"Maze"
.
.
A ChanHun fanfiction by Halona Jill
I own this story including the idea, except the casts. If you don't like, just don't read.
Dedicated to my beloved husbands, Chan Chan and Sehunie of course (LOL)...
Enjoy reading...
.
.
.
Masa remaja memang masa yang penting, dimana setiap orang akan memilih dan memutuskan 'Jadi apa aku di masa depan?'. Chanyeol baru 18, tapi sudah berani mengambil keputusan yang besar. Dia tidak akan menyesal, bahkan berjanji pada dirinya sendiri. Juga pada pemuda manis yang selalu memeluknya erat, Oh Sehun.
For warn.. this is YAOI
.
.
.
.
Chapter 2 : Oh Sehun. (sorry for typos)
.
-00-
.
Matahari sudah terbit, semburat oranye indah di langit timur dan kicauan burung di jendela kamar Sehun menandakan bahwa Sehun harus benar-benar bangun atau dia akan kehilangan kesempatan mendapatkan sarapan murah di kedai kecil milik bibi baik hati yang tinggal di dekat rumahnya. Dia beranjak dari kasur, keluar dari kamar dan melirik kamar tidur satunya yang masih tertutup rapat, berniat mengintip sedikit, tapi dia mengurungkan niatnya dan memilih ke kamar mandi untuk sikat gigi, dan mencuci muka.
Setelah selesai bersih-bersih wajah, Sehun keluar rumah mengenakan celana panjang, kaos, dan jaket tipis yang memberikan sedikit kehangatan untuk tubuh kurusnya. Ibu-Ibu keluar dari rumah sewa yang lain dan menyapa Sehun yang hanya dibalas dengan senyuman tipis, Sehun terlalu canggung untuk bergaul, apalagi dengan Ibu-Ibu. Selain itu, rasanya lebih baik sendiri agar tidak ada yang mengganggu privasinya, Sehun jarang sekali terlihat di lingkungan tempat tinggalnya, baik pagi maupun malam hari, dia pergi ketika orang-orang sibuk, dan pulang ketika orang-orang sudah terlelap.
Kedai Bibi Shin masih buka –sebenarnya kedai itu hanya buka di pagi hari- berarti masih ada sarapan murah yang bisa dibeli, makanan di kedai Bibi Shin cepat sekali habis, pertama karena harganya murah, kedua karena rasanya enak. Sehun berhenti dan menyapa Bibi Shin dengan ramah kemudian memesan sarapannya. Wanita itu satu-satunya yang Sehun suka di lingkungan ini karena dia sangat baik dan tidak rewel, juga sering memberi makanan gratis untuk Sehun.
"Kau beli banyak sekali pagi ini, apa Hyung-mu di rumah?" tanya Bibi Shin sambil membungkuskan pesanan Sehun.
"Tidak.. Hyung bilang dia tidak datang bulan ini, banyak pekerjaan disana," sahut Sehun sendu. "Teman sekolahku menginap di rumah."
Bibi Shin terlihat senang mendengarnya, Sehun tidak pernah cerita tentang teman, sehingga wanita itu membayangkan betapa sulitnya hidup Sehun sendirian di kota besar seperti ini, terlebih Sehun belum cukup dewasa, umurnya baru 18 tahun ini.
"Aku menambahkan beberapa telur rebus, kau harus makan banyak supaya sehat," Bibi Shin menatap tubuh kurus Sehun dengan prihatin.
"Bibi bisa rugi kalau memberiku bonus lagi, nanti pelanggan lain akan menagih bonus juga," keluh Sehun, tapi dia hanya bergurau, dia sangat bersyukur sekali mendapat kebaikan dari wanita ini, Sehun mengucapkan terimakasih dan mendoakan agar Bibi Shin selalu sehat sebelum berpamitan untuk pulang.
.
-00-
.
Tentang kehidupan Sehun. Sehun sudah biasa hidup mandiri, kerja keras, dan minim perhatian keluarga apalagi dari Ayahnya. Masa kecil Sehun tidak menyenangkan seperti anak yang lain, mereka yang bisa pergi berlibur sekeluarga akan pamer saat hari pertama masuk sekolah, menceritakan dengan lantang di depan kelas tentang perjalanan berkemah, berkebun, ke pantai, atau ke luar kota saat liburan, teman-temannya selalu berebut maju saat diminta oleh guru, tapi Sehun hanya diam dan memilih duduk sendiri sambil menggambar keluarganya.
Waktu itu Sehun masih 5 tahun. Ada Ibu, Sehun, Hyung, dan Ayah, pada gambar Sehun. Keluarganya terlihat seperti baik-baik saja, tersenyum dan menggenggam tangan satu sama lain. Nyatanya tidak seperti itu, Sehun harus melihat dan mendengarkan pertengkaran setiap hari, ada saja yang dipermasalahkan kedua orang tuanya, sejak kecil Sehun sudah sering mendengar kata 'selingkuh', 'jalang', 'bajingan' dan sebagainya, kosa kata yang tidak seharusnya didengar oleh anak-anak.
Dulu Sehun hanya bisa menangis melihatnya sambil dipeluk erat oleh Hyung yang masih sama belianya dengan Sehun, dia bertanya-tanya kenapa orang tuanya harus bertengkar, dan kenapa Ayah selalu memukul Ibu padahal Ibunya adalah wanita yang baik hati. Seiring dengan waktu, Sehun tumbuh besar dan jadi pintar untuk tahu sendiri alasannya. Ibu kerja setiap hari untuk menghidupinya dan Hyung selama bertahun-tahun, sedangkan Ayahnya kerja untuk diri sendiri dan menghamburkan gajinya di tempat judi atau bermain wanita.
Perasaan sedihnya yang melihat kehancuran keluarganya berubah jadi rasa benci terhadap Ayah, Sehun bahkan menyuruh Ibunya untuk menceraikan pria itu dan Ibunya tidak setuju. Bagi Sehun, Ibunya adalah wanita bodoh yang mau dikendalikan oleh laki-laki brengsek macam Ayahnya.
Terlalu muak dengan rumah, Sehun memutuskan ke Seoul saat SMA, pilihan yang berat karena harus meninggalkan Ibu, tapi dia benci melihat Ayahnya di rumah. Beda sekali dengan Hyung yang memilih untuk lebih bijaksana dengan tetap di rumah, jauh dari Seoul, di kota kecil kelahiran mereka, menjaga Ibu agar tetap kuat.
Sehun memulai hidup baru, menyewa rumah kecil dari uang tabungannya sejak SD ditambah sedikit sumbangan dari Ibunya. Sekarang dia bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, gajinya dihitung tergantung berapa jam dia bekerja, dan sekarang semakin sedikit karena Sehun sudah di tingkat akhir, dia harus bersiap untuk ujian, sebentar lagi mengikuti sesi belajar mandi dan sebagainya, untungnya Hyung sudah punya pekerjaan tetap, jadi Hyung bisa mengirim uang untuk Sehun dari sebagian kecil gajinya.
Saat seperti ini biasanya Sehun sangat merindukan Ibu dan Hyung, tapi Sehun tidak mau pulang jika Ayahnya di rumah, dia akan menanyakan pada Hyung kalau Ayahnya sudah pergi atau belum, kalau Ayah pergi barulah Sehun pulang dan terkadang menginap di hari libur.
"Hey.. selamat pagi."
Suara husky terdengar dari belakang sehingga Sehun menoleh dan lamunan tentang keluarganya yang berantakan itu seketika buyar, Sehun mengedip-ngedipkan mata sipitnya, menahan cairan bening yang nyaris keluar menuruni pelupuk matanya, kemudian mencoba tersenyum pada Chanyeol yang baru saja keluar dari kamar mandi, rambut bagian depannya basah, mungkin Chanyeol habis cuci muka. Chanyeol terlihat seksi dan sangat berbeda, Sehun mengakuinya. Chanyeol punya pesona yang tidak dapat ditampik oleh siapapun bahkan sesama pria sekalipun, seperti Sehun sekarang.
"Aku sudah belikan makanan untuk sarapan, dan aku sudah makan sebelum kau bangun, jadi maaf ini sisanya untukmu," Sehun terdengar menyesal, dia menggeser kursi di sampingnya dan mempersilakan Chanyeol untuk duduk disana.
Dengan senang hati Chanyeol duduk di samping Sehun, matanya meneliti sarapan yang dihidangkan Sehun untuknya, terlihat lezat dan minta disantap dengan cepat, tapi Chanyeol merasa ada yang aneh, kalau Sehun sudah makan kenapa tidak ada piring kotor?, lauknya juga terlihat baik-baik saja –utuh sepenuhnya; seperti baru dikeluarkan dari bungkusnya dan belum disentuh sama sekali-, porsinya juga terlalu besar untuk Chanyeol seorang, jadi Chanyeol sudah menyimpulkan. Pemuda itu beranjak mengambilkan piring dan sendok lain untuk Sehun.
"Kau belum sarapan, jangan bohong," Chanyeol mengambilkan nasi untuk Sehun, juga lauk-pauknya secara lengkap kemudian mendorong piringnya ke arah Sehun. Matanya bisa menangkap bahwa Sehun merona sebelum mengambil sendok dan menyuap sarapannya.
"Kau pintar sekali," Sehun bertutur sehingga Chanyeol menghentikan kunyahannya dan menatap Sehun. "Aku yakin sekali aktingku tadi sudah keren, tapi ketahuan juga kalau bohong."
Chanyeol mengangkat bahunya acuh, dia kembali makan dengan nikmat dan mengunyah segalanya dengan ringkas, kemudian meneguk segelas air dan bersyukur atas hidangan lezatnya pagi ini. Sehun menatapnya dengan senyum tipis, pemuda itu makan lambat sekali, entah karena tidak suka makan, atau karena gugup.
"Biasanya aku pandai menilai orang," kata Chanyeol kemudian, matanya bertemu dengan mata Sehun, dan Chanyeol menunjukan senyum tampannya. "Kau makan lambat sekali, kau terlihat gugup, apa aku mengganggu disini?"
Darimana dia tahu, sial. "Tidak kok, aku hanya malas makan, dan kau mengisi piringku terlalu banyak," Sehun menunduk, mengaduk-aduk makanannya lalu menyuapnya lagi sedikit enggan.
"Tidak heran kenapa badanmu kurus seperti itu," kata Chanyeol, pandangannya menilai tubuh Sehun, membuat pemiliknya semakin gugup saja. "Habiskan sarapanmu dengan cepat, aku yang akan mencuci piringnya," mata Chanyeol belum juga lepas dari Sehun.
"Ya, tapi kau bisa kan tidak menatapku se-intens itu? pergilah menonton tv."
"Kalau memang terganggu bilang saja Oh Sehun," Chanyeol terkekeh pelan, kemudian memilih untuk beranjak ke ruang tv, meninggalkan Sehun di ruang makan, dan obrolan mereka pagi ini sudah berakhir.
.
-00-
.
Beberapa jam yang lalu rasanya Sehun senang sekali karena bisa malas-malasan dirumah sambil menyempatkan untuk membuka buku pelajaran, Chanyeol yang membereskan semuanya, kamar tidur, piring kotor, juga menawarkan diri untuk sekalian membersihkan rumah Sehun sebelum pulang ke rumahnya sendiri.
Tentu saja Sehun tidak menolak, sedikitnya Chanyeol harus membalas kebaikan Sehun. Sehun juga harus berhemat energi tubuhnya agar tetap prima di kerja paruh waktunya hari minggu ini. Hari minggu berarti banyak waktu untuk kerja dan banyak uang untuk dihasilkan, tapi yang dilakukan Sehun setelah di tempat kerja adalah mengeluh karena pelanggannya banyak sekali.
"Nak, aku kan pesan ayam goreng, kenapa ayam kecap yang datang?" seorang pelanggan berucap ketus pada Sehun, telunjuknya menuding bucket ayam yang dibawakan Sehun.
"Makan saja ayam kecapnya, itu sama-sama ayam 'kan?"
Pelanggan dan Sehun saling bertatapan cukup lama sebelum Sehun sadar dan membungkuk meminta maaf. "Maaf tuan, akan ku ganti, tunggu sebentar."
Sehun mengambil bucket-nya lagi dan nyaris berlari ke dapur, menyimpan ayam kecapnya di meja, biar nanti Sehun yang mengganti rugi ayam itu dengan uang gajinya hari ini, Sehun meringis dalam hati, menyesali kesalahannya. Tangannya yang sudah terbiasa mengambil beberapa potong ayam goreng dengan cepat, membungkuskannya dan kembali pada pelanggan yang masih terlihat kesal pada Sehun.
"Maaf tuan," Sehun membungkuk sekali lagi sebelum pria judes itu pergi. Dan Sehun hanya bisa menghela nafasnya.
Sudah ada tiga puluh kali atau mungkin lebih Sehun bolak-balik mengantarkan pesanan –dia berhenti menghitung di angka 27-. Sehun jadi menggerutu kenapa pemilik restoran ayam ini tidak menyuruh pelanggan mengantri di counter saja, kalau begitu kan Sehun tidak terlalu repot sebagai pelayan, tapi teman kerjanya yang bernama Daeun mengingatkan Sehun untuk bersyukur, karena masih ada pekerjaan untuknya disaat banyak pengangguran berkeliaran dan berujung jadi pelaku kriminal.
Waktu istirahat dimanfaatkan Sehun sebaik mungkin, sambil meneguk cola-nya dan bersantai di dekat kipas angin agar tetap dingin, Sehun memikirkan sedang apa Chanyeol sekarang, apa dia dimarahi orang tuanya, atau dia di pukul Ayahnya seperti yang pernah dialami Sehun karena tidak pulang seharian, tapi mengingat bagaimana sikap Chanyeol yang baik, sopan, dan ramah itu jelas memberitahu Sehun bahwa Chanyeol lahir dan dibesarkan oleh orang tua atau keluarga yang baik-baik juga, jauh berbeda dengan keluarga Sehun.
Lagi-lagi Sehun menghela nafas, waktu istirahatnya sudah selesai, dan Sehun akan kembali ke dunia yang penuh kekejaman yang menyiksanya lahir batin, meja tamu yang sudah terisi orang-orang membuat Sehun mengerang tapi kemudian melonggarkan otot wajahnya dan mulai bersikap ramah, bertanya apa yang mau di pesan dan mengantarkannya, begitu berulang kali sampai resto itu tutup dan Sehun mendapatkan uang gajinya, cukup untuk satu minggu juga untuk bayaran sekolahnya, tapi besok Sehun akan datang lagi kesini, sebelum sesi belajar mandiri dimulai, toh pemiliknya juga senang kalau Sehun yang cekatan ada disana.
Udara malam hari yang segar dan suasananya yang sepi membuat Sehun tenang, sehingga ia melupakan hiruk pikuk Seoul untuk sejenak terutama di tempat kerjanya. Langkah kakinya jauh lebih santai lagi saat melihat rumah sewanya semakin dekat, rumah sewa Sehun ada dibagian paling atas sehingga dia harus menaiki tangga dengan sabar, sesekali bernyanyi dengan pelan meskipun Sehun tidak terlalu baik dalam bernyanyi. Tidak ada salahnya menghibur diri.
Sehun membuka pintu yang dikunci tanpa terburu-buru, dia masuk dan melepas convers -nya kemudian menggantinya dengan sandal rumah, tangannya meraih saklar lampu, cahaya redup berpendar menerangi rumah itu. Sehun mengunci pintu kemudian merebahkan dirinya di sofa usang yang dibawanya dari rumah Ibu, badannya penat luar biasa, lengket karena keringat dan baunya kurang sedap, tapi Sehun terlalu malas untuk mandi atau sekedar mencuci muka, dia ingin bermalas-malasan sejenak; menggantungkan kakinya di ujung sofa sambil menghayalkan masa depan yang cerah dan bahagia.
Hidupnya terlalu berat, Sehun bisa saja bunuh diri kalau tidak ingat dia punya Ibu yang baik hati dan Hyung yang sama baik hatinya. Pagi sampai sore sekolah, setelah itu kerja paruh waktu supaya bisa bertahan hidup di Ibu kota, pulang kerja masih ada setumpuk tugas sekolah dan lain macamnya seperti membereskan rumah karena Sehun selalu tidak sempat di pagi hari. Hidup anak usia 18 tahun tidak seharusnya begitu, mungkin seperti Chanyeol dan teman-teman sekelasnya yang lain.
Teringat soal Chanyeol, Sehun beranjak dari sofa, memilih masuk ke kamar tidur tamu, dia melepas tasnya dan menaruhnya sembarangan di lantai, lalu sibuk menggelar kasur lipat, lengkap dengan bantal dan selimutnya. Sehun merebahkan dirinya dengan nyaman disana, hidungnya yang bangir bisa mencium wangi tubuh Chanyeol yang tertinggal, ada perasaan sedikit senang, dan respon tubuhnya pun seperti itu, misalnya jantungnya yang berdebar-debar tak beraturan atau pipinya yang menghangat dihiasi semburat merah muda cantik yang mungkin terlihat jelas bahkan dari jarak sepuluh meter.
Sehun tidak tahu apa jenis perasaan yang dimiliknya untuk Chanyeol. Sejauh ini Sehun hanya merasa senang melihat Chanyeol karena Chanyeol terlihat berbeda dari anak seusia mereka. Sehun juga baru tahu hari ini bahwa Chanyeol baik sekali sesuai dugaannya. Dia sendiri bukannya ke-ge er-an tapi kadang dia merasa Chanyeol mengawasinya di kelas, bukan cara mengawasi yang membuat Sehun ketakutan atau merasa terancam, justru hal itu membuat Sehun gugup dan jantungnya berdebar dua kali lebih cepat, mata bulat Chanyeol itulah yang mengacaukan segalanya.
Entahlah, Sehun sendiri tidak keberatan atau bingung jika orientasi seksualnya abnormal, apalagi keluarganya juga terlihat tidak terlalu peduli pada hal itu. Tapi, Chanyeol pasti berbeda, jadi Sehun tidak mau berharap muluk-muluk. Pemuda itu menarik selimutnya lebih rapat, besok senin, dan besok ada ujian, dia harus cukup tidur supaya bisa konsentrasi.
Selamat malam.
TBC
.
.
.
.
.
Hello..
Akhirnya bisa juga nyelesain chapter 2 kkkk~
Aku kira kalian pasti bakal bilang plot-nya kelamaan, bosen, atau ChanHun momennya kurang! hehe. Awal-awal emang begitu, aku pengennya di awal itu kita kenal ChanHun secara detail dulu, mulai dari diri mereka sendiri sampai keluarga mereka.
Ada yang nanya "emang Maze itu artinya labirin?". Kalo dari kamus inggris punya-ku, Maze = simpang siur jalan. Sedangkan Labyrinth = Susunan yang membingungkan. Yah sama aja si bisa diartikan labirin dua-duanya, karena si labirin itu kan simpang siur, dan bikin kita kebingungan kkk. Tapi aku pernah liat ada ff yang judulnya 'Labyrinth', kalo sama nanti dikira ff-ku ini jiplakan hehe, makanya aku ambil Maze aja, lebih simple juga kan?
Terimakasih ya buat yang udah ngasih saran, aku bakal perbaiki ff ini sebisa aku, well, karena aku ini masih amatir banget hehe.
Btw, makasih banget buat yang udah baca & review, terus review ya, biar aku makin semangat. Makasih juga buat yang fav&follow ff-ku ini. Buat yang cuma baca, review juga ya hehe.
Last words..
.
.
Mind to review ? ;;)
Halona Jill.
