"Tunggulah di sini, pangeran. Saya akan segera kembali menjemput Anda saat kudeta ini mereda," ucap seorang prajurit dengan zirah hitam segellap malam tak berbulan itu.

"Tidak mau! Bersembunyilah di sini besamaku. Kerajaanku sudah kehilangan separuh kekuatannya. Kau hanya akan mati konyol di sana!" bantah sang pangeran menggengam erat tangan sosok yang akan meinggalkannya itu.

Sosok itu tersenyum lembut, "Aku akan mengembalikan kejayaan Anda, dengan begitu, saya yang hina ini dapat mempersunting Anda, tuanku,"

Keduanya terdiam sesaat hingga sang pangeran membuka mulutnya, "Janjikan satu hal padaku,"

Sosok dengan zirah kelam itu kembali tersenyum dan mengangguk sebelum membuka matanya dan berkata, "Saya akan menjemput Anda apapun yang terjadi. Karena itu tunggulah saya di sini,"

Sang pangeran tersenyum dan mengecup singkat pipi yang tergores pedang itu, "Akan kutunggu sampai kapan pun,"

Sosok dengan zirah itu tersenyum lebar sebelum memasang kembali wajahnya yang serius dan berbalik. Menyongsong perang yang beresiko mengambil nyawanya. Dengan gesit sosok itu menunggang kudanya, menarik keluar pedangnya dan mengibaskannya pada para pelaku kudeta terhadap kerajaan besar yang sejak kecil ia layani itu.

Meraung bagai hewan buas seraya menebas puluhan manusia. Menjadikan tubuhnya bermandikan darah segar yang berasal dari korbannya di malam itu. Matanya menatap nyalang pada semua pengkhianat kerajaan itu. Membalaskan dendam untuk sang pangeran tercinta yang terbunuh ayahnya.

Sebuah panah terarah kepadanya –tepat mengenai kuda hitamnya yang mengikik sakit dan membuatnya terjatuh. Tubuhnya terbanting keras namun dengan cepat ia berdiri dan mengelak sebelum sebuah tombak dapat melubangi lehernya.

"Aaaaaagh!" raungnya bergema di malam itu.

Dengan buas ia menebas semua yang berada di dekatnya. Napasnya tersengal dan tubuhnya terasa sakit akibat lebam dan goresan pedang. Ia terus menyerang membabi buta hingga ia merasakan sakit sesaat sebelum semuanya menjadi gelap untuknya.

"Aku... tidak akan mati..." sumpahnya sebelum ia benar-benar tak sadarkan diri.

Sosok dengan zirah hitam itu terbangun. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dengan tubuhnya dan ia merasakan sakit di lehernya. Ia pun mencoba meraba lehernya hingga ia tersadar akan sebuah mimpi buruk-

'Kepalaku?! Dimana kepalaku?!'

Teriaknya panik tanpa suara. Dan ia merasakan sesuatu yang aneh –ia masih dapat melihat dan mendengar meski tanpa kepala. Ia pun mulai berjalan berkeliling diantara tumpukan tulang belulang manusia itu, meraba mencari keberadaan kepalanya.

Ia pun melihat sebuah gundukan kecil di sana, ia mengangkatnya dan menemukan kepalanya dengan wajah penuh lebam dan mata yang tertutup.

'Hei, bangunlah,'

Dan perlahan mata itu terbuka, menampakkan bola mata yang amat dikenalnya.

'Ayo, kita jemput pangeran kita,'

Wajah itu tersenyum. Sosok itu kemudian meletakkan kepalanya di atas lehernya, menggunakan sebuah sobekan kain agar kepala itu tetap di tempatnya. Dan ia bisa mengambil alih kepalanya kembali. Sosok itu berjalan terseok, mencari gua dimana ia menyembunyikan sang pangeran.

"Pangeran, saya kembali," ucapnya dengan nada sopan dan wajah tertunduk.

Merasa tak ada jawaban, ia pun mengangkat wajahnya dan seketika matanya terbelalak.

"Aaaaaaghh! Huwaaaaa!" tangisnnya bergema di hutan lebat itu.

Di hadapannya terduduk sebuah mayat yang telah menjadi belulang kering. Meski begitu, ia masih tetap bisa mengenalinya –itu sosok pangangerannya. Sosok yang ia cinta setulus hatinya. Pakaian kerajaan itu –warna biru yang masih terlihta lembut meski telah termakan cuaca dan usia itu –ia sangat hafal pakaian itu. Pakaian kerajaan kesukaan pangerannya.

Perlahan ia merangkak mendekati belulang ia dan membawanya dalam pelukannya. Ikatan kain di lehernya mengendur dan membiarkan kepalanya berguling ke dalam pangkuan belulang sang pangeran. Pelukannya amat lembut –ia takut jika pelukannya akan menghancurkan belulang sang pangeran.

Ia terus menangis hingga matanya menangkap sesuatu yang tertulis di dinding gua itu.

Maaf, aku sudah tak bisa lagi bertahan. Maafkan aku karena lemah. Meski begitu, aku akan tetap menunggumu di masa depan saat kita berinkarnasi. Pastikan kau menemukanku, Changmin-ssi.

Dan tangisan sosok itu mengeras. Menyesali dirinya yang menjadi abadi dan tak dapat berinkarnasi.

'Saya... akan menepati janji saya. Apapun bentuk saya saat ini,'

.

.

Dullahan / Forever After (c) Me

Rate: T

Genre: Romance, Horror, Mistery, Angst

Warn: Typo(s), etc

.

.

.

Changmin terbangun dari tidur siangnya saat mendengar teriakan-teriakan dari luar kamarnya. Setelah memastikan syalnya menjeran erat lehernya dan posisi kepalanya yang lurus, Changmin pun keluar kamarnya.

"Sudah kubilang, belikan kecap juga!" seru pemilik apartemen nyaman itu pada sosok pemuda berambut karamel di hadapannya.

"Kau tidak bilang!" balas pemuda berambut karamel itu.

"Kau saja yang tidak dengar, Evil!" raung Jaejoong jengkel.

"Kau saja yang tak becus bicara, hyung!" sahut Kyuhyun tak mau kalah.

Changmin yang menyaksikan pertengkaran itu hanya bisa terdiam di tempatnya dan menahan tawa yang ingin keluar dari bibirnya. Dengan perlahan ia mendekati kedua orang itu dan berbicara, "Biar aku saja yang beli sekarang,"

"Ah, Changmin? Tidak, tidak usah. Biar evil ini saja yang keluar dan membelinya," putus Jaejoong seenaknya.

"Enak saja! Masih untung aku bantu belanja!" tolak Kyuhyun.

"Sudah, biar aku saja, hyung," ujar Changmin lagi seraya berlalu menuju pintu.

Ia mengenakan sepatunya dan berbalik sebentar sebelum benar-benar keluar rumahnya, "Kyuhyun,"

Kyuhyun yang merasa dipanggil Changmin tubuhnya tiba-tiba mengkaku dan menoleh gugup. Pelukan Changmin dimalam itu yang ia terima mudahnya entah kenapa membuatnya menjadi sangat canggung dengan Changmin. Meski ia dan Changmin sudah menetapkan kejadian itu sebagai 'bukan apapun', hatinya tetap saja tak tenang dan terus bergemuruh hebat saat Changmin menatap dan berbicara padanya.

"Y-ya?" sahutnya.

"Mau kubelikan apa nanti?" tawar Changmin.

"Ta-taiyaki, yang rasa co-cokelat," sahut Kyuhyun masih tergagap.

"Oke, aku pergi dulu," ucap Changmin dan berbalik pergi.

'Hahh... selalu saja berdebar begitu...' batin Kyuhyun pasrah.

... ... ... ... ... ... ... ... ... ...

"Terima kasih atas kunjungan Anda," salam sapa sang penjaga kasir pada Changmin yang hanya membalasnya dengan wajah senyum ramah. Ia berjalan di jalan kota kecil itu dengan langkah kecil. Menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya lembut di sore itu.

Perlahan, ia mendekati toko kecil yang menjual kue berbentuk ikan itu dan menyapa ramah sang penjual, "Paman, taiyaki cokelatnya tiga,"

"Tunggu sebentar anak muda," sahut sang paman ramah dan mulai membungkuskan tiga kue berbentuk ikan denga isi pasta cokelat itu pada Changmin.

"Ambil saja kembaliannya, paman," ucap Changmin ramah kemudian berbalik meninggalkan toko kecil itu.

Hari sudah semakin sore, menyinari bumi dengan sinar-sinar metahari yang kini berwarna kemerahan. Changmin memeluk belanjaannya di depan dadanya dan bersenandung sebuah lagu lama yang didapatnya ketika masih mengabdi dalam kerajaan Kyuhyun dulu. Lagu penuh nostalgia kehidupannya sebagai manusia normal.

"Kyaaaa!"

Teriakan seorang perempuan membuat Changmin menghentikan langkahnya dan melirik ke dalam lorong yang baru saja ia lewati. Di sana berdiri seorang gadis yang tengah dihimpit beberapa lelaki berbadan besar. Tubuh gadis itu bergetar ketakutan dan berusaha melarikan diri.

Changmin mendecih rendah dan berjalan mendekat, "Kakak, sebaiknya kau lepaskan gadis itu," sapanya ramah pada para preman itu.

"Huhh?! Mau apa kau, kurus?" sahut salah seorang diantara mereka yang disambut tawa oleh teman-teman se-geng nya.

"Aku tidak akan menyakiti kakak-kakak sekalian jika kalian mau melepaskan gadis itu," ucap Changmin masih dengan senyumnya.

"Jangan sok jago, kau!" seru salah satu lelaki besar itu dan melayangkan tinjunya pada Changmin. Namun dengan mudah Changmin mengelak. Ia merundukkan tubuh tingginya dan melayangkan sebuah tendangan tepat di ulu hati dang penyerang barusan. Membuat lelaki kekar itu pingsan seketika.

"Brengsek!" seru lelaki yang lain dan mulai menyerangi Changmin dengan tonjokkan bertubi yang semuanya bisa Changmin elak dengan mudah. Changmin melepaskan satu pukulan telak di tengkuk dan mengirim lelaki kekar itu pada kegelapan.

Sisa dua orang dan sepertinya mereka berencana menyerang bersama. Changmin mengeratkan pelukan satu tangannya pada belanjaannya dan bersiaga. Satu pria menyerang secara frontal dan mengundang senyum dari Changmin. Dengan mudah Changmin memukul keras tengkuk lelaki itu dan membuatnya terjatuh dengan mudah.

Lelaki terakhir tampak begtiu tertekan dengan situasi. Dengan lengah ia menonjok Changmin membabi buta namun dengan mudah Changmin menangkisnya. Changmin baru saja akan membuat lelaki itu pingsan sampai seseorang dari lelaki yang telah ia kalahkan kembali bangkit dengan botol bir di genggamannya.

Changmin tak sempat mengelak, botol bir itu menghantam kepalanya dan membuat kepalanya yang memang terpisah dari tubuhnya berguling ke tanah.

"Kyaaaaa!" teriak sang gadis ketakutan. Berpikir bahwa lelaki kekar itu telah membunuh Changmin.

"Ahahahahaha!" para lelaki yang tersisa itu tertawa. Namun, tawa mereka segera berhenti ketika sebuah kabut sewarna belerang mulai mengalir dari leher Changmin dan mengelubungi mereka. Tangan Changmin bergerak –membuat kedua lelaki itu terdiam ketakutan.

Perlahan kabut kuning itu memadat dan membentuk sebuah sabit besar di tangan Changmin. Dan berayun cepat menuju leher kedua lelaki itu. Kedua lelaki itu gemetar ketakutan sebelum pingsan karena ketakutan. Sabit besar itu berhenti tepat beberapa inchi dari leher kedua pria itu dan menghilang menjadi kabut.

Changmin melangkah mendekati kepalanya yang jatuh dan meletakkannya kembali di atas lehernya dan menghampiri gadis itu, "Kau tak apa?" ujarnya seraya mengulurkan tangannya.

Plak! –gadis itu menampar keras tangan Changmin yang terjulur, "Jangan sentuh aku! Pergi kau, MONSTER!"

Dan gadis itu berlalu cepat meninggalkan Changmin yang menatap sedih tangannya yang ditampik.

"Monster... ya?"

... ... ... ... ... ... ... ... ... ...

"Aku pulang," ucap Changmin sesampainya ia di rumah yang Jaejoong sewakan kamarnya itu.

"Selamat datang, Changmin! Terima kasih sudah membelikan kecap," sambu Jaejoong ramah.

"Tak masalah, Jaejoong-hyung," sahut Changmin dan segera berlalu menuju ruang TV.

"Ini, Taiyaki yang kau mau," ucap Changmin seraya menyodorkan bungkusan kerta cokelat pada Kyuhyun.

Kyuhyun sedikit tersentak dari duduknya dan berbalik pada Changmin, "Oh, iya, terima kasih, Minnie,"

"Eh?"

"Eh?"

"Ah! Tidak! Anu, itu... panggilan itu- anu... ngg... maaf, kau pasti tidak su-"

"Tidak, kau boleh memanggilku begitu, kok," potong Changmin cepat dan mengelus kepala Kyuhyun lembut.

Keduanya saling menatap dalam –seolah ada sebuha kerinduan dalam diri mereka. Mereka terus menatap hingga sebuah suara mengintrupsi mereka, "You two can kiss already, you know?"

"Hyung!" bantah Kyuhyun dengan wajah memerah.

Changmin hanya tertawa pelan, menikmati suasana ini meski hatinya tengah gelisah. Teriakan gadis itu padanya membuat hatinya sakit, ia tahu kalau sosoknya itu bagai sosok monster. Namun, bukankah ia telah berbaik hati menyelamatkan gadis itu? Tak bisakah semua orang menerimanya dengan tulus?

"Changmin?" panggil seseorang membuatnya tersentak tersadar.

"Oh, ya? Ada apa, hyung?" sahut Changmin.

"Minnie, kau sedang ada masalah?" kini Kyuhyun yang bersuara. Wajah sedih Changmin barusan sungguh membuatnya gelisah dan khawatir.

"Tidak. Tidak ada apa-apa kok. Aku ke kamar dulu, ya,"ucap Changmin dan berbalik pergi meninggalkan Kyuhyun dan Jaejoong yang menatap punggungnya khawatir.

Kyuhyun terus menatap punggung Changmin yang menjauh. Merasakan sebuah deja vu. Sebuah bayangan terlintas di matanya. Bayangan gelap –Changmin yang memakai sebuah zirah hitam dan-

"Ukh!" erangnya dan meremas kepalanya.

"Kyu? Kau baik-baik saja?" tanya Jaejoong segera.

"Tidak apa, hyung. Hanya... pusing –sedikit," bantah Kyuhyun dan kembali menatap punggung Changmin yang baru saja menghilang dibalik pintu kamar.

"Kita... pernah bertemu sebelumnya 'kan, Changminnie?" gumam Kyuhyun sebelum berbalik menuju dapur.

... ... ... ... ... ... ... ... ... ...

"Ahahahaha~" tawa para penghuni kota itu bergema sepanjang jalan sepi kota kecil terpencil itu.

"Berhenti mengatakan hal yang tidak-tidak soal pendatang baru kita, nona kecil," ucap salah seorang pria di sana menahan tawanya.

"Aku tak berbohong, sungguh! Kepala orang itu terpisah dari tubuhnya dan ia masih bisa bergerak!" teriak gadis itu frustasi.

"Ahahahaha~" tawa orang-orang itu kembali bergema hingga seseorang mengintrupsi.

"Hei, bagaimana kalau itu sungguhan?" ucap seorang pria lain di sana.

'Hei, hei, jangan bilang kau percaya ucapan gadis ini?" sahut yang lain.

"Aku pernah dengar tentang makhluk seperti itu. Namanya... Dullahan," ujar pria itu lagi.

"Dullahan?" ulang yang lain.

"Ya, mereka berbahaya. Mereka harus di musnahkan," ucap pria itu melanjutkan.

"Hei... jika dia memang berbahaya. Bagaimana kalau... kita bunuh saja malam ini?"

"Bunuh... sang Dullahan..."

.

.

TBC

.

.