.

WAY TO HEAVEN

by : Ran Kajiura

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto, while this story and its eccentricity is mine...

Warning : AU, NaruSaku, typo—entah dimana, better not expect too much...


.

.

.

Dunia Atas.

Sebuah tempat yang tidak akan pernah bisa dicapai oleh manusia. Sebuah tempat yang eksistensinya berada di luar jangkauan pikiran manusia.

Hanya sebuah tempat yang asing, bagi manusia.

Sebenarnya, Dunia Atas adalah jawaban dari pertanyaan manusia kebanyakan yang mempertanyakan, kemana perginya mereka setelah mati. Surga kah? Atau Neraka? Hanya konsep 2 tempat itu yang diketahui kebanyakan manusia. Padahal sebenarnya, jiwa-jiwa yang telah meninggalkan raga itu dihadapkan pada dua pilihan lain, sebelum akhirnya memilih Surga atau Neraka.

Dan salah satu pilihan itu adalah Dunia Atas.

Tapi sekali lagi, tempat itu hanyalah sebuah tempat asing bagi manusia.

Warna putih banyak mendominasi Dunia Atas. Tanah berwarna putih, kayu pohon berwarna putih, burung-burung kecil berwarna putih. Bahkan langit yang menaungi Dunia Atas pun berwarna putih.

Dan di sebuah pojok kecil Dunia Atas, di atas bangku kayu berwarna putih yang dinaungi sebatang pohon maple berdaun emas (yang batangnya berwarna putih, tentunya), dua gadis tampak terlibat dalam sebuah pembicaraan yang menarik.

"T-tapi Sakura ... kalau sampai Tsunade-sama tahu, ki-kita bisa dihabisi," ujar si gadis berambut panjang gugup. Tangannya yang mungil memilin-milin ujung gaun tidur putihnya. Dia tidak sanggup membayangkan realisasi ide gila yang dicetuskan gadis di sebelahnya.

"Tentu saja Tsunade-sama tidak akan tahu kalau tidak ada yang memberitahu," jawab gadis bernama Sakura yang duduk di sebelah gadis gugup tadi. "Kau tenang saja, Hinata."

Sebenarnya, Sakura sendiri tidak tahu persentase kemungkinan mereka tidak ketahuan orang yang disebut Tsunade-sama itu. Tapi seberapa besar pun resiko yang nantinya mereka tanggung, lebih baik dicoba, kan? Toh tugas yang diberikan Tsunade-sama, sang pemimpin Dunia Atas itu benar-benar konyol, jadi kemungkinan besar hukuman yang nanti diterima jika ketahuan juga tidak akan terlalu berat. Paling hanya menyusahkannya sedikit.

"Kumohon, Hinata..." Sakura berbalik menghadap sahabatnya yang berambut panjang itu sambil memainkan ekspresi memohon terbaiknya. Ia tahu Hinata lemah terhadap jurusnya yang satu itu. "... sekali ini saja. Aku akan membereskan chambermu sebagai imbalannya."

Hinata memandang Sakura nanar. Ia sudah tidak mungkin menolak Sakura lagi, sekalipun tanpa tawaran membereskan chamber—atau kamar—itu. Ia tahu pasti akhirnya akan jadi begini. Tapi Sakura tidak bisa disalahkan juga. Tsunade-sama seharusnya tahu kalau tugas seperti itu memang tidak cocok untuk Sakura.

"Ba-baiklah Sakura..." ujarnya, diikuti helaan nafas panjang. 'Selalu saja berakhir begini kalau dengan Sakura.'

Ekspresi bahagia menggantikan ekspresi memelas yang sejak tadi bermain di wajah Sakura. "Terima kasih, Hinata. Nanti detail tugasnya aku antar ke chambermu." Sakura kemudian beranjak berdiri dan mulai berjalan menjauhi Hinata. "Sampai nanti."

Hinata masih mematung dalam posisi duduknya. Membayangkan apa yang mungkin terjadi dalam hidupnya setelah menerima tawaran Sakura.

Sementara Sakura sendiri berjalan sambil tersenyum. Dia tahu Hinata paling bisa diandalkan untuk masalah seperti ini. Sejenak dia berhenti dan berpikir, apa dia sudah keterlaluan memaksa Hinata? Bagaiamana jika saat mengerjakan tugas yang ia gantikan, Tsunade-sama mencari Hinata untuk mengerjakan tugas lain, dan tidak menemukan gadis itu di chambernya?

'Ah, tidak akan seperti itu. Tsunade-sama tidak mungkin mencari Hinata sampai ke chamber segala,' Sakura mencoba menghibur dirinya sendiri.

Pikirannya kembali melayang di kejadian tadi pagi, saat Tsunade-sama memanggilnya.

"Sakura, aku menugaskanmu untuk turun ke bumi, menyelidiki seseorang, lalu memberi laporan selengkap-lengkapnya padaku tentang orang tersebut," suara Tsunade mengeluarkan pernyataan yang sukses membuat mata Sakura membulat seketika.

'Astaga, tugas macam apa itu? Memata-matai seseorang?' batin Sakura

"T-tapi, bukankah kata Shizune-san aku akan diberi tugas penting, Tsunade-sama?"

"Itu tugas pentingmu," jawab Tsunade dengan suara sedikit meninggi. 'Anak ini, masih saja menganggap remeh tugas seperti ini'.

"Kau tahu kan, persentase angka kematian manusia akhir-akhir ini semakin buruk. Sepertinya mati bunuh diri sudah jadi tren sekarang. Dan sekarang, Dunia Bawah nampaknya lebih digemari daripada Dunia Atas. Keh, apa sih yang ada di otak makhluk-makhluk itu?" Tsunade menghela nafas sebentar. "Dan tugasmu kali ini akan membantuku memperbaiki mengubah tren yang aneh itu."

"Memangnya apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki persentase itu, Tsunade-sama?"

"Karena sebentar lagi aku tidak akan menjadi pemimpin Dunia Atas, aku harus memastikan penggantiku selanjutnya bisa mengatasi masalah ini, Sakura. Dan aku baru saja mendapatkan nama kandidat calon penggantiku itu dari Kami-sama. Dan tugasmu, adalah menyelidikinya dan memastikan kalau ia adalah manusia yang pantas menggantikanku."

Sakura menyimak baik-baik penjelasan Tsunade barusan. Tugasnya memang tidak berat, tapi ini bukanlah tugas kesukaan Sakura. Dia lebih memilih mengatur jalannya cuaca atau mengurus kematian hewan. Memata-matai manusia bukanlah tugas idamannya.

Sakura pun segera berpikir. Mencari alasan yang cukup bagus agar wanita yang ada di hadapannya ini menarik kembali keputusannya.

"Bukankah untuk tugas seperti itu, biasa dikerjakan oleh malaikat lain, Tsunade-sama?" jawabnya takut-takut. "Saya rasa Tenten lebih handal untuk tugas seperti itu. Hasilnya pas—"

"Hanya kau yang bisa mengerjakan tugas ini, Sakura!" potong Tsunade dengan nada membentak. "Bersiaplah, lusa kau akan mulai menjalankan tugasmu," tambahnya. "Dan aku tidak mau mendengar penolakan lagi!"

Kalimat barusan sukses membuat Sakura bergidik ketakutan. Setelah memohon diri dari tempat itu, ia segera mencari akal.

"Huh, tapi sekarang itu sudah bukan masalah lagi, bukan?" senandungnya.

.

.

Tok Tok Tok

Sakura terlonjak mendengar pintu chambernya diketuk. Pikirannya sukses teralih dari buku bacaan super tebal yang sejak tadi dibacanya ke pintu chamber yang tengah terbuka lebar. Matanya menangkap sosok Hinata yang berdiri di daun pintu.

"Sakura, aku pamit dulu ya."

Sakura bergegas menghampiri Hinata. "Sekali lagi, maaf merepotkanmu ya, Hinata," ujarnya sambil memeluk Hinata.

"Kau sudah me-memastikan kalau Tsunade-sama tidak akan mengantarkan ke-kepergianku, kan?" tanya Hinata gugup.

Sakura menggeleng. "Hari ini dia sibuk. Kurasa dia sendiri pasti lupa kalau aku seharusnya pergi hari ini."

Keduanya lalu berjalan menuju pintu gerbang bersama. Dan setelah melepas kepergian Hinata, Sakura berbalik dan berjalan kembali menuju chambernya. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah, sebisa mungkin menghindari Tsunade-sama , menunggu Hinata pulang, dan menyalin laporan yang dibuat Hinata untuk kemudian dilaporkan kepada Tsunade-sama.

.

.

Hinata mengedarkan pandangannya sejenak, menatap halaman sebuah rumah sederhana yang terlihat sepi penghuni di hadapannya itu. Langit malam yang gelap di bumi tidak menghalanginya membaca tulisan "UZUMAKI" yang menandakan kalau dia tidak salah alamat. Dilihat dari luar rumah, hanya 1 ruangan yang lampunya masih menyala. Lampu ruangan yang berada di beranda lantai 2. Pasti itu kamar tempat orang yang akan diselidikinya.

Matanya kembali membaca gulungan perkamen yang dibentangkan oleh tangan-tangan mungilnya. Membaca kata-kata yang tertulis disana berulang kali. Memastikan tidak ada yang terlewat oleh matanya.

"Uzumaki Naruto. 21 tahun. Rambut jabrik berwarna kuning. Ada 3 garis di masing-masing sisi wajah. Bola mata berwarna biru." Hinata terdiam sejenak. "Seharusnya tidak banyak orang Jepang dengan ciri seperti itu."

Hinata lalu melangkah maju—bukan, melayang lebih tepatnya—ke arah rumah yang sejak tadi dipandanginya. Dengan mudah ia menembus pagar pendek tua berwarna hitam yang biarpun sudah lama, namun kelihatan kokoh membentengi rumah tersebut. Bagaimanapun juga, dia kan seorang malaikat. Berjalan normal seperti layaknya manusia biasa pasti akan memakan waktu.

Dia—lagi-lagi—menembus pintu depan dengan mudah. Dan seperti dugaannya, malaikat berambut gelap itu mendapati ruang keluarga, gelap gulita. Dia melayang perlahan menuju ruang yang dibatasi sekat dengan ruang keluarga tersebut, yang ternyata adalah dapur.

Hinata terkejut bukan main. Pemandangan yang tersaji di hadapannya adalah pemandangan yang baru sekali itu tersaji di matanya. Bagaimana tidak, ruangan yang paling disukainya ketika ia berkunjung ke rumah manusia ternyata bisa sehancur itu. Bekas ramen tersebar dimana-mana seakan sang penghuni rumah tidak mengenal benda bernama tempat sampah. Wastafel penuh dengan mangkuk dan sumpit bekas dengan genangan kuah ramen.

"Astaga ... apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apa si Naruto ini baru saja perang ramen dengan temannya?" Hinata menggeleng kepalanya, masih tak percaya dengan keadaan dapur tersebut.

Perlahan Hinata membungkuk dan mencoba menggapai cup ramen bekas yang teronggok di dekat kakinya. Tapi sia-sia. Cup ramen itu tak bergerak dari tempatnya seakan Hinata tidak pernah mencoba meraihnya.

"Ah, aku lupa. Tugasku kan hanya menyelidiki Uzumaki Naruto. Tentu saja aku tidak bisa membereskan dapurnya karena ... memang bukan itu tugasku." Hinata kembali menegakkan punggungnya.

Hinata kembali mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling bagian dalam rumah itu dan menemukan sesuatu yang sejak tadi dicarinya. Tangga kayu menuju lantai 2 rumah itu.

Dia melayang perlahan dan mendapati 2 ruangan yang saling berhadapan di lantai 2. Dari celah bawah pintu, Hinata tahu bahwa kamar yang ada di sebelah kirinya pasti berpenghuni, mengingat hanya kamar itu yang celah bawah pintunya membiarkan sepilas cahaya merembes keluar kamar.

Ragu-ragu Hinata kembali menembus pintu kamar tersebut. Setelah matanya beradaptasi dengan cahaya yang bermain di ruangan tersebut, Hinata mendapati seorang pemuda sedang berkutat di meja belajar dengan beberapa buku terbuka di hadapannya. Ciri-cirinya sama persis seperti yang dituliskan Tsunade-sama di gulungan.

Pemuda tersebut terlihat sibuk menulis sesuatu. Sesekali ia menggaruk kepalanya yang, Hinata pikir, mungkin tidak gatal.

Hinata melayang perlahan mendekati pemuda tersebut, yang tentunya tidak disadari pemuda itu. Di dinding, tepat di hadapan pemuda tersebut, terdapat sebuah papan sterofoam tempat pemuda itu menempelkan banyak memo pengingat.

Mata Hinata sedang membaca kertas bejudul JADWAL KULIAH ketika tiba-tiba pemuda tersebut mengeluarkan keluhannya. "Kenapa deadline pengumpulan essainya harus dimajukan 1 hari 'ttebayo! Aku kan jadi tidak bisa tidur lebih cepat..." rutuk pemuda bernama Naruto itu.

Hinata membaca judul essai yang tengah digarap Naruto. 'Penyimpangan dan Pelanggaran HAM. Anak ini belajar hukum rupanya. Dia mau jadi pengacara ya?' batin Hinata. Matanya kembali beralih ke papan sterofoam. Sepertinya papan sterofoam terlihat lebih menjanjikan informasi tentang pemuda ini dibandingkan mengamati kelakuannya yang aneh selagi mengerjakan essai.

Mata Hinata tertumbuk pada kalimat di sebuah kertas yang tertancap di ujung kanan strefoam tersebut. Isinya seperti surat pemberitahuan kelulusan. Hinata berulang kali membaca kalimat "Selamat datang dan selamat bergabung bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Departemen Kriminologi Universitas Konoha. Kami menantikan partisipasi saudara/i untuk mengembangkan ilmu bersama segenap civitas akademika..."

"Departemen Kriminologi? Anak ini mau jadi polisi?" gumam Hinata.

Matanya lalu kembali membaca kertas post-it berwarna kuning dengan tulisan besar yang berbunyi "Essai HAM, Jumat dikumpul. Kalau tidak Iruka-sensei akan mengamuk." Hinata tersenyum kecil. 'Hm, pasti ini yang membuatnya kelabakan.'

Hinata melanjutkan membaca. Kali ini matanya tertumbuk pada kalender tulisan tangan yang hanya terdiri dari hari saja, tanpa tanggal sama sekali. Di kolom Senin, Kamis, dan Jumat, Hinata menemukan kata-kata "Kantor Polisi". Sementara di kolom Selasa dan Rabu, Hinata menemukan kata-kata "Latihan Basket 4 p.m". Dan di kolom Sabtu dan Minggu, Hinata menemukan kata-kata "berkeliling Konoha".

"Rutinitasnya seperti rutinitas kebanyakan pemuda seusianya," ujar Hinata. "Apa yang membuatnya pantas menggantikan Tsunade-sama? Yah, kecuali kata-kata kantor polisi tadi, pemuda ini nampak biasa-biasa saja."

Hinata melihat ruangan di sekelilingnya. Matanya terhenti pada sebuah pajangan berpigura. Hinata mendekati pajangan tersebut dan menyadari isinya. Potongan-potongan kertas koran dengan artikel yang menjelaskan suatu kejadian.

KECELAKAAN TRAGIS MERENGGUT NYAWA SUAMI ISTRI NAMIKAZE

Hinata memandangi dua foto yang berada di bawah judul artikel tersebut. Yang satu menunjukkan sebuah mobil yang hancur dengan kondisi mengenaskan. Dan yang satu lagi menunjukkan foto dua orang pria dan wanita, yang nampaknya adalah suami istri Namikaze.

Meskipun fotonya berwarna hitam putih, Hinata cukup yakin kalau suami istri Namikaze itu adalah orang tua Naruto. Biarpun diantara keduanya tidak ada yang memiliki 3 garis di masing-masing pipinya, garis wajah jenaka Nyonya Namikaze dan senyum hangat Tuan Namikaze jelas menurun pada bocah yang saat ini tidak menyadari kehadirannya itu.

Matanya menyusuri kalimat artikel dibawah gambar tersebut.

"... Penyebab kecelakaan tersebut diduga akibat si pengendara mobil, Namikaze Minato, tengah dalam keadaan mengantuk..."

"Ah, kecelakaan lalu lintas biasa rupanya. 18 tahun yang lalu ya? Ia pasti hidup sendiri. Pantas saja dapurnya seperti itu," gumam Hinata. Ia berbalik dan memandangi punggung pemuda yang masih berkutat dengan essainya itu. "Eh, lalu siapa yang mengajarinya bertahan hidup kalau begitu?"

Setelah memandangi punggung pemuda itu sesaat, Hinata memutuskan mencari informasi lain tentang Naruto di kamar pemuda itu dilanjutkan esok hari, saat pemuda tersebut sedang tidak di rumah. Sekarang ia akan mencari hal lain di ruangan lain, selain kamar pemuda tersebut.

Hinata melayang menembus 2 pintu sekaligus, berniat menyelidiki kamar yang ada tepat di seberang kamar Naruto. Dan yang didapatinya hanyalah kamar penuh debu yang nampaknya sudah lama tak digunakan. Kasurnya ditutup plastik super besar.

Hinata lalu melayang kembali ke ruang keluarga. Ruang yang pertama kali dilewatinya. Hinata melihat-lihat foto yang tergantung di dinding seakan memandang galeri foto sebuah pameran. Ada foto pernikahan pasangan Namikaze, foto keluarga Namikaze dengan Naruto yang ada di gendongan Nyonya Namikaze. Lalu ada juga foto seorang pria berambut putih yang tersenyum lebar sambil memegang sebuah novel. "Ah, kalau pria ini masih hidup, mungkin dia yang mengajari Naruto bertahan hidup," gumam Hinata.

Hinata memandangi foto-foto itu cukup lama sampai akhirnya ia terkejut karena jam antik besar yang ada di ruang keluarga rumah itu berdentang keras. Hinata menoleh ke arah jam itu dan menyadari bahwa ternyata sudah larut malam.

"Oh, mungkin sekarang dia sudah tidur," ujar Hinata sambil melayang cepat menuju kamar Naruto. Dan dengan anggun, dia kembali menembus pintu kamar Naruto.

Dan benar saja. Pemuda itu sudah tergeletak di tempat tidurnya dengan sebuah buku menutupi wajahnya. Hinata perlahan menghampiri meja belajarnya yang sudah rapi meskipun dipenuhi banyak buku. Dipandangnya sampul buku berjudul STRATEGI PENCEGAHAN KEJAHATAN Vol. 2 yang menutupi wajah pemuda itu.

Tak berapa lama, Naruto bergerak sehingga buku tersebut jatuh ke lantai, menyebabkan debaman yang cukup keras. Tapi rupanya, debaman tersebut tidak mampu menarik pemuda itu dari alam bawah sadarnya. Dia tertidur sangat pulas.

"Dia pasti sangat kelelahan," ujar Hinata seraya berbalik menghadap ke meja belajar Naruto. Mata Hinata menangkap sebuah foto yang terpajang di meja belajar Naruto. Foto pria rambut putih yang fotonya Hinata lihat di ruang keluarga tadi sedang merangkul Naruto yang sedang tersenyum lebar. Pemandangan sebuah pemandian air panas melatari foto tersebut.

Foto tersebut nampaknya diambil sekitar beberapa tahun yang lalu. Belum terlalu lama, sehingga menguatkan dugaan Hinata bahwa pria itulah yang merawat Naruto sepeninggal kedua orangtuanya.

Hinata lalu beralih membaca essai yang sejak tadi dikerjakan Naruto. Semakin lama ia membaca, kerutan di keningnya semakin bertambah.

"Yah, sekalipun aku tidak mengerti apapun yang kau tulis ini, Naruto, tapi aku yakin kau pasti dapat nilai bagus untuk essaimu ini," ujar Hinata, masih sambil membolak-balik essai Naruto.

Hinata mengalihkan perhatiannya dari essai Naruto saat ia mendengar pemuda berambut pirang itu bergumam.

"Sa-ku-ra-chaaan..."

Hinata terkejut bukan main.

'Apa yang diucapkannya barusan? Sakura-chan?'

"Sakura-chan..." gumam Naruto lagi. Kali ini lebih jelas.

Hinata tiba-tiba teringat seseorang. Seseorang yang sedikit banyak telah membuatnya berada di tempat ini saat ini. Malaikat dengan mulut paling persuasif yang pernah dikenalnya, Sakura.

"Ti-tidak mungkin. Ma-mana mungkin a-anak ini mengenal Sakura. Ha-hanya kebetulan, pa-pasti hanya kebetulan di-dia menggumamkan nama Sakura," Hinata sibuk menepis pikirannya sendiri.

"Se-sebaiknya aku lanjutkan besok saja." Hinata lalu beranjak dari kursi belajar Naruto dan melayang menuju ruang keluarga. Ia membaringkan tubuhnya di atas sofa keluarga yang nyaman dan sekejap kemudian matanya terpejam.

.

.

Hinata terbangun saat ia mendengar suara tangga yang dituruni tergesa-gesa. Matanya segera mendapati sosok Naruto yang sibuk mengancingi kemeja dengan tas ransel yang tersampir di bahu. Pemuda itu dengan sigap menuju dapur, dengan lincah melewati sampah-sampah bekas ramen yang dikonsumsinya, dan dengan gerak cepat meraih handle kulkas, membukanya, meraih susu sapi kotakan, meneguknya tergesa-gesa, mengembalikan susu kotak tersebut, menutup kulkas, kembali meloncati dapurnya dengan lincah dan tiba di ruang keluarga dengan selamat.

Hinata tersenyum melihat pemandangan tersebut. "Benar-benar pemuda yang aneh."

Pemuda itu melangkah keluar rumah dengan langkah penuh ketergesaan. Bau jeruk yang menyegarkan menyapa penciuman Hinata saat pemuda itu melangkah melewatinya yang tengah berdiri di samping sofa ruang keluarga sambil mengamati tingkah Naruto yang menurutnya cukup ajaib itu.

"Itte kimasu!" teriak Naruto dengan penuh semangat. Hinata yang tadinya berniat beranjak, menoleh sesaat ke arah pemuda tersebut. Sebuah senyum terkembang di bibirnya.

"Itte rassahai, Naruto-kun."

.

.

Sudah hari ketiga semenjak kedatangan Hinata di kediaman keluarga Namikaze. Dan harus Hinata akui, ini adalah salah satu pengalamannya yang paling menakjubkan selama ia menjadi malaikat. Yah, siapa sangka pemuda yang harusnya bukan tanggung jawabnya ini ternyata bukan pemuda biasa.

Pemuda itu tinggal seorang diri. Dan tentunya ia menghidupi dirinya sendiri seorang diri dengan menjadi seorang asisten seorang komisaris kepala kepolisian. Yah, cocok juga, mengingat pemuda itu toh nantinya akan banyak berkecimpung di dunia kriminal.

Pemuda itu juga mati-matian mempertahankan beasiswa yang didapatnya. Dengan 2 cara. Belajar sekeras yang ia bisa dan terus menambah prestasi olahraga kampus lewat cabang olahraga basket. Pemuda itu tidak bisa dikatakan jenius dalam bidang akademis. Tapi dia jelas menunjukkan determinasi yang cukup kuat untuk terus maju. Dan dia juga forward yang cukup handal.

Sejak awal Hinata memang tidak mengangap remeh pemuda yang saat ini sedang asik menikmati sarapannya di meja makan yang sudah terlihat agak rapi. Namun ia sendiri tidak menyangka bahwa pemuda seperti inilah yang nantinya menjadi pengganti Tsunade-sama . Diam-diam ia menaruh rasa hormat yang begitu besar dalam diri pemuda itu.

Saat ini Hinata sudah selesai menulis laporannya mengenai Naruto dan memandangi pemuda itu dari ruang keluarga.

Naruto beranjak dari tempat duduknya di dapur menuju wastafel untuk mencuci piring dan gelas bekas makan paginya. "Yosh! Aku pergi ke ATM dulu untuk transfer uang buat Konohamaru, baru setelah itu ke rumah sakit 'ttebayo!"

"Eh, Konohamaru? Rumah sakit? Bukannya hari ini jadwalnya untuk berkeliling Konoha?" Hinata bertanya-tanya. Seingatnya, jadwal weekend Naruto yang tertulis di kertas jadwalnya adalah "berkeliling Konoha". Tapi Hinata tidak bisa bertanya lebih lanjut, mengingat dia tidak bisa berkomunikasi dengan Naruto dan Naruto sendiri tidak bisa melihatnya.

10 menit kemudian, Hinata melayang berdampingan dengan Naruto yang mengayuh sepedanya menuju ATM. Setelah menyelesaikan urusannya dengan mesin ATM, Naruto malah mengayuh sepedanya menuju sebuah rumah sakit.

"Ara! Naruto-kun," sapa seorang perawat saat Naruto melewati pintu masuk rumah sakit. "Mau mengambil peralatan?"

"Ah, bibi Kurumi! Iya, aku mau mengambil peralatan biasa 'ttebayo," jawab Naruto diikuti cengiran lebarnya.

Hinata akhirnya mengerti peralatan yang sejak tadi dibicarakan Naruto dan perawat tadi. Ia yang sedari tadi hanya menunggu Naruto di pintu masuk rumah sakit melihat sebuah yang dijinjing Naruto. Kotak P3K. Lalu apa hubungannya kotak P3K ini dengan berkeliling Konoha?

Sekeluarnya Naruto dari gedung rumah sakit, ia membawa sepedanya ke arah yang berlawanan dengan rumahnya. Kali ini Naruto mengayuh sepedanya lebih santai, tidak terburu-buru seperti biasanya. Pemuda itu sibuk mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Seperti mencari sesuatu.

Naruto menghentikan sepedanya saat melihat seorang anak laki-laki yang duduk menangis di taman kota. Dengan segera, ia membawa kotak P3K yang tadi diambilnya dari rumah sakit dan menghampiri bocah tersebut.

Dengan telaten, Naruto mengobati lutut bocah tersebut yang terluka. Dan dari caranya mengobati luka tersebut, Hinata berkesimpulan kalau pemuda ini sudah terbiasa melakukannya.

"Ne, Naruto nii-chan... " Naruto mengalihkan perhatiannya dari luka anak itu ke wajahnya, menunggu anak itu melanjutkan kalimatnya. "... aku merindukan Sakura nee-chan."

Naruto tersentak. Hinata mengamati air muka Naruto yang mendadak berubah sendu. Sejurus kemudian, Naruto tersenyum membalas ucapan anak itu.

"Aku juga merindukannya, Naoki."

Aku sangat merindukannya. Melebihi apapun...

.

.

Hinata menyelesaikan laporan terakhir mengenai pengamatannya tentang Uzumaki Naruto. Kalau beberapa hari yang lalu ia hanya sekedar mengagumi pemuda itu, sekarang ia menjadi PENGGEMAR BERATnya. Ia sendiri agak kecewa mendapati masa kerjanya yang sebentar lagi berakhir. Sedikit banyak ia harus berterima kasih pada Sakura. Kalau bukan karenanya, ia tak akan pernah mengenal Naruto.

Sesaat sebelum menjauhi pagar kediaman Uzumaki, Hinata berbalik sejenak. Menikmati pandangan terakhirnya pada bangunan tersebut.

"Itte kimasu, Naruto-kun. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi lain waktu. Benar-benar 2 minggu yang menyenangkan."

Hinata melanjutkan perjalanannya. Kembali ke Dunia Atas, dunianya.

.

.

Sakura memandangi perkamen-perkamen coklat yang tersebar di mejanya. Kerutan-kerutan di dahinya menandakan betapa kerasnya saat ini dia berpikir. Sesekali, dia terlihat menuliskan sesuatu di perkamen coklat lainnya.

"Pemuda macam apa sih, si Naruto ini. Masih ada ya makhluk seidealis ini di muka bumi?"

Sakura benar-benar tak habis pikir mengenai pemuda bernama Uzumaki Naruto. Dia pikir, pemuda seperti itu hanya ada di cerita fiktif buatan manusia. Siapa sangka, ternyata manusia seperti itu masih eksis.

Sedikit sesal terbersit di hati Sakura. Dia jadi ingin melihat sendiri pemuda bernama Naruto yang berhasil membuat Hinata naksir berat. Ya, bola mata emas Hinata yang tak berpupil itu terlihat berbinar-binar dan pipi putihnya terlihat bersemu saat menceritakan sedikit tentang Naruto. Pemuda itu jelas berhasil mencuri hati Hinata.

Selesai mengirim laporannya ke kantor Tsunade-sama, Sakura merebahkan dirinya di kasur. Memejamkan matanya perlahan, sampai ia tak sadarkan diri.

.

.

Hinata berbaring di kasurnya. Mengingat apa yang terjadi seharian. Sesampainya ia di Dunia Atas, ia segera bergegas menuju chamber Sakura. Ketika Sakura bertanya tentang Naruto padanya, tiba-tiba ia rasakan wajahnya memanas. Ia bingung, mau menceritakan Naruto dari mana.

Akhirnya, kata-kata yang keluar dari mulutnya malah, "Na-naruto-kun ... ke-keren."

Benar-benar kata-kata yang tidak keren.

Wajah Hinata tambah memanas setelah mendengar Sakura bertanya, "Kau menyukainya Hinata?" yang dengan segera dijawabnya dengan gelengan cepat.

Benar-benar jawaban yang tidak keren.

Dan Sakura menaikkan sebelah alisnya melihat jawaban Hinata.

"Su-sudahlah, Sakura. Se-sebaiknya kau segera menyalin la-laporan yang kubuat da-dan mengantarnya ke kantor Tsunade-sama."

Hanya itu yang bisa dikatakan Hinata agar bisa mengalihkan perhatian Sakura.

Dan sesaat sebelum ia meninggalkan chamber Sakura, dia malah mengucapkan terima kasih. Awalnya Sakura menaikkan sebelah alisnya lagi, lalu sejurus kemudian dia tersenyum dan berkata, "Tidak, seharusnya aku yang berterima kasih, Hinata. Terima kasih ya."

Ingatannya beralih pada sebuah nama. Fugaku Uchiha. Pria setengah baya yang menjadi atasan Naruto, Inspektur Kepolisian Kota Konoha. Entah mengapa nama pria itu begitu familiar di telinga Hinata. Padahal, ini pertama kalinya Hinata melihat pria itu. Dalam tugas-tugas sebelumnya yang mengharuskan Hinata pergi ke bumi, malaikat itu tidak pernah bertemu dengan pria itu.

Hinata terus memaksa mengingat sesuatu tentang pria bernama Fugaku Uchiha itu, sampai tanpa sadar ia terlelap.

.

.

Shizune benci pagi hari. Saat dimana ia harus memulai hari yang menyibukkan bersama Tsunade-sama. Bukan berarti dia membenci wanita pemimpin Dunia Atas itu, bukan. Ia hanya tidak begitu menyukai kondisi dimana ia terpaksa meninggalkan chambernya yang nyaman dan pergi terburu-buru ke kantor Tsunade -sama.

Dan saat ini, malaikat berambut pendek berwarna hitam itu melangkah tergesa menuju ruangan sang pemimpin karena mendengar teriakan menggema.

Teriakan yang menandakan bahwa sesuatu telah merusak mood sang pimpinan.

"A-anda memanggil saya, Tsunade-sama?"

Benar saja. Setelah ia membuka pintu kantor Tsunade, ia mendapati raut murka dari sang pemimpin menyambutnya. Dengan cepat, ia menghampiri sang pemimpin yang tengah duduk di belakang meja kepemimpinannya.

"PANGGIL SAKURA DAN HINATA KEMARI! CEPAT!"

"Ha-hai," jawab Shizune dan segera melangkah ke luar. Berusaha secepatnya menghilang dari hadapan sang pemimpin.

"Anak itu ... berani-beraninya ia membohongiku..."

.

.

.

つづく


Glossary

Itte kimasu = saya berangkat; saya pergi dulu

Itte rassahai = selamat jalan

forward = salah satu posisi dalam olahraga basket. biasanya tugasnya memberikan serangan ke daerah pertahanan lawan


*sigh*

Harusnya bisa update beberapa hari setelah Prologue publish, tapi ternyata ngga bisa. Kacamata saya rusak berat, jadi mesti nunggu dapet yang baru dulu, baru bisa lanjutin. (alasan picisan, I know..)

Makasih banyak buat reviewer Prologue: Natsu D. Luffy, Kaguya Hitsugaya, Yashina Uzumaki, Jimi-li, Kazahana Miyuki, Wi3nter, Jielly N.S, Alp Arslan no Namikaze. Saya sayang kalian semua... (loh?)

Soal mata emas, emm ... saya ngga komentar dulu, boleh ya? Saya biarkan itu jadi keanehan cerita ini saja. Sebenernya saya tahu kok Sakura itu matanya warna ijo (that's why I like her, actually. I envied her amazing green eyes..), tapi pengen iseng bikin doi matanya warna emas. Maafkan imajinasi saya yang keterlaluan ini, yaaa.. Mudah-mudahan berubahnya warna mata salah satu chara ngga berdampak pada OOC.

Reviewnya masih dan akan terus saya tunggu, minna-san... :*

xoxo

Ran Kajiura