AISHITERU!

Disclaimer:
Vocaloid bukan milik Suu! Suu cuma punya fic ini beserta OC-nya.

Rating: T

Genre: Romance, Friendship, Hurt/Comfort, School Life.

Warning: GAJE, ANEH, KATA-KATA TIDAK SESUAI DENGAN EYD, TYPO, OOC, DLL. INTINYA SAYA MASIH BEGINNER.

Note: DON'T LIKE? DON'T READ! Hanya terima flame yang wajar, ya... Kalau kritik dan saran, saya terima dengan senang hati, kok.

Summary:
"Mereka masih terlalu polos untuk mengetahui arti cinta. Tapi pasti ada saatnya dimana cinta mereka akan tumbuh dan berbunga."

Author: Minna-san~ Saya kembali XDD

Rin: Dasar author baka. Dia mau update kalau review nggak kurang dari dua.

Len: *nods* Akibatnya yang Darkness diabaikan, tuh.

Author: Itu bukan selain review kurang dari dua. Itu karena saya juga nggak ada ide desu~

Rin: Alasan. Alasan.

Author: Intinya saya bakalan update kalau review minimal dua dan ada ide XDD

Len: Nggak ada hubungannya sama fic-

Author: Ada, baka!

Rin: Nggak usah banyak omong! Cepet, mulai ngetik!

Author: Iya! Iya! Yosh!


Len's POV

Omongan Yuka Momoko-san, seseorang yang asing bagiku masih terngiang di kepalaku. Apa? Dia bisa membantuku mendekati Rin? Memang aku pernah bilang kalau aku suka sama Rin?

"Len, ada anak perempuan yang datang ke sini. Katanya mau ketemu sama kamu." Neru membuka pintu kamarku tanpa mengetuk terlebih dahulu.

Aku mendengus dan turun dari kasur. Sebelumnya aku bertanya terlebih dahulu.

"Siapa?" tanyaku. Lebih baik mengetahui siapa itu daripada mengetahui ketika sudah melihatnya. Tidak jarang ada anak perempuan yang datang ke sini cuma sekedar say hello atau nembak. Kayak gitu, sih, mendingan aku nggak usah menemui.

"Nggak tahu? Kayaknya belum pernah main. Dia cuma bilang penting saja. Dan dia punya janji padamu," jawab Neru. Kemudian ia menutup pintu kamarku. Aku bangun dengan malas. Tapi di otakku terlintas sebuah nama. Rin?

"Siapa..." Aku terkejut ketika melihat siapa yang ada di situ.

Rambut cokelat kekuning-kuningan yang diikat dua dan sisanya dibiarkan tergerai dan matanya yang cokelat.

"Yuka Momoko-san?" balasku tidak yakin. Gadis yang tak lain dari Yuka Momoko-san mengedipkan matanya. Kemudian ia melepaskan sepatunya perlahan dan melangkahkan kaki masuk ke rumahku.

"Hei! Aku belum suruh kamu untuk masuk, kan!" seruku padanya.

Yuka Momoko-san menatapku dengan pandangan masam.

"Aku punya janji padamu! Ketika mendengar kata janji oleh Neru-senpai, pasti yang kamu pikirkan itu Rin, kan?" balasnya dengan senyuman licik.

JLEB. The hell. Dia bener. Aku nggak bisa bohong lagi atau mungkir sekalipun. Jadi aku diam saja.

"Sudah! Aku memang punya janji padamu. Aku pasti akan menepatinya," serunya sambil mendengus.

Aku hanya mengangguk.

"Ada tempat di mana aku bisa bicara denganmu berdua saja?" tanyanya lagi.

Aku berpikir.

"Len, itu pacarmu, ya?" tanya Neru yang menjengukkan kepalanya keluar dari dapur. Wajahku merona sedikit.

"URUSAI! Dia bukan pacarku dan kamu nggak usah ikut campur!" seruku sambil mendorongnya masuk ke dapur. Kemudian aku menoleh kepada Yuka Momoko-san. Wajahnya tidak memerah sedikit pun. Ia hanya terlihat kesal.

"Ehem. Kamu belum jawab pertanyaanku," ujarnya sambil berkacak pinggang. Aku hanya mengerutkan kening.

"Kamarku?" tanyaku hati-hati. Mata gadis itu membesar. Kemudian dengan lollipop raksasanya, ia memukul kepalaku. Entah darimana lollipop itu.

"Baka! Kamu nyuruh aku masuk ke kamarmu? Jangan bercanda!" serunya sambil memberiku death glare padaku.

"Lantas... mau di mana?" balasku.

Yuka Momoko-san hanya melipat tangannya di depan dada dan mendengus. Aku hampir nggak percaya kalau dia ini anak umur 14 tahun. Agak lebih pendek dari Rin. Mungkin sekitar 140 sentimeter.

"APA? Cepat!" serunya lagi.

Aku menyadari kalau anak itu benar-benar menjengkelkan. SANGAT menjengkelkan. Ia kekanak-kanakkan dan juga manja. Maka aku membawanya ke kamarku.

.

.

"Hah. Akhirnya juga di kamarmu," katanya mengeluh. Aku hanya mendengus.

"Jadi gimana?" tanyaku.

"Aku sudah tanya pada Kagamine-san tentang tipe kesukaannya," jawab Yuka Momoko-san pelan. Ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam kantung bajunya. Entah kantung bajunya sebesar apa hingga buku itu bisa masuk, aku tidak tahu.

"Buku ini isinya tentang Kagamine-san semua," ujarnya sambil membuka-buka lembaran dari buku itu.

"Tipe kesukaan Kagamine-san..." Yuka Momoko-san mulai membaca buku itu. Tanpa sadar aku mendekat ke arahnya untuk melihat apa yang ada di buku itu.

"Jangan dekat-dekat!" serunya sambil mendorongku. Nyaris saja aku jatuh dari kasur.

"Nggak usah dorong-dorong!" balasku.

"Tipe kesukaan Kagamine-san... Ia suka seseorang yang tidak terlalu memedulikan tampang, tapi care, baik, dan pintar." Yuka Momoko-san mulai membaca. Kemudian ia menutup bukunya dengan pelan dan menunjukku dengan jari telunjuknya.

"Itu berarti kamu harus berhenti bersikap sok keren, Len-kun!" serunya.

Hei, sejak kapan dia panggil aku dengan nama kecilku? Dan sejak kapan aku sok keren? Aku emang udah keren? #dihajar

"Yuka Momoko-san..." Aku berusaha untuk bicaranya dengannya.

"Panggil Yuka saja," cetusnya. Matanya masih memandang bukunya itu.

"Ah, whatever! Tapi kamu janji akan membantuku, kan?" seruku sambil cemberut.

Yuka-san hanya mengangguk, tapi matanya masih menatap buku itu.

"Lupakan saja sikap sok kerenmu itu," ujar Yuka-san sambil menutup bukunya. Kemudian ia mengembalikan ke dalam kantung bajunya.

Aku hanya diam. Apa dia akan pulang? Lantas, kata MEMBANTU itu bagaimana?

"Aku bakal pulang. Besok aku bakal bantu kamu menjalankannya," ujar Yuka-san. Ia membuka pintu kamarku.

"Tunggu! Gimana caranya kamu mau bantu aku?" Aku mencoba mencegahnya agar ia tak keluar.

Yuka-san berdiri di depan pintu kamarku. Ia tak berbalik.

"Lihat saja besok," katanya. Kemudian ia menutup pintu kamarku.

Aku langsung menjatuhkan tubuhku di kasur. Apa yang akan dilakukan Yuka-san besok? Semoga ia tak macam-macam!


"Ohayou!" Aku mendengar teman-temanku saling mengucapkan salam. Sedangkan aku hanya berjalan ke arah kelas dengan pelan dan diam. Kadang-kadang aku membalas sapaan dari teman-temanku.

"Ohayou!" seru seseorang. Aku langsung mengenali sosoknya. Siapa lagi kalau bukan Yuka-san?

"Eh? Ohayou," jawabku pelan.

Tiba-tiba mataku menangkap sebuah sosok berjalan dari belakang Yuka-san. Sosok yang sangat kukenal. Itu...!

"Ohayou!" sapanya dengan riang.

Aku menatap Yuka-san dengan pandangan curiga. Sedangkan Yuka-san menatapku sambil nyengir. Kemudian ia memeluk tangan kanan Rin.

"Aku dan Rin-chan sahabatan, lho!" serunya sambil menatapku tajam.

DUAR!

Aku merasa ada petir menyambar di sekelilingku. APA? YUKA-SAN SAHABATAN SAMA RIN? Rin, jangan tertipu dengan tampangnya itu!

"Kenapa, Len? Kenapa bengong? Kok, kaget?" tanya Rin sambil memasang wajah innocent-nya. Aku hanya diam. Dia... manis sekali.

"Eh? Ciee... Wajahnya merah. Galau mikirin seseorang, nih." Yuka-san menggodaku.

"U-Urusai!"

.

.

"Muka kamu kusut banget," ujar Mikuo. Ia sedang memakan sup negi-nya yang biasa ia beli di kantin. Sekarang ia duduk di sampingku. Aku jadi mual rasanya. Selain pertanyaan Mikuo, sup negi-nya itu nggak enak banget baunya!

"Iya, nih. Belum diseterika," gurauku.

Mikuo menatapku dengan heran. "Kenapa kamu?" tanyanya lagi.

"Hah... Dunia berputar. Rasanya aku gila, deh." Aku tambah ngaco. Mikuo hanya menghela napas. Kemudian ia melepaskan sendoknya dan menaruhnya di pinggiran mangkuk sup.

"Bilang aja mikirin Rin. Ribet amat, sih." Mikuo memainkan sendok supnya. Spontan aku menyemburkan banana split yang sedang kumakan ke wajah Mikuo.

"Apaan, sih! Nggak usah begitu juga kali!" seru Mikuo kesal sambil membersihkan wajahnya dari sisa-sisa banana split.

"Bukan karena Rin! Itu karena Yuka-san yang bilang kalau dia mau membantuku, lalu..." Aku mulai bercerita panjang lebar tanpa henti. Kayak nggak ada titik koma. Mikuo hanya menatapku dengan pandangan bingung.

"Jujur, ya. Aku nggak gitu ngerti apa yang kamu omongin. Tapi intinya Yuka Momoko-san itu mau bantu kamu biar bisa ngedeketin Rin. Terus dia sahabatan sama Rin. Bener, nggak?" ujarnya bingung. Aku hanya mengangguk pelan.

"Stress aku!" Aku memegang kepalaku.

.

.

"Len, aku pulang duluan, ya." Mikuo melambaikan tangan. Lalu ia berjalan keluar gerbang sekolah. Aku balas melambai dengan malas.

"Gomenasai, Rin-chan. Aku nggak bisa nemenin kamu pulang." Aku mendengar sebuah suara. Aku menengok ke arah sumber suara itu.

Aku dapat melihat dengan jelas dua gadis yang sedang berjalan ke arah pintu keluar yang berjarak tidak jauh dariku. Yuka-san dan Rin!

"Eh... Daijoubu." Aku dapat melihat dengan jelas kalau Rin tersenyum. Senyuman yang sangat manis...

"Eh? Ada Len-kun, toh? Kebetulan! Rumahmu dekat dengan rumah Rin-chan, kan? Kamu bisa antarin Rin-chan pulang, dong!" seru Yuka-san sambil memasang wajah berbinar-binar. Ia berjalan ke arahku sambil menarik tangan Rin.

"Eh?" Aku kaget.

"Memang rumah Len di mana?" tanya Rin.

"Um..."

"Pokoknya dekat rumahmu, deh! Percaya, deh, sama aku! Kamu tadi ngasih tahu aku alamat rumahmu, kan? Aku pernah ke rumah Len-kun soalnya!" seru Yuka-san dengan menggebu-gebu. Tunggu... tunggu...

"Eh? Kamu ke rumah Len? Ngapain?" tanya Rin dengan polosnya.

Krik... krik... krik...

Aku dapat mendengar dengan jelas back sound bunyi jangkrik. Kemudian aku menatap tajam Yuka-san yang mematung di tempatnya dengan tatapan 'terkutuklah-kau!'

"Nganterin kue! Iya! Mamaku buatin!" serunya cepat-cepat. Wah, bohong banget.

"Ohh..." Hanya itu jawaban dari Rin.

"Ya sudah! Kamu pulang bareng Len-kun, ya? Aku ada perlu! Bye, Rin-chan! Sampai jumpa besok!" seru Yuka-san menggebu-gebu sambil melambaikan tangan. Tanpa memberi Rin kesempatan berbicara, ia segera berlari keluar gerbang pintu. Aku dan Rin speechless.

"Beneran rumahmu di dekat rumahku?" tanya Rin memecah keheningan.

"Um... Mungkin? Yuk, kita pulang saja," ajakku dengan gugup. Rin hanya mengangguk kecil.

Dasar Yuka-san!


Rin's POV

Aneh. Kenapa tiba-tiba Yuka-chan menyuruhku pulang bareng Len? Dia pernah ke rumah Len? Nganterin kue doang? Yakin? Eh... Bukannya aku cemburu. Itu... aku...

Oke, lupakan saja. Itu bukan hal yang penting, kan? (Readers: Justru itu yang penting! #slap)

Selama perjalanan pulang kami sama-sama tidak bicara. Aku hanya diam dan menatap ke arah bawah. Sedangkan Len menatap lurus ke depan dengan wajah yang merah. Ada apa dengannya?

"Rin! Awas!" serunya tiba-tiba. Aku sempat kaget. Tapi kejadian itu tak berlangsung lama. Aku dapat merasakan lengannya yang tiba-tiba menyelubungi tubuhku. Len... memelukku?

"L-Len?" panggilku dengan wajah yang memerah. Aku dapat melihat dengan jelas ada sebuah mobil yang lewat dengan kencang.

"E-Eh... Gomen. Tadi aku liat ada mobil, jadi..." Len tampak susah menjelaskannya. Ia melepas pelukannya perlahan. Aku hanya mengangguk. Aku tak memerlukan penjelasannya, aku sudah tahu apa yang terjadi di sini.

"Nggak apa-apa..." Aku menjawab pelan. Aku melihat Len berjalan ke samping kananku.

"Rin di sisi yang lebih aman saja. Aku yang di sini," katanya sambil memalingkan wajahnya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

.

.

"Eh... Betul juga. Rumahmu dengan rumahku hanya berjarak sekitar beberapa rumah," ujarku ketika kami sudah berada di depan rumahku. Len hanya mengangguk pelan.

"Kapan-kapan mampir, ya." Aku dapat mendengarnya menggumam pelan.

"Eh?" tanyaku bingung. Len diam. Mungkin ia berharap aku tak mendengarnya. Padahal aku masih bisa mendengarnya, kok.

"Nggak penting. Sudah, ya. Sampai besok!" serunya. Kemudian ia melambaikan tangan dan berlari ke rumahnya. Aku hanya menatap sosok Len yang berlari dengan cepat.

Setelah itu aku membuka pintu rumahku perlahan dan memasukinya.

"Tadaima..." Aku berujar pelan sambil melepas sepatu.

"Okairinasai, Rin~" Aku mendengar sebuah suara yang sangat familiar. Aku langsung mengulum sebuah senyum kecil.


Author: Update! Hah... Maaf lama, Minna. Soalnya...

Rin: Kemaren itu dari hari Senin sampai Rabu, si author baka pergi pembinaan bareng sekolahnya!

Len: Dan kemaren dia nggak punya mood nulis.

Author: Sebenernya sih, sekarang aku juga capek. Tapi nggak apalah, nulis sebentar XDD

Rin: Berhubung readers sudah menunggu, kan? Maaf agak gaje, minna. Ini efek dari capek~

Author: Yap. Dan Darkness saya belum lanjutin. Karena belum ada 4 review u.u #slap

Len: Besok author baka ada lomba, inget, nggak?

Author: Oh, iya! Aduh... Akhir-akhir ini saya capek banget sama kegiatan sekolah T_T

Rin: Woi! Jangan ngobrol di sini! Yang penting...

Yuka: RnR! Review sebanyak-banyaknya, Minna! Minimal dua review biar fic ini bisa terus berjalan~ XDD

Rin + Len + Author: Sejak kapan kamu ada di sini?