Orange's Caramel Present "Autumn Story"

.

.

.

Warning : AU, OOC, Typo, etc.

.

Genre : Drama, Romance, Hurt /Comfort

.

Pairing : Naruto x Hinata x Sasuke

.

I'm just borrow the all character from Mr. Masashi Kishimoto for My Fanfiction.

.

Fanfic ini untuk hiburan semata, jika ada kemiripan cerita mohon di maafkan..

.

.

.

~Happy Reading~

Ini adalah hari libur, hari yang amat sangat dinantikan oleh seluruh orang di dunia. Meski hanya satu hari, namun rasanya begitu amat sangat membahagiakan dan selalu dinantikan. Tapi tidak bagi gadis Hyuuga ini.

Hinata merasa tidak akan ada bedanya dari hari biasa dengan hari libur. Dia tidak akan pernah bebas dari seluruh jangkauan Hyuuga, terutama Sasuke.

"Kamu sudah bangun?" Sasuke berdiri di ambang pintu dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Hinata baru saja selesai menyisir rambutnya dan segera berbalik. Dia tersenyum hangat pagi ini. Akan seperti sebelumnya, mereka akan melupakan kejadian yang sudah berlalu atau hanya sekedar untuk menjaga perasaan masing-masing.

"Ohayou Sasuke-Kun." Sapa Hinata tersenyum lembut.

Sasuke berjalan mendekat dan mengecup pelan kening Hinata.

"Hm. Ohayou.." Jawab Sasuke singkat.

Hinata mengalihkan perhatiannya pada tangan Sasuke. Dirinya baru tersadar bahwa tangan Sasuke terluka dan belum di obati sama sekali.

"Kamu terluka Sasuke-Kun." Hinata dengan hati-hati menggenggam lembut tangan Sasuke.

"..."

"Akan ku obati." Hinata segera mengambil kotak obat yang ada di kamarnya. Dengan hati-hati dia memberikan antiseptik pada luka itu dan meneteskan obat merah, dilanjut dengan membalutnya agar tidak terkena dengan kontaminasi lain-lain.

"Sakit kah?" Tanya Hinata khawatir.

"Akan lebih sakit jika kamu pergi meninggalkanku." Pandangan Sasuke menjadi sayu. Dia mengelus pelan wajah Hinata.

Sesaat muncul rona merah tipis di wajah Hinata.

"Berjanjilah tetap di sisiku selamanya." Sasuke memeluk Hinata dengan lembut.

Hinata lebih baik memilih diam seperti yang sudah-sudah. Dia tidak ingin pertengkaran semalam terjadi lagi. Terkadang diam memang adalah emas dan sangat dibutuhkan dalam beberapa kondisi.

.

.

.

Trtt Trrrtt..

Hinata melirik ponselnya yang bergetar. Tidak ada nama, hanya nomor baru yang tampil. Sedikit ragu untuk Hinata menerima panggilan itu.

"Hm.. Moshi-moshi." Sapa Hinata lembut.

"Hinata.. Keluarlah.. Aku ada di depan rumahmu." Ujar seseorang yang Hinata dapat begitu mudah kenali.

Panggilan telepon pun terputus.

"Naruto-Kun." Hinata menggenggam ponselnya kuat. Wajahnya bersemu merah dan jantungnya berdetak cepat. Dia bersyukur Sasuke telah pergi karena ada urusan, jika tidak entah apa yang akan terjadi dengan Naruto.

Tanpa membiarkan Naruto menunggu lebih lama, Hinata segera berlari menuju gerbang rumahnya. Deru nafasnya masih sedikit tidak beraturan. Ya.. Hinata bisa melihat sosok yang begitu memikat hatinya. Berdiri dan tersenyum hangat kepadanya.

"Na-Naruto-Kun.." Gugup menguasai Hinata.

"Yo.. Hinata." Cengir Naruto.

Hinata segera membukakan pintu gerbang untuk mempersilahkan Naruto masuk.

"Hmm.. Apa hari ini kamu sibuk?" Naruto menggaruk pipinya yang tidak terlihat gatal. Gugup juga menguasai Naruto.

"Hmm.. Tidak.. Ada apa?" Hinata hanya tersenyum geli melihat tingkah Naruto yang agak sedikit aneh.

"Benarkah? Baguslah.. Kalau begitu ayo ikut aku." Naruto segera menarik tangan Hinata menuju keluar gerbang.

Hinata hanya memekik kaget karena belum ada persiapan apapun saat dirinya diajak oleh Naruto secara tiba-tiba.

"Naik dan berpegangan yang erat ya.." Perintah Naruto dengan cengiran khasnya.

Hinata hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum.

"Let's Gooo !" Lagi-lagi Naruto mengucapkan hal ini.

Sungguh Hinata ingin sekali seperti Naruto. Untuk sesaat dia berharap waktu dapat berhenti. Setelah itu, dia janji akan kembali menjadi Hinata anak penurut.

Hinata bahkan bukan mencengkram baju Naruto lagi, tetapi memeluk pinggangnya dengan sebelah tangan. Sebelahnya lagi dia gunakan untuk menahan rambutnya yang tertiup angin.

Naruto yang dapat merasakan pelukan Hinata hanya tersenyum senang.

.

.

.

"Ini dimana Naruto-Kun?" Tanya Hinata terkagum-kagum.

Mereka kini berada di taman bunga pertengahan Konoha. Hinata memang sering bepergian dengan Sasuke, namun mereka lebih sering pergi ke luar negeri daripada menjelajahi kota atau negeri sendiri.

"Kamu belum pernah ke sini?" Tanya Naruto ragu.

Hinata dengan wajah bersemu hanya menggeleng pelan. "Ini sungguh indah.." Tiba-tiba Hinata merentangkan kedua tangannya dan berputar-putar.

'Inikah rasanya bebas itu.. Beginikah rasanya..'

"Hinata.." Ujar Naruto tiba-tiba menjadi serius.

"Hm?" Hinata memiringkan badannya.

"Ehm.." Kali ini Naruto terlihat gugup. "Ma-Maukah kamu menjadi modelku?" Cicit Naruto pelan.

"Model?" Tanya Hinata sedikit bingung.

"Ma-Maukah kamu duduk di sana?" Tunjuk Naruto malu-malu ke arah kursi yang ada di bawah pohon besar dengan daun yang sudah menguning, mengingat ini adalah pertengahan musim gugur.

Hinata hanya mencoba menuruti Naruto untuk duduk di bawah pohon dan saat itu lah baru Hinata menyadari Naruto akan menjadikannya sebagai model melukis. Mulanya dirinya merasa malu karena pertama kalinya dijadikan model.

Naruto mulai menggoreskan sketsa pemandangan. Matanya terlihat sangat tajam ketika melihat objek yang dilukisnya. Hinata kembali merasakan jantungnya berdetak dengan cepat saat melihat Naruto yang begitu serius.

Butuh waktu kurang dari dua jam untuk Naruto menyelesaikan lukisannya. Dia segera merapikan peralatannya dan ikut duduk di samping Hinata.

Hinata mendapat hak khusus sebagai orang pertama untuk melihat hasilnya. Sungguh luar biasa. Lukisan itu terlihat hidup dan bahkan terlihat sangat indah.

"Kamu pintar melukis." Puji Hinata senang.

"Ini untukmu.." Naruto menyerahkan lukisan itu untuk Hinata. Dia berharap Hinata mau menyimpannya.

"Eh..? Benarkah?" Wajah Hinata terlihat berbinar-binar.

"Tentu saja.. Ini hadiah untukmu.. Hehe.." Naruto tertawa hangat.

"Ta-Tapi ini kan bukan ulang tahunku." Hinata merasa tidak enak hati karena Naruto memberikan begitu saja lukisannya.

"Tidak perlu hari khusus untuk memberikan hadiah kepada seseorang bukan?"

Ya.. Memang benar ucapan Naruto. Buktinya Sasuke terkadang sanggup memberikan lima hadiah dalam waktu kurang dari satu minggu.

"Benarkah? Arigatou..." Hinata terlihat sangat senang dengan pemberian Naruto. "Aku akan menyimpannya dengan baik." Hinata memeluk lukisan itu.

Jantung Naruto kembali berdesir hangat. Dengan kesadaran penuh dia mengambil ujung helai rambut Hinata dan menciumnya. Naruto memejamkan matanya dan meresapi seluruh wangi dari rambut Hinata.

Wajah Hinata memerah, beruntung tersamarkan oleh bayang-bayang pohon yang menaungi mereka.

Naruto membuka mata dan iris birunya menatap tajam ke Hinata. Biru bertemu amethyst.

Perasaan ini benar-benar sungguh tidak dapat terbendung lagi..

"Aku menyukaimu Hinata." Ucap Naruto serius.

Hinata hanya dapat mematung kaget. Jantungnya kini seperti Naruto, berdetak sangat cepat. Ingin rasanya dia menjawab 'Aku juga menyukaimu.' Namun terasa sulit untuk diucapkan. Dia sadar akan akibatnya jika kata-kata itu terucap.

"A-Aku.." Hinata menundukkan kepalanya.

"Bolehkah aku berharap padamu? Aku dapat melihat perasaanmu yang sesungguhnya."

Hinata menatap Naruto dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kau tidak mencintai Teme bukan? Matamu tidak bisa berbohong." Perkataan Naruto ini tepat mengenai sasaran.

Hinata kembali menundukkan kepalanya. "Ci-cintamu salah Naruto-Kun." Cicit Hinata pelan. Dia ingin menangis saat mengucapkan hal ini.

"Tidak, aku yakin kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku. Matamu tidak dapat berbohong." Naruto mengangkat dagu Hinata.

Mata mereka saling bertemu, dalam diam saling menyelami arti masing-masing. Saat itulah Naruto tau, Hinata memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, berbeda perasaan Hinata untuk Sasuke.

Naruto semakin mempersempit jarak di antaranya dengan Hinata. Dengan perlahan dia menempelkan bibirnya dengan Hinata. Ciuman itu berlangsung tidak terlalu singkat dan lama, namun sanggup memberikan rasa yang begitu membahagiakan.

Hinata kembali cepat tersadar. Dia mendorong bahu Naruto lembut dan menutup bibirnya dengan punggung tangannya. "Tidak.. Tidak.. I-ini salah Naruto-Kun." Air mata telah menganak di matanya.

"Apanya yang salah? Jujurlah pada perasaanmu sendiri." Naruto kembali menatap sendu.

Naruto menggenggam tangan Hinata lembut.

"Kau tau Hinata.. Kaulah satu-satunya gadis yang benar-benar membuatku merasa gelisah. Kehadiranmu yang selalu hadir disetiap mimpiku tidak sanggup untuk ku hapus." Naruto kemudian mengecup tangan Hinata dan kembali menatap mata Hinata.

Hinata hanya bisa diam membisu. Senang mendengar dan melihat sendiri pengakuan Naruto. Akan tetapi, semuanya salah. Ya.. Cintanya salah..

"Tatap mataku dan katakan kamu tidak mencintaiku, maka aku akan percaya." Ujar Naruto serius.

Hinata hanya dapat kembali menundukkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya.

"A-Aku..." Tidak Hinata tidak ingin mengucapkan hal itu. Hatinya menolak.

Hinata kembali teringat wajah terluka Sasuke jika dia menghianatinya.

"Ma-Maaf aku tidak bisa bersama denganmu Naruto-Kun.. Ku mohon maafkan aku.." Hinata segera berdiri meninggalkan Naruto sendiri yang memandangnya nanar.

Naruto kehilangan tenaganya untuk mengejar Hinata. Untuk pertama kalinya juga dia merasakan patah hati. Sangat sakit..

Hinata menangis di dalam taksi dalam perjalanan pulangnya. Masih terekam jelas pengakuan cinta Naruto. Semua begitu Indah.

Cinta pertamanya tidak bertepuk sebelah tangan. Tetapi kenyataan yang ada memaksanya untuk mengubur dalam semuanya. Cinta pertamanya yang begitu indah dan rapuh.

"Arigatou Naruto-Kun.. Arigatou.." Hinata kembali terisak sambil memeluk lukisan yang dihadiahkan oleh Naruto.

.

.

.

"Aku tau Hinata, kamu memiliki perasaan sepertiku.. Aku tidak akan menyerah dengan perasaan ini.. Akan terus kuperjuangkan sebisaku.." Naruto tersenyum lemah dan masih enggan untuk bangkit dari tempat duduknya.

.

.

.

I only need the light when it's burning low ..

(Aku hanya butuh cahaya saat gelap datang menjelang..)

Hoping one day you will make a dream last to be true ..

(Berharap suatu hati nanti, kamu akan membuat mimpi terakhir untuk jadi nyata..)

Then I know, The dreams come slow and goes so fast ..

(Kemudian aku tau, mimpi datang perlahan dan mereka pergi sangat cepat..)

.

.

.

Hinata memang sangat senang saat berdiam diri di balkon kamarnya. Pandangannya terus menatap lukisan yang diberikan oleh Naruto. Senyum tipis terus terpantri diwajah cantiknya.

"Siapa yang memberikanmu lukisan itu?" Tanya Sasuke datar begitu melihat Hinata yang tidak sadar akan kehadirannya.

"I-Ini.." Hinata menjadi takut Sasuke akan marah jika dia jujur.

"Siapa yang berani melukis dirimu?" Suara Sasuke mulai meninggi tapi wajahnya masih terlihat datar.

"Na-Naruto.." Cicit Hinata pelan sambil memeluk lukisan itu, seolah itu adalah benda yang paling berharga.

Sasuke tahu gadis dilukisan itu adalah Hinata. Dia tidak senang begitu mendengar Naruto melukis Hinata-nya. Rahangnya mengeras. Ingin sekali dia merampas lukisan yang dilindungi oleh Hinata.

"Berikan padaku.." Pinta Sasuke dengan tatapan menusuk.

"Ti-tidak.." Hinata menggeleng. Dia takut. Tubuhnya bergetar. Dirinya seperti seorang maling yang kepergok mencuri.

"Ku bilang, berikan padaku .. !" Sasuke memerintah.

"Ku mohon jangan Sasuke-Kun.. Aku janji tidak akan bertemu dengan dirinya lagi.. Tapi ku mohon jangan ambil lukisan ini.." Hinata memohon dengan linangan air mata.

Sasuke sungguh sakit, pertama kalinya Hinata melawan karena kehadiran seorang pria. Ya.. Sasuke tidak cukup bodoh dan buta untuk mengetahui Hinata memiliki sebuah perasaan terhadap Naruto. Dia tau semuanya dari pandangan mata Hinata. Seharusnya sejak hari pertama mereka bertemu, Sasuke sudah menjauhkan Hinata dari Naruto.

Bisa kalian bayangkan, berapa lama dia mencintai dan tak urung juga mendapat sambutan? Sedangkan Naruto hanya orang yang baru hadir, tetapi sanggup mengambil hati Hinata. Makhluk macam apa Naruto itu.

"Kamu akan menyesalinya Hinata." Desis Sasuke tajam. Kedua tangannya memenjarakan Hinata yang sedang duduk dikursi. Tangannya mencengkram erat pegangan kursi yang Hinata duduki.

Hinata takut.. Dirinya memang lemah.. Dia bahkan tidak berani untuk melawan dan hanya dapat memohon.

"Aku janji Sasuke-Kun.. Jangan lukai Naruto, dia tidak bersalah.. Aku yang bersalah." Racau Hinata.

Sasuke menggelengkan kepalanya. "Kalian berdua sama saja.." Tatap Sasuke tajam. Segera Sasuke menghempaskan vas bunga kecil yang menghiasi meja kecil di balkon.

Hinata tidak pernah melihat Sasuke semarah ini sebelumnya.

Sasuke mencengkram sebelah tangan Hinata. "Ingat Hinata, kamu tunanganku, sebaiknya jaga sikapmu itu." Lanjutnya dan menghempaskan kasar tangan Hinata. Sasuke kemudian pergi dengan perasaan kesal.

Pertemuannya dengan Hinata kali ini membuatnya naik pitam. Dirinya tidak menyangka mereka diam-diam bertemu.

Hinata dapat menangis. Hatinya sudah cukup sakit menolak Naruto dan kini Sasuke ikut berlaku kasar. Dia benar-benar lelah.

.

.

.

'Cause I loved you too much and I dive too deep ..

(Karena aku terlalu mencintai-mu dan aku menyelam terlalu dalam..)

But love never to touch ..

(Tapi cinta tidak pernah menyentuh..)

I only can see when you fall asleep..

(Aku hanya dapat melihat-mu saat tertidur..)

Maybe someday you'll understand why..

(Mungkin suatu hari kamu akan mengerti kenapa..)

Because I loved you too much..

(Karena aku terlalu mencintaimu..)

.

.

.

Sasuke POV,

Arghhhhh.. Kenapa seperti ini..

Kenapa Hinata harus bertemu Naruto..

Tidak akan pernah kubiarkan mereka bersatu..

Tidak akan pernah..

Seharusnya sudah kujauhkan mereka sejak saat itu!

Tch.. Sial..!

Sasuke POV End..

.

.

.

Sudah lima hari semenjak kejadian di hari itu. Hinata dan Sasuke kembali menjalani hidup mereka seperti saat dulu, sebelum Naruto hadir di antara mereka.

Semenjak kejadian itu pula Hinata terus menghindari Naruto. Hinata dan Sasuke tidak lagi terlihat beristirahat di belakang sekolah. Mereka memilih atap sekolah yang memang tidak diperuntukkan oleh siapapun datang, atas perintah Sasuke.

Hinata mencoba sebisanya untuk berlari dan menghindari Naruto. Hatinya sakit sungguh. Bukan ini yang dia inginkan..

Grep..

"Hmmpphh.." Seseorang membekap Hinata dan menyeretnya ke gedung olahraga. Suasana sekolah memang sedang sepi karena jam pelajaran baru saja dimulai.

"Sstt.." Pinta orang yang menyekap Hinata.

"Na-Naruto-Kun.." Hinata menatap tidak percaya. Hatinya senang dapat melihat Naruto baik-baik saja.

"Ada apa denganmu? Kenapa kamu terus menghindariku? Apa aku salah kepadamu?" Tanya Naruto beruntun. Matanya menatap khawatir dan sedih.

Yang ditanya hanya dapat menundukkan kepalanya. Dia entah harus menjawab apa. Ingin rasanya dia berteriak kepada sosok di hadapannya ini untuk tidak mengganggunya lagi dan mendeklarasikan bahwa dia baik-baik saja. Tetapi, suaranya tidak mau bekerja sama dengan hatinya.

Naruto segera memeluk Hinata. Hangat dan rindu.. Sesak yang dirasa seolah menguap begitu saja.

"Kau tau Hinata. Aku sangat merindukanmu." Cicit Naruto pelan, tapi masih sanggup didengar oleh Hinata.

"Apa Sasuke yang menyuruhmu menjauhiku? Apa kamu begitu menderita?" Tanya Naruto lagi.

Hinata hanya memilih diam. Cukup seperti ini saja. Cukup.. Perlahan Hinata menyambut pelukan Naruto. Tangannya mencengkram seragam belakang Naruto. Erat tapi hangat. Dia semakin membenamkan wajahnya di dada Naruto.

Tidak perlu jawaban, Naruto sudah tahu. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.

Hanya seperti ini saja cukup bagi mereka untuk menyalurkan rasa rindu yang tertahan.

Tanpa mereka sadari, sepasang onyx kelam menyaksikan dalam diam. Dari mata dan auranya terpancar perasaan marah dan kecewa. Kali ini dia memilih diam. Biarkan untuk kali ini dia membebaskan Hinata. Yang terpenting Hinata akan segera menjadi miliknya, bahkan si Naruto tidak akan dapat menjangkaunya lagi.

Sasuke pergi dengan tangan terkepal erat dan perasaan kesal, kecewa, marah yang bercampur menjadi satu.

.

.

.

"Hinata-Sama.." Seorang pengawal tengah berlari menuju Hinata dan Naruto.

Hinata menatap heran pengawal Ayahnya datang dengan terburu-buru dan wajah panik.

"Ada apa Oro-San?" Tanya Hinata ikut khawatir. Firasatnya berkata buruk.

"Hiashi-Sama masuk rumah sakit." Seorang pengawal Hiashi mengabarkan sebuah berita yang sangat mengejutkan saat Hinata dan Naruto tengah berjalan keluar dari gedung olahraga.

Hinata yang mendengarnya menjadi sangat syok. Ayahnya yang sedang menjalankan tugas bisnis, kenapa tiba-tiba bisa masuk rumah sakit.

"Aku antarkan ke rumah sakit." Naruto menggenggam erat tangan Hinata.

Perhatian Naruto seolah berkata, 'kamu tidak sendiri.'

Hinata hanya tersenyum lemah dan membalas genggaman tangan Naruto.

"Hinata.. Ayo kita ke rumah sakit." Sasuke berlari kecil ke arah Naruto, Hinata dan Oro -pengawal Hiashi-.

Sasuke menatap tajam ke arah Hinata saat melihat mereka berdua berpegangan tangan. Hinata segera melepaskannya, tetapi Naruto menggenggamnya semakin erat.

"Tidak ada waktu Hinata.. Ayo.." Sasuke menggenggam sebelah tangan Hinata yang kosong.

Sedikit terjadi tarik menarik. Pasalnya Naruto enggan melepas tangan Hinata.

"Lepaskan tangan Hinata." Desis Sasuke tajam ke arah Naruto.

"Tidak dan tidak akan pernah." Desis Naruto tidak mau kalah.

Hinata hanya bisa diam dan takut melihat pertengkaran itu.

"Hinata akan pergi bersamaku." Naruto menarik tangan Hinata dan memamerkannya di depan dada.

Terlihat raut Sasuke yang menjadi sangat kesal dan dia tersenyum tipis.

"Mungkin Hinata akan pergi denganmu, tapi bisa ku pastikan Hiashi-Jiisan akan sangat marah kepada Hinata karena bukan aku yang mengantarnya." Ejek Sasuke.

Mata Hinata melebar.

Benar..

Ayahnya belum menyetujui hubungannya dengan Naruto, bahkan mungkin tidak akan pernah. Mengingat Naruto bukan berasal dari kalangan terpandang.

"Naruto-Kun.. Kumohon lepaskan.. Aku akan pergi ke rumah sakit dengan Sasuke-Kun.. Aku akan baik-baik saja." Hinata berkata pelan dengan senyuman.

Naruto sebenarnya enggan. Jika memang harus menghadapi Ayah Hinata, dirinya sudah cukup siap. Tapi, jika Hinata sudah berkata maka dengan berat hati dia akan melepaskannya.

Naruto hanya tersenyum tipis ke Hinata.

"Berjanjilah untuk menemuiku lagi." Bisik Naruto pelan di telinga Hinata.

Hinata hanya memerah dan mengangguk pelan.

Sasuke meradang pemandangan ini. Ingin rasanya dia memberi pelajaran pada Naruto, memukul atau membunuh Naruto. Tapi hal itu tidak akan pernah dia lakukan. Dia tidak ingin semakin memperburuk keadaan dengan Hinata yang membencinya. Tidak akan pernah..

Naruto melepaskan tangan Hinata dan Sasuke segera menarik Hinata menuju mobilnya, diikuti oleh pengawal Hiashi. Dia hanya dapat melihat kepergian Hinata dan Sasuke dengan senyum pahit.

.

.

.

"Dokter, bagaimana keadaan Ayah saya?" Tanya Hinata sangat khawatir. Dirinya dan Sasuke harus menunggu 20 menit lamanya karena Hiashi masih dalam tahap pemeriksaan.

Dokter itu mendesah pelan.

"Hanya serangan jantung ringan, tetapi harus tetap berhati-hati. Jagalah perasaan Ayahmu, usahakan jangan membuatnya terlalu banyak berpikir." Nasehat dokter tua itu.

"Bolehkah aku menjenguknya?" Pinta Hinata memelas.

"Masuklah.." Ucap dokter yang bernama Kabuto dan dia segera pamit karena masih harus menangani pasien lainnya.

Hinata dan Sasuke memasuki kamar inap Hiashi. Mereka dapat melihat Hiashi terbaring tak berdaya dengan beberapa selang infus.

"Otousan.." Ujar Hinata lirih.

Hinata melihat raut lelah dari wajah tua Ayahnya. Wajah Hiashi yang selalu terlihat tegas kini berubah menjadi seperti orang lain. Hinata merasa sangat bersalah tidak dapat menjaga Ayahnya. Di dunia ini, keluarganya hanya tinggal Ayahnya. Meski sangat tegas, Hinata tetap mencintai Ayahnya.

Dengan hati-hati, Hinata menggenggam tangan besar milik Hiashi.

"Hi-Nata.." Suara Hiashi terdengar serak.

"Otousan.." Hinata menitikkan air matanya. Dia sangat takut.

"Otousan baik-baik saja? Kenapa?" Suara Hinata tercekat karena tidak sanggup untuk berbicara lebih. Dia mengabaikan segala tata krama.

"Hi-nata.." Lagi-lagi Hiashi berujar sedikit terpatah-patah.

"Iya Otousan.." Hinata sungguh tidak tega melihat ketidakberdayaan Hiashi.

"Maaf.." Dengan pelan Hiashi mengangkat tangannya dan menyeka air mata Hinata.

Hinata malah menyambut tangan Hiashi dan menggenggamnya.

"Maafkan Otousan.."

Hinata menggeleng.

"Otousan mohon jangan tinggalkan Sasuke. Keluarga kita krisis Hinata. Perusahaan Hyuuga hampir bangkrut." Dengan susah payah Hiashi bersuara.

Hinata hanya dapat membelalakan matanya terkejut. Selama ini dirinya hanya sebagai penyambung keutuhan bisnis Hyuuga. Hinata sungguh tidak percaya.

"Maafkan Otousan.."

Lagi-lagi Hinata kembali tersadar dan menggeleng. Jika pengorbanan ini akan menolong Ayahnya, akan dia lakukan.

"A-Aku.. Tidak akan meninggalkan Sasuke-Kun.." Hinata tidak ingin berjanji. Setidaknya hanya ini yang bisa dia lakukan demi kesembuhan Ayahnya. Hinata menangis dalam senyum. Sekali lagi.. Hinata adalah Hinata. Anak baik dan penurut.

Dalam diam Sasuke melihat dan tersenyum tipis penuh kemenangan. Setidaknya usaha membuat Hiashi masuk sakit tidak terlalu buruk.

'Arigatou Baka Niisan.'

'Maaf Hinata, tapi karena cintaku pada-mu lah yang membuatku begini.'

.

.

.

Sometimes He thought,

Real love is silent as well as blind . .

(Terkadang Dia berpikir, Cinta Sejati adalah diam serta buta . .)

.

.

.

Flashback..

Sasuke meminta bantuan Itachi untuk menyelamatkan hubungannya dengan Hinata. Dia menjelaskan sedikit banyak tentang kehadiran Naruto yang telah mengambil Hinata-nya.

Mulanya Itachi hanya tertawa karena keinginan adiknya yang begitu terobsesi pada seorang gadis. Tapi, karena pada dasarnya dia memang menyayangi Sasuke, maka Itachi bersedia membantu Sasuke.

Itachi dengan jeniusnya sedikit mempermainkan sebagian saham Hyuuga yang memang dikendalikan penuh oleh Uchiha.

Hiashi mempercayakan sebagian sahamnya kepada Uchiha karena, Hinata kelak akan menjadi bagian dari Uchiha.

Tidak memerlukan beberapa menit, saham Hyuuga langsung menurun tajam dan Hiashi segera mendengar kabar itu. Hiashi segera menghubungi perusahaan inti Uchiha dan menanyakan hal yang sebenarnya kenapa dapat terjadi hal itu.

Dengan santainya Itachi menjawab, dia melakukannya demi Sasuke dan menceritakan semua tentang Hinata yang terpikat pada pria lain, selain Sasuke. Jika memang Hiashi ingin menyelamatkan Hyuuga, maka dia harus meminta Hinata untuk terus berada di sisi Sasuke. Atau Hiashi dan seluruh penghuni Hyuuga, termasuk Hinata akan menjadi miskin.

Hiashi yang memang sudah berumur, tentu saja sedikit meradang mendengar penuturan Itachi. Ini salahnya telah mempercayakan Uchiha sebagai penopang Hyuuga. Dirinya telah bertindak bodoh.

Saat itu Hiashi hanya berpikir untuk Hinata. Jika Hinata telah menikah dengan Sasuke, putrinya tetap akan memiliki saham Hyuuga, meski berada di bawah naungan Uchiha dan kini semua perkiraannya meleset.

Mendadak Hiashi dapat merasakan nyeri dibagian jantungnya. Pandangannya semakin buram dan dirinya pingsan, hal terakhir yang didengarnya adalah teriakan dari sekretarisnya.

.

.

.

Naruto berbaring tidak nyaman. Sudah setengah jam lamanya dia hanya memutar-mutar badannya. Kadang ke kanan, kadang ke kiri. Pikirannya terus melayang-layang memikirkan Hinata.

'Bagaimana Keadaan Hinata. Kenapa dia belum memberi kabar sama sekali?'

Naruto benar-benar gelisah. Sungguh rasanya aneh.

Ingin rasanya dia datang ke rumah Hinata, tapi waktu sudah menunjukkan pukul 10.25 malam. Tidak baik bertamu di jam seperti ini.

Tetapi dia benar-benar khawatir dengan Hinata. Bagaimana keadaan Ayahnya juga?

Semuanya terus terbayang-bayang dalam pikiran Naruto.

Pesan yang dia kirimkan kepada Hinata sejak 4 jam lalu masih belum dibalas oleh Hinata.

"Arghh.." Naruto mengubah posisinya menjadi duduk dan menjambak rambut kuningnya frustasi.

*cie Naruto galau nih*

Naruto kembali mengecek ponselnya, berharap Hinata sudah membalas pesannya. Seharusnya Naruto tau itu hanya pengalihan saja. Dia sudah memasang nada dering jika ada pesan masuk, tidak mungkin ponselnya tidak akan berbunyi jika ada pesan masuk.

"Hahhhh.." Lagi-lagi Naruto menghela nafas panjang.

"Kenapa Hinata belum membalas pesanku?" Naruto terlihat lesu.

One Message Received .. One..

Naruto segera mengambil ponselnya dan melihat pesan masuk. Senyum terpantri di wajahnya. Pesan yang di tunggu-tunggu Naruto akhirnya masuk.

From : Hinata

Subject : -

Maaf Naruto-Kun.. Aku baru pulang.. Otousan sudah membaik, Arigatou :)

Ah.. Sudah malam, Oyasumi Naruto-Kun. Lain waktu kita bertemu, ada yang ingin aku bicarakan. :)

Naruto akan tidur nyenyak malam ini begitu melihat pesan dari Hinata. Tanpa dia sadari sesuatu yang berat akan dia hadapi. Ini mengenai hubungannya dengan Hinata.

.

.

.

You're The closest heaven that I'll ever be..

(Kamu adalah surga terdekat yang pernah aku bisa capai..)

'Cause I know,

(Karena Aku tau,)

You're an Angel disguised..

(Kamu adalah Malaikat yang sedang menyamar..)

.

.

.

Tbc

...

Saya senang dengan responnya, meski ada yang flame, tapi itu kritik dan saran. Terima Kasih.. Tapi ngomong-ngomong siapa tuh sub unit AS?

Dalam kisah ini pairingnya adalah NaruHina.. Aku uda buat sepenuh hati dengan tidak terlalu mempercepat alur yang ada, memanfaatkan pihak ke 3 (Sasuke) dalam penempatan scene yang turut mendominasi. Biar jelas aja sih gunanya.

Aku buat fict ini terinspirasi Romeo&Juliet, Jack&Rose (Titanic).

Heppy endang ga yaa ? *sok rahasia*

Tenang ini ga banyak kok chapternya.. So ikutin terus.. *wink wink wink*

Oh iya,, saya mau mengucapkan terima kasih kepada salah satu guest yang review tentang spesifik pairing.

Jujur aja, saya gak ngerti.. *maklum gaptek :')*

Tapi, sekarang saya jadi mengerti.. Makasih sangat ya :*, karena guest jadi ga tau namanya.

Akhir kata Terima kasih banyak..

Special thanks for :

Sadness Angel, Vicestering, , uzumakimahendra4, Yuka Namikaze, all Guest, Mr. Xavier, Yuki, Kensuchan, , Dark naruto, n, and all silent reader, for fave and follow.