My Beautiful Class–Leader Chapter 2

Tittle : My Beautiful Class–Leader

Author : fakemelody

Gerne : School Life; a little Romantic

Cast : EXO member[GS for uke]

A/N : mianhae, author masih newbie, jadi masih jelek hehe..btw chapter yang kemarin itu masih pre-chapter gitu deh, jadi agak geje hehehe...sekali lagi jeongmal mianhamnida /.\

WARNING! EYD BERANTAKAN! TERDAPAT KATA KATA KASAR DAN ADEGAN BERBAHAYA!

fakemelody©

present

"My Beautifull Class-Leader"

My Beautifull Class-Leader

Prev Chap :

"HYOJIN KELUARLAH! JANGAN KEMBALI KESINI!" teriak Chanyeol sambil menghajar anggotagangsterlainnya.

"Tapi aku harus me–"

"Eh?! Hyojin?!" semua orang yang ada di ruangan itu dengan serentak melihat kearah Chanyeol.

"Apa maksudmu Park Chanyeol?" Luhan mengerutkan dahinya.

"Siapa dia? Apakah ada dia disini?" lanjutnya.

"D-diaa..d-dia m-mantanku yang sudah meninggal dan kau sangat mirip dengannya pada saat menghajar lawan.." Chanyeol menundukkan kepalanya.

"Chan-"

SRAAAAAAAAK! SREETT! Seorang anggota gangster jahat itu hampir saja melukai Luhan, tapi sebelumnya Kai telah menyelamatkan Luhan dari belakang dengan cara menundukkan kepala Luhan sambil memeluknya. Oh, tidakkah kalian menyadari kalau itu sangat romantis?

"Kau tidak boleh menyakiti wanita bastard! Jika kau menyakiti wanita itu artinya kau seorang waria!" Kai membanting tubuh lawannya dengan cepat. Oh, jangan lupakan tatapan menyeramkan dari seorang Kim Jong In yang romantis itu.

"K-kai..." Luhan menunduk, entah kenapa ia merasa pikirannya bercampur aduk malam ini..

My Beautifull Class-Leader

Keesokan harinya..

Luhan POV

Aku bingung. Bagaimana ya cara untuk memberitahu teman – teman agar tidak bertengkar lagi? Haah, tapi aku selalu terlibat dalam pertengkaran itu, Oh Tuhan, aku benar – benar bingung. Lagi pula, kenapa ya, di saat – saat kelas sedang sibuk mereka malah memiliki masalah seperti itu, apakah mereka tidak sadar sebentar lagi ujian kenaikan kelas? Ah, aku jadi sering melewatkan pelajaran gara – gara sering di panggil wali kelas untuk menjelaskan permasalah mereka. Haaah, sudahlah, lebih baik aku membaca bukuku.

End of luhan pov

Tap..tap..tap..

Seorang gadis dengan rambut berwarna brunette berlari kearah Luhan yang sedang membaca bukunya.

"Lu!" gadis dengan rambut brunette itu menyapa Luhan sambil tersenyum.

"Eh" luhan menghentikan kegiatannya lalu menatap gadis itu dengan senyuman yang amat-sangat-manis.

"Ada apa baekkie?"Luhan memeluk gadis yang ia panggil dengan sebutan 'baekkie' itu.

"Ngg..ada yang ingin aku tanyakan.." gadis yang ternyata kekasih dari Park Chanyeol itu menunduk dengan sedikit takut.

"Wae?" Luhan menatap Baekhyun dengan heran.

"C-chanyeollie hanya menjadikanku pelampiasan ya?" Baekhyun menyandarkan tubuh mungilnya pada dinding kelas.

"E-eh?!" mata Luhan terbuka lebar, ia tersentak, jujur saja, Luhan tak pernah menyangka kalau Baekhyun akan menanyakan itu.

"Benar kan?" Baekhyun hanya dapat tersenyum pahit.

"Itu sama sekali tidak benar!" tiba – tiba suara berat menginterupsi mereka berdua.

"C-chanyeol!" Luhan dan Baekhyun memekik kaget.

"Baekhyun-ah, kau tak percaya padaku?" Chanyeol menatap baekhyun dengan tatapan seriusnya sedangkan yang ditatap hanya dapat menunduk dengan dalam, tak berani untuk menatap mata jernih sang pemilik suara berat itu.

"B-bukannya aku tak percaya, hanya saja...mengapa harus mantan kekasihmu yang kau ingat.." Baekhyun sedikit berteriak pada Chanyeol―lebih tepatnya memekik.

"Hey mengertilah sedikit, aku sedang terdesak kemarin, dan..tiba – tiba saja saat aku melihat ketua aku teringat dengannya.." Chanyeol mencoba untuk menyangkal―tapi memang benar, itu hanya kesalahpahaman semata.

"Jadi? Kau akan jatuh cinta pada luhan? Begitu?" mata Baekhyun mulai berkaca – kaca.

"Hey! Hey! Bisakah kalian berhenti berargumentasi!" suara Luhan menginterupsi kegiatan mereka berdua.

"Dengarkan aku! Baekhyun, Chanyeolmu tidak mungkin menyukaiku! Ia hanya cinta padamu, soal mantan, pikirannya sedang tidak baik kemarin.. dan Chanyeol, kau sudah memiliki Baekhyun, cobalah untuk melupakan semua yang terjadi di masa lalu, bukalah mata hatimu, aku yakin kau adalah pria yang baik. Aku permisi" Luhan pun berlalu setelah mengatakan itu semua. Sedangkan baekhyun dan chanyeol hanya dapat terdiam kaku, ya, awkward.

My Beautifull Class-Leader

Luhan POV

Aku harap mereka berdua akan sadar, haah, sungguh merepotkan, seperti orang yang baru pertama kali pacaran saja. Aku saja tidak sebegitunya pada Kai. Ehm, masalah Kai, entah mengapa aku merasa ada yang aneh padanya, hatiku berkata kalau dia sudah tak mencintaiku lagi, tapi semua perlakuannyaa padaku masih tampak seperti mencintaiku.

"Luhan-ssi! Kau dipanggil Cho Songsaenim!" teriak seseorang dibelakangku. Aku menoleh padanya, dan ternyata ia adalah Oh Sehun, siswa yang―ehm jujur saja, pintar dan tampan.

"A-ah, arraseo, Sehun-ssi" aku tersenyum padanya setelah menjawab panggilannya.

End Of Luhan POV

Luhan pun pergi ke kantor Cho Songsaenim―guru konseling dengan tenang, sedangkan Sehun hanya bisa menatap kepergian gadis cantik berambut panjang itu lalu berjalan menyusuri koridor sekolah

Oh ya, kalian masih penasaran kan latar belakang kehidupan Luhan? Begini, aku akan menceritakannya kembali. Luhan adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga sederhana, namun sepupunya Wu Yi Fan atau Kris, dia adalah seorang anak laki – laki yang berasal dari keluarga kaya raya―ehm mari kita kembali membicarakan Luhan. Luhan adalah anak tunggal, ayahnya adalah seorang pegawai kantoran biasa sedangkan ibunya adalah seorang pelayan cafe di cafe milik keluarga Kris. Luhan memang bukanlah seorang yang penyendiri, ia sangat senang membantu orang, suka bersosialisasi dan satu lagi, ia bukanlah gadis manja seperti halnya gadis remaja yang lain. Ia dan Kai memiliki sebuah hubungan yang biasa disebut 'pacaran' tapi entah mengapa, hubungan mereka kini merenggang. Luhan juga adalah seorang ketua kelas―sekaligus ketua osis di sekolahnya.

My Beautifull Class-Leader

"Luhan, sudah berkali – kali aku katakan, tolong selesaikan kasus perkelahian itu! Mengapa kau tak mau mengerti hah?" sentak seorang guru berkacamata tebal pada Luhan.

"Maafkan saya Cho songsaenim.." Luhan hanya merenung saat dimarahi oleh guru konseling sekolahnya.

"Hahh.. mengapa berandal dari kelasmu tidak pernah jera untuk berkelahi sih?" omel guru konseling tersebut pada Luhan.

"Songsaenim, boleh saya mengemukakan pendapat saya?" Luhan bertanya dengan takut – takut.

"Silahkan ungkapkan pendapatmu, Luhan" ujar guru konseling tersebut sambil melihat profil siswa – siswa yang terlibat perkelahian tersebut.

"Alangkah lebih baik memberi hukuman karantina pada mereka yang berkelahi, ba-bagaimana?" Luhan memainkan ujung seragamnya.

"Itu lebih baik. Oh ya Luhan, berhubung kau adalah seorang wanita, aku tidak akan membiarkanmu mengatasi itu sendirian, aku akan menyuruh Oh Sehun untuk membantu semua tugasmu." Guru konseling itu menunjuk profil Sehun di dokumennya.

"A-apa? Bukankah ia ikut terlibat dalam perkelahian itu songsaenim?" Luhan tersentak kaget.

"Kurasa ia hanya terbawa dengan teman – teman berandalmu Luhan, kulihat ia adalah siswa yang pintar dan cerdik, ohya, aku tidak menerima penolakan Xi Lu Han" guru itu tersenyum.

"Oh Sehun masuklah!" panggilnya.

"Permisi," Sehun masuk kedalam ruangan Cho Songsaenim dengan tampilan yang berbeda dari biasanya, kali ini ia memakai seragam dengan rapi―walaupun kemejanya ia keluarkan dan tak memakai dasi. Ia memakai kacamata, rambutnya pun ditata sedemikian rupa hingga terlihat seperti seorang anak bangsawan yang baru saja pergi untuk belajar di sebuah sekolah. Luhan terkaget – kaget dengan pemandangan itu.

"Luhan.." guru itu memanggil Luhan yang masih terkaget – kaget. Tapi luhan belum sadar dan belum menjawab panggilan itu.

"Luhan" panggil guru itu sekali lagi.

"Xi Lu Han!" guru itu pun sedikit kesal sehingga sedikit berteriak untuk menyadarkan Luhan dari alamnya.

"A-ah! Iya songsaenim, maafkan saya! A-ada yang bisa saya bantu?" Luhan sedikit tergagap setelah sadar.

"Kenapa kau melihat sehun seperti itu? Kau terpesona padanya huh?" guru itu tersenyum licik lalu menatap sehun yang kini sedang melihat isi lemari dari guru konseling itu.

"A-ah t-tidak songsaenim, aku hanya sedikit tidak enak badan hari ini.." luhan menjawab dengan asal - asalan.

"Kau sakit? Ehm, Sehun, bisakah kau antar dia ke ruang kesehatan?" guru itu tersenyum licik―lagi.

"A-ah aku bisa sendiri songsaenim!"

"Bawa ia sehun, tolong ya!"

"Ne, songsaenim.."

My Beautifull Class-Leader

"Haah, kenapa kau harus menurut pada songsaenim sih?" Luhan mengerucutkan bibirnya dengan imut.

"Mau bagaimana lagi? Dari pada aku diceramahi sampai malam olehnya.." sehun menjawab perkataan Luhan dengan ekspresi super duper datarnya.

"Ja, sudah sampai di ruang kesehatan!" lanjutnya.

"Aku tidak mau keesinii, aku baik – baik saja Oh Sehun!" omel Luhan pada Sehun.

"Ehem, apa yang kalian lakukan disini?" dehaman dari seorang Kim Jong In mengagetkan mereka berdua.

"K-kai!" Luhan memundurkan langkahnya saat mendengar suara kai.

"Kau mencoba untuk bermain – main dengan pria lain? Xi Luhan?" Kai sedikit menyentak perkataannya pada Luhan. Luhan menunduk, bukan takut, ia hanya merasa tidak enak pada sehun.

"Dan kau Sehun, kau mencoba untuk mengkhianatiku?hm?" Kai berkata dengan nada yang ehm sedikit merendahkan―meremehkan lebih tepatnya.

"Kai, dengarkan aku, kau bisa saja menganggap aku mengkhianatiku, tapi Luhan, ia mencintaimu!" Sehun mendelik pada Kai.

"Oh begitu, dan kau Luhan? Apa ada yang ingin kau katakan?" Kai kembali berkata dengan nada meremehkannya.

"Kau... aku―" Luhan sengaja memotong perkataannya.

"Kai chagi.." seseorang gadis bername tag Krystal memanggil kai dengan nada manjanya.

"Ne?" Kai menjawab panggilan manja gadis itu. Sedangkan Luhan menutup mulutnya tak percaya.

"Jika kau bisa bermain dibelakangku, aku juga bisa bermain dibelakangmu Lu" Kai pun menggandeng gadis brnama krystal itu dan berlalu dari tempat itu. Luhan pun terduduk lemas, ia tahu, ia sadar akan semua, semua telah berakhir, benar kan?

"KIM JONG IN! KENAPA KAU SANGAT BODOH HA?! KAU YANG TELAH BERMAIN DIBELAKANG LUHAN BASTARD!" tiba – tiba sehun berteriak dengan keras, sampai – sampai kai berbalik dan menatapnya. Luhan yang melihat kejadian itu hanya terkaget – kaget, sehun yang notabenenya adalah salah satu teman dekat kai, tiba – tiba berani berteriak―membentak pada kai. Kai pun mengisyaratkan krystal untuk pergi dari tempat mereka.

"Oh, Kau marah hm? Apakah salah jika aku menduakan gadis malaikat ini hm?" Kai menunjuk luhan dengan dagunya, tak lupa wajah angkuhnya yang menyebalkan. Sehun pun merasa sangat marah, entah mengapa ia merasa jika ia harus melawan kai dan membela luhan.

BUAGH! Kepalan tangan sehun pun menghantam wajah kai hingga sudut bibir kai mengeluarkan darah.

"Shit! Ada apa denganmu odult?! Kau mengajakku untuk bertarung?" Kai menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya dan mengepalkan tanganya.

"Ya! Kau bersedia?" Sehun tertawa sinis pada kai. Luhan yang sadar akan ada perkelahian pun mencoba untuk bangkit―menengahi.

"Hentikan ini kai, sehun!" luhan berteriak dengan suara seraknya―serak karena menahan tangisannya kupikir.

"Kau tidak ada sangkut pautnya dengan ini luhan! Pergilah! Biarkan aku menghajar bajingan ini" sehun menyiapkan kuda – kudanya.

"Haha, kau mencoba untuk melindungi gadis malaikat ini ha? Asal kau tahu, dia terlalu baik pada semua orang, bahkan sangking terlalu baiknya dia seperti bitch!" seketika Luhan menunduk dan meremas seragam sekolahnya, entah mengapa saat kai mengucapkan itu dadanya berdenyut nyeri, hatinya seolah diiris belati yang tumpul, bukan karena ia diputuskan, ini karena perkataan pedasnya, jujur saja, sebenarnya ia bukanlah gadis lemah, tapi untuk kali ini, entahlah. Ia menutup matanya, mencoba untuk menenangkan diri, untung saja koridor disini jarang dilewati orang, jadi tak akan ada yang tahu jika ada perkelahian disini.

"Kau harus pergi dari sini jika aku menang dalam pertarungan ini!" sehun berkata dengan dinginnya pada kai.

"Jika aku yang menang maka aku akan mempermalukan dirimu!" kai tertawa meremehkan.

"Hun.. kumohon, jangan bertengkar seperti itu.. sehun, sehunna... mianhae.." luhan bergumam pelan, sangat pelan sampai suaranya tak terdengar. Wajahnya mulai pucat, bahkan ia mulai melemah.

Perkelahian antara kai dan sehun pun terus berlanjut, tanpa mereka sadari, luhan telah terbaring lemas disana, wajahnya pucat. Pada akhirnya Sehun memenangkan perkelahian itu, dan Kai langsung pergi berlalu dari sana. Sehun mengelap titik – titik keringat di dahinya, dan melihat sekeliling, ia langsung menyadari Luhan yang tergeletak lemah di samping pintu ruang kesehatan.

"Xi Luhan? Hei! Luhan!" sehun langsung berlari kearah Luhan dan menggendong Luhan masuk kedalam ruang kesehatan.

Braakk!

"Songsaenim! Uisa!" sehun berteriak dengan keras setelah memasuki ruangan.

"Eh, eh, ada apa? Apa yang terjadi?" seorang guru kesehatan yang nampaknya baru saja terbanguun dari tidurnya terlihat kikuk.

"Tolong dia saem.." sehun menidurkan luhan di tempat tidur berlapis sprei putih itu.

"Em, Oh Sehun, apa kau terlibat perkelahian?" guru kesehatan itu berkata sambil memeriksa Luhan, sehun tersentak saat guru itu bertanya soal perkelahian.

"A-aniya, tidak ada perkelahian apapun.." sehun mencoba untuk menyangkal.

"Tapi seragammu sangat berantakan.." guru itu masih memeriksa luhan.

"Ah, ini, aku tadi berlari menolong luhan saem.." guru kesehatan itu mengangguk, percaya akan ucapan sehun.

My Beautifull Class-Leader

Luhan menggeliat pelan, ia berusaha membuka kelopak matanya dengan susah payah. Dan lagi, sehunlah yang pertama kali melihatnya siuman dari pingsannya, haah, tentu saja, sejak dua jam yang lalu sehunlah yang menungguinya disini, di ruang kesehatan sekolah.

"Luhan, gwaenchana?" sehun menatap luhan dengan penuh harap.

"Ne..sehunna, kenapa kau ada disini?" luhan berkata sambil mencoba untuk mendudukkan badannya.

"A-ah, lu, sebaiknya kau berbaring dulu, dan..maafkan aku soal insiden tadi siang.." sehun menunduk, terus terang saja, ia menyesali semua perbuatannya.

"Gwaenchana.." saat mendengar itu raut wajah luhan pun tampak sedikit...emm, kesal? Benci? Sedih? Ah, entahlah, raut wajahnya sulit untuk dijelaskan. Sehun pun begitu.

"Hun, pergilah, biarkan aku menenangkan diriku sebentar, silahkan beri aku waktu limabelas menit.." lanjutnya dengan suara lirih.

"Ah, baiklah" tanpa banyak berkata sehun langsung keluar dari bilik tempat luhan berbaring.

Setelah sehun keluar dari bilik bertirai putih itu, luhan langsung meremas selimut putih yang ia kenakan, ia menggigit bibir bawahnya, air matanya hampir jatuh, tapi ia tahu, ia tak boleh menangis, ia bukan yeoja lemah kan? Ia mengacak rambutnya dengan kasar laalu menghela nafasnya.

"Apa yang aku rasakan sih?" luhan bergumam sambil turun dari tempat tidur berbau obat itu lalu sedikit merapikannya, ya, seperti melipat selimut dan menata bantal putih itu kembali seperti semula.

"Aku keluar sajalah, tidak enak berdiam di tempat berbau obat seperti ini.." luhan pun berjalan menuju tirai dan mulai membuka tirainya.

Sreeekk! Wajah luhan yang cantik bak puteriwalaupun rambutnya sedikit berantakan dan pipinya agak memerah karena baru saja siuman berhadapan dengan wajah sehun yang tampan dan segar―mungkin ia baru saja membasuh wajahnya dengan air.

"A-ah mianhae!" luhan yang sadar akan kejadian itu langsung memundurkan tubuhnya sambil menunduk malu. Sehun tersenyum.

"No problem, luhan" sehun menyodorkan satu kantung plastik berisi makanan ringan pada luhan, luhan pun mulai mengangkat wajahnya dan menatap sehun dengan bingung.

"Itu untuk apa hun-ah?" luhan memiringkan kepalanya.

"Ini? Tentu saja untukmu!" sehun mengetuk dahi luhan dengan telunjuknya. Sedangkan luhan hanya memanyunkan bibir pinknya.

"Aiiishh, jangan menyentuh dahikuu! Bytheway, aku tidak mungkin menghabiskan makanan ini sendirian kan?" luhan masih memanyunkan bibirnya *oh Tuhan, sungguh ia sangat imut, aku yakin sehun tak akan bisa menahan diri melihat gadis ini fufufu/?*

"Arra, arra, duduk dan makanlah!" sehun mendudukkan dirinya di meja nakas.

"ya! Meja itu bukan untuk duduk oh sehun! Duduklah di kursi!" setelah luhan mengambil plastik makanan ringan itu ia langsung memukul sehun dengan bantal yang tadi sudah ia tata sedemikian rupa di tempat tidur bersprei putih itu.

"Shireo! Terserahku mau duduk dimana pun!" sehun pun berusaha untuk mengelak dari pukulan ketuanya yang cantik itu.

"Kau merusak fasilitas sekolah sehun!" luhan masih berusaha memukul sehun.

"Aniya! Aku tidak merusaknya! Aku hanya duduk diatasnya!" sehun pun memundurkan tubuhnya, berusaha untuk menyamankan diri―sekaligus menghindar dari pukulan luhan.

"Hey! Bagaimana kalau meja itu rubuh tiba – tiba?! Sama saja kau merusaknya kan?" luhan yang mulai capek dengan aksinya 'mari memukul sehun' pun duduk diatas kasur dengan bibir yang mengerucut.

"Aku tidak seberat itu ! meja ini tak kan roboh jika aku hanya duduk diatasnya!" sehun masih saja membantah ucapan luhan.

"YA! Menurutlah padaku oh sehun!" luhan yang mulai kesal pun sedikit memekik pada sehun.

"Oh, jadi kau ingin aku menurut padamu hm?" sehun pun beranjak dari meja itu dan mendekati luhan, luhan mengangguk pelan sambil membuka bungkus makanan ringan itu.

"Baiklah aku akan duduk disini, tapi.." sehun memotong perkataannya, sedangkan luhan menatap sehun dengan tatapan polos sambil memakan makanannya. Sehun sudah berdiri dihadapan luhan dengan tatapan dinginnya.

Ckleekkk

"Oh Sehun! Apakah Luhan sudah sadar?" seseorang berteriak dari luar bilik bertirai itu. Dengan polosnya luhan langsung membuka tirai itu dan keluar.

"Neee sudaah!" luhan keluar dari bilik dengan ceria seperti biasanya.

"Ya Tuhan, aku bersyukur karena ada orang lain kesini, huuh, hampir saja aku menyerang luhan! Dia terlalu imut sih" sehun berkata dalam hati.

"Ya! Sehun-ah kemarilah!" seseorang yang tadi berteriak― yang ternyata adalah Kris, sepupu dari luhan memanggil sehun untuk keluar. Sehun pun keluar dengan wajah flatnya.

"Ne hyung?" sehun menatap kris sambil memakan makanan ringan yang tadi ia beli. Tiba – tiba kris menariknya untuk keluar dari ruangan kesehatan, sedangkan luhan hanya mengedikkan bahunya lalu memakan makanan yang ada dihadapannya.

Diluar ruangan kesehatan

"Kau tadi berkelahi dengan kai?" kris menatap sehun dengan tajam.

"Hm" sehun hanya berdeham pelan sambil memakan makanannya.

"Ngomong - ngomong, apa masalah kalian sehingga bisa bertengkar seperti itu?" kris menyilangkan tangannya sambil menyandar ke dinding.

"Ia memutuskan sepupumu, ia menduakan sepupumu dan ia melukai sepupumu" sehun berkata dengan dingin.

"Haha ternyata benar, otak dari semua masalah disini adalah dia" kris menundukkan kepalanya.

"Maksudmu apa hyung?" sehun mengerutkan dahinya bingung.

"Dia yang membuat sekolah dan kelas kita terus menerus mendapat masalah dari sekolah lain" kris menatap lurus kearah lapangan basket yang tepat berada di depan ruang kesehatan.

"K-kau tahu darimana hyung?" sehun menatap kris tak percaya.

"Aku, suho, onew hyung, minho hyung dan semua sunbae sudah melakukan penyelidikan secara diam – diam, ehm, mulanya dari kecurigaan kami padanya sih" kris menutup matanya lalu kembali berdiri tegak.

"Oh begitu" sehun mengangguk pelan.

"Oh ya! Apa kau terluka tadi?" kris membuka matanya sambil menatap sehun dari atas kebawah.

"Tentu saja aku berhasil mengalahkannya, dia hanya seorang pecundang bukan?" sehun berkata dengan bangga, tentu saja, ia menghajar mantan-ketua-gengnya sendiri tadi.

"kau tidak boleh seperti itu pada cassanova kita hahaha!" kris tertawa saat mendengar ucapan sehun yang terlampau polos.

"Lebih tepatnya mantan hyung! Hahaha!" sehun yang mendengar kris tertawa pun ikut tertawa dengan keras.

My Beautifull Class-Leader

"Shit! Sehun sialan berhasil mengalahkanku!" kai membanting pintu kamarnya. Ia mengacak rambutnya frustasi lalu menendang pintu lemari kayu disamping pintu kamarnya dengan keras.

"shit! Aku kehilangan sekolah, aku kehilangan dua wanita, aku kehilangan orang – orang bodoh itu hahaha!" kai berjalan menuju meja nakasnya dan meminum bir yang terdapat diatas sana.

"Hahaha! Rencana apa lagi yang harus aku buat?! Hahaha!" kai duduk diatas sofa single berwarna hitamnya dan menatap kosong pada botol bir yang sedang ia pegang. Ia tersenyum licik lalu menghubungi seseorang melalui ponselnya.

My Beautifull Class-Leader

Pagi yang cerah, luhan berjalan sendirian di pinggir taman kota. Ia mengenakan kaos longgar berwarna putih dengan tulisan 'LOVEISSCAR' yang dipadukan dengan hotpants baby blue dan sepatu converse abu – abu, rambutnya ia kuncir tinggi – tinggi. Ya, ia memang sedang berjalan – jalan, mungkin dalam rangka dietnya? Tiba – tiba seseorang pemuda dengan topi yang menutupi wajahnya memegang kedua tangannya dari belakang.

"A-aaa!" luhan berteriak dengan refleks, tapi pemuda itu malah menutup mulutnya dengan kain lalu membawa luhan masuk kedalam mobil box hitam.

Didalam mobil box, kaki dan tangan luhan diikat dengan tali. luhan menatap nanar pintu keluar dimobil itu, titik – titik keringat mulai membasahi seluruh badannya.

Ckleekkk! Seseorang pemuda membuka pintu mobil itu...

TBC

Aaaaaaaaaaa~ TBC dulu yaaa ;)) kalau ada yang review nanti dilanjutin kkk~ ohiyaa,untuk balesan reviewnya sementara aku lewat PM dulu yaaa hehe, makasih yang udah review di ff aku yang sebelumnya. Makasih banyak yaa :D love you readers /cium chen/ :*