Part terakhir yang chap 1 aku pindah kesini, mianhae chap ini pendek karna aku bingung mau masukkin apalagi. maaf juga kalo kurang jelas ya plotnya

Happy reading!

'Do not be overcome by evil but overcome evil with good'

Jungkook terikat pada tali yang menggantungnya dari langit langit, bujukan yang merasuki pikiran jernihnya, menghilangkan daya pikirnya detik demi detik. Kim Taehyung mengusap kepala Jungkook yang memejamkan mata, bibirnya terbuka dengan lirihan kecil ketika tali itu menyayat kulitnya semakin dalam.

"Rasa sakit akan memberimu kepuasan, Jungkook", Taehyung berbisik rendah. "Dan kau akan memintaku untuk tidak pernah berhenti", Jungkook berteriak ketika Taehyung menarik talinya semakin kencang, menjerat leher Jungkook yang sudah membiru. Ia tersengal sengal, berusaha bernapas di antara rasa sakit yang menggilas tulang belulangnya.

"A‒Andwae", Jungkook terisak ketika Taehyung melumat bibirnya, sembari membiarkan tubuh Jungkook terayun tak berdaya seperti seorang mangsa yang nyaris kehabisan darah. "Andwaeyo", Jungkook mendesah kecil ketika Taehyung mengecup lehernya sensual, mulai membuka kancing kemeja Jungkook yang tidak bisa bergerak.

Jungkook berteriak lirih ketika Taehyung menggigit lehernya, memberikan tubuhnya hantaran rasa panas, membuatnya gemetaran diantara tali yang mengikat titik sensitifnya. "H‒Hajiman!", Jungkook menangis keras, berjengit ngeri ketika lidah Taehyung bermain di tulang selangkanya.

"A‒Ah! Jaebal!", Jungkook mendesah sakit ketika Taehyung menarik tali yang meremas tubuh Jungkook, membuatnya terjerat dengan rasa puas yang berusaha disingkirkannya. Ia tidak ingin seperti ini, ia tidak menginginkannya lagi!

Jung Hoseok melihat dari kejauhan ketika jemari Taehyung menghisapi tubuh Jungkook, menarik lepas kemeja Jungkook yang menutupi dada sampai ke ujung perutnya. Hoseok mengangkat busur dan melesakkan panah, menarik dengan kuat.

For You will make them turn their back, You will aim with Your bowstrings at their faces.

Hoseok melepas anak panah yang memelesat di udara, berdesing dan berputar putar hingga menyayat lengan pria yang berteriak kesakitan. Taehyung merangsek mundur ketika Hoseok mendekat, memotong tali yang mengikat tubuh Jungkook dengan anak panahnya.

Tubuh Jungkook terjatuh pada pundak Hoseok dengan lemas, napasnya lirih dengan kedua mata terpejam rapat. "Pergi", Hoseok menatap tajam pria yang menggeram, melenyapkan dirinya di dalam bayang bayang museum sebelum berlari menjauh.

Jungkook merintih lirih di bawah pelukannya.

Hoseok pun mendekap Jungkook seperti Michelangelo's Pieta. Patung Virgin Mary yang merengkuh tubuh tak bernyawa Yesus Kristus yang di salib hingga hembusan napas terakhir.

Membebaskan Yesus dari penyaliban yang menghantarkannya pada kematian.

Hoseok merengkuh kepala Jungkook yang terengah kesakitan, berusaha menyadarkan pria yang terluka di berbagai bagian tubuh. Bekas tambang membengkak di sekitar leher Jungkook.

"Tidak apa apa", Hoseok berbisik lembut. "Kau akan baik baik saja".

When there is evil, there will always be good.

Jung Hoseok telah terseret ke dalam dunia yang penuh dengan kekejaman. Tapi ia akan bebas, ia akan membebaskan pria yang kini terbaring tak berdaya di dalam dekapannya. Ia tidak akan membiarkan mereka merasukinya dengan godaan dan hasrat.

Ia tidak akan melepaskan Jungkook.

Even though I walk through the darkest alley, I will fear no evil.

For you are with me.

'Kiss me on the lips, lips. This is a secret between the two of us'

Seokjin bernapas dengan berat, merasakan tangan yang meremas lehernya, memaksanya untuk menenggak cairan Absinthe yang terasa sangat panas dan membakar. Seokjin terengah lemas, berusaha memberontak dari cengkeraman pria yang menyeringai dengan pandangan penuh hasrat dan napsu, terbutakan oleh gairah.

"H‒Hentikan", Seokjin menampik gelas Absinthe yang pecah berkeping keping di lantai museum. Kim Namjoon tersenyum, mengusap leher Seokjin yang memundurkan langkah takut. Jari jemari pria itu berbekas luka, seperti ia telah menyakiti seseorang dan melakukan banyak dosa tak termaafkan.

"Aku mengerti apa yang kau inginkan, Kim Seokjin", ujar Namjoon sembari mengusapkan jemarinya pada cairan Absinthe yang menyebar di lantai, menjilatnya seperti binatang rakus yang kelaparan. Namun, mencicipi Absinthe sama saja dengan meminum air laut.

Kau justru akan merasa semakin haus.

"Adikmu tidak akan selamat", Namjoon menyeringai ketika wajah Seokjin memucat dengan kilas rasa takut. Tidak ada yang lebih Seokjin sayangi daripada Jungkook, tidak ada yang boleh menyakitinya, tidak ada yang bisa menyentuhnya.

"Dimana adikku?!", Seokjin berteriak lirih.

"Tersesat. Tersiksa. Terjerumus ke dalam hawa dan napsu", Namjoon tertawa rendah. "Siapa yang bisa menolak godaan seperti ini, Kim Seokjin?". Seokjin menggeleng ketika Namjoon mendekatinya dengan wajah bergairah.

"Aku tidak menginginkan semua ini", Seokjin menyuara bergetar. "Aku hanya menginginkan adikku". Kim Namjoon merengkuh wajah Seokjin yang memekik takut, mendorong dadanya secepat mungkin.

"Dapat kupastikan Jungkook akan selamat", Namjoon menyeringai lebar. "Jika kau memberiku apa yang kuinginkan".

Seokjin membeku ketika Namjoon menyentuh bibirnya, perlahan, begitu menyiksa.

"Let me taste you".

Seokjin membayangkan Jungkook yang menangis, sendirian, mencari dirinya penuh dengan rasa takut. Bagaimana kalau mereka menyakitinya? Bagaimana kalau Jungkook tidak bisa menolak godaan di dunia ini?

"Kiss me on the lips", Namjoon berbisik rendah. "Deeper, and deeper".

Seokjin merasakan jantungnya berdebaran liar, jemarinya bergetar ketika ia merengkuh wajah Namjoon perlahan. Sebuah dosa yang tidak terelakkan, Seokjin akan menghancurkan dirinya sendiri.

Namun, ia akan melakukan semuanya demi Jungkook.

Meskipun ia yang harus membayarnya.

Kim Seokjin melesakkan bibirnya pada bibir Namjoon yang mendesah puas, melumatnya dengan rasa sakit, perlahan, menahan isak tangis yang nyaris pecah. Seokjin merasakan Absinthe yang mengalir pada tubuhnya, menyetrum otaknya dengan panas dan gairah.

Hold me tight and shake me.

Seokjin mencium makin dalam.

So I'll be unconscious.

Seokjin terjatuh dengan mata terpejam ketika Absinthe mengaliri darahnya seperti racun, melumpuhkan pikiran jernihnya yang mulai hilang. Kim Namjoon tertawa dingin, mengusap wajah Seokjin yang pucat, bibirnya yang terengah lemah.

Seokjin bernapas berat ketika merasakan tubuh Namjoon berada di atasnya, tangan pria yang mulai melepas pakaian Seokjin dengan rasa lapar. Seperti The Last Supper karya Da Vinci. 'Jamuan' terakhir sebelum penyaliban Yesus.

Seokjin merintih sakit ketika kelontangan sabuk Namjoon terjatuh di lantai, kejantanan pria yang mendesak miliknya secara paksa. Seokjin memberontak kuat namun pria yang berada di atasnya justru menggerayang semakin liar.

Merayap di atas tubuhnya dengan gerakan yang dipenuhi oleh kepuasan.

Seokjin terengah kaget ketika teriakan mendendang seperti pecahan kaca di sekelilingnya, menghancurkan refleksi Namjoon yang memundurkan langkah dengan teriakan sakit. Sebuah anak panah melesat diantara mereka, membebaskan Seokjin dari binatang buas yang nyaris memangsanya habis.

Seokjin berpaling kalut, melihat seorang pria dengan rambut oranye cerah, melesakkan anak panah kedua pada busur emasnya yang berkilauan seperti cahaya bintang.

God answer when you least expect it.

Pandangan Seokjin mengabur ketika pria itu menatapnya dengan lirih, mendekatinya sebelum telinga Seokjin berdenging dan cairan Absinthe kembali membawanya ke alam bawah sadar.

Park Jimin berteriak lemah, tidak dapat melihat ke sekelilingnya, hanya kegelapan dan hasrat yang menjalari tubuh lemasnya. Ia seperti seorang budak yang dikendalikan oleh hawa dan napsu. Gairah yang menyeretnya kedalam kemungkaran dan dosa.

"J‒Jungkook!", Jimin mengerang kecil, merasakan tangan Yoongi yang mengusap bibirnya pelan. "Jungkook, help me!", Jimin terisak kecil, ingin melihat pria yang dikasihinya lebih dari apa pun.

"Kau akan segera mendapatkannya, Park Jimin", Yoongi berbisik rendah. "Kau akan mendapatkan Jeon Jungkook sepenuhnya. Hanya untuk dirimu sendiri".

Jimin mematung ketika langkah kaki terdengar mendekat, diikuti dengan napas tersengal sengal seorang pria. Jeon Jungkook mengerang kecil, berusaha membuka pintu bercakar yang berada di tengah museum. Ia mendengar jeritan Jimin, teriakan tak berdaya yang mengiris hatinya.

"J‒Jimin?!", Jungkook menarik paksa pintu yang membanting terbuka, membeku ketika melihat Jimin yang berlutut dengan penutup mata mengelilingi kepalanya. Seorang pria berwajah pucat tersenyum dingin, mengusap wajah Jimin yang bernapas kasar.

"J‒Jiminie?", Jungkook hendak mendekat namun Jimin terengah engah dengan napas yang berat, suaranya terdengar begitu parau seperti binatang yang tersiksa. "…Jungkook".

I cannot worship anyone else beside you.

Jimin bangkit dengan tubuh yang goyah.

I knowingly drank from the poisoned chalice.

Min Yoongi melepas ikatan penutup mata Jimin yang tertahan di kenop pintu, mengundang erangan lirih dari bibir Park Jimin yang bernapas lapar. "J‒Jimin?", Jungkook memundurkan langkah ketika Jimin mendekatinya.

Because you're too sweet

Jungkook berteriak ketika Jimin menubruknya dengan keras. Jimin bernapas kasar, menyobek kemeja Jungkook yang menjerit ketakutan. Seperti apel yang berisi racun, Park Jimin menggigit leher Jungkook yang menangis pedih. Rasa lapar, hawa napsu, semuanya membuat Park Jimin melumat makin liar.

I want you a lot, a lot, a lot

Min Yoongi tertawa dingin ketika Jimin mengoyak seluruh pakaian Jungkook, bernapas liar ketika jemarinya menyentuh tubuh pria yang menggeliat ketakutan. Seperti memakan buah dosa yang memberinya kepuasan dan nikmat.

"J‒Jimin!", Jungkook terisak isak ketika gigi Jimin terbenam pada kulitnya, darahnya mengalir turun ketika gigitan itu bertambah keras.

Jungkook hanya mampu menangis ketika rasa sakit menyerang tubuhnya, gerakan Jimin yang mendorong masuk miliknya dan merampas kesucian Jungkook. Seperti Eve yang tergoda dengan Adam untuk melakukan dosa terbesar, membuat mereka terusir dari surga.

I can't reject anyway!

Jimin meremas seluruh tubuh Jungkook.

I can't escape anymore!

Jimin menghabisi tubuh Jungkook yang terkapar dengan air mata mengalir, tersenyum lebar ketika ia kembali menikmati dosa yang memberinya segala kepuasan. Semuanya begitu nikmat, semuanya begitu menyenangkan!

I want you a lot, a lot, a lot

Jung Hoseok terduduk membelakangi patung Virgin Mary yang mendekap Yesus di dalam riak air. Absinthe mengalir dari bola mata Mary yang terlihat kesakitan. Perlahan, tubuh Yesus pun hancur berkeping keping, termakan oleh dosa yang tidak termaafkan.

Hoseok berteriak, menyemburkan aliran air dengan jerit frustasi, menyebabkan riak air berciptratan seperti hujan asam, ia tidak bisa menyelamatkan Jimin. Ia telah gagal menghindarkannya dari hawa dan napsu.

Dan sekarang Jungkook telah terbawa bersamanya.

Jung Hoseok membiarkan lututnya terjatuh ke dalam air sedingin es, warna merah dan hijau berkilasan di sekelilingnya, menandakan dunia yang bertambah gelap dan hancur. Tugas Hoseok hanya satu, melindungi mereka dari godaan hawa dan napsu.

Menuntun mereka untuk keluar dari dunia yang penuh kejahatan.

Namun, harapan itu sudah hilang, bersama dengan Park Jimin yang memakan 'buah dosa' dan Jungkook yang 'terusir dari surga'.[]