Land Of Miracle

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pair: you-know-who? I guess, you have known.

Rate: M

Genre: Adventure and Romance

Warning: OOC, YAOI, AU, Magical world, typos, and many more.

Land Of Miracle

Terbangun dan mendapati dirimu tengah berada di dalam hutan yang gelap dan lembab. Dengan pohon-pohon yang tinggi menjulang. Mencekam. Bersama sulur-sulur aneh yang bergerak turun seolah menghampiri dan akan mencekikmu. Apa yang akan kau lakukan?

Berlari dan berteriak?

Tak ada yang mendengarmu, kawan.

Hanya lolongan serigala lapar yang mengganggu. Memacu adrenalin untuk memompa jantung lebih cepat. Hampir meledak.

Srak...!

Naruto menerobos belantara asing itu, terpaksa. Berlari memacu lututnya untuk tetap bertahan sekalipun luka gores telah memenuhi betisnya dan darah mengental di setiap sudut goresan-goresan merah itu. Ia harus lari, demi menyelamatkan hidupnya. Ia bisa saja tetap tinggal di tempat tadi, untuk kemudian menyerahkan diri pada kawanan serigala lapar yang menatapnya dengan liur menetes di sudut seringaian mereka. Sejenak Naruto berfikir, apakah serigala-serigala itu terkena rabies?

Setahunya, serigala tidak memakan manusia.

Itu jika serigala yang mengejarmu adalah serigala biasa dengan ukuran seperti anjing rumahan. Atau serigala berbulu abu-abu gelap. Ini sangat berbeda. Ia tak pernah membayangkan akan menjadi buruan kawanan serigala berbulu oranye – dan sempat Naruto lihat memiliki mata berwarna merah – apakah mereka semacam mutan?

Entahlah. Ini terlalu urgent untuk dipikirkan ketika seorang pemuda bodoh seperti Naruto berusaha untuk dapat terbebas dari gerombolan itu. Atau ia akan terkena rabies nanti. Dan yang paling buruk, menjadi makanan ringan mereka. Ingat betapa kecil dan mungilnya tubuh pemuda itu.

Naruto menembus sulur-sulur yang menjuntai dari dahan-dahan pohon yang terlalu besar untuk ia bayangkan sebelumnya. Menggerakkan tangannya menyingkirkan tanaman-tanaman itu agar tak menggores wajahnya yang mulus. Sembari tetap berlari, terkadang berhenti untuk mengambil pasokan udara yang tinggal beberapa cc di dalam paru-paru.

" Siapapun itu, tolong aku. Aku dikejar-kejar serigala rabies..!" teriaknya entah pada siapa. Membuat tenggorokannya kering dan serak.

" Akh..! Aku butuh air." Ucap Naruto seraya memegangi tenggorokannya.

Pemuda itu berhenti. Menyembunyikan dirinya pada akar pohon besar – yang menurutnya adalah pohon ek raksasa – dan terengah-engah. Naruto menatap sekeliling memastikan serigala-serigala itu sudah tak mengejarnya lagi. Akan sangat konyol jika ia tertangkap.

Tiba-tiba suasana menjadi hening. Kicau burung yang sedari tadi menemani pelariannya menghilang. Hanya napasnya dan rintihan sakit dari mulutnya yang masih terdengar menggema di dalam hutan gelap itu. Semua terasa seperti dikendalikan.

" Kau sudah mati, Uzumaki Naruto. Tapi kau belum menyadarinya..."

Suara itu menggaung di telinga Naruto. Membuatnya tercekat tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.

Mati?

Apa mungkin? Jika ia mati, seharusnya ia tak dapat berlari. Dan seharusnya serigala-serigala itu tak mengejarnya. Sejak kapan serigala dapat melihat arwah? Dan lagi, ia belum ingin mati!

" Siapa kau? Dimana aku?!" teriaknya pada suara itu.

" Jika kau ingin pulang dan hidup, kau harus mengikuti jalan cerita ini dan temukan jalan ceritamu sendiri."

Tak lama kemudian hanya kikikan singkat dari pemilik suara yang membuat Naruto ingin berteriak. Memaki.

" Siapa kau! Keluarkan aku dari hutan ini! Pengecut! Tunjukkan dirimu! Shit!" umpatnya.

Naruto menendang-nendang akar besar yang melindunginya. Meninju-ninju kulit pohon itu. Tak terasa air mata menetes pelan bersama isakan kecil yang lirih.

" Aku ingin pulang. Kumohon. Ini tempat apa?"

Isakan itu hanya dijawab lolongan serigala yang hanya berjarak beberapa puluh meter darinya. Setelah ia menolehkan kepala mendapati dirinya ditatap oleh kawanan serigala tadi.

" Shit...!"

Naruto kembali memacu kakinya. Menghindari kejaran hewan-hewan itu. Tak peduli kulit tangannya lecet. Seragam sekolah yang masih menempel di tubuhnya kini sedah koyak. Memperlihatkan sedikit kulit tan miliknya.

Bruk..!

" Aww..ittai..!" Naruto meringis saat kakinya menyandung akar besar di depannya.

Demi apapun itu. Dia sudah kehabisan napas. Sungguh, serigala-serigala itu terlihat sangat menyeramkan. Dan tatapan mereka seolah akan menerkamnya sedikit lagi.

" Tolong..!" teriaknya entah pada siapa. Berharap ada malaikat yang akan mengangkatnya dari tempat itu. Sesegera mungkin sebelum ia benar-benar menjadi santapan mereka.

Entah dari mana datangnya, Naruto seolah melihat cahaya terang berwarna kebiruan datang dari arah belakang tubuhnya. Cahaya itu melesat sangat cepat, melebihi apapun. Menghantam kawanan serigala itu. Membuat gerombolan mereka terpental jauh. Menghasilkan erangan keras dari mereka.

Naruto membalik tubuhnya patah-patah. Memastikan bahwa kali ini bukan serigala lagi, atau sejenisnya. Akan sangat repot jia ia dikepung. Tanpa senjata, tanpa pertahanan.

" Si-siapa disana?"

" Rupanya kau disini." Jawab sosok itu.

" Apa kau mengenalku?" Naruto menatap nanar sosok bertubuh besar yang berjalan mendekatinya. " Bisakah aku keluar dari hutan ini? Aku ingin pulang."

" Aku yang membawamu."

" Shit..! apa-apaan kau? Kau membawaku ke tempat ini?! Cepat bawa aku pulang!" Naruto bangkit dan menunjuk wajah orang itu.

Sosok itu terkekeh pelan. Ia menyeringai. " Sudah ku bilang, kau sudah mati."

" Aku belum mau mati! Aku masih muda! Aku belum mau mati!" teriak Naruto keras. Ia menjambak helaian pirangnya kasar seraya menjatuhkan lututnya ke atas tanah.

" Kau masih bisa kembali ke duniamu, tapi ada syaratnya."

Naruto mengangkat wajahnya dan menatap sosok itu intens. " Apa syaratnya?! Katakan."

" Kau harus menjalani cerita ini sampai akhir dan tentukan jalan ceritamu sendiri, Uzumaki Naruto. di akhir cerita ini, kau akan menemukan kotak Pandora yang akan mengabulkan satu permintaanmu."

" Apa-apan itu? Cerita apa? Siapa kau sebenarnya?"

Sosok tegap paruh baya itu melangkah melewati Naruto yang berdiri mengepalkan tangannya. " Aku, Rikudou Sennin..."

Naruto membeku. Bukankah Rikudou Sennin itu penulis buku yang selalu ia elu-elukan? Apa ini semacam jumpa fans? Tak seharusnya jumpa fans dilakukan ditengah belantara seperti ini.

Sosok itu meninggalkan Naruto yang masih membeku di tempatnya.

" Apa mungkin—" kalimat pemuda blonde itu menggantung.

" Jangan beritahu siapapun tentang asal-usulmu jika kau ingin menemukan kotak Pandora itu. Siapapun, atau kau terjebak di sini selamanya."

Naruto membalik tubuhnya dan menatap punggung lelaki itu. " Tu-tunggu! Dimana aku? Sebenarnya apa ini?! Jelaskan padaku."

" Oh ya, selamat datang di Land Of Miracle!" sosok itu merentangkan tangannya kemudian sedikit demi sedikit menghilang bersama pendar cahaya kebiruan. " Jika kau terdesak, gunakan tangan kananmu."

" Tu-tunggu! Hei!"

Naruto mendesah panjang saat sinar biru itu menghilang. Ia mengangkat tangan kanannya dan menatapnya tajam. Ada apa dengan tangan kanannya?

Apa mungkin ia masuk ke dalam dunia Land Of Miracle yang ia baca? Jika memang demikian, berarti hutan ini adalah hutan Gold Leaf. Hutan dengan pohon-pohon yang tinggi menjulang. Memiliki sulur yang dapat bergerak. Dan daun-daun berwarna emas dan perak. Dimana tak sembarangan orang bisa memasukinya. Jika memang benar maka—

Naruto mengangkat wajahnya. Betapa terkejutnya pemuda itu ketika tatapannya tertumbuk pada dedaunan yang berwarna emas dan perak. Sial! Kenapa ia tak menyadarinya sejak tadi.

—ini memang Land Of Miracle!

Jika ini adalah paket wisata, mungkin Naruto akan segera memanjat salah satu pohon itu dan mengambil sehelai daunnya. Untuk koleksi, mungkin. Tapi ini lain. Ia harus berjuang untuk dapat kembali. Berjuang ditengah dunia sihir, sedangkan ia tak memiliki kekuatan apapun.

Tunggu sampai tangan kananmu yang berbicara, Naruto!

Naruto hampir kembali duduk jika saja lolongan serigala-serigala itu tak kembali terdengar. Naruto menggeram keras. Ia sudah cukup lelah untuk berlari lagi. Apalagi berlomba dengan kewanan serigala lapar itu. Ini lelucon!

Sepersekian detik kemudian Naruto sudah melesat meninggalkan tempatnya berdiri. Bersama kawanan serigala yang entah mengapa terus menerus mengejarnya sejak tadi.

Tiba-tiba kakinya tersandung akar besar. Membuat tubuhnya terbanting keras di atas tanah. Naruto mengerang. Sepertinya kakinya terkilir atau apalah namanya itu. Ia tak mungkin bisa berjalan lagi. Pandangannya mengabur. Kepalanya terasa berat bersama rasa nyeri yang menjalar dari kaki hingga sekujur tubuhnya. Kawanan serigala itu sudah ada di hadapannya. Menatapnya dengan tatapan penuh nafsu.

Cahaya kebiruan berpendar dari tangan kanannya yang terkulai lemah. " Se-sejak kapan ada cahaya biru keluar dari tangan kananku?" ucapnya tak percaya.

Teringat perkataan orang tua itu untuk menggunakan tangan kanannya, Naruto mengibaskannya. Berharap dapat mengusir mereka. Tapi tangannya terlalu lemah untuk dapat ia angkat. Ia butuh air, ia butuh istirahat.

" A-aku belum mau mati."

Blast...!

Cahayaq berwarna ungu gelap melesat, menghantam kawanan serigala itu. Naruto membalik tubuhnya mendapati sesosok tubuh tegap berjalan mendekati dirinya. Sosok itu bukan Rikudou Sennin.

Dalam tatapan nanar. Naruto dapat melihat sesosok tubuh tegap mendekatinya. Berjalan ringan membelah sulur-sulur yang menjuntai tanpa kesulitan. Ia dapat melihat sosok itu mengenakan pakaian semacam mantel panjang dengan lapisan—entah apa namanya—di bagian depan mantel hitam itu, membuatnya tampak berkilau terkena cahaya metahari yang samar. Semua terlihat samar. Pakaian aneh. Cahaya ungu gelap menguar dari tubuh orang itu. Semua terasa amat aneh.

Dalam pandangan yang mulai mengabur, Naruto dapat melihat orang itu membungkuk dan membisikkan sesuatu padanya—

" Kau aman."

Dan semua menggelap bersama tubuhnya yang ringan.

Pemuda itu melangkah ringan menembus hutan belantara yang lembab. Di dalam gendongannya tampak seorang pemuda berparas manis tengah terlelap—atau lebih tepatnya tak sadarkan diri—. Cahaya ungu gelap menguar sekelilingnya seolah menjadi tameng pelindung.

Hutan itu gelap dan lembab. Hanya ada pohon-pohon tinggi yang rimbun dan cahaya matahari yang semakin menipis seiring jalan. Meninggalkan bayangan samar. Sekeliling terlihat sulur-sulur yang bergerak menuruni dahan dan berhenti ketika pemuda itu melewatinya. Daun-daun berwarna keemasan dan terkadang berwarna perak terlihat semakin berkilau ketika pemuda tegap itu melewatinya. Seolah memberi salam dan menghormati tiap langkahnya.

Naruto masih berada dalam pelukan pemuda berparas tampan itu ketika ia dibawa masuk ke dalam sebuah bangunan kecil di tengah hutan. Bangunan yang terlihat amat bersih. Terasa sepi. Bangunan bercat putih gading dengan tanaman rambat di beberapa sisi. Memberi kesan sederhana namun elegan.

Pemuda yang menggendong Naruto kini telah memasuki kamarnya dan membaringkan tubuh Naruto di atas sebuah tempat tidur besar di tengah ruangan. Iris kelamnya meneliti tiap lekuk wajah manis Naruto yang tengah tak sadarkan diri. Kulit putih pemuda itu tampak bercahaya karena aura berwarna ungu gelap yang sejak tadi masih menguar dari tubuhnya.

" Maaf, mengganggu anda. Siapa yang anda bawa?" terdengar suara berat namun ramah menginterupsi pemuda itu.

Ia menoleh, mendapati dirinya ditatap lembut oleh orang yang menginterupsinya. " Aku menemukannya di hutan. Sepertinya dia dikejar kawanan serigala." Ucapnya pelan.

" Apa perlu saya periksa? Sepertinya dia terluka." Ucap lelaki berambut keperakan itu.

" Tidak perlu, aku bisa mengobatinya sendiri. Siapkan keperluan untuknya."

" Apa dia seorang perempuan?"

" Entahlah, Kakashi. Aku tak tahu. Jika ia perempuan—" kalimat pemuda itu menggantung, ia mengamati tubuh Naruto singkat. " Sepertinya ia laki-laki. Kau tahu maksudku kan? Dan dia cukup cantik untuk ukuran laki-laki." Pemuda itu tersenyum, atau menyeringai?

Kakashi tersenyum. " Baiklah. Akan saya siapkan. Tapi sepertinya tak ada baju yang cukup kecil untuk ukuran tubuhnya."

" Siapkan milikku."

" Tapi, tak ada yang boleh memakai pakaian seorang Pangeran. Dan aura tubuh anda akan bercampur dengan aura pemuda ini."

" Kau tenang saja, sepertinya dia bukan dari kalangan penyihir setinggi kita. Aku hanya dapat melihat sedikit kekuatan di tangan kanannya. Tak akan ada masalah." Ucap pemuda tampan itu sembari tersenyum tanpa mengalihkan tatapannya dari Naruto.

" Tapi, Pangeran—"

" Tak ada yang perlu kau khawatirkan."

Kakashi menghela napas panjang atas kekeraskepalaan Pangeran yang diasuhnya sejak bayi itu. " Baiklah."

Ruangan itu hanya tertinggal Naruto dan pemuda yang dipanggil Pangeran oleh Kakashi.

" Manis."

Dan seberkas cahaya ungu gelap menyelubungi tubuh Naruto. Membuat sekujur tubuhnya berpendar. Biru terang bercampur ungu gelap. Tergabung. Berbaur.

" Engh..." Naruto menggeliat dan membuka matanya perlahan. Masih suram.

" Kau sudah bangun?"

Naruto membuka matanya lebar begitu mendengar suara itu. Menolehkan kepalanya takut-takut dan menadapati dirinya ditatap tajam oleh sepasang iris kelam. Sejenak Naruto terpana.

Pemuda dengan kulit tubuh yang seputih porselen dan cahaya berpendar itu tersenyum tipis padanya. Naruto bersemu.

" Ini dimana? Kau siapa?"

" Kau ada di dalam pondok peristirahatanku." Jawab pemuda itu singkat.

" Kau siapa?"

" Kau tak mengenalku?"

" Kau siapa?" Tanya Naruto lagi. Kali ini plus nada curiga di dalamnya.

" Aku Uchiha Sasuke."

" U-Uchiha Sasuke? Apa kau Pangeran Uchiha Sasuke?"

Sasuke tersenyum tipis, matanya sedikir menyipit. Tampan.

" Begitulah."

'ini keren! Aku bertemu dengan Pangeran Sasuke!' teriak Naruto dalam hati. Girang. Kumat gilanya.

" Kau laki-laki atau perempuan?"

Dahi Naruto berkedut. Bisa-bisanya dia yang lelaki tulen ini diragukan? Apa kata dunia?

" Aku laki-laki tulen, Pangeran!" ucap Naruto seraya melipat lengannya. Bibirnya mengerucut. Menambah kesan manis, di mata Sang Pangeran.

" Maaf. Kukira kau seorang perempuan. Tubuhmu terlalu ringan untuk ukuran laki-laki and kau. Ehm, terlalu manis. Mungkin." Ucapnya tanpa menatap wajah Naruto.

Dahi Naruto kembali berkedut. Apa? Manis? Dunia sudah gila! Dia tampan!

" Apa kau bilang? Aku ini tampan!"

" Terserah kau saja. Apa yang kau lakukan di tengah Golden Leaf? Itu hutan kerajaan." Ucap Sasuke penuh intimidasi.

Oke, sekarang Naruto bingung tak tahu harus menjawab apa. Ia tak mungkin mengatakan bahwa ia datang dari era lain. Bisa-bisa ia tak pernah kembali ke dunianya. Yang lebih parah lagi, ia tak menemukan kotak Pandora itu. Mengerikan.

" A-aku tersesat."

" Mana mungkin? Selain penghuni istana, tak ada yang bisa masuk ke Golden Leaf. Bahkan sekeliling hutan dijaga oleh para Guard. Siapa kau?"

Naruto menghela napas panjang. Ayolah ia harus melakukan sesuatu, atau ia tak akan pernah pulang. " Aku Uzumaki Naruto. aku sedang mencari sesuatu."

" Mencari apa?"

" Maaf, aku tak bisa mengatakannya." Naruto menunduk, ia memainkan jari telunjuknya. Tak berani menatap mata Sasuke yang mengintimidasi sekaligus menginterogasinya secara bersamaan. " Yang jelas sesuatu itu sangat penting bagi hidupku."

" Terserah kau saja. Aku sudah mengobati lukamu." Sasuke menunjuk pergelangan kaki Naruto dengan dagunya. Kemudia pemuda itu berjalan mendekati Naruto yang terduduk di pinggir tempat tidur.

" Terima kasih."

" Hn.."

Naruto menaikkan sebelah alisnya. Mencari tahu apa maksud frasa yang terlontar dari mulut Pangeran itu.

Brukk..!

" Aww..! Ittai..! hei-hei apa yang kau lakukan?! Hmmph..!" Naruto nyaris saja berteriak jika saja bibirnya tak lebih dulu dibungkam.

Naruto mengerang dalam napasnya yang sesak.

Sasuke yang saat ini sedang menindih Naruto mengangkat kepalanya. " Jangan banyak bergerak. Kakimu masih belum pulih."

Naruto merengut. Bukan itu. Masalahnya kenapa Sasuke menindihnya, posisinya sangat tak menguntungkan.

" Apa yang kau lakukan, hah!?" Naruto terengah-engah. Wajahnya memerah.

" Menandaimu dengan auraku. Agar serigala-serigala pemberontak itu tak mengejarmu lagi." Ucapnya singkat kemudian secara perlahan menurunkan kepalannya di leher Naruto.

" TAPI KENAPA MENCIUMKU, HAH?!" teriak pemuda blonde itu. Sangat keras.

" Untuk meninggalkan auraku, dengan begitu, mereka tak akan berani mendekatimu. Aku Pangeran di kerajaan ini. Mereka tak akan berani mengganggu apapun yang memiliki bekas aura Sang Pangeran." Sasuke menghirup aroma tubuh Naruto yang membuatnya entah mengapa mabuk.

" Tapi—akh..!" Naruto tercekat saat merasakan gigitan di lehernya. " Kenapa kau menggigit leherku?! Kau bukan vampire! Hei, berhenti menghisap-hisap leherku! Mesum!"

Sasuke mangangkat wajahnya kemudian kembali meraup bibir Naruto. manakan bibir merah itu hingga tak dapat bernapas. Meninggalkan bengkak dan bekas gigitan Sasuke. Mau tak mau Naruto membalas gigitan Pangeran itu. Darah mereka tercampur.

Kali ini tangan Naruto mencengkeram mantel yang dikenakan Sasuke.

" Selesai." Ucap Sasuke singkat kemudian mengangkat wajahnya.

Perlahan Sasuke menggores telapak tangannya dan meneteskan darahnya di bekas gigitan di leher Naruto. darah itu berpendar ungu dan kemudian bercampur pendar biru.

" A-apa yang kau lakukan?!" Naruto bertanya sembari menyembunyikan rona merah di wajahnya, napasnya terengah dan pakaian yang ia kenakan semakin koyak karena perlawanannya tadi.

" Sudah ku bilang, aku menandaimu. Dengan tertinggalnya auraku di tubuhku, kau akan aman. Paling tidak dari serigala-serigala itu. Tapi tidak bagi manusia."

" Tapi bukan begini caranya, Pangeran mesum!"

" Memang ini cara bagi penyihir kerajaan kami. Dan jangan sebut aku Pangeran Mesum, Brat!"

" Tapi kenyataannya kau menciumiku. Dan aku laki-laki! Oh, keperjakaan bibirku.." ucap Naruto dramatis.

" Kenapa jika kau laki-laki? Bukan masalah."

" Ta—tapi.." Naruto menghisap bibirnya yang berdarah. Darah yang masih tertinggal di bibirnya terasa manis. Aneh!

" Lagipula, kau menggigit bibirku. Darah kita tercampur. Kau telah memiliki sedikit auraku. Hanya aku yang memiliki aura seperti ini di seluruh penjuru kerajaan. Kau bisa melihat cahaya berpendar di tubuhku? Hanya aku yang memiliki cahaya berwarna ungu gelap seperti itu. Tak akan ada hewan buas yang berani mendekatimu." Ucap Sasuke seraya menghapus sudut bibirnya yang mengeluarkan darah bekas gigitan Naruto.

" Bagaimana dengan penyihir lain? Apa mereka menyingkir?"

" Mereka hanya takut padaku. Bukan auraku yang saat ini tertinggal di tubuhmu. Jadi berusahalah sendiri."

" Ke-kenapa Pangeran membantuku? Bahkan menandaiku?" ucap Naruto ragu-ragu. Menyembunyikan raut merah muda yang menjalar.

" Karena kulihat kau butuh bantuan dan aku sebagai pangeran harus membantumu. Lagipula, aku ingin tahu bagaimana rasanya menandai sesorang. Dan aku memilihmu. Aneh sekali."

" Terima kasih."

" Hn.."

Naruto merengut. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia mengingat-ingat bagian di dalam buku itu. Ah! Seharusnya yang ditandai adalah Putri Sakura, bukan dia. Ia ingat ketika itu Pangeran Sasuke menolong Putri Sakura yang dikejar-kejar oleh serigala dan menandainya dengan cara yang sama.

Naruto membulat. " Apa kau sudah pernah menandai orang sebelumnya?"

" Tentu saja belum."

" Lalu Putri Sakura?"

Sasuke menaikkan sebelah alisnya. " Siapa dia?"

Sekali lagi mata Naruto membulat sempurna. Mana mungkin Pangeran Sasuke belum bertemu Putri Sakura? Dan penyihir Land Of Miracle hanya dapat menandai sekali seumur hidupnya. Ini pasti kesalahan!

" Dia kekasihmu. Dia yang akan menjadi pendamping hidupmu nanti."

Sasuke terkekeh. " Kau bicara apa? Aku bahkan tak mengenal siapa Putri Sakura itu."

" Seharusnya bukan aku yang kau tandai. Bukan aku. Seharusnya Putri Sakura! Ini pasti kesalahan. Apa kau sudah membunuh sepuluh ekor serigala dan bertemu Putri Sakura. Apa sudah diadakan pesta dansa di kerajaanmu?"

" Dari mana kau tahu bahwa seminggu lagi istana akan mengadakan pesta dansa?" Sasuke balik bertanya, menemukan keanehan pada pemuda di hadapannya.

" Ya, aku tahu. Seharusnya kau bertemu dengan Putri Sakura tadi. Tepat saat kau menemukanku, mungkin."

" Kau bicara apa? Aku memang membunuh sepuluh ekor serigala, dan aku bertemu denganmu. Bukan Sakura atau siapapun itu namanya." Sasuke mendudukkan dirinya di samping Naruto.

" Akh, kepalaku pusing." Naruto mencengkeram kepalanya yang mendadak nyeri. Ia memejamkan matanya.

" Jangan banyak berfikir."

" Tapi seharusnya memang begitu." Ngotot. Kali ini Naruto benar-benar ngotot.

" Apa kau seorang peramal? Siapa kau sebenarnya? Kau datang dari mana?!"

Kali ini Sasuke benar-benar menatap Naruto bagitu tajam. Sangat tajam hingga pemuda pirang itu takut untuk membalas tatapannya.

" Sudah ku bilang aku dari kerajaan ini. Aku tersesat." Elak Naruto takut-takut.

" Jangan berbohong! Katakan siapa kau sebenarnya!" Sasuke mencengkeram bahu Naruto. membuat pemuda itu meringis kesakitan.

Naruto menggigit bibir bawahnya keras. Ia tidak mungkin mengatakan identitasnya. Tidak mungkin. Tapi ia takut pada tatapan itu. Apa yang harus ia lakukan?

" Sebenarnya—A-aku..."

To be continue

A/N:

Fuuh...nggak tahu. Pokoknya jari-jari saya menari di atas keyboard yang membuatnya kapalan. Sakit. Berharap fic ini mendapat respon baik dari para penikmat fanfiksi, saya menulisnya dengan hati-hati.

Ini yaoi. Ingat, yaoi. Meskipun belum terlalu terasa. Yaiyalah, ini pairing kan 80% yaoi dan saya masuk di dalam author pembuatnya. Saya-tidak-berbohong!

Semoga saja, para readers bersedia review. Yah, review apapun gitu. Mau flame, terserah. Mau memuji, terserah. Gak review terserah. Mau review, silahkan. Mau semangkok bakso? Beli sendiri author gak punya duit.

Yaudahlah. Sampai sini saja. Tunggu chap lanjutannya. Jaa~~~