`Chapter 2`

-Claire (POV)-

Claire bangkit dari tempat duduk di klinik. Lalu ia melirik jam yang tergantung di tembok yang bewarna putih dan mendesah pelan.

"Sudah satu setengah jam aku menunggu, tapi mereka belum keluar juga. Apa sebaiknya aku pergi saja, ya?" tanya Claire pada diri sendiri.

"Tapi pergi tanpa pamit itu rasanya tidak sopan," katanya lagi, masih berbicara sendiri. Sejenak, ia diam di tempat tidak melakukan apa-apa. Tak lama kemudian ia memutuskan untuk tidak duduk kembali."Yah, sekadar melihat-lihat untuk membunuh rasa bosanku, daripada duduk terus nanti bisa terkena ambeien,"

Claire berjalan ke setiap sudut dan memperhatikan setiap benda di klinik itu dengan seksama. Lalu ia tersenyum saat membaca satu slogan yang membuatnya menjadi teringat masa lalunya.

You can dream it, you can do it.

Claire tersenyum lirih. Ya, dia sempat mempunyai cita-cita saat ia berumur 8 tahun sampai beberapa minggu yang lalu. Tapi sekarang cita-cita itu telah lenyap karena beberapa hal. Cita-cita nya adalah untuk menjadi seorang dokter. Tapi setiap kali ia hampir menyerah pada cita-citanya, malamnya ia selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki yang berkata dengan antusias kepadanya;

"Saat aku besar nanti, aku akan menjadi seorang dokter! Dan kau?" Anak laki-laki itu menatapnya.

Entah mengapa di mimpi itu Claire merasa gugup. Lalu ia menjawab dengan terbata-bata, "A—aku igin menjadi seorang dokter atau suster..,"

Anak laki-laki itu tersenyum sumringah saat mendengar jawaban Claire. "Suster ya? Tepat sekali! Kalau begitu, nanti kau akan menjadi suster di klinikku, he-he. Tapi kalau kau ingin menjadi dokter, tak apalah, kau harus menjadi dokter di klinikku juga. Jadi kita akan terus bersama-sama, ya!" Katanya lagi. Aku mengangguk pelan.

"Janji, ya? Kita harus terus bersama-sama!" pinta anak itu sambil mengangkat jari kelingking tangan kanannya.

"Iya, janji." Jawab Claire sambil memeluk jari kelingking laki-laki itu dengan jariku yang sama dengannya.

Kurasa itu semua bagian dari hidupku di masa lalu. Tapi aku tidak ingat siapa orang itu, bahkan ia juga tidak merasa pernah bertemu orang itu di masa hidupnya. Dan juga, mimpi itu tidak muncul kembali saat aku sudah berada di titik putus asa saat mengejar cita-citaku itu. Akhirnya, beginilah, aku tidak akan bisa menepati janjiku. Aku menyerah pada cita-cita itu.

"Ah, Claire?" panggil Elli dari arah kamar pasien. Aku tersadar dari lamunanku. Eh? Ngomong-ngomong mengapa Elli bisa tahu namaku ya?

"Ngg.. ya?" sahutku sambil menengok ke Elli. Elli tersenyum manis. "Apakah kau bisa menjaga Gray sebentar? Kai tadi izin pulang untuk menjaga tokonya. Sementara aku dan Dokter Trent akan mencari daun untuk meracik obatnya." jelas Elli.

"O—oke. Memangnya apa daun yang kau cari itu?"

"Hmm, pokoknya daun yang ada di pegunungan saat musim panas ini, dan daun... dan mint? Persediaan daun mint kami habis, jadi kami akan sedikit lama saat pergi nanti," jawab gadis berambut coklat itu.

"Hoo! Daun mint? Aku punya banyak!" seruku sambil membuka tas kecilku. Lalu mengambil sebuah plastik berwarna hitam. "Ini, kan?" Aku menunjukkan daun tersebut. Daun yang berwarna hijau muda dan lebar.

Elli mengangguk senang. "Dimana kau mendapatkannya? Di kota mineral ini susah sekali lho, mencarinya" ujar Elli sambil menerima beberapa daun itu dariku. Aku tersenyum lebar.

"He-he, aku sempat kuliah di jurusan kedokteran, jadi aku tahu. Lagipula itu daun yang sangat bermanfaat, jadi aku selalu membawanya kemana-mana. Ohya? Di Kota Crystal malah sangat mudah ditemukan," ujarku.

"Jadi kau ingin menjadi dokter, ya? Lalu mengapa kau kemari? bukannya kau akan menjadi petani di peternakan yang sudah lama tak terurus itu?" Dokter Trent berkata. Aku tersentak kaget. Ternyata sedari tadi ia mendengarkan percakapan kami. Kenapa aku baru menyadarinya?

Elli tidak tahu mengapa aku tersentak kaget saat Dokter Trent berbicara seperti itu. Tapi Elli langsung berkata, "Ah, dokter, lebih baik kita pergi ke pegunungan sekarang. Nanti kalau terlalu sore takutnya kabut disana menjadi tebal. Oh, dan aku sudah mendapatkan daun mint dari Claire,"

"Oh, begitu ya. Baiklah," kata laki-laki berambut hitam itu sambil mengangguk tanda setuju. Lalu ia berjalan menuju arah pintu klinik dan meninggalkan Elli di belakang.

"Terima kasih, ya, Elli." bisikku. Elli mengangguk. "Jangan lupa kamu jaga Gray, ya!" katanya sambil tersenyum dan berlari kecil untuk menyusul Dokter Trent. Aku balas tersenyum untuk memberikan jawaban ya.

Setelah punggung Elli hilang dari pandanganku, aku berjalan menuju dapur klinik, kalau ada. Aku berpikir untuk membuat nasi kari untuk Gray. Karena aku merasa Gray belum makan apa-apa dari pagi. Itu terlihat jelas saat pertama kali aku melihatnya di restaurant itu dan wajahnya terlihat sangat pucat. Tapi saat itu aku mengira ia seorang pemabuk dan pecandu narkoba.

Aku menemukan dapur. Dapur ini terlihat sangat rapi dan sangat bersih. Tapi peralatan masaknya sangat sedikit dan semen sela-sela lantai masih berwarna putih, jadi pertama kali yang kupikirkan saat melihatnya adalah dapur ini jarang dipakai.

Saat aku membuka kulkas, aku membuang nafas lega karena disini cukup banyak persediaan bahan-bahan makanan. Jadi aku bisa memasak tanpa harus belanja di supermarket yang letaknya juga belum kuketahui.

Aku diam sejenak di depan pintu kulkas yang terbuka lebar. Lalu kuambil beberapa bahan yang kuperlukan dengan jumlah yang sedikit lebih banyak. Karena sekarang aku berada di klinik, mungkin aku akan membuat porsi makan malam untuk Elli dan Dokter Trent juga. Kan gak lucu kalau memasak makanan yang porsinya hanya untuk satu orang.

Yap, masakan nasi kariku selesai hanya memakan waktu setengah jam. Aku keluar dari dapur dengan membawa piring berisi makanan tersebut untuk Gray. Saat berjalan menuju kamar pasien, aku melirik jam dinding. 17:35. Huah, kira-kira mereka sampai kesini jam berapa ya? Apakah aku akan sanggup untuk menunggu lebih lama lagi? Sedari tadi Gray juga belum sadar. Aku merasa hampir mati karena bosan.

Kuletakkan piring itu di meja kecil sebelah tempat tidur yang Gray tempati. Masih sambil berdiri, aku menatap Gray. Topinya telah dilepas. Wajahnya yang semula tidak terlalu terlihat, sekarang aku dapat melihatnya dengan jelas. Rambutnya yang berwarna kemerahan, bibir yang tidak terlalu lebar dan tidak terlalu tebal, hidung yang mancung, juga alisnya yang lurus dan tebal.

Tapi ia tidak puas memandangi Gray saat tertidur seperti ini. Menatap orang saat orang itu tidak sadarkan diri menurutnya seperti pencuri.

Claire duduk di kursi yang telah tersedia. Lalu memainkan jarinya dengan lincah, kebiasannya saat sedang bosan atau grogi. "Ini membosankan. Aku jadi terlambat ke rumah walikota. Eh, tapi apakah tidak apa-apa kalau aku terlambat ke rumahnya?" kataku. Aku memutuskan untuk menatap Gray lagi. Tapi tak lama kemudian mata Gray terlihat bergerak-gerak. Dan beberapa detik setelahnya, kedua mata Gray terbuka lebar. Tapi pandangannya masih terlihat belum sepenuhnya sadar.

"Gray?"

"Siapa kau?" tanyanya dengan suara parau. "Aku Claire. Apakah kau sudah sepenuhnya sadar?" tanyaku dengan nada yang ramah. Dia mengangguk lemah sambil mencubit pipi kirinya. Dia ngapain sih?

"Syukurlah. Kalau begitu, silahkan makan ini," aku menyodorkan piring nasi kari buatanku yang sudah hangat. Gray mengambilnya dan memakannya perlahan.

"Apakah itu enak?" tanyaku polos. Gray yang masih mengunyah hanya mengangguk malas. Aku tersenyum. Walaupun dia seperti belum menganggap keberadaanku sepenuhnya, itu tidak apa-apa. Setidaknya dia mengakui kalau masakanku enak.

"KAMI PULAAAAANG!" seru Elli riang. Sontak, aku mengerjapkan mata dan Gray berhenti mengunyah karena kaget mendengar suara Elli yang memekakkan telinga.

"Huh, 'kami pulang'...?" ulang Dokter Trent. Elli mengabaikan perkataannya dan langsung ke kamar pasien.

"Aah! Kau sudah sadar! Eh makan apa kau, Gray? Kelihatannya enak," Elli berjalan mendekat. "A—aku tadi membuat nasi kari. Maaf sebelumnya aku tidak izin. Tapi aku telah mencuci alat-alat yang tadi kupakai dan membuat porsi untuk kalian juga, kok!"

"Oh, tidak apa-apa, Claire. Aku malah jadi tidak harus repot-repot membeli makanan di Inn untuk Gray makan nanti. Soalnya obat itu di minum sehabis makan." Kata Elli sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya.

"Tapi.. ngg anu— aku tidak bisa berlama-lama disini. Sebenarnya aku ingin bertanya dimana letak rumah walikota karena aku ingin konfirmasi tentang tanah peternakan itu," kataku pada akhirnya.

"Oh, benarkah? Maaf ya, sudah membuatmu repot seharian. Hm, bareng aku saja nanti kesana. Rumahku di sebelah rumah walikota,"

"Baiklah,"

"Kau tahan Gray saja dulu, jangan biarkan dia pulang. Aku dan Dokter Trent akan meracik obat sebentar." ujar Elli sambil bergegas pergi dari sini. Aku mengangguk pasrah.

KLEK!

Pintu tertutup rapat, dan setelah suara kecil itu, suasana di kamar ini mendadak hening seperti beberapa menit yang lalu sebelum Elli datang.

"Kau ini siapa? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya," ujar Gray membuka suara. Aku menatapnya.

"Sudah kubilang, aku ini Claire. Aku akan menjadi petani di peternakan yang—" aku menghentikan ucapanku sejenak. Teringat kembali kata-kata Dokter Trent. "—peternakan yang katanya sudah lama tak terurus itu"

"Benarkah? Apa kau yakin? Gadis muda sepertimu ingin menghabiskan sisa waktunya untuk bertani? Dasar gadis kota yang aneh."

"Aku sangat yakin! Memangnya apa yang salah dengan gadis kota yang ingin menjadi petani?"

"Yah, jarang saja. Biasanya kan gadis-gadis kota hanya ingin berbelanja baju yang sedang trend dan menikah dengan seseorang yang kaya raya tanpa mencintainya. Setidaknya itu yang selalu diceritakan teman-temanku yang berada di luar kota ini," ujarnya datar. Wajahku memerah karena kesal.

"Enak saja! Jadi kau pikir aku pribadi orang yang seperti itu?!"

"Marah, berarti benar." katanya pendek.

"Aku marah untuk membela gadis-gadis dari kota yang tidak seperti itu. Termasuk aku," tukasku dengan nada yang lebih sedikit tenang.

"Oh, begitu. Kalau begitu aku kasih tahu, ya. Rumornya rumah di peternakan itu berhantu. Beberapa orang pernah melihatnya."

Seketika aku langsung merinding. Padahal aku hanya mendengar kata 'hantu' yang keadaannya belum pasti ada atau tidak. Tiba-tiba Gray tertawa. "Ternyata kau takut hantu, ya?" godanya sambil menatapku lucu.

"Kalau iya, kenapa?" kataku kesal.

"Yaaa, pokoknya hati-hati saja. Kalau kau terbangun dari tidurmu sekitar jam 2-4 pagi, berarti ada yang sedang memperhatikan kamu," ujar Gray lagi. Aku menggeleng pelan. "Yang namanya hantu itu tidak ada, tahu!"kilah Claire.

KLEK! Pintu kamar pasien dibuka..

Sosok yang berada di balik pintu itu adalah Dokter Trent. Lalu di belakangnya ada Elli yang membawa segelas air dan racikan obat berwarna orange. Hm, apakah itu rasa jeruk?

Dokter Trent berdiri tepat di sebelahku. "Ohya, Elli, sekarang kau pulang saja. Sudah jam 6 lewat, kasian nenek dan adikmu kalau kau pulang larut dari biasanya. Biar aku yang mengurus Gray, lagipula gadis ini juga ingin melihat ke rumah walikota kan?" ucapnya.

"Baiklah, terima kasih. Oh, dan nama gadis ini adalah Claire." Elli menyerahkan gelas berisi air putih dan racikan tersebut ke Dokter Trent. Setelah itu Elli membungkuk ke arah Dokter Trent, lalu ke Gray. Aku mengikuti gerakan Elli dan langsung bergegas keluar setelah melakukannya.

"Ayo, aku akan antar kau ke rumah walikota sekarang," ajaknya sambil berjalan di sampingku. Dan tidak sampai setengah jam, kami sampai di depan sebuah rumah kecil sekaligus terlihat megah dengan cat tembok yang berwarna coklat bata. Hm, atau itu berwarna merah, ya? Ah, aku tidak tahu. Mataku tidak dapat melihat dengan baik di malam hari.

"Ini dia, rumah walikota. Dan kau lihat rumah itu kan?" katanya sambil menunjuk rumah yang berwarna tidak jauh beda dengan rumah walikota. Bedanya, rumah di sebelah rumah walikota ini lebih banyak tanaman bunganya. "Ya, aku melihatnya" jawabku sambil mangut-mangut.

"Itu rumahku. Aku tinggal bersama nenek dan adik laki-lakiku," ujarnya memberi tahu. "Ahh, jadi begitu. Pasti adikmu sangat imut, ya?" tanyaku dengan sotoynya.

Elli cemberut. "Huh! Jauh sekali dengan perkiraanmu. Dia sangat bandel!" kata Elli sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Aku tertawa saja deh, habis bingung mau respon apa. He-he-he

"Ohya, terima kasih banyak ya, Elli, telah mengantarku kemari."

Elli mengangguk. "Aku pulang dulu, ya! Jangan lupa istirahat yang cukup!" katanya sambil berlari kecil menuju rumahnya. Aku melambaikan tanganku sampai ia masuk ke rumahnya.

Aku berjalan menuju pekarangan rumah walikota dan mengetuk pintu. Aku menunggu beberapa menit. Tidak ada jawaban.

Aku mengetuk pintu untuk kedua kalinya sambil berkata, "Permisi?" Dan aku menunggu lebih lama dari tadi. Tapi tetap saja tidak ada jawaban.

Aku mengetuk pintu lagi dengan ketukan lebih banyak dan suaraku yang sedikit lebih besar. Tapi masih saja tidak ada jawaban dan pintu rumah ini belum terbuka juga.

Aku menyerah dan memutuskan untuk mengintip lewat jendela. Apakah Elli salah rumah, atau benar ini rumahnya tapi walikota sedang tidur?

"Kau sedang apa?" tanya seseorang dari belakangku. Suara laki-laki.

Aku menoleh untuk menatapnya. "Aku sedang mencari walikota. Ini rumahnya, kan? Aku sudah mengetuknya beberapa kali tapi tidak ada yang menyahut,"

Lelaki itu sepertinya menatapku lama. Tak lama kemudian ia menjawab, "Walikota, eh? Kudengar ia sedang ada acara api unggun dan menginap di pegunungan bersama beberapa orang tua lainnya dari kemarin," jawabnya dengan suara yang lembut.

Mataku membelalak sebagai respon kagetku. "Be—benarkah itu?" tanyaku memastikan.

"Ya, benar. Semua orang di kota ini tahu kok. Memangnya kau tidak tahu itu?"

Aku diam tidak menjawab pertanyaannya. Kalau begitu— kalau walikota tidak berada di sini sekarang... bagaimana aku bisa ke peternakan itu? Aku tidak mungkin kesana tanpa seizinnya. Itu bisa dianggap lancang dan bisa membuat reputasiku buruk.

Dan juga..., malam ini aku akan menginap dimana?!