Disclaimer: Don't like Don't Read, semua milik orang tua masing masing saya di sini hanya meminjam nama.

Jadi bagi yang tidak suka mohon menjauh, ide cerita ini begitu aneh dan sesuka hati author. Dan hal ini murni Imajinasi ya. Kita bebas berimajinasikan jadi bagi kalian sudah di peringatkan jangan salahkan authornya ya.

Ada beberapa adegan yang tidak pantas, di dalamnya jika di baca anak di bawah umur,Kata kata frontal dan vulgar, jadi Linie harap kalian jangan nyalahin linie ya.

Disclaimer : Jungwoo tidak pernah bermimpi jatuh cinta pada pemuda brengsek macam Lucas yang telah memiliki kekasih. Bahkan dengan tidak tau malu dan gilanya dia merengek pada sang Appa untuk mengikat Lucas dengan pertunangan mereka.

Wajah polos dan rengekan manja yang seringkali terlontar dari bibirnya hanya sebuah topeng untuk menutupi seberapa berbahaya dan liciknya Kim Jungwoo sebenarnya.

Lucas memang brengsek, dia bahkan memaksa melakukan sex dengan Jungwoo. Memanfaatkan kepolosan dan cinta Jungwoo padanya. Menjadikan pemuda itu seperti boneka sex. Tanpa tau jika Jungwoo lah yang merencanakan semuanya.

Salahkan saja Lucas Wong yang membuat Jungwoo tidak bisa berpaling dan jatuh begitu dalam pada pesonanya. Jadi jangan membencinya yang menggunakan segala cara agar Lucas balik mencintainya. Termasuk jika harus membuat Lucas sendirilah yang menyingkar Nari tanpa susah payah mengotori tangannya.

.

.

.

.

Ini sudah terhitung ke sekian kalinya Jeno menemukan sang kekasih berciuman panas dengan orang lain yang tidak di kenalnya sama sekali. Awalnya Jeno hanya ingin mengajak sang kekasih pulang, setelah dia mengetahui info dari pelayan pribadi keluarga Na. Jika sang tuan muda kembali bermain di club malam.

Wajah Jeno mengeras dengan rahang saling terkatub rapat. Geraman marah keluar dari bibirnya, sesaat kemudian tanpa bisa di kontrol Jeno segera menarik Yeoja yang berada di pangkuan Jaemin kasar. Dan tanpa basa basi di pukulnya wajah Jaemin hingga membuat sang empunya nama jatuh tersungkur ke atas meja yang di penuhi minuman. Mengabaikan expresi kaget dari semua teman teman Jaemin yang menatap Jeno.

"JENO KAU-"awalnya Jaemin ingin berteriak marah, begitu tau orang yang memukulnya secara tiba tiba adalah sang kekasih. Namun saat melihat wajah marah Jeno amarah Jaemin langsung lenyap.

"Untuk berapa kali lagi aku bersabar Na? Kau pikir aku tidak bisa mencium atau bahkan melakukan sex bersama orang lain. "Bentak Jeno marah, dia bahkan kini telah mencengkram kerah Jaemin kasar.

"Jeno a-"suaranya langsung tercekat begitu menatap sepasang mata Jeno yang begitu marah, kecewa, dan merasa terkhianati.

"Jika kau seperti ini terus, maka jangan berani lagi melarang orang lain agar dekat denganku. Aku bahkan tidak bisa melarangmu melakukan sex dengan siapapun. Padahal status kita sepasang kekasih. Berhentilah membuatku muak dengan segalanya, atau aku sendiri yang nantinya akan meninggalkanmu. "untuk pertama kalinya semua teman Jaemin melihat Jeno berani mengambil tindakan tegas seperti ini. Wajah datar dengan mata tajam yang penuh amarah, dan aura mendominasi darinya. Mampu membuat siapapun merasa terintimidasi, begitupun Jaemin yang hanya bisa terpaku di tempatnya. Dia bahkan tidak juga bergerak saat Jeno mulai meninggalkannya sendiri. Hingga Ten menepuk pelan pundaknya.

"Kau bilang sangat mencintainya kan. Sebaiknya hentikan semua sikapmu selama ini, atau Jeno akan pergi sebagaimana semua orang yang bersamamu selama ini. "nasehat Ten bijak. Sekilas matanya melirik ke arah Mark yang melihat seluruh kejadian itu dengan datar dan tidak perduli. Tapi siapapun di sana tau jika pemuda itu juga merupakan salah satu masa lalu Jaemin yang lebih memilih menyerah karena lelah, tidak bisa mengekang sang pemuda.

"Kau mungkin tidak sadar, tapi aku bisa pastikan jika orang yang paling gila dari perpisahan kalian pasti dirimu Nana. Sadar tidak sadar, sikapmu ketika melihat orang lain berada terlalu dekat dengan Jeno saja sudah sangat berlebihan. Atau bisa di bilang kau nyaris membuat mereka mati di tanganmu. Hanya saja tidak kah kau tau? Dirimu saja yang mendapati Jeno sekedar dekat dengan orang lain yang bahkan tidak memiliki hubungan apapun telah semarah itu. "Taeyong menjeda sebentar perkataannya untuk memastikan Jaemin memahami semua nasehatnya.

"Lantas bagaimana perasaan Jeno ketika melihatmu melakukan sex bersama orang lain. Dia bahkan tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikanmu. "Lanjut Taeyong dengan tatapan menghakimi.

"Dia tidak akan meninggalkanku hyung. Karena aku tau seberapa cintanya dia padaku. "balas Jaemin dingin sembari mengusap darah di sudut bibirnya pelan.

"Percaya diri sekali kau. Tidakkah kau melihat Mark? Semua orang juga tau seberapa cintanya dia padamu, mengemis cinta dari seseorang yang bahkan tidak pernah menaruh hati padanya. Seterluka apapun dia dengan segala sikapmu, yang ia lakukan hanya bisa mengalah. Tapi lihat saja sekarang, pada akhirnya dia menyerah untuk menahanmu Na. Dan jangan lupakan satu hal, bukan Jeno yang mengejarmu. Tapi kaulah yang mengejarnya, menghancurkan semua dunia tenangnya selama ini. Jadi berpikirlah kembali, berhenti sekarang atau kau akan kehilangan Jeno. "ucap Ten yang tidak tahan lagi melihat sikap terlampau percaya diri dari Jaemin.

Mendengar ucapan Ten langsung membuat Jaemin terdiam tidak bisa lagi membalas dengan bantahan apapun. Karena dirinya baru menyadari, dialah yang mengejar Jeno pertama kali. Berungkali ditolak namun saat Jeno mulai balik mencintainya, dirinya kembali lagi pada kehidupan lama dimana dia belum mengenal Jeno.

Untuk pertama kali dalam hidup Jaemin merasakan ketakutan yang sangat besar di tinggalkan orang lain. Expresi wajahnya mulai berubah sendu, dan tanpa sadar dia memeluk Ten yang berada di hadapannya.

Meski kaget, pada akhirnya Ten balas memeluk tubuh Jaemin yang bergetar ketakutan. Dan mulai membisikan kata kata penenang.

.

.

.

.

Jungwoo mulai kembali menghancurkan semua barang di kamarnya. Berteriak marah dan memaki semua orang, sedangkan seluruh pelayan di kediaman Kim yang mendengar hal itu hanya bisa diam dan memutuskan berdiri di depan kamarnya. Mereka tidak melakukan tindakan apapun karena tidak ingin membuat Jungwoo semakin marah.

"Pelacur sialan seharusnya aku membunuhmu saja. "teriak Jungwoo marah dan menghancurkan kaca di hadapannya.

Sekeliling ruangan itu sangat berantakan, semua benda di sana tidak luput dari amukan Jungwoo. Bahkan di beberapa tempat juga terdapat tetesan darah milik sang empunya. Yang dengan masa bodoh memukul kaca dan juga vas menggunakan tangannya.

Semua hal ini berawal dari kepergian Lucas yang mendapat telpon dari sang kekasih yang meminta di temani membeli buku. Padahal Jungwoo sudah merengek dan menangis melarang Lucas pergi, tapi apa daya dia bahkan tidak sedikitpun perduli dengan keaadaan Jungwoo.

"Woo -ah apa yang terjadi. "tanya seseorang yang suaranya begitu di kenal Jungwoo. Dan begitu terburu buru menghentikan tangan Jungwoo yang hampir kembali memukul kaca retak di hadapannya.

"Lepaskan aku hyung. "sentak Jungwoo kasar sambil menatap nyalang pada pemuda di hadapannya.

"Mengapa kau seperti ini. Lihat luka di tanganmu, apa kau mau bunuh diri HAH. "Bentak Johnny dengan nada tinggi.

"Tapi dengan terluka seperti ini akan mengurangi sakitku hyung. "teriak Jungwoo sambil memukul dadanya beberapa kali. Seolah ingin memberitahu Johnny di mana asal sakit itu.

"Bukankah kau sudah sembuh? Kenapa kau kembali lagi pada kebiasaan burukmu woo. Kita telah susah payah menghilangkan semua bekas luka di tubuhmu kan. Tapi apa alasanmu bertindak seperti ini lagi. "ucap Johnny tidak mengerti.

"Kau tau alasanku untuk berhenti hyung. Aku bahkan susah payah menghilangkan bekas luka di tubuhku karena dia. Tapi kau lihat sekarang, dia meninggalkanku setelah puas menikmati tubuhku. "teriak Jungwoo frustasi.

Mendengar penuturan Jungwoo membuat Johnny langsung melihat keadaanya. Hanya untuk menemukan bekas Kissmark yang begitu kentara di sepanjang leher jenjang sang sepupu. Dan juga di bagian paha dan kaki jenjang Jungwoo yang saat ini hanya menggunakan kemeja kebesaran berwarna biru tanpa bawahan apapun.

"Apa yang di lakukan si brengsek itu padamu. "Desis Johnny dengan aura membunuh yang mendominasi. Dia bukan orang bodoh untuk tau siapa yang melakukan hal ini pada sepupunya. Karena hanya satu orang yang jelas akan di ijinkan Jungwoo melakukan hal apapun padanya.

"Dia memintaku melakukan sex. "ujar Jungwoo dengan pelan.

"Kenapa kau mau menuruti bajingan itu , aku tau kau tidak sebodoh itu Kim Jungwoo. "ucap Johnny dengan pandangan menuntut penjelasan.

"A-aku. "Jungwoo tidak mampu menjawab pertanyaan Johnny.

"Sialan ini pasti ide Jung brengsek Jaehyun. "umpat Johnny saat semua kecurigaannya mengarah pada salah seorang sepupunya yang bermarga Jung. Well dia tau Selicik atau seberbahaya apapun Jungwoo, tidak mungkin akan merendahkan harga dirinya sampai pada titik dimana dia tidak akan bisa bangkit lagi.

"Jung Jaehyun kemari kau sialan. "teriak Johnny pada ponselnya.

"Kenapa kau berteriak seperti itu hyung. "balas Jaehyun bingung.

"Dengar Jung, aku beri kau waktu 20 menit untuk sampai di mansion Kim. Jika dalam waktu yang kuberikan kau tidak hadir, maka aku bersumpah akan membunuhmu atau menghancurkan kekasih kecilmu. "ancam Johnny tegas, tidak berniat basa basi lagi pada Jaehyun.

"Huh? Ada apa denganmu. Jangan bicara se-"

Sebelum Jaehyun sempat membalas perkataan Johnny. Tanpa perduli apapun sambungan telephone itu langsung di matikan sang empunya.

"Kau memiliki hutang penjelasan padaku Kim Jungwoo. "ucap Johnny datar pada Jungwoo yang kini menunduk di hadapannya.

.

.

.

.

Dan disinilah mereka sekarang, saling berhadapan dengan suasana tegang di salah satu kamar tamu. Tadi Johnny hampir saja mencekik Jaehyun sampai mati, jika saja Jungwoo tidak berteriak dan menyadarkannya jika yang dia cekik merupakan sepupunya juga.

Sedangkan Jaehyun masih memegang bekas cekikan Johnny yang menimbulkan bekas merah kentara di leher putihnya. Beruntung kewarasan Johnny segera kembali, karena jika tidak. Mungkin saja Jaehyun telah sejak tadi menjadi mayat.

"Kau itu bodoh atau apa brengsek, ide sialan apa yang kau rencanakan. "umpat Johnny memecah keheningan yang terus terjadi sejak tadi, tatapan matanya begitu tajam seolah ingin membunuh Jaehyun.

"Apa boleh buat hyung, rencana Jungwoo untuk mendapatkan Lucas sangat lambat. Bisa bisa Lucas membuat jalang itu hamil duluan. Memangnya kau mau jika Jungwoo menjadi istri kedua Namja Wong itu. "sungut Jaehyun kesal.

"Tapi tidak harus membuat Jungwoo tidur bersamanya juga bodoh. Jika Jungwoo hamil bagaimana? kau mau sepupu kesayangan kita ini menangis saat di tinggal Lucas untuk bersama si jalang. "dengan kejam Johnny memukul kepala Jaehyun keras hingga sang empunya mengaduh kesakitan.

"Bagus jika Jungwoo hamil, itu akan mempermudah rencanaku. "balas Jaehyun cuek.

"Masalahnya penyakit Jungwoo belum sembuh benar Jung sialan. Jika dia memilih bunuh diri saking frustasi dengan sikap Lucas bagaimana? "Johnny menatap bosan pada Jaehyun yang tersentak dan menatapnya panik.

"Aku lupa hal itu hyung. "balas Jaehyun kaget bagaimana mungkin dirinya bisa lupa jika Jungwoo memiliki penyakit kejiwaan itu.

"Sudah kuduga, otakmu memang tidak pernah beres Jung. "sinis Johnny.

"Kalian membicarakan penyakit jiwaku dengan santai sekali. "sungut Jungwoo kesal, hei dia bahkan masih ada di hadapan keduanya. Dan dengan masa bodoh kedua sepupunya membicarakan hal itu dengan santai.

"Kau diam saja. "teriak Johnny dan Jaehyun bersamaan, merasa sebal ketika Jungwoo mengganggu obrolan serius mereka.

"Jika saja bukan sepupu sudah ku usir kalian berdua. "ucap Jungwoo datar.

"Dan jika kau bukan sepupu kami, mana mau kami seperduli ini mengurus masalahmu. "jawab Jaehyun tidak terima.

Jungwoo berniat membalas perkataan Jaehyun sebelum seorang pelayan pribadinya masuk secara tiba tiba. Dia terlihat begitu tergesa gesa dan nafas terengah.

"T-tuan muda.. Hah... Hah.. Di luar hah. "ucap pelayan itu tidak jelas.

"Kau itu kenapa? Kenapa seolah di kejar setan begitu. "Tanya Johnny bingung, pasti ada yang tidak beres mengingat pelayan kepercayaan Jungwoo sampai tidak memperdulikan etika dan langsung main masuk kedalam kamar.

"Tuan muda Lucas disini. "ucap pelayan tadi panik dan berkata terburu buru. Beruntung ketinganya mampu menangkap apa yang ia katakan.

"Sembunyi. "berawal dari memandang satu sama lain, sebelum berucap secara serempak. Johnny dan Jaehyun langsung berlari masuk kebawah ranjang di tengah kamar itu. Melewati kaki jungwoo yang sejak tadi duduk dengan tenang di atas kasur.

Benar saja begitu keduanya tidak lagi terlihat Lucas segera masuk ke kamar itu. Sambil menenteng plastik putih yang bertulis nama apotik ternama dan plastik berwarna merah yang begitu Jungwoo kenal dari restaurant favorite nya.

"Kenapa kau pindah kamar. "ungkap Lucas datar sambil menghampiri Jungwoo yang hanya menatapnya dalam diam.

"Hanya ingin. "balas Jungwoo pelan tanpa mau menatap Lucas.

"Ada apa dengan tanganmu? Seingatku tadi tanganmu baik baik saja. "Tanya Lucas yang dengan cepat menarik tangan Jungwoo untuk ia lihat.

Tangan putih itu terbalut perban yang lumayan tebal dan terlihat baru. Memangnya apa saja yang di lakukan bocah manja ini sampai bisa melukai tangannya.

"Tadi aku ingin mengambil air di nakas, tapi begitu berdiri aku langsung jatuh tersungkur dan membuat gelasnya jatuh. Pecahan gelas itu melukai tanganku. "dengan tenang Jungwoo mengucapkan kebohongan itu.

"Ck.. Kau itu. Sudahlah ini aku membelikanmu salep untuk analmu. Dan juga salad buah, mengingat kau tidak mau makan sejak tadi. "decak Lucas malas dan menyodorkan dua kantung plastic di tangannya kehadapan Jungwoo.

Begitu dia menerimanya, Lucas segera menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur dengan posisi terlentang. Membiarkan Jungwoo yang menatap bingung ke arahnya.

"Waeyo? Berhenti menatapku. "ucap Lucas santai mulai balas menatap Jungwoo yang masih duduk di ujung ranjang.

"Bukannya kau pergi menemui kekasihmu tadi. Kenapa kembali lagi kesini.?"tanya Jungwoo bingung.

"Aku hanya menemaninya membeli buku. Lagipula aku bukan seseorang yang ingkar janji. Tadi malam aku mengatakan padamu akan mengurusmu kan jika kau menurut. "jelas Lucas santai.

"Jadi kau akan menginap lagi? "Tanya Jungwoo yang saat ini menatap Lucas dengan mata berbinar persis seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.

"umm.. Lagipula kedua orangtuaku tidak akan mengomel saat tau aku menginap di rumahmu. "gumam Lucas. Tentu saja keduanya tidak akan protes jika Lucas menginap di rumah calon menantu mereka. Yang ada keduanya justru merasa senang sekarang saat mengetahui perkembangan hubungan Lucas dan Jungwoo.

"Yheii.. Aw.. aduh. "saking bahagianya Jungwoo sampai melupakan pantatnya yang masih sakit dan malah melompat kesenangan.

"Kau bodoh atau apa? Sudah tau pantatmu masih sakit, malah melompat tidak jelas begitu. "ucap Lucas sambil menatap tajam Jungwoo yang justru tersenyum lebar keaarahnya sambil sesekali meringis sakit.

"He.. He.. He.. Habis aku senang sekali kau mau menginap. "tawa Jungwoo dengan polosnya.

"Sudahlah! Kemari kau, lepas celana dalammu dan segera menungging. "perintah Lucas tegas.

"Huh? Untuk apa. "tanya Jungwoo tidak mengerti.

"Aku mau mengobati lubang analmu bocah manja. Memangnya kau mau terus kesakitan. "jawab Lucas sambil memutar bola matanya malas.

"Tapi aku malu. "ucap Jungwoo pelan dengan muka bersemu kemerahan.

"Kau masih saja malu padaku, padahal aku telah menusuk lubangmu terus menerus kemarin. Cepatlah aku mau tidur setelah ini. "sentak Lucas kasar.

Membuat Jungwoo cemberut dan memajukan bibirnya sedikit, dengan pelan dia membuka celana dalamnya dan mulai menungging di hadapan Lucas yang saat ini telah melumuri kedua jarinya dengan salep.

Pantat bulat dengan memar dan juga Kissmark yang banyak terlihat di hadapan Lucas. Untuk sesaat dia terdiam, sebelum menggelengkan kepalanya pelan untuk mengusir segala pemikiran menggagahi Jungwoo sekali lagi. Dengan lembut dia menyentuh pipi pantat Jungwoo, untuk menemukan lubang mungil kemerahan dan lecet yang memuaskannya kemarin.

Secara pelan Lucas mulai memassukkan jari telunjuknya yang berlumuran salep kedalam lubang Jungwoo. Membuat sang empunya tersentak kaget dan secara refleks mendesah kecil dan mengetatkan lubangnya. Sehingga menjepit jari Lucas kuat, sedangkan sang pelaku justru menyeringai kecil akan respon Jungwoo yang tidak ia sangka.

Jari itu mulai bergerak keluar masuk dengan tempo sedang, saat melihat Jungwoo mulai terbiasa Lucas segera menambahkan jari tengahnya. Dan semakin mempercepat kocokan jarinya di lubang anal Jungwoo. Menimbulkan suara becek yang kentara juga desahan Jungwoo yang begitu nyaring meminta Lucas berhenti, namun justru ikut memaju mundurkan pantatnya berlawanan arah dari jari Lucas.

"Dasar jalang, lihat lubang lapar ini. Baru dengan kedua jariku saja dia mulai berkedut kencang tidak ingin melepasku. "tawa Lucas sinis.

"Ahh... Aku bukann nghhh... Uhhh... Hhh.. bukan jalang.. Ahh ahh. "desah Jungwoo sambil berusaha menolak tuduhan Lucas dan menarik narik tangan Lucas agar tidak terus menyodok lubangnya.

"Mari kita lihat saja. "balas Lucas tenang, dan entah sejak kapan telah melepas celana miliknya. Penisnya telah menegang sempurna dengan sedikit percum yang terlihat di ujungnya. Dia segera mencabut kedua jarinya dari lubang Jungwoo dan secara cepat menggantikannya dengan penis tegang miliknya dalam sekali sentakan.

"Arghh... Sakit Lucasss... Keluarkan.. keluarkan."tangis Jungwoo kesakitan, tapi tetap saja Lucas tidak perduli dia justru langsung memaju mundurkan penisnya cepat tanpa membiarkan Jungwoo terbiasa dulu.

"sttt.. Diam saja jalang kau cukup mendesah untukku. "bisik Lucas yang mulai membungkam mulut Jungwoo dengan ciuman dalam sarat nafsu.

Lucas tidak tau saja jika Jaehyun dan Johnny yang saat ini berada di bawah kasurnya tengah mengepalkan kedua tangan mereka kuat dan menggertakkan giginya marah. Sebisa mungkin menahan kewarasan yang hampir hilang untuk keluar dan membunuh Lucas yang dengan seenaknya menyetubuhi paksa sepupu kesayangan mereka.

"Sabar hyung, kita biarkan saja dia kali ini. "bisik Jaehyun pelan nyaris tidak terdengar. Namun Johnny juga tau jika keadaan Jaehyun tidak jauh berbeda dengan dirinya sendiri yang berniat membunuh Lucas saat ini.

Pada akhirnya Lucas terus saja menggagahi Jungwoo dengan berbagai posisi hingga pagi menjelang. Membuat pemuda cantik itu tidak berdaya dan hampir kehilangan suaranya. Karena terlalu banyak berteriak.

Setelah Lucas puas dia berniat langsung tidur, tapi Jungwoo terus saja merengek dan kembali menangis ingin mandi. Dia bilang dia risih dengan keaadaan mereka sekarang sehingga mau tidak mau Lucas terpaksa memandikannya lagi seperti kemarin.

Begitu Lucas di sibukkan mengurus Jungwoo yang semakin rewel, Jaehyun dan Johnny yang tidak dapat tenang sedikitpun sejak semalam langsung keluar dari bawah tempat tidur Jungwoo. Expresi mereka begitu datar dengan tatapan mata penuh permusuhan. Keduanya saling pandang dan mengangguk pelan. Sama sama menyusun rencana membalas perbuatan Lucas yang berbuat seenaknya pada sepupunya.

Setelah itu secara cepat namun hati hati keduanya menyelinap keluar dari kamar tamu.

.

.

.

.

Baru saja Johnny tiba di rumahnya dan berniat langsung tidur di ranjang empuk yang ia rindukan. Hanya saja semua angan angan itu langsung hilang begitu melihat Ten di dalam kamar miliknya. Duduk begitu anggun dengan kaki di silangkan dan juga kedua tangan terlipat di depan dada. Menatap datar ke arah Johnny yang saat ini memasang tampang jengkel begitu melihatnya.

"Dari mana saja kau. "tanya Ten datar.

"Bukan urusanmu. Lagipula memangnya kau itu siapaku? Dengar ya, kita tidak memiliki hubungan apapun. Jadi segera angkat kaki dari rumahku. "ujar Johnny tegas menatap tidak suka pada Ten.

"Tentu saja aku calon istrimu. "balas Ten santai mengabaikan expresi jengkel Johnny.

"Berhenti bermimpi aku tidak mungkin men-"ucapan Johnny langsung berhenti begitu Ten memberikan sebuah amplop berwarna putih secara kasar kedadanya.

"Apa ini? "Tanya Johnny bingung.

"Buka saja. "balas Ten tenang.

Mendengar hal itu Johnny hanya mengedikan bahu tidak perduli dan langsung mengeluarkan kertas dalam amplop yang tercetak sample rumah sakit ternama. Di bacanya dengan teliti semua tulisan itu. Begitu dia selesai membaca semuanya, Johnny segera berteriak marah dan mencengkram kedua bahu Ten kasar.

"Apa apaan Ini HAH? Kau mau menjebakku. "bentak Johnny sambil mengeraskan cengkraman kedua tangannya di bahu Ten. Membuat dia meringis kesakitan, tapi Johnny tidak memperdulikan semua itu amarah telah mengambil alih kewarasannya.

"Aku tidak menjebakmu. Jika kau tidak percaya mari kita pergi ke semua rumah sakit yang kau inginkan. "ringis Ten kesakitan.

"Itu pasti bukan anakku. "bentak Johnny terus menyangkal.

"Aku bukan jalang. Hanya kau Namja yang menyentuh tubuhku malam itu. "teriak Ten tidak terima.

"Sejak awal kau pasti tau jika memiliki rahim, tapi kenapa kau tidak meminum obat untuk meluruhkan spermaku sialan. "tuduh Johnny marah. Jika Ten tau dia memiliki rahim dia seharusnya melakukan berbagai macam pencegahan agar hubungan paksa mereka malam itu tidak membuahkan hasil.

"Kau pikir aku sengaja? Aku juga tidak mau hamil dari benih bajingan yang memperkosaku. Setelah hari itu aku langsung memeriksakan diriku ke dokter dan meminta obat pencegah kehamilan. Jadi mana tau aku, obat itu tidak mempan. Dan justru hamil seperti sekarang."balas Ten tidak kalah marah dari Johnny. Dengan kasar dia mendorong dada Johnny hingga melepaskan cengkraman di bahunya. Tapi siapa sangka jika Johnny memiliki refleks baik dan balas mendorong Ten, Lupa jika saat ini pemuda itu tengah hamil anaknya.

"arghh... Aa-appo.. "ringis Ten kesakitan sambil mencengkram perutnya kuat, dengan posisi tersungkur akibat dorongan Johnny tadi.

"Y-yha.. Ten maafkan aku, aku tidak sengaja. "panik Johnny langsung menghampiri Ten bermaksud membantu Namja cantik itu. Tapi langkahnya melambat begitu sadar melihat celana seragam biru yang di kenakan Ten mulai basah oleh darah.

"Kita kerumah sakit. "putus Johnny tegas dengan wajah panik kentara, membawa Ten kepelukannya. Dan segera berlari menuruni tangganya, sambil berteriak panik menyuruh pelayan menyiapkan mobil.

"Maafkan aku..maafkan aku... "rapal Johnny di samping telinga Ten ketakutan. Hal itu juga di perparah dari tangisan Ten yang tidak berhenti sambil terus memegangi perutnya.

"Appoo.. Johnn. "tangis Ten kesakitan, posisinya saat ini berada di pangkuan Johnny.

"Kumohon tahanlah dulu kita akan segera sampai di rumah sakit. Cha ajhussi percepat mobilnya. "bentak Johnny pada supir pribadi keluarga Seo. Mendengar bentakan panik Johnny dia langsung menaikkan kecepatan mobil itu.

"Aku tidak masalah jika kita tidak menikah. Asal jangan buat aku kehilangan dia. "ujar Ten lirih menahan sakit yang semakin menjadi. Darahnya terus keluar hingga ikut mengotori celana dan kemeja hitam Johnny.

"Jangan memikirkan apapun. Aku yakin semua akan baik baik saja. "ucap Johnny berusaha menenangkan Ten atau mungkin lebih tepatnya ikut menenangkan dirinya.

.

.

.

.

Jaehyun dan Haechan berlari dengan kencang di koridor rumah sakit tidak mengindahkan larangan dari beberapa perawat yang menegur, wajah mereka tampak sangat khawatir. Sedangkan Jungwoo menyusul di belakang keduanya, karena dia tidak bisa berjalan maka Lucas dengan sangat terpaksa menggendongnya.

"Ayoo ..Luc lebih cepat lagi jalanmu. "perintah Jungwoo panik.

"Ck.. Kau itu cerewet sekali, jika aku tidak menggendongmu jalanku tidak akan selambat ini. "decak Lucas malas. Jika saja Ten bukan sahabat baiknya, mana mau dia mengantar Jungwoo kerumah sakit. Apalagi saat harus menggendongnya ala pengantin, di sertai tatapan orang orang yang memandang mereka aneh.

"Memangnya siapa coba yang membuatku tidak bisa berjalan. "protes Jungwoo kesal.

"Haishh.. Yha jaga ucapanmu, bukankah sudah kubilang rahasiakan apapun yang ku lakukan padamu. "ucap Lucas tegas, matanya juga menatap tajam penuh ancaman pada Jungwoo yang langsung menyembunyikan kepalanya di dada bidang Lucas.

.

.

"Samchon, ajhussi hentikan. "teriak Jaehyun panik dan langsung merentangkan kedua tangannya di hadapan kedua Namja paruh baya yang sejak tadi memukuli Johnny.

"Jaehyun menyingkir dari hyungmu. "perintah Appa Johnny tegas.

"Sudah cukup Samchon. Memangnya kau ingin membunuh Johnny hyung. "Ucap Haechan dengan berani, begitu di lihatnya keaadaan Johnny yang di penuhi luka.

"Biar saja anak tidak tau diri ini mati sekalian. Beraninya dia membuat calon menantuku yang tengah hamil kritis seperti ini. "teriak tuan Seo murka.

"Aku tau Johnny hyung mungkin bersalah, tapi dia masih putramu Samchon."bela Jaehyun.

Tuan Seo berteriak frustasi di hadapan mereka, tapi begitu Appa Ten yang nampak mulai tenang menepuk pundaknya. Dia langsung mengerti dan membiarkan Johnny.

"Ayoo hyung kita obati lukamu. "ajak Jaehyun sembari memapah Johnny, tapi entah kenapa Johnny menepis tangannya pelan.

"Nanti saja, aku masih ingin di sini. "jawab Johnny begitu melihat tatapan penuh tanya dari Jaehyun.

"Tapi lukamu perlu di obati hyung. Jika nanti infeksi bagaimana. "ucap Haechan khawatir.

"Aku bilang nanti ya nanti. "balas Johnny keras kepala, hingga membuat kedua Jung bersaudara itu menghela nafas pasrah dan memutuskan mengalah.

Sedangkan Jungwoo yang baru saja tiba menatap sekitar tidak mengerti. Di sana terdapat Samchon dan Imo Seo. Jaemin yang tidak berhenti menangis di pelukan Jeno, Mark dengan expresi datar, Taeyong yang nampak khawatir. Juga kedua orang paruh baya yang ia yakini merupakan kedua orang tua Ten.

Sebenarnya Jungwoo ingin bertanya, apa yang terjadi dengan Johnny dan Ten. Tapi dia tidak mengenal 4 orang itu, jadi dia menatap Lucas dengan pandangan menuntut. Memberi kode agar dia bertanya pada Hyung dan juga kedua sahabatnya yang lain.

"Mark apa yang terjadi. "bisik Lucas pelan sehingga hanya bisa di dengar ketiganya. Mengingat Jungwoo saat ini masih berada di gendongannya.

"Sepupunya menghamili Ten, dan entah karena apa mendorongnya hingga tersungkur lalu pendarahan hebat. "tunjuk Mark pada Jungwoo, meski begitu dia menatap Lucas bingung. Bukankah sahabatnya yang satu itu begitu membenci Jungwoo. Lalu apa apa an drama yang dilihatnya saat ini? Tapi begitu dia tidak sengaja melihat bekas Kissmark di leher Jungwoo yang mengintip dari balik kerah kemeja dengan kancing tertutup sampai atas itu. Perlahan mengangguk mengerti jika sang sahabat telah meniduri tunangannya sendiri.

"Jadi Namja brengsek yang memperkosa Ten hyung itu dia. "geram Lucas marah. Bagaimana mungkin dia tidak marah coba, jika dirinya sendirilah yang pertama kali menemukan Ten yang dalam keaadan kacau dan telanjang disertai kissmark juga bau sperma menangis di salah satu kamar club malam.

"Jangan mengatai Johnny hyung. "Protes Jungwoo pelan tidak terima Sepupunya di maki seperti itu.

"Wae? Kau tidak terima, seluruh sepupumu memang brengsek. "balas Lucas dingin.

"Lalu kau sebut apa sikapmu padaku? "tanya Jungwoo, balas menatap Lucas dengan pandangan menyalahkan. Membuat sang empunya nama langsung bungkam. Tidak lagi memiliki argument untuk membalas ucapan Jungwoo.

"Berhenti berdebat. "ucap Mark malas dan kembali menatap ke depan tempat Ten berada.

.

.

.

.

Setelah bolos sekolah selama 4 hari, Jungwoo memutuskan masuk hari ini. Rasa sakit di analnya masih terasa, tapi setidaknya kini dia bisa berjalan normal.

Dan yang lebih membuat Jungwoo bahagia, Lucas sejak 4 hari yang lalu benar benar menepati janjinya untuk mengurus Jungwoo. Ya meskipun terkadang hormon Lucas tidak bisa di kontrol, jika dulu dia begitu membenci bersentuhan dengan Jungwoo. Maka lain lagi sekarang, setelah melakukan sex. Entah kenapa Lucas jadi tidak bisa berhenti menciumnya, menyentuh tubuh Jungwoo. Atau meminta blowjob yang membuat mulut Jungwoo kram.

Tapi setidaknya Lucas masih tau diri untuk tidak lagi menyetubuhi Jungwoo. Mengingat luka di analnya belum sembuh benar.

Hari ini mereka berangkat bersama, meski awalnya Lucas berniat membuat Jungwoo berangkat sendiri. Tapi tidak jadi, mengingat kedua orangtua Jungwoo baru saja tiba tadi pagi persis ketika mereka akan berangkat.

Kim Taemin dan Kim Minho terlihat begitu khawatir pada Jungwoo. Saat mereka tau dia telah membolos selama 4 hari karena sakit. Apalagi saat melihat scraft tebal melilit di leher Jungwoo. Taemin langsung melarang sang putera untuk masuk sekolah.

Karena Lucas takut Jungwoo kelepasan mengatakan dia sakit setelah melakukan sex bersamanya. Pada akhirnya Lucas berbicara sopan dan mengatakan jika Jungwoo telah sembuh. Bersamaan dengan janji yang secara refleks terlontar, dia juga akan mengantar dan menjemput Jungwoo agar Taemin tidak perlu khawatir lagi.

Jadi di sinilah mereka sekarang, berdua di dalam mobil sport milik Lucas yang tengah menuju ke rumah sang kekasih. Mengabaikan tatapan sedih Jungwoo saat Lucas mengatakan akan menjemput Nari terlebih dahulu. Karena mereka biasa berangkat bersama.

"Jika kita telah sampai kau harus pindah ke belakang. "perintah Lucas, tanpa menoleh ke arah Jungwoo. Fokus ke jalan di hadapan mereka.

"Kenapa aku harus pindah? "tanya Jungwoo tidak mengerti. Dia ini tunangan Lucas, jadi seharusnya tidak masalah jika dia duduk di depan menemani Lucas.

"Tentu saja karena Nari kekasihku. "balas Lucas santai.

"Tapi aku tunangan mu. "ucap Jungwoo kesal.

"Jika kau tidak mau pindah, aku akan menurunkanmu di sini. "ancam Lucas yang secara tiba tiba memberhentikan mobilnya ke samping trotoar jalan.

"Seandainya aku tau kau akan menjemputnya, aku pasti lebih memilih berangkat sendiri. "ucap Jungwoo pelan sambil meremas tas sekolahnya. Dia hampir menangis lagi, tapi berusaha kuat dengan menggigit bibir bawahnya.

Melihat kelakuan menyebalkan Jungwoo yang biasanya membuat dia kesal, entah kenapa hari ini terlihat begitu lucu di mata Lucas. Jadi dengan pelan di sentuhnya tengkuk Jungwoo dan menarik sang empunya nama ke arahnya.

Tidak memperdulikan pekikan kaget dari Jungwoo, Lucas langsung melumat kasar bibir merah yang sejak tadi di gigit Jungwoo untuk meredam isakan yang mungkin keluar.

Dia mulai menghisap bibir bawah dan atas Jungwoo, juga sesekali mengigitnya gemas. Merasa tidak puas, Lucas melepas seat belt milik Jungwoo dan secara cepat menarik tubuhnya untuk duduk mengangkang di atas pangkuannya.

"ngg.. "desah Jungwoo tertahan begitu lidah Lucas masuk kedalam mulutnya bergerak mengabsen setiap gigi dan bermain bersama lidah Jungwoo.

"Kau sangat nikmat. "bisik Lucas penuh gairah setelah melepaskan ciuman mereka saat Jungwoo mulai kehabisan nafas. Lalu terkekeh puas melihat keadaan berantakan Jungwoo. Scraft biru miliknya telah Lucas lempar sejak tadi, kemeja putih yang telah keluar dari celana seragam Jungwoo. Juga dasi miliknya yang entah di mana bersama beberapa kancing yang memperlihatkan kulit putih dengan banyak bercak Kissmark.

"hah... Hh... Kita bisa terlambat nanti. "protes Jungwoo sambil menstabilkan nafasnya yang terengah.

"Salah sendiri menggodaku. "ucap Lucas tidak perduli dan berniat mencium jungwoo kembali. Sebelum ponsel miliknya berbunyi dengan menunjukkan nama sang kekasih.

"Yoboseyo? "

"umm.. Wae chagiya? "tanya Lucas.

"Kau jadi menjemputku di rumah kan? "

"Iya! Aku sedang dalam perjalanan ke sana sekarang. "balas Lucas santai sambil mengecup bibir merah milik Jungwoo yang tengah terbuka di hadapannya.

"Cepatlah kita bisa telat nanti. "rengek Nari.

"Umm... Sebentar lagi aku akan sampai kok. "balas Lucas.

"Baiklah, hati hati jika begitu."ucap Nari yang hanya di balas gumaman oleh Lucas dan langsung menghentikan sambungan telepon.

"Baiklah Bay boy kembali ketempat dudukmu. Jangan lupa rapihkan juga penampilan mu. "ucap Lucas lembut sambil menepuk kepala Jungwoo pelan.

Tanpa banyak bicara Jungwoo segera menuruti perintah Lucas. Duduk dengan tenang di tempatnya semula. Juga mulai mengancingkan dan memasukkan kemeja putihnya ke dalam celana seragam. Memakai kembali Dasi dan juga scraft miliknya yang tadi di lempar Lucas sembarangan. Setelah penampilan Jungwoo terlihat rapi, Lucas segera mengemudikan mobilnya lagi.

Satu hal yang luput dari perhatian Lucas, kedua tangan Jungwoo yang mengepal. Di tambah wajah datar dengan tatapan marah yang begitu kentara tengah menatap ke samping jalan.

.

.

.

.

.

Saat mobil Lucas baru saja tiba di depan rumah sederhana milik keluarga Nari. Lucas segera turun dan memeluk kekasihnya mesra. Sedangkan Jungwoo hanya menatap mereka datar, dia juga mendengus pelan begitu melihat keadaan keluarga Nari yang sangat tidak sebanding dengan keluarga Kim.

"Ah.. Kim-shi selamat pagi. "sapa Nari kikuk saat melihat Jungwoo yang ikut turun dari mobil Lucas.

"pagi juga Cha-shi. "sapa Jungwoo sopan dengan senyum kecil di wajahnya. Setelah itu dia segera membuka pintu belakang.

"Kim-shi anda duduk di depan saja, biar aku duduk di belakang. "ucap Nari cepat merasa tidak enak terhadap Jungwoo.

"Tidak apa. "tolak Jungwoo singkat masih mempertahankan senyum lembut di wajahnya. Setelah itu tanpa mau mendengar Nari lagi Jungwoo segera masuk ke dalam mobil dan menutupnya pelan.

"Lucas! kenapa kau tidak bilang jika Jungwoo ikut berangkat bersama mu. "protes Nari pelan sambil berbisik di telinga Lucas.

"Kedua orangtuanya khawatir karena dia baru saja sembuh. Jadi mereka memintaku mengantarnya. "jawab Lucas santai.

"Tapi aku tidak enak dengan Jungwoo. "keluh Nari.

"Sudahlah jangan di bahas lagi, kau itu kekasihku sekarang. Nadi tidak perlu merasa bersalah pada Jungwoo. Masuklah kita bisa terlambat nanti. "dengan lembut Lucas mengacak pelan rambut Nari dan segera masuk ke dalam mobil di susul Nari yang terlihat gugup.

Selanjutnya suasana di dalam mobil menjadi begitu hening, yang paling terlihat tidak nyaman tentu saja Nari sejak tadi dia hanya menunduk kan kepalanya. Melihat kekasihnya terlihat tidak nyaman Lucas segera mengambil tangan kecil itu dan menggenggamnya. Sesekali dia juga mengecup lembut tangan Nari, membuat sang empunya secara refleks berulang kali melirik ke arah Jungwoo di belakang. Saat dia melihat Jungwoo tengah memejamkan matanya. Nari baru menghembuskan nafasnya lega, dan mulai balik tersenyum ke arah Lucas.

Nari tidak tau saja jika Jungwoo hanya pura pura tidur karena dia tidak mau melihat kemesraan keduanya. Karena jika tidak , Jungwoo bisa saja hilang akal dan berakhir menarik Nari keluar dari mobil Lucas saat ini juga.

.

.

.

.

Sm high school langsung heboh begitu melihat, pasangan paling fenomenal satu sekolah. Lucas dan Nari. Bagaimana tidak fenomenal, jika Lucas merupakan tunangan dari putra tunggal keluarga Kim. Dengan berani berselingkuh secara terang terangan. Karena hal itu pulalah Lucas sering bertengkar dengan kedua Jung bersaudara yang merupakan sepupu Jungwoo.

Tapi hal yang membuat semua orang terpekik heboh adalah saat Jungwoo juga ikut turun dari mobil Lucas.

"astaga Drama apa yang kulihat saat ini. "bisik salah seorang siswi.

"Lucas berani sekali memperlakukan putra keluarga Kim seperti itu. "timpal yang lain.

Semua orang segera menatap tajam ke arah Nari dengan bisikan penuh rasa jijik. Sedangkan tatapan mereka pada Jungwoo justru penuh rasa simpati. Apalagi saat mereka, masih melihat senyum sopan dan binar polos di wajah cantik itu. Bagaimana bisa Jungwoo masih bisa tersenyum ketika tunangannya berselingkuh secara terang terangan.

"Kau membawa Jungwoo semobil dengan jalangmu itu. "dengus Haechan sambil menatap datar ke arah Lucas. Entah dari mana datangnya tidak ada yang sadar sampai Haechan menegur Lucas.

"Itu bukan urusanmu Jung. "balas Lucas malas meladeni ucapan Haechan.

"Setidaknya pilihlah jalang yang selevel dengan Jungwoo hyung. Tapi, lihatlah jalangmu saat ini. Dia hanya yeoja miskin dengan beasiswa dari keluarga Kim. Terlihat sekali tidak memiliki etika,berani menjadi selingkuh an dari tunangan orang yang membiayai sekolahnya. "sinis Haechan sambil menarik tangan Jungwoo ke arahnya.

"Jaga mulutmu Jung. "desis Lucas kesal.

"Wae? Kau mau memukulku? Ayo pukul. Jangan kau pikir aku takut padamu. "tantang Haechan sambil menatap nyalang penuh dendam ke arah Lucas terlebih Nari yang menunduk takut.

"Sudahlah chanie, tidak perlu membesarkan masalah. Aku tidak apa. "ujar Jungwoo cepat dan menghalangi pandangan Haechan dan Lucas.

"Jadi orang jangan terlalu baik hyung. Jalang itu bisa semakin tidak tau diri. "keluh Haechan menunjuk ke arah Nari tidak sopan.

"Chanie jaga cara bicaramu."ucap Jungwoo sabar.

"Terserahlah! Ayo kita pergi, aku muak menatap jalang dari keluarga miskin itu. "dengus Haechan angkuh dan segera menarik Jungwoo cepat meninggal kan mereka. Tanpa perduli umpatan dan makian Lucas padanya.

"Ucapan mu semakin tajam saja chanie. "ujar Jungwoo sambil tertawa kecil begitu keduanya telah menjauh dari keramaian itu.

"he..he..he.. Salahkan dirimu yang mengajariku hyung. "balas Haechan dengan tawa geli.

"Itu baru putra keluarga Jung. "ucap Jungwoo angkuh dengan seringai kecil di bibirnya.

"Eh .. Tapi hyung memangnya kau sudah sembuh apa? "tanya Haechan yang baru ingat, jika Jungwoo tengah sakit akibat berhubungan badan dengan Lucas.

"Tidak sepenuhnya, tapi meski begitu aku masih bisa berjalan normal. "balas Jungwoo santai.

"Dasar, salah sendiri kau menerima ide Jae hyung. Sudah tau otaknya tidak pernah beres. "sungut Haechan sebal.

"Begitu begitu dia tetap hyungmu loh chanie. "tegur Jungwoo.

"Kau benar hyung, coba saja ada lembaga pertukaran hyung. Aku pasti akan menukar jae hyung denganmu atau Johnny hyung. Yang memiliki otak sedikit lebih baik. "Canda Haechan.

"Yha.. Kau meragukan otak kami berdua. "teriak Jungwoo kesal.

"Setidaknya otak kalian tidak segila Jae hyung. "ucap Haechan dengan tawa kecil dan segera berlari menghindari Jungwoo yang bersiap memukul kepalanya.

.

.

.

.

Saat ini Haechan tengah berada di perpustakaan Sm. Dia di perintahkan Shin Songsaenim untuk mengambil beberapa buku sejarah. Tapi karena jarak rak yang tinggi Haechan mulai melompat lompat kecil untuk mengambil salah satu buku itu.

"Sial. Kenapa buku penting begitu, harus di letak kan di rak atas sih. "keluh Haechan sambil menghentak kan kakinya kesal.

"Kau membutuhkan bantuan. "bisik suara yang begitu Haechan kenal di samping telinganya. Bahkan tubuh sang empunya tidak lagi memiliki jarak dengan tubuh Haechan.

"Tidak perlu. "tolak Haechan sinis. Meski begitu dia tidak sedikitpun mendorong orang kurang ajar di belakang. Bukan berarti Haechan senang di lecehkan seperti ini. Dia hanya tidak ingin terlihat risih dan pengecut di hadapan orang itu.

"Yakin? "tanyanya lembut.

"Jauhkan tubuhmu Mark Lee. "dengus Haechan tidak suka.

"kenapa? Apa kau teransang berada di dekatku. "tantang Mark.

"Jaga tingkah kurang ajarmu. Ini sekolah, tidak sepantasnya kau melecehkan ku. "ucap Haechan tegas.

"Jadi jika bukan di sekolah, kau mau ku lecehkan. "ujar Mark sambil menyeringai kecil.

Mendengar tingkah kurang ajar Mark yang semakin menjadi membuat Haechan tidak tahan. Dia segera membalikkan badannya untuk memukul Mark. Sayangnya refleks Mark begitu bagus, tangan Haechan dia cengkram di atas kepalanya. Bahkan tubuh keduanya semakin menempel erat. Juga saling menatap tajam satu sama lain.

"Mundur. "ucap Haechan datar begitu melihat Mark yang semakin memajukan wajahnya. Sampai hembusan nafas beraroma mint segar memenuhi Indra penciuman Haechan.

"Kau takut. "tantang Mark. Sambil mengelus pipi Haechan lembut.

"Tidak. "balas Haechan tenang.

"Benarkah? "tanya Mark dengan seringai yang semakin lebar, dan tanpa kata dia menghisap bibir bawah Haechan kuat.

"Apa yang kau lakukan. "Haechan menatap datar Mark.

"menciummu! apa lagi memangnya. "balas Mark.

"Sudah cukupkan, sekarang menjauh dari tubuhku sebelum aku memukulmu. "ucap Haechan sambil memutar bola matanya malas.

"Kau tidak mengerti atau berpura-pura bodoh? Aku bahkan telah mengejarmu secara terang terangan. "ucap Mark dingin.

"Tentu saja aku mengerti. Tapi maaf saja, aku terlalu berharga untuk kau jadikan pelampiasan. "balas Haechan sambil menatap langsung ke mata hitam Mark.

"Aku tidak pernah menjadikan mu pelampiasan. "jawab Mark tegas.

"Siapapun di Sm tau kisah percintaan mu dan Na Jaemin. Jadi berhenti mengejarku. Jika kau tidak bisa menjadikanku prioritas mu. "ucap Haechan tegas.

"Tau apa kau? hubunganku dan Nana telah sejak lama berakhir saat dia memutuskan mengejar Jeno. Dan saat ini aku memilih mengejar mu, tentu kau yang akan menjadi prioritas utamaku. "Mark menatap Haechan serius. Berusaha menyampaikan isi hatinya pada sang pujaan.

"Aku tidak buta Mark. Aku tau tatapan apa yang kau berikan setiap kali melihatnya. "dengus Haechan meremehkan.

"Kau salah, aku tidak lagi memiliki perasaan apapun pada Nana. "tolak Mark tegas.

"Benarkah? Baiklah aku akan memberikan mu satu kesempatan untuk membuktikan cintamu. Dan sebelum aku benar-benar menerima cintamu. Aku tidak ingin kau cium. "tantang Haechan.

"Aku terima. Tapi sebelum itu, biarkan aku menciummu sekali saja. Karena aku tidak akan tau, sampai berapa lama hatimu bisa luluh. "pinta Mark sambil menatap Haechan dengan begitu teduh dan lembut.

"Kiss me. "bisik Haechan sambil mulai memejamkan matanya.

Melihat itu Mark segera tersenyum kecil dan mulai mencium bibir Haechan lembut. Menghisap bibir bawah dan atas itu hingga memerah.

.

.

.

.

TBC.

Okee linie balik lagi guys, makasih buat komentar kalian. Linie seneng banget dan jadi semakin semangat nulisnya.

Semoga kalian suka ya, karena komentar kalian yang bikin inspirasi linie aktif. Oke berhenti cuap cuapnya, cerita ini gak sempet linie edit karena linie juga buru Buru nulisnya. Kerjaan linie padet banget dan mesti bolak balik keluar kota terus. Gak sempet nulis lagi.

Jadi linie cuman mau bilang jangan jadi siders terus, sekali kali hargai tulisan orang lain. Kalok banyak yg review linie bakal segera sempet sempetin nulis lagi buat kalian.

Bandung, 16 april 2018, Senin.