Love, Dream, and Hope
Keesokan harinya, Amu merasa malas masuk sekolah, entah kenapa. Dia pun masih tidur-tiduran, sang mama pun bingung melihat Amu.
"Lho Amu...kamu kok masih tidur..?", mama sambil menggoncang-goncang badan Amu.
"Hhh...", wajahnya masih ngantuk, "Apa sih ma... nanti dulu donk...", Amu malah merem lagi.
"Heeh ga boleh kamu kan harus ke sekolah...ayo cepat ini sudah jam berapa tuh lihat jam 7 Amu...!"
"Kan aku sudah bilang kalau sekolah sudah tidak ada pelajaran lagi ma siap-siap buat kenaikan dan kelulusan...", Amu ngomong sambil meluk bantal.
Mama Amu mulai kesal, "Aah sudahlah kalau kau tak mau bangun yang rugi juga kamu sendiri!", mama kesal meninggalkan Amu yang masih di kasur.
Mama Amu pun turun tangga kembali ke dapur. Lalu dia mendengar ada ketukan di pintu depan. "Em? Siapa ya?", mama ke pintu dan membuka pintunya, dia terkejut melihat...
Utau, "Lho kamu...emm...Utau Hoshina kan...?"
"Iya bibi, Amu ada?", Utau datang tiba-tiba pagi itu, dia masih setia dengan dandanan gothicnya.
"Iya silakan masuk... oh mungkin Utau bisa membantu dia masih tidur jam segini", mama meminta Utau membangunkan Amu.
Lalu Utau ke kamar Amu, melihat Amu yang menggulung seperti ulat di balik selimutnya. "Hhh benar-benar...heii kau!", sama seperti mama, menggoncang-goncangkan badan Amu.
Amu menoleh dan kaget melihat Utau yang ada di situ, "Utau? Kok?"
"Kau ini bagaimana sih? Masa jam segini masih tidur"
"E eh iya...aku lagi ga mood... eh tapi ngomong-ngomong kok kamu disini?"
"Aku ingin menengokmu saja memangnya kenapa tidak boleh?", Utau meng-glare Amu.
"Boleh boleh", Amu jadi takut.
"Sudah sana cepat ganti baju, kita jalan", Utau langsung membuang selimut Amu dan menarik tangan Amu untuk bangun, Amu sudah terlepas dari kasurnya.
"Ta tapi..."
"Sudah ayo!", Utau mendorong Amu ke kamar mandi dengan cepat, Amu di kamar mandi bingung akhirnya dia mandi juga.
Amu berhasil dibangunkan Utau. Mama salut dengan Utau, kemudian Utau ditawarkan makan sama Amu, mereka makan. Utau meminta izin mengajak Amu jalan, jadinya Amu tidak ke sekolah, mama ragu tadinya tapi setuju juga karena melihat anaknya ogah-ogahan ke sekolah dan jasa untuk Utau membangunkan Amu. Jadilah Amu jalan-jalan sama Utau, di sisi yang sama Amu masih bingung sebenarnya maksudnya Utau apa.
Mereka ke salah satu tempat favorit Utau, kafe Ramen, sekarang warung langganan Utau sudah menjadi kafe karena sangking larisnya sejak didatangi Utau yang notabene penyanyi yang lagi naik daun, pemiliknya pun sangat berterima kasih sama Utau. Makanan yang disajikan pun ga hanya ramen saja.
"Kok...kok kesini Utau...?"
"Kenapa?", meng-glare Amu lagi.
"Ga pa-pa sih...cuma kamu masih lapar memangnya?"
Utau meng-glare Amu dengan tatapan maut, Amu langsung ciut.
Utau memesan makanan, yang tentu ramen spesial, Amu karena sudah makan tadi, pesen minuman aja.
"Ada apa denganmu Amu?", Utau langsung nanya Amu selagi nunggu makanan.
"Ada apa kenapa?"
"Seperti ga semangat hari ini"
"Tidak...kok...", memalingkan pandangannya.
"...Ikuto kan?", langsung to the point.
"Ha? Ga ga...", Amu melihat tatapan tajam Utau lagi, "yah... itu juga sih... hhh entahlah aku...juga memikirkan yang lain..."
"...Aku bingung denganmu kenapa kau bisa membuat hal menjadi rumit, padahal semuanya kau bisa pikirkan dengan tenang", Utau melihat makanan favoritnya datang, dan dia langsung mau menyantapnya, "oke sebentar..." Utau menyantap mie itu dengan cepat, Amu melongo melihat Utau makan mie yang banyak dengan cepat, belum lagi tadi kan Utau baru makan di rumah Amu, Amu jadi tersenyum melihat Utau. Sluurp!, suara Utau menghabiskan mie, "aah kenyang... yak lanjut yang tadi... kau harus mulai bisa bersikap santai contoh saja aku".
"Seandainya aku bisa begitu tapi aku tidak bisa... hhh..."
"...Payah... baiklah mungkin berita ini bisa meringankan beban pikiranmu itu, aku dapat kabar dari Ikuto dia akan pulang sekitar dua minggu ke depan"
"He? Benarkah?", Amu langsung semangat. "Dua minggu ke depan? Berarti pas perayaan kenaikan..."
"Begitulah kata Ikuto", Utau ngomong sambil menyedot minuman.
"Ikuto menelponmu? Kapan?...Aku bingung saja kenapa beberapa bulan terakhir dia tidak menghubungiku... itu yang membuatku resah"
"Pasti dia ada alasan...aku sendiri juga tidak tahu, kau percaya padanya kan?"
"Eh?"
"Aku tanya kau percaya padanya kan? Kalau kau percaya, kau tidak perlu resah, dia bilang dia akan kembali padamu kan?"
"Kok kamu tahu Utau?", Amu kaget, " Iya begitu sih...itu janjinya..."
"Ya sudah tunggu saja dia, aku tahu dia bilang begitu firasat saja"
"Hebat sekali kamu tahu..."
Sehabis dari kafe, "Sudah sana kamu lakukan kewajibanmu sebagai murid sekolah, datang ke sekolah dan cobalah lebih rileks oke?", Utau mengedipkan matanya, "daag", Utau pun pergi. Amu jadi merasa semangat juga mendengar ucapan Utau dan kabar Ikuto akan pulang, so dia memutuskan untuk datang ke sekolah.
.
Sesampainya di sekolah, Amu melihat murid-murid sedang sibuk mendekor kelas masing-masing. Mereka serius tapi tetap senang, tampak menikmati pekerjaan mereka. Amu yang melihat mereka juga jadi ikut tersenyum apalagi melihat hiasan-hiasan yang sudah terpasang. Lalu ada yang menegur Amu, teman-teman Amu.
"Amu kamu datang rupanya, kukira kamu tidak datang hari ini, kenapa baru datang?"
"Ah iya Chiyo, aku kesiangan he he"
"Amu chan kamu datang ya, kami semua mencari-carimu lho"
"Iya Aya maaf aku kesiangan"
"Kalau begitu kamu langsung bantu kami saja"
"Iya, iya", murid lain juga mengajak Amu.
Amu merasa senang begitu diperhatikan oleh teman-temannya, dia tersenyum dan dengan senang hati membantu mereka, untunglah aku jadi datang ke sekolah, pikirnya.
Ketika dirasa cukup membantu, Amu duduk sejenak, dan dia terpikir kata-kata yang bisa digunakannya untuk menulis teks pidato, dia pun mulai menulis. Idenya mengalir begitu saja, perasaan Amu juga jadi lebih tenang daripada pagi tadi.
.
Pulang sekolah, pas hari sudah sore, Amu merasa senang datang ke sekolah hari itu, teman-teman di kelasnya juga begitu merasa terbantu dengan kedatangan Amu. Hari ini cukup membahagiakan untuknya, tentu saja dengan kabar Ikuto akan pulang tak lama lagi, bertepatan dengan hari Amu membawakan pidato, Amu menganggap hal itu sebagai bonus dia malah tidak sabar hari itu datang.
.
.
Tibalah hari-H nya, ya hari perayaan kelulusan dan kenaikan. Amu sedang bersiap-siap di kamarnya, dia sedang mengenakan baju yang baru dibelinya, baju yang dipersiapkannya untuk hari dimana dia akan berpidato. Mama Amu yang melihat Amu memakai baju itu jadi tersenyum.
"Wah anak mama cantik sekali, kamu cocok sekali memakai baju itu Amu"
"Makasih mama, hari ini kan hari yang spesial"
Lalu Amu pun turun papa Amu melihat Amu langsung memuji Amu.
"Wah Amu, cantik sekali oh iya foto foto!", papa Amu langsung mengambil kamera dan jeprat-jepret, Amu hanya menghela napas, dia paham papanya suka begitu kalau melihat anak-anak perempuannya terlihat cantik memakai baju atau kostum.
Berangkatlah Amu ke sekolah, mama, papa, Ami juga ikut. Sepanjang perjalanan dengan mobil, Amu diiringi lagu semangat oleh keluarganya, "Ganbare-yo, ganbare-yo, semangat semangat" (emang ada lagunya), lagi-lagi Amu menghela napas, karena lumayan berisik.
Mereka sampai juga di sekolah Amu, yang sekarang sudah terdekor dengan indah, hasil kerja keras murid-murid. Banyak balon-balon, stand-stand, hampir seperti festival.
"Amuchi!", Yaya datang menghampiri Amu bersama Rima.
"Yaya, Rima"
"Amuchi manis sekali, baju putih itu cocok denganmu!"
"Ah he he makasih, Yaya juga manis, kamu pakai pita di kepalamu kan", Amu melihat pita kuning cukup besar di kepala kiri Yaya.
"Masih ada lagi lho", Yaya menunjukkan pita lain di bajunya
"Waah, Rima kamu juga terlihat cantik"
"Thanks, aku memang dasarnya manis", kata Rima cool, Amu, Yaya jadi ikut tertawa.
"Ah halo mama papa Amuchi", Yaya memberi salam.
"Halo kamu Yaya kan? Imut ya", tanya mama Amu.
"Ha ha bibi bisa saja tapi memang Yaya imut he he, eh ada Ami juga halo sudah besar ya"
"Iya kakak aku sudah SD", kata Ami yang habis mengunjungi stand makanan, dan bawa-bawa makanan.
"Ayo Amu kita temui yang lain", ajak Rima.
Ami diajak Rima Yaya pergi menumui Kukai dan Tadase. Amu melihat Tadase memakai baju seperti jas, Kukai juga, membuat mereka telihat keren.
"Halo semuanya", sapa Amu.
"Yo, Amu", sahut Kukai.
"Amu", Tadase tersenyum. "Bagaimana Amu teks pidatonya, sudah siap?"
"Sudah, yah untunglah bisa selesai"
"Kamu juga terlihat manis hari ini Amu", kata Tadase memperhatikan Amu.
"Ah i iya", Amu malu-malu.
"Amuchi malu-malu dikatai Tadase, ciee!", goda Yaya, semuanya tertawa.
Beberapa saat kemudian, para murid bersama orang tua langsung diarahkan ke aula. Untuk kelas Amu, khusus kenaikan, jadi berbeda dengan aula untuk kelulusan, Kukai pisah dengan yang lain.
"Sampai ketemu nanti ya Kukai", kata Tadase.
"Yo", kata Kukai santai, tiba-tiba dia dikejutkan dari belakang oleh seseorang, "Hei".
"Huwaa kaget aku!", Kukai menoleh dan melihat ternyata Utau, soalnya dia persis muncul di belakang Kukai. "Kau kesini rupanya!"
"Sudah jelas kan, masa aku tidak datang ke acara kelulusan pacarku", kata Utau malu-malu sambil memalingkan wajah, Kukai juga jadi memerah, keduanya disuit-suit sama yang lain.
"Utau, apakah dia ada di sini?", tanya Amu.
"Entahlah, mungkin, kau cari saja, ayo Kukai", langsung menggandeng Kukai masuk aula.
Amu pergi bersama yang lain dan orang tuanya ke aula sambil menegok-nengok mencari Ikuto, orang yang dimaksud, tapi dia tidak menemukannya, dia datang kan, pikir Amu.
Di aula, aulanya cukup besar, karena untuk beberapa kelas. Amu yang ditunjuk sebagai perwakilan kelas, diminta duduk cukup depan, para orang tua di belakang. Acara dimulai, pertama dengan sambutan kepala sekolah Seiyo Gakuen, kemudian sambutan guru-guru, wali kelas, dan giliran siswa perwakilan kelas. Amu langsung dag dig dug, "Aduuh kenapa aku jadi gugup begini, teksnya sudah siap kan, tapi ternyata mentalku belum, apalagi apalagi banyak sekali orangnya...!", kata Amu dalam hati.
"Ya kelas 2-B", panggil wakil kelasnya. Sebentar lagi giliran kelas Amu, 2-C, Amu semakin panik. "Huwaa"
Siswa perwakilan kelas 2-B pidato dengan cukup bagus, Amu menyimak dan berpikir bisa tidak ya seperti dia atau malah jelek. Wakil 2-B selesai berpidato diiringi tepuk tangan. Tibalah giliran Amu.
"Ya kelas 2-C, diwakili oleh Amu Hinamori, silakan"
"Kamu pasti bisa Amu, pasti bisa", kata Amu. "Ya Amu ayo!", suara yang berasal dari mama, papa, dan Ami, cukup nyaring juga mereka. Amu maju dengan pelan-pelan, masih dag dig dug. Saat sudah di podium, melihat banyak orang, tampak lautan manusia di mata Amu, waduh, huwaa, pikir Amu kemudian menunduk. Harus bisa bisa, dia mengangkat lagi wajahnya, tak sengaja dia melihat Tadase yang duduk di depan sesuai janjinya, Tadase seperti mengucapkan kata-kata, "Kamu bisa Amu", dia mengangguk dan tersenyum ke Amu. Amu juga melihat teman-temannya yang lain yang tersenyum padanya. Muncullah keberanian dalam diri Amu, dia membuka teksnya dan mulai membuka mulutnya untuk berpidato...
To be continued
Review yaa ^^ thx
