Who Is Your Lover?
By : Deer Luvian
Main Cast:
Lu Han
Kim Jongin
.
Other cast:
Park Chanyeol
Do Kyungsoo
Byun Baekhyun
Huang Zitao
And other will be mentioned
.
Genre:
Romance, comedy or romance?
(Sorry for failed humors)
.
Lenght :
Three Shoots
.
Disclaimer:
All cast not mine, but the story pure from my mind.
.
Author notes
This is Genderswitch, With pairing KaiLu slight! ChanLu.
Don't Like don't read
Don't Bash, Don't Flame and Don't plagiat..
.
Summary:
Luhan kesal dirinya merasa disingkirkan oleh sebuah game di ponsel maupun lainnya. Tak terima ada hal yang akan ia lakukan demi membuat Jongin kembali padanya. Awalnya Jongin merasa biasa, lama-lama ia menjadi gila.
(Oke it's bad summary guys, sorry)
.
Happy reading ^^,
.
.
Chapter two.
Jongin, masih pagi sudah merasakan ada yang aneh. Ia tak tahu tepatnya apa. Tak hanya sekali mata tajamnya harus menelisik lekat-lekat pada refleksi tubuhnya di kaca kamar. Ia juga menggumam heran. Tak ada yang aneh, tapi entah mengapa perasaannya sedikit mengganjal.
Sedikit ragu Jongin membongkar memori yang ia miliki selama ini. Satu dua tiga, beberapa lembar kenangan itu telah tersingkap. Alih-alih tahu apa yang menyebabkannya merasa janggal, kekecewaan dan amarah malah merusuh hatinya pagi ini. Ingatan itu mengungkap tentang kekalahan yang ia terima akhir pekan kemarin. Dimana ia kalah beradu game dengan gamers yang berasal dari belahan lain Kota Seoul. Kalah telak! Tiga poin berturut-turut ia dihajar oleh lawannya. Sementara ia hanya mengantongi satu poin saja dari lima kali sesi pertandingan.
Jongin mengumpat lagi, ingatan itu benar-benar menghilangkan mood-nya beberapa hari setelahnya. Sudah ia membatalkan janji dengan Luhan, mengorbankan semangat belajarnya dan ujungnya ia kalah. Sungguh ia ingin menguburkan diri di lubang paling dalam.
Tapi tunggu! Jongin tertegun ketika ada yang diputar dalam otaknya. Luhan. Nama itu, benar. Luhan. Gadis itu. Gadis yang menyandang status kekasih dari Jongin itu merupakan sumber kejanggalannya. Jongin tahu apa itu, Luhan tak menghubunginya pagi ini dan beberapa hari terakhir. Sudah nyaris seminggu ini Luhan tak meminta ingin dijemput. Biasanya ponsel itu berdering dengan nama Luhan tertera jelas di atasnya. Tapi kali ini..
Jongin melirik sejenak jam di dinding. Ah, sudah nyaris pukul setengah delapan. Lekas ia mengambil tas dan berjalan cepat keluar kamar. Menuju garasi untuk mengendarai sepeda motor kesayangan ke sekolah. Terserah kalau Luhan tak menghubungi, ia tak akan menjemput. Daripada ia harus terlambat, lebih baik berangkat sendiri.
Kekasih macam apa si Jongin ini?
Apa benar Jongin tak peduli dengan Luhan yang telah berangkat sekolah atau belum? Apa benar ia akan tak mengindahkan sosok kekasihnya?
Ternyata tidak! Kenyataannya ia memutar kembali motor yang ia kendarai menuju kompleks perumahan tempat Luhan tinggal. Jongin berhenti di salah satu rumah minimalis dan memberenggut kecewa. Rumah itu tertutup rapat. Tandanya tak ada penghuni. Mungkin Luhan dan mama-nya telah meninggalkan tempat sebelum ia datang. Jongin mendesah, lekas ia menjalankan kembali motornya secepat mungkin. Mengejar waktu agar tak terlambat ke sekolah.
.
.
.
.
.
"Jongin-ah.. Kau mau makan apa? Biar aku yang mengambilkannya untukmu." Beruntung Jongin memiliki teman yang peduli seperti Tao saat ia sibuk dengan ponsel di tangan. Apalagi kalau bukan game itu? Jongin tak akan bisa lepas jika ia belum berhasil menaklukkan game terbarunya. Flappy bird. Penasaran namun penuh dengan rasa frustasi.
Jongin beralih pandangan sejenak dari ponselnya. "Ramen dan bubble tea.. Terima kasih Tao-ya.." Sahut Jongin dilengkapi cengiran dan kerlingan mata. Tao bergidik ngeri. Dalam hati ia menggumam mimpi apa semalam dapat tanggapan menjijikkan dari Jongin. Lantas ia menjauh dari sana dan memesan makanan.
Selepas kepergian Tao, dua sosok cantik duduk dengan santainya di depan Jongin. Tangan masing-masing membawa nampan makanan. Sepertinya sup jagung, salad dan segelas besar iced americano. Jongin sempat melirik sejenak. Dua sosok ini berbadan kecil tapi makanannya luar biasa. Ia menggeleng-gelengkan kepala.
Oh ada yang Jongin lupakan. Ia mem-pause sebentar game itu dan menatap Baekhyun penuh tanya.
"Luhan.. Mana Luhan? Kenapa aku tidak melihatnya?" Tanya Jongin dibarengi alis menaut juga picingan mata.
Sesaat Baekhyun maupun Kyungsoo tak menjawab. Mereka memilih menikmati sup jagung itu dan sesekali menyesap iced americano-nya. Hingga sekitar dua menit tak ada tanggapan membuat Jongin mendesah. Ia menyentil tangan Baekhyun yang hendak menyuapkan sup jagung pada mulutnya.
"Yaa! Aku bertanya padamu Baek!" Pekik Jongin kesal. Bisa-bisanya mereka mengabaikan sosok tampan Jongin.
Baekhyun menatap malas Jongin lalu berujar. "Tumben sekali kau mencari Luhan?" Sahutnya sinis lalu ia meneruskan makan.
"Tumben?" Seru Jongin tak terima. "Yaa! Luhan itu kekasihku.. Wajar dong aku mencarinya.."
"Iyaa wajar! Tapi selama ini kau tidak pernah mencarinya. Kau terlalu sibuk dengan game-mu.." Kyungsoo ikut menimpali.
Jongin terdiam. Skak mat! Benar. Yang dikatakan Kyungsoo tentangnya benar. Ia baru sadar jika ia selama ini lebih memilih game daripada Luhan. Oh Tuan Kim, kemana saja kau selama ini? Apa karena sosok Luhan yang tiba-tiba menghilang darimu membuatmu sadar? Terlambat. Bagaimana jika...
Tidak-tidak. Jongin tidak ingin berpikiran yang aneh-aneh dulu.
Kyungsoo melempar senyum miring pada Jongin. Ia yakin pemuda di depannya ini pasti tak sanggup melawan kata-katanya. Lihat saja bagaimana wajah datar itu berbicara. Mengerikan.
Tak lama kemudian, Tao datang dengan beberapa makanan di nampan. Dua mangkuk ramen dan dua gelas bubble tea di tambah sebungkus snack. Ia meletakkannya tepat di depan Jongin lalu duduk di sebelah Baekhyun. Pesanan Jongin segera ia angkat dari nampan dan pesanan miliknya segera ia santap. Sebelum satu suapan terjadi, ia ingin mengatakan sesuatu.
"Chanyeol tidak kesini? Tadi aku lihat dia memesan makanan dua porsi.."
Kyungsoo dan Baekhyun menggeleng berbarengan. Jongin menatap bingung Tao.
"Terus kemana dia? Makan dimana?" Lanjutnya.
Baekhyun menyesap sebentar iced americano-nya setelah ia selesai mengunyah. "Makan dengan Luhan mungkin. Tadi waktu keluar kelas dia memanggil Luhan." Sahutnya seraya mengusap sudut mulutnya.
"Oh, makan dengan Luhan.." Balasnya datar. Tao tak tertarik lagi setelahnya. Ia mulai menyuapkan makanan pada mulutnya yang lapar.
Berbeda dengan Tao yang cuek setelah mendapatkan jawaban. Jongin, ia merasa ada yang aneh disini. Sejak kapan Chanyeol dan Luhan menyendiri berdua dan makan jauh dari mereka. Sejak kapan Chanyeol mengajak keluar Luhan setelah bel istirahat. Sejak kapan Luhan mau diajak Chanyeol. Dan sejak kapan ia mulai merasa tak tenang mendengar hal ini?
Bahkan gerak gelisah yang ditunjukkan oleh kedua mata kelam serta tubuhnya jelas mengatakan Jongin memang merasa tak nyaman dan tak tenang olehnya. Atau Jongin sedang cemburu? Kemungkinan iya.
.
.
.
Jongin merutuk berulang, ia ingin cepat pulang ternyata Jung Seonsaengnim tak mengijinkannya. Masih ada satu sesi belajar tambahan yang harus ia jalani. Mau tak mau Jongin menurut. Rencana ia ingin ke game centre setelah mengantarkan Luhan pulang. Oh iya, membicarakan tentang Luhan saat ini lensa Jongin sibuk memonitori sosok yang duduk di depannya. Park Chanyeol, pemuda bertubuh lebih tinggi darinya ini.
Dalam hati Jongin bertanya, apa istimewa pemuda ini hingga Luhan memilih makan siang dengan Chanyeol daripada dirinya? Apa Luhan bosan dengannya? Oh, Jongin tidak bisa membayangkan bagaimana ia hidup tanpa Luhan. Berlebihan? Sepertinya.. Bahkan ia tak ingat jika selama ini Luhan selalu saja ia abaikan.
Selama ini Jongin jarang sekali peduli dengan Luhan. Entah apapun itu ia hanya berfokus pada game yang ia gemari. Sesekali atau mungkin berulang kali ia menolak ajakan Luhan karena ada pertandingan game yang diadakan rutinan di kafe Eunji, noona sepupunya. Tapi semenjak terakhir kali ia menolak ajakan Luhan, Jongin jarang sekali mendapatkan kabar dari Luhan. Awalnya ia cuek dan tak peduli, tapi lama-lama..
Ada yang hilang juga..
Jongin mendesah, memikirkan itu membuatnya emosi. Ia terus melirik tajam sosok yang tengah berdiri menerangkan di depan sana. Seolah tatapan itu bisa membunuh dan berakhir mereka pulang cepat. Jongin juga sesekali mengumpat tak jelas. Juga, Tao yang berada di sebelahnya sesekali melirik bingung dengan kegelisahan Jongin.
"Kau kenapa sih Jongin? Mau cepat pulang terus main game?" Tao menyikut tangan Jongin yang masih memasang wajah datarnya itu.
Jongin melirik sekilas lalu menggeleng. "Bukan.. Aku ingin pulang dengan Luhan.." Sahutnya datar.
Kerutan terukir di dahi Tao. "Luhan?" Ia melirik jam yang melingkar di tangannya. "Sudah pulang! Baekhyun tadi bilang akan pulang dengan Luhan.. Sekitar sejam yang lalu lah.."
"He? Sudah pulang? Kenapa dia tak bilang..." Jongin membalas dengan ucapan lirih penuh kecewaan. Ia membuka ponselnya dan benar seperti yang ia duga. Tak ada pesan sama sekali atau telepon. Jika biasanya, Luhan akan mengabari bagaimana ia pulang dan dengan siapa. Tapi ini?
Mau tak mau Jongin harus sadar bahwa kekasihnya perlahan menghilang dari jangkauannya. Kenapa ia baru memperhatikan Luhan setelah tiga bulan lebih berkencan? Renungkanlah kesalahanmu Tuan Kim.
.
.
.
.
Malam harinya, Jongin penasaran dengan keberadaan Luhan. Gadis itu bagaikan ditelan bumi. Sepulang sekolah, ia tak melihat Luhan sama sekali. Sampai di rumah tak satupun pesan ia terima. Jongin mengerang kesal. Sebenarnya ada apa dengan Luhan? Kenapa ia menghindarinya?
Baiklah, sebelum ia belajar. Ah, maksudnya mengerjakan tugas –karena Tao menolak keras memberikan contekan-, Jongin meraih ponselnya. Sekali lagi desahan berat menguar dari bibir penuhnya. Luhan benar-benar menghilang. Pesannya diabaikan sampai saat ini.
"Ku harap Luhan akan mengangkat telepon dariku." Jongin mendial nomor hape Luhan. Didekatkannya ponsel itu ke telinga. Sedetik dua detik menunggu, tak ada jawaban dari seberang.
Jongin mengulanginya lagi hingga ke sepuluh suara Luhan dari seberang terdengar.
"Wae?"
Jongin mengelus dadanya. Pertama kalinya suara ketus Luhan diterima Jongin hari ini.
"Lu.. Kau kemana saja? Aku merindukanmu.." Sedikit mendramatisir boleh 'kan?
"Gombal! Matikan saja teleponmu kalau kau hanya berbasa-basi.."
"Lu.." Rengek Jongin. Ada apa sebenarnya dengan kekasihnya ini?
"Kenapa? Ada perlu apa kau menelponku? Kau sudah tidak sibuk dengan game-mu? Kau tidak sedang bertanding? Ah, ku dengar di kafe Woohyun oppa diselenggarakan pertandingan game loh, kau tak ikut?"
Jongin benar-benar butuh es batu agar bisa mendinginkan kepalanya. Ucapan panjang dari Luhan sama sekali tak ada manis-manisnya. Jongin tahu jika kekasihnya itu sedang marah atau kesal. Terlihat jelas dari suara lembut Luhan yang mengalun mengesalkan.
"Lu.. Kau kenapa sih? Kenapa tidak menjawab teleponku? Kenapa tidak membalas pesanku? Aku benar-benar-"
"Kau sedang panas ya?"
"Lu.."
"Matikan saja teleponnya... Aku sedang sibuk!"
"Lu.."
Tuut..tuutt...tuuuttt...tuuuttt...
Sambungan benar-benar diputus oleh Luhan. Jongin menghela nafas frustasi. Ia tak mengerti dengan sikap Luhan yang super dingin. Dan yang memprihatinkan sampai saat ini, Jongin masih belum tahu jika Luhan kesal karena dirinya yang terlalu sibuk dengan game. Bahkan ketika disindir, Jongin juga tak sepenuhnya paham.
Tuhan ampunilah dosa Jongin..
Tabahkanlah hati Luhan...
.
.
.
.
.
Hari Sabtu..
Senyum terulas dengan lebarnya dari wajah tampan Jongin. Oh, oh lihatlah ada yang tengah bahagia saat ini. Apalagi kalau bukan karena ia baru saja menang dalam pertandingan game? Iya, jika dua minggu lalu ia kalah kali ini ia merebut beberapa lembar won yang disediakan noona-nya. Baiklah, ia kaya untuk beberapa waktu ke depan. Lantas buat apa uang itu?
Jongin mengerutkan keningnya dalam tengah memikirkan sesuatu yang akan penting jika ia lakukan. Setelah sekian lama berpikir ia tahu jawabannya. Mengajak kencan Luhan. Pasti gadis itu akan senang sekali.
Lekas ia mempersiapkan diri dan menjemput Luhan dari rumahnya. Tanpa memberi tahu akan menjadi kejutan yang tak terlupakan mungkin. Atau malah menjadi awal yang menyakitkan?
"Luhaan.." Seru Jongin seketika ia berdiri di depan rumah Luhan. Sudah menjadi kebiasaan Jongin berteriak saat ingin menemui Luhan. Rumah Luhan bukan sesuatu yang mewah. Hanya rumah sederhana yang mampu ditembus dengan pekikan Jongin.
Tiga kali seruan ia lakukan namun hasilnya nihil. Luhan tak kunjung keluar rumah. Lekas ia mendekati pintu dan memencet bel rumah.
Satu, dua, tiga, empat dan lima kali memencet akhirnya seseorang keluar dari rumah. Tapi sosok itu bukan Luhan melainkan Nyonya Lu, mama Luhan.
"Annyeonghaseyo eomoni.. Luhan ada?" Tanya Jongin.
Senyum hangat terlukis di wajah wanita cantik itu. "Waahh.. Luhan sudah keluar dari tadi Jongin.." Balasnya dengan sedikit bersalah. "Tadi ada temannya yang menjemput."
"Teman? Siapa eomoni? Apa Kyungsoo? Baekhyun?"
"Oh bukan.. Teman lelaki.. Eomoni pikir kalian akan pergi bersama.."
Jongin mengernyitkan keningnya heran. Lelaki? Siapa lelaki yang berani menjemput Luhan dan mengajaknya keluar? Saat otaknya berusaha memilah dan menebak, bibir penuh Jongin mengulas senyum kikuk dan ia menunduk memberikan hormat.
"Baiklah kalau begitu eomoni.. Jongin pamit diri.."
Siapa lelaki? Siapa? Pertanyaan itu menggelantung dan bergelayut manja di otak Jongin. Hati juga otaknya tak sanggup menerka siapa kemungkinan lelaki yang berani membawa kekasihnya. Padahal hari ini adalah jatahnya bersama dengan Luhan. Sialan.. Jongin terus mengumpat dalam hati.
Dan sepertinya Jongin memang ditakdirkan untuk merasa bingung juga menyesal saat ini. Ia tak tahu harus bagaimana setelahnya. Sudah sekitar lima kali panggilan kepada ponsel Luhan diabaikan pemiliknya. Sudah puluhan pesan sudah ia kirimkan. Namun tak satupun ada balasan dari pihak lawan. Lalu Jongin harus bagaimana? Kenapa ia menjadi tak tenang seperti ini? Biasanya tidak..
Ah, Jongin baru merasakan bagaimana kehilangan sosok mungil itu. Karena biasanya Luhan selalu ada untuk Jongin. Menyedihkan...
.
.
.
.
Mungkin Tuhan masih menyayangi Jongin dan tak ingin membuat pemuda tampan itu kecewa. Saat Jongin bingung harus kemana dan duduk tak tenang di salah satu kafe terbuka, sesuatu tertangkap lensa kelamnya. Sontak ia memicingkan mata untuk memperjelas apa yang ia lihat. Bibirnya terangkat kala ia mampu menterjemahkan tangkapan itu.
Lu Han, sedang duduk sendiri di taman dekat kafe itu dengan kepala menunduk. Sepertinya ia tengah membaca sesuatu. Bukankah seharusnya ia bersama dengan lelaki yang dimaksud oleh Nyonya Lu? Masa bodoh! Jongin tak peduli. Yang ia lihat Luhan sendiri berarti ya sendiri. Lekas saja Jongin bergerak mendekat ke arah Luhan. Ia senang bukan kepalang setidaknya hari ini ia tak akan sia-sia. Bibirnya bersiul tak jelas selama perjalanan itu. Butuh waktu juga walaupun hanya menyebrang ke sisi lain jalanan itu.
Tunggu! Jongin menghentikan langkahnya seketika saat ia melihat seseorang lebih dulu berada di depan Luhan. Benar, yang dikatakan oleh Nyonya Lu benar. Luhan memang tak sendiri. Melainkan dengan seseorang yang sepertinya Jongin kenal. Bentuk tubuh lelaki itu terasa tak asing di mata Jongin. Ia mendekat dengan sedikit bersembunyi memastikan sosok yang ia kira-kira itu.
Oh ternyata lelaki yang bersama dengan Luhan adalah Chanyeol.
Chanyeol?
Jongin berlari cepat dan bersembunyi di balik semak-semak, ia memperhatikan kedua sosok yang saat ini tengah duduk di bangku itu dan bercanda bersama. Apa-apaan ini, sejak kapan Luhan mau pergi keluar bersama si tiang ini? Berulang kali Jongin mengumpat dalam hati. Merutuki sikap Chanyeol yang seenak jidatnya pegi keluar mengajak Luhan. Asal kalian tahu, Luhan itu kekasihnya. Ingat kekasihnya!
Sepertinya Jongin harus merelakan ia menahan amarah yang entah sampai kapan menggebu-gebu. Bersembunyi di balik semak-semak demi menguntit dan memantau mereka berdua bukanlah pilihan yang tepat. Nyatanya, Chanyeol malah semakin tampak beringas jika dilihat dari dekat sini. Jongin menggeram tertahan melihat Chanyeol leluasa memegang tangan kekasihnya. Dan apa ini? Geraman Jongin berimbas pada tangkai yang ia pegang. Retakan di tangkai itu pertanda bahwa diri Jongin tak dalam keadaan baik.
Saat ini Chanyeol mengusap lembut pipi Luhan dengan tatapan sayang. Sungguh, Jongin muak melihat itu semua. Ia ingin sekali keluar dan menghajar Chanyeol. Namun ia masih harus berpikir dengan baik. Ia tak mau nanti Luhan malah membencinya karena tindakan konyol yang ia lakukan.
Ada yang tengah menggerayangi pikiran Jongin. Pesan singkat. Baiklah, mungkin ini saatnya mengganggu momen mereka dengan membombardir ponsel Luhan dengan pesan singkat. Langsung saja Jongin mengetik pesan dan mengirimkan berulang pada Luhan.
Tetapi..
Mungkin Jongin memang ditakdirkan bersedih hari ini. Luhan sama sekali tak peduli dengan pesan yang ia kirimkan. Bahkan sekedar ditengokpun tidak. Jongin mengerang kesal. Luhan terlalu menikmati saat-saat bersama dengan Chanyeol. Hal itu membuatnya mengulang kembali waktu dimana ia bersama dengan Luhan. Sepertinya gadis itu tak pernah selepas ini tertawa, tak pernah senyaman ini saat bersama, tak pernah sebahagia ini.
Atau..
Oh, Jongin ingat. Yang membuat Luhan tak bisa seperti ini saat bersamanya adalah karena ia terlalu sibuk dengan game-nya. Tapi, ah, itu pikir saja nanti. Sekarang Jongin harus fokus bagaimana caranya membuat mereka itu menjauh. Dengan muncul tiba-tiba? Tidak-tidak. Itu sama saja bunuh diri. Pasti Luhan akan berpikir kalau ia menguntit dirinya. Lalu?
Jongin memperhatikan sekitar. Ia mencari-cari bagaimana caranya untuk mengganggu Luhan dan Chanyeol. Pikirannya sempat tertuju pada batu-batuan yang ada. Melempar mereka dengan batu-batuan?
Tidak.. Chanyeol dan Luhan bisa curiga.
Lantas bagaimana?
Jongin mengerutkan keningnya bingung. Pemikiran itu jelas membuatnya panas dan kalang kabut. Ia tak ingin melihat Luhan dan Chanyeol lebih lama lagi. Namun amarah Jongin tampaknya semakin lama semakin dibakar habis-habisan oleh keduanya. Lihat-lihat. Saat ini Luhan malah ikut-ikutan membelai wajah Chanyeol dengan senyum yang kelewat manis. Tangan lembutnya juga mengusap punggung tangan Chanyeol dengan pelan. Kedua mata itu jelas menyorot tatapan penuh rasa sayang. Jongin geram melihat keadaan sekarang. Lantas ia mengambil salah satu batu yang ada di dekatnya.
"Oh.. Oh.. Tidak.!" Gumam Jongin tak percaya saat ia melihat Chanyeol mendekatkan wajahnya. Detik selanjutnya Jongin bisa menebak apa yang akan terjadi. Jongin lantas berdiri dan...
"Stop!"
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Yess... Apdet, bagaimana?
Reviewnya saja deh yaa..
.
.
.Terima kasih.
.
.
Big regards
.
.
~Deer Luvian~
03 July 2015
