Disclaimer : EXO-M's Kris dan Chen, TOP, SNSD's Taeyeon, Jessica, dan Tiffany punya agensi mereka, diri mereka, dan orang tua mereka masing masing.
Pair : KrisChen.
Genre : Romance, Friendship.
Rating : Kali ini T dengan Kiss scene.
Warning : Yaoi, crack-pair.
Note: Aku ingin lari dari sesuatu yang disebut ketenaran.
+Tato+
"Saya Kim Jongdae, salam kenal."
Itu yang Kris dapatkan saat pelajaran pertama hari ini, seorang anak baru. Rambut hitamnya menutupi wajahnya dan juga matanya yang dibingkai kacamata tebal, seragamnya dikenakan dengan rapi. Dia pasti akan jadi siswa teladan menurut Kris, dengan malas dia memperhatikan anak itu.
Dan dia melirik Kris, seketika tertegun Kris seperti mengingat sesuatu dari matanya yang menusuk di balik kacamatanya, mengingatkannya pada Chen.
"Baiklah, Jongdae. Kau bisa duduk di sebelah Kris Wu di sana."
Dia berjalan dengan tenang ke arah Kris yang masih terdiam, orang orang akan bilang dia anak baik yang tidak mungkin memasang tato seperti Kris, GD, dan Jaejoong. Namun Kris melihatnya lain, dia ini persis Chen, dengan aura yang seperti itu, sedikit gelap tapi terang, tidak tertebak.
"Heran melihatku disini, Kris?" Dia duduk di sebelah Kris dengan tenang, Kris masih meneliti apa dia ini Chen atau bukan.
"Kim Jongdae itu nama asliku, kau tahu?" Dia menurunkan sedikit kacamatanya, benar dia adalah Chen.
"Ch-"
"Sst… Kalau yang lain tahu bahaya." Dia meletakan telunjuknya di bibir Kris.
Apa para penulis selalu segila Jongdae.
+Tato+
Chen –bukan, yang benar Jongdae, adalah anak yang cerdas, Kris sering melihatnya justru menulis plot cerita daripada memperhatikan guru dan mencatat pelajaran, hebatnya dia selalu mendapat nilai bagus tanpa belajar. Tentu saja Jongdae bukan dia yang masih belajar di malam hari, Kris rasa dia justru menghabiskan waktu malamnya untuk menulis.
"Jongdae membaca 'Bahkan Dengan Satu Sentuhan'?" Kali ini ada yang mendapati Jongdae membaca novelnya sendiri, Scorpius Im, sang penulis, adalah dirinya sendiri.
"Iya." Jawabnya, senyum manis terukir di bibirnya untuk gadis di hadapannya ini, Kim Taeyeon, satu dari anak gadis di kelas yang suka membaca novel, entah bagaimana tapi kelasnya dikenal karena minat bacanya yang tinggi.
"Kau juga menyukai Scorpie?" Tanya Taeyeon.
"Scorpie?" Kris bertaruh kalau Jongdae tidak pernah berpikir nama samarannya akan disebut seperti itu.
"Scorpius Im, Jongdae."
"Oh, iya. Aku menyukai tulisannya." Menyukai tulisannya sendiri, Kris menahan tawa kecilnya, tidakkah itu terkesan memuji diri sendiri?
"Apa kau sudah lihat film 'Bahkan Dengan Satu Sentuhan'?" Tanya Taeyeon lagi, dia dan banyak anak gadis di kelasnya memang menyukai Scorpius Im, tentunya karena tampangnya, Jongdae saat menjadi Scorpius itu bisa digolongkan sebagai pemuda yang tampan.
"Tentu. Bagaimana? Apa kau menyukai film itu?" Tentu? Tentu saja dia sudah menontonnya, memangnya siapa yang menyanyikan soundtrack dari film itu kalau bukan Jongdae dan siapa yang menulis novel yang difilmkan itu kalau bukan Jongdae.
"Iya, aku suka. Apalagi si pemuda berambut emas, aku tidak tahu mereka akan memakai Choi Seunghyun, dia jadi terlihat seperti orang barat, kau tahu?"
"Iya, aku terpukau melihatnya lari lari di hutan. Tidakkah efek dari film itu bagus?" Terpukau melihat Choi Seunghyun? Mungkin seperti itulah yang Jongdae rasakan saat proses syuting.
"Iya, kau benar. Rasanya jadi seperti ada di dunia sihir, satu dunia khayalan yang berbeda dari yang kita tempati saat ini."
"Tapi tidakkah akhir dari film itu menggantung?" Tanya Jongdae, sepertinya dia sudah dapat beberapa komentar yang membahas akhir dari novel dan film itu.
"Iya, tapi itu sudah bagus, aku tidak akan meminta lanjutannya pada Scorpie, 'Bahkan Dengan Satu Sentuhan' sudah bagus begitu dan aku menyukainya yang seperti itu." Kata Taeyeon, Jongdae hanya tersenyum, seperti senyum terima kasih yang tulus menurut Kris.
"Hey, Taeng. Tiff sudah selesai membacanya." Dan datanglah Jessica, juga dengan novel yang sama di tangannya.
"Kau juga membacanya, Jongdae?" Tanyanya pada Jongdae.
"Itulah kenapa kau harus perhatian pada orang lain, Sicca." Kata Taeyeon. Berani sekali dia bicara seperti itu hanya karena dia memergoki Jongdae membaca 'Bahkan Dengan Satu Sentuhan' lebih cepat beberapa menit dari Jessica, Kris tertawa kecil.
"Aku sendiri sebenarnya lebih suka 'Yatim', walau Tiff bilang ini novel ini adalah kesukaannya." Kata Jessica, ekspresinya yang sedikit tidak bersahabat muncul lagi walaupun dia terlihat seperti itu setiap saat.
"Taruhan, deh, dia hanya menyukai tampang pemeran si peramal." Katanya lagi.
"Yang kau maksud itu Lu Han? Tentu saja dia sangat manis, siapa yang tidak menyukainya?" Balas Taeyeon.
"Iya, si Lu Han itu. Aku akan lebih senang kalau 'Yatim' yang difilmkan, novel itu benar benar kena ke hati." Taeyeon mengangguk mendengar kata kata Jessica sementara Jongdae terlihat berpikir, sepertinya dia terpengaruh.
"Kau sudah baca 'Yatim'?" Tanya Taeyeon padanya.
Kris makin yakin kalau Jongdae telah terpengaruh untuk melayar lebarkan 'Yatim' juga, Kris pribadi tidak setuju, difilmkannya 'Yatim' bukanlah sesuatu yang datang dari diri Jongdae sendiri, itu terkesan dipaksakan dan sangat tidak Jongdae. Kris lebih suka dia melakukan apa yang hatinya katakan terhadap karyanya dan bukannya menuruti pasar.
+Tato+
Setelah satu kali kencan dan memanfaatkan teknologi untuk mendekatkan diri, Kris dan Jongdae sudah bisa dipastikan ada dalam hubungan khusus saat ini.
Atap sekolah adalah tempat terbaik untuk berteriak, jadi Jongdae menyanyikan keras keras soundtrack dari 'Bahkan Dengan Satu Sentuhan', Kris hanya memperhatikannya dan sama sekali tidak protes karena suara Jongdae memanglah sangat bagus.
Jongdae melirik kepadanya, memamerkan senyumnya yang sulit dibaca. "Apa kau marah?" Tanyanya.
"Karena apa?"
"Aku jarang bertemu dengan orang lain, jadi aku tidak tahu kau marah atau tidak karena aku tidak memberitahu tentang diriku yang sebenarnya." Jongdae tertunduk.
Kris mengacak rambutnya, menangkup sisi wajahnya yang bergaris tegas dengan tangannya, dia memang terlihat seperti orang Mediterania.
"Aku hanya ingin jadi yang paling tahu soal dirimu." Kata Kris, mana mungkin dia bisa marah pada Jongdae?
Kris menariknya ke pelukannya, perbedaan tinggi mereka membuat Jongdae terasa mungil dalam dekapannya, mungil dan lemah.
"Aku Kim Jongdae, seorang yatim piatu, bekerja sebagai penulis dengan nama Scorpius Im dalam bimbingan editor-ku, Kim Minseok, dialah yang memberiku sebuah nama panggilan, Chen, jadi kau bisa memanggilku dengan nama itu, salam kenal." Kata Jongdae. Kris melepas pelukannya, menatap dalam mata Jongdae yang terlihat gusar, butuh perlindungan. Dia bisa berpegang pada Kris.
Menariknya pada sebuah ciuman yang manis, tidak masalah, kan, menciumnya seperti ini? Makin Kris mencium, Makin Jongdae –yang dipanggil Chen- membalas, itu berarti tidak ada masalah dengan ciumannya.
Chen, begitulah dia ingin dipanggil, nampaknya anak itu sedang membutuhkan pegangan, sekaligus penuntun untuk memilihkan jalan yang harus dia tempuh. Untuk saat ini, dia berpegang kuat pada Kris.
Mundur perlahan, seperti tidak mau mundur, tapi paru paru mereka sudah menyembah meminta udara, mau tak mau harus diberikan. Kris tersenyum, Chen juga tersenyum hanya saja senyumnya menunjukan bahwa ada yang mengganjal hatinya.
"Mereka selalu bilang padaku untuk jadi penyanyi saja, dan aku tertarik." Katanya.
"Mereka bilang padaku untuk melakukan sesuatu dengan 'Yatim', aku juga tertarik."
"Tapi rasanya itu tidak benar, itu menyalahi garis yang kubuat untuk membatasi Scorpius."
Kris lagi lagi memeluk pemuda yang tiba tiba jadi banyak bicara itu.
"Lakukan apa yang kau mau, tapi jangan biarkan mereka mempengaruhimu."
Chen memeluknya, seakan mencari pengangan yang lebih kuat lagi.
"Sepertinya aku harus pergi." Katanya, masih memeluk Kris erat, seperti akan membawanya pergi juga.
"Aku ingin meninggalkan popularitas Scorpius sehingga dia bisa menulis tanpa pengaruh orang lain. Menjadi bebas dengan novel novel yang tak bisa ditebak orang tapi mewakili perasaannya."
Kris tidak berkomentar.
"Seperti itu adalah yang terbaik, bukan?" Tanyanya.
Benar benar menjadi diri sendiri, kemudian menulis apa yang benar benar dirasakan tanpa campur tangan orang lain, itukah pijakan dimana Chen berdiri selama ini? Itukah yang membuat Scorpius Im sangat misterius saat waktu itu mereka bertemu? Apapun jawabannya yang Kris yakini adalah itulah nilai yang harus dijaga dari Chen, itulah yang jiwanya yang sejati.
+FIN+
