Disclaimer: Masashi Kishimoto

Happy reading :)


IRIS

.

.

.

"Umm... Aku masih tidak mengerti. Sekali lagi, Kakashi, kenapa kita di sini?" Sakura menutup pintu mobil seraya memperhatikan sekitar. Suara deburan ombak yang menghantam bibir pantai menyambut pendengarannya. Angin mengajak helaian merah mudanya bermain, menyebabkan sebagian surainya menutupi wajah. Sakura menyibak rambutnya untuk tetap kembali ke tempat.

"Hang out. Have fun. Seperti biasa. Aku bosan di kantor terus." Kakashi menjawab sambil mengedikkan bahu. Sakura menganggap Kakashi sendiri bahkan tidak yakin kenapa ia berada di sini.

"Ayo. Itachi pasti sedang menunggu kita," Kakashi memakai sunglasses-nya, bersiap melangkah. Sakura ikut berjalan di samping Kakashi dengan alis yang tertaut bingung.

"Itachi? Apa itu berarti... Ino juga berada di sini?" tanya Sakura yang dibalas dengan anggukan oleh Kakashi.

"Ya, aku rasa kau akan senang mendengar news dari mereka. Lihat saja nanti."

Sakura menatap Ino yang sudah melambaikan tangannya dari kejauhan. 'News?'

Sakura melangkah ke arah Ino, sedangkan Kakashi terus berjalan ke arah lain.

"Hey, Jidat. Kau telat. Makanannya sudah habis. Hahaha," Ino tertawa lebih riang dari biasanya. Membuat Sakura berpikir.

"Kau kenapa, Pig? Selain menghabiskan dua atau tiga piring makanan, apa yang membuatmu begitu senang kali ini?" Sakura memandang Ino dengan tatapan aneh.

"Ah, Jidaaaat, Kakashi tidak memberitahumu, yaaa," Ino memeluk lengan Sakura yang dibalas dengan gerutuan dari gadis berambut merah muda itu.

"Hey... Hey... Lepaskan aku. Kakashi tidak memberitahuku apa?" Sakura melempar pandang ke arah sang pemuda berambut silver yang menghampiri sekelompok orang di sebelah sana.

"Jadi benar, ya, dia tidak memberitahumu? Aku pacaran dengan Itachi." Ino menjawab dengan lebih pelan.

Sakura memproses apa yang baru saja didengarnya.

"APA? KENAPA TIDAK MEMBERITAHUKU?" teriak Sakura spontan.

"Psst, Jidat, jaga suaramu," desis Ino. "Kan sudah kubilang, kukira Kakashi sudah memberitahumu." sambung Ino kemudian. Ino melepas pelukannya dari lengan Sakura, lalu mengambil lemonade yang sedari tadi terletak begitu saja.

"Dia tidak memberitahuku apa-apa." ujar Sakura, kembali memperhatikan Kakashi yang saat ini sedang tertawa pada sesuatu yang baru saja diucapkan Itachi di seberang. Angin membelai helaian sewarna peraknya. Membuat Sakura berpikir seberapa lembut rambut itu jika ia sentuh. Kakashi masih tertawa. Benak Sakura mencari-cari apa yang bisa membuatnya tertawa seperti itu. Seperti matahari bersinar tepat ke arahnya. Seperti lantunan ombak bernyanyi khusus untuknya. Seperti―

"Jidaaaaat... Hellooo... Kau lihat apa, sih, sampai segitunya?" Ino mengibaskan tangan di hadapan wajah Sakura. Membuat gadis itu mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya (tampak) tersadar.

"Ahh... Umm... Aku... Aku haus," Sakura mengambil botol air mineral terdekat, lalu meminumnya.

"Kau memandang Kakashi lagi, ya?" tanya Ino yang kini melihat ke arah yang Sakura baru saja lihat. Kakashi, Itachi, dan sespesiesnya.

Sakura meneguk air dengan volume lebih banyak. Entah kenapa tiba-tiba ia begitu gerah.

"Tidak. Aku hanya berpikir... Umm... Ka-kapan kalian jadian?" Sakura mengeluarkan hal yang pertama kali muncul di kepalanya.

Ino memutar bola matanya.

"Kau tidak usah mengalihkan pembicaraan, deh. Tapi, yeah, kami jadian beberapa hari yang lalu. Kau ingat, di waktu kalian datang ke rumahku?"

Sakura mengangguk.

"Nah, setelah kalian pulang waktu itu, Itachi menembakku." ucap Ino dengan pipi yang agak memerah.

"Dan kau langsung menerimanya?" tanya Sakura seraya mencuri pandang ke arah Kakashi yang saat ini sedang berbicara pada seseorang. Sakura merasa lelaki dengan rambut silver menantang gravitasi itu cocok sekali berdiri di atas hamparan pasir putih. Ia tidak pernah tahu bahwa Kakashi dengan alam bisa menyatu. Entah bagaimana, latar laut yang menjadi background posisi Kakashi berdiri detik ini sangat pas dengan dirinya. Seakan-akan, ia memang bagian dari sebuah lukisan yang paling indah dari semua lukisan yang pernah Sakura lihat. Kemudian, secara tiba-tiba, objek lukisan tersebut memandang balik ke arah Sakura.

BLINK!

Sakura membuang pandangannya.

"―baik. Kenapa tidak. Maksudku... Kau tahu maksudku, kan, Sakura?" sepotong kalimat Ino memasuki pendengaran Sakura. Ah, tadi ia bertanya pada Ino, ya?

"Ya, aku tahu apa maksudmu." respon Sakura, berharap ia memberikan jawaban yang benar. Emeraldnya jatuh kembali pada tempat yang sebelumnya ia pandang, hanya untuk menemukan tempat itu kosong.

OOOOO

Sepasang kaki menggiring bola melewati satu―dua tubuh yang berdiri di jalannya. Langkah itu terhenti ketika sang pemilik kaki berhadapan dengan bukan hanya satu atau dua, tetapi tiga orang yang merintangi tujuannya. Ia biarkan otak untuk mengambil alih sejenak, sedikit tipuan mata―taktik lama, dan ia akan berhasil.

DUG.

"Yaaaayyyyyyyyy..."

Teriakan sekerumunan orang terdengar mengikuti sebuah bola yang berhasil ditendang melewati sepasang tangan.

"Permainan berakhir," ucap seseorang, disusul dengan tiupan peluit. Beberapa orang yang sedari tadi bertanding di hamparan pasir segera menepi. Salah satunya adalah Kakashi, yang saat ini berjalan menuju Sakura yang duduk bersandar di bawah sebatang pohon.

"Hey," sapanya, mencoba menculik Sakura kembali ke alam nyata.

"Hey. Permainan bagus, Kakashi," emerald itu bersinar cerah, atau hanya pengaruh matahari? Kakashi tidak tahu.

"Aku tidak peduli kau mengejekku atau apa, tetapi kuanggap itu sebagai pujian, Sakura." Kakashi tersenyum di saat Sakura memberikan sebotol air.

"Aku serius. Yang tadi itu bagus. Kau memasukkan gol di menit terakhir." ucap Sakura sambil tertawa, matanya terlihat sangat bercahaya, sangat hidup. Kakashi selalu suka melihat Sakura tertawa. Atau ketika Sakura memandangnya seperti itu. Seperti dirinya sangat spesial, di saat dirinya hanyalah... well, dirinya.

"Ya... Tetap saja, hasilnya seri. Kami tidak menang, aku payah dalam permainan," jawab Kakashi, mengambil posisi duduk di samping Sakura.

Sakura menggelengkan kepalanya, masih sambil tertawa.

"Kau tidak menang, mereka juga tidak. Tetapi aku setuju denganmu. Kau payah dalam permainan. Maksudku, hey, apa-apaan kau tersungkur di menit pertama? Itu kan baru awal―" Sakura tidak dapat meneruskan ucapannya. Ia memegangi perutnya saat tertawa habis-habisan mengingat ketika Kakashi tersungkur sendiri di menit pertama.

"Jangan salahkan aku. Main di lapangan dengan di pasir itu berbeda," bela Kakashi, mencoba untuk tetap santai.

"Hahahaha. Terserah kau saja. Setidaknya kalian seri, tidak kalah." senyuman tulus kembali tertaut di bibir Sakura. Membuat Kakashi ikut tersenyum. Detik kemudian, ia mengacak rambut Sakura dan berujar, "Tertawalah sepuasmu."

Sakura kembali tertawa kecil sebelum kemudian menatap pantai. Warna birunya yang senada dengan langit memanjakan emerald Sakura. Mengirimkan ketentraman di hatinya, sampai-sampai ia menginginkan momen ini untuk tidak berakhir.

"Aku tidak mengganggu pemikiran seseorang, bukan begitu?" suara Kakashi memasuki pendengaran Sakura. Ia menoleh.

"Tidak. Kau tidak mengganggu. Sama sekali," ujar Sakura, memberikan ekspresi 'kau-jelas-jelas-mengganggu' yang diabaikan Kakashi.

"Bagus kalau begitu. Aku hanya memastikan." balas Kakashi tanpa melepas pandangannya dari pantai. Sakura pura-pura cemberut.

"Ngomong-ngomong, Ino sudah cerita apa saja padamu?" tanya Kakashi.

"Kau!" Sakura tiba-tiba menunjuk Kakashi tepat di wajah.

"Kenapa tidak kau bilang padaku kalau mereka pacaran, huh? Kau sudah tahu dari awal, kan?" reaksi Sakura yang berlebihan tetap tidak membuat Kakashi merasa bersalah. Dengan tenang ia menjawab,

"Bukannya kau tahu langsung begitu lebih baik? Aku pikir kau akan senang bisa berteriak-teriak di hadapan Ino seperti tadi,"

Ekspresi Sakura berubah sedikit.

"Ya―ya, tapi kan tetap saja kau seharusnya memberitahuku. Aku tidak ingin menjadi orang yang terakhir tahu," bela Sakura, masih tetap menunjuk Kakashi tepat di wajah.

Kakashi bangun dari sandarannya dan berkata, "Ohh... Atau kau sama sekali tidak menikmati obrolanmu, apa aku benar?"

Dahi Sakura berkerut.
"Apa maksudmu?"

"Karena, sejauh yang aku tahu―" Kakashi menggenggam telunjuk Sakura dan menurunkan tangannya dari hadapannya.

"―Kau terlalu sibuk memandangiku. Apa aku benar, Sakura?" tanya Kakashi dengan seringaian yang kini terpeta jelas di wajahnya.

'Oh God, kenapa bumi ini tidak membelah saja sekarang?' batin Sakura dengan wajah semerah tomat.

OOOOO

"Hey... Hey... Lihat siapa yang sedari tadi menghabiskan waktu berdua," ucap Itachi di saat Kakashi dan Sakura datang menghampiri.

"Benar. Seakan kita tidak pernah ada saja," timpal Ino sambil duduk di kursi di samping Itachi.

"Bukannya kalian yang sedari tadi menghabiskan waktu berdua?" balas Sakura, menduduki kursi di depan Ino.

"Seingatku, kalian yang couple di sini. Bukan kami," sambung Kakashi, meminum sodanya.

Ino mendelik ke arah Kakashi.

"Tetapi, bukan kami di sini yang duduk di tepi pantai sambil tertawa bersama. Maksudku, bukannya hal itu yang biasa dilakukan oleh couple?" pancing Ino dengan nada sebiasa mungkin.

"Soal itu, kau bisa komplain pada Itachi." jawab Kakashi sambil tersenyum, tidak sadar dengan perubahan mood gadis di sampingnya.

"Aku hanya bukan tipe cowok seperti itu," sahut Itachi malas.

"Lagian, Ino benar... Awalnya aku pikir kalian itu couple, sebelum Ino mengatakan bahwa itu kau dan Sakura." sambung Itachi.

"Well, kami hanya teman. Iya, kan, Sakura?" Kakashi menunggu pembelaan dari Sakura.

"..."

Atmosfir terasa tidak mengenakkan di saat kebisuan membalas balik pembelaan Kakashi, membuat lelaki itu menoleh ke samping, tepat ke arah Sakura.

Gadis yang diamati hanya menghentikan sedotan jus jeruk yang sedari tadi dimainkannya, ketika ia menyadari tiga pasang mata menatap ke arahnya.

"Apa?" tanya Sakura.

"Kita teman, kan?" ulang Kakashi.

Sakura kembali memainkan sedotannya sebelum menjawab,

"Ya." angguk Sakura.

"Ya. Tentu saja. Kita... teman. Kami hanya teman," konfirm Sakura sambil melempar sebuah senyum kecil ke arah Itachi dan Ino.

Ya, karena menghabiskan waktu berdua di dekat pantai merupakan sesuatu yang teman biasa lakukan, kan?

OOOOO

Sakura berdiri di tepi pantai. Sesekali ombak memeluk kedua kakinya. Emeraldnya menatap horizon, tepat di mana rotasi menarik matahari kembali ke pangkuannya. Garis langit berbercak jingga kemerahan. Ingin rasanya Sakura memotret pemandangan ini dengan kamera terbagus di dunia. Sayangnya, ia tidak punya. Biarkan otaknya menyimpan gambar ini di memori terbaik yang dimilikinya, kalau begitu.

"Sakura? Barang-barangmu sudah siap?" suara di sampingnya membuat Sakura menoleh. Kakashi.

Ia mengangguk.

"Ya, sudah kutaruh di mobil." jawab Sakura, menggigit bibir bawahnya sedikit dan kembali menatap cakrawala.

Mereka akan pulang. Seperti burung-burung yang kini sedang terbang ke sarang.

"Kau baik-baik saja?" tanya Kakashi lagi.

Sakura tertawa kecil.

"Tentu saja aku baik. Hari ini hari yang indah. Kenapa aku harus tidak baik-baik saja?"

"Tidak. Kau hanya... sedikit diam sejak sore tadi." balas Kakashi.

Sakura menggeleng sambil menatap ombak yang menutupi kakinya sekali lagi.

"Kita―"

"Kita tidak harus selalu talkative. Itu yang ingin kau katakan, bukan?" potong Kakashi, kali ini melihat Sakura.

Sakura menatap Kakashi di saat yang bersamaan. Ia tertawa lagi.

"Kau tahu saja," ujarnya.

Emerald Sakura menatap dalam kedua mata onyx beda warna itu. Udara seakan tidak bisa mencapai paru-paru ketika sepasang onyx tersebut menatap balik sama intensnya. Sepasang onyx yang terlalu sering ia tatap sejak lama. Sepasang onyx yang merefleksikan segala kebutuhannya, keinginannya.

"Tentu saja aku tahu," ucap Kakashi pelan, hampir terdengar seperti bisikan.

"Aku mengenalmu, Sakura. Aku bisa membaca pikiranmu seperti buku yang terbuka. Aku bisa menebak apakah kau sedang senang, sedih, atau kecewa. Aku hanya... aku mengenalmu." sambung Kakashi.

Sakura dapat mencium aroma vanilla dari tubuhnya dalam jarak sedekat ini. Sial, sejak kapan mereka menjadi sedekat ini? Terlalu dekat hingga Sakura bisa merasakan hembusan napas Kakashi di wajahnya.

"..." gadis itu terdiam, ketika hatinya berteriak.

.

Kau bilang kau mengenalku, kau bilang kau bisa membaca pikiranku seperti membaca buku yang terbuka, dan kau bisa menebak mood-ku. Lalu, kenapa kau tidak menyadari kalau aku begitu mencintaimu?

.

Sakura menggelengkan kepalanya, berharap pikiran-pikiran tersebut menghilang. Ia melepaskan pandangannya dari Kakashi dan tertawa. Jika Kakashi tidak salah dengar, getir terselip di tawa yang terdengar nervous itu. Alih-alih mengeluarkan pikirannya, Sakura malah berkata,

"Bahkan sampai hari ini matahari tak pernah berkata pada bumi 'kau berhutang padaku'. Kau tahu apa yang terjadi pada cinta yang seperti itu? Bisa kau bayangkan pada cinta yang seperti itu?" tanya Sakura, pandangan tetap ke arah sang surya yang hampir sepenuhnya terbenam.

Pemuda itu terdiam sebentar, masih menatap Sakura. Sebelum akhirnya menjawab, "Tidak."

Sakura tersenyum. Kemudian menoleh pada Kakashi.

"Cahanya menerangi seluruh permukaan langit. Bayangkan dengan cinta yang seperti itu." jawabnya, hampir berbisik, menatap tepat onyx Kakashi. Emerald dan onyx itu berpandangan sekali lagi dalam keheningan.

.

Katakan padaku apa yang kau lihat, Kakashi. Buktikan kalau kau benar-benar mengenalku. Atau, kau tahu tetapi memutuskan untuk mengabaikannya? Pura-pura tidak mengetahuinya?

.

Sakura mengalihkan pandangan.

"Ayo kita pulang," ucapnya, langsung berjalan meninggalkan Kakashi. Lelaki berambut perak itu tetap diam di tempat untuk beberapa saat. Melihat gadis berambut merah muda itu pergi.

Ada satu sisi dari hatinya yang ingin mengejar Sakura dan mendekap tubuh yang kelihatan rapuh tersebut. Mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja―apapun itu―, dan bahwa Kakashi akan selalu berada di sini untuknya. Namun, ada sisi lain yang menahan dirinya. Selalu ada sisi lain yang menahan Kakashi untuk menampakkan sisi lembut yang ia miliki. Alih-alih, ia hanya menatap balik ke arah tepi langit.

'Bayangkan dengan cinta yang seperti itu.'

To be continued

Halooo~ Kali ini clouds balik lagi bawa chap 2 nyaa. Terimakasih buat yang udah baca dan juga buat yang udah review di chap kemarin xD.

Flafloflifle: Hehe. Iyaa, ini masih TBC xD kalo untuk typos nyaa, chap ini juga mungkin masih banyak #pundung

Taskia Hatake46: Pair ter-favourite? Kita samaaa *highfive*. Jangan panggil senpai, dong, panggil clouds ajaa xD

020599: Sebenernya Kaka-kun lebih tua setahun dari Saku-chan xD. Itachi sama Kakashi seumuran. Terus, Ino sama Sakura juga seumuran. Age gap nya ada, tapi,ya, cuma setahun *maksa-banget* #plakk

.

Thank you, Minna-san. Review?