Author's POV

Istirahat sedang berlangsung. Kau menoleh ke arah kiri, tepat jendela kelasmu berada. Kau hanya menatap langit musim panas dengan pandangan kosong. Jantungmu sedikit berdebar, masih belum percaya dengan kenyataan yang ada.

Posisi dudukmu tidak terlalu strategis. Kau duduk di baris ketiga dekat jendela sebelah kanan, satu kursi dari depan Kuroko Tetsuya. Kau ada di depannya, dan karena itulah kau tidak bisa melihat pergerakannya. Namun sayang, dia bisa melihat apa yang sedang kau lakukan.

Kau menghela nafas. Rambutmu yang kau kuncir terbang perlahan saat angin lagi-lagi mulai menghantam wajahmu. Kau melirik ke bawah, dimana para murid sedang makan siang bersama-sama. Kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Sejak kau duduk di bangku ini, kau sama sekali belum memperkenalkan diri secara langsung pada teman sekelasmu.

Termasuk salah satu anggota Kiseki no Sedai itu.

Kau sangat mengenalnya. Dengan rambut mencolok seperti itu, bagaimana kau tidak tahu siapa dia? Apalagi dia adalah tokoh utama di serial komik yang kau suka. Kuroko Tetsuya, anggota keenam dari Kiseki no Sedai, merupakan bayangan dari Aomine Daiki. Sering disebut the phantom of sixth man karena keberadaan hawanya yang minim, memiliki kekuatan fisik yang lemah, namun mempunyai kekuatan passing yang hebat.

Kau mengangguk-ngangguk mengerti. Sejauh ini, itulah yang kau tahu mengenai Kuroko Tetsuya.

"Yo, Hikari-san~!"

Kau tersentak. Lamunanmu terpecah karena panggilan seseorang dari jendela kelasmu. Sosok itu tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya, mencoba menyapamu yang terheran. Matamu yang bulat itu mengerjap, dan refleks bibirmu mulai terbuka. "K-Kau...?"

"Masih mengingatku, ne?" Gadis itu menggoyangkan tubuhnya, membuat gaun putih yang ia pakai sedikit bergoyang. "Bagaimana harimu? Menyenangkan?"

"B-Biasa saja..." Kau tersenyum kikuk, lalu menggaruk pipimu. "Sebenarnya, aku mau bertanya..."

Gadis berambut abu-abu itu masih memasang senyum. "Silahkan, kau mau bertanya apa?"

"Itu—tujuanmu membawaku kesini sebenarnya.. untuk apa?" Kau bertanya dengan ragu, takut-takut menatap mata emerald perempuan itu. "Pasti ada alasan kau membawaku kesini, 'kan?"

Gadis itu menghela nafas. Kau mengacuhkan bagaimana perempuan itu bisa ada di jendelamu. Kau tidak peduli bagaimana perempuan itu bisa melayang tanpa menggunakan apa-apa, padahal kau ingat sekali kalau kelasmu ini ada di lantai tiga.

"Tentu saja memberimu satu kesempatan Hikari-san, kau melupakan perkataanku waktu itu?" Kau menggeleng pelan, tanda kalau kau mengingatnya.

"Tapi kenapa harus disini? K-Kenapa tidak ada di dunia yang lain saja?" Kau sedikit menundukkan wajah, kemudian menutup mata. "Bisa saja 'kan kau mengirimku ke masa lalu ataupun masa kecilku, b-bukan di dunia kartun seperti ini..."

Gadis tanpa nama itu terkekeh pelan. "Aku yang memegang kendali. Kau hanya perlu mengikuti peranmu disini, Hikari-san."

"Tapi 'kan—"

"Maa~ kau ini keras kepala juga ya?" Kau mulai panik saat melihat ekspresi gadis itu mulai mengesal. "Yah, karena aku ingin kau menjalani hidupmu disini untuk sementara. Kau tidak suka ya bertemu dengan anggota Kiseki no Sedai itu? padahal ini kesempatan emas untukmu lho."

"B-Bukan begitu maksudku!" Kau sama sekali tidak peduli dengan suaramu yang semakin mengencang. "A-Aku tidak tahu harus melakukan apa, kalau kau m-mengirimku kesini hanya untuk bersenang-senang, itu sama sekali tidak masuk akal..."

"Hmm, kau benar." Pura-pura bodoh, gadis itu menganggukkan kepalanya berulang kali. Lalu menyeringai penuh arti. "Makanya aku akan menciptakan permainan, dan itu khusus untukmu."

"E-Eh?"

"Tapi—" Belum saja kau bertanya permainan apa itu, perempuan yang tidak kau ketahui namanya yang melayang di depanmu ini mulai mengedipkan mata. "—kau akan tahu nanti."

"E-Eeeh? Tunggu—"

Gadis itu menjetikkan jari. "Waktuku sudah habis Hikari-san, semoga waktumu menyenangkan~!"

"Tunggu sebentar!" Sebelum perempuan itu mulai menghilang, kau mencegahnya dengan mencengkram tangan gadis itu. "N-Namamu—siapa namamu?"

"Namaku?" Ia mengernyit heran. Namun saat melihat kedua bola matamu yang sebiru samudera itu, gadis itu malah tersenyum manis. "Aku Shiro—Yuki Shirokawa. Salam kenal, Hikari-san~!"

Dan gadis itu pun menghilang menjadi serpihan.

Srek.

Bertepatan dengan hilangnya perempuan yang kau akui sebagai malaikat itu, pintu kelas pun terbuka dengan cepat.

Kau menatap horror orang tersebut.

Kau sama sekali tidak menyangka kalau sudah ada Kuroko Tetsuya di depan sana.

.

.

WORLD

Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi

World by stillewolfie

(OC) Tachikawa Hikari by stillewolfie

Cover by stillewolfie

Rated T

[ Akashi Seijuurou & Tachikawa Hikari & Generation of Miracle ]

Romance/Drama/Friendship

OOC, AU!Teikou High, typo(s), etc.

[ Inspired from Body x Soul by UseMyImagination & My new life in anime world kurobas by Lilindhathedarkpurple ]

(Anggaplah OC disini adalah OC kamu maupun kamu sendiri, karena ini memakai POV si author)

.

.

When she met his eyes...

.

.

.

.

CHAPTER II. The Basketball Which Hikari Plays

.

.

Kau gugup. Yah, bisa dibilang begitu.

Keringat dingin sudah ada di pelipismu. Kau sama sekali tidak menyangka akan berada di situasi menegangkan seperti ini. Kau tidak mau bertemu secepat ini dengan salah satu anggota Kiseki no Sedai. Kau tidak mau mereka akan mencampuri hidupmu di dunia tidak nyata ini. Kau ingin sekali berlari sekencang mungkin untuk menjauhi orang ini. Kau membenci dirimu sendiri mengapa kau begitu takut dengan orang berhawa minim seperti Kuroko Tetsuya!?

Bukannya kau pengecut atau apa, tapi kau masih belum terbiasa.

Sedangkan pria itu biasa-biasa saja. Ia malah melewatimu dan berjalan menuju tempat duduknya. Kuroko hanya melirikmu sebentar kemudian membaca buku yang sedari tadi ia genggam. Ia tidak memperdulikanmu yang malah seperti mayat hidup yang numpang lewat. Kau terlalu panik, hingga tidak sadar malah pergerakanmu itulah yang membuat Kuroko menjadi menatapmu.

"Anoo—" Kau terkesiap di tempat, kemudian meliriknya dengan gerakan patah-patah. "—kau tidak apa-apa?"

'D-Dia menegurku!?'

Kau tertawa kikuk, kemudian menjilat bibirmu—kebiasanmu ketika sedang malu. "A-Aku tidak apa-apa, Kuroko-san..."

Mati kau, Tachikawa Hikari.

"Kau mengenalku?"

Jlegar.

Bagaikan tersambar petir, kau terdiam di tempat. Menatap sepasang iris biru yang hampir serupa denganmu itu. Kemudian kau menggeleng pelan, tanda kalau kau menolak fakta tadi.

"Tapi, tadi kau memanggil namaku."

"E-Engh..." Kau mengutuk dirimu sendiri. Ingin sekali kau membenturkan kepalamu ke dinding, berharap kalau kau pingsan agar tidak bertemu dengan orang ini. "Y-Yah, aku mengenalmu, t-tapi hanya sedikit..."

Sekarang kau sepenuhnya berbalik menatapnya. Lelaki itu memasang tampang datar, kau tidak berani menebak apa yang sedang Kuroko pikirkan. Yang kau tahu, pria itu memang susah ditebak, sama dengan satu orang yang juga merupakan anggota basketnya.

Tanpa sadar, matamu membulat.

'D-Dia ya...?'

Kau bertemu dengan Kuroko saja sudah sepanik ini, apalagi dengan kapten Kiseki no Sedai?

Kau menelan ludahmu lagi.

"Tachikawa-san?"

"Y-Ya?"

Kuroko menatapmu, dan kau pun memberanikan diri menatapnya juga. Kau tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan, tapi kau menebak pria itu pasti ingin menebak apa yang kau pikirkan.

Benar begitu?

"Tidak—Tidak apa-apa."

Mungkin.

"Baiklah..."

Kau pun kembali duduk dengan posisi normal, membiarkan punggungmu yang menjadi tontonan dari Kuroko Tetsuya. Kau tidak memperdulikan perutmu yang sedang berbunyi. Kau takut. Kau takut untuk keluar dari ruang kelas ini, kau tidak mau keluar dari kawasan kelasmu. Cukup Kuroko Tetsuya saja yang harus kau temui hari ini.

Kau tidak mau bertemu dengan anggota Kiseki no Sedai yang lain.

Kalian membiarkan angin musim panas memasuki kelas dari jendela masing-masing. Rambut merah dan biru itu terus saja sedikit bergerak karena angin nakal yang kebetulan melintas di kelas kalian. Kau membaca buku, Kuroko pun membaca buku. Kau tidak mau melirik ke belakang lagi, takut ketahuan basah oleh sang target.

Tapi sekarang, kau bisa merasakannya.

Kau merasakan Kuroko sedang menatap punggungmu.

Kau ingin bertanya, namun segan. Entah karena apa, kau tidak mau melihat sepasang iris biru tersebut. Mata Kuroko memang terasa kosong, tapi kau dapat merasakan ada pandangan menggelitik terselip disana. Entah karena ada alasan apa Kuroko melakukan itu semua, yang jelas kau tidak mau memikirkannya.

.

.

~ world ~

.

.

Bel pulang sudah berbunyi, dan kau pun bersyukur dalam hati. Kau pun segera membereskan bukumu dan beranjak pergi, tidak peduli dengan tatapan heran yang dilakukan oleh teman-temanmu yang lain. Kau segera membuka pintu kelas dan berlari sekencang-kencangnya, lalu berbelok ke kanan, mencari jalan pintas. Kau tidak mau bertemu dengan para muridnya jika melewati jalan ke gerbang sekolah. Kau harus mencari jalan lain agar mudah sampai ke rumah.

Tep.

Namun di saat langkahmu yang ke seratus, kau berhenti.

Kau memandangi dengan seksama gedung yang sekarang ada di depanmu ini. Gedung yang tidak terlalu besar, tapi kau bisa menebak kalau gedung ini merupakan gedung olahraga. Kau pun melirik ke kanan dan ke kiri, berharap tidak ada seorangpun melihat tingkahmu yang satu ini.

Tanganmu terulur, membuka pintu gym dan membukanya perlahan. Sepi, itulah yang kau temukan. Tidak ada siapa-siapa selain sebuah bola basket dan dua ring bola yang saling bersebrangan. Kau pun melangkah masuk, tak lupa dengan menutup pintunya. Kau taruh tasmu di bangku bench, lalu memandangi satu bola basket yang teronggok dekat tiang ring.

Kedip. Kedip.

Nah, apa yang setelah ini kau lakukan?

Jika ingin mengambil bola itu—tepat. Kau melangkah pelan dan mengambil bola tersebut dengan perasaan berbunga-bunga. Jujur, meski kau tidak terlalu bisa dalam olahraga, tapi kau menyukai basket. Tentu saja alasannya karena menonton Kuroko no Basuke. Disitulah semuanya berasal. Kau tahu kalau basket itu menyenangkan. Bisa bermain bersama di lapangan luas dengan memantulkan bola itu, tertawa, dan melakukan banyak gaya untuk memasukkan bola ini ke dalam ring...

Kau tersenyum lembut.

Itu sangat menyenangkan.

Kau menggenggam erat bola itu dan memeluknya. Jika ada yang melihat, pasti kau dikira adalah orang cupu yang tidak mengenal basket. Kau tidak peduli dengan itu semua. Kau menyukai basket, dan kau tidak peduli dengan pikiran orang. Asal bisa bermain, kenapa tidak?

Jika di duniamu dulu, kau itu pemalu. Tidak terlalu juga sih, tapi kau malu jika melihat seseorang—apalagi seorang pria—melihatmu bermain basket. Meski kau tidak terlalu tahu gerakan-gerakan apa saja yang menyangkut tentang basket, tapi kau terus mengacuhkan fakta tersebut. Sekali lagi—asal bisa bermain, kenapa tidak?

Kau mengangkat kepalamu, menatap ring yang sudah ada di hadapanmu. Kau melangkah mundur, menjaga jarakmu dengan ring tersebut. Setelah merasakan jarakmu tepat, kau berhenti di tempat. Kau berdiri di tepat di lingkaran setengah lapangan. Tempat shooter jika ingin menembak.

.

.

Normal POV

"Aominecchi jahat-ssu~!"

"APA!? Jadi maksudmu aku yang salah!?"

"Tentu saja kau yang salah! Semuanya lihat kalau kau yang melempar kue itu padaku!"

Langkah-langkah kaki para pria tambah satu perempuan itu terlihat menggema. Mereka semua hanya terdiam, kecuali untuk para lelaki berambut biru tua dan kuning keemasan. Aomine Daiki dan Kise Ryouta tampak tidak peduli dengan bentakan Momoi Satsuki untuk memberhentikan ocehan mereka. Memang sepasang manusia itu tidak mau berhenti, jadi gadis berambut merah muda itu hanya bisa menghela nafas frustasi.

Sedangkan berjalan paling depan, si Kuroko Tetsuya tampak tidak peduli. Ia terus melangkahkan kakinya, mengingat dialah yang jalannya paling depan. Ia mengacuhkan serpihan-serpihan maiubo yang menghantam rambutnya, mengingat Murasakibara Atsushi sedang berjalan disampingnya.

Namun saat sudah di dekat pintu gym, kakinya berhenti. Membuat Midorima Shintarou yang berjalan dibelakangnya ikutan berhenti.

"Ada apa—nanodayo?"

Kuroko melangkahkan kakinya di daun pintu, lalu meletakkan telinganya disana. Alisnya sedikit mengerut, lalu menoleh, menatap Midorima yang sedang menatapnya heran. "Midorima-kun, dimana Akashi-kun?"

Sebelum pria itu menjawab, Midorima menaikkan kacamatanya. "Dia sedang ada di ruang guru, di panggil karena ada urusan. Kenapa?"

Kuroko terdiam sesaat. Ia melirik Aomine dan Kise yang tidak berhentinya mengoceh. "Aomine-kun, Kise-kun." panggilnya.

Kise dan Aomine pun menoleh.

Kuroko meletakkan jari telunjuknya di bibir—menyuruh mereka untuk diam. Kedua pria beda kulit itu pun mengernyitkan alis mereka. Kise memutuskan untuk mendekati Kuroko yang ada di depan pintu gym, pria berwajah cerah itu bertanya dengan nada lirih. "Memangnya kenapa-ssu?"

Kuroko tidak menjawab, tapi menunjuk pintu gym. Kise memiringkan wajahnya, lalu mendekati pintu dan membukanya perlahan. Dibarengi dengan langkah mendekat para anggota lainnya, mereka pun mengintip keadaan di dalam gedung olahraga tersebut.

Dan mereka pun sweatdrop sesaat.

.

.

~ world ~

.

.

Author's POV

Kau pun hanya terdiam disana sampai di menit ketiga. Kau tidak melakukan apa-apa. Hanya terbengong sambil memandangi ring setinggi tiga meter itu. Setelah puas memandanginya, kau menatap bola oranye yang ada di kedua tanganmu. Kau menjilat bibir, lalu menganggukkan kepalamu.

Kau merentangkan kedua tanganmu, mengambil posisi untuk menembak. Dengan perasaan ragu, kau lempar bola itu ke arah ring. Bola pun melayang pelan. Tapi belum sampai terkena ring, bola tersebut sudah kembali turun dan menghantam dasar lapangan.

Kau terdiam.

Benar-benar lemparan tidak bertenaga.

Dengan gerakan canggung, kau berlari pelan mengejar bola yang telah menggelinding di sudut lapangan. Kau ambil lagi bolanya, lalu berjalan menuju tempatmu tadi.

Kau menghela nafas. Kau sadar kalau kau tidak memiliki bakat di shoot. Maka dari itulah, kau mulai mencoba mendribble bola. Namun sebelum itu, kau menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap tidak ada orang yang melihat aksimu tadi.

Setelah yakin tidak ada orang, kau pun memulai latihan yang selanjutnya. Dribble. Terdengar gampang memang, tapi untukmu, itu susah-susah gampang.

Dengan malu-malu, kau memegang bolanya. Lalu setelah menghela nafas perlahan sebagai awalan, kau mulai menjatuhkan bolanya, berharap bola tersebut memantul balik. Kau tersenyum bahagia saat dribble pertamamu dapat berjalan dengan baik. Kau memulainya lagi. Pantulan kedua, ketiga, dan keempat pun sama. Namun saat di pantulan kelima, bola tersebut terkena ujung sepatumu hingga memantul ke depan—lalu menggelinding meninggalkanmu.

Kau terdiam lagi.

Kau mengakui kalau kau tidak memiliki bakat di bidang ini, meskipun kau sangat menyukai basket.

Benar-benar kenyataan yang pahit.

Dengan hawa yang suram, kau mengejar bola itu dan menggenggamnya erat. Apa benar kau tidak memiliki bakat di bidang basket? Apa benar kau memang tidak cocok di olahraga ini? Meskipun tidak bisa, kau terus mencoba. Masa kau kalah dengan Kuroko Tetsuya? Lihatlah, meski pria itu tidak memiliki keterampilan dalam basket, tapi dia terus saja mencoba—hingga akhirnya masuk menjadi Kiseki no Sedai. Lalu kau?

Kau menggertakkan gigi. Iris birumu mulai menajam.

Kalau orang lain bisa, kenapa kau tidak bisa?

Akhirnya, kau membulatkan tekad. Kau putuskan untuk melakukan tiga kali shoot! Kalau tidak ada yang masuk sama sekali, kau akui kalau kekuatanmu memang rendah di olahraga. Tapi kalau ada yang masuk, artinya itu masih ada harapan!

Dan kau sama sekali tidak menyadari ada beberapa orang yang sedari tadi memperhatikanmu, Hikari.

Kau pun mengambil ancang-ancang, hatimu berdoa semoga bola yang kau genggam ini akan masuk di ring tinggi itu. Kau pun mengangguk mantap, lalu melempar bola tersebut dengan keyakinan.

Set!

Bola pun dilempar—

Pluk.

—kemudian melayang di udara sebentar, namun terjatuh. Lemparan yang kau lakukan terlalu rendah, bahkan setinggi ring bola tidak sampai.

Malangnya nasibmu, Hikari.

Tapi belum sampai disitu saja, kau mengambil bola itu lagi.

Shoot yang kedua. Bisa masuk atau tidak?

Kau menggenggam bola itu dengan erat. Mungkin lemparanku terlalu lemah—pikirmu, kemudian kau berpikir lagi—aku harus mendorongnya lebih kuat!—kau pikir itulah solusi yang terbaik.

Dengan keyakinan yang ekstra, kau kembali mengambil ancang-ancang melempar bola. Kau tekuk lututmu, dan melompat setinggi-tingginya. Saat melompat, tak lupa kau melempar bolanya ke arah ring. Dan bagaikan slow motion, kau sangat berharap bola yang sedang melayang itu dapat masuk.

Set!

BRAKH!

Kau menganga takjub.

Kau mengerjap-ngerjapkan mata. Berharap kalau itu hanya ilusi semata. Kau tatap bola yang terjatuh itu dengan pandangan berbinar.

Meskipun tidak masuk, tapi kau bersyukur kalau bola yang kau lempar tadi terkena lingkaran di ring basket.

Itu tadi kemajuan!

"A-Aku..." Kau terdiam. Dengan perlahan, senyuman manis kau ciptakan. "Aku berhasil~!"

Saking girangnya, kau meloncat kesenangan. Wajahmu memancarkan kebahagiaan yang teramat sangat. Wajahmu merona, bahkan kau sama sekali tidak sadar kalau sudah ada beberapa langkah kaki yang ingin mendekatimu.

"Baiklah! Ini yang terakhir—" Kau pun berjongkok untuk mengambil bola basket yang menggelinding dekat kakimu.

"Wah! Yang tadi itu luar biasa-ssu~!"

Kini, kau lah yang sweatdrop di tempat.

"Heh, aku tidak menyangka kalau kau begitu senang hanya dengan lemparan seperti itu."

Jantungmu berdegup kencang.

"Dai-chan, jangan kasar begitu!"

Suara serta sebutan-sebutan itu—kau sangat mengenalnya.

"Sedang apa kau disini—nanodayo?"

Rasanya kau ingin menangis.

"Hee, kau sepertinya senang sekali~"

Wajahmu pucat sekali.

"Tachikawa-san, kenapa ada disini?"

"He? Kuro-chin kenal dia?"

"Tentu saja."

Kau tidak berani berbalik. Kau hanya terdiam di tempat, menatap tiang ring yang rasanya begitu indah di matamu. Kau terlalu takut dengan kenyataan ini. Kau sudah merasakan hawa yang tak mengenakkan yang berdesir di tengkuk serta telingamu. Kau ingin pulang, kau ingin lari!

"Tachikawa-san—" Kau merasakan ada seseorang yang menyentuh pundakmu. "—ada apa?"

Dengan gerakan canggung, kau berbalik dan berjalan mundur beberapa langkah. Lalu menundukkan kepalamu sopan, tidak memperdulikan setetes keringat dingin telah jatuh di pelipismu. "K-Konnichiwa, Kuroko-san..."

Kuroko pun membalas sapaanmu. "Konnichiwa—kenapa kau ada disini, Tachikawa-san?" Kuroko mencoba untuk mengulangi pertanyaannya.

"U-Uhm..." Kau gugup harus menjawab apa. Sedangkan orang-orang dengan rambut seperti pelangi itu terus menatapmu dengan pandangan berbeda. Kuroko dengan tatapan datar, Aomine yang entah kenapa tidak menatap matamu tapi menatap sesuatu yang ada di tubuhmu—dan kau tahu apa itu, Momoi dengan pandangan berbinarnya, Kise dengan pandangan ceria dan pesonanya, Murasakibara dengan tatapan malasnya, dan Midorima dengan pandangan mengerikan.

"Entahlah, a-aku juga tidak tahu..." Hanya itu yang kau jawab. Tapi benar 'kan, kau hanya menemui gedung ini dan bermain di dalamnya? bukan bermaksud apa-apa kok.

"M-Maaf kalau sudah lancang..." Kau meminta maaf dengan cara membungkukkan badan. Kau tahu kalau pria berambut hijau lumut itu tampak tak suka saat melihatmu. Mungkin itu ada hubungannya dengan shoot-mu tadi.

"Hee~ kenapa meminta maaf? Ini 'kan gym umum, semua orang bisa memakainya juga-ssu~!"

Kau tidak tahu sejak kapan sudah ada Kise Ryouta di hadapanmu. Pria itu menepuk-nepuk kepalamu, berharap dengan begitu kau pun tidak takut dengan mereka. Kau pun membalas cengiran Kise dengan senyuman miris, padahal dalam hati kau sudah menjerit-jerit.

"Ki-chan, jangan menggodanya! Kau membuat dia takut!"

"Eh? S-Siapa yang menggodanya, Momocchi? Aku tidak melakukan apapun!"

Dan entah sejak kapan pula Momoi Satsuki sudah memelukmu dengan erat, melindungimu dari para pria di hadapan kalian. Kau sangat bersyukur kalau kenyataan mengatakan Momoi-lah yang memelukmu, tapi kau juga tidak menolak kenyataan kalau dada besar milik perempuan itu bisa membuatmu sesak.

"O-Oi, Satsuki! Kau membuatnya tidak bisa bernafas karena dadamu!"

"E-EH!? A-Apa maksudmu, Aomine-kun? J-Jangan berbicara semesum itu!"

"Tapi itu memang kenyataan, bodoh! Lihat wajahnya!"

Momoi menurunkan penglihatannya, sekedar untuk melihatmu yang ada di pelukan mautnya. Saat melihat wajahmu yang mulai terasa pucat, cepat-cepat gadis seksi itu meminta maaf.

"M-Maafkan aku!"

"I-Iie, tak apa kok..."

Kau hanya tersenyum kecil saat melihat Aomine dan Momoi kembali bertengkar. Benar-benar, kedua orang ini tidak berubah—pikirmu. Kau pun menatap Kuroko yang terus menatapmu dengan pandangan datarnya. Kau melempar pandangan ke arah Murasakibara yang terus memakan maiubo di tangannya, bahkan pria yang memiliki tinggi tidak normal itu menawari snack-nya.

"Kau mau?" Tanyanya.

Karena merasa tidak enak, kau pun mengambil satu biji makanan dari bungkus maiubo itu. "Terima kasih, Murasaki—"

Hening.

Kini, kau melirik Kuroko Tetsuya sedang mengerutkan alis. Semuanya terdiam, entahlah kenapa. Hingga akhirnya Midorima lah yang angkat suara. "Kau mengenal Murasakibara?"

Kau pun terdiam juga. Lalu tersenyum kikuk ke arah small guard itu. "T-Tidak juga.."

"Berarti kau mengenalku juga dong?" Kise pun heboh. Pria itu menampakkan deretan gigi putihnya. "Namaku Kise Ryouta, 10-B, pekerjaanku model. Suatu saat nanti aku ingin jadi pilot-ssu! Keahlianku karaoke dan hobiku basket—eh salah—!"

"Apa-apaan perkenalanmu itu, Kise? Jangan berbicara hal yang tidak penting!"

"Tapi Aominecchi, itu memang kenya—"

"Daiki, Ryouta."

Deg.

Aura yang awalnya terasa hangat akibat hawa keceriaan Kise pun lenyap saat kalian mendengar suara dingin nan datar di belakang kalian semua. Dengan gerakan gugup, yang dipanggil pun menoleh. Keringat dingin di kepala pun membasahi keduanya.

"Ah, A-Akashicchi..."

"Akashi, s-sejak kapan kau ada disitu!?"

PSUUUUUUNG—!

"HIIIIIIIIIIII!"

Bagaikan kilatan petir, gunting merah pun melayang. Jika saja Kise dan Aomine tidak menghindar dengan cepat, pasti sudah menancap sedetik sebelum mereka menyadarinya. Dan tepat saat itu juga—

—TRAKH!

Gunting itu menancap di tiang tepat dibelakangmu.

Kau tidak merasa kaget saat merasakan layangan gunting telah terlempar tepat disamping telingamu. Kau hanya terkejut saat merasakan hawa dingin yang begitu kental di sekitarmu. Kau tahu perbuatan siapa itu. Siapa lagi kalau bukan si Akashi Seijuurou, sang maniak gunting?

"Kutambah latihan kalian lima kali lipat. Dan jangan membantah."

"B-Baik!" Jawab mereka bersamaan.

Mengabaikan Akashi yang muncul, kau melirik gunting yang ada dibelakangmu. Ya, benar, itu sebuah gunting. Kau sama sekali tidak percaya bahwa pria berdarah yandere itu sangat menyukai gunting. Memang apa bagusnya gunting? Gunting hanyalah sebuah alat yang digunakan untuk memotong maupun menjahit, 'kan?

Meski tidak menghapus kenyataan kalau benda itu bisa saja menghilangkan nyawa seseorang.

Kau pun menghela nafas.

Kau lempar tatapanmu ke Akashi Seijuurou. Sekali lagi, kau tidak terlalu kaget dengan pandangan dingin yang seakan menusuk itu. Kau sudah terbiasa dengan keberadaannya di komik yang kau baca. Meski kau akui kalau hawa di sekitarmu mulai memberat.

"Umm, perkenalkan," Setelah lama dalam keheningan, Kuroko akhirnya mulai bersuara. "Ini Tachikawa Hikari, teman sekelasku—dia anak baru."

Kau pun membungkukkan badan. "Tachikawa Hikari, 10-C. Yoroshiku."

Melihat kau yang tersenyum, Momoi lah yang pertama menjawab sapaanmu. "Aku Momoi Satsuki, 10-D. Posisiku sebagai manajer klub. Salam kenal, Hikari-chan~!"

"Aku Midorima Shintarou, 10-A." Pria itu menaikkan kacamatanya. "Three-point-shooter, posisi small guard."

'Dan penggemar berat ramalan Oha-Asa.'

Kau pun tersenyum sambil memandangi Midorima. Sedangkan pria itu hanya memelototimu dengan alis mengerut.

"Hn, Aomine Daiki, 10-D. Posisi power forward. Dan yang bisa mengalahkanku hanyalah aku." Aomine mengatakannya dengan bangga.

Kau tahu kalimat macam apa itu. Makanya kau tidak terlalu kaget saat mendengarnya.

Lagipula, perkataan itu tidak selalu benar.

Suatu saat, Aomine pasti akan dikalahkan oleh seseorang, dan kau pun tahu siapa dia.

Kau tertawa dalam hati. Mengetahui segalanya itu memang enak, ya?

"Apa-apaan sloganmu itu, Aominecchi?"

"Itu bukan slogan, tapi fakta!"

'Tapi fakta tidak selalu benar.' Kau hanya bisa tersenyum saat mengatakan hal itu.

"Umm..." Murasakibara mengambil beberapa maiubo dalam bungkusnya, lalu memakannya dengan lahap. "Aku—nyam nyam—Murasakibara Atsushi, 10-B. Posisiku—nyam—center..."

'Malas seperti biasa, ne?'

"Ah, selanjutnya giliranku-ssu~!"

"Tadi kau sudah, baka!"

"Eh? Tapi tidak apa—"

"Selanjutnya kau, Akashi-kun." Suara Kuroko membuat teriakan Kise terpotong.

Akashi hanya diam, ia menatapmu dengan pandangan datar, menusuk, dingin, dan sebangsanya. Kau hanya mengerjap pelan, bertanya dalam hati mengapa Akashi menatapmu dengan penuh intimudasi seperti itu. Kau pun hanya menundukkan kepala, tidak tahu harus berbuat apa.

"Akashi-kun—"

Kuroko memberhentikan ucapannya, ia terkejut bukan main saat melihat Akashi sudah mengeluarkan gunting lagi dari sakunya, mengarahkan benda tajam itu tepat di wajahmu.

"Jelaskan padaku, Tachikawa—" Suaranya memberat, membuat alismu mengernyit sempurna. "—apa yang sudah kau ketahui tentangku?"

Kau pun langsung terkesiap di tempat. Kau dapat merasakan tatapan tajam dari sepasang mata dwiwarna yang kini memandangimu pula. Kau tidak mengerti apa maksud dari pria berambut merah itu, tapi yang jelas dari perkataannya tadi, ada nada penasaran dan juga—

"A-Apa maksudmu?"

"Jangan pura-pura bodoh, kau tahu apa maksudku."

—kebencian...

.

.

~ world ~

.

.

Normal POV

"Hmm..."

Yuki Shirokawa tampak heran saat melihat sepasang manusia berambut merah itu saling bertatapan. Gadis berambut silver itu terdiam sebentar sebelum terkekeh kecil. Lokasinya sama dengan anggota Kiseki no Sedai maupun Hikari, hanya saja Yuki melayang di atas mereka—langit gym, tepatnya. Hingga keberadaannya tidak diketahui oleh siapapun termasuk gadis berambut merah kejinggaan itu.

"Ah Hikari-san, tampaknya mulai sekarang hidupmu akan sulit..."

Yuki pun tersenyum lebar saat matanya melirik Akashi Seijuurou yang sedang menodongkan gunting pada Tachikawa Hikari. Gadis itu pun semakin senang saat melihat ekspresi Hikari yang bingung—bukan takut seperti yang lain. Dan Yuki pun salut akan hal itu.

"Tapi tidak apa, deh. Aku yakin kau bisa menghadapinya..."

Ia pun melayang-layang sebentar, lalu menghilang dalam sekejab. Namun sebelum sepenuhnya hilang, kedua iris emerald miliknya melempar tatapan misterius yang tak bisa ditebak.

"Semoga kau berhasil melewati Akashi Seijuurou, ne, Tachikawa Hikari..."

Dan ia pun menghilang, dengan seringai kemenangan yang terpatri di wajahnya.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Wkwk, nggak nyangka bakal di respon positif begini. Terima kasih ya, readers dari KnB~! :'D

.

.

SPECIAL THANKS TO

Aoi Yukari, Shei-chan, Brownchoco, sherrysakura99, zuryuteki, Juvia Hanaka, Silvia KI-chan

.

.

Quest's

Hubungan Kuroko sama cewek emerald itu apa? Nggak ada. Akashi muncul di chap berapa? Chap ini. :) Prolognya bagus. Ano, itu chapter, bukan prolog, tapi makasih ya. :D Kisedai muncul 'kan? Iya. Hikari terlalu baik. Haha, bosen sama OC yang berani mulu. Ketemu Akashi kapan? Dari chap ini sampe seterusnya bakal ketemu terus kok. :)

.

.

Pengen tau wujud asli dari OC Tachikawa Hikari? Silahkan liat kover fict ini~! :D

.

.

As long as i can play, why not?—The Basketball Which Hikari Plays—

.

.

Next Chapter

"Kau sangat suka basket ya?"

"Kalau salah satu dari anggota Kiseki no Sedai menyukaimu, apa yang akan kau lakukan?"

"Tapi pandangan matamu menyiratkan semuanya, Akashi-kun."

"Instingku tak pernah salah—dia sedikit berbahaya."

.

.

Terima kasih sudah membaca! :)

Mind to Review?