The Story

.

Main : Sehun, Yixing, Joonmyeon.

Support : Luhan, Kris, Jongin, and others.

.

All belong to God.

.

Warning : Gender switch / switch gender. AU. OoC. Misstypo(sss).

.

Enjoy chapter two! :3

...


Kamar yang awalnya terlihat tertata rapi itu kini menjadi berantakan, banyak orang menyebutnya seperti kapal pecah. Pintu lemari terbuka lebar dengan beberapa barang yang berserakan. Hampir semua barang di dalam sana sudah tidak berada pada tempat seharusnya mereka ditempatkan. Banyak juga benda di atas meja rias yang sudah tergeletak tak beraturan. Dan itu semua berkat ulah Sehun.

Lelaki jangkung itu sedang mencari duplikat kunci kamarnya dan sang ibu. Suara-suara yang dihasilkan dari ruang depan membuat Sehun sadar bahwa seharusnya ia tidak hanya berdiam di kamar. Suara benda terjatuh dan benturan disusul dengan teriakan membentak.

Sehun tahu, ini pernah.

Yixing tidak pernah membiarkan Sehun melihat dirinya ketika sedang berurusan dengan orang itu, maka itu ia mengunci Sehun selama kejadiannya berlangsung. Mungkin Sehun tidak tahu urusan mereka, tapi Sehun meyakinkan diri bahwa urusan mereka bukanlah urusan yang baik. Seingatnya, ia mendapati ibunya yang sakit setelah kejadiannya berlalu.

Barangkali dahulu Sehun hanya menurut pada Yixing untuk menunggu di kamar, terdiam dengan suara-suara keras yang dengan bebas memasuki telinganya. Kini Sehun bukan seorang anak kecil lagi. Ia sudah tahu atau setidaknya menebak apa yang terjadi. Mendapat usul dari Jongin, sahabatnya, ia menyiapkan sebuah duplikat kalau-kalau kejadian ini terulang. Dan kini benar terjadi.

Kunci itu akhirnya ditemukan di dalam saku sebuah pakaian miliknya. Ia sengaja menyembunyikannya tak membiarkan sang ibu tahu. Mengabaikan seisi kamar yang berantakan karenanya, lelaki muda itu berlari menuju pintu dan memasukkan anak kunci pada lubang. Pintu terbuka, Sehun langsung mencari keberadaan Yixing. Tubuh itu membeku ketika sepasang mata mendapati tubuh sang ibu berada dalam pelukan lelaki di depannya yang menunjukkan raut wajah bahagia.

Sehun menghampiri Yixing, mengabaikan lelaki yang satunya tanpa melihatnya sedikit pun. Dengan cepat Sehun menarik Yixing untuk mendekat padanya, menyembunyikan tubuh Yixing di belakang tubuhnya, tak membiarkan ibunya mendekat lagi padanya.

"Sehun—"

"—jangan pernah kau berani memanggil namaku."

Setelah beberapa tahun silam, Sehun kembali memberanikan diri untuk melihat lelaki satunya yang hanya terdiam memperhatikan mereka. Secara fisik, orang itu tidak berubah dari terakhir Sehun lihat. Masih terlihat muda mengingat umurnya yang belum menginjak angka empat puluh. Keterkejutan terlihat pada wajahnya. Ia tidak peduli, ia pun hanya membiarkan pekikan Yixing berlalu. Ini menjadi kali pertama ia tak menurut pada Yixing. Dalam hati ia hanya meminta maaf karena bersikap tidak sopan pada hari ini.

"Apa urusanmu ke sini," giginya bergemeletuk pelan, "...Joonmyeon-ssi?"


"Mama?" Sehun mendekatkan tubuhnya pada pintu besar itu. Tidak mendapat jawaban berarti, kecuali suara teriakan di luar sana, Sehun kembali memanggil sang ibu. Masih penasaran mengapa ibunya tidak menjawab panggilannya, Sehun menempelkan sebelah telinganya pada pintu. Bocah lelaki berumur sekitar empat tahun itu mengikuti ucapan sang ibu yang ia anggap sebagai permainan.

Beberapa pekan yang lalu ibunya memanggil dirinya untuk mendekati pintu kamar mereka. Ibunya berkata kalau ingin tahu apa yang terjadi di dalam suatu ruangan dalam saat penting, ia harus menempelkan satu sisi telinganya pada pintu tersebut. Tapi sang ibu menegaskan itu hanya dilakukan ketika di saat-saat penting, karena mendengarkan pembicaraan orang lain atau menguping itu tidak sopan.

Sehun mematuhinya. Ia melakukan ini karena menurutnya sekarang adalah 'saat-saat penting' yang disebutkan oleh sang ibu.

Sehun tidak tahu kejadiannya dimulai pada pukul berapa, tapi ia tahu kalau sekarang masih gelap, masih malam hari menjelang pagi hari. Ia pun terbangun dari tidurnya karena suara gebrakan pintu yang ditutup dengan keras. Setelah benar-benar sadar dari tidurnya, Sehun menyadari bahwa ia hanya seorang diri di kamar, tanpa sang ibu yang harusnya berada di sampingnya. Ia mengambil kesimpulan kalau ibunya berada di luar kamar.

Kedua tangan kecilnya mencoba untuk menarik handle pintu di depannya. Namun tak bisa terbuka, dan itu berarti pintunya terkunci. Karena kunci pintu kamarnya selalu disimpan oleh ibunya, Sehun tidak dapat melakukan apapun selain mendengarkan pembicaraan dua orang dewasa di luar sana. Sesekali matanya mengintip keadaan luar melalui celah lubang kunci di pintu. Ia melihat tubuh ibunya dan... ayahnya. Bocah itu baru teringat kalau sang ayah belum pulang ke rumah saat dirinya masih terbangun.

Sehun memundurkan sedikit tubuhnya saat melihat siluet ibunya yang berjalan mendekati kamarnya. Benar saja, beberapa saat kemudian pintu terbuka bersamaan dengan suara derum mobil yang menjauh, menampakkan ibunya yang memandangnya terkejut. Mungkin wanita itu tidak akan mengira anaknya sudah terbangun.

"Shixun..." Wanita itu berjongkok di hadapan Sehun. Dapat Sehun lihat kedua mata sipit ibunya itu memerah. "Kamu sudah bangun daritadi?" Sehun hanya mengangguk. "Kamu... dengar semuanya?" tanya ibunya lagi.

Kepala anak laki-laki itu terangguk dengan kaku. "Thixun minta maaf, mama." Kepala wanita itu tergeleng dengan senyuman serta tangannya yang menepuk puncak kepala anaknya. Setelah memberanikan diri, akhirnya Sehun bertanya, "Mama... menangith ya?"

Sang ibu menjawab pertanyaannya dengan sebuah pelukan yang menerjangnya serta bagian belakang piyama tidurnya yang mendapat tetesan air. Ibunya memang menangis.

Sehun tidak tahu apa yang menyebabkan ibunya menangis seperti itu, ditambah lagi ibunya tidak menceritakan apapun padanya, walaupun ia tidak yakin akan mengerti urusan ibunya itu.

"Shixun," panggil sang ibu dengan suara serak. "mulai saat ini, apapun yang terjadi, Shixun jangan pernah benci pada baba, ya?" Dengan mata yang masih merah dan berair, ibunya memaksakan sebuah senyuman dan menunjukkan jari kelingkingnya pada sang anak. "Janji pada mama, eum?"

Jadi alasan ibunya menangis adalah ayahnya sendiri.

Kedua jari kelingking yang berbeda ukuran itu tertaut. Itu bertanda Sehun telah berjanji pada ibunya. Tapi tetap saja ia tidak tahu dapat menepati janji itu atau tidak.

Itu menjadi hari terakhir Sehun bertemu dengan ayahnya, dan menjadi hari pertama ia merasa ragu untuk tidak membenci ayahnya.


"Shixun?"

Si pemilik nama membuka kelopak matanya dan merasakan tepukan pelan sang ibu pada pipinya. Kepala yang awalnya menempel pada sisi meja kaca itu mulai terangkat. Tanda merah tercetak jelas di belah pipinya yang sudah berjam-jam tertekan oleh kepalanya sendiri di atas meja. Setelah pria yang—Sehun tidak ingin ucapkan namanya—dipanggil Joonmyeon itu ia paksa pergi dari rumahnya, Sehun hanya membiarkan dirinya merenung seorang diri. Tanpa sadar ia jatuh terlelap.

"Jangan tidur di sini, nanti badanmu pegal. Ayo pindah ke kamar, Shixun."

Alih-alih menurut, Sehun menarik tangan Yixing ke kursi di hadapannya, meminta wanita itu untuk duduk di sana. Kini mereka duduk berhadapan dengan sebuah meja di antara mereka. Pasangan ibu dan anak itu tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Pada akhirnya terdengar helaan nafas dari Sehun yang menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Dui bu qi, mama." Sebelum Yixing mengutarakan kebingungannya, Sehun sudah menjawabnya, "untuk semua yang kulakukan tadi." Ia menurunkan sedikit tangannya, membuatnya hanya menutupi mulutnya. "Hari ini aku lost control, 'kan, mama?" tanyanya.

Tanpa dijawab oleh Yixing pun, Sehun sudah tahu kalau hari ini ia benar-benar lepas kendali. Pada awalnya Yixing memang terkejut karena tidak biasanya Sehun seperti ini. Tapi wanita itu mengerti perasaan Sehun. Mungkin remaja lelaki itu marah, tetapi bukan berarti ia benci. Dari sorot matanya pun terlihat kalau sebenarnya Sehun hanya merasa kecewa.

"Shixun," Sehun yang mendiamkan jemari Yixing bermain dengan rambutnya hanya menjawab panggilan sang ibu dengan sebuah gumaman. "kamu tahu siapa yang datang tadi, bukan?" Terpaksa Sehun menganggukkan kepalanya. "Coba katakan pada mama, siapa memangnya orang itu?"

"Kim Joonmyeon-ssi. Pria yang sudah mengacaukan kehidupan mama, kehidupan kita."

"Kamu yakin?"

"Joonmyeon—" Melihat pancaran mata penuh harap dari sang ibu membuat Sehun kembali mengusap wajahnya. "—appa." Mendengar jawabannya, Yixing mengukir sebuah senyum manis. Ketika Sehun mengintip dari celah pada telapak tangannya, wanita itu terlihat begitu bahagia.

Pikiran Sehun kembali membawanya ke masa saat ia masih kecil. Saat ia dan ibunya masih tinggal di Korea, bersama dengan sang ayah. Pagi hari diawali dengan dirinya yang diterjang sang ayah agar terbangun dari tidurnya serta sang ibu yang akan menyusul ke kamar lalu mendapati anaknya yang sedang digelitiki sang ayah. Siang hari sepulang sekolah ia akan dijemput ibunya dan terkadang mereka akan pergi ke kedai es krim. Sore hari mereka lalui dengan menonton televisi atau mengerjakan tugas. Malam hari ia akan tidur bersama ibunya di kamar orang tuanya sampai benar-benar lelap dan ketika ayahnya sudah pulang ia akan digendong kembali ke kamarnya.

"Mama," Sehun mengeluarkan suaranya setelah lama menghadapi suasana hening. "boleh aku bertanya sesuatu?"

Yixing meletakkan dagu pada kedua tangannya yang ditumpukan pada meja. "Eum, tentu saja." jawabnya.

"Mama... kenapa mama masih bisa bertahan dengan baba? Maksudku, eum—"

"Ah, akhirnya kamu bertanya tentang itu juga." Yixing membalas ekspresi tidak mengerti Sehun dengan tawa kecil. "Bagaimana menjelaskannya ya? Setahu mama, sampai saat ini mama bertahan karena kamu, Shixun."

Sepasang alis Sehun mengerut. "Hanya itu?"

"Memang apa yang kamu harapkan dari jawaban mama?"

Lelaki itu mendengus kecil. "Tidak, kupikir mama akan menjawab alasannya adalah mama masih sangat mencintai suami mama itu." Tidak sengaja Sehun melihat air muka sang ibu yang berubah. Belum sempat ia bertanya ada apa, wanita itu kembali mengukir senyum. Terlihat sendu jika dibandingkan dengan yang awal.

"Mama dan babamu itu sudah membuat suatu perjanjian. Meskipun babamu tidak pulang ke sini, babamu tetap memenuhi kebutuhanmu. Selama ini kamu itu hidup karena babamu, dan seperti yang pernah mama bilang, mama hanya mengambil sedikit bagian dalam hidupmu." Wanita itu kembali memainkan rambut sang anak. "Shixun masih ingat dengan janji yang pernah kamu dan mama sepakati, tidak?" Pertanyaannya dijawab dengan sebuah anggukan. Yixing kembali melanjutkan, "Kalau begitu, tetap ingat perkataan mama. Jangan pernah benci pada babamu. Oke?"

Sehun kembali menatap ibunya, tepat pada di mata. Ia ingin meminta penjelasan yang lebih lagi. "Kenapa mama selalu menyebutnya dengan sebutan 'babamu' padaku?"

"Eh? Tapi ia memang babamu, Shixun."

"Bukan itu maksudku. Maksudku adalah kenapa mama tidak memilih panggilan lain untuknya? Misalnya dengan menyebut namanya saja?" Sehun menaikkan sebelah alisnya, melihat sang ibu yang justru menangkup wajahnya sendiri. "Mama adalah istrinya, bukan?"

Hening kembali meliputi mereka. Sehun hanya memandangi Yixing yang masih pada posisinya, menuntut sebuah jawaban. Lelaki itu hanya diam saja ketika sang ibu sudah menampakkan wajahnya kembali, berharap ia mendapatkan jawaban yang memuaskan. Alih-alih mendapat sebuah jawaban, Sehun kembali dipaksa untuk mengerti kalimat ambigu yang ibunya lontarkan.

"Mama memang berstatus sebagai mama Shixun, tapi bukan berarti mama adalah istri dari babamu."


T B C


Annyeong yeorobun! Adakah yang menunggu ff ini? Maaf karena lama menunggu ya TT Sebentar lagi Syd mau ujian jadi ga boleh deket-deket sama gadget dulu. Tapi karena Syd bandel, syd sempetin update ff ini deh kkk. Semoga memuaskan ya.

Oh ya, hampir lupa. Happy 2nd anniversary untuk EXO oppadeul~ Semoga selalu jaya(?) dan selalu satu sampai seeelamanya~ Ditunggu comebacknya! Kyaaah! ;u;

Terima kasih untuk reviewnya di chapter satu! Syd seneng karena ff aneh ini ada yang baca, puji, bahkan review. Huhu syd terharu ;A; Sekali lagi terimakasih! Chu! :*

.

Ini balasan review dari Syd ya. '0')

haelay5 : Aaa terima kasih! Yep, itu Suho kkk ^^ Makasih reviewnya ya :]

sayakanoicinoe : Sudah dilanjutkan! ^^ Makasih untuk reviewnya ya ;]

KimbujaSuho : Kyaaah Syd juga suka banget sama SeXing XD Eh? Itu angst? Ngga tau kkk. He'eh bapaknya Sehun tuh :3 Makasih reviewnya ya ;]

selvian. summer : Heung~ Bapaknya Sehun itu Suho kkk. Terima kasih reviewnya :]

deriwu : Babanya Sehun itu Suho, jiwa SuLay shippernya manaaa? XD Makasih juga untuk reviewnya reader sayang kkk ;]

Fanxingege : Sudah dilanjuuut :D Makasih reviewnya ya ;]

sehunswind : Yep, itu Suho, bapaknya Sehun ^^ Makasih reviewnya~ :]

.

Last, mind to review chapter two? ^^