MY 'FLAT' POSTMAN
.
Naruto miliknya Masashi Kishimoto, kalau punyaku pasti gak bakal laku XD
Rated: T
Warning: AU, OOC akut, Typo(s), gak sesuai Eyd, Gaje, Abal, dan sederet kekurangan lainnya
.
Dedicated for Mitsuki Ota
.
Big Thanks to:
Mitsuki Ota, minatsuki heartnet, Saruwatari Yumi, Hyou Hyouichiffer, mery chan, Hizuka Miryuki, uchihyuu nagisa, Nerazzuri, chibi tsukiko chan, YamanakaemO, dan n
.
Happy reading! ^o^
.
"Jadi? Sekarang Hinata-neechan udah nggak tertarik sama teman penanya Neechan, dan lebih menyukai tukang pos baru itu?"
Hinata mengerjap. Dia sama sekali tidak mengerti dengan maksud Hanabi. Tapi melihat seringaian adiknya itu, dia sepertinya mulai paham. "Aku bahkan tidak tahu namanya," sahutnya.
Hanabi memainkan alis. "Masa sih? Lalu, kenapa Neechan tadi malam malah pulang sama dia?"
Sebenarnya tidak juga. Hinata hanya tidak ingat siapa nama tukang pos itu. Sasuge, Sakuce, atau apa tadi. Apakah itu sama dengan tidak tahu namanya? "Aku hanya kebetulan bertemu dengannya saat mobilku mogok. Dan dia menawarkan diri untuk mengantarkanku pulang."
"Hanya itu?" Hanabi masih menatapnya dengan pandangan menyelidik. "Apa kalian tidak merasakan sesuatu?"
"Hah?"
"Maksudku, apa kalian tidak membicarakan sesuatu?"
Hinata menggeleng. Dia jujur. Selama perjalanan pulang, Hinata memang sama sekali tidak berbicara pada tukang pos itu. Tapi jika Hanabi menanyakan kejadian sebelumnya, yah, dia juga tidak mungkin mengatakan kalau tukang pos itu menyatakan cinta secara mendadak. Sekilas, pipi Hinata terasa memanas.
"Sayang sekali!" Hanabi berdecak. "Padahal dia tampan!"
Tapi aneh. Hinata mengurungkan niat untuk menambahkan.
"Setidaknya, dia lebih nyata ketimbang sahabat pena Neechan yang belum pernah Neechan temui itu!"
Hinata diam. Memikirkan Sang sahabat pena. Hinata memang tidak pernah bertemu dengannya. Mereka hanya berkomunikasi melalui surat. Dan Hinata hanya tahu wajahnya dari selembar foto yang dia kirimkan. Tidak ada yang tahu apa itu sungguhan dia. Tapi entah bagaimana, Hinata sudah merasa begitu mengenalnya.
"Yang jauh terkadang justru terasa jauh lebih kita kenal, Hanabi."
Hanya itu yang Hinata ucapkan sebelum pergi meninggalkan adiknya yang menatapnya bingung.
.
.
.
.
.
Sasuke menatap setumpuk paket dan surat yang harus dia kirimkan hari ini. TIdak ada satu pun surat yang ditujukan pada Hinata. Dia mendecih. Jika tidak ada surat yang ditujukan pada Hinata, Sasuke tidak mungkin punya alasan untuk mendatangi gadis itu.
Apa sebaiknya Sasuke membuat surat sendiri dan mengirimkannya sendiri pada Hinata?
Tidak. Itu bodoh, Sasuke meyakinkan dirinya sendiri.
Lalu, apa yang harus Sasuke tulis di dalam surat itu? Surat ancaman agar Hinata mau menjadi pacarnya?
Ugh. Itu lebih bodoh lagi! Sasuke menggeleng. Mungkin dia harus melupakan harapannya untuk bertemu Hinata hari ini.
Mungkin…. Mungkin dia akan menuliskan surat perkenalan pada gadis itu. Jika Hinata tidak mau menerimanya sebagai tukang pos, mungkin gadis itu akan menerimanya sebagai seorang sahabat.… Apa namanya? Pena? Ya! Sahabat pena!
Itu. Bodoh. Sasuke. Pemuda itu mengingatkan dirinya lagi.
Tapi, Sasuke sangat ingin bertemu Hinata. Jadi, apa yang harus dia lakukan?
"Sedang apa kau di sini, heh?"
Pemuda itu menatap Gaara yang entah sejak kapan berdiri di hadapannya dengan tidak berminat.
"Bukan urusanmu!" sahutnya. Lalu, matanya menyipit saat melihat setumpuk majalah yang Gaara bawa. "Apa itu?" tanyanya.
"Ini majalah, Bodoh!"
"Aku tahu!" Sasuke memutar bola mata. "Maksudku, untuk apa kau membawa setumpuk majalah? Kita kan tukang pos, bukan sales atau penjaja majalah!"
"Kau itu memang bodoh!" Gaara melengos. "Ada beberapa majalah yang memang dikirimkan via pos kepada para konsumernya. Mungkin mereka malas untuk mencari orang yang bisa mengantarkan tiap majalah ke tiap-tiap rumah."
"Hn."
Sasuke bergumam tidak jelas. Membuat Gaara mendengus dan akhirnya pergi begitu saja. Entah kenapa, dia kesal dengan tanggapan temannya itu. Padahal, dia sendiri terkadang juga suka berbicara begitu irit seperti Sasuke.
Seperginya Gaara, Sasuke kembali berpikir mengenai rencana apa yang akan dia lakukan agar bisa bertemu Hinata. Dan seketika itu, sebuah ide muncul di kepalanya.
Sasuke kirimkan saja majalah ke Hinata, lalu katakan itu adalah bonus dari kantor pos karena gadis itu begitu sering mengirim surat.
Benar juga! Sasuke menggangguk-angguk. Sepertinya setelah ini dia akan berterima kasih pada Gaara karena telah memberikannya inspirasi.
Lalu pemuda itu membuka dompetnya, menghitung apakah uang yang dimilikinya cukup untuk membeli sebuah majalah. Dan seketika mendengus. Mungkin selain berterima kasih, dia juga harus meminjam uang pada si panda merah tadi.
.
.
.
.
.
Hinata sudah begitu sering mengirim surat. Mungkin sejak dia masih di bangku sekolah dasar. Tapi, baru kali ini dia mendapatkan bonus karena begitu sering berlangganan. Karena itu dia menatap majalah yang baru saja diberikan oleh tukang pos di hadapannya dengan tatapan bingung.
"I-ini untuk saya?"
Sasuke menggangguk. Entah untuk keberapa kali. Kenapa sih Hinata susah banget percaya?
"Kami hanya sedang menghargai pelanggan setia kami," tutur Sasuke, meyakinkan.
"Tumben," Hinata bergumam, "Biasanya kalau ada semacam hadiah pun, akan diberikan ke pelanggan yang memiliki kartu member. Saya, kan, tidak punya."
"Kenapa kau tidak punya?"
"Karena seorang costumer baru bisa dapat kartu member jika paling tidak mengirim di atas lima ratus ribu yen per bulan. Saya hanya mengirim maksimal empat surat satu bulan—tidak sampai lima ratus ribu yen."
Ya, Hinata kan hanya berkirim surat dengan satu sahabat penanya.
Sasuke mengangkat bahu. Terlalu bingung harus menjawab apa. Dan terlalu gangsi buat bilang kalau dialah yang ngasih majalah itu dengan ngutang sama Gaara biar bisa ketemu lagi sama Hinata.
"Ya, sudah deh. Te-terima kasih ya—"
"—Sasuke."
"Oh, ya, Sasuke-san. Terima kasih."
Lalu Hinata masuk ke rumahnya dan menutup pintu. Meninggalkan Sasuke yang masih berdiri, dan bahkan belum sempat menyahut ucapan terima kasihnya.
Meski begitu, sebuah senyum mengembang di bibir Sasuke.
Yes! Rencananya berhasil! Meski hanya sebentar, ngeliat muka Hinata ternyata benar-benar bikin dia senang!
Lalu pemuda itu menatap daftar kiriman barang apa lagi yang harus dia kirimkan. Dan seketika merutuk. Masih terlalu banyak yang belum dia kirim. Dan dia sudah membuang banyak waktu dengan membeli majalah dan mendatangi Hinata.
Tapi, dia tidak menyesal kok. Mungkin dia akan melakukannya lagi lain kali.
.
.
.
.
.
Hinata terdiam menatap majalah di tangannya. Mengamati nama majalah dan gambar yang terpampang di cover-nya. Dia menaikkan alis. Lalu menaruh majalah itu ke sembarang tempat.
Dia tidak tertarik dengan topik yang dibahas majalah itu.
Siapa pun yang mengusulkan pemberian hadiah majalah itu untuk para pelanggan pos, pasti bukanlah orang yang kreatif. Oh, kecuali kalau sang pemilik majalah itu memang bekerja sama dengan kantor pos. Sudahlah. Hinata tidak peduli.
Akhirnya, dia pergi ke kamarnya, mengerjakan PR-nya yang sempat tertunda dan melupakan majalah itu seutuhnya.
Selepas Hinata pergi, Hanabi muncul dan memungut majalah yang teronggok di atas meja ruang tamu. Dia mengernyit membaca judul majalah itu.
"Siapa sih yang beli majalah ginian?" Dia bertanya sendiri. Lalu mengangkat bahu dan melemparkan majalah itu sembarangan. Membuatnya terjatuh dengan tidak elit di lantai.
Dan jika ada lagi yang berusaha memungut majalah itu, pasti semuanya juga akan bertanya, sejak kapan majalah "ibu hamil dan menyusui" cocok untuk hadiah pelanggan pos? Lain lagi ceritanya jika yang menemukan majalah itu Hiashi. Mungkin saja dia akan mengingat-ingat semua penghuni rumah —yang hanya terdiri dari dia dan dua anak perempuannya— dan mengira-ngira dengan emosi memuncak, siapa yang sedang hamil?
Oh, tidakkah Sasuke tahu kalau majalah yang dia belikan khusus untuk Hinata itu sama sekali tidak berguna? Malah, bisa saja membawa petaka.
Sepertinya, selain memikirkan masalah penampilannya yang semuanya KW, dia juga harus memikirkan cara yang lebih cerdas untuk menarik perhatian seorang gadis.
.
.
TBC
.
.
A/N: 15 bulan nggak update! Wow! Udah itu chapter ini pendek dan gaje. LoL #malah bangga #ditimpuk
Gak yakin ada yang ingat sama fic ini. :P
Tapi terima kasih deh kalau masih ada yang mau mampir.. DX
