Kenapa Gray tidak pernah peka terhadapa perasaanku? Aku menyukai Gray. Sangat menyukainya. Sejak aku melihatnya di Blacksmith, disaat ia putus asa dengan kakek dan pekerjaannya. Aku menyukainya pada pandangan pertama.
Tapi, aku tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan perasaanku. Sedikitpun tidak ada keberanian. Itulah, kelemahan terbesarku. Tidak bisa mengungkapkan yang ada di hati terdalamku, dan memilih menyimpannya selama tiga tahun lamanya.
Sampai akhirnya, Cliff mengungkapkan perasaannya padaku. Hari itu. Awal musim Fall.
"Claire.. A-Aku menyukaimu. E-eh, mungkin bukan perasaan suka lagi.." ucap Cliff terbata-bata sambil menunduk dan jelas sekali mukanya memerah.
Aku hanya terdiam. Aku tidak tahu apa yang harus kujawab.
"A-Aku mencintaimu, Claire.. Ma-Maukah kau menjadi kekasihku?" ucapnya lagi kemudian menatapku.
"A-Apa? Kekasih?" tanyaku terkejut dan menatapnya balik.
Ia mengangguk dan tersenyum kepadaku.
Aku mencintai Gray.. Hanya dia yang ada di hatiku. Hanya dia yang mengisi pikiranku setiap saat. Tapi.. Apakah Gray mencintaiku juga?
"Cliff.. Aku minta tiga hari dulu? Boleh?" tanyaku sambil tersenyum kecil.
Ia menatapku, kemudian mengangguk kecil.
.
.
.
"Gray.. Cliff menyatakan perasannya padaku," ucapku yang sedang duduk bersamanya di Mother's Hill.
"Heh?!" tanyanya yang langsung menoleh ke arahku dengan tatapan terkejut.
Aku mengangguk lemah. Kulihat Gray langsung menoleh ke arah berlainan dan tatapannya menerawang. Kami berdua pun terdiam.
Aku harus menyatakan perasaanku pada Gray, agar aku tahu jawaban apa yang akan kuberikan kepada Cliff.
Aku mulai angkat bicara. "Gray.. Apa ada seseorang yang kau sukai, sekarang?"
Ia menunduk. Cukup lama ia tidak merespon pertanyaanku. Sampai akhirnya, ia menegakkan kepalanya dan menatapku.
"Tidak.." Jawabnya singkat.
Aku merasakan air mataku mulai keluar dari pelupuk mataku. Dengan sekuat tenaga, aku menahan air mata itu jatuh.
"Oh begitu.." ucapku kemudian menunduk. "Ah, Gray. Aku pulang duluan ya! Ada keperluan hehe," ucapku berbohong kemudian berdiri dan langsung berlari menuju peternakanku tanpa menunggu respon dari Gray.
'Ternyata, memang tidak ada harapan..'
Akhirnya, setelah mendengar jawaban Gray aku menerima perasaan Cliff dan kami menjadi sepasang kekasih. Sejak itu, aku mulai merasakan keanehan pada Cliff. Ia mudah emosi jika aku hanya berbicara sedikit dengan Gray. Jika aku tidak menurutinya sedikit, ia memarahiku tanpa ampun. Tapi, setelah memarahiku, ia langsung minta maaf terus menerus sampai aku mengiyakan. Tapi, ia juga mengancamku untuk tidak memberitahu siapa-siapa jika ia sering memarahiku. Aku juga sebenarnya tidak berani, ia terlalu menyeramkan. Oke, disini aku masih memakluminya. Mungkin, caranya mengungkapkan rasa sayangnya dengan melakukan hal ini. Mungkin..
Sampai suatu saat, aku diam-diam bertemu dengan Gray tanpa sepengetahuannya. Tapi, ia mengetahuinya. Ia begitu emosi, sampai menamparku begitu keras. Tapi, setelah itu ia langsung memelukku dan meminta maaf. Aku tidak suka dipermainkan. Lama-kelamaan aku lelah. Aku harus meminta bantuan untuk membantuku mengungkapkan bahwa Cliff melakukan kekerasan kepadaku. Tapi, siapa? Gray..?
I Love You, Always
Harvest Moon by Natsume
Warning: OOC, alur berantakan, gaje, typo, dan lain-lain
Inspired by song: Nidji-Sumpah dan Cinta Matiku
.
.
Enjoy~
Thursday, 9th Winter Year 3
Aku membuka pintu Inn dengan terburu-buru dan melangkah cepat ke dalam Inn. Tanpa harus repot ke lantai atas untuk mencari Gray, aku sudah menemukannya sedang makan siang disalah satu meja di bar. Aku menoleh kiri dan kanan mencari apakah Cliff berada disana. Beruntungnya aku tidak menemukannya disana. Aku harus cepat, sebelum Cliff memergokiku.
Aku melangkah cepat mendekati Gray.
"G-Gray.. Boleh aku minta tolong padamu?" tanyaku. Tanpa sadar, tubuhku bergetar.
"Tentu.. Ada apa, Claire?" tanyanya dengan bingung.
"Tolong.. Aku.. Aku.." ucapku terbata-bata.
"Claire!" seru Cliff tiba-tiba yang menghentikan ucapanku.
'Oh.. tidak.'
Aku langsung menoleh ke arah Cliff, diikuti dengan Gray. Cliff langsung menatapku dengan dinginnya kemudian menatap Gray dan tersenyum kepadanya. Aku menoleh ke arah Gray lagi, dan menatapnya dalam-dalam. 'Gray.. Tolong aku,' ucapku dalam hati.
Kemudian, aku berjalan ke tempat Cliff berdiri. Ketika aku sudah berdiri dihadapannya, ia langsung merangkulku, dan berjalan keluar Inn tanpa sepatah katapun.
Ketika sudah di luar Inn, Cliff langsung melepas rangkulannya dan menatapku tajam.
"Apa yang kau lakukan dengannya?" tanyanya dingin.
"Hanya mengobrol sedikit," jawabku menatapnya balik dengan takut-takut.
Terlihat ia akan memarahiku dari raut wajahnya. Tapi, tiba-tiba Ann menegur kami.
"Hey! Cliff! Claire!" serunya dengan tersenyum.
Aku dan Cliff langsung menoleh ke arahnya. "Ah, hai Ann," jawabku membalas senyumnya, seakan tidak terjadi apa-apa.
Aku melirik Cliff. "Nanti malam, aku akan kerumahmu," ucap Cliff kemudian berjalan sambil menunduk meninggalkanku dan Ann.
.
.
.
"Lebih baik, aku jujur pada Cliff. Aku tidak nyaman diperlakukan seperti ini terus," ucapku pada diriku sendiri yang sedang duduk di sofa ruang tamu rumahku. Jam rumahku menunjukkan pukul 19:30.
Aku menghela nafas panjang. "Kupikir dengan berpacaran dengan Cliff, akan membuatku berpindah hati dari Gray. Tapi, perasaanku pada Gray tetap ada," umpatku.
Tiba-tiba pintuku diketuk oleh seseorang. Aku langsung berdiri dari tempat dudukku dan melangkah menuju pintu. Disana, aku mendapati Cliff yang berada dibalik pintu. Aku langsung mempersilahkannya masuk.
Ia masuk ke dalam rumahku sambil membuka jaketnya dan meletakannya di sofa ruang tamu. Setelah itu, ia langsung menatapku dingin.
"Apa yang tadi kau bicarakan dengan Gray?"
"Ha-hanya bicara tetang pekerjaan.." jawabku berbohong.
"Jujur padaku, Claire!"
Aku menelan ludah dan menarik nafas panjang, "Aku meminta bantuannya untuk membantuku mengungkapkan bahwa kau melakukan kekerasan kepadaku," ucapku akhirnya.
Terlihat sekali ekspresi wajah Cliff sangat marah. Langsung saja aku melanjutkan ucapanku, "Aku lelah Cliff. Aku lelah di permainkan olehmu. Kukira, ketika berpacaran denganmu akan membuatku melupakan Gray. Tapi, ternyata tidak berpengaruh. Aku masih mencintai Gray, Cliff!" ucapku yang mengeluarkan semua yang ada di hatiku. Untuk pertama kalinya.
Emosi Cliff sudah diluar batas, ia langsung mencengkram leherku dengan kerasnya sambil mendorongku ke dinding. Aku tidak bisa berkutik, cengkramannya sangat kuat. Aku mencoba memberikan perlawanan dengan tangan kecilku, tapi tidak berpengaruh sama sekali. Aku tidak bisa bernafas, semakin lama cengkraman di leherku makin kuat.
"Beraninya kau, Claire!" teriak Cliff.
Kesadaranku makin hilang. Tubuhku makin melemah, "Aku tidak kuat lagi. Gray.. Tolong…" ucapku tercekat, sampai akhirnya semuanya menjadi gelap. Dan dingin.
.
.
.
Aku membuka mataku perlahan, "Di-dimana aku?" ucapku sambil melihat sekitar yang masih samar-samar. Sampai kusadari, aku berada di rumahku.
Mataku membesar, ketika melihat diriku sendiri tergeletak tak bernyawa di lantai ruang tamu dan disana Cliff menatapku yang tergeletak disana dengan isakan tangis.
"C-Claire.. Ma-Maafkan aku! Ba-bangun Claire! Aku mohon!" teriaknya.
"A-Apa ini!" teriakku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.
Tapi, teriakanku tidak bisa di dengar oleh Cliff. Sekarang, aku sudah di luar tubuhku sendiri. Bisa dibilang, arwah yang tidak tenang. Tidak ada yang bisa melihatku lagi. Tidak ada.
Friday, 10th Winter Year 3
Aku melihat Cliff dari sudut kamarku. Ia sedang menatap jasadku yang sudah tidak bernyawa dan sesekali membelai wajahku. Dia sudah gila! Dia tidak memakamkanku dengan layak. Bagaimana aku bisa tenang? Aku benci dia. Aku sangat membencinya.
Aku memejamkan mataku dan merasakan air mata mengalir di pipiku. 'Gray, tolong..' Ucapku berbisik. Kemudian, aku membuka mataku dan melihat Cliff menyelimuti jasadku dari ujung kaki sampai ujung rambut dan berjalan keluar rumahku.
Aku berlari mengikutinya sambil berteriak. 'Cliff! Tanggung jawab apa yang telah kau lakukan padaku! Cliff!' Tapi, ia hanya berjalan begitu saja. Tidak mendengar apapun. Tidak ada yang bisa mendengarku. Tidak ada.
Ketika itu, Cliff berpapasan dengan Gray yang sedang berjalan menuju peternakanku. Langsung saja, aku mendekati mereka berdua yang sedang melakukan sedikit percakapan.
"A-Apa yang kau lakukan disini?" tanya Cliff sambil menatap Gray.
"Mengunjungi Claire. Memastikan apakah ia baik-baik saja," jawab Gray dan menatap Cliff balik.
"Dia baik-baik saja,"
"Bohong! Bohong!" seruku yang berdiri di antara mereka, tapi sudah pasti mereka tidak mendengarku.
"Aku ingin memastikan," ucap Gray lagi dan mulai melanjutkan langkahnya.
Tapi, Cliff langsung mencengkram bahu Gray, "Jangan pernah, dekati dia lagi."
Aku langsung bergidik melihat tingkah Cliff. Kulihat Gray, langsung menoleh ke arah Cliff. Cliff tidak memperdulikan tatapan Gray dan melenggang pergi begitu saja. Disana, Gray menatap Cliff yang menjauh dan tersenyum kecil. Aku menatap Gray, senyuman sedih terlukis di wajahnya.
Setelah itu, kulihat ia akan melangkah. Langsung saja, aku berteriak sekeras mungkin.
"Gray!"
Ia langsung menoleh mencari sumber suara, dan pastinya tidak menemukanku. Tapi, ia mendengarku! Ia mendengarku!
Setelah itu, ia mulai melangkah lagi dan berjalan ke arah Inn.
"Akan kucoba nanti malam untuk meminta bantuannya!" ucapku sambil menatapnya yang melangkah menjauh.
.
.
.
Aku melangkah di lorong Inn, menuju kamar Gray dan Cliff. Pasti Gray sedang di kamarnya sendirian, karena Cliff sedang dirumahku. Cih.
Kemudian, aku berhenti di depan pintu kamar. Apa aku akan mengetuk? Tapi, itu akan membuatnya ketakutan. Sesuatu yang mengetuk tapi tak ada wujud? Ukh, jangan bodoh Claire.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan cepat dan terlihat Gray berdiri disana dengan ekspresi yang ketakutan. Tapi, ia tidak melihatku. Setelah itu, ia mengusap mukanya dan menutup pintu kembali.
Sepertinya, ia ketakutan. Apa kehadiranku yang tak berwujud ini menganggunya? Lagipula, ia juga terlihat sangat lelah. Besok akan kucoba lagi..
Saturday, 11th Winter Year 3
Aku menunggu Gray pulang dari kerjanya di salah satu bangku Inn yang kosong. Jam di Inn menunjukkan pukul 14:00 dan Gray pulang kerja pukul 17:00.
Aku menghela nafas panjang. Masih lama.. Aku tidak tahu akan bertahan sampai kapan. Karena, tubuhku mulai memanas. Mungkin, karena jasadku yang tidak dikembalikan ke tanah dan arwahku belum tenang. Aku sangat berharap pada Gray, hanya dia yang bisa menolongku.
Tiba-tiba pintu Inn terbuka, dan kulihat Gray melangkah masuk dengan cepat dan langsung berjalan ke lantai atas, menuju kamarnya. Kulihat ia sangat kelelahan.
"Ia pulang lebih cepat?" gumamku dan langsung berlari mengikutinya ke kamar.
"Kepalaku pusing.." keluhnya sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur ketika sudah di kamarnya. Aku hanya menatapnya yang mulai tertidur lelap. Mungkin aku harus menunggu sebentar lagi..
.
.
.
'Sa-sakit.. Panas..'
Rintihku yang mulai merasakan panas yang menjalar di tubuhku. Aku menangis sesegukan di samping tempat tidur Gray.
Saat itu, Gray terbangun. Aku tidak mengerti, sepertinya ia mendengar tangisanku. Dengan cepat, aku langsung berlari ke sisi lain tempat tidurnya agar ia tidak ketakutan melihatku. Ia menoleh ke arah tempatku tadi, kemudian menghela nafas panjang. Setelah itu, ia menoleh ke arah sisi lain tempat tidurnya. Inilah kesempatanku!
"Gray! Tolong aku!" teriak dengan sebisaku di depan wajahnya.
"Waaaa!" teriak Gray yang sangat terkejut dan langsung memejamkan matanya.
"Ukh, aku tidak kuat lagi.." keluhku.
Ketika itu, dunia serasa berputar dan arwahku langsung tertarik ke suatu tempat dengan sendirinya.
Saat itu kusadari, aku berada di rumahku tepatnya di kamarku. Terletaknya jasadku berbaring dan bersama Cliff yang selalu disana.
Aku merangkak menuju sudut kamarku dan duduk meringkuk sambil memejamkan mataku menahan sakit yang ada di tubuhku, "Gray.. Kumohon.. Datanglah.."
.
.
.
"Cliff!" seru seseorang tiba-tiba. Aku langsung membuka mataku mencoba mancari asal suara.
"Sudah kubilang, jangan pernah dekati Claire lagi!" seru Cliff dengan marah.
"Gray?"
Setelah itu, lampu di kamarku langsung menyala terang dan terlihat jelas Gray berdiri disana dengan wajah yang sangat terkejut.
"Sudah kubilang, jangan pernah dekati Claire lagi!" teriak Cliff dan langsung berlari ke arah Gray dan langsung membantingnya. Saat itu juga, Cliff langsung mencengkramkan tangannya di leher Gray.
"Jangan sentuh Gray!" seruku dengan lemah tetapi apa daya karena rasa sakit yang luar biasa membuatku terjatuh ketika mencoba untuk berdiri.
Tetapi, Gray bisa melakukan perlawanan kepada Cliff. Dengan sigap Gray sudah lepas dari cengkramannya dan langsung mengambil salah satu buku yang cukup besar di rakku dan langsung memukul Cliff. Saat itu, Cliff langsung pingsan.
Gray langsung berlari ke arah jasadku, "Claire! Aku datang menolongmu! Bertahanlah!" serunya, kemudian menarik selimut yang menutupi jasadku.
Saat itu, Gray langsung terkejut melihat jasadku yang kaku dan mata yang tertutup, "Claire.." ucapnya sambil menyentuh pipiku. Kulihat Gray langsung terduduk di samping tempat tidurku dan menangis sesegukan.
"Gray.." ucapku kemudian mencoba merangkak perlahan mendekati Gray dan duduk di sebelahnya sambil menatapnya yang menangis sesegukan.
"Maafkan aku.. Aku datang terlambat, maafkan aku, aku baru menolongmu sekarang, maafkan aku, maafkan aku," ucapnya lirih di sela-sela isakannya kemudian memeluk jasadku yang terbaring disana. Aku merasakan air mata mengalir deras di pipiku ketika mendengar ucapan Gray.
Setelah itu, ia melepaskan pelukannya dan menatap diriku yang sudah tidak bernyawa. "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu," ucapnya lagi di tengah isakannya dan mencium keningku.
Aku langsung tertegun. "Gray… Mencintaiku? Dia? Mencintaiku?" saat itu juga, rasa sakit yang ada di tubuhku terangkat. Rasanya.. Bahagia juga sedih. Semua sudah terlambat. Menyesal pun tidak akan membuatku hidup kembali. Saat itu, aku merasakan kesadaranku makin menjauh dan tubuhku mulai menghilang secara perlahan. Tanpa fikir panjang, aku langsung memeluk Gray dari belakang. Aku tau, Gray tidak akan merasakannya. Tapi, aku ingin memeluknya untuk yang pertama dan terakhir kalinya.
"Aku juga mencintaimu Gray.. Sangat mencintaimu. Tapi, semuanya terlambat. Kau harus mencari wanita lain, menikahlah dengannya, dan membuat keluarga yang bahagia. Kutunggu kau di surga, dimana kita akan bertemu lagi. Terimakasih sudah mencintaiku."
'Terimakasih…'
a/n: Selesai!
Mohon reviewnya ya, butuh banget banget masukannya :'D
Thank you for reading!
