhyun tidak hanya duduk di sana untuk berdiam diri. Dia sudah muak diperlakukan seperti sampah oleh ibunya. Dia benar-benar muak. "Apa hakmu menilaiku seperti itu?" teriak Baekhyun pada ibunya.

"Aku ibumu, brengsek!"

"Kau bukan ibuku! Kau hanya pelacur yang tidak bisa menerima kenyataan hidup dan terus menerus melampiaskan amarahmu padaku! Kau tidak berhak mengataiku seperti itu!"

"Apa kau bilang?!" Heechul merasa emosinya sudah benar-benar berada di puncaknya. Dia melepaskan heel yang dikenakannya dan memukulkannya ke wajah Baekhyun hingga pipi anak laki-lakinya itu mengeluarkan darah segar akibat goresan tumitnya yang tajam. Dia kalap dan tidak bisa lagi menghentikan amukannya. "Brengsek! Pergi kau dari sini! Aku menyesal sudah melahirkanmu! Anak haram kurang ajar!"

Baekhyun bangkit dan dengan terhuyung-huyung meninggalkan flat yang sudah menaunginya dari panas dan hujan, salju dan badai selama enam belas tahun itu. Dia menangis sejadi-jadinya. Melangkah tak tentu arah ke mana pun kakinya membawa pergi. Dia sudah hancur. Tidak tahu lagi akan seperti apa hidupnya setelah ini. Ibu sudah mengusirnya dan kini dia sudah tidak memiliki tempat tinggal.

Bukankah ini yang kuinginkan? Terbebas dari neraka itu? Tetapi kenapa rasanya sakit sekali?

Baekhyun tidak ingat bagaimana dirinya bisa sampai di tempat tinggal Chanyeol. Dia baru menyadarinya setelah berdiri beberapa saat sambil menekan bel pintu. Chanyeol keluar setelah lima menit Baekhyun berdiri di depan pintunya. Dan tentu saja Chanyeol menyambutnya dengan keterkejutan luar biasa.

"Baekhyun!" pria itu menghampiri Baekhyun dengan mata terbelalak. "Apa yang terjadi?"

"Boleh aku masuk?" tanya Baekhyun. Wajahnya pucat. Kontras sekali dengan darah yang mengalir di pipinya. Ada lebam-lebam di wajah dan lengannya.

Chanyeol membawa Baekhyun ke ruang tengah dan mendudukkannya di sofa. Dengan sigap dia mengambil kotak obat dan membantu Baekhyun mengobati lukanya. Sesekali Baekhyun meringis perih. Luka di pipinya akibat goresan tumit heel ibunya cukup menyakitkan, apalagi ketika Chanyeol membubuhkan antiseptik di sana. "Sebenarnya apa yang terjadi padamu?"

"Terlalu panjang ceritanya," gumam Baekhyun. Tidak mungkin dia berkata jujur pada Chanyeol. "Aku dan ibu terlibat pertengkaran hebat dan dia mengusirku."

"Ya Tuhan." Chanyeol menghela napas berat. "Tinggallah di sini. Ini demi kebaikanmu."

Baekhyun menatap tangannya yang saling bertautan. Air mata sudah kembali menggenang di pelupuk mata. Kepergian ini... tidak seperti yang diharapkannya. Dia memang berencana pergi dari flat kumuhnya, tetapi tidak dalam keadaan ibunya yang membencinya setengah mati. Dia ingin berpisah dengan meninggalkan kesan baik pada ibunya karena kemungkinan Baekhyun tidak akan pernah menemuinya lagi.

Tetapi sekarang... "Kau sudah bicara dengan istrimu?"

"Dia sudah setuju. Kau boleh menempati kamar tamu di sebelah sana," tunjuk Chanyeol.

"Terima kasih, Chanyeol," kata Baekhyun terharu. Dia menggenggam tangan Chanyeol dan pria itu membalas ungkapan terima kasihnya dengan sebuah senyum hangat.

"Lukamu sudah kuobati. Sekarang istirahatlah. Kau pasti lelah."

"Ya, aku memang lelah. Sekali lagi terima kasih ya."

"Hari ini kau sudah mengucapkan ribuan terima kasih. Aku sampai bosan mendengarnya," kata Chanyeol dengan nada bercanda. Membuat Baekhyun sedikit mengulas senyum.

"Itu karena kau pantas mendapatkannya."

"Kalau begitu, selamat malam."

Chanyeol mendekat hendak mendaratkan sebuah kecupan lagi di pipi Baekhyun namun dia mengurungkan niatnya. Dia tampak ragu. Baekhyun yang menyaksikan keraguan Chanyeol segera menyadari bahwa mungkin Chanyeol tidak ingin menyakiti Baekhyun karena luka-luka di wajahnya. Dengan alasan itu, Baekhyun memberanikan diri untuk mengecup pipi Chanyeol.

"Selamat malam."

.

.

.

Tinggal satu atap bersama Park Chanyeol nyatanya bukan hal yang mudah. Karena dengan tinggal bersamanya, Baekhyun menjadi tahu bagaimana keseharian pria itu, kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan Chanyeol, dan menghabiskan waktu bersama untuk sekedar menonton tv atau makan pun menjadi rutinitas mereka sehari-hari.

Dan Baekhyun merasa dirinya semakin jatuh dalam pesona Chanyeol.

Chanyeol meminjamkan seluruh pakaiannya pada Baekhyun. Dengan kata lain, mereka berbagi pakaian bersama. Tubuh Chanyeol yang lebih tinggi dan besar, membuat seluruh pakaian pria itu yang dipakai Baekhyun menjadi kelonggaran. Baekhyun senang sekali memakai kaos Chanyeol yang kebesaran. Celana milik Chanyeol yang muat di kakinya pun hanya celana pendek saja. Dan itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari bagi seorang Chanyeol.

"Kita akan membeli pakaian baru untukmu sepulang aku bekerja," kata Chanyeol pada hari jumat pagi sebelum dia berangkat kerja. Mereka sedang menikmati sarapan pancake yang disiram dengan maple sirup.

"Tidak usah. Aku nyaman mengenakan pakaianmu."

"Tidak. Kau harus memakai pakaian yang pas untuk ukuran tubuhmu," kata Chanyeol tegas. Kemudian dia menghela napas dan bergumam, "Istriku akan pulang besok."

Meski usianya masih muda, tetapi Baekhyun mengerti maksud ucapan Chanyeol. Pria itu pasti tidak mau istrinya menyaksikan Baekhyun mengenakan pakaian suaminya. Sebaik apa pun Dajung, pasti dia punya batasan tertentu soal privasi kehidupan rumah tangganya. Dajung tidak akan mengijinkan Baekhyun bertindak seenaknya di rumahnya sendiri.

"Baiklah." Baekhyun mengangguk patuh. Dia kembali menyuapkan sesendok pancake-nya. Tiba-tiba saja dia menjadi murung. Dajung akan pulang dan dia tidak bisa lagi menghabiskan waktu berdua saja dengan Chanyeol seperti hari ini atau hari-hari kemarin. Tetapi setidaknya wanita itu hanya akan tinggal selama dua hari saja. Baekhyun hanya perlu sedikit bersabar menanti wanita itu kembali ke Bundang.

Ya, begitu.

Dan ketika Dajung pulang, mimpi buruk sebenarnya untuk Baekhyun akhirnya tiba juga. Dajung memang baik. Dia wanita elegan, ramah, dan pemurah. Yang membuat Baekhyun marah pada wanita itu adalah ketika suatu malam Baekhyun mendengar desahannya. Begitu kencang dan nikmat. Malam itu Chanyeol dan Dajung mungkin sedang bercinta.

Rasa cemburu membakar seluruh sel di tubuhnya. Baekhyun mengunci diri di kamarnya sambil menutup telinganya kencang-kencang. Tetapi desahan itu masih bisa dia dengar dengan baik. Chanyeol pasti hebat di atas ranjang sampai bisa membuat istrinya menjerit-jerit nikmat seperti itu. Baekhyun menggigil di atas tempat tidurnya. Dia juga manusia normal yang akan terangsang mendengar suara-suara bergairah seperti itu.

Dia ingin menangis ketika kejantanannya sudah setengah tegang di balik celana. Sementara Chanyeol dan istrinya ada di ruangan lain sedang bercumbu dan menyatu dalam persetubuhan, Baekhyun harus puas hanya dengan menyentuh dirinya sendiri. Mencari kenikmatan dengan mendengarkan geraman rendah Chanyeol ketika dia menghujamkan kejantanannya ke dalam tubuh istrinya.

Baekhyun memijat kejantanannya pelan, membayangkan apabila saat ini yang berada di bawah tubuh Chanyeol adalah dirinya. Membayangkan bahwa Chanyeol menghujamkan kejantanannya ke dalam tubuhnya. Baekhyun mendesah tertahan. Dia mulai menggerakkan tangannya dengan cepat. Kejantanannya sudah menegang sempurna. Cairan precum bening sudah tak henti-hentinya menetes.

Dan kegiatan panas di kamar Chanyeol masih berlangsung. Erangan dan desahan semakin keras menandakan mereka akan segera mencapai puncaknya. Baekhyun juga tidak kalah cepat memacu dirinya untuk sampai pada puncak kenikmatan. Dan ketika Chanyeol memperdengarkan geraman terakhirnya, saat itulah Baekhyun juga kehilangan kendali dirinya dan mencapai orgasme.

.

.

.

Chanyeol berbaring di samping istrinya yang sedang mengatur napas dengan susah payah. Seperti biasa, percintaan mereka selalu hebat dan memuaskan. Apalagi Chanyeol harus menahan hasrat untuk menyentuh istrinya itu hingga akhir pekan. Persetubuhan yang terjadi selalu menggairahkan dan membakar. Dan biasanya tidak hanya akan berakhir sampai satu ronde saja.

"Bagaimana?" tanya istrinya. "Kau sudah berbicara pada Baekhyun?"

"Belum. Aku masih mencari waktu yang tepat," sahut Chanyeol. Sebenarnya perbincangan ini yang paling dihindari Chanyeol dari istrinya.

"Kapan?" protes istrinya tidak sabar.

"Ini tidak mudah bagiku, Dajung. Mengertilah." Chanyeol menghela napas berat.

"Kau hanya perlu tidur dengannya."

"Tapi aku tidak bisa. Aku mencintaimu. Mana bisa aku tidur bersama wanita atau pria lain. Pikirkanlah perasaanku," kata Chanyeol setengah kesal. Dia ingin sekali marah tetapi tidak sanggup melakukannya ketika melihat ekspresi sedih di wajah istrinya.

"Maafkan aku..." gumam Dajung sambil membenamkan wajahnya di dada Chanyeol dan terisak. "Ini semua karena ak—"

"Sstt!" Chanyeol segera menaruh telunjuknya di depan bibir istrinya. "Aku akan melakukannya. Aku janji. Sekarang, kau tidak perlu menangis."

"Terima kasih, sayang," gumam Dajung di dada suaminya. "Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu," balas Chanyeol. Kemudian dia dengan cepat menarik istrinya hingga wanita itu duduk di atas pangkuannya. "Nah, bagaimana kalau kita buat malam menggairahkan ini tidak cepat berakhir?"

"Women on Top?"

"Tentu. Siapa takut!"

.

.

.

Baekhyun tidak mengerti dengan perasaannya.

Kesal, mungkin iya. Dia kesal dan marah pada Chanyeol. Pria itu seolah mengacuhkan Baekhyun sepanjang Dajung ada di sisinya. Perhatian Chanyeol hanya tertuju pada istrinya. Dan hal itu benar-benar membuat Baekhyun terbakar api cemburu. Dia berharap Dajung tidak pernah pulang sehingga dirinya dan Chanyeol bisa menghabiskan waktu berdua tanpa terganggu oleh orang lain.

Hah, tapi itu hanyalah sebuah sisi egois dirinya yang menginginkan Chanyeol untuk dirinya sendiri.

Kenyataannya, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dan hanya mampu menjadi penonton untuk kemesraan Chanyeol dan istrinya.

"Aku titip Chanyeol padamu, Baekhyun," kata Dajung.

Baekhyun menghela napas lega. Sekaligus senang. Akhirnya hari ini datang juga. Akhirnya Dajung akan kembali ke Bundang. Tidak ada yang lebih membahagiakan lagi selain mengetahui Chanyeol akan berpisah jauh lagi dari istrinya.

Dan hari-hari selanjutnya, hanya ada Baekhyun dan Chanyeol.

Setelah Dajung pergi, barulah Chanyeol tampak kembali menganggap keberadaan Baekhyun. Chanyeol-nya sudah kembali.

"Mau makan sesuatu?" tanya Chanyeol ketika Baekhyun duduk di sofa menyaksikan pertandingan baseball yang menjenuhkan.

"Kalau tidak merepotkanmu," ujar Baekhyun dengan raut wajah sedikit masam. Dia hanya sedikit kesal dengan kenyataan bahwa Chanyeol kembali padanya hanya karena Dajung sudah tidak ada di sisinya. Dia merasa...dinomorduakan. tapi mungkin kini keadaan akan membaik. Chanyeol sudah menjadi milik-nya lagi.

Chanyeol berkutat di dapur seorang diri sementara Baekhyun sibuk memandangi punggung tegap pria itu dari meja makan. Chanyeol benar-benar pria sempurna. Bagaimana kata 'sempurna' bisa disandang dengan begitu mudahnya oleh pria itu. Tanpa cacat. Dan akan lebih sempurna lagi jika Chanyeol menjadi miliknya, pikir Baekhyun.

"Kenapa tidak makan?" tanya Chanyeol ketika mendapati Baekhyun hanya menatap ke arahnya sementara makanan buatannya diabaikan sepenuhnya oleh pria mungil itu. "Tidak enak?"

"Ng?" sahut Baekhyun linglung, segera tersadar dari lamunannya. "Uhm ini...ini... enak," ujarnya sambil menyuapkan sesendok besar makanan.

Chanyeol terkekeh melihat tingkah kikuk Baekhyun. Dia mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Baekhyun dengan gemas. Pria mungil ini benar-benar imut. Dia tidak pernah tahu ada bocah laki-laki semenggemaskan Byun Baekhyun. "Habiskan makananmu. Jangan sampai ada sisa," kata Chanyeol, persis seperti ayah pada anaknya.

Baekhyun mengerucutkan bibirnya. "Aku bukan anak kecil."

"Kau memang anak kecil."

"Sebentar lagi usiaku tujuh belas tahun." Baekhyun masih tak mau kalah.

"Tujuh belas tahun belum termasuk usia dewasa."

"Kenapa kau berkata seperti itu?" Baekhyun semakin mengerucutkan bibirnya. Chanyeol harus menahan diri untuk tidak menerjang bocah di depannya dan melumat habis bibir merah muda yang tipis itu.

Oh Tuhan, apa yang sudah kupikirkan. Chanyeol segera menggelengkan kepalanya.

"Aku bisa melakukan apa yang orang dewasa lakukan. Aku sudah bekerja seperti orang dewasa. Juga mengerjakan semua pekerjaan rumah. Mencuci. Membersihkan rumah."

"Oh ya?" Chanyeol tersenyum menggoda. "Itukah definisi dewasa untukmu?"

Baekhyun mengangguk semangat. Memang apa lagi? Pikir Baekhyun.

Tiba-tiba saja Chanyeol teringat percakapannya bersama Dajung semalam. Betapa istrinya itu menginginkan Chanyeol menyentuh Baekhyun. Astaga... Chanyeol selalu berpikir cobaan macam apa ini. Bagaimana bisa dia menyentuh Baekhyun? Dirinya bahkan bukan seorang penyuka sesama jenis. Lagi pula, apa Baekhyun...bersedia?

Yang ada di hadapannya ini seorang bocah remaja. Dia harus hati-hati dalam bertindak. Salah-salah, dia sendiri yang nanti akan kena batunya. Dia sedang berurusan dengan bocah yang meskipun secara fisik sudah tergolong matang, tetapi usianya belum menginjak dewasa.

"Kau tahu," ujar Chanyeol, sedikit berdehem untuk menjernihkan tenggorokannya yang terasa sedikit mengganjal. "Yang kaukatakan memang ada benarnya. Tapi ada hal lain yang belum seluruhnya kau ketahui tentang orang dewasa. Dan aku yakin kau belum pernah melakukannya."

Baekhyun menjawab dengan tenang, "Sesuatu yang semalam kaulakukan bersama istrimu?"

Chanyeol membeku untuk beberapa saat. Jadi... Baekhyun tahu? Wajah Chanyeol berubah merah padam. "Kau mendengarnya?" tanya Chanyeol hati-hati.

"Hmmm ya," angguk Baekhyun.

"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud—"

"Untuk apa meminta maaf?" tanya Baekhyun. Mata lurus menatap Chanyeol.

"Aku hanya tidak ingin kau mendengar sesuatu yang belum pantas kau ketahui."

Baekhyun tersenyum miris. "Aku tahu hal seperti itu sejak aku kecil. Kau tidak lupa di mana aku tinggal sebelumnya, kan?"

Ah, benar. Baekhyun pasti sudah terbiasa mendengar hal-hal seperti itu. Lagi pula ibunya...juga memiliki pekerjaan yang identik dengan hal berbau seksual.

"Baiklah. Sebaiknya kita lupakan percakapan tidak penting ini," kata Chanyeol. Setelah mendapati makanan di piring Baekhyun tandas, Chanyeol membawa piring kotor itu ke tempat cuci.

"Biar aku saja," kata Baekhyun mengambil alih pekerjaan Chanyeol. Tidak banyak yang bisa dia kerjakan di apartemen Chanyeol. Semua dilakukan oleh si pemilik rumah yang melarang Baekhyun membantunya. Padahal Baekhyun merasa sedikit tidak enak hati. Bagaimana pun dirinya hanya menumpang di rumah ini. Dia bahkan tidak memiliki hubungan apapun dengan Chanyeol atau Dajung. Dia merasa sangat berhutang budi karena Chanyeol mau menampung anak miskin seperti dirinya di rumah ini.

"Kalau begitu kau yang membilas, sementara aku akan mengeringkannya."

"Baiklah."

Baekhyun tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Ini seperti yang selama ini selalu dibayangkannya tentang dirinya dan Chanyeol. Menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai, tinggal satu atap, saling membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Ini benar-benar romantis.

"Kau betah tinggal di sini?" tanya Chanyeol tiba-tiba.

Ini baru satu minggu. Dan Baekhyun tidak bisa begitu saja berkata ya pada pertanyaan Chanyeol. Itu terlalu terburu-buru. Tetapi memang tidak dapat dipungkiri, baik Chanyeol maupun Dajung, keduanya sudah memperlakukan Baekhyun dengan baik. Baekhyun memutuskan untuk menyenangkan hati Chanyeol dengan menganggukan kepalanya. "Kau baik. Dajung noona juga."

"Syukurlah kalau kau betah."

"Sampai kapan aku diperbolehkan tinggal di sini?" tanya Baekhyun.

Chanyeol terdiam untuk beberapa saat dan itu berhasil membuat Baekhyun was-was. Apakah mungkin...Chanyeol tidak berniat mengajak Baekhyun untuk tinggal selamanya dengannya? "Aku tidak akan mengusirmu. Kau boleh tinggal semaumu di rumah ini," kata Chanyeol akhirnya. Dan itu membuat Baekhyun benar-benar lega.

"Kau sungguh baik. Apa yang harus kulakukan untuk membalas kebaikanmu?"

Chanyeol berdehem pelan. Kebaikannya tentu saja tanpa meminta sebuah imbalan. Akan tetapi jika teringat permintaan istrinya, apakah itu semua tidak sama saja dengan meminta imbalan? Dia sudah menolong Baekhyun, dan sebagai imbalannya dia menginginkan Baekhyun menyerahkan tubuhnya. "Tidak perlu melakukan apapun," kata Chanyeol, menatap Baekhyun. Mau tak mau Baekhyun juga balas menatapnya. Mata mereka bertemu untuk waktu yang cukup lama. "Hiduplah dengan bahagia."

"Kau terlalu romantis," kata Baekhyun sambil membuang muka, tidak menyadari kalau kalimatnya memantik sesuatu dalam diri Chanyeol. Wajah Baekhyun merona dengan cantiknya.

Apakah bocah ini...

Chanyeol harus memastikannya saat ini juga. Jika benar, semua akan berjalan sesuai rencana. Segalanya akan menjadi mudah baginya. Ya.

"Baekhyun," panggil Chanyeol dengan suara rendahnya. Seketika Baekhyun menoleh padanya dan pandangan mereka berdua bertemu lagi. Kali ini bahkan lebih intens dari sebelumnya. Chanyeol sudah membulatkan tekad. Dia harus menaklukan bocah ini lebih cepat. Dia tidak mau mengulur-ulur waktu lagi. "B-boleh aku menciummu?"

Baekhyun terdiam beberapa saat mencerna pertanyaan Chanyeol. Dia harap dia tidak salah dengar. Chanyeol ingin menciumnya! Dan betapa jantan pria itu sampai-sampai harus meminta ijin dulu padanya untuk mendapatkan semua ciuman! Astaga! "K-kau sudah pernah melakukannya kan?"

"Bukan ciuman itu. Aku ingin ciuman yang lebih dewasa," kata Chanyeol, sekarang lebih berani. Apalagi setelah melihat rona merah di pipi laki-laki cantik itu. "Bolehkah?"

Baekhyun hanya mampu mengangguk kaku seperti robot. Seperti terhipnotis oleh tatapan mematikan pria dewasa di depan matanya. Oh, Chanyeol sungguh tampan. Dan dia tidak sanggup berkata tidak. Toh, dia juga menginginkannya. Jadi, terjadilah. Sebuah kecupan lembut di bibir Baekhyun. Hanya pertemuan kedua bibir. Tidak ada arti apa-apa bagi Chanyeol, tetapi berarti seperti dunia ini bagi Baekhyun.

"Kau menyukaiku?" tanya Chanyeol ketika dia memundurkan wajahnya namun dahi mereka saling menyatu.

"Aku tidak tahu. Tapi kurasa begitu. Kau tampan dan selalu membuatku berdebar. Apa kau pikir itu rasa suka?" Baekhyun malah bertanya balik dengan polosnya, membuat Chanyeol benar-benar gemas dibuatnya.

"Kupikir begitu. Aku juga menyukaimu."

"Bagaimana dengan Dajung?"

"Bagaimana kalau kita lupakan dia sejenak?"

"Baiklah kalau itu yang kau mau."

"Itu bukan hanya kemauanku. Itu kemauanmu juga, Baekhyun."

"Ya, kita berdua, kalau begitu," sahut Baekhyun tersenyum bahagia.

.

.

.

Baekhyun mungkin pernah membayangkan bagaimana dirinya bisa berada di bawah kungkungan lengan berotot milik Chanyeol. Tergeletak pasrah, tak berdaya, dan hanya mampu mendesah. Tetapi dia tidak pernah menyangka bahwa khayalannya menjelma menjadi sebuah kenyataan. Dan hal ini sungguh terlalu indah untuknya yang bahkan belum menginjak usia tujuh belas tahun.

Baekhyun berada di dalam kamar tidur Chanyeol yang gelap. Kamar yang memperdengarkan suara bercinta antara Chanyeol dan Dajung beberapa malam yang lalu. Dan malam ini adalah malamnya. Malam ini adalah malamnya untuk mendesah di kamar itu. Baekhyun berharap Dajung ada di sini, berbaring di kamar sebelah, mendengarkan desahan dirinya dan Chanyeol yang saling bersahutan dengan perasaan tersiksa. Sama seperti yang dirasakan Baekhyun malam itu.

Semua akan terasa lebih sempurna.

Baekhyun tidak ingat kapan Chanyeol melucuti pakaian miliknya dan pakaian Chanyeol sendiri. Mereka sudah bertelanjang bulat, kulit ke kulit, bibir ke bibir, penis saling bergesekan satu sama lain. Baekhyun memejamkan mata. Bagaimana bisa dalam kenikmatan seperti ini dia masih bisa membayangkan sosok ibunya. Apa karena rasa nikmat ini Kim Heechul memutuskan untuk melacurkan diri seumur hidupnya?

Sebuah desahan lolos dari bibir Baekhyun tatkala Chanyeol menyesap puting mungilnya yang menegang. Dia bahkan bukan seorang wanita. Dia tidak memiliki payudara yang montok seperti milik ibunya atau Dajung, tetapi Chanyeol seolah terobsesi dengan putingnya dan terus menghisapnya seperti bayi besar yang tengah menyusu.

Baekhyun menaruh jemarinya di sela-sela rambut lebat Chanyeol, sedikit meremasnya untuk melampiaskan buncahan rasa nikmat di tubuhnya. Ini bahkan lebih nikmat daripada malam-malam yang dia habiskan untuk memuaskan diri sendiri. Ini seribu kali lebih nikmat. Mungkin karena saat ini, Baekhyun tidak harus menyentuh dirinya sendiri. Dan sentuhan dari orang lain, tentu saja memiliki efek berbeda dan lebih menggairahkan. Terutama jika orang itu adalah Park Chanyeol.

Sebuah botol yang berisi cairan kental dan licin yang berada di tangan Chanyeol membuat Baekhyun penasaran setengah mati. Dia tidak pernah melihat benda itu sebelumnya. Mungkin hanya lotion, tetapi untuk apa Chanyeol menuangkannya di telapak tangannya. Melumuri seluruh jarinya dengan cairan kental itu. Dan kepala Baekhyun tidak bisa berhenti bertanya ketika Chanyeol membuka kakinya dengan lebar dan memasukkan satu jari padanya.

Oh, benda itu bisa membuat sesuatu bisa dengan mudah masuk ke dalam lubangku yang sempit, pikir Baekhyun.

Apakah Chanyeol menggunakan benda itu saat bercinta dengan Dajung? Ataukah Chanyeol secara khusus menyiapkan benda itu untuknya?

Kepala Baekhyun tidak bisa berhenti bertanya. Sungguh.

Dua jari mungkin tidak apa-apa, tetapi saat Chanyeol memasukkan jari ketiganya, barulah perasaan sakit itu terasa. Baekhyun meringis pelan. Sebenarnya dia ingin menangis. Rasanya begitu tidak nyaman mendapati sesuatu seperti jemari Chanyeol mengganjal di lubang sensitifnya. Mungkin ada rasa nikmat, tetapi rasa sakit juga tak luput dirasakannya. Dan Baekhyun hanya mampu menggigit bibir bawahnya sedikit keras.

Baekhyun pikir semua sudah selesai. Dia pikir setelah ini dia sudah bisa bernapas lega, namun rasa sakit yang sebenarnya baru saja akan dirasakannya. Chanyeol menarik keluar jemarinya, meninggalkan sisi lega sekaligus hampa di dalam diri Baekhyun. Kemudian tidak berapa lama—bahkan Baekhyun baru menghela napas satu kali—Chanyeol menghujam lubang yang sama dengan sesuatu yang lebih besar, panas, dan keras.

Baekhyun terkesiap. Lubangnya seperti meregang sempurna. Tubuhnya terasa seperti terbelah dua. Tetapi dia tahu, semua rasa sakit ini akan terbayar setelahnya dengan rasa nikmat. Dia percaya bahwa Chanyeol ada pria yang begitu hebat di ranjang. Dia tidak bisa melupakan bagaimana desahan nikmat Dajung mengisi setiap relung telinganya ketika saat itu—mungkin—Chanyeol sedang menghujamkan dirinya pada Dajung.

Dia juga ingin merasakannya. Tubuhnya sudah begitu siap menyambut kenikmatan itu. Dajung memang wanita yang begitu baik, tetapi saat ini, persetan dengan Dajung dan segala kebaikannya! Baekhyun hanya menginginkan Chanyeol untuknya sendiri. Baekhyun ingin merengkuh pria ini dan tidak pernah melepaskannya lagi. Dia tidak peduli jika Chanyeol adalah milik orang lain. Dia ingin melakukan apapun untuk membuat Chanyeol menjadi miliknya. Apapun.

Tubuh Baekhyun tersentak hingga terkadang menyentuh kepala ranjang. Tetapi dia tidak bisa mengeluh bahkan untuk menghentikan Chanyeol, dia tidak mampu. Dia justru tidak menginginkan kenikmatan ini berakhir. Dia mendesah dan mendesah, semakin lama semakin mempertegas bahwa Chanyeol adalah pria perkasa yang sudah menggagahinya dengan begitu gagah. Betapa iri Baekhyun pada Dajung karena wanita itu sudah merasakan kenikmatan ini berulang kali dalam hidupnya. Dajung pastilah wanita yang sangat bahagia bisa memiliki Chanyeol seutuhnya.

Sesuatu seperti sedang bergumul di perut Baekhyun. Seperti sesuatu yang semakin lama semakin ingin meledak. Tetapi perasaan itu begitu nikmat. Baekhyun memejamkan matanya karena perasaan nikmat itu semakin lama semakin menghantamnya begitu keras. Chanyeol menggeram di atas tubuhnya, menghujamnya lagi dan lagi. Dia sudah tidak bisa lagi membedakan mana surga mana neraka. Segalanya tampak mengabur.

Dan dalam satu lenguhan panjang, Baekhyun mencapai puncak kenikmatannya. Kemudian, Chanyeol menyusul tidak berapa lama setelah Baekhyun. Pergumulan yang panas dan penuh gairah itu menemui akhirnya. Chanyeol ambruk di atas tubuh Baekhyun. Keduanya terengah kehabisan udara. Setelah mendapatkan kembali tenaganya, Chanyeol beranjak dari tubuh Baekhyun dan merebahkan tubuhnya di sisi bocah cantik itu.

Tidak ada kalimat apapun yang terucap setelahnya. Keduanya dengan cepat segera terbuai ke alam mimpi.

.

.

.

Baekhyun terbangun ketika matahari sudah merangkak naik, hampir tepat berada di atas kepala. Dia merasakan sekujur tubuhnya nyeri bukan main. Dan rasa nyeri itu segera membawanya pada ingatan semalam. Tentang percintaannya dan Chanyeol.

Wajahnya segera bersemu merah ketika kilasan bayangan-bayangan semalam menari-nari di kepalanya. Bahkan deru napas Chanyeol yang berat, geraman rendahnya ketika mencapai puncak kenikmatan, masih bisa Baekhyun dengar dengan jelas di telinganya sampai saat ini.

Tetapi yang membuatnya merasa seperti mimpi adalah dia tidak terbangun di sisi Chanyeol. Dia ada di dalam kamarnya, masih mengenakan pakaian semalam. Tidak ada yang berbeda, segalanya tetap sama kecuali rasa sakit di daerah bawah tubuhnya.

Perlahan Baekhyun keluar dari kamarnya. Dia menemukan Chanyeol sedang mengoles selai cokelat ke roti gandumnya dengan teliti. Pria itu sedang menikmati sarapannya di tengah hari. Dan Baekhyun tahu betul alasannya dan semalam memang bukan hanya mimpi belaka. Dengan senyum merekah di bibir tipisnya, Baekhyun berjalan menghampiri Chanyeol.

"Hei, kau sudah bangun?" sapa Chanyeol sesaat setelah dia menyadari keberadaan Baekhyun.

Baekhyun mengangguk dan mengambil satu tempat duduk di seberang Chanyeol. Dia mengambil roti gandumnya dan mengoleskan selai cokelat sama persis seperti yang Chanyeol lakukan. Kemudian dia mengunyahnya dengan begitu lahap. Energinya benar-benar terkuras habis semalam.

"Kau baik-baik saja kan?" tanya Chanyeol penuh perhatian.

"Aku hanya sangat lapar."

"Kalau begitu, makanlah yang banyak. Setelah ini aku ingin bicara serius padamu," kata Chanyeol. Baekhyun mengangguk.

"Kau tidak pergi bekerja?" tanya Baekhyun.

"Hmm aku bangun kesiangan. Jadi ya, tidak sempat ke kantor. Hari ini aku membolos," sahut Chanyeol begitu santai.

"Baiklah, aku sudah selesai. Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Baekhyun setelah menghabiskan empat lembar roti gandum dan segelas susu.

Chanyeol terdiam sejenak, seperti sedang merangkai kata. Tetapi dengan sabar, Baekhyun menunggu Chanyeol membuka mulutnya. "A-aku hanya ingin minta maaf soal semalam."

"Baiklah. Aku memaafkanmu. Tetapi sebenarnya kau tidak perlu minta maaf."

"Aku harap kita berdua bisa melupakan kejadian tadi malam."

Kali ini, Baekhyun yang dibuat diam. Dia tertegun. "Apa maksudmu?"

"Aku tidak tahu apa yang sudah merasukiku tadi malam, Baekhyun. Aku sudah melakukan kesalahan padamu," kata Chanyeol sambil menundukkan wajahnya, tidak berani menatap Baekhyun.

"Aku juga tidak tahu apa yang sudah merasukiku, tapi bukankah kita sama-sama menginginkannya?"

"Aku tidak tahu, tapi ya semalam aku memang kacau. Dan aku sudah beristri, Baekhyun."

Baekhyun mengerutkan dahinya, benar-benar tidak mengerti. "Kalau itu yang kua khawatirkan, aku tidak akan mengatakannya pada istrimu," kata Baekhyun. Dia pikir, pasti Chanyeol menginginkan ini. Sebuah perjanjian di mana kedua belah pihak akan saling merahasiakan apa yang sudah terjadi.

"Aku lega mendengarnya." Chanyeol menghela napas. Tetapi sebenarnya bukan itu yang mengganjal benaknya. Hanya saja Chanyeol kesulitan untuk menyampaikan maksud hatinya pada Baekhyun. Perasaan bersalah benar-benar mengganjal di dadanya karena bagaimana pun dia sudah memanfaatkan bocah polos ini. "Terima kasih."

.

.

.

Baekhyun tidak bisa menghentikan kebiasaan barunya, yaitu mengenakan kaus Chanyeol yang begitu kebesaran di tubuhnya dan hampir menelan seluruh keberadaannya. Chanyeol sudah membelikannya beberapa pakaian bagus, akan tetapi Baekhyun merasa lebih nyaman dengan hanya mengenakan kaus milik pria itu. Mungkin karena aroma tubuh Chanyeol menempel kuat pada pakaian-pakaiannya.

Ketika Chanyeol bekerja, waktu yang Baekhyun habiskan di apartemen Chanyeol begitu membosankan. Baekhyun sudah tidak lagi bekerja di restoran daging. Seharian yang dilakukannya hanya menonton acara tv sampai matanya pegal dan berair. Atau sekedar berbaring tanpa melakukan apa pun—terkadang membayangkan malam panasnya bersama Chanyeol. Tetapi kadang semua itu menjadi sangat membosankan. Tidak ada orang yang bisa dia ajak bicara sepanjang hari.

"Ish," gerutunya. Baekhyun berjinjit sekali lagi sambil mengulurkan tangannya tinggi-tinggi demi dapat mencapai kabinet paling atas di mana mangkuk-mangkuk itu ditaruh. Baekhyun sedang mencoba membuat sesuatu yang layak untuk dijadikan makan malam, untuknya dan Chanyeol. Tetapi tubuh mungilnya bahkan tak mampu meraih ketinggian rak tersebut.

Tetapi tiba-tiba sepasang tangan hinggap di pinggangnya, mengangkat tubuh ringan Baekhyun hingga tangannya bisa mencapai rak mangkuk itu. Baekhyun terkejut bukan main, namun aroma parfum Chanyeol yang begitu familiar membuat dia merasa sedikit tenang. Setelah menurunkan Baekhyun, Chanyeol memutar tubuh bocah itu sehingga mereka saling berhadapan, dan mata mereka saling bertemu. "Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya.

"Hanya membuat sesuatu untuk makan malam kita."

"Apa itu?" tanya Chanyeol, sedikit mengintip dari bahu Baekhyun.

"Sup iga sapi."

"Tampaknya sangat lezat."

"Oh, aku justru tidak begitu yakin dengan rasanya. Kau tahu aku pernah bekerja di restoran daging, tapi sekalipun aku tidak pernah mencoba memasak."

"Tetap saja masakanmu patut dicoba."

"B-baiklah," kata Baekhyun sambil berusaha melepaskan diri dari Chanyeol yang rupanya sejak tadi masih setia menaruh kedua tangannya di pinggang Baekhyun.

Makan malam berlangsung tanpa banyak kata-kata dari keduanya. Masakan Baekhyun memang bukan yang terlezat, tapi paling tidak, rasanya lumayan. Tidak buruk. Chanyeol beberapa kali memuji masakan buatannya dan Baekhyun setengah mati berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.

Chanyeol sudah menyelesaikan makan malamnya dan kini yang dia lakukan adalah memperhatikan bagaimana bocah berusia enam belas seperti Baekhyun tampak begitu menggemaskan ketika dia kesulitan mengunyah daging di mangkuknya. Ini aneh. Di mata Chanyeol, Baekhyun tak lebih dari sekedar bocah lugu yang sudah dia manfaatkan kepolosannya. Tetapi di sisi lain, melihat Baekhyun mengenakan kaus miliknya yang tampak begitu longgar di tubuh mungilnya—dan sesekali bahu putih mulusnya terekspos karena kerah kausnya yang sedikit melorot. Dia jadi tampak begitu seksi.

Aku pria normal, batin Chanyeol, buru-buru mengusir pikiran kotor yang hinggap di kepalanya.

"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Baekhyun, berkedip polos.

"T-tidak. Hanya saja kau makan dengan begitu lahap."

Baekhyun tersenyum malu. "Aku memang lapar sekali."

"Kau benar-benar menggemaskan."

"Aku bukan anak kecil." Baekhyun mengerucutkan bibirnya.

"Baiklah. Kau anak setengah dewasa."

"Aku sudah dewasa. Aku sudah pernah melakukan semua hal yang dilakukan orang dewasa. Termasuk seks," ujar Baekhyun, memelankan kalimat terakhirnya dan tertunduk malu.

chanyeol benar-benar sedang mati-matian menahan hasratnya untuk tidak melompat dan menerkam bocah laki-laki cantik di depan matanya itu. Dia tidak habis pikir. Dirinya seratus persen adalah pria normal yang menyukai wanita. Dia bahkan memiliki seroang istri yang begitu cantik. Tidak mungkin kan dia tergoda dengan tubuh Baekhyun lagi? Malam itu saja terjadi karena keterpaksaan. Kalau saja Dajung tidak memohon padanya, dia tidak mau melakukannya. Bercinta dengan pria atau wanita lain, sama saja seperti berselingkuh.

Tetapi...

Ini semua adalah keinginan Dajung.

Dajung yang memintanya untuk menyentuh Baekhyun. Kalau Chanyeol melakukannya satu kali lagi bersama Baekhyun, bukan masalah besar kan? Lagi pula di sini, di apartemen sebesar ini, hanya ada dirinya dan Baekhyun. Tidak ada salahnya jika Chanyeol menginginkan tubuh itu lagi... kan?

Baekhyun hendak menaruh mangkuk kotor ke tempat cucian, ketika Chanyeol menariknya dan mendaratkan sebuah ciuman basah di bibir tipisnya. Awalnya begitu lembut dan hati-hati, seperti waswas dengan respon yang akan Baekhyun berikan padanya, tetapi ketika Baekhyun tampak pasrah dan menikmati, Chanyeol bertindak lebih berani. Dia memperdalam ciumannya dan tak membuang waktu lagi untuk mengangkat tubuh Baekhyun, kemudian membawanya ke dalam kamar gelap untuk melepaskan gairah mereka berdua.

.

.

.

"Apa kabar, Baekhyun?" sapa Dajung ceria ketika Baekhyun membukakan pintu untuknya. Hampir saja Baekhyun melupakan akhir pekan—hari di mana Dajung pulang ke Seoul dan mengacaukan kebersamaannya dengan Chanyeol.

"Hai. Aku baik," sahut Baekhyun pelan. Kecewa.

Dajung masuk ke dalam rumahnya dengan sekantong tas belanjaan di tangannya. Kemudian dia menyerahkan kantong belanjaan itu pada Baekhyun. "Untukmu. Oleh-oleh dari Bundang."

"Trims," kata Baekhyun sambil mengintip ke dalam isi kantong itu.

"Mana Chanyeol?"

"Dia belum pulang. Katanya hari ini dia lembur."

"Ah, di akhir pekan seperti ini?" tanya Dajung kecewa. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa dan memijit tumit kakinya yang memakai heel begitu tinggi. "Padahal aku sudah sangat merindukannya."

Baekhyun mendengus dalam hati. Kau hanya ingin mendesah di bawah tindihan Chanyeol...

"Mau kubuatkan minum?"

"Tidak perlu," sahut Dajung, terkekeh pelan pada Baekhyun yang selalu pemalu bila berada di depannya. "Aku bisa mengambilnya sendiri."

"Baiklah," ujar Baekhyun. Dia berniat kembali ke kamarnya untuk membuka oleh-oleh dari Dajung namun wanita itu tidak membiarkannya pergi.

"Apa yang kau lakukan dalam seminggu ini?"

Mendapat pertanyaan itu, mendadak membuat Baekhyun gugup. "T-tidak ada."

"Apa kau dan Chanyeol bersenang-senang?"

"T-tidak. A-aku...k-kami..."

Dajung tertawa membaca kegugupan dalam kalimat Baekhyun. Dia memutuskan untuk menggoda Baekhyun lagi. "Sepertinya kau dan Chanyeol memang bersenang-senang... Wah, kalian jahat karena bersenang-senang tanpaku."

"A-aku...k-kami tidakk..." Baekhyun mengibaskan tangannya gelagapan.

"Sayang, kau pulang?" sebuah suara muncul dari ambang pintu. Suara milik Chanyeol. Dajung segera bangkit dari sofa dan menghambur untuk memeluk suaminya yang sedang melepaskan sepatunya di dekat pintu.

"Aku merindukanmu," kata Dajung sambil membenamkan wajahnya di dada Chanyeol.

Chanyeol tersenyum lembut dan mengusap punggung istrinya dengan sayang. "Aku juga merindukanmu."

Dada Baekhyun berdenyut nyeri menyaksikan pemandangan yang menyakitkan mata itu. Tanpa suara, dia masuk ke dalam kamarnya dan membanting oleh-oleh yang dibawakan Dajung dengan penuh amarah. Dia benar-benar sedang dibakar cemburu. Inilah dunia nyata. Chanyeol adalah milik Dajung, bukan miliknya. Kebahagiaannya yang kemarin, hanyalah sebuah kebahagiaan sesaat, yang bahkan sekarang sudah berangsur-angsur lenyap, digantikan oleh kepedihan.

.

.

.


TBC


.

.

.

Guys, chapter 2 is up!

Makasih yang udah meluangkan waktu untuk membaca FF abal ini. Semoga tidak mengecewakan. Hehehe.

Makasih buat semua yang udah bersedia meninggalkan jejak. *luphyou*

REVIEW, FAV, dan FOLLOW!

See ya in the next chapter!

*muachhhhh*