Yo yo minna.
Ternyata fict ini cukup banyak peminatnya. Saya jadi terharu dan tidak bisa berkata apa - apa. -lebay mode activated-
Oh iya, di cerita ini Hyuuga Hinata adalah Uzumaki Hinata. Jadi, Hime disini jadi anaknya Naruto dan buat Shion-chan, Gomen ya. Soalnya setiap saya buat fict pasti Shion-chan meninggal. Tapi saya janji kalo saya buat fict baru pasti Shion-chan gak meninggal duluan.
- Shion : "Awas kalo bohong. Nanti aku sumpahin digigit Moryo."
Reader : "selesain dulu woy fict yang lama!"-
Kalo kemaren saya pake Hinata POV, sekarang akan jadi normal POV. Hehehe lupa ngasih tau kemaren.
Tanpa banyak omong saya persembahkan...
My Father Can`t Be This Cute © OrangHutan
Naruto © Masashi Kishimoto
Peringatan : Alternative Universe, OOC, Typo. Tidak mengandung Yaoi ataupun Yuri alias Straight pairing.
Summary : Uzumaki Naruto. Seorang single parent yang memiliki 1 orang anak perempuan. Tanpa disadari olehnya sang anak ingin mempunyai ibu baru?. Berhasilkah rencana anaknya?.
.
.
.
Chapter 1 : My Aunt Join The Show
Di pagi hari yang cerah dimana semua orang mulai menjalankan kegiatannya masing - masing. Seorang gadis kecil baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya yang mungil.
'Ah, mandi di pagi hari memang menyegarkan.' batinnya dalam hati.
Dengan langkah cepat dia lalu bergegas melangkah ke lemari dimana semua bajunya diletakkan. Setelah mencari beberapa saat, akhirnya dia menemukan seragam sekolahnya. Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan dari luar kamarnya.
"Hinata-sama, sarapan sudah siap." kata seseorang yang mengetuk pintu kamar Hinata.
Sambil memakai dasinya Hinata lalu menjawab "Aku akan turun sebentar lagi, kau duluan saja Chiyo-baasan."
"Baiklah Hinata-sama." jawab orang tersebut yang bernama Chiyo.
Chiyo adalah orang yang merawat Hinata sejak kecil. Dia jugalah yang merawat Shion saat masa kehamilannya. Karena dia tidak mempunyai cucu, Hinata sudah dianggap sebagai cucunya sendiri.
Setelah memastikan sudah rapi dan bersih Hinata langsung menuju ruang makan untuk sarapan. Di ruang makan sudah tersedia sepotong roti dan segelas susu sebagai menu kesukaan Hinata selain ramen.
"Ne, Ayah tidak sarapan bersama kita?" tanya Hinata yang tidak melihat keberadaan ayahnya sejak tadi.
"Naruto-sama sudah berangkat ke Kirigakure untuk urusan bisnis tadi pagi. Dan beliau bilang akan pulang besok." jawab Chiyo yang sedang mengupas buah apel untuk Hinata.
"Lagi - lagi urusan bisnis, apa urusan bisnisnya lebih penting daripada anaknya sendiri?"
"Jangan bicara begitu Hinata-sama. Naruto-sama bekerja keras karena dia sayang padamu."
"Iya aku tahu. Tetapi akhir - akhir ini ayah lebih sering bekerja di luar kota dan jarang pulang." ucap Hinata sedih sambil memakan rotinya.
"Owh. Jadi apa yang dilakukan ayahmu hingga membuat keponakanku yang paling cantik ini sedih?" Suara seorang wanita membuat Hinata kaget.
'Suara itu.' Hinata lalu menengok ke arah suara tersebut berasal dan mendapati sesosok perempuan cantik dengan rambut pirang dan mata sebiru langit berdiri di pintu ruang makan.
"Ino-obaachan."
Tanpa aba - aba Hinata langsung lari dan memeluk bibi kesayangannya itu.
"Sudah berapa kali aku bilang padamu Hinata, aku terlalu muda untuk dipanggil obaachan. Panggil saja Ino-neechan, oke?"
"Hai!, Ino-neechan." Hinata menjawab dengan antusias.
Yamanaka Ino adalah adik kandung dari Uzumaki Shion yang bekerja sebagai model sekaligus pemilik toko bunga terbesar di Konoha.
"Oh iya!, ngomong - ngomong sedang apa neechan di sini?, bukankah neechan sedang ada pemotretan di daerah Iwa?" tanya Hinata sambil menatap Ino.
Ino menghela nafas dan berjongkok lalu mencubit pipi Hinata. "Apa tidak boleh aku mengunjungi keponakanku yang menggemaskan ini?, lagipula darimana kau tahu aku ada pemotretan disana?" kali ini Ino yang menatap Hinata dengan tatapan heran.
"Aku tau dari majalah ini." Hinata menunjukan sebuah majalah kepada Ino. Majalah berjudul'Kunoichi'terbitan bulan ini tampak Ino yang menjadi covergirl sedang duduk di batu besar dengan dress biru yang agak ketat serta hotpants senada dan rambut yang tergerai. Wajahnya yang putih dan bibir merahnya memberikan kesan sexy.
"Eeh!, kenapa kamu memiliki majalah ini?. Majalah ini kan khusus orang dewasa!" Ino langsung merebut majalah tersebut dengan muka yang memerah, karena fotonya yang agak 'vulgar' tersebut dilihat oleh seorang anak kecil yang tidak lain adalah keponakannya sendiri.
"Memangnya kenapa neechan?"tanya Hinata polos. "Majalah ini milik ayah, lagipula masih ada beberapa tumpuk lagi di kamarnya." jawab Hinata. Sebenarnya dia mengambil majalah tersebut untuk menjalankan 'Harem Plan'-nya. Tetapi yang dia dapat malah foto wanita - wanita hampir telanjang.
"A-a-apa?!, dasar orang tua bodoh." ucap Ino kesal. 'Sifat mesumnya belum hilang juga. Setidaknya sembunyikan barang pribadinya di tempat yang tidak bisa dijangkau anaknya'
"Neechan mukamu memerah. Apa kau demam?" Hinata menatap Ino yang sedang blushing.
"T-ti-tidak kok. S-sudahlah lebih baik kau segera berangkat, aku sudah memberitahu Ibiki-san bahwa hari ini neechan akan mengantar kamu ke sekolah." Ino berusaha mengalihkan pembicaraan. 'Awas saja kalau Hinata yang polos ini berubah menjadi mesum, akan kuhabisi kau Naruto!'
.
.
.
Di bandara Kirigakure.
'ACHOO'
"Kenapa kau Naruto?, kita baru sampai di Kiri tapi kau sudah kena flu. Dasar mendokusei." ucap seorang lelaki dengan gaya rambut kuncir kuda dengan nada malas.
"Urusai kau Shika. Aku tidak terlalu suka dengan cuaca disini, selalu mendung dan ada suara petir setiap dua menit." jawab Naruto kepada Shikamaru. Tangan kanan sekaligus sahabat baiknya. 'Sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi padaku.'
.
.
.
Kembali ke Konoha.
"Nah Ino-neechan di perempatan itu belok kiri dan kita sudah sampai ke sekolahku." tunjuk Hinata memberitahu arah jalan kesekolahnya kepada Ino yang sedang sibuk menyetir mobil Mazda biru miliknya.
"Hai-hai, Tuan Putri." Ino menjawab sambil berbelok ke arah yang Hinata tunjuk dan langsung berhenti di tempat parkir sekolah. "Nah, kita sudah sampai Ojou-chan."
"Ne Ino-neechan, kenapa kita berhenti disini?" tanya Hinata.
"Memangnya kenapa?, ini kan tempat parkir." jawab Ino yang bingung dengan pertanyaan Hinata.
"Maksudku apa neechan tidak pulang kerumah?, lagipula aku sudah terbiasa ditinggal saat sekolah. Nanti siang juga ada Ibiki-san yang menjemputku." Hinata menjelaskan.
"Aku sudah tahu hal itu, tapi hari ini berbeda. Karena aku tidak ada jadwal pemotretan, kau akan kutemani selama seharian ini. Oke!?" seru Ino bersemangat.
"Benarkah!?," tanya Hinata meminta kepastian.
"Tentu saja Hinata-chan, lagipula kapan neechan-mu ini berbohong kepadamu?" jawab Ino yang mencoba menyakinkan Hinata.
"Asikkk!, arigatou Ino-neechan aku sayang kamu!" Hinata yang sangat senang ketika mendengar ada yang menemaninya saat bersekolah langsung memeluk erat Ino.
Ino lalu membalas pelukan Hinata sembari mengusap dan mencium kepala Hinata. "Aku juga sayang kamu Hinata-chan, Nah sekarang cepat masuk ke kelasmu. Aku tidak mau kau terlambat hanya gara - gara terlalu lama berpelukan."
Hinata pun akhirnya mengangguk tanda mengerti. "Hai, Nee-chan!" lalu Hinata berlari menuju tempat teman - temannya berbaris.
Ino hanya tersenyum melihat tingkah keponakannya itu, sifat enerjiknya pasti dia dapatkan dari ayahnya dan wajah cantiknya diturunkan dari ibunya. Tidak lama kemudian seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Eeehh?" Ino yang sedang melamun menjadi kaget karena tepukan tadi.
"Gomen, saya tidak bermaksud mengagetkan anda nyonya." kata seorang wanita di belakang Ino. Wanita tersebut memiliki mata merah terang dengan rambut hitam bergelombang dan tampaknya sedang hamil.
"Nama saya Yuuhi Kurenai, saya adalah wali kelas dari Hinata-chan" ucap wanita tersebut. "Saya ingin membicarakan sesuatu tentang anak anda tersebut" lanjutnya.
'A-a-anak?' Ino terkejut mendengar perkataan dari wali kelas Hinata yang menganggapnya sebagai ibunya.
"Maaf, mungkin telah terjadi kesalahpahaman. Aku bukan ibu Hinata." kata Ino memberikan klarifikasi kepada Kurenai.
"Ara - ara, terlihat dari caranya berinteraksi denganmu kalian cukup dekat. Jadi kukira kau ini ibunya" ujar Kurenai. "Kalau boleh tahu, kau ini siapanya Hinata?, dan kemana ibunya. Aku hanya pernah melihat ayahnya menjemputnya beberapa kali saja." lanjutnya ingin tahu.
Ino menghela napas pendek lalu berkata, "aku ini bibinya,dan ibunya.." Ino memberikan jeda sebelum melanjutkan. "...sudah lama meninggal saat melahirkan Hinata." wajahnya terlihat sedih saat mengingat kakaknya yang sudah tiada.
Kurenai pun kaget setelah mendengar hal tersebut. "Gomenasai, saya tidak bermaksud untuk mengungkit masalah tersebut." kata Kurenai lagi dengan raut wajah bersalah.
"Tidak apa - apa kok. Oh iya, tadi anda ingin membicarakan apa tentang Hinata?" ujar Ino mencoba mengganti suasana suram tadi.
"Begini nyonya..err" Kurenai tampak bingung memanggil Ino karena belum mengetahui namanya.
"Panggil saja saya Ino."
"Baiklah, jadi begini nyonya Ino. Hinata termasuk anak yang pandai dan cepat menangkap apa yang kami ajarkan. Tetapi, dalam soal berteman nampaknya dia agak kurang dalam hal berinteraksi dengan murid yang lain. Apa di rumahnya dia memang seperti itu?" jelas Kurenai panjang lebar tentang permasalahan Hinata tersebut.
Ino diam sejenak mencoba mencerna yang dikatakan oleh Kurenai. "Setahu saya dia orang yang periang."
"Mungkin di depan keluarganya dia memang periang, tapi jika di dekat orang yang belum dikenalnya dia sangat tertutup." Kurenai melanjutkan.
"Benarkah?, kalau begitu saya akan membicarakan hal ini kepada ayahnya. Terima kasih karena sudah memberitahu saya dan mengawasai Hinata, Kurenai-san." ucap Ino berterima kasih kepada Kurenai.
"Ah, sama - sama. Sudah tugas saya sebagai wali kelas memberitahukan tentang perkembangan muridnya." Kurenai tersenyum kepada Ino. "Kalau boleh saya beri saran, Hinata mungkin membutuhkan sosok seorang Ibu. Mengingat dia tidak mempunyai ibu, dan mungkin anda bisa menjadi ibu untuknya, Ino-san."
Semburat merah muncul di pipi putih Ino setelah mendengar pernyataan guru tersebut.
'Aku menjadi ibu Hinata?, berarti aku juga harus menjadi istri Naruto.' Semburat merah di pipi Ino makin terlihat setelah membayangkan dirinya dan Naruto tidur di ranjang yang sama. 'Ayolah Ino. Kau sudah membuang rasa sayangmu kepada Naruto sejak lama. Lagipula pasti banyak wanita lain yang sudah mengantri untuk menjadi istrinya' gumamnya kepada dirinya sendiri dalam hati.
Memang benar Ino menaruh hati terhadap pemuda jabrik tersebut. Karena dia dan Naruto juga Shion bersekolah di SMA yang sama. Tetapi karena Ino adalah adik kelasnya dan sikap tsunderenya terhadap Naruto, ditambah Shion selalu sekelas dengan Naruto. Otomatis, dia hanya bisa melihat Naruto dari jauh saat istirahat dan hatinya makin hancur saat mengetahui Naruto langsung menikah dengan Shion setelah lulus SMA. Sejak saat itulah dia mencoba membuang perasaan sayangnya pada Naruto.
Dan sepertinya dia telah gagal.
Perasaan yang harusnya dia buang malah bertambah besar, apalagi setelah kematian Shion. Dia melihat Naruto yang menghabiskan masa mudanya dengan mengasuh anak sendirian dengan penuh kasih sayang membuatnya tidak bisa mengilangkan perasaan itu.
"Ino-san?, apa kau baik - baik saja?" lagi - lagi Kurenai yang mengagetkan Ino.
"Ehh, maaf. Saya hanya melamun tadi." kata Ino yang terbangun dari lamunan panjangnya.
"Syukurlah, kalau begitu saya permisi dulu. Saya harus mengajar di kelas Hinata" Kurenai lalu meninggalkan Ino yang masih ber-blushing ria.
'Bukan saatnya aku memikirkan tentang menjadi istrinya, seharusnya aku memikirkan cara menghajarnya karena kurang perhatian terhadap Hinata.' sifat tsundere Ino yang telah lama hilang akhirnya bangkit kembali.
.
.
.
Kirigakure Tower.
"Arrghh!, sudah cukup!" teriak seorang pria berambut kuning kepada temannya di lobby Kirigakure Tower.
"Aku tidak tahan dengan tempat ini. Kau tahu kenapa aku tidak tahan dengan tempat ini hah?" lanjutnya lagi.
"Tidak , aku tidak tahu dan tidak mau tahu." jawab temannya tersebut yang sedang asik bermain game Fruit Ninja di gadgetnya.
"Pertama : tidak ada satupun toko ramen di kota ini!" katanya tidak memperdulikan tatapan para pegawai di gedung tersebut.
"Aku bilang aku tidak mau tahu." temannya masih asik bermain seakan tidak memperdulikan ocehan pria tersebut.
"Kedua : aku tidak bisa mendengar apa - apa selain suara petir!" pria tersebut lagi - lagi berteriak mengabaikan perkataan temannya,
"Sudahlah jangan berteriak - teriak. Ocehanmu bahkan lebih berisik dari pada suara petir."
"Dan ketiga : tidak ada toko ramen di kota ini!"
"Oi, bakayaro. Apa kau mendengarku?, lagipula kau menyebut toko ramen dua kali." temannya tersebut mulai kesal.
"Terserah apa katamu Shikamaru. Aku mau pulang ke konoha saja, aku serahkan urusan bisnis ini padamu. Jaa." katanya sambil keluar dari gedung tersebut.
"Hei, bilang saja kau malas dasar boss bodoh. Mendokusei, Naruto benar - benar mendokusei." Shikamaru akhirnya ditinggal sendirian oleh Naruto yang frustasi karena tidak adanya toko ramen di Kirigakure. 'Setelah ini, aku mau minta cuti 5 bulan, biar si bodoh itu merasakan bagaimana susahnya kerja sendiri hehehe.' kata Shikamaru dalam hati dengan senyuman jahat.
.
.
.
Konoha Elementary school, jam 11.30.
'Teng.. Teng.. Tong.. Teng'.
Terdengar suara yang tidak asing lagi bagi para murid sekolah dasar Konoha. Bel yang menandakan berakhirnya jam belajar dan pulang kerumah masing - masing.
"Neechan!" teriak Hinata yang melihat Ino sedang berbicara dengan orang tua murid yang lain di depan kelasnya.
Beruntung mereka tidak tahu bahwa Ino adalah seorang gravure model. Dia hanya memberi tahu pekerjaannya sebagai pemilik toko bunga. Jika tahu dia tidak akan bisa lepas dari cecaran pertanyaan para ibu - ibu tersebut. Lagipula mereka tidak akan pernah membaca majalah yang dikhususkan kepada laki - laki.
Setelah berpamitan kepada teman ngobrolnya tadi, Ino bergegas menghampiri Hinata yang sedang mendekat kearahnya.
"Hinata-chan, mau langsung pulang?" tanyanya kepada Hinata.
"Iya." Hinata mengangguk pelan. "Tapi sebelum itu, bolehkan kita pergi dulu mengunjungi ibu?"
"Hmm, baiklah kalau begitu. Lagipula sudah lama aku tidak pergi ke makam kakak." ucap Ino menyetujui permintaan keponakannya tersebut.
.
.
.
Time Skip 1 jam kemudian.
"Tadaima!" Suara Hinata terdengar keras dari luar rumah. Mungkin karena hari ini dia senang ada yang menemaninya berjalan - jalan.
"Okaeri." jawab seseorang dari dalam rumah, ketus, Hinata spontan dibuat kaget karenanya.
Hinata pun mencari asal suara tersebut, sangat jarang ada yang berbicara dengan nada ketus seperti itu di rumah ini kepadanya. Matanya menoleh ke arah Chiyo yang sedang berdiri tak jauh dari pintu yang memisahkan ruang tamu dan ruang tengah. Senyumnya mengembang, meski jelas terlihat sangat dipaksakan.
"Dari mana saja kamu Hinata!?" kata seseorang yang tidak lain adalah ayahnya sendiri yang baru pulang dari Kirigakure.
"Aku habis..."
"Kau terlambat 1 setengah jam dari biasanya. Apa kau bermain dulu sepulang sekolah?" potong Naruto.
"Tidak kok, aku bersama..." Hinata mencoba memberikan penjelasan.
"Bersama siapa?, jadi benar kau bermain dulu. Ayah disini mengkhawatirkanmu Hinata. Lain kali kau jang-"
'BUUUKKK'
"-ITTAAIII!" sebelum menyelesaikan perkataannya. Naruto langsung ditendang tepat diselangkangan oleh Ino.
"Hinata bersamaku. Kenapa?, kau mau memarahi Hinata hah?" ucap Ino kesal karena kebiasaan Naruto yang suka memotong pembicaraan orang.
"O-oh, Ino. Sudah lama kita tidak bertemu, apa toko bungamu laris?" jawab Naruto yang berusaha menahan sakit akibat tendangan keras kearah "brother"-nya. 'Pantas saja perasaanku tidak enak sejak tadi. Ternyata karena dia.'
"Jangan mengganti topik pembicaraan!" bentak Ino dengan garang.
Hinata hanya sweatdrop melihat ayah dan bibinya bertengkar. Namun, dia juga merasa senang karena rumah yang biasa sepi bisa kembali ramai seperti ini, dia merasa tidak kesepian lagi. Sedangkan Chiyo hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Naruto dan Ino. Biasanya jika mereka sudah seperti itu, hanya Shion lah yang dapat melerai mereka berdua.
"Hinata-sama, sebaiknya anda ganti baju dulu." ujar Chiyo kepada Hinata.
"Apa kita tidak menghentikan mereka?" Hinata menunjuk ke arah Ino yang sedang meng-graple Naruto seperti atlet gulat profesional.
"Tidak ada yang bisa menghentikan mereka kecuali ibu anda. Lagipula nanti juga akan berhenti sendiri?" jawab Chiyo
"Ya sudah kalau begitu." Hinata akhirnya meninggalkan mereka berdua dan menuju kamarnya untuk ganti baju.
Setelah beberapa pukulan, tendangan, dan ultimate move dari Ino. Akhirnya Naruto menyerah dan meminta Ino untuk menyudahi penyiksaannya. Ino yang juga sudah lelah langsung menyetujuinya.
"Oi Naruto, aku mau membicarakan sesuatu kepadamu." tanya Ino dengan nada serius.
"Kau mau bertanya apa?, jangan - jangan kau mau menyiksaku lagi ya?" jawab Naruto yang masih memegangi wajahnya yang lebam karena 'penganiayaan' oleh Ino.
"Apa kau mau kutendang lagi hah?" kata Ino mengambil ancang - ancang. "ini tentang Hinata."
Mendengar nama anak kesayangannya disebut, Naruto langsung memasuki mode seriusnya. "Lebih baik kita bicarakan ini di taman belakang." ajak Naruto.
Sesampainya di taman, Ino menceritakan semua tentang masalah Hinata yang menutup dirinya jika di dekat orang yang tidak dia kenal.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?, aku sudah berusaha tetapi sulit untuk menjadi sosok ibu untuk Hinata." Naruto yang kebingungan meminta saran kepada Ino.
"Kau tidak usah menjadi ibu untuk Hinata. Kau harus mencari ibu untuk Hinata." Ino menjawab dengan penekanan di kata mencari.
Naruto hanya terdiam dengan pandangan kosong.
"Naruto, kenapa kau malah bengong?" ucap Ino sambil melambaikan tangannya ke muka Naruto.
"Apa jangan - jangan-" pikiran Ino mulai tidak karuan.
"Apa!?, jangan - jangan aku apa?"
"-kau gay." jawab Ino berbisik.
"Tidak mungkin, aku masih normal, dan setiap bulan aku berlangganan majalah Kunoichi. Oh iya bulan ini kau jadi covergirlnya ya?, posemu kurang menantang dan bajumu kurang terbuka. Lagipula kenapa harus kau yang menjadi covergirl sih?. Aku mengharapkan Amaru-chan yang diulas bulan ini." sanggahan Naruto berubah menjadi celoteh.
'BUGGGHH!'
"Ternyata kalian disini, aku mencari kalian kemana - mana. Loh?, ayah kenapa Neechan?" tanya Hinata yang bingung melihat ayahnya terkapar di rumput.
"Mungkin ayahmu lelah karena baru pulang. Biarkan saja dia, lebih baik hari ini kita bermain saja disini?, bagaimana?" Ino menjawab dengan wajah yang memerah.
"Haii, Ino-neechan!" Hinata berteriak antusias mengabaikan ayahnya yang tak sadarkan diri karena pukulan maut dari Ino.
Hari itu, Hinata merasa sangat bahagia. Walaupun hanya bermain di taman belakang rumahnya. Namun, keceriaan terus menghiasi wajahnya, melihat ayahnya yang menjadi sasaran kekesalan bibinya.
.
.
.
Semua yang berawal pasti akan berakhir. Begitu juga kebahagiaan Hinata yang sesaaat tersebut. Ketika sang mentari mulai tenggelam, Ino memutuskan untuk kembali pulang menuju rumahnya di Sunagakure. Meskipun Hinata memintanya untuk menginap dirumah Naruto sambil menangis, tetapi dia tidak bisa meninggalkan rumahnya sendiri di sana. Dengan berat hati Ino menolak tawaran Hinata tersebut, tapi dia berjanji akan mengunjunginya dalam waktu dekat. Naruto yang tidak tega melihat anaknya menangis membawa Hinata masuk kedalam rumahnya.
"Pulanglah, biar Hinata aku yang urus." kata Naruto sebelum membawa masuk Hinata.
"Ayah, apa Ino-neechan akan kesini lagi?" tanya Hinata yang masih menangis.
Naruto menyejajarkan tingginya dengan Hinata dan mengusap air matanya sambil berkata, "Tenang saja, dia pasti datang lagi kok. Lebih baik kau cepat tidur, besok ayah yang akan mengantarmu ke sekolah."
"Benarkah?, ayah janji?" Hinata menyodorkan jari kelingkingnya.
"Ayah janji sayang." Naruto menautkan jari kelingking miliknya dengan milik Hinata.
"Tapi hari ini bolehkan aku tidur di kamar ayah?" pinta Hinata kepada Naruto.
"Oke, tapi kau tidak boleh mengambil majalah ayah sembarangan ya?" pesan Naruto kepada anaknya. "Ayah tidak mau dijadikan objek kemarahan bibimu lagi."
"Hahaha, salah ayah sendiri menaruhnya benda itu di kardus bertuliskan 'Ramen Pribadi Naruto'. Aku kan jadi penasaran." jawab Hinata yang sudah berhenti menangis.
"Baiklah. Ayo kita pergi tidur, ayah akan menceritakan sebuah dongeng lagi untukmu"
"Horee!, tapi jangan dongeng tentang ninja lagi ya, aku sudah bosan."
"Roger, Ojou-chan." jawab Naruto menirukan militer luar negeri.
Mereka berdua akhirnya pergi ke kamar Naruto, dan dia menceritakan dongeng tentang perjuangan seorang pemuda untuk menjadi raja bajak laut bersama kru-nya. Setelah Hinata tidur, Naruto memindahkan semua majalahnya ke dalam kotak bertuliskan 'Awas!, ada kecoa dan laba - laba'.
'Dengan ini Hinata tidak akan berani membukanya' batin Naruto.
Keesokan harinya Naruto terbangun oleh suara gerbang yang terbuka. "Siapa yang datang ke rumahku pagi - pagi begini?" tanya Naruto kepada dirinya sendiri dan melihat jarum jam dinding masih menunjukan angka 5 lalu pergi ke bawah untuk melihat orang tersebut.
'Ting..Tong.'
Naruto menghentikan Chiyo yang akan membuka pintu tersebut. "Chiyo-san biar aku saja yang membukanya."
Chiyo hanya mengangguk tanda mengerti dan melanjutkan pekerjaannya di dapur.
Saat akan memarahi orang yang telah menganggu tidurnya dia dikejutkan oleh pukulan yang tidak asing lagi.
"Kau mau memarahiku hah?!" ucap Ino sambil memukul Naruto.
"T-t-tt-tidak kok, aku kira kau pencuri makanya aku-"
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Naruto sudah dipukul lagi oleh Ino. "Jadi kau menyamakan aku dengan pencuri hah?!"
"Ada apa sih ribut - ribut?" kata Hinata yang keluar dari kamar Naruto sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.
"Suaramu terlalu berisik, gara - gara kau Hinata jadi terbangun." kata Ino sambil memelankan suaranya.
'Harusnya aku yang bilang begitu?' Naruto hanya bisa sweatdrop.
Mengetahui Ino yang datang, Hinata langsung menghampirinya dan memeluknya. "Ino-neechan, aku kangen."
"Baru kemarin kau bertemu dengannya Hinata." kata Naruto.
"Tetap saja aku kangen." jawab Hinata masih memeluk Ino.
"Lagipula Ino, untuk apa koper - koper itu?" Naruto menatap ke barang bawaan Ino.
Sambil mengumpulkan kepercayaan dirinya Ino menjawab, "Ehhmm, Mulai hari ini aku memutuskan untuk tinggal disini, dan-"
Hinata melompat kegirangan, itu artinya 1 teman baru. Sedangkan Naruto menunduk sedih, itu artinya 1 kesalahan 1 pukulan untuknya.
"Dan apa?" tanya ayah-anak bersamaan dengan ekspresi berbeda.
Wajah Ino blushing, "-dan aku akan menjadi ibu untuk Hinata."
To Be Continued(?)
A/N :
Akhirnya update juga nih Fict. Ada yang nungguin kagak ya? -ngarep-
ada banyak alasan kenapa saya lama banget updatenya.
kemampuan otak saya yang setara pentium 2.
buat bikin cerita yang panjangnya 3000-an kata aja mesti bersemedi dulu di gunung everest -?-
lagi sibuk nyari kerja, tapi blom dapet - dapet.
pusing dirumah kena omelan emak author terus, makanya susah mikir.
lagi demen maen game online -lagi-.
padahal udah pensi lama, karena dirumah diomelin terus terpaksa 'lari' deh ke warnet terdekat, niatnya sih mau browsing lowongan kerja. Eh pas disono malah nge-game.
walaupun begitu saya/author punya sesuatu buat para reader dan reviewer di chapter kemaren.
buat reader saya ucapkan Thank you.
buat reviewer saya ucapkan Thank you very hamnida!
-Reader + Reviewer : "sama aja oon."-
