.

HunHan

Male-pregnant!

.

Story belong to rosavine and thatweirdo on asianfanfic.

.

Original link(delete space):

www. asianfanfics story/ view/671232/

.

70% Literally

30% Meaning

.

.

Chapter 1

.

.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Luhan merasa amat sangat kacau. Sejujurnya, dia tidak mengharapkan apapun terjadi dan tentu saja terutama, ia tidak mengharapkan ini terjadi. Tapi Tuhan selalu punya cara untuk mengacaukan hidup seseorang dan Luhan hanya kebetulan menjadi korban tidak beruntung saat ini. Tangannya sedikit bergetar ketika ia membawa cangkir ke bibirnya, semua tanda-tanda sudah terlihat jelas di depannya jadi kenapa dia tidak bisa mendeteksi ini lebih cepat? Kelelahan yang seolah tidak pernah pergi, nafsu makan buruk serta selalu merasa mual. Itu sudah sangat jelas di depan wajah tapi Luhan selalu berhasil menepisnya, berkata pada diri sendiri bahwa ia mungkin hanya terlalu banyak bekerja.

Melihat ke belakang, ia menduga bahwa ini adalah caranya untuk menyangkal atau melarikan diri dari kenyataan. Dia menyentuh perutnya hati-hati dan mengutuknya kemudian, Luhan belum siap bertanggung jawab untuk kehidupan lain. Ck, dia mungkin tidak akan pernah siap untuk itu. Ini bukan masalah kecil dan tidak hanya melibatkan dirinya saja, ia masih mempertimbangkan apakah dia harus memberitahu Oh Sehun—Ayahnya. Bagaimana pria itu akan bereaksi terhadap berita ini? Ketika melakukan itu, hanya akan ada dua kemungkinan reaksinya. Pria itu akan menerimanya atau dia mungkin akan menuntut Luhan menyingkirkan anak ini. Dari dua kemungkinan itu, ia menduga Sehun akan memilih opsi kedua.

Itu masuk akal, pria itu bos mafia terkenal dengan seluruh gengster Korea di bawah kendalinya. Dia adalah seseorang yang tidak akan ragu menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalannya. Oh Sehun adalah tipe orang yang; kejam, tidak bermoral, dan tidak menunjukkan belas kasih kepada orang-orang yang menurutnya tidak berguna.

Nah, jika dia tidak menerimanya, Luhan hanya akan membesarkan anak ini sendirian. Menyingkirkannya bukan pilihan, itu bertentangan dengan norma dan segala aturan yang di anut Luhan dan dia tidak sekejam itu. Namun, jangan dulu mengkhawatirkan tentang ini sekarang. Dia harus mendapatkan konfirmasi dulu sebelum memutuskan apa yang yang harus dia lakukan selanjutnya.

Dengan pemikiran seperti itu, Luhan pergi ke apotek terdekat.

.

Kenapa harus ada begitu banyak merek testpack di pasaran sih? Kepala Luhan berputar karena ia harus memilih sebuah testpack. Apa yang membuat yang satu lebih baik dari yang lain? Bagaimana orang tahu mana yang harus mereka pilih lagian?

Dia mengambil satu dari rak, memeriksanya ketika ia melihat beberapa wanita melihatnya aneh. Memberi mereka senyum kecil, Luhan meraih beberapa dengan cepat dan berjalan ke depan. Dia mengalihkan matanya dari kasir yang sedang memindai objek dan mungkin sedang menilainya karena, siapa orang aneh membeli empat testpack? Well, mengambil empat testpack memang berlebihan tapi menempatkankannya kembali ke rak itu sangat memalukan, cukup untuk membuat Luhan tidak bisa berdiri di kakinya.

Setelah kasir selesai memindai testpack terakhir, ia memberitahu Luhan jumlah yang harus ia bayar. Merogoh sakunya, Luhan terlambat menyadari bahwa ia lupa membawa dompet karena tergesa-gesa ketika pergi ke apotek.

Dari semua hal yang terjadi, kenapa ini terjadi sekarang. "Sepertinya aku lupa—"

"Aku akan membayar itu," Sebuah tangan terulur memberikan kartu pada kasir, Luhan menoleh untuk melihat wajah orang itu—Oh Sehun. Yah, setidaknya salah satu kekhawatirannya hilang, karena ia tidak harus memikirkan cara untuk memberitahu pria ini tentang kemungkinan ia mengandung anaknya. Meraih kantung testpack dari kasir, Luhan berjalan mendahului Sehun.

Setelah mereka berada di luar, Sehun melepas syalnya, memasangkannya di leher Luhan dan mengikatnya dengan aman. Sebuah mobil yang tampak mahal berhenti di depan mereka dan tidak perlu menjadi jenius untuk tahu bahwa ini adalah milik Sehun; semua mengkilat dan kuat, elegan dan berkelas seperti pemiliknya.

Membuka pintu, Luhan berlari ke samping, menghindari Sehun. Terlepas dari fakta bahwa Luhan terlihat jelas hamil, memulai percakapan dengan ayah dari anaknya yang belum lahir tidaklah mudah.

Pria itu mengejutkan tenang, bahkan tidak mangungkit tentang empat testpack yang berada di tangan Luhan. Apa pria ini akan membuat semuanya jadi rumit? Dia hanya harus mengatakan sesuatu lebih dulu sehingga Luhan bisa tahu apa yang akan dia lakukan. Semakin dia berpikir tentang itu, semakin dia terganggu. Dia akan memulai percakapan saat mobil berhenti di apartemen mereka. Mengambil kesempatan, Luhan keluar dari mobil, dengan cepat pergi ke toilet dan mengunci pintu setelah ia berada di dalam.

Mengambil testpack, Luhan mulai mengikuti langkah-langkah yang harus dia lakukan. Waktu menunggu mungkin bisa membunuhnya, dia tertekanan dan berkeringat sangat banyak sangat tidak membantu. Melirik waktunya di setiap detik yang berlalu tidak membuat waktu menjadi lebih cepat dan ia mulai mondar-mandir, dia bersyukur sekaligus kesal, karena toilet Oh Sehun luar biasa besar, bahkan ada jacuzzi di sudut.

Dia berjalan ke meja ketika ia mendengar bunyi bip berbeda di ponselnya yang mengisyaratkan bahwa waktu menunggunya selesai. Meremas matanya tertutup, Luhan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri karena jika tidak melakukannya ia akan pingsan sekarang juga.

Membuka sebelah matanya dengan perlahan, ia melihat hasil tes.

Sial.

.

.


T/n: Ini pendek. Iya pendek. Darisononya emang segini. Makanya dobel apdet.

Oke

.

Just klik next to continue—