—Chapter II—
Mantel marun selututku begitu erat mengikat tubuhku. Aku merutuk pada udara malam yang jelas masih akan menurun ke titik terendah. Sebenarnya aku tidak suka menutupi kepala dan telingaku dengan kupluk, aku lebih senang memamerkan warna rambutku yang begitu berbeda dan deretan tindik yang ada di telinga kananku—kalau perlu juga memamerkan tato ular yang melilit tubuhku. Kau tahu, ada sensasi berbeda yang kusuka ketika orang-orang melihat penampilanku dengan tatapan ngeri. Suatu kepuasan tersendiri melihat kepala mereka yang lebih memilih untuk menekuri jalan karena tidak ingin beradu tatap denganku. Aku bisa mengangkat daguku setinggi yang kumau seolah akulah yang menciptakan dunia ini.
Aku berhenti dengan modus mengikat kembali tali sepatu yang sebenarnya tidak terlepas. Toh, tidak akan ada yang memerhatikan. Dengan gerakan senormal mungkin kutoleh kepalaku, memastikan rumah di sebelahku sama dengan yang tercetak di foto. Ternyata rumah ini jauh lebih buruk jika dilihat dari dekat. Aku mengepalkan tangan dengan lidahku yang merapalkan rutukan pada Kakuzu sebelum kembali melangkah seakan tidak ada yang kucari di tempat ini.
Aku menarik napas, mataku terpejam untuk membendung emosi yang meluap.
"Sebelumnya, apa kamarmu ini aman?" tanya Kakuzu siang itu.
Aku memutar kedua bola mataku. Yang benar saja pertanyaannya. "Kau pikir? Seluruh dinding di apartemenku sudah kuredam sejak perempuan itu di sini. Kau tidak tahu berapa banyak busa yang kuhabiskan!"
Ia terkekeh lalu beranjak duduk di kursi yang biasa kugunakan untuk melihat burung-burung berterbangan. Dari mantel hitamnya, ia mengeluarkan beberapa carik kertas lalu menyebarkannya di atas meja bundar dan aku menyadari itu adalah cetakan foto. Ada empat, tiga foto menampilkan wajah yang sama dalam latar yang berbeda, sedangkan yang satu lagi hanya sebuah foto rumah satu lantai biasa.
"Kau pernah melihat wajahnya? Lalu—" Ia menunjuk foto yang paling dekat dengan jarak pandangku, "—rumah ini?"
Aku mencoba menggali seluruh ingatanku. Rambut pirang gelap sebahu—satu potret menampilkan rambutnya yang terikat, tubuh yang tidak terlalu tinggi untuk ukuran pria, serta iris percampuran biru dan hijau yang mengilat. Untuk segala atribut yang ada di wajah itu masih terlihat asing di mataku—kurasa, namun aku seperti pernah melihat rumah itu entah di mana.
"Aku tidak yakin pernah melihat wajahnya. Tapi untuk yang rumah, sepertinya—"
"Kau pernah melihat pemuda ini, Hidan. Atau setidaknya rumah ini. Mungkin kau jarang melewati jalan di sekitarnya, tapi sesekali pasti kau pernah melewatinya. Hanya beda dua blok dari sini. Karena itu—"
Pantas saja, aku seperti pernah melihat bangunan itu. Tapi aku masih tidak dapat mengerti kenapa ia mengatakan aku pernah melihat wajahnya. Ternyata selain sifat kikir dan liciknya, ia juga besar kepala. Rasanya tanganku gatal ingin segera memukul wajahnya yang jauh tidak lebih baik dari wajahku.
"Jangan paksa aku, Kakuzu! Kalau untuk rumah itu, mungkin aku memang pernah melihatnya dalam perjalananku."
Satu tangannya meraih teropong yang tergeletak di meja. Ia menyodorkannya padaku, kuterima dengan kasar.
"Arahkan teropong itu ke arah jam sepuluh. Agak sulit memang melihat secara jelas dari sini, cukup banyak pohon yang menutupinya. Tapi setidaknya kau mendapat gambaran jalan mana yang harus kaupilih nanti."
Aku hanya berhasil melihat gerbang rumahnya saja, tapi aku dapat membayangkan sebentuk rumah di sebaliknya. Dari sini pun aku dapat menilai kayu cokelat tua yang membatasi rumahnya dengan jalan kecil di depannya. Hanya jenis kayu yang jamak digunakan seperti tetangga-tetangganya. Lalu tipe rumah yang kulihat di foto tadi juga tipe yang harga jualnya tidak terlalu mahal. Sejauh ini, tidak ada hal mewah yang dapat tertangkap oleh penglihatanku. Blok dua hampir dua per tiga wilayahnya terdiri dari kompleks perumahan, seperti rumah yang kulihat sekarang, terapit dalam hitungan.
Aku melempar teropong ke atas meja. Ia pasti tahu aku tidak senang dengan ini. "Hanya rumah pemuda miskin yang kulihat. Percuma aku membunuhnya, tidak akan sebanding dengan risiko yang kutanggung dan hasil yang dapat kuambil."
"Siapa yang memintamu untuk membunuhnya?"
Aku bersumpah semua darahku telah berpindah ke ubun-ubun saat itu. Emosi yang tidak terbendung yang dihasilkan oleh sensasi mengesalkan membuatku tidak dapat menahan diri untuk membiarkan tanganku tetap diam. Seperti janjinya, jika hanya pekerjaan mudah, aku dapat memukulnya. Dan saat itulah aku menagih ucapannya.
Aku mendesah berat diikuti iris mataku yang kini mulai terlihat. Ingatan dua hari lalu begitu terlihat jelas di depan mataku seolah ada ejekan yang menyertainya.
"Jika saja aku tidak menerimanya…!" Aku menggeram dalam hati.
—marduk 789—
Minimarket tempatku biasa membeli minuman tidak terlalu ramai malam ini. Dari hitungan cepatku, hanya ada empat orang di dalam termasuk aku. Satu pegawai toko yang berada di kasir, satu pembeli yang berdiri di depan meja kasir, dan pegawai wanita yang tadi sempat menyambutku—yang sekarang tidak terlihat lagi wujudnya.
Aku melangkah ke rak makanan ringan dan mengambil beberapa camilan. Saat aku sedang memilih camilan kedua, ada sosok yang luput kuhitung. Ia berdiri di sebelahku, di depan rak mie instan. Namun ketika aku melewatinya, aku sadar ia begitu mirip dengan potret yang diberi Kakuzu.
Rumah tua, tubuh pendek, mie instan. Jelas sudah ia memang menyedihkan! Aku tidak mengerti menapa ada klien yang mau membayar untuk mengawasi orang seperti ini. Atau jangan-jangan Kakuzu hanya ingin menjebakku?
Entah mengapa, aku merasa perkataan Kakuzu berkemungkinan benar. Aku seperti pernah melihatnya entah di mana. Di saat begini kantong ingatanku malah tidak berfungsi dengan baik. Sial!
Ia beranjak dari tempatnya dengan beberapa bungkus mie instan. Aku mengikutinya ke kasir. Itu membuatku tepat berdiri di belakangnya. Minuman beralkohol yang harusnya kubeli? Lupakan saja. Ini lebih penting.
Ia mengenakan kaos garis-garis horizontal hitam-putih. Sweater abu-abu membungkus punggung dan lengannya. Anehnya, ia hanya mengenakan celana tiga per empat dengan sepasang sandal. Mungkin kulit di kakinya seperti kulit badak… atau mungkin memang kulit ba—
"Maaf, kupikir ini giliranmu."
Aku terbangun dari lamunanku. Pemuda miskin itu telah melangkah menuju pintu keluar tanpa sempat kusadari. Suara tadi milik seorang pria yang mengantre di belakangku. Ia mengatakannya sambil menepuk bahuku. Aku lantas mengibaskan tanganku pada bahu yang ia sentuh. Walaupun aku tidak melihat rautnya, kuyakin ia memasang wajah mengerut sekarang.
—marduk 789—
Aku membanting pintu apartemen dan itu mengagetkan Hinata yang baru keluar dari kamar mandi. Ia melihat dengan tatapan heran (tidak lupa, tatapan kebencian) padaku sebentar sebelum masuk ke kamarnya. Aku melemparkan camilan yang kubeli ke atas meja.
Pemilik apartemen sering menegurku karena kelakuanku ini. Bukan tanpa alasan aku melakukannya. Ada dua hal: pertama, mengetahui targetku hanya pemuda miskin; kedua, telingaku berdenyut. Aku lantas melemparkan kupluk dan mantel yang kupakai ke atas sofa kemudian menghempaskan tubuh di atasnya.
Tanganku meraba daun telinga kananku yang tertembus tiga tindik logam. Memang bukan pilihan yang bagus untuk menggunakan tindik di suhu seperti ini. Aku teringat perkataan yang pernah dikatakan Kakuzu. "Kau bisa mati kalau tetap menggunakan tindik di musim dingin."
Aku tentu tidak percaya dan kubuktikan dalam dua musim dingin yang terlewat sejak saat itu, aku masih hidup. Ia suka melebihkan sesuatu (harusnya aku tahu sejak awal ia lebih suka aku mati). Musim dingin memang membuat tindikku sangat menusuk dibanding rasa dingin yang kurasakan di tubuhku. Tapi bukan berarti aku akan mati karenanya. Terlebih ini masih musim gugur, setidaknya masih tersisa seminggu lagi sebelum musim dingin.
Aku mengambil ponselku lalu menelepon nomor yang sengaja tidak kusimpan. Tanpa memberi kesempatan orang di ujung sambungan merespons, aku meneriakinya duluan. "Kau mau menertawakanku, huh?! Lebih baik kauperiksa otakmu itu ke psikiater sebelum memintaku mengawasinya!" Lalu kuputuskan sambungan.
Ponselku berdering sepuluh detik kemudian. Sebuah e-mail masuk. Dari Kakuzu, kuyakin.
"Kau merajuk seperti perempuan."
Empat kata lugas yang kubaca membuatku ingin melemparkan ponselku ke dinding kemudian menginjak-injaknya hingga remuk. Toh, itu hanya dapat terkilas di imajinasiku saja. Aku akan melakukannya jika saat ini memiliki dua ponsel.
"Ke sini kau sekarang! Aku akan tunjukkan kalau kaulah satu-satunya yang seperti perempuan yang lebih menyebalkan dari pelacur hostel dengan bayaran tinggi padahal tidak ada yang istimewa di tubuhnya!"
"Kini kau berujar seperti perempuan."
"Aku akan membunuhmu secepatnya! Aku pastikan sebelum kau mati, kau dapat merasakan betapa neraka paling bawah tidak sekejam pukulanku!"
Ponselku tidak berdering. Aku tahu ini terlalu kekanakan, tapi seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, aku tidak mau kalah. Seperti ada bisikan-bisikan meremehkan jika aku melakukannya dan itu akan membuatku semakin berang.
Keinginanku untuk mengunyah camilan hilang sudah. Ketika melihat pemuda kuning itu, mood untuk makan lenyap seperempat dan menurun terjal setelah Kakuzu mengatakan dua kalimat tadi. Bahkan untuk hal yang seperti ini pun, aku tidak habis pikir Kakuzu tetap mendapat porsi yang besar. Apa karena angka tidak dapat lagi menghitung kegondokanku untuknya?
"Hinata! Ambilkan aku minuman!"
Suara pintu terbuka yang kudengar kemudian. Tidak lama, sekelebat bayangan melayang berat mengenai kepalaku. Aku berteriak bersamaan dengan suara benda yang jatuh menghantam permukaan lantai. Sebuah kaleng minuman bersoda berguling kemudian dan tebakanku memang benar. Tidak dapat kudeskripsikan dengan benar betapa kepalaku ingin meledak oleh denyut-denyut penuh emosi. Mungkin kau pernah merasakannya, ini sangat menjengkelkan!
Kulihat kaleng soda yang menggelinding di lantai berhenti mengenai ujung sofa. Aku bangkit dari dudukku, mengambil kaleng soda yang isinya sedang bereaksi.
"Kau tahu apa jadinya jika kaleng dingin ini kubuka di depan wajahmu?"
Kakinya bergerak mundur ketika aku mendekatinya hingga tubuhnya bersentuhan dengan dinding. Merasa terpojok, ia mencoba meloloskan diri dengan melewati celah lebar di sebelah kami. Namun seribu tahun pun tidak cukup untuknya dapat kabur dariku. Gerakanku lebih cepat untuk menarik tangannya dengan tangan kiriku yang bebas lalu mendorongnya kembali ke dinding bercat cokelat itu.
Tubuhnya mengantarkan getaran ingsut ketakutan pada saraf-saraf di tanganku. Darah mengalir deras memenuhi wajah, terutama matanya. Ketika kupikir ia akan menangis, ia malah menamparku.
"A-aku tidak suka napasmu itu. Menjauhlah dariku!" teriaknya masih terdengar ragu yang kuyakin untuk sekadar mengeliminasi rasa takutnya.
Aku tersenyum kecut. Ini pertama kalinya aku ditampar perempuan. Tidak terasa sakit memang (aku terbiasa merasakan hal yang lebih dari ini), tapi aku tidak dapat menahan rasa direndahkan yang muncul setelahnya.
"Kau tahu, membangunkan hewan buas saat ia tertidur akan mengancam nyawamu sendiri. Bahkan memohon ampunan bukan pilihan yang bijaksana saat kau tahu waktumu terlalu berharga untuk memasang topeng pengecut."
"Aku tidak akan meminta ampun padamu! Kau satu-satunya orang yang ingin kubunuh!"
Walaupun pemalu di luar, ia dapat keras kepala juga. Usahanya cukup membuatku takjub. Di sela-sela tubuhnya yang seperti kehilangan tulang itu—bersyukurlah kau karena kubekuk, aku dapat merasakan kebencian yang membara di dalamnya.
"Lepaskan, B-Bodoh!" teriaknya lagi di sela napas beratnya.
Ia meringis karena aku semakin menggenggamnya kuat. "Bodoh? Bodoh kaubilang? Kau samakan aku dengan tiga siswa kemarin?!"
"Kau lebih menyedihkan dari mereka, asal kautahu!"
"Kau… beraninya—"
Setelahnya berdesis. Suara dari kaleng yang kupegang remuk di tanganku, menguarkan aroma khas minuman berkarbonasi. Mataku tidak berkedip ataupun beralih. Aku tahu ia menatap ngeri dari ujung matanya pada kaleng yang isinya kini mengotori lantai.
Napasnya memelan. Matanya menutup perlahan diikuti tubuhnya yang benar-benar lemas seperti korban kehabisan napas. Aku tidak akan tertipu oleh musang licik yang berpura-pura mati.
"Hei, bangun. Aku belum selesai."
Dan ketika kulepaskan genggamanku, tubuhnya melemas begitu saja. Merosot jatuh hingga punggungnya menyentuh antara pangkal dinding dan permukaan lantai. Baru kusadari wajahnya sangat pucat, hampir-hampir membiru mungkin. Cairan soda mulai bergerak merembesi celana piyama panjangnya. Aku membeku tanpa alasan yang dapat kujelaskan. Aku tahu (jika ia tidak sedang menipuku) ia pingsan. Ini pertama kali juga aku melihat perempuan pingsan karena ketakutan.
Aku berjongkok di depannya, memastikan ada gelagat aneh yang tertinggal di dirinya. Sayangnya tidak ada, sama sekali. "Bangun. Hei…," gumamku sambil menepuk-nepuk pipinya, memastikan. Tidak ada respons. Percuma saja. "Yang benar saja…!"
Aku bangkit. Berpikir positif lebih kubutuhkan sekarang. "Bagus, Hidan, setidaknya kau tidak kalah hari ini." Aku menghela napas, ternyata memeliharaseorang perempuan dapat semerepotkan ini. "Tapi apa yang harus kulakukan padanya sekarang?" aku berujar dalam hati.
Pandangan kusebar ke segala arah, mencari sesuatu yang aku sendiri tidak begitu tahu apa. Mataku berhenti agak lama di lemari cokelat pinus yang terletak di pojok ruangan. Di situlah aku tahu apa yang harus kulakukan.
Aku mengambil bantal dan selimut. Bantal kuletak di atas kepalanya dan selimut di atas tubuhnya. Aku tidak ingin mengambil risiko menggendonya ke kamar (bisa saja ia tersadar lalu menusuk jantungku dengan benda tajam yang mungkin ada di sebalik pakaiannya), juga akan merugikanku jika besok ia sakit.
Aku kembali merebahkan diriku di sofa. Persetan dengan rasa hausku, itu telah hilang entah sejak kapan. Aku merasa malam ini begitu panjang. Ah, benar juga, semakin medekati musim dingin, malam akan bergerak lebih lama. Melelahkan sekali hari ini.
—bersambung—
Author's Note: seharusnya di kolom karakter nama Hidan duluan, baru Hinata. Tapi berkali-kali saya edit, hasilnya tetap nama Hinata duluan yang muncul. Harap maklumi, ya. Senang sekali dapat menyelesaikan chapter 2 secepat ini. Hehe.
Oh, ya, untuk yang review pakai akun anon kemarin (moga aja masih mengikuti ini), saya ucapkan terima kasih. Maaf kalau di chapter ini kurang memuaskan.
