Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho. Saya tidak berniat menarik keuntungan apa pun dari fanfic ini selain untuk tambah-tambah ilmu dan pengalaman menulis.

TO BE BY HIS SIDE

Part 2. His Partner

Jika Shinichi adalah seorang psikolog, ia tidak akan ragu menjadikan Shiho sebagai objek penelitiannya. Bagaimana tidak? Shiho adalah seorang individu yang menarik. Ia memiliki latar belakang kehidupan dan berbagai pencapaian yang tidak mudah ditemukan. Berapa banyak remaja yang kehilangan keluarganya di tangan organisasi kriminal tapi juga ternyata bekerja untuk organisasi itu? Berapa banyak remaja yang mampu menciptakan racun sehebat Apotoxin 4869 yang bisa membuat orang dewasa kembali menjadi anak-anak? Sudah jelas tidak banyak, bahkan Shinichi yakin hanya Shiho yang memenuhi semua kriteria itu.

Shiho juga memiliki kepribadian yang tak kalah menarik untuk diamati. Setiap orang akan menemukan hampir seluruh hitam-putih manusia ada dalam diri Shiho. Shiho adalah penjahat sekaligus penegak keadilan. Shiho adalah seorang penakut sekaligus seorang pemberani. Shiho adalah seorang pesimis yang berhasil menjadi optimis. Shiho bisa menjadi munafik, namun di sisi lain ia adalah teman yang setia. Shiho Miyano adalah individu yang begitu luas dan dinamis dan karena itulah Shinichi selalu senang mengamatinya meskipun ia bukan seorang psikolog. Shiho adalah pribadi yang tidak pernah tetap. Ia selalu berkembang, selalu berubah, selalu menjadi misteri bagi Shinichi.

Shiho adalah kebanggaan Shinichi.

Shinichi begitu senang setiap kali ada yang memuji Shiho, entah itu karena kecerdasannya, kebaikannya, ataupun kecantikannya. Mengapa? Karena Shiho adalah temannya, sahabatnya, partner-nya yang telah menemaninya melalui berbagai cobaan berat. Shinichi bisa berbangga diri karena ia yakin bahwa selain keluarga Shiho, hanya ia dan Profesor Agasa-lah yang paling memahami Shiho. Shinichi begitu bangga pada segala pencapaian Shiho, pada perkembangannya yang semakin baik dari hari ke hari. Ia masih ingat masa-masa ketika Shiho adalah pribadi yang pesimis dan memiliki kecenderungan untuk bunuh diri. Ia masih ingat masa-masa ketika Shiho adalah gadis penakut yang tak berani mengambil resiko demi kebebasannya. Tapi lihatlah sekarang! Shiho telah berubah. Shiho yang sekarang adalah Shiho yang percaya pada mimpi, yang memiliki harapan-harapan. Shiho yang sekarang adalah Shiho yang berani melangkah demi kebebasan dan keadilan. Shiho yang sekarang adalah Shiho yang takkan lari lagi dari kenyataan.

"Kau mengatakan padaku untuk tidak lari dari takdirku, Kudo-kun, jadi biarkan aku menghadapinya. Kau tentu tahu aku takkan bisa benar-benar bebas jika aku tak melakukan ini."

Shinichi selalu tersenyum ketika mengingat kata-kata luar biasa partner-nya di masa lalu, ketika Ai Haibara memutuskan untuk kembali menjadi Shiho Miyano meskipun ia mungkin bisa memiliki kehidupan yang lebih baik sebagai Ai Haibara. Shiho mungkin tak punya siapa-siapa, begitu kata Ai saat itu, tapi Shiho punya kewajiban untuk menebus segala kesalahannya. Ia harus bersaksi di pengadilan demi kebebasannya, demi kebebasan orang-orang tak bersalah, dan demi korban-korban jiwa yang tewas di tangan racun buatannya. Ia ingin bersaksi demi keadilan. Shinichi takkan pernah bisa melupakan keberanian Shiho ketika ia melangkah dengan mantap memasuki ruang sidang pengadilan internasional, ketika ia duduk di hadapan hakim dan jaksa sebagai saksi kejahatan organisasi hitam dan diadili sebagai terdakwa pencipta racun APTX 4869 yang telah memakan banyak korban jiwa. Shinichi takkan bisa melupakan segala ketegangan pada hari itu dan ia takkan bisa melupakan kebahagiaan yang membuncah dari lubuk hati terdalamnya ketika akhirnya, setelah beberapa kali diadili dalam persidangan, pengadilan memutuskan untuk membebaskan Shiho setelah ia terbukti tidak bersalah—karena racun itu sebenarnya adalah prototype, produk tidak sempurna dari produk sebenarnya yang ingin diciptakan Shiho, namun digunakan oleh organisasi hitam untuk membunuh tanpa persetujuannya dan saat itu Shiho tak bisa melawan karena pada dasarnya mereka juga sedang menyandera kakaknya. Shinichi takkan bisa melupakan air mata bahagia Shiho serta tubuhnya yang gemetar penuh rasa syukur hari itu, yang membuat detektif itu memutuskan untuk memeluknya tanpa pikir panjang begitu sidang resmi ditutup.

Setelah sidang-sidang pengadilan yang menegangkan itu, urusan Shinichi dan Shiho masih belum selesai. Mereka harus menyetujui perjanjian untuk tidak memberitahu siapa pun mengenai efek APTX yang mampu mengecilkan tubuh mereka. Semua orang yang mengetahui identitas asli Conan Edogawa dan Ai Haibara juga diharuskan untuk menyetujui perjanjian yang sama. Petinggi PSB dan FBI yang telah mengetahui efek samping APTX ini menganggap masyarakat belum siap menerima fakta tersebut. Mereka khawatir efek samping APTX tersebut akan menimbulkan percobaan-percobaan manusia yang lain di masa depan jika publik sampai mengetahuinya. Tidak ada yang keberatan dengan keputusan itu. Shiho bahkan bertekad untuk membawa rahasia racun itu ke liang kuburnya karena ia sadar betapa berbahayanya racun itu bagi umat manusia.

Akhirnya satu babak kehidupan Shiho Miyano telah berakhir. Setelah lebih dari 18 tahun terjebak dalam ketakutannya akan organisasi hitam, kini gadis itu bisa hidup bebas. Sejak saat itu pun Shinichi terus mengamatinya karena begitu babak yang kelam itu berakhir, Shiho memerlihatkan begitu banyak perubahan. Ia menjadi lebih sering tersenyum walaupun sifat dingin dan sarkastisnya tidak pernah hilang. Ia menjadi orang yang lebih optimis pada masa depan. Ia menjadi pribadi yang lebih menyenangkan dari sebelumnya walaupun sekilas orang takkan bisa melihat betapa luar biasanya gadis itu. Shinichi ingin mendukungnya, ingin membuka dunianya dengan mengenalkan partner-nya yang jenius pada dunia. Karena itu ketika Perusahaan Kawahara mengundangnya untuk menghadiri acara peluncuran software analisa forensik terbaru mereka dan mengizinkannya membawa seorang teman, tanpa pikir panjang Shinichi langsung mengajak Shiho.

Malam itu memang bukan malam terbaik. Ia dan Shiho lagi-lagi terjebak kasus pembunuhan yang membuat mereka harus terlambat menghadiri acara. Sudah begitu, malam itu pun Shinichi harus merasa patah hati karena ia menolak perasaan Ran, gadis yang begitu dicintainya. Ia sudah memutuskan hubungan mereka demi keselamatan Ran dan malam itu ia benar-benar harus melepaskan Ran untuk selamanya, jadi bayangkan saja bagaimana terkoyaknya hatinya! Tapi pada malam itu juga pikiran Shinichi menjadi lebih terbuka. Di malam itulah ia menyadari betapa berartinya Shiho baginya. Di malam itulah ia dengan anehnya berharap dirinya jatuh cinta pada Shiho karena ia tahu betul ia tak perlu meninggalkan Shiho seperti ia meninggalkan Ran.

Harapan itu aneh, tentu saja, karena bagi Shinichi yang saat itu masih mencintai Ran, Shiho adalah pribadi yang jauh berkebalikan dengan gadis pujaan hatinya. Shiho tidak termasuk dalam tipe wanita idaman Shinichi. Karena itu Shinichi hampir-hampir tak percaya ketika harapan aneh itu terwujud beberapa tahun kemudian, ketika ia telah duduk di bangku universitas dengan karir detektifnya yang sukses dan stabil. Shinichi tak mau mengakuinya terang-terangan, tapi ia benar-benar telah jatuh cinta pada partner-nya; partner-nya yang dingin, sarkastis, dan sinis itu. Sungguh tak bisa dipercaya!

Jatuh cinta pada Shiho tidak sama dengan jatuh cinta pada Ran. Jika dulu Shinichi jatuh cinta pada Ran karena kepribadiannya yang sabar, setia, ramah, keibuan, kuat, dan mandiri serta tentu saja, ditambah parasnya yang cantik jelita, sekarang Shinichi jatuh cinta pada Shiho karena ia merasa tidak bisa hidup tanpa Shiho. Partner-nya itu adalah orang yang serba tahu tentang dirinya. Sering kali Shinichi tak perlu mengutarakan pemikirannya karena Shiho hampir selalu tahu apa yang sedang dipikirkannya. Shiho selalu ada untuknya di mana pun ia berada sampai-sampai Shinichi sulit membayangkan hidup tanpa Shiho di sisinya. Memang benar, kecerdasan dan kecantikan Shiho juga menarik perhatiannya, tapi faktor utama yang membuat Shinichi jatuh cinta pada Shiho adalah keberadaan ilmuwan itu yang seolah-olah melengkapi hidupnya, melengkapi jiwanya. Shiho adalah sosok tak tergantikan dalam hidup Shinichi. Shinichi tak mau dan takkan bisa menggantinya. Ia bahkan tak sanggup membayangkan dirinya melihat Shiho menikahi pria lain karena itu artinya Shiho akan meninggalkannya. Pemikiran itu sungguh sebuah ide buruk baginya karena ia ingin Shiho tetap menjadi partner-nya. Ia ingin Shiho tetap di sisinya. Saat itulah Shinichi sadar bahwa rupanya ia telah jatuh cinta pada Shiho.

Shiho benar ketika gadis itu mengatakan bahwa perasaan manusia bisa berubah. Ya, Shiho benar dan Shinichi akui itu. Perasaannya pada Ran kini tak lebih dari sekedar teman sementara perasaannya pada Shiho berkembang melampaui batas sahabat dan rekan kerja. Shinichi sempat beranggapan bahwa dirinya sudah gila karena jatuh cinta pada wanita menakutkan seperti Shiho—tidak—ia bisa gila karena sudah jatuh cinta padanya! Bagaimana mungkin ia berani menyatakan perasaannya pada wanita mengerikan itu? Bisa-bisa ia jadi bulan-bulanan Shiho selama berminggu-minggu.

Tidak, Shinichi tak mau jadi bulan-bulanan. Ia tak bisa menyatakan cintanya pada Shiho. Ia belum siap kehilangan harga dirinya.

Maka Shinichi diam. Selama bertahun-tahun ia memendam perasaannya dan tetap menjalin hubungan normal dengan Shiho, hanya sebatas sahabat dan rekan kerja. Tidak lebih. Tapi ternyata menjalani hidup dengan memendam rasa pada Shiho tidak semudah dugaannya semula. Bukan karena Shiho didekati banyak pria. Bukan karena Shiho jatuh cinta pada orang lain. Bukan, sama sekali bukan karena hal-hal semacam itu. Shinichi merasa semakin lelah memendam perasaannya karena ternyata ia begitu mencintai Shiho. Ia sangat menyayangi partner-nya. Dan jatuh cinta pada Shiho bukanlah proses yang singkat. Butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk bisa jatuh cinta pada Shiho dan melupakan Ran. Shinichi tak mau menyia-nyiakan waktu yang lama itu. Ia tidak mau kehilangan cinta keduanya seperti ia kehilangan cinta pertamanya. Ia ingin memperjuangkan Shiho karena tidak seperti Ran, Shiho punya peluang untuk diperjuangkan. Shinichi tidak harus meninggalkan Shiho seperti ia meninggalkan Ran. Shinichi tak perlu membuat Shiho menunggu karena Shiho selalu bisa menyusulnya, selalu bisa berjalan beriringan dengannya. Shinichi tak ingin kehilangan Shiho, tidak sebelum ia mencoba mendapatkannya.

Tapi sungguh, menyatakan perasaannya pada Shiho tidaklah mudah.

Shiho bukanlah tipe wanita yang mudah termakan kata-kata romantis. Ia bukan wanita yang akan tersipu malu jika seorang pria menyatakan cinta padanya. Shiho adalah wanita yang logis, wanita yang lebih mengutamakan nalarnya daripada perasaannya. Ia takkan menyerahkan dirinya pada pria sembarangan karena ia sendiri bukan wanita sembarangan. Menyatakan cinta pada Shiho sama artinya dengan sengaja memasuki pengadilan dengan Shiho sebagai hakim sekaligus jaksa penuntut. Tak diragukan lagi, dengan nalarnya yang jenius Shiho akan bertanya banyak hal pada pria nekat itu bagaikan seorang jaksa atau hakim yang menanyai terdakwa, mulai dari alasannya jatuh cinta padanya, pekerjaannya, pencapaian-pencapaiannya, serta jaminan apa yang bisa diberikan pria itu untuk Shiho jika Shiho menerima perasaannya. Sungguh, membayangkan hal itu saja sudah membuat Shinichi bergidik ngeri. Ia mungkin benar-benar sudah gila karena bisa jatuh cinta pada wanita semenakutkan Shiho. Ralat: ia memang sudah gila karena "pengadilan Shiho" terus-menerus mendatangi mimpinya belakangan ini.

"Ugh, sialan kau, Miyano..." Shinichi mengumpat begitu ia bangun dari tidurnya, terbebas dari ketegangan "pengadilan Shiho" untuk kesekian kalinya. Hal ini tak bisa dibiarkan. Ia harus menyatakan perasaannya pada Shiho secepat mungkin jika ia ingin tidur dengan tenang.

Shinichi melirik jam dinding di kamarnya. Sudah jam delapan lewat yang berarti ia bangun kesiangan hari ini. Jika hari ini adalah hari kerja, ia pasti sudah kalang-kabut. Untunglah sekarang hari minggu, hari libur bagi seorang detektif polisi muda sepertinya. Tidak ada tugas mengintai. Tidak ada perintah untuk menangkap pelaku kejahatan; setidaknya demikian sampai Inspektur Megure atau rekan kerjanya yang lain tiba-tiba menghubunginya. Yang perlu ia lakukan hanya menonton televisi sampai kasus memutuskan untuk mendatanginya dengan sendirinya. Maka dengan langkah gontai Shinichi keluar dari kamarnya untuk menggosok gigi dan berganti pakaian, kemudian pergi ke dapur untuk membuat sarapan.

Menu sarapannya adalah menu yang sederhana. Sangat sederhana. Hanya dua lembar roti tawar panggang dan sebuah telur goreng. Sebenarnya menu sarapan Shinichi tidak selalu seperti itu. Ia bisa memperkaya menu makannya setiap hari sejak ia memiliki penghasilan tetap, apa lagi Shiho selalu bersedia memasak untuknya setelah ibunya, Yukiko, terang-terangan menitipkan Shinichi yang tidak becus memasak pada ilmuwan itu. Sarapannya bisa saja sereal, bubur telur, atau nasi dengan berbagai lauk pauk seperti sosis, ikan, daging, atau ayam. Ia juga bisa menyantap salad berbumbu mayones sebagai sarapannya, tapi hari ini kulkasnya kosong. Ia tidak punya makanan lain selain roti tawar dan telur. Itu artinya, jadwalnya hari ini untuk bersantai di depan televisi harus terpotong untuk pergi belanja.

Seusai sarapan, Shinichi melanjutkan rutinitasnya keluar rumah untuk memeriksa kotak surat serta mengambil koran langganannya setiap hari. Saat itulah ia tiba-tiba terlonjak karena mendengar suara yang sudah akrab di telinganya.

"Wah wah, kelihatannya kau punya banyak pengggemar, ya, Kudo-kun?"

Shinichi segera menoleh pada partner-nya yang rupanya telah berdiri di sebelahnya dengan kedua tangan memegang tas-tas plastik berisi barang belanjaan.

"Miyano! Ya ampun, kau membuatku kaget!" gerutunya. "Dan apa maksudmu dengan aku punya banyak penggemar?"

"Surat-surat itu." Shiho melirikkan kedua matanya pada tumpukan amplop di dalam kotak surat kediaman Kudo. "Mana ada detektif polisi yang mendapat surat sebanyak itu kecuali detektif polisi itu adalah seorang Heisei Holmes, iya, kan?"

"Hei, belum tentu semua surat ini adalah surat untukku, kan? Bisa saja surat-surat penggemar yang kau maksud adalah surat-surat penggemar orang tuaku," balas Shinichi sambil mendengus, kemudian kedua matanya tertuju pada tas-tas plastik di tangan Shiho. "Apa itu? Kau habis belanja?"

"Ya. Kulkas Profesor sudah hampir kosong, jadi aku pergi belanja. Lagipula tadi pagi ada diskon di pasar ikan. Sayang sekali kalau dilewatkan," kata Shiho. "Aku juga sudah belanja untuk kulkasmu. Jangan lupa ganti uangku, ya."

"Eh? Kau belanja untukku juga?" Shinichi terbelalak tak percaya.

"Ya. Kulkasmu selalu kosong di akhir minggu dan kemarin kau pulang larut malam setelah mengurus kasus, jadi kupikir mungkin kau sama sekali tak punya apa-apa sekarang. Bukan begitu?" Shiho tersenyum, lalu dengan santainya ia memasuki halaman kediaman Kudo tanpa menunggu izin dari pemiliknya. Ketika tiba di depan pintu rumah, tiba-tiba saja Shiho berhenti dan menoleh ke belakang. "Omong-omong, Kudo-kun, kau sudah sarapan, belum?"

"Eh?" Shinichi tersadar dari keterkejutannya. Ia buru-buru menjawab, "oh, ya, sudah. Aku masih punya roti dan telur."

Shiho hanya mengangguk, lalu lagi-lagi dengan santainya ia masuk ke rumah kediaman Kudo tanpa minta izin seolah-olah rumah itu adalah rumahnya juga. Shinichi sebagai pemilik rumah juga tak bisa bilang apa-apa karena wanita itu sudah berbaik hati berbelanja untuknya, jadi akhirnya ia hanya bisa geleng-geleng kepala sebelum mengambil koran dan surat-suratnya, lalu masuk kembali ke rumahnya menyusul Shiho. Tuh, kan, partner-nya selalu tahu apa yang sedang dibutuhkannya. Bisa apa dia tanpa Shiho?

Begitu masuk rumah, Shinichi langsung duduk memeriksa surat-suratnya sementara Shiho sibuk mengisi kulkas sang detektif dengan berbagai makanan yang baru dan segar. Aktivitas semacam ini bukan hal baru bagi mereka. Hari ini bukan pertama kalinya Shiho berbelanja untuk Shinichi, bukan pertama kalinya ilmuwan itu masuk sembarangan ke rumah Shinichi. Wanita itu bisa saja masuk tanpa sepengetahuan Shinichi karena Yusaku dan Yukiko memberikan kunci cadangan rumah mereka pada Profesor Agasa. Lagipula, pekerjaan Shinichi sebagai detektif juga mengharuskannya untuk selalu bekerja sama dengan Shiho yang kini bekerja sebagai ahli forensik, sehingga mau tak mau mereka harus sering bertatap muka entah itu di TKP, di kantor polisi, di laboratorium forensik, di rumah Profesor Agasa, ataupun di rumah Shinichi. Karena itu, mendapati Shiho berada di dalam rumahnya bukanlah hal yang aneh bagi Shinichi. Ia bahkan takkan terkejut jika ia mendapati Shiho ada di dalam rumahnya begitu ia bangun tidur atau pulang kerja walaupun sebenarnya jarang sekali Shiho masuk ke rumahnya tanpa sepengetahuannya.

Shiho masih tinggal bersama Profesor Agasa. Setelah kembali menjadi Shiho Miyano, ia dan Shinichi harus meninggalkan Beika demi keselamatan orang-orang yang mereka kenal. Mereka tinggal di tempat-tempat yang mendapatkan perlindungan dari PSB dan FBI sampai kasus organisasi hitam dinyatakan berakhir dan keadaan mereka dinyatakan telah aman. Setelah kasus itu berakhir, awalnya Shiho ingin menyewa apartemen sendiri, namun baik Shinichi maupun Agasa menentang keras keputusannya itu. Alasannya adalah karena masa itu adalah masa yang rawan. Masa itu adalah masa transisi di mana masih ada kemungkinan kecil sisa-sisa organisasi yang tak tertangkap sedang mengincar nyawa Shiho. Akan lebih aman bila Shiho tinggal bersama Agasa karena dengan begitu baik Agasa maupun Shinichi bisa mengawasinya dan melindunginya seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Maka sekali lagi Shiho tinggal bersama Agasa dan ternyata hal itu terus berlanjut sampai sekarang hanya karena Agasa selalu melanggar diet ketatnya jika Shiho tidak mengawasinya.

"Hei, Miyano, apakah kau sudah menyiapkan sarapan untuk Profesor?" tanya Shinichi setelah beberapa saat mereka berdua melakukan aktivitas masing-masing dalam keheningan, hanya disela oleh suara televisi yang sengaja dinyalakan Shinichi seolah-olah untuk menghidupkan suasana.

"Sudah. Mana mungkin aku membiarkan Profesor membuat sarapan sendiri, kan? Bisa-bisa gula darahnya naik lagi." Shiho menutup pintu kulkas Shinichi yang kini sudah penuh dengan makanan, lalu berjalan menghampiri detektif itu. "Jadi bagaimana dengan surat-suratmu? Dari penggemar? Atau klien?"

"Klien. Kau boleh baca kalau mau," balas Shinichi sambil membuka amplop lain yang belum diperiksanya. Shiho memilih duduk berhadapan dengan detektif itu, melihat-lihat surat-surat yang sudah dibaca.

"Kasus kehilangan perhiasan, istri kabur dari rumah, hmm..." Shiho membaca setiap surat yang sudah diperiksa Shinichi. "Pencurian mobil... penipuan... kau mau memecahkan semua ini?"

"Tentu saja. Semua kasus itu terlalu sederhana untuk diabaikan," jawab Shinichi. "Perhiasan itu digadaikan suaminya, istrinya hanya mengungsi ke rumah temannya setelah... hmm... pertengkaran dengan suaminya. Lalu pencurian mobil itu sederhana saja. Anaknya meminjamnya tanpa bilang-bilang untuk mengantar teman-temannya pergi berwisata. Lalu untuk kasus penipuan, kemungkinan besar pelakunya sudah lari ke luar negeri membawa barang-barang hasil tipuannya sekarang."

Shiho mengernyit, memandang Shinichi dengan tatapan curiga sekaligus tidak percaya. "Kau baru membaca surat-surat ini sekarang. Bagaimana mungkin kau bisa tahu semua itu?"

"Televisi, Miyano. Dari tadi pembawa berita yang cantik itu terus-menerus memberiku kabar yang mengejutkan tentang penipu buron yang berhasil meloloskan diri ke luar negeri setelah terbang dari Osaka. Sebelum itu juga ada berita tentang pariwisata yang dibanjiri anak-anak muda yang ternyata kondisinya sangat cocok dengan klien kita yang kehilangan mobilnya. Lalu perhiasan itu dan istri yang kabur dari rumah... ya ampun, sudah berapa kali aku menghadapi kasus semacam itu? Aku sampai hafal di luar kepala pola pikir orang-orang yang terlibat kasus seperti itu."

"Hooo, jadi ternyata selama ini kau juga menonton televisi. Kupikir kau menyalakannya hanya untuk meramaikan rumah," komentar Shiho sambil tersenyum mengejek.

"Kau ini seperti baru mengenalku saja," Shinichi balas tersenyum sinis. "Omong-omong, kau harus baca surat ini," tambahnya sambil menyerahkan secarik kertas pada Shiho. Shiho mengangkat alisnya dengan heran, namun tidak berkata apa-apa. Ia meraih kertas itu dari tangan Shinichi dan segera membacanya. Beberapa menit kemudian, ilmuwan itu mengalihkan pandangannya pada detektif di hadapannya. Ia menatapnya dengan tajam.

"Kau pasti sudah tahu tentang ini sebelumnya," tuduh Shiho.

Shinichi mengangguk. "Begitulah. Ayahku mengirimiku email, tapi aku tidak mau memberitahumu tanpa surat resmi."

"'Wawancara dengan Shinichi Kudo dan Shiho Miyano untuk pembuatan film terbaru Perusahaan Wolter Bros. Penulis naskah: Yusaku Kudo.' Hah! Kau bercanda."

"Kalau bercanda, mana mungkin kau memegang surat dari Wolter Bros sekarang," kata Shinichi lagi. "Jadi? Kau bersedia diwawancara, tidak?"

"Kau tahu sendiri aku tidak suka diwawancara. Aku tidak suka membicarakan masa laluku. Memangnya apa yang mereka inginkan dariku?" tanya Shiho jengkel.

"Masa lalumu," jawab Shinichi apa adanya, membuat Shiho langsung mendelik marah padanya.

"Kalau begitu lupakan saja. Aku tidak mau," tolak ilmuwan itu segera.

"Hei, kau tak perlu menceritakan semuanya. Kau hanya perlu menceritakan hal-hal yang telah kau ceritakan pada wartawan. Hal-hal yang telah kau ceritakan di pengadilan. Tidak sulit, kan?"

"Lalu setelah itu apa? Apa mereka ingin menulis biografiku juga? Begitu?"

"Oi oi, jangan marah dulu. Miyano, mereka hanya ingin membuat film berdasarkan pengalaman kita saat menghadapi organisasi. Lagipula penulisnya adalah ayahku. Percayalah, dia tahu apa yang perlu dirahasiakan."

Shiho mendesah. Ia jelas-jelas masih keberatan. "Kenapa harus aku?" tanyanya. "Kenapa tidak kau saja? Kenapa harus aku juga?"

"Ayahku bilang, tidak mungkin Holmes dipisahkan dari Watson."

"Heh, jadi aku adalah Watson-mu, ya?"

"Setidaknya begitu menurut ayahku dan orang-orang Wolter Bros," balas Shinichi. "Kenapa? Kau tak suka?"

"Huh, Watson," Shiho mendengus. "Kenapa aku harus jadi Watson? Aku tidak semembosankan itu."

"Hah?"

"Watson lebih seperti asisten daripada partner. Holmes terlalu mendominasi kehidupannya, tapi aku? Kudo-kun, aku mungkin tak sehebat dirimu dalam hal deduksi, tapi aku sama sekali bukan asistenmu. Dan asal tahu saja, aku takkan membiarkanmu mendominasi kehidupanku," kata Shiho tegas sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. "Dilihat dari mana pun juga, aku sama sekali bukan Watson. Aku lebih hebat dari Dr. Watson. Kenapa sih, orang-orang selalu menganggapku sebagai Watson?"

Oke, ini lucu. Benar-benar lucu. Seorang Shiho Miyano marah hanya karena tokoh fiktif bernama John Watson? Kalau Shinichi tidak mengenal watak Shiho dengan baik, ia pasti sudah tertawa terbahak-bahak, tapi karena ia mengenal Shiho, maka ia berusaha keras menahan tawanya walaupun terlalu sulit baginya untuk tidak tersenyum geli.

"Wah wah, apa ini? Apakah kau sedang menyombongkan dirimu, Dr. Miyano?" sindir Shinichi. "Lalu kenapa Dr. Miyano yang hebat ini bisa-bisanya marah hanya gara-gara tokoh yang tidak nyata? Sungguh, aku tidak habis pikir."

Seketika itu juga Shiho melempar pandangan mengerikan ke arahnya.

"Kau. Apa kau mau mati?" desis ilmuwan itu garang. "Aku masih ingat benar formula APTX. Aku bisa membuatnya lagi untukmu."

Oke. Cukup. Ini terlalu lucu! Shinichi akhirnya tertawa terbahak-bahak, tidak memedulikan tatapan garang Shiho yang tidak pernah lepas darinya. Setelah beberapa saat tertawa terpingkal-pingkal, Shinichi akhirnya berhasil menghentikan tawanya dan berkata, "sungguh, Miyano, ada apa denganmu? Aku hanya ingin bertanya apakah kau bersedia diwawancara untuk film ayahku, tapi kenapa tiba-tiba kau marah hanya karena Watson?"

"Kau masih tak mengerti?" Shiho memandang detektif itu dengan kesal. "Aku bukan Watson. Sama sekali bukan Watson! Aku bukan Watson-mu, jadi kenapa aku harus memenuhi permintaan ayahmu?"

"Eh?!" Shinichi terbelalak. "Tunggu, kau menolak diwawancara?"

"Ya. Aku menolak! Enak saja mereka merendahkanku. Kau juga, Kudo-kun. Kalau kau menganggapku sebagai Watson, lebih baik aku ganti profesi saja."

Dengan langkah-langkah menghentak Shiho berjalan ke arah pintu, berniat meninggalkan rumah Shinichi. Shinichi jelas terkejut dengan amarah Shiho yang entah harus ia anggap masuk akal atau tidak.

Tapi ini tidak bisa dibiarkan, batin Shinichi. Pekerjaan ayahnya ada di ujung tanduk. Entah bagaimana caranya, ia harus bisa membuat Shiho bersedia diwawancara.

"Tunggu! Hei, Miyano, tunggu!" Shinichi tergesa-gesa menyusul partner-nya. Sebelum Shiho benar-benar keluar rumah, ditariknya tangan wanita itu. "Kau ini kenapa, sih? Tidak biasanya kau marah-marah begini. Bisakah kita bicara baik-baik?"

Shiho memandang Shinichi dengan dingin. "Apa lagi yang harus kita bicarakan, detektif? Bukankah aku sudah menolak permintaan ayahmu?"

Shinichi mendesah. Siapa sangka kata wawancara digabung dengan Watson bisa membuat ilmuwan jenius di hadapannya ini marah besar? "Kau tidak berpikir baik-baik sebelum menjawab, bukan? Aku tak bisa menerima jawaban seperti itu, Miyano."

"Tidak ada bedanya jika aku berpikir baik-baik atau tidak. Sejak awal aku juga tak suka diwawancara," balas Shiho acuh tak acuh.

"Tapi aku tak bisa terima itu. Kau orang paling jenius yang pernah kutemui. Aku tak bisa terima kau menolak tawaran itu hanya karena mereka menganggapmu sebagai Watson. Itu benar-benar kekanak-kanakan dan sangat tidak pantas dilakukan olehmu."

Shiho terdiam sesaat, lalu tanpa memandang Shinichi, ia berkata, "kau juga setuju dengan pendapat mereka, bukan? Jadi kenapa aku harus peduli pada kata-katamu?"

"Apa?" Shinichi mengerjap bingung. Beberapa detik kemudian, ia segera paham maksud Shiho. "Kau berpikir aku menganggapmu seperti Watson? Astaga, Miyano, seharusnya kau mengenalku lebih baik dari itu!"

Kali ini Shiho memutuskan untuk memandang Shinichi. Ia mengernyit heran. "Apa maksudmu?"

Shinichi menarik napas dalam-dalam, lalu meletakkan kedua tangannya di kedua bahu Shiho. "Dengar baik-baik, Miyano. Kau adalah partner-ku, berapa kali harus kukatakan itu padamu? Di satu sisi kau adalah Watson—jangan marah dulu, dengarkan aku—ya, kau adalah Watson, tapi peranmu tidak berhenti di situ. Kau lebih dari itu, Miyano. Kau—ah, bagaimana aku harus mengatakannya padamu?" Shinichi mendesah frustasi, mencari kata-kata yang tepat. "Holmes—dia bisa hidup tanpa Watson. Dia masih bisa berfungsi meskipun di kemudian hari Watson menikah dan meninggalkannya, tapi aku tidak seperti itu. Aku—aku—"

Shinichi kehabisan kata-kata. Shiho hanya diam mematung di depannya, menunggu sang detektif menyelesaikan ucapannya.

"Kau apa, Kudo-kun?" tanyanya penasaran.

"Aku—aku—entahlah," kata Shinichi akhirnya, terlalu bingung untuk menyampaikan perasaannya pada Shiho. "Pokoknya kau lebih dari Watson. Seperti... seperti gabungan dari Watson dan Adler. Kau adalah orang yang istimewa, Miyano. Kau sangat istimewa untukku. Kau mengerti maksudku?"

Shiho terdiam. Shinichi menanti-nanti responnya dengan gelisah. Setelah beberapa saat, wanita itu pun menjawab.

"Aku tidak tahu."

Sekarang giliran Shinichi yang terdiam. Huh? "Tidak tahu?"

"Kata-katamu terlalu membingungkan," kata Shiho lagi. "Kau bilang bahwa aku lebih dari Watson. Lalu kau bilang kau... entahlah, kau ingin bilang bahwa kau tidak bisa hidup tanpaku?" Shiho memiringkan kepalanya, memandang Shinichi dengan bertanya-tanya. "Kau juga bilang bahwa aku ini seperti gabungan Watson dan Adler. Kudo-kun, kalau aku tidak mengenalmu dengan baik, bisa-bisa aku salah sangka mengira kau sedang jatuh cinta padaku. Jadi sebenarnya apa maksudmu?"

Shinichi mengerjap. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Huh?

Apakah ia baru saja menyatakan cintanya pada Shiho?

Detektif itu memutar ulang kata-kata yang telah ia ucapkan pada Shiho dalam kepalanya dan beberapa saat kemudian, ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak ternganga kaget.

Ia memang baru saja menyatakan cintanya pada Shiho! Ya ampun, apa yang sudah ia lakukan?!

"Kudo-kun?"

Suara Shiho mengembalikan Shinichi pada kenyataan. Dengan gugup ia buru-buru kembali fokus pada partner-nya. Apa yang harus kulakukan sekarang? pikirnya panik, namun beberapa detik kemudian, ia akhirnya membuat keputusan. Karena sudah terlanjur, mengapa tidak sekalian ia teruskan saja? Kalau ternyata Shiho menolaknya, mungkin ia akan patah hati lagi, tapi setidaknya ia bisa tidur dengan tenang tanpa harus dihantui oleh "pengadilan Shiho" dalam mimpinya.

"Miyano, kau—uh—kau tidak salah sangka," kata Shinichi akhirnya. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai-sampai Shinichi merasa seolah-olah ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

"Apa?" Shiho menatapnya dengan terkejut. Rupanya ilmuwan itu tak bisa memercayai ucapan sang detektif yang baru saja didengarnya.

"Kau tidak salah sangka," kata Shinichi lagi dengan suara yang lebih mantap. "Kau—oh, sial—Miyano, aku memang jatuh cinta padamu."

Shiho tercengang. "Kau bercanda."

"Aku tidak bercanda."

Setelah itu baik Shinichi maupun Shiho tidak mengatakan apa-apa lagi. Mereka berdua hanya saling bertatapan, masing-masing berusaha menebak-nebak pikiran lawan bicaranya. Keheningan yang aneh itu pun berakhir ketika Shiho memutuskan untuk buka mulut.

"Kau benar-benar tidak bercanda?"

Shinichi mengangguk. "Aku serius."

"Kau memang jatuh cinta padaku?"

"Ya."

"Hmm..." Shiho tampak menimbang-nimbang sesaat tanpa mengalihkan pandangannya dari Shinichi. Tak lama kemudian, ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah. Kau memang jatuh cinta padaku," katanya akhirnya, memutuskan untuk memercayai sang detektif.

"Jadi sekarang kau benar-benar percaya?" tanya Shinichi.

"Ya," Shiho mengangguk ringan. "Kapan kita akan kencan?"

"Ken—tunggu. Apa?" Tiba-tiba saja Shinichi tidak bisa bernapas. Apa katanya? Apa ia tidak salah dengar?

"Kencan, Kudo-kun. Kencan," ulang Shiho. "Bukankah kau menyukaiku? Sudah sewajarnya kau ingin mengajakku kencan, kan? Nah, kapan kita akan kencan?"

Shinichi masih terbelalak kaget. Ia memang tidak salah dengar, kan? Ia tidak sedang bermimpi, kan?

"Miyano, kau serius mengajakku kencan?" tanya detektif itu tak percaya.

"Tentu saja. Bukankah kau bilang kau serius mencintaiku?" ilmuwan itu balas bertanya.

"Ya, tapi... uh, kupikir kau tidak akan mau pergi kencan semudah itu."

"Kau benar. Kalau bukan kau, sudah pasti aku takkan mau," kata Shiho setuju.

"Memangnya kalau aku kenapa?" tanya Shinichi lagi, tak bisa menahan rasa penasarannya.

"Aku sudah mengenalmu, Kudo-kun. Aku sangat mengenalmu, makanya aku mau pergi kencan denganmu," jawab Shiho. "Jadi? Kapan kita akan pergi kencan?"

Shinichi menatap partner-nya dengan takjub, hampir tidak percaya dengan semua ucapan ilmuwan itu. Tapi Shiho memandangnya dengan serius. Shiho memang ingin pergi kencan. Sekarang detektif itu tak tahu harus bagaimana. Perasaannya tiba-tiba menjadi kacau-balau. Ia senang, tapi ia juga bingung sekali.

"Hei, Kudo-kun?" Shiho memanggilnya lagi dan kali ini entah mengapa suaranya membuat wajah Shinichi bersemu merah.

"Y-yah... kalau kau bersikeras... baiklah, bagaimana kalau malam ini?" tanyanya dengan salah tingkah. Ah, sial, ternyata pengalaman pacarannya dengan Ran sama sekali tak berguna sekarang. Ia masih saja gugup saat mengajak seorang wanita berkencan. Sementara itu, Shiho dengan santainya menganggukkan kepala, kelihatan tidak peduli dengan kegugupan sang detektif.

"Oke, malam ini. Restoran?"

"Hmm... Arsène?"

"Pilihan yang bagus. Kau akan menjemputku?"

"Jam tujuh."

"Sempurna." Shiho tersenyum. "Kalau begitu kutunggu kau di rumah Profesor. Sampai jumpa jam tujuh malam."

"Y-yeah..." Shinichi mengangguk gugup. Shiho pun berbalik hendak meninggalkan rumahnya, namun tiba-tiba Shinichi teringat sesuatu. "Hei, Miyano, bagaimana dengan wawancaranya?" tanyanya buru-buru.

"Hm?" Shiho menoleh ke belakang sekilas. "Aku akan mempertimbangkannya. Beri aku waktu, oke?"

"Oh, oke," Shinichi mengangguk lagi. "Ah, satu lagi, Miyano?"

"Ya?"

"Umm... apakah ini artinya kau... maksudku, apakah sekarang kita...?"

Shiho menatap Shinichi yang salah tingkah untuk beberapa saat, lalu lagi-lagi ia tersenyum. "I'll be in your care, Tantei-san." Kemudian ilmuwan itu keluar dari rumah Shinichi sambil bersenandung riang, meninggalkan sang detektif ternganga tak percaya.

Shinichi masih berdiri di depan pintu bahkan ketika Shiho sudah masuk ke dalam rumah Profesor Agasa. Pria itu masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Shiho Miyano menerima perasaannya. Shiho Miyano yang dingin, sinis, dan sarkastis itu! Shinichi benar-benar tak percaya dengan keberuntungannya. Ia sangat lega, sangat gembira. Hatinya seolah-olah akan segera meledak saking bahagianya dirinya saat ini. Untuk beberapa saat detektif itu hanya senyum-senyum sendiri seperti orang gila, tapi sejurus kemudian senyumnya tiba-tiba menghilang.

Bukankah tadi ada yang aneh? pikirnya tiba-tiba. Kegelisahan perlahan-lahan menyelimuti benaknya. Ia tahu betul ada yang tidak wajar. Intuisi detektifnya yang telah terasah selama bertahun-tahun tidak pernah salah. Setelah berpikir lama, barulah ia menyadari apa hal yang tidak wajar itu.

Shiho Miyano.

"Miyano bersenandung," katanya dengan kedua mata terbelalak. "Ya ampun, Miyano bersenandung!" Seketika itu juga Shinichi jadi panik. Tak pernah sekali pun ia merasa nyaman ketika partner-nya bersenandung riang. Orang lain mungkin berpendapat hal itu baik mengingat Shiho jarang bersenandung, tapi tidak dengan Shinichi. Memang jika Shiho bersenandung, itu artinya mood-nya sedang sangat bagus, tapi ketika mood Shiho sedang sangat bagus, ia justru jadi lebih mengerikan. Shinichi takkan pernah bisa melupakan satu hari ketika mood Ai Haibara begitu bagus sampai-sampai ia tak terkalahkan dalam pertandingan video game sepanjang hari itu.

"Dia bersenandung dan hari ini kami berdua akan kencan! Ya Tuhan, apa yang akan terjadi nanti malam?" kata Shinichi gelisah. Ia bisa membayangkan saat ini Shiho sedang merencanakan sesuatu untuk kencan mereka, tapi Shinichi tak bisa membayangkan apa pun yang direncanakan partner-nya akan menjadi sesuatu yang disukainya. Shiho selalu suka mempermainkannya. Kali ini pun bisa saja ia sedang menyusun rencana untuk mempermainkannya. Atau mempermalukannya. Apa pun itu, yang jelas Shinichi punya firasat ia takkan suka dengan rencana Shiho. Ia harus menyusun rencananya sendiri untuk mengatasi rencana Shiho.

Bicara tentang suka mempermainkan, Shinichi tiba-tiba teringat ibunya. Bukankah ibunya juga kurang lebih adalah seorang wanita seperti itu? Apa yang dilakukan ayahnya saat mereka kencan pertama kali?

Ketika teringat ayahnya, Shinichi jadi ingat kalau Shiho belum menyetujui permintaan wawancara untuk film yang melibatkan Yusaku. Jangan-jangan rencana Shiho juga termasuk jawaban atas permintaan wawancara itu?

"Sial!" Shinichi mengumpat untuk kesekian kalinya, mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Ia benar-benar tidak tenang jika memikirkan Shiho dan semua kemungkinan-kemungkinan rencananya. Detektif itu pun buru-buru mengambil ponselnya dan menekan nomor kontak ayahnya. Ia harus memberitahu ayahnya tentang ketidakwajaran Shiho yang dapat mengancam mereka berdua. Yusaku harus membantunya menghadapi Shiho jika ia ingin wanita itu menyetujui permintaannya. Tidak ada tawar-menawar.

~o0o~


Arsène adalah restoran di Beika Center Building.

Wolter Bros adalah pelesetan yang saya buat dari sebuah nama salah satu perusahaan film terkenal di dunia. Udah pada tau kan, perusahaan apa itu?

Dr pada nama Dr. Watson menunjukkan profesi dokter, tapi Dr pada nama Dr. Miyano menunjukkan gelar doktor. Kalau di bahasa Inggris setahu saya dua-duanya ditulis doctor.

Ide untuk part 2 ini sebenarnya udah cukup lama ada di kepala walaupun masih acak dan nggak jelas, tapi karena belakangan ini saya nggak fokus pada fanfic, saya jadi nggak yakin saya bisa benar-benar nulis ceritanya. Makanya fic ini saya jadiin oneshot dulu, tapi ternyata saya mengalami kepenatan dengan hari-hari saya dan tiba-tiba saya jadi kangen menulis, maka jadilah part 2 ini! Yaah, walaupun sebenarnya saya masih nggak pede juga karena part 2 ini saya buat gara-gara saya pengen melarikan diri dari kenyataan (loh?!). Part 2 ini juga buat pembaca yang kurang puas dan kepengen ada chapter baru buat cerita ini. Mudah-mudahan sekarang udah puas yaaa.

Terima kasih sudah menyempatkan diri membaca fanfic ini. Mudah-mudahan pembaca suka. Jangan lupa ninggalin review, ya. Saya sangat menghargai kritik dan saran yang membangun. Sekali lagi terima kasih! Dadaaahh!

P.S. Ini adalah chapter terakhir dalam fanfic ini. Saya tidak punya rencana untuk bikin part 3, jadi cerita ini sudah tamat.