## OK, author akhirnya update! Maaf lama. Tapi, ini dia chapter dua! Enjoy!


¤X¤


Kisah ini pun berlanjut

Pertemuan penuh takdir telah dilalui,

Pucuk-pucuk cinta pun mulai menampakkan diri

Namun, akankah happy ending menjemput keduanya di akhir kisah?


¤X¤


~ Not Your Average Fairy Tale ~

[Chapter two : A Fateful Meeting]

Princess Tutu © Mizuo Shinonome

Peringatan terhadap typo(s), ke-abal-an, OoC, dan keanehan


¤X¤


"Dia hanya anak kecil!"

"Tapi yang melanggar hukum tetap harus ditindak dengan tegas!"

"Aku tahu kau seorang ksatria kerajaan. Tapi, dia masih kecil!"

"Tidak bisa! Dia tetaplah seorang pencuri!"

"Tidak bisakah kau memberi kompensasi?"

Di tengah hutan, dan dua jam—tidak, namun hampir dua jam. Ya, dua jam nyaris saja berlalu. Layaknya anak kecil dengan perdebatannya mengenai permen, dua remaja yang tergolong belia ini terbukti 100% melakukan hal yang sepatutnya 'tak dilakukan—terutama jika saksi atas perbuatan mereka ialah seorang anak kecil.

Anak kecil yang "sepatutnya" lugu ini, tengah ditimpa oleh kesialan. Mata bundarnya membesar, pantulan akan dua manusia senonoh dengan perdebatannya ini jelas terlihat di depan mata. Sungguh fakta berbicara, anak manis dengan rambut emerald ini sebenarnya dibuat pusing oleh perdebatan yang kini tengah merajalela.

Namun, apa daya? Ia hanya bisa berada di tengah-tengah dan menonton. Sulit memang membungkam mulut keduanya. Terutama bila pemilik mulut yang kini saling mencibir adalah "seorang" bebek dan ksatria yang keras kepala.

"Kumohon, tuan ksatria…." Ahiru kini memasang ekspresi memelasnya yang terbaik. Kedua tangan ia bawa ke dada. Manik biru laut menatap dalam manik emerald penuh harapan.

Fakir—yang terkenal dengan "si hati batu"—merasa sedikit tersentak dengan aksi memelas Ahiru. Hanya sedikit. "…Padahal, tadi kau sendiri yang berniat untuk mengejar anak ini."

"A-aku tahu. Tapi, saat aku sadar bahwa ia hanya seorang anak kecil, hatiku rasanya 'tak tega," jelas Ahiru setulus mungkin.

Sang ksatria menghelas nafas. Ahiru memanglah polos, dan sang ksatria keras kepala ini menyadarinya. Ya, ketulusan gadis dengan rambut oranye ini nampak jelas bergelimang pada sinar matanya.

"Kalau kau memang benar-benar ingin membantu…." Sebuah jeda. "…Kau bisa lakukan dengan membayar masa tahanannya dengan uang yang kau miliki. Begitulah peraturannya."

Kekagetan ialah hal yang pertama membaluti hati Ahiru setelah mendengar pilihan alternatif ini. Disusul oleh kebimbangan, semuanya terasa lengkap untuk membuatnya membatu di tempat.

"Bagaimana? Akan kulepaskan anak ini asalkan kau mau membayar," sambung Fakir 'tak sabaran. Sesungguhnya, ia sedikit tergelitik untuk mengetahui seberapa jauh ketulusan menuntun hati kecil Ahiru.

"Bagaimana? Kalau aku punya uang, sudah pasti aku bantu, namun ini bukanlah uangku," batinnya. Gundah dan bimbang membuat kedua alis tipisnya bertaut, kedua tangannya dilipat, dan mesin-mesin dalam otaknya kini tengah bekerja keras.

"Kalau aku bantu, entah apa yang akan dilakukan Ibu Maeryl padaku. Ini kan bukan uangku." Konsekuensinya datang—

"Tapi, aku tetap 'tak bisa membiarkan anak ini di penjara!"—diikuti oleh hati nurani yang kini bergejolak dalam ketidakpastian.

Hati nurani dengan logika. Manakah yang akan menduduki peringkat teratas?

"A-akan kubayar…."

Kedua alis milik Fakir sontak terangkat. "Gadis ini… benar-benar tulus rupanya…." Tulus, atau mungkin bodoh?

"Benar kau ingin membayar?"

Ragu-ragu, dijulurkannya dompet berisi lembaran uang kepada Fakir. "Ya, aku yakin," jawabnya dengan kepastian yang dibuat-buat.

"Baiklah kalau begitu." Tanpa ada rasa basa-basi, diambil lembaran uang dalam dompet tersebut. "Pekerjaanku selesai," tukasnya tegas seraya menyerahkan kembali dompet yang kini telah habis terkuras isinya. Satu lembar uang dan dua koin menjadi penghuni terakhir dompet kempes tersebut.

Ahiru—melihat fakta menyakitkan ini—sontak jatuh lemas. Walau pun begitu, ia tetap mengambilnya seraya tersenyum meyakinkan.

"Aku pamit dulu." Merasa 'tak ada lagi perkara, Fakir pun memutar tubuh dan beranjak pergi. Samar-samar, bayangannya perlahan sirna tertelan hijau pepohonan.

Namun, bagaimana dengan nasib "bebek" ini? Lain lagi dengan Ahiru. Bila pikiran Fakir kini telah mantap, gadis lugu satu ini malah kelihatan risau. Wajahnya kusut, ekspresi riang pun tergantikan dengan kebimbangan.

"Apa yang harus kukatan pada Ibu Maeryl saat pulang ke rumah?" Satu pertanyaan sederhana atas "apa"—atau lebih lengkapnya—"bagaimana" telah terbukti berkhasiat untuk membuat rambut rapi Ahiru keluar-keluar. Ditambah dengan otaknya yang kini tengah sama kusut dengan rambutnya.

Hingga tiba-tiba…

"Kakak, kakak!" Ahiru tersentak. Panggilan dari si anak kecil seketika menyapu pertanyaan itu bagai debu.

"A-ah… ada apa?" Walau pun tertegun, Ahiru berusaha untuk berperilaku menyenangkan di hadapan anak ini.

"Kakak kenapa bengong?" tanya si anak polos. Bola matanya membulat penuh tanda tanya.

"Ah… tidak ada apa-apa…." Semua tentu tahu bahwa itu adalah bohong. "Ah, ngomong-ngomong, namamu siapa, dik?" Dan kini, ia berusaha untuk memutar roda pembicaraan.

"Aku Uzura!" ujarnya riang. "Kalau kakak sendiri?"

"Aku Ahiru," jawabnya seraya memancarkan senyum simpul. Ia lalu jongkok, sehingga garis matanya sejajar dengan garis mata Uzura.

Walau kini senyumanlah yang nampak, namun jauh di dalam benaknya, rasa bimbanglah yang kini tengah menggerogoti. Tambahkan perkara mengenai Uzura yang telah lihai mencuri, dan semuanya akan bersatu padu layaknya sebuah menu makanan.

Ahiru—sebagai ratu penyandang gelar "kepolosan"—merasa perlu mengupas tuntas perkara tersebut. Pasalnya, hati nurani kini tengah dalam keadaan mendesak. Dan Ahiru hanya bisa pasrah menuruti keinginan nuraninya.

"Uzura…," ia memulai dengan ketidakpastian. "Apa kau paham perbuatan yang baru saja kau lakukan tadi adalah salah?" Betul, ia memang tidak pandai apabila kebijaksanaan telah masuk ke dalam perkara.

Sebagai respon, si anak menggeleng lugu. "Tidak, Uzura hanya ingin benda coklat yang ada di tangan kakak, makanya Uzura ambil." Jawaban yang diberikan memang nyata ciri khas anak kecil.

Ahiru menghela nafas lelah. Memang betul kelihaian 'tak ia genggam erat dalam hal ini, namun nuraninya 'tak henti-hentinya bergetar. "Uzura, perbuatanmu tadi dinamakan mencuri. Mencuri bukanlah perbuatan yang baik, kau mengerti?"

"Tidak baik…?" Layaknya melakukan larangan taboo, matanya reflek membulat dalam perasaan bersalah. "Uzura… melakukan hal yang tidak baik…?"

"Tidak ada kata terlambat untuk berubah, kok. Jadi, Uzura 'tak perlu khawatir, karena Uzura pasti bisa menjadi anak yang baik," ujarnya meyakinkan. Dengan satu senyuman dan sentuhan lembut di kepala, Ahiru terlihat bersinar layaknya ibu-ibu bijaksana.

"Benar begitu, Kak Ahiru?" tanya Uzura, berusaha memastikan.

"Ya, anak manis."

Pikirannya kemudian sontak menuju pada satu hal. Mengingat beberapa lembar uang dan koin yang tadi tersisa membawa pikiran simple Ahiru pada suatu keputusan. "Kalau sudah terciprat lumpur, sekalian saja masuk ke dalamnya. Aku sudah yakin Ibu Maeryl akan menghukumku. Uang yang jumlahnya tinggal sedikit ini baiknya kuberikan kepada Uzura. Akan kukatan pada Ibu Maeryl kalau dompetku dicuri."

Dengan pikiran yang telah dimantapkan, dirogoh olehnya uang yang jumlahnya 'tak seberapa itu. "Nah, Uzura, ini kakak berikan uang." Uang itu kemudian berpindah tangan. "Jika ingin sesuatu, Uzura bisa beli dengan uang ini, mengerti kan?"

Pada awalnya, mata bundar anak itu membesar—terpaku beberapa detik dalam rasa keterkejutan. Namun, 'tak lama kemudian, kebahagiaan langsung memancarkan sinarnya pada kedua manik bundar miliknya.

"Terima kasih, Kak Ahiru!" ujarnya girang. Ahiru membalas dengan senyuman.

Bagaikan mendapat sekantung besar permen, hati Uzura kini melompat girang dalam satu kata bernama kesenangan. "Aku akan beli banyak coklat dan permen dengan uang ini! Boleh kan, kak?"

"Tentu saja," jawab Ahiru—yang sudah pasti 100% menyetujui maksud si anak.

"Kalau begitu, aku pergi dulu, kak! Sampai jumpa!" Benar-benar tidak sabaran untuk belanja, Uzura langsung saja beranjak dari tempat. Ia berlari, dan perlahan, siluetnya pun meredup seiring dengan mulai menghilangnya suara langkah kaki oleh angin siang.

Semua perkara selesai sudah. Yah… mungkin tidak semua, karena Ahiru masih harus menghadapi murka si "penyihir" ketika tiba di rumah.

Gadis itu kemudian mendesah lelah. Untuk menjalankan rencananya semula, ditinggalkan dompet kosong miliknya di tanah. "Setidaknya, orang lain merasa bahagia." Ia pun melangkah kembali ke sebuah tempat yang ia namakan "rumah" seraya menengadah lunglai ke arah langit.

Seolah-olah langit menyimpan obat atas rasa perihnya selama ini. Namun, sayang sekali, langit hanya bisa menjadi saksi bisu.


¤X¤


Bila Ahiru kini tengah dilanda kebimbangan, lain lagi dengan dua insan—putri dan pangeran—yang bersemayam di dalam sebuah istana besar nan megah.

"Mytho, undangan-undangan sudah tersebar semua kan?" sang putri—atau yang lebih akrab dikenal dengan nama Rue—bertanya.

"Semuanya sudah tersebar hingga ke penjuru negeri. Kau 'tak perlu khawatir, Penasehat Drosselmeyer telah mengurusnya. Semua wanita pasti akan datang," jawab Mytho seraya tersenyum puas.

Pembicaraan mengenai undangan ini menggema, mengisi ruangan megah yang kini mereka tempati dengan gumaman dan bisik-bisik kecil.

"Untung saja semuanya berjalan lancar sebelum Fakir pulang…." Rue menghela nafas lega seraya menatap Mytho senang.

Apa kira-kira yang tengah mereka rencanakan? Fakir akan berada di sana untuk mencari tahu pastinya.

'CKLEK.' Suara pintu terbuka—

"Apa yang berjalan lancar, Rue, Mytho?" —disusul dengan munculnya sosok Fakir. Kedua tangan ia posisikan di bawah dada. Raut wajah layaknya seorang FBI yang siap dengan segudang pertanyaan.

"U-uhm… hanya sebuah… undangan…?"


[T.B.C]


## Chapter dua selesai! :D Sebagai informasi saja, kemunculan Uzura di sini punya makna. OK, itu aja mungkin yang ingin author sampaikan. Akhir kata, author berharap review dan concrits-nya~ :D