Yosh apa kabar kalian semua? haha aku gak bosan bosan menanyakan kabar kalian. Febry telah kembali nih, maaf kalau sedikit agak lama soalnya selalu ada halangan saat mau mengerjakan fic seperti game yang lagi seru, Anime yang menumpuk selama UKK dll hehe.. langsung saja semoga kalian suka dengan chapter kali ini


Pair: Naruto x OC x harem (mungkin)

Rate:T- M

Genre: Adventure, Fantasy, Supranatural

Title: Naruto DxD: Wind Controllers

Disclaimer: saya tidak pernah mengengatakan bahwa Naruto dan Highschool DxD adalah milik saya

Warning: typo bertebaran, cerita gaje, lawakan gak lucu, OOC, OC dll

Summary:

Naruto adalah seorang anak miskin yang harus bekerja keras untuk mencukupi kehidupannya, dia bersama adiknya hidup dengan damai sampai suatu kejadian mengubah kehidupannya secara drastis


Naruto POV

Tiba tiba saja udara terasa sangat dingin, aku juga tak terlalu mengerti apa yang terjadi tapi ini sangat menggangguku. Ditambah lagi ada seorang didepan kami saat ini, aku benar benar tak mengerti apa yang sedang terjadi tapi yang paling membuatku bingung saat ini adalah benda yang berada disayapnya itu, sayap? Apakah dia sedang bercosplay? Yang benar saja, mana ada orang bodoh yang memakai baju cosplay malam malam begini

Tunggu dulu mungkinkah ini yang dibicarakan oleh Rias-senpai tadi untuk berhati hati? Jangan jangan dia adalah seorang cosplay hentai gila yang ingin menculik Erza? Tidak, tidak, tidak aku langsung membuang jauh jauh dan bertanya secara sopan padanya "Anu, ada yang bisa aku bantu?"

"Wahahaha" eh? Kenapa dia malah tertawa lebar seperti itu? Atau jangan jangan dia seorang hentai gila betulan?

"Kalau tidak ada yang bisa aku bantu, bisakah kau membiarkan kami lewat?" ya dia saat ini sedang menghalangi jalan kami. Padahal aku sudah sangat ingin pulang sekarang, tapi orang aneh ini malah menganggu saja

"Jangan bersikap sopan padaku, dasar setengah iblis rendahan. Kau itu hanya iblis buangan" ha..ha..ha sungguh candaan yang tidak lucu dasar hentai gila, aku benar benar ingin berteriak begitu tepat di depan mukanya tapi dari suaranya sepertinya dia lebih tua dariku jadi itu akan sangat tidak sopan bukan? Tapi tetap saja cara bicara dan candaan dia sangat menjengkelkan terlebih lagi dia sangat berisik, bisa bisa dia malah membangunkan Erza yang sedang tidur di punggungku

"Anu, tuan apa yang kau maksud dengan setengah iblis? Aku benar benar tak mengerti maksudmu"

"Hahaha sepertinya kau tidak tau apa apa ya? Baiklah aku akan berbaik hati padamu" apa maksudnya menjelaskan aku benar benar tak mengerti

"Apa maksudmu dengan menjelaskan apa yang tidak aku ketahui?" ada apa sih dengan pria ini? Dia bertingkah sok misterius begitu

"Apa kau mengenal wanita bernama Kushina Gremory? Atau jangan jangan kau tidak mengenal ibumu sendiri?" ibu? Kushina Gremory? Setengah iblis? Apa yang sebenarnya pria bercosplay ini coba sampaikan padaku? Mendengar kata Gremory aku langsung mengingatkanku kepada senpai berambut merah. Apa semua ada hubungannya dengan yang tadi dia katakan? Aku mencoba berpikir realistis

"Kushina Gremory? Apa itu adalah nama ibuku? Apa kau mengetahui sesuatu tentang keluarga kami?"

"Mana mungkin aku bisa tidak tau orang itu, dialah orang yang telah membunuh semua temanku, kawanku, keluargaku.. mana mungkin aku bisa melupakannya, BAJINGAN" dia berteriak keras di akhir kalimatnya yang membuat mataku terbelalak mendengarnya, apa itu benar bahwa orang tuaku seorang pembunuh? Ughh.. tiba tiba kepalaku terasa sangat sakit, aku mencoba mengingatnya tapi tetap tidak bisa. Yang bisa aku ingat hanya seorang wanita berambut merah seperti Erza dengan senyum yang sangat lembut, apa itu ibuku? Memikirkannya saja semakin membuat kepalaku sakit

"Kalian harus mati!" tiba tiba saja cahaya berkumpul ditangannya membentuk sebuah tombak. Apa itu? Dia menciptakan tombak dari sebuah ketiadaan? Yang benar saja, itu tidak mungkin terjadi kan? Tapi sepertinya dia serius

Sebuah cahaya putih melesat dari tangan pria berjubah hitam itu. Aku mencoba menghindar tapi tetap saa menembus kakiku dan itu membuatku terjatuh, sial itu sangat sakit, kakiku terasa seperti terbakar.. apa apaan cahaya tadi?

"Ughh, onii-chan?" sepertinya Erza terbangun karna aku jatuh tadi. Sial apa sih yang diinginkan pria itu? Tapi yang paling penting saat ini adalah bagaimana menyelamatkan Erza

"Oh maaf apa aku membangunkanmu? Tapi untuk sekarang bisakah kau lari sejauh mungkin?"

"Berlari dari apa? Hah ada apa dengan kakimu? Onii-chan kau berdarah"

"Tak usah dipikirkan, yang penting kau selamat. Cepat lari!" ya kakiku memang terasa sangat sakit, tapi yang paling utama sekarang adalah keselamatan Erza, biar ditukar dengan nyawa pun akan aku berikan. Setidaknya itu yang aku pikirkan

"TIdak! Mana mungkin aku meninggalkan onii-chan begitu saja. Akan aku obati lukamu sekarang"

"DIAM! DAN CEPAT LARI SANA!" aku berteriak keras kepadanya, sial dari dulu aku bahkan belum pernah memarahinya seperti ini. Jujur saja aku sangat ketakutan sekarang ini, bukan ketakutan karena aku akan mati, malah aku siap mati kapan saja tapi aku sangat takut jika terjadi sesuatu pada Erza ya aku aku sangat takut jika itu terjadi bahkan tanganku tak mau berhenti bergetar membayangkan itu

Aku mencoba berdiri dengan kedua kakiku, sial itu sangat sakit aku melihat sekilas Erza dia masih terdiam sepertinya dia sedang sedikit syok sekarang ini, bagaimanapun ini pertama kali aku memarahinya, selama ini aku selalu memanjakannya karena dialah satu satunya keluarga yang aku punya

Sial kalau begini terus dia malah bisa terluka, kenapa ini? Kakiku tak mau berhenti gemetar meski aku mencoba menahannya, pokoknya aku harus melindungi Erza. Hanya itu yang ada di otakku sekarang ini, meski aku ini bodoh aku mencari cara biar dia selamat

"Hahaha apa ini? Kau ketakutan? Itu juga yang kami rasakan saat ibumu menyerang" dengan menyelesaikan kata katanya dia melemparkan tombak lainnya kearah.. sial dia mengincar Erza yang terlihat masih syok. Aku langsung berlari ke arah Erza berpacu dengan tombak cahaya yang melesat itu

Jlebb cahaya itu tepat menembus dadaku menciptakan lubang besar di sana. Perasaan sakit menjalar sampai ke sel sel otakku seperti akar yang menjalar dengan cepat, membuatku jatuh kelantai

"ONII-CHAAAN" Erza berlari kearahku dan meletakan kepalaku di pangkuannya, aku sempat melihat butiran kristal mengalir di pipinya yang manis itu. Apa aku akan mati? Rasa sakit di dadaku berubah menjadi rasa dingin yang membeku, bahkan aku sudah tak merasakan kakiku lagi. Apa ini yang dirasakan orang yang akan mati?

"Onii-chan.. bertahanlah! Onii-chan.. Onii-chan" aku masih bisa mendengar suara Erza. Hey ada apa dengan wajah itu? Ah benar juga aku akan mati pasti dia sedang sedih. Maaf tapi ini sudah batasku, pandanganku semakin kabur suara Erza pun semakin menghilang dari kesadaranku hingga akhirnya semua menjadi gelap

Naruto POV END


Erza POV

"ONII-CHAAAN" aku masih menangisi orang yang berada di pangkuanku ini terbaring lemas dengan sebuah lubang besar di dadanya. Hey ini tidak mungkin.. onii-chan tidak mungkin mati

"Onii-chan.. bangun! Hey onii-chan bangun! Ini Cuma bercanda kan? Onii-chan bangun! Ini tidak lucu.. aku.. aku berjanji tidak akan nakal.. aku akan berusaha sekeras mungkin agar kau bangga dan mengelus kepalaku setiap hari.. aku janji akan membuatkanmu bekal kesukaanmu setiap hari dan tak memaksamu makan sayur lagi.. oh ya aku juga tidak akan membantah apa yang kau perintahkan lagi semua akan langsung aku lakukan.. hey onii-chan kumohon jawablah!"

Aku mengatakan semua itu tanpa sadar, aku Namikaze Erza baru saja kehilangan satu satunya keluargaku di bumi ini. Seorang onii-chan yang tak kenal menyerah dan selalu memanjakanku, aku sangat mencintai onii-chanku ini tidak ini lebih kepada aku mencintainya sebagai Namikaze Naruto bukan hanya cinta seorang adik kepada kakaknya, aku tahu ini terdengar gila tapi itulah kenyataannya. Aku sangat mencintainya lebih daripada siapapun

Dari dulu saat kami masih hidup di jalanan dan aku merasa ketakutan, onii-chan selalu memelukku dan berjanji untuk melindungiku meski harus mati. Dan sekarang dia telah menepati janjinya, terbaring lemas dengan lubang besar di dadanya dan darah yang terus mengalir dengan deras

"Hahaha satu ekor sudah mati sekarang tinggal satu lagi, apa kau ada kata kata terakhir?" dia mengatakan itu dengan nada sarkastik, bajingan ini yang telah membunuh onii-chan keluargaku satu satunya keluargaku dan orang yang sangat aku cintai. tak akan aku maafkan, harus aku membunuhnya.. bunuh.. bunuh..

Aku meletakan tubuh onii-chan dari pangkuanku dan berdiri menghadap menatap lurus pria itu, aku menciptakan banyak lingkaran sihir dan bersiap untuk menyerangnya. Sebenarnya aku sudah mengetahui kekuatanku ini sejak lama tapi aku tak pernah memberitahukannya kepada onii-chan karena aku tak ingin dia malah menjauhiku dan menganggapku monster. Tapi itu tak perlu lagi disembunyikan onii-chan telah mati, apa lagi yang harus aku takutkan?

Sekarang apa tujuan hidupku ini? Hmm jawabannya mudah saja kan, tentu saja membalaskan dendam onii-chan. Hahaha aku tak peduli pada apapun lagi, dunia tanpa dia hanyalah dunia busuk tanpa ada arti lagi bagiku

"Kekuatan ini? Ini sama dengan orang itu? Hahaha kau memang anaknya, mati kau sialan" bodoh.. dia melempar tanpa pikir panjang, benda yang dilemparnya itu menembus salah satu lingkaran yang telah aku buat dan menghilang begitu saja

"Kau terlalu bodoh, kau tak pantas untuk hidup lama" aku mengatakan itu dengan nada datar dan membuat dirinya dikelilingi lingkaran sihir, ya aku sudah menguasai beberapa teknik sampai taraf dimana aku bisa menggerakan lingkaran sihir itu seperti tanganku sendiri dan itu semua aku pelajari secara autodidak

"In, ini tidak mungkin.. anak sekecil ini bisa membuat lingkaran sihir sebanyak ini bahkan bisa dengan mudah mengendalikannya? Makhluk apa kau sebenarnya? Bahkan iblis kelas tinggi pun membutuhkan waktu lama" huh kemana kepercayaan diri yang tadi? Apa kau mulai takut sekarang? Aku sangat ingin berbicara seperti itu sekarang tapi tak satu kata pun keluar dari mulutku, aku hanya terdiam menunduk membiarkan rambut merahku menutupi wajahku. Ya ini yang terbaik aku tak ingin orang melihat sisi lemahku ini

Setelah dikelilingi oleh lingkaran sihir aku langsung saja menembakan semuanya secara bersamaan membuat orang itu lenyap tak bersisa, aku juga tak begitu mengerti kenapa bisa hilang tak berbekas. Apa kekuatanku terlalu kuat? Biarlah, aku tak terlalu memusingkannya

Aku lalu mendekati kembali tubuh onii-chan yang terbujur lemas disana dan perlahan mulai menangisinya. Air mataku tak mau berhenti dan terus saja mengalir deras "Huaa onii-chaaan"

"Maaf sepertinya kami terlambat ya?" tiba tiba terdengar suara dari belakang, aku menoleh dan melihat seorang wanita anggun dengan kacamata dan beberapa orang dibelakangnya. Itu ketua dan anggota OSIS? apa yang mereka lakukan di sini? Aku hanya menatap mereka tak mengerti

"Saji, cepat angkat tubuh Namikaze-kun ke kursi yang sebelah sana.. Tsubaki tolong tenangkan dulu Erza-san" perintah kaichou dengan tegas, dia terlihat sangat tenang dengan situasi ini "Baik, kaichou" jawab kedua orang yang diperintahkan tadi

"Ini masih sempat, tubuhnya belum hancur dan menjadi partikel cahaya. Kita harus segera merenkarnasinya sekarang, apa tanggapanmu Erza-san?"

"Eh? Masih sempat? Apa onii-chan masih bisa tertolong? Tapi dia sudah tak memiliki detak jantung lagi?" aku masih bingung dengan apa yang dikatakan oleh kaichou, bagaimana bisa orang yang telah mati masih bisa tertolong? Aku mencoba berpikir realistis

"Ya bagi manusia biasa mungkin itu hal yang tidak mungkin, tapi kami ini iblis.. aku bisa merenkarnasi Naruto menjadi budak iblisku sekarang apa kau tidak keberatan Erza-san?" jadi onii-chan masih bisa tertolong? Air mata mulai mengalir lagi dari mataku, ini bukan karena aku sedang sedih malah sekarang aku sangat bahagia bahwa onii-chan yang aku kira sudah mati ternyata masih bisa tertolong, "Mohon bantuannya" aku mengangguk dan berkata dengan suara bergetar

"Baiklah aku akan mulai ritualnya" ya inilah yang terbaik, meski jadi budak iblis pun asal dia selamat itu sudah lebih dari cukup

Erza POV END


Naruto POV

Berjalan menyusuri ruang putih yang aneh, ini terlalu jelas untuk dikatakan sebagai sebuah mimpi. Aku menemukan diriku terbangun di ruang putih tak berujung ini. Apa aku sudah mati? Itulah pertanyaan yang selalu terngiang di kepalaku saat ini tapi dilihat dari manapun ini tidak bisa dikatakan sebagai surga ataupun neraka

Mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya tombak cahaya yang mengarah ke Erza dan menembus dadaku. Apa itu juga mimpi? Tidak itu terasa lebih nyata, mungkin saat inilah yang lebih tepat disebut mimpi

Aku terus berjalan mencari petunjuk tentang keberadaanku tapi sepertinya tidak mungkin karena sejauh mata memandang hanya sebuah ruang putih kosong, aku juga mencoba untuk keluar dari sini aku sangat khawatir dengan keadaan Erza saat ini. Apa dia baik baik saja? Apa dia berhasil kabur? Apa ada yang menolong? Semua pertanyaan itu aku simpan dalam otakku dan beeusaha untuk mencari jalan keluar dari tempat ini

"Namikaze Naruto" tiba tiba terdengar suara asing tapi tak berwujud, hey bukankah ini sudah seperti film horor saja? Hahaha itu jelas tidak mungkin berarti ini jelas hanya mimpi atau alam sesudah kematian, itu tidak membuatku terlalu senang sih tapi setidaknya aku berhasil memecahkan satu masalah hehe

"Siapa kau? Tunjukan wujudmu padaku! Dan aku berada dimana sekarang?" aku sangat penasaran sekarang ini jadi langsung saja aku serang dia dengan segudang pertanyaan

"Aku adalah dirimu, dan kau adalah aku" aku hanya memasang face palm mendengar jawaban itu, apa dia sedang bermain sambung kata? Teka teki? Yang benar saja aku serius di sini..

Lalu dia melanjutkan "Apa tujuanmu untuk hidup?" bukannya menjawab pertanyaanku yang lain dia malah balik bertanya kepadaku "Sudah jelas bukan? Aku ingin membahagiakan dan melindungi semua orang yang ada didekatku"

"Melindungi? Memangnya kau punya apa? Kau bahkan harus kehilangan nyawa untuk melindungi satu orang, dan kau bilang bahwa kau ingin melindungi semua yang berada didekatmu? Jangan bercanda"

Ughh perkataannya tepat sekali aku bahkan tidak bisa melindungi Erza dengan baik bahkan aku membuatnya menangis.. jadi apa sebenarnya tujuanku sebenarnya? Aku benar benar tak berguna

"Jika kau benar benar ingin melindungi orang yang berada di dekatmu, aku bisa membantumu kau tau?"

"Apa ini sebuah perjanjian atau sebuah pertolongan? Dan aku rasa hal ini butuh bayaran bukan?" meski aku bodoh tapi aku yakin semua ini membutuhkan bayaran karena di dunia ini tidak ada yang gratis. Itulah yang aku pelajari selama hidup di jalan yang keras

"Hahaha ternyata kau tidak sebodoh yang aku kira ya.. tidak aku tidak akan mengambil apapun, kau cukup menunjukan kepadaku sejauh mana kau bisa berkembang" hanya itu? Ini cukup mencurigakan tapi aku akan mengambil segala resiko untuk bisa melindungi semuanya

"Baiklah jika hanya itu akan aku terima tawaranmu" ucapku dengan nada yang sangat yakin

To Be continue


Fuahh akhirnya selesai juga chapter kali ini, memang ada sedikit perubahan sih dari rencana awal tapi inilah hasil terbaik yang bisa aku buat, gimana jelek kah? silahan tulis pendapat, kritik,dan saran kalian di review dan sebisa mungkin akan aku balas

Review Please