Disclaimer :
Tokoh-tokoh disini (kecuali OC) adalah kepunyaan Ohtaka Shinobu-sensei.
The Bloody Sand of Gladiator
Chapter 2 : Imprisoned
Tersentaklah Alibaba saat panah tersebut mengenai seketika dada Alibaba. Rasa sakit menyerang dadanya yang tak berpelindungan tersebut kecuali baju yang sudah ada sejak masuk pertama kali ke dalam Silverwood Forest, Hutan Silverwood. Penglihatan Alibaba semakin berkunang-kunang. Pikirannya sudah sangat berkabut, ia mencoba untuk melwan rasa berkabut pada pikirannya; pada awalnya memang agak berhasil namun semua itu hanya awalnya saja, semakin lama ia merasa semakin lemah untuk berusaha melawan pikirannya yang berkabut itu, bukan karena kekurangan tekad untuk berjuang juga bukan karena perasaan untuk bertahan, namun karena sesuatu yang membuainya dalam kegelapan mebawanya semakin ke dalam kegelapan; ia ingin menutup matanya untuk merapat karena pengaruh dari buaian tersebut namun tak mampu untuk menahannya dan hal yang terakhir dilihatnya adalah tersunggingnya senyuman kejam dari Mor. Tidak mungkin! Tidak mungkin! Mor tidak mungkin... Pikiran Alibaba semakin memudar, dan akhirnya pingsanlah Alibaba sepenuhnya.
Alibaba terbangun saat mendengar bunyi kaki kuda yang berderap. Pikirannya entah mengapa tak dapat bekerja walau ingin berpikir. Masih hidupkah ia? Lalu Alibaba pingsan kembali setelah denyutan kencang di kepalanya kembali menyerang dirinya. Putus asa, adalah hal terakhir yang dirasakan Alibaba pada saat ia kembali pingsan. Alibaba kemudian bermimpi lagi si 'dia' lagi walau semakin terasa nyatanamun kali ini mimpi tersebut terbilang sangat cepat daripada yang sebelumnya. Kemudian mimpinya berubah, ia berada di suatu kamar yang sangat megah, terpukau atas kemewahan kamar itu. Ia melihat 3 orang sedang bercakap cakap.
"... jadi bagimana dengan Golgotas saja?", tanya orang pertama yang menggenakan rompi besi seakan akan sedang berperang. Hanya saja ia tidak memiliki senjata kecuali belati kecil di sabuknya. Wajahnya masih muda dan berwibawa.
"Jangan... Ia masih terlalu muda dan-", jawab orang kedua yang langsung dipotong oleh orang pertama.
"Tidak. Biarkan saja dia yang melakukannya sehingga─", debatnya.
Orang kedua memotong perkataan orang pertama sambil berteriak, "Sehingga apa? Dia mati di tangan pembunuh berdarah dingin itu?"
Matanya kini penuh kemarahan. Tiba-tiba orang ketiga berteriak dengan kencang.
"Diaaam!", kata orang tersebut dengan tegasnya. Kegelapan mulai memudarkan mimpi Alibaba. "Tunggu! Apa maksudnya? Siapa Golgotas?", pikirnya putus asa. Lalu mimpi Alibaba semakin menggelap dan menggelap hingga hilang seluruhnya.
"...ngun, bangun.", seru seseorang di kegelapan. Seketika Alibaba tersentak kaget ketika melihat ada seorang perempuan berambut perak panjang di sebelahnya berumur sekitar 15 tahun ( setidaknya menurut perkiraan Alibaba ) sedang membangunkannya. Perempuan itu mengenakan baju terusan dari kain yang sudah lusuh yang panjangnya kurang lebih hingga selututnya. Perempuan tersbut memiliki pipi agak bulat yang membuatnya cantik, manis, sekaligus misterius; apalagi saat perempuan tersebut melihatnya dengan matanya yang berwarna emas keperakan. Alibaba kemudian melihat sekelilingnya cukup gelap, namun masih mampu melihat sekeliingnya cukup jelas. Ia menemukan dirinya berada di ruangan yang terbuat dari batu dengan pintu dari besi yang dikunci di luar. Garis-garis cahaya cukup terang dari luar. Alibaba kemudian mengintip dari sela-sela pada pintu besi tersebut, kaget melihat mahkluk berjubah yang ia lihat saat di hutan. Alibaba kaget setengah mati bukan main ketika mata merah mahkluk itu menatapnya dari sela sela pintu besi seakan akan menembus pikirannya.
Rasa kaget Alibaba mulai berkurang ketika perempuan tadi bertanya.
"Siapa namamu?" tanyanya dengan nada datar.
"Alibaba", jawab Alibaba singkat. "Siapa namamu?", tanya Alibaba balik. Pertanyaannya hanya dijawab dengan tawa pelan. Akhirnya mereka berdiam diri hingga keesokan harinya (Menurut perkiraan Alibaba, lagi. Karena yang ada di ruangan hanya ada kegelapan saja).
Hari semakin berlalu, luka di dada Alibaba sudah sembuh sepenuhnya. Ia beruntung karena panah beracun tersebut mengenai tulang rusuknya dan racun tersebut hanyalah racun berdosis cukup tinggi agar orang pingsan untuk beberapa waktu. Beberapa jam berlalu dan pada sore hari, menurut perkiraan waktu Alibaba karena suhu mulai mendingin, Alibaba dan perempuan berambut perak diberi makan keju basi dan secuil roti keras serta segelas kecil air pada waktu yang sama seharinya.
Pada hari kelima di dalam penjara, Alibaba mendapati bahwa di depan pintu besi tersebut terdengar suara bunyi "klak" kunci terbuka yang diikuti dengan bunyi "brak" pintu terbuka. Lalu perempuan berambut perak yang bersamanya diseret keluar dari sel tersebut, saat perempuan tersebut diseret keluar; Alibaba melihatnya berusaha menggerakkan bibir yang agak tak jelas kecuali bibirnya yang memonyongkan mulutnya dan senyuman yang jika digabungkan akan membuat kata - katanya. Kemudian pintu tersebut terjeblak tertutup dengan kencang dan Alibaba pun sendirian. Setelah perempuan tersebut diabawa keluar sepenuhnya dan pintu ditutup dan dikunci, Alibaba merasakan kekosongan, bukan kekosongan yang biasa dirasakan saat kehilangan temannya, kali ini berbeda, kekosongan yang mebuat hatinya terluka dan hancur berantakan. Tiba-tiba kesedihan melanda di dalam diri Alibaba karena itu adalah saat pertama kali Alibaba menyadari bahwa ia menyukai perempuan tersebut sekaligus untuk pertama kalinya menyukai seorang perempuan.
Kesendirian menyerang Alibaba selama beberapa hari. Ia mengusahakan waktu tersebut untuk tidak terbuang sia - sia, maka ia berlatih menggunakan belati yang diberikan oleh Mor yang anehnya, tidak dilucuti darinya.
Alibaba berlatih menggunakan belati dengan berbagai macam cara, seperti menutup matanya dan berusaha sekuat mungkin melawan orang di depannya yang hanya ada pada imajinasinya. Ketika ia tertidur, Alibaba mulai tak memimpikan si 'dia' lagi sama akan dia tak memimpikan temannya lagi. Walau begitu, ia masih bermimpi tenatang ketiga orang tersebut. Ia bermimpi berada di sebuah benteng, ya setidaknya begitu pikirnya. Ia melihat orang pertama sedang berjalan dengan topi besi, baju zirah yang mengkilap karena diminyaki, dan sepatu bot besi, dia membawa pedang hitam mengerikan yang cukup tipis dan tajam untuk menusuk jantung orang seketika. Dia terlihat berdarah - darah di tangan kirinya 3 sayatan dan 1 di tangan dan kaki kanannya. Alibaba melihat dia sedang berjalan dengan tersaruk - saruk di lorong benteng tersebut, hingga melihat seorang prajurit mengucapkan salam padanya. Dan mulailah terjadi percakapan antara mereka berdua.
"Hi, Jafar!", seru prajurit tersebut, yang dibalas oleh orang yang ditemui Alibaba di kamar mewah pada mimpinya dan baru saja diketahui oleh Alibaba bernama Jafar.
Jafar diam sejenak melihat ke segala arah di lorong benteng tersebut dan menjawab "Yaa, ada apa ?", jawabnya penuh berwibawa.
"Heh, hebat juga kau masih hidup setelah bertarung dengan si gendut sialan itu.", kata si prajurit.
Jafar terdiam. "Dia masih lebih baik daripadamu, wahai prajurit kelas 3 !",jawab Jafar sinis.
Seketika si prajurit menerjang Jafar dengan pedangnya. Jafar menghindar dengan mudahnya malah masih sempat berbisik ke telinganya,"Matilah dengan tenang, prajurit rendahan.", katanya sinis. Dan pedang hitamnya seketika telah membunuhnya saat menusuk jantung prajurit tersebut. Alibaba menyeringai terkagum - kagum sekaligus kaget ketika melihat Jafar membunuh si prajurit.
Mimpi Alibaba gelap seluruhnya setelah ia melihat seorang perempuan yang berumur sekitar 28 tahun berambut perak dan bermata sama seperti perempuan tempo hari di selnya.
Satu setengah minggu setelah perempuan berambut perak tersebut diseret keluar sel, pintu besi besar tersebut kembali terjeblak terbuka dan mahkluk berjubah yang dia lihat di Silverwood Forest dan di depan pintu selnya sekitar setengah bulan lalu, masuk ke dalam selnya sambil membawa pedang. Seringaian kejam terbentuk di mulutnya. Alibaba tahu akan ada sesuatu yang akan menjadi buruk bila ia tak melawan mahkluk tersebut atau lari keluar dari sel tersebut secepatnya. Dan satu-satunya pintu keluar ada di belakang mahkluk berjubah tersebut yang agak tidak mungkin dilewati jika tidak melawan mahkluk tersebut terlebih dahulu. Pertarungan mereka tidak terlekkan lagi. Maka, pertarungan Alibaba melawan mahkluk bermata merah tersebut pun dimulai.
End of Chapter 2 : Imprisoned
Next Chapter
Chapter 3 : Gladiator Test (Part 1)
