Chapter 2
CAST:
Cho Kyuhyun
Choi Siwon
Others
Pairing: Wonkyu,
Genre: Friendship, Romance maybe, BL
Disclaimer: Seperti umumnya sebuah Fanfict, semua nama yang disebut hanya pinjaman semata (meski pengennya jadi nyata), karena sejatinya nama-nama tersebut memiliki cerita kehidupan sendiri. Dan mereka milik Tuhan, mereka sendiri dan keluarga mereka.
Satu lagi Fanfict amatir yang lahir dari seorang newbie, mohon dimaklum. Tidak suka, tidak perlu mencoba membacanya. Kritik seperti apapun diterima, asal disampaikan dengan bahasa yang nyaman bagi semua. Dan maaf untuk semua Typo(s)
HEAVENLY FOREST
Ada yang pernah nonton J-Movie Heavenly Forest? FF ini terinspirasi dari sana, tapi tidak persis sama. Saya mengambil garis besar cerita tapi dengan beberapa (banyak) perubahan dan tentu dengan Wonkyu didalamnya, so...enjoy
Kyuhyun menghela napas panjang beberapa kali, kamera polaroid dibiarkan tergeletak disamping kursinya. Dia menaikan kakinya kekursi lalu menekuk lutut didepan dada. Sudah dua jam dia disana, dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengusir kebosanan.
"Cho Kyuhyun-ssi." Sebuah suara terdengar dari arah samping.
Kyuhyun mendongak dan melihat seorang gadis tinggi dengan jeans ketat dan blouse berwarna tousca.
Kyuhyun mengangguk sekilas, membiarkan gadis itu mengambil tempat disisi kirinya, terhalang tiga kursi kosong.
" Kulihat kau selalu duduk disini saat klub olahraga berlatih, apa kau sedang menunggu Siwon-ssi?"
Kyuhyun menoleh kearah Lee Hyori, simbol sosialita Yeonggi University. "Ani.."
Lee Hyori mengamati raut Kyuhyun lekat, gadis itu selalu merasa penasaran dengan tampilan fisik Kyuhyun. Apa benar Kyuhyun sudah berumur delapan belas tahun? Wajah serta perawakannya tidak mencerminkan usianya. Terlebih pakaian yang dikenakan Kyuhyun, selalu longgar seolah menelan badan mungilnya.
Merasa diperhatikan begitu lekat, Kyuhyun beringsut dan balik menatap Hyori dengan tatapan tidak bersahabat membuat gadis itu tertawa hambar.
"Kau sudah lama mengenal Choi Siwon?"
Kyuhyun kembali menggeleng, dia tidak berminat untuk mengobrol dengan gadis yang selalu menjadi topik pembicaraan dikampusnya.
Hyori menaikan satu alisnya melihat tingkah Kyuhyun. "Kalian terlihat akrab, apa kau yang selalu menempel padanya?"
Kyuhyun mengalihkan pandangannya ket tengah lapangan, para anggota klub sepertinya tengah bersiap meningalkan lapangan. Kyuhyun menggembungkan pipi dengan bibir mencebil.
Melihat respon kekanakan Kyuhyun, Hyori hanya mendengus. " Choi Siwon benar-benar orang yang baik. Berteman denganmu dan mengabaikan penilaian orang lain."
Kyuhyun menatap heran Hyori, tidak mengerti maksud perkataan gadis itu. Merasa kesal dia meraih polaroidnya dan pergi meninggalkan gadis itu dengan kaki menghentak.
"Kami tidak berteman." Ucap Kyuhyun saat melewati gadis itu.
Hyori hanya menatap kepergian Kyuhyun, sosok mungil yang membuatnya tidak yakin kalo Kyuhyun benar-benar telah berusia 18 tahun
Kyuhyun berjalan disenpanjang koridor kampus yang mulai sepi, kelas terakhir sudah berakhir satu jam lalu dan pintu-pintu kelas sudah mulai tertutup. Biasanya Kyuhyun akan berjalan pulang bersama Siwon dan berpisah di halte bis depan kampus mereka. Meskipun Siwon ada jadwal klub Kyuhyun akan menunggu. Namun kali ini Kyuhyun bertekad berjalan pulang sendiri, moodnya memburuk terlebih setelah berbicara dengan Lee Hyori. Entahlah, Kyuhyun merasa tidak nyaman dengan gadis sosialita kampus itu.
"Kyu...Cho Kyuhyun."
Kyuhyun menghentikan langkahnya, ragu-ragu dia menoleh kebelakang ketika mengakap suara yang dikenalnya.
"Hei, kenapa kau tidak menungguku?" Siwon terengah setelah berlari menyusul Kyuhyun.
Kyuhyun mencebil, kepalanya menunduk namun ekor matanya melirik Siwon yang kini berdiri disampingnya.
"Kukira kau masih ada kegiatan lain.." Lirih Kyuhyun.
Siwon mengerutkan dahi, heran dengan sikap Kyuhyun yang tidak biasa. "Ring donuts-mu habis?" Siwon memiringkan kepalanya, berusaha melihat ekspresi Kyuhyun yang tengah menekuk wajahnya.
Kyuhyun menggeleng.
"Lalu kenapa kau terlihat murung?"
"Polaroid film-ku habis, aku jadi tidak bisa memotret."
Siwon terkekeh, dia melingakarkan lengannya kepundak kurus Kyuhyun. Mereka mulai berjalan. "Apa yang kukatakan tentang berhemat hmm? Kita tidak menggunakan kamera digital yang bisa mengambil gambar sebanyak yang kita mau lalu menghapusnya. Kita hanya akan memotret hal-hal yang benar-benar layak untuk kita potret." Siwon mangamati sisi wajah Kyuhyun, terkekeh pelan ketika melihat Kyuhyun mulai cemberut. Satu hal lagi yang dicatat Siwon tentang Kyuhyun selain fisik mungil dan sifatnya. Kyuhyun sangat ekspresif, mimik wajahnya bisa berubah sesuai isi hatinya.
"Kulihat tadi kau bicara dengan Hyori di kursi penonton?" Tanya Siwon, dia tadi memang melihat Kyuhyun berbicara dengan Hyori.
Kyuhyun mengangguk. "Dia bertanya tentangmu."
Wajah Siwon berbinar, dia berusaha untuk menahan diri agar tidak memberondong Kyuhyun dengan pertanyaan. Dia melonggarkan tenggorokannya sebelum bicara. "Lalu kau jawab apa?"
"Aku tidak tahu terlalu banyak tentangmu, bahkan nomor teleponmu saja aku tidak tahu."
"Kau terdengar seperti merayuku."
"Mwo?" Kyuhyun memandang Siwon sengit, membuat Siwon terkekeh. "Kau tidak terlihat seperti gadis seksi yang pantas dirayu." Kyuhyun melepaskan lengan Siwon dari pundaknya, mempercepat langkahnya dengan kaki yang menghentak.
Siwon tertawa, lalu mengikuti kecepatan langkah Kyuhyun. "Lalu apa pendapatmu tentangnya?"
Kyuhyun kembali melambatkan langkahnya, senyuman mulai mengembang dibibirnya. Dia berdiri didepan Siwon, membuat pemuda itu terkejut dengan perubahan ekspresi Kyuhyun yang tiba-tiba.
"Dia layak untuk kau perjuangkan cintanya Siwon-ssi. "Cengir Kyuhyun.
Seolah tertular, Siwon mengembangkan senyum lebar menghasilkan lekukan indah dikedua pipinya yang tidak luput dari perhatian Kyuhyun.
Klik
Kyuhyun berhasil mengabadikan moment itu sebelum akhirnya berlari dengan kaki menjinjit, membuat rambut hitamnya bergerak-gerak.
"Yah...kau berbohong kepadaku tentang polaroid fillm itu Cho Kyuhyun." Teriak Siwon.
WONKYU
EVERADIT
Siwon melangkah cepat, merapatkan mantel yang dipakainya, menghalau udara dingin awal musim gugur dengan hujan yang tidak kunjung berhenti sejak tengah hari. Mengenyampingkan genangan air yang kadang menenggelamkan sepatunya, pemuda itu mengayunkan kaki panjangnya. Dia ingin segera sampai di flat dan menuntaskan sesuatu yang mendesaknya.
Tangan kirinya terselip diantara kantong mantel, membuat gerakan menggaruk. Sungguh rasa gatal, panas dan sedikit perih kini dirasakannya. Dia sudah berusaha menahan untuk tidak menggaruknya sepanjang pertemuan klub yang berujung di sebuah tempat karoke bersama gadis-gadis dari klub cheer dengan Lee Hyori yang terlihat mempesona.
Siwon bernapas lega ketika kakinya mulai menapaki undakan menuju teras depan ruang muka flatnya, menutup payungnya cepat sebelum membuka pintu kaca. Tangannya terhenti ketika hendak menyentuh handle pintu, matanya menangkap sosok yang bergelung memeluk lutut. Siwon mengamati sosok itu, terlalu bersih untuk ukuran gelandangan. Mata siwon membulat ketika mengenali tas ransel dan sepatu yang dikenakan sosok itu.
"Cho Kyuhyun?" Siwon membungkukkan badan, berusaha meneliti wajah yang diselipkan diantara lipatan lutut. Siwon memberanikan menggoyang pundak kurus sosok itu.
Sosok itu mulai bergerak, mengangkat kepala berusaha mengenali wajah yang ada didepannya kini. Senyumnya mengembang lebar..
"Choi Siwon-ssi ahirnya kau pulang.." Pekiknya ceria.
Siwon mengamati sosok yang ternyata Cho Kyuhyun. Celana longgar yang dipadukan mantel bulu, lagi-lagi pemuda mungil itu tenggelam dengan bajunya sendiri. Tas ransel yang tergeletak dilantai, Siwon menatap Kyuhyun dengan tatapan penuh tanda tanya ketika dilihatnya sebuah koper tak jauh dari ransel Kyuhyun.
"Aku lari dari rumah, aku bertengkar dengan appa." Rengut Kyuhyun, menjawab ekspresi penuh tanya dari Siwon.
Siwon hanya melongo, sungguh kondisi Kyuhyun tampak menyedihkan, terlebih dengan mantel yang terlihat basah.
"Aku tidak tahu harus kemana, hanya tempat ini yang kuingat." Kyuhyun menundukan wajahnya."Siwon-ssi, aku..."
Siwon menarik lengan Kyuhyun sebelum pemuda mungil itu menyelesaikan kalimatnya. Kyuhyun terkaget namun senyuman lebar kini menghiasi wajahnya.
.
.
.
.
" Keringkan badanmu dan gantilah baju dikamar mandi."
Siwon melemparkan handuk ke wajah Kyuhyun, yang dibalas seringai lebar.
Sepeninggal Kyuhyun, Siwon menatap nanar koper dan ransel Kyuhyun. Semuanya tampak basah kecuali jika lapisan kedap air dari kedua benda itu benar-benar bekerja untuk melindungi barang yang ada didalamnya.
Siwon tidak bisa berpikir banyak ketika melihat kondisi Kyuhyun. Sudah berapa lama anak itu berada disana dalam kondisi basah kuyup. Demi Tuhan ini sudah lebih dari jam sepuluh malam, dan hujan seolah memperburuk semuanya. Maka keputusannya untuk membawa Kyuhyun masuk ke flatnya dalah keputusan yang dirasa bijaksana. Dan sepanjang hidupnya baru kali ini dia membawa seseorang ke area pribadinya. Bahkan ketika dia masih tinggal di rumah orang tuanya, Siwon tidak pernah mengajak salahsatu temannya untuk datang ke rumah. Oh bahkan Siwon tidak ingat siapa orang terakhir yang dia anggap sebagai teman.
Siwon membelalakan matanya, benda yang berada dikamar mandi membuatnya diterpa perasaan panik. Kyuhyun ada didalam, dan bukan tidak mungkin Kyuhyun akan menemukan benda itu.
Siwon mengacak rambutnya, dan disaat seperti itu rasa gatal kembali menderanya.
"Aarggghh..."
Bahkan kini Siwon sudah tidak mampu menahannya. Rasa gatalnya sudah tidak mampu dia tahan. Dia segera menyingkap kemeja yang dikenakannya, melepas plester yang seharian menutupi scar kemerahan yang kini tampak makin memerah. Kelembaban dari plester membuat scar itu terlihat lebih merah dan semakin gatal.
Siwon menggarukan kuku-kukunya dipermukaan scar memerah itu, berusaha menghilangkan rasa gatalnya. Dia tidak peduli jika scar itu makin memerah.
Ceklek
Siwon menoleh ke asal suara pintu yang terbuka. Disana, tepat didepan pintu kamar mandi yang terbuka, Kyuhyun berdiri mematung. Kyuhyun menatap Siwon yang terlihat sibuk menggaruk bagian perutnya.
Siwon dengan panik berusaha menurunkan kemeja, menyembunyikan scar yang selama ini mati-matian disembunyikannya.
Kyuhyun tidak mempedulikan reaksi panik Siwon, dia justru mendekati Siwon dan menaikan kemeja Siwon. Matanya terbelalak melihat scar yang memerah.
"Siwon-ssi?"
Siwon menepis tangan Kyuhyun, "kau tidak perlu tahu." Ketus Siwon
"Apa terasa sakit?" Kyuhyun menengadahkan wajahnya, berusaha menatap wajah Siwon yang jauh lebih tinggi darinya.
"Sedikit, tapi sangat gatal, dan itu sangat memalukan."
Meski diawal Siwon merasa marah karena rahasia dalam tubuhnya kini diketahui orang lain, tapi entah kenapa Siwon justru mulai menjelaskannya pada Kyuhyun.
"Neurodermatitis, semua dokter kulit seolah menyerah mengobati penyakit kulitku. Dari kecil sampai sekarang tidak pernah benar-benar sembuh, jikapun ada yang bisa mengobati itu hanya sedikit mengurangi rasa gatalnya."
Kyuhyun mengerjapkan matanya, Siwon yang dikenalnya memiliki rahasia yang membuat pemuda itu merasa malu? Dibalik tubuh tegap dan pesona fisik yang sering dibicarakan banyak orang dikampusnya, Siwon menyembunyikan sesuatu yang menurutnya memalukan? Sungguh, Kyuhyun sangat sulit untuk mempercayainya.
"Lalu bagaiman cara mengobatinya?" Kyuhyun meneliti scar diperut Siwon, ujung jarinya menyentuh permukaan memerah itu.
Siwon tidak percaya tentang apa yang dilakukan Kyuhyun. Scar yang berusaha ditutupinya dari siapapun, bahkan ibunya sudah berhenti untuk menyentuh scar yang dimiliki Siwon, tapi kini Kyuhyun justru menyentuhnya. Dan semuanya terasa aneh, karena Siwon merasa tidak keberatan atau bahkan malu. Rasa malunya seolah menguap begitu saja.
"Kau lihat kemasan cepuk dikamarku?"
Kyuhyun mengangguk.
"Itu krim satu-satunya yang bisa mengurangi rasa gatal sementara."
Kyuhyun kembali mengangguk, ujung jarinya masih menelusuri scar memerah, mengusapnya lembut.
"Kyuhyun-ah..."
Kyuhyun menatap tidak percaya ketika Siwon memanggil dengan tidak formal kepadanya, ada perasaan hangat yang perlahan menjalar, menghasilkan senyuman tipis.
"A-Apa kau selama ini tidak mencium bau yang aneh? M-maksudku sesuatu yang menyengat? Seperti bau kimia yang busuk?" Siwon menatap Kyuhyun yang kini masih mengerjapkan matanya. Fakta tentang Siwon yang mendadak diketahuinya membuat Kyuhyun tidak mampu berpikir cepat.
"Kau pasti selama ini menahan diri untuk tidak muntah ketika menciumnya. Krim itu, sangat bau bahkan aku kadang tidak kuat untuk mencium baunya. Aku tahu orang disekitarku akan terganggu dengan bau dari tubuhku itu, mereka akan menciumnya dan segera berkomentar buruk tentang itu. Meskipun mereka tidak pernah mengetahui kalau bau itu berasal dari tubuhku, namun aku cukup tau diri untuk tidak dekat-dekat dengan orang lain. Sedapat mungkin aku berusaha menghindar dari keramaian meskipun itu tidak selalu berhasil. Andai saja, ada obat yang tidak sebau itu mungkin akan lebih baik dan aku.."
Siwon menghentikan ucapannya ketika mendapati Kyuhyun kini sibuk membongkar isi kopernya. Isi koper yang sepertinya tidak sempat disusun dengan rapi, dan makin berantakan ketika Kyuhyun mengobrak-abrik isinya.
Kyuhun tersenyum lebar ketika tangannya menemukan benda yang dicarinya.
"Ini dia..." serunya.
Siwon mengamati benda yang dipegang Kyuhyun "Itu..bedak bayi?" Siwon tidak bisa menyembunyikan keheranannya.
Kyuhyun mengangguk mantap, dia mulai membuka tutup kemasan bedak bayi berwarna pink ditangannya, menaburkan serbuk putih dengan aroma harum khas bayi dan tanpa diduga Kyuhyun menaburkan bedak itu tepat di scar Siwon. Mengusapkannya dengan lembut.
Siwon awalnya terkejut dengan tindakan Kyuhyun, terlebih kini Kyuhun mengelus scar diperutnya. Namun sebuah perasaan nyaman kini dirasakan Siwon, rasa gatal yang sejak tadi menyiksanya kini seolah hilang digantikan rasa dingin dan halus. Terutama ketika telapak tangan Kyuhyun mengelusnya lembut, Siwon baru menyadari bahwa tangan Kyuhyun beda dengan tangan pria seusianya. Tangan kyuhyun mungil sesuai tubuhnya dengan telapak yang halus.
"Ini penghilang gatal dan masalah kulit lain yang kualami. Aku sudah menggunakannya sejak bayi atau mungkin sejak lahir. Appa mengatakan kalau bedak ini dulu dibeli eomma saat aku belum lahir, bahkan ketika eomma meninggal, appa masih terus menggunakan merek dan aroma yang sama. Kata appa aroma bedak ini akan mengingatkannya akan eomma, aroma yang lembut." Kyuhyun menaburkan kembali bedak keatas scar Siwon. "Sayang aku tidak pernah tahu aromanya seperti apa." Kyuhyun tersenyum samar.
Siwon menatap Kyuhyun seoalah tidak percaya.
"Aku tidak pernah bisa mencium wangi ataupun bau, syaraf penciumanku tidak pernah berkembang. Bagiku semuanya sama."
Siwon menangkap senyum Kyuhyun, senyum lebar namun menyiratkan kepedihan disana.
"Jadi Siwon-ssi, tidak peduli kau mengatakan seberapa baunya krim yang kau gunakan aku tidak pernah bisa menciumnya. Tapi meskipun aku bisa menciumnya kurasa itu tidak masalah, karena kesediaanmu untuk menjadi temanku, itu jauh lebih berarti daripada bau tubuh seseorang."
Kyuhyun menatap Siwon dengan senyuman. Sebuah senyuman yang disadari Siwon sebagai senyuman tulus. Siwon membalas senyuman Kyuhyun dengan sama tulusnya. Sungguh, senyuman tulus yang selama ini seolah dilupakan Siwon.
Untuk beberapa waktu mereka masih bertatapan dengan senyuman tulus yang terpatri.
"Bagaimana? Apa gatalnya berkurang?" Tanya Kyuhyun kemudian.
Siwon terhenyak, seolah terlupa dengan masalahnya tentang rasa gatal. Dan memang rasa gatal yang sejak tadi menyiksanya kini hilang berganti rasa dingin. Siwon tersenyum lebar..
"Berhasil, bedak ini bekerja, gatalnya hilang."
Kyuhyun meloncat girang dan bertepuk tangan. "Eommaku hebat, gamsahamnida Eomma yang berada disurga." Kyuhyun menangkupkan tangannya di depan dada lalu membungkuk entah pada siapa.
Siwon yang melihat tingkah Kyuhyun tersenyum geli, begitulah pemuda polos bernama Cho Kyuhyun yang dikenal Siwon.
"Kyu..gomawo." Siwon menyentuh pundak Kyuhyun. "Meski sulit dipercaya, tapi kurasa bedak ini bisa jadi pengganti krim bau yang telah menemaniku hampir seumur hidup." Siwon menyentuh lokasi scar diperutnya yang kini berwarna putih karena bedak yang ditaburkan Kyuhyun. "Jika ini bekerja baik, aku tidak perlu repot menghindari banyak orang. Oh bahkan aku tidak perlu menahan rasa gatal karena tidak mau tercium bau dari krim yang kugunakan saat berkumpul di klub. Kau tahu, belakangan ini aku harus menutupi scar-ku ini dengan plester agar baunya tidak tercium keluar? Namun hasilnya rasa gatal akan makin menyiksa. Kurasa aku bisa berdekatan dengan orang lain tanpa khawatir." Siwon tersenyum lebar.
Kyuhyun membalas senyuman Siwon, ada rasa bahagia yang menyelinap ketika melihat Siwon tersenyum berbinar.
"Dan..gadis-gadis itu, maksudku mmmm Lee Hyori, aku bisa lebih percaya diri untuk mendekatinya bukan?" Siwon terkekeh bersamaan dengan pudarnya senyuman di bibir Kyuhyun.
.
.
.
.
Siwon menatap lekat Kyuhyun, takjub dengan bagaimana cara anak itu melahap ramen panas yang dibuat Siwon, ini sudah mangkuk ketiga dan Kyuhyun tidak memberi tanda kekenyangan. Pipi Kyuhyun menggembung, bibirnya mengerucut dan terlihat makin memerah karena panas. Kacamata yang dikenakannya berembun karena kepulan asap dari mangkuk ramen. Keduanya kini duduk berhadapan didepan meja kecil yang difungsikan sebagai meja makan.
Siwon menyodorkan segelas air putih ketika Kyuhyun terlihat tersedak. "Apa kau kelaparan? Ini sudah mangkuk ketiga"
Kyuhyun mengangguk, bersiap untuk menyuapkan ramen kemulutnya.
"Apa ramennya enak?"
Kyuhyun berhenti mengunyah. "Akhu..Tidhak tahu Makhanan enak itu bahgaimanaah" Jawab Kyuhyun dengan mulut penuh.
Siwon menyodorkan tisu agar Kyuhyun membersihkan bibirnya dari kuah ramen yang belepotan.
"Hilangnya kemampuan mencium bau, akan menurunkan kemampuan untuk mengecap rasa makanan. Jadi tidak masalah bagiku bagaimana rasa makanan, aku tidak bisa membedakannya dengan baik, kkkkk"
Siwon kembali terkaget, Kyuhyun benar-benar diluar perkiraannya selama ini.
"Tapi itu tidak masalah, yang penting aku tidak kelaparan." Kyuhyun tersenyum lebar.
Siwon menatap Kyuhyun nanar, sudah berbulan-bulan Siwon mengenal Kyuhyun. Namun baru kali ini dia seolah mengenal Kyuhyun. Selama ini Kyuhyun selalu beredar disekelilingnya, dan Siwon tidak pernah berusaha untuk lebih mengenal satu sama lain. Bahkan mereka tidak pernah bertukar nomor telepon.
"Ceritakan kepadaku apa yang terjadi hmmm?" tanya Siwon, beberapa fakta mengagetkan tentang Kyuhyun membuat Siwon ingin lebih tahu tentangnya. "Kau lari dari rumah, dan bagaimana caranya kau bisa sampai disini. Maksudku kita tidak pernah bertukar alamat rumah." Ada perasaan tidak enak yang menyergap Siwon ketika mengatakannya, dia merasa menjadi jahat.
Kyuhyun meneguk minumnya lalu menepuk-nepuk perutnya yang terlihat membuncit. "Aku bertengkar dengan appa,mmmm...kapan-kapan kuceritakan alasannya. Dan tentang alamatmu, aku pernah melihatnya dari kartu mahasiswamu., itupun tidak sengaja" Kyuhyun memainkan ujung kaos kebesaran yang dipakainya. Kaos milik Siwon karena baju Kyuhyun yang disimpan didalam koper sedikit basah. Hanya kamera yang dibungkus kantong plastik yang luput dari basah.
Siwon masih menatap Kyuhyun dengan lekat, perasaan bersalah kini menghigapinya. Andai saja dia pulang lebih awal, mungkin Kyuhyun tidak akan menunggu lama diluar gedung flatnya. "kau bisa tinggal disini selama kau marah sama ayahmu. Itupun kalau kau tidak menemukan tempat tinggal lain."
Mata Kyuhyun membulat dibalik kacamatanya. "Jinjja? Yeaayyy..." Kyuhyun mengacungkan tinjunya keatas. Seperti biasa ekspresi Kyuhyun akan berubah dengan cepat, dan Siwon sudah terbiasa dengan itu.
Siwon hanya tersenyum. "Kyuhyun-ah..selagi kau disini aku ingin menunjukan sesuatu padamu."
Kyuhyun berbinar, seolah Siwon akan membagi rahasia besar padanya.
Siwon terkekeh, dia menunjuk kesalah satu pintu yang ada disebelah dapur. Kyuhyun mengikuti arah telunjuk Siwon dengan penuh tanya.
Siwon bangkit dan memberi isyarat pada Kyuhyun untuk mengikutinya.
"Whoaaaa...apa ini yang disebut kamar gelap?" pekik Kyuhyun.
Siwon mengangguk dan tersenyum lebar, sudah mengira Kyuhyun akan memekik girang.
Mereka berdua masuk kedalam ruangan kecil yang hanya diterangi bohlam berwarna merah. Kyuhyun memicingkan matanya, berusaha beradaptasi dengan penerang yang minimal. Berkali-kali tangannya meraba sekitar agar tidak terantuk sesuatu, meski tidak selalu berhasil. Dia menabrak lemari setinggi badannya dan membuat dia terhuyung, untung lengan kekar Siwon menahannya dengan segera.
"Apa kau kesulitan? Kita bisa keluar." Tawar Siwon, dia menatap Kyuhyun dengan penuh kehawatiran.
Kyuhyun menggeleng mantap.
Siwon membimbing Kyuhyun untuk menghadapi meja yang penuh perlatan. Bak-bak berisi cairan diletakan diatas meja panjang itu.
"Kita akan mencetak foto, kau tertarik?" Siwon mencubit kedua belah pipi Kyuhyun.
Kyuhyun mengerjap, terkejut dengan tindakan Siwon yang tiba-tiba. Dia kembali mengangguk dan tertawa riang.
Siwon mulai memberi instruksi kepada Kyuhyun untuk melakukan beberapa pekerjaan. Sesekali Kyuhyun memekik ceria ketika mengagumi bagaimana menakjubkannya proses cuci cetak foto. Dari mulai mengeluarkan rol film yang harus hati-hati, kemudian mulai mencuci negatif film lalu mencetak negatif film keatas kertas foto.
Kyuhyun mengikuti instruksi Siwon dengan teliti, meskipun beberapa kali Kyuhyun membuat kesalahan, namun Siwon dengan sabar membimbing Kyuhyun. Kyuhyun bahkan berteriak heboh ketika proses perendaman pada cairan kimia. Dia tidak berhenti tersenyum dan kadang bersenandung. Satu yang baru disadari Siwon, Kyuhyun memiliki suara yang cantik ketika bersenandung, bahkan ketika apa yang disenandungkan Kyuhyun hanya gumaman tidak jelas.
Kyuhyun bertepuk tangan ketika mereka selesai menggantung foto-foto itu di atas tali yang membentang ditengah ruangan. Kyuhyun tidak sabar menunggu kertas-kertas foto itu mengering dan memperlihatkan hasilnya.
"Siwon-ssi, sudah berapa banyak kau menghasilkan foto?"
"Entahlah, namun kurasa cukup banyak. Aku memegang kamera sejak umur dua belas tahun. Well, mungkin sudah ribuan foto."
"whoaaa..." kagum Kyuhyun. "Dan kau mencetak sendiri fotomu?"
Siwon mengangguk.
"mmm.. kau tidak tertarik memakain kamera digital? Bukankah itu lebih praktis? Dan hasilnya bagus, bisa di edit."
"Kurasa kamera analog lebih memberi kepuasan tersendiri. Kita akan lebih menghargai objek yang kita foto karena sekali kau memutuskan untuk memotretnya, kau tidak akan bisa menghapusnya. Bukankah itu suatu penghargaan buat objek?"
Kyuhyun mengangguk, rasa kagum kini terpancar dari tatapannya. Andaikan ruangan itu cukup terang, Siwon pasti akan melihat tatapan Kyuhyun yang penuh kekaguman padanya.
"hasil foto kamera analog tidak bisa diedit, jadi tidak ada manipulasi. Dan kau tidak akan bisa berbohong dengan hasil fotomu."
Kyuhyun mengacungkan dua jempol ke arah Siwon, membuat pemuda itu terkekeh. Siwon melipat tangannya didepan dada, dia berdiri dengan bersandar pada dinding dibelakangnya, mengamati gerak gerik Kyuhyun yang kini memutari ruangan. Melihat benda-benda yang ada dikamar itu dengan teliti. Dan ketika tangan Kyuhyun menarik sebuah kotak penyimpanan, Siwon terbelalak.
"Yah Cho Kyuhyun, jauhkan tanganmu dari kotak itu."
Kyuhyun kaget, dia segera menjauhkan tangannya dari kotak itu. Namun sekilas dia bisa melihat tumpukan hasil foto yang telah jadi tersusun disana. Karena penasaran Kyuhyun memutuskan menyentuh lembaran foto itu untuk dilihat. Namun sebelum matanya berhasil melihat hasil foto yang tercetak, tangan Siwon terlebih dahulu menariknya.
"Siwon-ssi, aku ingin melihatnya. Itu hasil-hasil fotomu bukan? Aku ingin melihatnya." Rengek Kyuhyun.
Siwon tidak menanggapinya, bahkan kini Siwon menarik Kyuhyun keluar ruangan gelap itu.
Kyuhuyun merengut dengan bibir mengerucut. "Apa itu foto rahasia?" Selidik Kyuhyun, kini dia mengekori langkah Siwon menuju kamar tidur setelah mematikan lampu ruang tengah. "Ahhh jangan-jangan itu foto Lee Hyori yang kau ambil diam-diam?" Kyuhyun menjetikkan jarinya. Kyuhyun merasakan tenggorokannya tercekat ketika selesai mengucapkan kalimatnya. Dia menunggu jawaban Siwon, lebih tepatnya sanggahan Siwon. Namun Siwon tetap tidak menjawab. Siwon kini menarik lengan Kyuhyun membuat Kyuhyun terjerembab keatas tempat tidur yang tidak terlalu besar.
Kyuhyun memekik, awalnya meronta ketika Siwon mengunci tubuh kecilnya dengan lengan kokoh Siwon.
"Berhenti bicara, tidurlah." Desis Siwon.
Kyuhyun terdiam, dia menggigit bibir bawahnya. Rasa hangat dan nyaman kini dirasakannya, pungunggunya bersentuhan dengan dada bidang Siwon membuatnya merasa aman dan terlindungi. Kyuhyun memejamkan matanya dengan rapat, mati-matian berusaha mengatur detak jantungnya yang entah kenapa tiba-tiba berdetak cepat. Kyuhyun meremat ujung bantal disisi kepalanya ketika irama halus dari nafas Siwon kini menerpa kulit lehernya.
"Si-Siwon-ssi..."
"Eummmm..."
"Bi-Bisakah kau lepaskan tanganmu? A-aku sesak."
Siwon mendengus, dia melepaskan lengannya dari tubuh kecil Kyuhyun. Siwon kini tidur telentang dengan Kyuhyun masih membelakanginya.
"Siwon-ssi, apa kau pernah terganggu dengan kehadiranku?"
Kyuhyun memberanikan diri untuk bertanya, pertanyaan yang selama ini menganggunya, terlebih dia masih memikirkan apa yang dikatakan Lee Hyori kepadanya.
"Mmm.."
"Ishh..jawablah." rengek Kyuhyun.
"Kau berisik Kyuhyun-ah." Jawab Siwon malas.
Kyuhyun mencebil, dia berbalik, memposisikan tidurnya jadi menghadap Siwon.
Tuk
Kyuhyun menyentuh pipi Siwon, tepat ditempat lesung pipinya.
Siwon menoleh sekilas."Asal kau tidak mengigitku aku tidak apa-apa."
Kyuhyun memukul lengan atas Siwon, dia kini berbalik lagi menjadi memunggungi Siwon.
Siwon tersenyum melihat tingkah Kyuhyun, dia mulai memejamkan mata. Mengabaikan Kyuhyun yang mulai menggerutu pelan, menggumamkan kata "pabbo" berkali-kali.
Hening
Kyuhyun menangkap dengkuran halus dan berirama dari sebelahnya. Kyuhyun menoleh dan melihat Siwon kini sudah terlelap.
Perlahan Kyuhyun memandangi wajah Siwon yang terlelap. Bentuk rahang tegas, hidung yang mencuat, bibir atas yang tipis dan bagian bawah yang tebal. Alis tebal dan mata yang terpejam, dan disana, ditempat dimana lekukan dipipi Siwon selalu terlihat, Kyuhyun tidak bisa melepas tatapannya dari sana.
"Terima kasih karena kau tidak menjauhiku Siwon-ssi, terimakasih karena kau tidak seperti yang lainnya yang memandangku aneh dan tidak layak untuk didekati. Terimakasih karena memberiku pengalaman yang tidak pernah kualami selama ini, dan terimakasih karena membuatku ingin menjadi tumbuh besar dan tinggi." Kyuhyun menggigit bibir bawahnya kembali, dia menyentuh dadanya dan merasakan detak jantungnya makin kuat dan cepat.
" Aku...aku berjanji akan tumbuh besar dan tinggi, aku janji. Aku ingin menjadi layak untuk didekatmu. Aku janji akan tumbuh menjadi mempesona sepertimu, dan aku janji suatu hari kau akan melihatku sebagai Cho Kyuhyun yang berbeda. Sekali saja, aku ingin kau melihatku dengan kekaguman."
Kyuhyun meremat kaosnya, menahan rasa sakit yang perlahan dirasakannya pada punggung dan beberapa bagian dari tubuhnya.
To be cont...
Chap iniiiii hanya scene sederhana, mudah2an sih bisa sedikit membuat ff ini berkembang dalam alur dan line storynya. dan seprti biasa, oneshoot adalah tantangan yang harus bisa saya taklukan agar bisa membuatnya, gak bertele-tele kayak gini. huhuhu
Apa kabar heavenly forest yang asli? Kalau yang pernah menontonnya pasti ingin menendang saya, iyakannn? Soalnya saya seenak jidat merubah banyak hal, mianhaeee... (sembah-sembah).
Pas posting yang awal, sbrnnya saya menulis nama2 yg ngasih review, tapiiiiiii antah kenapa pas d post pada g kesebut, untung saja Fiwonkyu0201 ngingetin, jadi akhirnya tanpa mengurangi rasa terima kasih saya memposting ulang chapter ini. Terima kasih atas review-nyaaaaaa, kalian hebatt.
Terimaksih juga buat yang memfollow+memfavoritkan ato hanya membaca sekalipun.
So, katakan sesuatu tentang FF ini di kolom review.
Sebarkan cinta wonkyu sejagad raya
EVERADIT
