Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Drama, romance

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

Selamat membaca!

Mr. Arrogant

Chapter 2 : Damai?

By : Fuyutsuki Hikari

Matahari bersinar terik siang ini. Naruto memilih untuk menikmati sisa waktu istirahat siangnya di taman belakang hotel. Gadis muda itu menggenggam kaleng minumam ringan yang isinya sudah habis setengah. Ia lalu mendongak, menyempitkan mata sebelum akhirnya menyeka peluh di keningnya dengan punggung tangannya.

Gadis itu menghela napas, pikirannya melayang jauh. Pantai. Dia membayangkan dirinya berada di tepi pantai yang eksotis saat ini. Angin yang bertiup, pasir putih, suara debur ombak, nyanyian camar, gelak tawa ceria, serta aroma garam seolah menggelitiknya. Merayunya untuk datang ke tempat itu.

Ah... ingin sekali dia melarikan diri dari rutinitas pekerjaannya. Kedua matanya terpejam rapat, mulutnya ditekuk ke atas, otaknya masih membayangkan suasana pantai yang menggiurkan. Sejurus kemudian, gadis itu membuka kedua matanya lalu menekuk dalam wajahnya. Musim panas kali ini tidak ada pantai untukku, keluhnya di dalam hati. Jangankan liburan, sudah dua minggu ini dia terus pulang larut malam akibat hukuman yang diberikan Sasuke untuknya.

"Apa tugas yang kuberikan sudah membuatmu gila?"

Perlahan, Naruto mendongakkan kepala, menatap pemilik suara bariton yang terdengar dingin dan geli secara bersamaan? Shit! Umpatnya di dalam hati. Kenapa dia harus bertemu dengan GM-nya di tempat ini? Naruto segera berdiri, merapikan rok kerjanya dengan gerakan kikuk lalu membungkuk hormat.

Sebelah alis Sasuke naik, matanya menatap tajam Naruto yang masih menundukkan kepala. Terlihat betul jika gadis itu merasa tidak nyaman berada di dekatnya saat ini. "Apa sekarang kau juga mengalami gangguan pendengaran?" sindirnya saat Naruto tidak juga menjawab pertanyaannya.

Naruto mendongak, kepalanya dimiringkan ke satu sisi. Apa maksud atasannya ini? Tanyanya di dalam hati. "Maaf, saya tidak mengerti apa maksud pertanyaan Anda." Jawabnya sesopan mungkin. "Dan tidak. Pendengaran saya sama sekali tidak ada gangguan." Sambungnya, masih dengan nada hormat yang dipaksakan.

"Jangan melamun dan tertawa seorang diri, Nona Namikaze!" tegur Sasuke kemudian. Oh, nada suaranya kini terdengar lebih tajam. Nada perintah seorang atasan pada bawahannya.

Naruto mengerjapkan mata. Bagaimana bisa dia tahu jika aku melamun tadi? Gadis itu menggumam di dalam hati. Sejak kapan atasannya itu berada di sana dan memperhatikannya? Kenapa harus Sasuke yang memergokinya saat ini?

"Ini tempat umum. Kau harus bisa menjaga sikap. Bagaimana jika ada tamu yang melihat kelakuan konyolmu dan beranggapan jika hotel ini memperkerjakan karyawan yang diragukan kesehatan mentalnya?"

Naruto terbelalak. Kedua matanya membulat sempurna. Sikap konyol apanya? Dia menganggap aku gila?

"Kau harus bisa menyesuaikan diri dengan rekan-rekan kerjamu yang lain." Tegur Sasuke lagi. "Jangan memisahkan diri, dan melamun seperti orang bodoh seperti tadi!" tambahnya sebelum beranjak pergi meninggalkan Naruto yang membatu di tempatnya berdiri.

Hening.

Gadis muda itu mendengus keras setelah terdiam beberapa saat. "Pertama dia menyebutku gila, lalu mengatakan jika pendengaranku terganggu, mengatakan sikapku konyol lalu mengatakan aku seperti orang bodoh?" Naruto menggerutu dan membalikkan badannya dalam gerakan cepat. Dengan ekspresi kesal dia mengacungkan kepalan tangannya ke udara pada punggung Sasuke yang mulai menjauh.

Lagi-lagi Naruto membeku, ekspresi kesalnya hilang, berganti dengan ekspresi terkejut, bercampur takut saat secara tiba-tiba Sasuke menoleh lewat bahu bidangnya ke arah gadis itu. Dilihatnya Sasuke yang menyempitkan mata, rahang wajahnya mengeras. Marah? Ya, sepertinya Sasuke marah dan tersinggung oleh sikap tidak sopan Naruto saat ini.

Apa katanya barusan? Tidak! Pasti aku salah mendengar ucapannya. Runtuknya di dalam hati. GM-nya itu tidak mungkin semarah itu hingga kembali memanggilnya untuk menghadap ke kantornya sepulang kerja nanti. Iya, kan?

"Ya, Tuhan! Cobaan apalagi yang Kau berikan padaku?" ratap Naruto dengan kepala menengadah menatap langit biru di atasnya.

"Naruto?!" teriakan Ino dari kejauhan mengembalikan kesadarannya. "Apa yang kau lakukan di sana?" Ino masih berteriak saat Naruto bergeming di tempatnya dan menatapnya dengan wajah hampir menangis. Ino yang melihat hal itu jelas terlihat terkejut. Setengah berlari dia menghampiri Naruto. "Ada apa?" tanyanya semakin panik saat Naruto terisak kecil. "Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? Kau sakit? Capek?" tanyanya lagi dengan beruntun. "Demi, Tuhan. Katakan apa yang terjadi!"

"Aku melakukan kesalahan bodoh lagi," sahut Naruto terdengar putus asa. "Kali ini dia akan menghabisiku." Tambahnya, merinding ngeri.

"Jangan menangis!" Ino menghapus air mata di wajah Naruto yang terlihat begitu menderita. "Memangnya hal bodoh apalagi yang bisa kau lakukan?"

Naruto menyeka air matanya cepat. Sedikit terisak dia menjawab. "Aku mengacungkan kepalan tanganku."

"Hanya itu saja?" Ino mendecih. "Kau terlalu berlebihan, Naruto. Memangnya kenapa kalau mengacungkan kepalan tangan? Itu bukan hal yang patut dibesar-besarkan." Ujarnya dengan kedua tangan dilipat di depan dada.

"Aku mengacungkan kepalan tanganku pada punggung Uchiha-san." Jawab Naruto penuh sesal. "Tiba-tiba saja dia menoleh ke belakang dan melihatnya."

"Mati!" seru Ino panik. "Kali ini kau akan mati bersimbah darah di tangannya, Naruto." Tambahnya begitu berlebihan. "Kenapa kau bisa bersikap begitu bodoh?" omel Ino kesal. "Apa kau tidak pernah mendengar jika GM kita itu memiliki indra keenam yang bisa mendeteksi kebodohan bawahannya?"

"Mana aku tahu," rengek Naruto. "Dan dia menyuruhku menghadap ke kantornya pulang kerja nanti."

"Selamat tinggal, Naruto!" ucap Ino dengan gaya sedih berlebihan. Gadis itu memeluk tubuh Naruto erat dan bergumam kecil. "Aku pasti merindukanmu."

Naruto menyentak tubuh Ino keras dan membentaknya kasar. "Kau mendoakanku untuk dipecat?" tanyanya tak percaya.

Ino mengangkat bahu dan menjawab santai. "Itu lebih baik daripada kau mati di tangan Uchiha-san."

"Apa yang harus kulakukan?" ratap Naruto dengan ekspresi memelas.

Ino membulatkan kedua matanya saat sebuah ide mampir di kepalanya. "Berlutut dan meminta maaf padanya. Katakan hal ini tidak akan terulang lagi."

Naruto terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya melirik kearah Ino yang menatapnya lurus. "A-aku harus melakukan itu?" tanyanya terbata.

Ino mengangguk penuh semangat. "Harus! Dia tidak mungkin tidak luluh jika kau mau berlutut dan mengakui kesalahanmu. Jangan lupa, pasang air mata untuk mendramatisir keadaan."

"Dia pasti luluh?"

"Pasti." Jawab Ino penuh keyakinan.

Naruto menekuk wajahnya, terlihat tidak rela. "Apa aku harus berlutut juga?" tanyanya. "Bagaimana jika aku membungkuk saja di depannya?"

"Ayolah, Naruto. Kau tidak akan terluka hanya karena berlutut di depannya." Hibur Ino.

"Tapi harga diriku akan terluka hebat," tolak Naruto keras.

Ino menghela napas panjang, "kalau begitu, pikirkan saja jalan keluarnya sendiri!" tukasnya sebelum beranjak pergi meninggalkan Naruto yang mengikutinya dengan wajah memelas, beberapa detik kemudian.

.

.

.

Sakura yang berdiri di belakang meja penerima tamu sedikit menekuk wajahnya saat ujung matanya menangkap sosok Naruto yang berjalan gugup menuju ke arah lift. "Kenapa nasibnya selalu saja sial?" gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar. "Kenapa dia terus melakukan hal bodoh?" tambahnya dengan gelengan kepala pelan.

Karin yang berdiri di sampingnya melempar senyum ramah pada dua orang tamu wanita yang berdiri di hadapannya. Gadis berusia dua puluh lima tahun itu lalu menyerahkan sebuah kunci kamar. "Apa ada hal lain yang dapat saya bantu?" tanyanya, juga dengan nada ramah. Kedua tamu itu menggeleng pelan, mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya melangkah pergi menuju ke kamar yang telah mereka pesan sebelumnya.

Karin membungkuk kecil, menegakkan tubuhnya, lalu menghela napas panjang. "Wajahku nyaris kaku karena tersenyum sepanjang waktu." Keluhnya pada Sakura yang masih menatap ke arah Naruto yang kini berdiri di depan lift. "Hei! Kau dengar apa yang kukatakan tadi?" tanyanya sambil menyikut pelan tangan Sakura.

"Apa?!" Sakura balik bertanya. Jelas tidak mendengar apa yang dikeluhkan Karin padanya beberapa saat yang lalu.

"Sebenarnya apa yang sedang kau lihat?" tanya Karin lagi sementara matanya mengikuti arah tatapan Sakura. "Ah, Naruto!" seru Karin. "Ada apa lagi dengannya?"

"Kau belum tahu?" Sakura menatap Karin dengan mata terbelalak lebar.

"Tentang apa?"

Sakura mengambil napas panjang, sebelum akhirnya kembali bicara untuk menjawab pertanyaan Karin. "Naruto melakukan hal bodoh lagi." Ujarnya.

Karin memutar kedua bola matanya. Tatapannya kembali beralih ke layar monitor untuk mengecek data tamu hotel. "Bukankah anak baru itu selalu melakukan hal yang bodoh."

"Kali ini berbeda," sahut Sakura dengan ekspresi berlebihan. Karin berjengit, lalu menatap Sakura dengan satu alis terangkat, meminta penjelasan. "Uchiha-san memergoki Naruto yang sedang mengacungkan tinju ke arahnya."

"Yang benar?" ujar Karin tak percaya, sementara Sakura mengangguk keras menjawab pertanyaannya. "Dia gila!" ujar Karin masih dengan mulut terbuka lebar.

"Benar-benar gila!" ralat Sakura membenarkan. Keduanya terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya Sakura kembali bicara. "Apa menurutmu dia akan dipecat?"

Karin mengangkat bahu, "entahlah."

"Aku merasa kasihan padanya," aku Sakura kemudian. Gadis berusia dua puluh empat tahun itu mengangkat tangannya lalu menyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga. "Kau tahu-kan, beberapa karyawan wanita senior terus saja mengerjainya."

"Aku tahu," sahut Karin cepat. "Suigetsu mengatakannya kepadaku. Dia juga melihat para senior wanita di departemen cuci memerintah Naruto ini dan itu. Padahal hukuman yang diberikan Uchiha-san pun tidak kalah beratnya."

"Bukankah dia hampir selalu pulang malam untuk menyelesaikan hukumannya."

"Dia selalu pulang hampir tengah malam," jawab Karin dengan kepala mengangguk pelan. "Bagaimana bisa dia mengerjakan semua tugas-tugas itu? Jika hal itu terjadi padaku, aku pasti sudah menyerah kalah sejak lama." Karin terus bicara dengan tatapan menerawang. Dia tahu beratnya masa training. Menyesuaikan diri di lingkungan kerja bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika di dalamnya terdapat persaingan ketat untuk mempertahankan posisi. Ya. Karin pernah mengalami hal itu dulu. "Kemarin dia pulang bersamaan dengan karyawan yang pulang shift siang."

"Benarkah?"

Karin mengangguk lagi. "Hm... Suigetsu yang mengatakannya kepadaku. Dia melihat Naruto keluar dari departemen cuci sekitar pukul dua belas malam."

"Menurutku Uchiha-san sangat berlebihan kali ini. Kenapa dia tidak langsung memecat Naruto saja? Bukankah itu lebih baik daripada menghukumnya seperti ini?"

"Dan aku tidak akan segan-segan memecat kalian berdua jika kalian masih bergosip di jam kerja!"

Wajah Sakura dan Karin memucat seketika. Dengan gerakan lambat mereka menoleh ke arah sumber suara. Wajah keduanya semakin pucat saat bertatapan dengan pemilik suara itu; Uchiha Sasuke. Pria muda berusia tiga puluh tahun itu berdiri sangat tampan dengan setelan jas warna abu tuanya, dia menatap keduanya dingin.

"Maafkan kami!" seru keduanya kompak sambil membungkuk dalam. Suara kedua bergetar, takut.

"Untuk sikap tidak profesional yang kalian lakukan, aku mengurangi poin nilai kinerja kerja kalian!" serunya mutlak sebelum beranjak pergi.

Karin dan Sakura kembali berdiri tegak setelah kepergian Sasuke. Mulut keduanya bergetar menahan tangis dan rasa takut yang bercampur menjadi satu. Ya, ampun. Poin untuk nilai kinerja kerja sangat sulit sekali mereka raih, keduanya merangkak pelan untuk sampai diposisinya saat ini, dan sekarang atasan mereka ini akan mengurangi nilai kinerja kerja keduanya? Oh, apa kabarnya nanti kenaikan gaji dan jabatan keduanya?

"Tahun ini jangan berharap kenaikan gaji besar dan kenaikan jabatan," Karin merengut sedih.

"Kita harus bersyukur karena kita tidak terkena serangan jantung tadi," Sakura mencoba untuk menghibur diri. Ya. Uchiha Sasuke nyaris membuat keduanya mati berdiri. Karin dan Sakura bahkan tidak berani menatap wajah atasan mereka itu untuk kedua kalinya. Mungkin apa yang dikatakan karyawan lain memang benar, pikir mereka. Sepertinya Uchiha Sasuke memang memiliki indra keenam yang berfungsi mencari kesalahan-kesalahan para staffnya.

.

.

.

Setelah menunggu di luar ruang kerja Sasuke selama hampir lima belas menit, Naruto akhirnya kembali berdiri di depan meja kerja atasannya itu. Gadis itu hanya berdiri di sana, tanpa bicara sepatah kata pun karena Sasuke memerintahkannya seperti itu.

Naruto berdiri semakin gelisah. Sudah satu jam dia berdiri dan Sasuke masih mengacuhkannya. Kenapa dia tidak langsung memecatku saja? Teriaknya di dalam hati. Naruto hanya bisa menunduk dalam saat manager dari departement resident, departement food & beverages, serta departement personnel datang silih berganti ke ruangan Sasuke untuk meminta tandatangan pria itu.

"Apa lagi yang dilakukannya sekarang?" Kakashi, manager food & beverage angkat bicara.

Sasuke mengangkat kepalanya, melirik sekilas ke arah Naruto yang kini berdiri di sudut ruangannya dengan kepala menunduk. "Aku akan menempatkannya di departemenmu selama satu bulan sebagai hukuman karena berlaku tidak sopan." Sasuke bicara penuh penekanan. Pria itu menutup dokumen yang baru saja ditandatanganinya dan diserahkannya kepada Kakashi yang terlihat tertarik mendengar penuturan atasannya itu.

"Bukankah dia ditempatkan di departement house keeping dan diperbantukan juga di departement laundry?"

"Benar." Jawab Sasuke tegas. "Dan dia juga akan diperbantukan di department food & beverage."

"Apa dia mampu melakukannya?" Kakashi balik bertanya jelas menyangsikan kemampuan Naruto. "Dia mengerjakan tugas dari dua departemen. Dan sekarang kau akan membebaninya dengan satu tugas lagi?"

Oh, kenapa mereka bicara seolah-olah tidak ada aku di sini? Apa mereka pikir aku patung? Ataukah mereka menganggapku makhluk kasat mata? Gerutu Naruto di dalam hati.

"Kenapa tidak?" Sasuke menjawab begitu santai. Mungkin hal itu terdengar ringan untuknya. "Dia bisa keluar kapan saja jika dia tidak sanggup melakukannya," jawab Sasuke tajam. "Hotel kita ini tidak memerlukan karyawan yang tidak berkualitas."

Kedua tangan Naruto terkepal erat mendengarnya. Berani sekali atasannya itu meremehkan kemampuannya. Aku pasti bertahan dan diangkat menjadi pegawai tetap. Tekadnya di dalam hati.

"Kitchen?" tanya Kakashi lagi.

"Service," jawab Sasuke cepat. "Tempatkan dia di food & beverage service."

"Aku sebenarnya tidak masalah." Sahut Kakashi kemudian dengan sebelah bahu diangkat ringan. "Tapi jika dia hanya menjadi beban di departemenku, aku tidak akan segan-segan menendangnya keluar tanpa persetujuanmu ataupun persetujuan departemen personil."

Kini giliran Sasuke yang mengangkat bahunya ringan. "Tidak masalah. Lakukan apapun yang kau inginkan. Kau boleh menendangnya tanpa persetujuanku. Lagipula, dia hanya karyawan training." Ujarnya terdengar tak peduli, namun dengan sorot mata tajam terarah pada Naruto.

Kakashi tersenyum lebar, kedua matanya menyipit sempurna karenanya. Ada yang aneh, pikirnya. Sikap atasannya itu memang terlihat begitu tak peduli, tapi gestur tubuhnya jelas mengatakan hal yang sebaliknya. Kakashi mengamati sosok Naruto untuk beberapa saat sebelum berujar penuh semangat. "Kalau begitu, selamat bergabung di departemenku, Anak baru!"

"Kau sudah mendengar tugas barumu, kan?" tukas Sasuke setelah kepergian Kakashi. Naruto mengangguk, mulutnya terkatup rapat. Dia terlalu malas menjawab perkataan atasannya itu. Sasuke mengangkat sebelah alisnya, "sepertinya kau kecewa dengan hukuman yang aku berikan. Kenapa, masih kurang?" cibirnya.

"Sangat cukup, Uchiha-san." Jawab Naruto dengan nada ramah dipaksakan.

"Kukira kemampuanmu sebanding dengan sikap kurang ajarmu itu, Nona Namikaze." Sindir Sasuke lagi terdengar begitu tajam. "Ingat. Aku atasanmu di sini. Dan kau harus bersikap sopan." Ujarnya mengingatkan status keduanya. "Apa kau juga akan mengacungkan tinjumu pada tamu yang mengeluh akan servis yang kau berikan?"

Naruto terdiam.

"Jawab?!" bentak Sasuke sambil menggebrak meja.

"Saya tidak akan melakukan hal itu." Sahut Naruto kemudian. "Saya akan bekerja dengan baik sehingga tamu tidak memiliki alasan untuk mengeluh."

"Kau berani melakukannya kepadaku. Apa jaminannya kau tidak melakukannya pada tamu?"

"Saya hanya kesal karena anda mencemooh saya," aku Naruto. "Jika saya sebodoh yang anda utarakan, kenapa anda dan departemen personil menerima saya untuk bekerja di hotel ini?"

"Hal itu tidak membenarkan perilaku tidak sopanmu." Sasuke berkelit dengan lihai.

"Dan anda juga tidak berhak mengatai saya seperti tadi," balas Naruto dengan nada satu oktaf lebih tinggi. Oh, kenapa atasannya ini selalu berhasil menyulut emosinya? Dan kenapa mulut gadis itu terasa gatal jika tidak membalas ucapan pedas pria di hadapannya ini?

"Apa yang kukatakan memang benar adanya. Kenapa kau harus tersinggung?" balas Sasuke telak. "Seharusnya kau bercermin dan memperbaiki perilakumu, bukan mengelak dan membantah, Nona Namikaze! Pergi dan pikirkan perkataanku!"

Naruto pun akhirnya memilih untuk mengakhiri kekeraskepalaannya. "Maaf untuk ketidaksopanan saya, Uchiha-san." Ujarnya sambil membungkuk dalam. "Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi."

"Pergi!" usir Sasuke dingin.

Naruto menegakkan tubuhnya, mengangguk kecil sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu dengan langkah cepat.

Waktu pun berlalu dengan cepat setelahnya. sudah hampir dua minggu ini dia diperkerjakan di tiga departemen sekaligus. Pukul delapan pagi hingga pukul sebelas siang dia bekerja di departement house keeping, pukul dua belas siang hingga empat sore dia bekerja di departement food and beverage, dan setelahnya dia membantu di department laundry.

Aku tidak menyangka bisa bertahan selama satu bulan di sini, ujarnya di dalam hati. Dia harus bersyukur karena dalam jangka waktu dua minggu ini dia jarang sekali berpapasan dengan Sasuke. Kedua alisnya menyatu saat memikirkannya. Atasannya itu bahkan bersikap seolah tidak melihatnya saat mereka kebetulan berpapasan. Naruto bahkan harus menahan diri saat pria itu tidak membalas sapaan hormatnya saat mereka bertemu. Ah, bukan berarti Naruto ingin pria itu membalas sapaannya. Hanya saja, kenapa pria itu membalas dengan mengangguk pelan pada karyawan dan karyawati lain yang menyapa dan memberinya hormat? Kenapa pada gadis itu berbeda? "Apa dia sangat membenciku?" gumam Naruto pelan. Hei, kenapa juga dia harus peduli?

Setengah melamun dia memasukkan pakaian seragamnya ke dalam loker sebelum menutup pintu loker dan menguncinya kembali. Dan seperti biasa, hari ini Naruto harus pulang menjelang pukul sebelas malam. Otot-ototnya terasa ngilu, tubuhnya terasa remuk. Naruto memijit keningnya yang berdenyut sakit. Diletakkannya telapak tangan kananya di dahinya, panas. Sepertinya Naruto terkena demam.

Dia perlu obat dan istirahat yang cukup malam ini. Naruto hanya berharap jika demamnya akan segera pergi agar besok dia bisa kembali bekerja seperti biasa. Naruto menggelengkan kepala, mencoba mengenyahkan rasa sakit di kepalanya dan memaksa kakinya untuk kembali berjalan pelan menuju lift untuk turun. Baru beberapa langkah berjalan, tubuhnya sedikit terhuyung, kepalanya berdenyut semakin hebat, pandangannya menggelap hingga akhirnya dia pun jatuh tak sadarkan diri.

.

.

.

Naruto mengerjapkan kedua matanya. Keningnya kembali ditekuk dalam saat rasa sakit itu kembali menyerangnya. Dimana aku? Tanyanya di dalam hati. Gadis itu mengedarkan tatapannya ke seluruh ruangan, mencoba menerka dimana dia berada saat ini. Kenapa ruangan ini terlihat tidak asing? Pikirnya.

"Kau sudah bangun?"

Demi, Tuhan. Bukan suara itu yang ingin di dengarnya saat ini. Bolehkah dia berharap jika ada pria lain yang memiliki suara yang sama seperti Uchiha Sasuke? Dengan perlahan Naruto bangkit untuk duduk. Rupanya dia dibaringkan di atas sofa di ruang kerja milik Sasuke. Dia menyelimutiku dengan jasnya? Naruto menekuk keningnya saat melihat jas milik pria itu tersampir di atas tubuhnya.

Sasuke berdiri dan berjalan menghampiri Naruto dengan sebuah cangkir di tangannya. "Minumlah!" tukasnya sambil menyodorkan cangkir dalam genggamannya.

Naruto menerima cangkir itu dengan gerakan kikuk. Kenapa jantungnya harus berdebar semakin cepat saat jemarinya tidak sengaja bersentuhan dengan jemari milik Sasuke? Mungkin karena demam, pikirnya lagi.

Sasuke duduk di atas sofa dengan bertopang kaki. Matanya menatap lurus ke arah Naruto yang kini menyeruput teh panasnya dengan perlahan. Ruangan itu begitu sunyi untuk beberapa waktu, hanya ada suara detak jarum jam yang terpasang apik di dinding.

"Maaf, saya merepotkan Anda." Ujar Naruto kemudian. Gadis itu masih terlihat gugup. Wajahnya menunduk dalam, sementara matanya menekuri cangkir teh yang digenggam oleh kedua tangannya. "Terima kasih karena Anda bersedia menolong saya," tambahnya lagi saat Sasuke tidak menyahut.

"Aku tidak mungkin berdiam diri saat melihat salah satu anak buahku jatuh pingsan." Jawab Sasuke dengan nada datar. "Kau tidak perlu berterima kasih, aku melakukannya atas dasar kemanusiaan." Tambahnya terdengar biasa.

Naruto mengangguk kecil, dengan kikuk dia meletakkan cangkir tehnya di atas meja. Tentu saja itu alasannya, kemanusiaan. Memangnya apa yang kuharapkan? Uchiha Sasuke menaruh hati kepadaku? Jangan bermimpi Naruto! Lagipula siapa aku? Bukankah aku tidak menyukainya! Pikirannya terus bicara sementara hati kecilnya harus merasa kecewa.

Naruto berdiri dalam gerakan cepat, tubuhnya kembali terhuyung, beruntung Sasuke menangkap tubuhnya dengan cekatan hingga Naruto tidak perlu terjatuh dan mencium lantai marmer putih di bawahnya.

"Kenapa kau selalu berbuat bodoh?" Sasuke mendengus keras, terlihat marah saat dia membopong dan membaringkan tubuh Naruto di atas sofa. "Kenapa harus memaksakan diri jika tidak mampu?" ujarnya lagi dengan gigi gemertuk.

"Bisakah anda tidak marah-marah? Kepala saya bertambah pusing mendengar omelan anda." Balas Naruto setengah sadar. Bukan keinginannya terlihat begitu lemah di hadapan Sasuke. Dia bahkan memaki dirinya sendiri karena hal itu.

Sasuke meletakkan telapak tangannya di atas dahi Naruto. Nyaman, batin Naruto saat tangan dingin Sasuke menyentuh dahinya yang semakin panas. "Kau demam!" kata Sasuke tajam. "Kau terus memaksakan diri untuk bekerja, padahal kau sedang sakit?"

Hei, kenapa Sasuke malah mengomelinya saat ini? Bukankah atasannya itu yang memberikan segudang pekerjaan padanya? "Saya baik-baik saja, hanya sedikit pusing." Sahut Naruto dengan mata terpejam. Ingin sekali Naruto pergi dari ruangan ini.

"Sedikit pusing?" cibir Sasuke dingin. "Kau sakit, demam. Kenapa kau tidak mengakuinya?" tegurnya keras sementara Naruto mencoba untuk kembali duduk dan mengesampingkan rasa pusingnya.

"Benar kok," Naruto ngotot. "Saya baik-baik saja, hanya sedikit pusing." Bantahnya lagi dalam satu tarikan napas.

"Bisakah sekali saja kau tidak membantah perkataanku?"

Naruto hanya bisa melotot tak percaya saat Sasuke menyentil dahinya keras. Dia pikir aku anak kecil apa? Batinnya tidak terima.

"Kau pingsan. Dan kau masih berkelit jika kau tidak sakit?" tegur Sasuke lagi. "Jam berapa kau makan malam?" tanyanya lagi. Pria itu berjalan menuju meja kerjanya, mengeluarkan sesuatu dari dalam laci dan membawanya pada Naruto dengan segelas air putih. "Jadi, jam berapa kau makan malam."

Naruto terdiam.

"Jam berapa kau makan malam?!" bentak Sasuke. Pria itu menghela napas keras saat Naruto tak juga menjawab pertanyaannya. "Kau tidak makan malam." Tebaknya sangat tepat. "Bagaimana bisa kau melewatkan makan malam?"

"Karena saya ingin pulang cepat!" jawab Naruto setengah berteriak. "Pekerjaan saya akan tertunda jika saya istirahat untuk makan malam. Karena itu saya memilih untuk mengerjakan sisa pekerjaan dan mengenyampingkan makan malam." Oh, kenapa air matanya harus menggenang di pelupuk matanya saat ini? Kenapa dia harus terlihat putus asa di depan Sasuke?

Sasuke terus menatap gadis itu lurus tanpa berkedip. Pria itu menyampirkan jasnya di pada bahu Naruto lalu meraih pergelangan tangan gadis itu dan menariknya untuk keluar dari dalam ruangannya.

Koridor hotel sangat sepi malam ini, mungkin karena jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Sasuke memilih jalan memutar, menghindari lobi untuk menuju tempat parkir kendaraannya. Tidak baik bagi Naruto jika ada karyawan lain yang melihat keduanya keluar hotel secara bersama-sama, karena gosip sangat cepat menyebar di hotel ini.

Pria itu mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya. Membuka pintu penumpang untuk Naruto dan dengan cekatan memasangkan sabuk pengaman setelah wanita muda itu duduk. Setelahnya dia menutup pintu penumpang pelan, lalu berjalan memutar untuk masuk dan duduk di kursi pengemudi dan menyalakan mesin mobil sebelum akhirnya meluncur meninggalkan tempat parkir.

"Anda mau membawaku kemana?" suara Naruto terdengar takut saat mengatakannya.

"Seharusnya kau menanyakan hal itu sedari tadi," dengus Sasuke. "Bagaimana jika orang jahat yang membawamu pergi saat ini? Bukankah seharusnya kau berteriak minta tolong dan berusaha untuk melarikan diri?"

"Tapi Anda bukan orang jahat," balas Naruto. "Iya, kan?" tambahnya dengan kening ditekuk dalam.

Sasuke kembali mendengus kasar. Diabaikannya tatapan takut Naruto yang terarah kepadanya. "Ingat, kau tidak boleh percaya begitu saja pada seseorang. Tidak semua orang baik, Namikaze!"

Naruto terdiam dan menunduk dalam. Sasuke benar. Bagaimana bisa dia tidak memberontak saat pria itu menariknya keluar dan membawanya pergi seperti saat ini.

"Kau tidak menghubungi kakakmu?" tanya Sasuke memutus lamunan Naruto.

"Ah?" Naruto terkesiap, sedikit kaget. "Oh, itu. Kakak saya sedang tidak ada di rumah. Dia berada di luar kota saat ini."

Hening. Suasana di dalam mobil itu membuat Naruto semakin tidak nyaman.

"Sudah berapa lama kakakmu di luar kota?"

Naruto menoleh kearah Sasuke yang memasang wajah keras. "Lima hari," jawabnya pelan namun masih bisa didengar oleh Sasuke dengan baik.

"Selama kakakmu tidak ada, siapa yang menjemputmu?"

"Itu bukan urusan Anda!" sahut Naruto tajam. Kenapa Sasuke menanyakannya seolah dia peduli.

"Siapa yang menjemputmu?" tanya Sasuke lagi penuh penekanan.

Naruto memutar kedua bola matanya dan menjawab ketus. "Dua hari yang lalu saya pulang bersama Kiba, setelahnya pulang sendiri." Ck, kenapa juga dia harus menjelaskannya pada Sasuke.

"Kau gila!" bentak Sasuke keras. "Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu? Seorang wanita pulang larut malam bersama orang asing? Kenapa kau begitu berani?"

"Saya terpaksa," balas Naruto dengan suara setengah bergetar menahan tangis. "Dan Kiba bukan orang asing. Dia rekan kerjaku. Dia anak buah Anda juga."

Sasuke mencengkram erat kemudinya. Kenapa dia harus terganggu saat tahu jika ada pria lain yang mengantar Naruto pulang? "Kakakmu tahu kau pulang sendiri?" tanya Sasuke lagi dengan nada lebih pelan.

Naruto menggeleng keras. "Kakak akan sangat khawatir jika tahu saya pulang larut malam seorang diri. Saya berbohong, saya bilang jika saya pulang pukul lima sore sekarang ini."

"Pintar sekali," Sasuke menyahut sinis.

"Aku hanya tidak ingin membuat kakakku cemas," kata Naruto dengan bahasa tidak formal untuk membela diri. Gadis itu meremas celana jeansnya erat, tangannya berkeringat dingin menahan marah. "Kakakku pasti sangat cemas jika tahu aku masih pulang larut malam setiap harinya. Yah, terima kasih pada Anda karenanya," tambahnya sinis.

Sasuke tertawa kecil, membuat Naruto merengut tidak suka mendengarnya. "Kau menyalahkanku?" pria itu menggeleng pelan. "Seharusnya kau menyalahkan dirimu sendiri, Nona Namikaze. Jika kau tidak terlambat datang di hari pertamamu kerja dan bertingkah laku sepantasnya, kau pasti tidak akan mendapat hukuman dariku."

Naruto menggigit bibir bawahnya, memalingkan wajahnya, menatap keluar jendela. Gadis itu terdiam, mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Sasuke. Benar, apa yang dikatakan pria itu memang benar adanya. Semua kesalahannya sendiri.

"Tunggu di sini!" tukas Sasuke kemudian sebelum keluar dari kendaraannya. Rupanya Naruto melamun cukup lama hingga tidak sadar jika Sasuke menepikan kendaraannya di tepi jalan.

Naruto mengernyit, apa Sasuke bermaksud membelikannya makan malam? Ah, tidak mungkin. Naruto mencoba untuk tidak berpikir lebih jauh. Mana mungkin atasannya itu membelikannya makan malam. Rasanya terlalu mustahil.

Namun gadis itu harus menelan kembali ucapannya saat Sasuke kembali ke dalam mobil dengan satu kantung plastik penuh makanan siap saji. "Hanya ini yang bisa aku dapatkan. Setidaknya ini bisa mengganjal perutmu dan kau bisa minum obat setelahnya."

Naruto menatap kantung plastik di tangannya dan menatap Sasuke secara bergantian. Atasannya itu benar membelikannya makan malam? Apa ini cara dia meminta maaf?

"Apalagi yang kau tunggu? Cepat makan!" perintah Sasuke tegas. "Kau tidak suka fast food?"

"Terima kasih," kata Naruto sambil mengeluarkan makanan itu dari dalam kantung. "Boleh saya minta tolong satu hal pada Anda?"

"Hn," jawab Sasuke tidak jelas.

"Tolong antarkan saya ke halte bis berikutnya."

"Untuk apa?" tanya Sasuke dingin.

"Tentu saja untuk pulang," jawab Naruto sambil memutar kedua bola matanya.

"Tidak perlu. Karena aku yang akan mengantarmu pulang."

Dan Naruto tidak tahu apa dia harus semakin terkejut atau berterima kasih lagi pada Sasuke kali ini.

.

.

.

TBC

Hai... Makasih sudah mampir dan membaca. Seperti biasa, updatenya lama bener... Karena itu saya ucapkan terima kasih banyak untuk pembaca yang bersedia menunggu. Dan untuk Via, chapter ini Kk tulis berdasarkan imajinasi kk, maaf kalau melenceng jauh dari pengalaman kamu. Maaf yah, Say! (:

Big thanks untuk pembaca yang sudah fav, follow dan meninggalkan jejak di kotak review. Saya sama sekali tidak menyangka akan mendapat respon sebagus ini. Pokoknya terima kasih untuk suntikan semangat dari pembaca semua, maaf reviewnya tidak dibalas satu persatu. #BigHug

Sampai jumpa dichap selanjutnya!

#WeDoCareAboutSFN