Hayaaaahhh! ini chap 2 haaa~

kayaknya Ratenya harus di ganti =_=

Warning : Lime yaa walapun agak sedikit -_-, Kekerasan yaa walaupun agak ga jelas, Lebay -_- dan Abal naah yang itu dari dulu XD *di tendang ke mars*

Tambahan Chara, saya pinjem Utada Hikaru ya~

Maaf di sini Utada jadi orang jahat T_T

yah silahkan yang mau baca ya baca yang engga ya ga usah. .


Beast Agency

"Hooi kalian cepat berpose"

Kai dan Futaba langsung berpose alakadarnya, mereka berdiri dengan jarak yang agak jauh, Zero merasakan bahwa mereka saling menyukai, Zeropun menyuruh agar Kai memberikan bunga itu kepada Futaba.

"hei kalian cepat ancang-ancang kamera kalian ini project besar"

Bisik Zero kepada bawahannya yang sejak tadi termenung lalu mereka menyiapkan kamera mereka dan berdiri di segala penjuru arah, ada yang di pohon, di lobang tikus, ngumpet di kolongpun ada =_=

Kai dan futaba yang tidak memperdulikan, mereka hanya diam.

"KAAI cepat lakukan!"

Perintah Zero kepada Kai, lalu Kai memberikan karangan bunga itu kepada Futaba dengan wajahnya yang malu, dia meberikan dengan tangan kanannya dengan jenjang dan sedikit gemetaran, lalu matanya yang di tutup dan kepalanya sedikit agak diangkat seolah-olah dia enggan melihat reaksi apa yang akan di berikan Futaba kepadanya.

Futaba yang melihatnya langsung mencoba mengambil karangan bunga itu dengan tangan yang tidak kalah gemetar, dengan canggung Futaba mengambil rangkaian bunga dari Kai.

Zero yang sudah menduga mereka akan bertingkah seperti itu terlihat senang dengan ekspresi yang sangat alami itu

"te~terimakasih"

Terlontar kata terimakasih dari mulut Futaba yang kecil, membuat semua orang kaget begitu juga dengan Kai dia melongo sesaaat lalu menatap Futaba dengan wajahnya yang elok itu, Futaba kembali memadang Kai 5 detik berlalu merekapun tertawa bersama-sama sepertinya kecanggungan yang menghalangi mereka sudah musnah XDD

Sekitar 3 Jam berlalu Kai dan Futaba masih melakukan pemotretan, entah mengapa tapi Zero mengatakan dia akan membayar lebih untuk hal itu, banyak sekali foto yang di buat Zero ketika Futaba dan Kai berpose, entah mengapa mereka seperti sedang tidak melakukan pemotretan tapi terlihat seperti sedang kencan, terlihat dari Foto Kai yang membantu Futaba berjalan di jembatan danau, Kai yang membenarkan sepatu Futaba, Kai yang tidur ketika Futaba membacakan cerita, Kai yang mencium kening Futaba saat Futaba tertidur kelelahan, mereka yang sedang makan bareng, Futaba yang menyuapi Kai, Kai yang memeluk Futaba dari belakang, posisi mereka yang seperti berciuman padahal kagak :( dan juga ada pose dimana Futaba terjatuh dan Kai kaget dengan kejadian itu, Futaba tidak bisa berjalan lalu Kai mengangkat Futaba dengan Gaya bridal style lalu pemotretan pun di hentikan.

"a~au"

Ucap Futaba saat dia di dudukkan di Sofa dan kakinya di tarik Kai lalu di pijat.

"waah sepertinya kaki mu terkilir"

Ucap Kai, oh iya mereka berada di studio pertama tadi mereka hanya berdua tidak ada orang lain lagi selain merekaberdua, Kai memijat kaki Futaba perlahan.

"a~akh. . .sakit"

Lirih Futaba kepada Kai yang memijat kakin Futaba di pahanya.

"tentu saja sakit tahan ya"

TAK

"AAAh"

Teriakan keras keluar dari mulut Futaba dia merasakan sakit yang luar biasa dalam sekejap.

"maaf ya! Tapi lihat kaki mu kembali normal"

Ucap Kai sambil menggerakkan kaki Futaba yang sudah sembuh, Futaba hanya merunduk entah mengapa.

"Futaba kau kenapa?"

Tanya Kai sambil mendekatkan wajahnya kearah Futaba yang merunduk, Futaba mengangkat wajahnya dan terlihat wajahnya yang dibasahi airmata, Futaba menggigit bibir bawahnya agar suara tangisannya tidak meledak, Kai yang melihat hanya mampu menutup mulutnya karena kaget melihat sosok cantik itu bertambah cantik di hadapannya secara langsung.

BUG BUG entah mengapa Futaba tiba-tiba memukul Kai pelan dengan kedua tangannya sambil menangis dan mengatakan "menyebalkan.. hiks menyebalkan" itulah yang dia katakannya, Kai terdiam sambil menatap lemas kepada Futaba dan membiarkannya memukul kearahnya.

"menyebalkaaan. . haaaaa. . " Futaba berhenti memukul dada Kai yang bidang dan mengelusnya tidak lupa tangisannya yang malah makin menjadi-jadi, Kai memandang kosong Futaba lalu memegang kedua tangan itu, dan menariknya agar Futaba memeluk dirinya.

"ada apa dengan mu? Menangsilah jika kau mau"

Ucap Kai sambil memendam Futaba dalam pelukannya dan memeluknya lebih erat, Futaba yang kaget karena pertama kalinya Kai melakukan hal itu kepadanya memeluk Kai kembali dan menangis sejadi-jadinya sampai-sampai baju Kai basah.

"psst cepat foto nanti masukan internet"

Uruha berbisik kepada Aoi yang sedang membidik di depannya Jpret merekapun mendapatkan Fotonya dengan sempurna.

"hihihihi"

Aoi dan Uruha tertawa bersama-sama walaupun muka Aoi agak sedikit babak belur XD

Masih terdengar senggukan dari Futaba, Kai langsung mendorongnya perlahan dan menatap wajah Futaba yang sembab itu.

"ada apa dengan mu?"

Tanya Kai lembut kepada Futaba, Futaba melirik sebentar lalu memeluk kembali Kai, Kai terdiam dengan tingkahnya Futaba yang tidak pernah dia lakukan.

"aku takut kehilangan mu"

Jelas Futaba membuat Kai melotot dan tersenyum bahagia, tanpa aba-aba Kai mendorong tubuh Futaba dan mencium bibir mungil Sang model tadi dengan perasaaan cinta dan kebahagian (?)

"mmm! Mmmm!"

Futaba mencoba merontah tapi Kai memegangnya erat, lama kelamaan Futaba tersenyum lalu membiarkan Kai menciumnya.

"Aoi Aoi cepat foto foto. . ."

Kata Uruha gemes kepada Aoi yang sejak tadi diam

"ssst ini lagi di remkan uru!"

Aoi ternyata merekam adegan yang sedang Kai dan Futaba lakukan, Uruha yang mendengar perkataan Aoi langsung senang dan mencium pipi Aoi yang sedang asik melihat pemandangan itu.

CHUU~

Uruha mencium dan Aoi langsung kelabakan dia merasa malu lalu tidak sengaja menubruk pintu dan mengagetkan dua sejoli yang sedang memadu kasih tersebut.

BRUUAAK

"hmmph aaah! AOII? URUHAAAA? SEJAK KAPAN KALIAN DI SITU?"

Tanya Kai kaget sambil melepaskan Futaba yang sedang bersander di Sofa itu.

"e~eeh ehehehehe se~sejak tadi. . ehehehehe"

Aoi dan Uruha pun tertawa tidak mutu di depan Kai dan Futaba yang terlihat marah itu dan akhirnya, BRUAK BRUK BRAK KYAAA!

Hmm Aoi jadi sasarn empuk sedangkan Uruha cuman teriak-teriak saja.

"dasar orang tua tidak tau sopan santun!"

Ucap Kai kepada Aoi yang tubuhnya penuh dengan cubitan Kai

"aoi sayang kau tidak apa?"

Uruha mengankat pelan sang kekasih dan menatapnya kasihan, Aoi menggelengkan kepalanya dan tersenyum sambil menyentuh wajah Uruha yang berada di atasnya.

"hiks. .Aoi jangan pergi!"

"u~uruhaaaaaaa"

Aoi menutupkan matanya lalu dia tegeletak membuat Uruha histeris

"AOIIIIIIII TIDAAAAAAAAKKK"

Uruha menangis sambil memeluk Aoi, sedangkan Kai dan Futaba sweatdrop berjamaah dan tersenyum sambil bergandengan tangan.

"TCH!"

Terdengar decahan seseorang entah siapa dan dari mana.

"kai kau dengar?"

Tanya Futaba kepada Kai yang berdiri di sampingnya.

"eh? iya dengar tapi ga liat siapa"

Jelas Kai, Futaba hanya ber oh ria dan kembali melihat dorama dadakan yang dibuat Uruha dan Aoi.


Karena Hari sudah mulai gelap tidak terasa Futaba menghabiskan waktu bersama The Gazette seharian ini, dia merasa kembali kepada dirinya yang selama ini di kekang oleh ketakutannya, Kai mengantar Futaba pulang dengan mobilnya yang mewah.

Di sepanjang jalan Kai dan Futaba bercengkrama dengan hangatnya sesekali mereka meledek satu sama lain tapi di akhiri dengan tawaaan khas mereka, Romantisss sekali di dalam mobil itu.

Sesampainya diapartement,Futaba menyuruh Kai untuk masuk kedalam apartementnya yang lumayan besar, ini kali pertamanya Kai pergi ke apartement Futaba padahal mereka sudah bersama selama 2 tahun lebih, mereka tiba di depan rumah Futaba di kejutkan dengan bingkisan berkado merah itu lagi, keringat dingin langsung keluar dari pori-porinya lalu dengan menjaga mimik mukanya yang gelisah tidak terlihat oleh Kai dia tersenyum manis sambil mengambil bingkisan itu.

"Futaba kau tidak apa-apa? Kau terlihat pucat"

Ungkap Kai sambil memegang tangan Futaba.

"tidak kok aku cuman kecapean saja"

Bantah Futaba dan membuka pintu apartementnya.

Kai memperhatikan tempat yang sederhana itu, Kai tau kalau Futaba adalah orang kaya, bisa saja dia membeli rumah atau Apartement yang lebih besar dari ini, apartement itu terlihat sederhana tidak terlalu banyak barang dan terlihat rapih, tidak ada Ruang tamu, hanya Kamar yang rapih, sedangkan dapur dan kamar mandi ada di sebelah kanan dirinya *kai berdiri di depan pintu masuk*

"eh Kai duduklah"

Futaba mempersilahkan Kai untuk duduk di sofa berwarna Biru lalu dia pergi kedapur dengan sebelah kakinya yang sedikit pincang XDD

Kai duduk dengan manis di sofa itu sambil memperhatikan di sekelilingnya, tatapannya terhenti di suatu bingkisan berbungkus merah itu dia perhatikan terus dan terus.

"Kai!"

Ucap Futaba membuat Kai mengalihkan pandangannya dan melirik Futaba dengan senyumannya kai melihat Futaba yang membawa 2 gelas jus apel kesukaannya

"eeh itu jus apel kah?"

Tanya Kai dengan mulut kucingnya yang manis, Futaba tersenyum lalu dia di peluk kilat oleh Kai dan minuman buatnya di babat habis, Futaba pun tertawa kecil lalu meminum minumannya. Setelah lama mereka bercengkrama dan mengobrol Futaba pergi ke kamar mandi dan berniat ingin mandi laah *PLAAK

Kai menunggu sambil menonton TV

TRRRT TRRRT ponsel Kai berdering terlihat Uruha meneleponnya.

"hallo! Ada apa uruha? Apa Aoi baik-baik saja?"

Tanya Kai sambil memandang Tv yang menampilakan film kungfu panda.

"Aoi? Oh dia baik-baik saja. . eh eh Kai si Futaba lagi ke mana? Kok ga kedengeran"

Tanya Uruha dengan nadanya yang seperti biasa.

"dia lagi mandi emang kenapa?"

Ucap Kai datar tidak mempersalahkan.

"APA? DIA LAGI MANDI? ASTAGAAAA"

Uruha berbicara dengan nada yang kaget membuat Kai menjauhkan ponselnya.

"adduh uru emang kenapa sih?"

Tanya Kai nyantai kepada Uruha yang sempat SHOCK!

"ka~kalian ma~mau me~melakukan iituu?"

Tanya Uruha hati-hati

"melakukan itu? Itu apaan? Ah uru ngomongnya aneh-aneh aja"

Kai tersenyum mendengar suara temannya yang sedang berhisteris itu.

"itu loh kai ituuuu!"

Uruha semakin gereget kepada Kai

"itu apa sih? Yang jelas dong"

Pinta Kai lemas sambil meminum minumannya yang masih tersisa.

"itu ya hubungan suami istri"

BRUUUUAAH Kai menyemburkan semua minumannya karena kaget dengan perkataan Uruha yang aneh itu, Kai menyimpan gelasnya dengan tangan yang gemetar.

"u~uruuuuu! Apa ti~tidak mungkin!"

Ucap Kai menyangkal semua hal itu.

"eeeh lu mah, kalian saling jatuh cintakan?"

Tanya Uruha dengan nada meyakinkan

"iya laluuu?"

Tanya Kai kembali dengan wajah yang gelisah.

"naaah hal itu pasti dilakukan oleh sepasang kekasih yang saling mencintai hihihihi"

Uruha terkiki di ponselnya, karena merasa tidak kuat dengan perkataan Uruha Kai langsung menutup percakapannya.

"astagaaaaa! Apa maksudnya si uruha itu!"

Kai menggelengkan kepalanya cepat TRRT TRRRT dan sekarang sms dari Uruha yang isinya


Asiiiik! kalau kalian menikah lalu punya anak biar aku yang jaga anak kalian ya! ahahaha ^o^

Lamarlah dia sekali lagi, dia pasti akan menerima mu!

Ayo semangat XD


Itulah yang tertera di ponselnya, Kai begidik langsung merogoh sakunya dan membuka kotak merah itu, terlihat cincin berwarna putih dengan berlian kecil di tengahnya dan terlihat di dalam cincin itu Kai X Futaba ukiran nama di cincin itu terlihat menenangkan Hati, Kai pun tersenyum lalu bertekad akan melamar Futaba sekali lagi.

CKLEK

Futaba keluar dari kamar mandi dan pergi menuju kamarnya, Kai yang sedang duduk melihat kearah suara langkah kaki menuju kearahnya, dan terlihat sosok Futaba yang memakai kaos kebesaran sepanjang lutut dan celananya yang sepaha tidak terlihat sama sekali. Rambutnya yang panjang di balut handuk, wajah Futaba terlihat sangan fresh membuat Kai melotot dan memikirkan Hal yang tadi Uruha katakan padanya.

"Kai apa kau mau mandi juga?"

Tanya Futaba kepada Kai yang sudah mulai sadar.

"ah tidak. . . hmm. . . .Futaba boleh aku mengatakan sesuatu?"

Tanya Kai sambil berdiri dan berjalan menuju Futaba yang masih berdiri di depan Sofa.

"iya boleh silahkan"

Futaba mempersilahkan Kai mengutarakan maksudnya, lalu Kai meraih tangan kiri Futaba dan mengankatnya perlahan Futaba sudah tau maksudnya dan dia tersenyum ramah.

"ini untuk yang ke dua kalinya, Kurahashi Futaba. . . .maukah kau menikahi ku?"

Ungkap Kai sambil menatap Futaba lembut, Futaba sudah tidak tahan karena di sudah menahan diri untuk tidak mengungkapkan rasa yang sama kepada Kai. Futaba mengangguk sambil menahan tangisnya.

"aku akan menikah dengan mu"

Jawab Futaba dengan air matanya yang mengalir tidak bisa tertahan, Kai tersenyum lalu memasukkan cincin itu ke jari manis sebelah kiri Futaba. Mereka saling menatap dan tertawa bersama-sama.

"ahahaha ayo kita rayakan dengan omlet plus mayonnaise"

Kata Futaba sambil menarik tangan Kai dan jalan bergegas tapi kakinya tidak merestui dia pun terjatuh sambil menarik Kai, alhasil tubuh Kai menimpa tubuh Futaba yang lebih kecil darinya, mereka saling menatap, Jantung Kai berdetak keras dia merasa lupa segalanya, dia langsung mendekatkan wajahnya, Futaba yang berada di bawahnya terdiam sambil menatap Kai dengan wajahnya yang sudah memerah.

Lama kelamaan merekapun ber~ ber *aduuuh author kagak Rela Kai kissu sama orang lain PLAAAK* yaa mereka Kissu di bawah lantai yang di selimuti karpet berwarna coklat, perlahan Kai mencium bibir mungil Futaba dengan lembut membuat Futaba merasa tenang.

Selama 3 menit merekapun melepaskan ciumannya, Kai melihat wajah Futaba yang memerah, Futaba yang di lihat oleh Kai membuang mukanya karena dia malu, Kai makin gereget kepada Futaba lalu dia mengecup kening Futaba dan mengangkat tubuh Futaba menuju tempat tidur Futaba yang besar.

Oke mereka melanjutkannya lagi, dalam posisi yang sama cuman di tempat yang berbeda, Kai menatap kembali Futaba yang ada di bawahnya.

"Futaba"

Kai bertanya sambil memandang lekat Futaba yang terlihat cantik di matanya, Futaba mengangguk dan menutup matanya, Kai lalu mengulang pekerjaan yang dia lakukan tadi di lantai.

Kai mencium bibir Futaba dengan lembut sambil sesekali Futaba menggeliat karena ciuman Kai yang makin lama makin dalam, Kai menatap wajah Futaba yang memerah , lalu di perlahan memasukan tangan kanannya kedalam baju Futaba yang besar itu Kai berhenti di perut ramping Futaba dan mengelusnya perlahan membuat Futaba menggeliat kegelian, merasa cukup dengan bibir Futaba, Kai menurunkan kecupannya dia bernafas tenang di leher Futaba seperti mencari wangi yang dia inginkan.

Kaipun berhenti dari hisap-menghisapnya (?) setelah mendapatkan aroma badan Futaba yang membuatnya tenang lalu mengecup pelan bagian yang menurut Kai wangi itu, Kai menjilat dan sedikit menggigit leher Futaba tersebut.

"aah. . . ."

Rintih Futaba kesakitan ketika lehernya yang putih itu digigit Kai, Kai sedikit tersentak lalu dia menjilat bekas gigitannya itu dengan perlahan dan Futabapun diam dan menapa kepaka Kai yang masih bertengger di lehernya, Kai selesai menjilat lehet Futaba dan tersenyum kepada Futaba dan mengecup bibirnya lagi dan sekarang semakin dalam. tangan Kai meneruskan pekerjaannya sekarang dia meraba bagian dada Futaba dengan lembut dan sedikit memijattnya.

"aaaah~"

Desah Futaba membuat Kai merinding, Kai kaget dan berhenti pada saat mendengar desahan pertama Futaba yang dia dengar, dengan perlahan dia bergerak dari tubuh Futaba, Futaba yang heran hanya diam sambil mengedip-ngedipkan pelan matanya yang entah mengapa terasa lelah.

"Kai?"

Tanya Futaba dan berdiri di depan Kai yang sedang merunduk sambil memegang keningnya, Futaba takut kalau dia berbuat sesuatu yang membuat Kai kecewa atau berbuat salah, Futaba menarik wajah Kai yang sedang merunduk, dan menatapnya dalam.

"ada apa dengan mu? Apa aku berbuat sesuatu yang salah?"

Tanya Futaba kepada Kai yang menatap kembali dirinya, Kai tiba-tiba tersenyum lebar membuat Futaba kebingungan.

"eeh? Kenapa?"

Tanya Futaba heran kepada Kai, Kai tiba-tiba memeluknya dan meletakkan wajahnya di perut Futaba.

"kau membuatku untuk mengentikannya!"

Ucap Kai yang sedang asik memeluk Futaba.

"eh? Aku? Ma~maaf"

Lirih Futaba kepada Kai, Kai keluar dari pelukannya dan melihat wajah Futaba yang sedikit sedih.

"ahahahaha, bukan itu maksud ku, aku sangat senang sekali kau membuatku berhenti seperti itu"

Ucap Kai dengan senyumannya yang manis menambah keheranan Futaba.

"eeh? Maaf Kai aku ga ngerti"

Kata Futaba kepada Kai yang menatapnya dari bawah, Kai pun tersenyum ramah dan berdiri lalu mencium kening Futaba dengan lembut.

"ini bukan saatnya, aku tidak mau kau rusak oleh ku sebelum kau menikah, aku akan menunggunya setelah kita menikah nanti, jadikan surprise hahahaha"

Ungkap Kai panjang lebar kepada calon istrinya itu sambil tertawa bahagia, sedangkan Futaba dia merasa terharu dengan perkataan Kai langsung memeluknya hangat, Kai membalas pelukannya.

"hmm karena diluar ada badai kau mau pulang gimana?"

Tanya Futaba memecahkan keheningan di sela-sela pelukan romantisnya bersama sang calon suami.

"apa? Asatagaaa aku tidak menyadarinya, ahahahaha"

Kai tertawa lalu Futaba pergi menuju dapur.

"sebaiknya kita makan dulu, lalu tidur, oh iya Kai sebaiknya kau mandi, kau bau asem"

Ucap Futaba polos sedangkan Kai hanya diam membatu dengan senyumannya yang tidak pernah pudar.

Setelah 30 menit berlalu Kai selesai mandi dan mereka menyantap makan malam bersama-sama dengan tentram dan juga tenang padahal di luar bergemuruh badai salju yang sangat dahsyat, karena Kai tidak bisa pulang akhirnya dia menginap dari apartement milik Futaba dengan penuh pertimbangan dan beberapa perdebatan sayang, akhirnya Kai tidur di sofa yang agak besar itu, Futaba sudah merelakan sebagian tempat tidurnya tapi dengan penuh rasa Hormat Kai menolak dan akhirnya mereka tidur di tempat yang berjauhan.

Jam menunjukkan pukul 1 malam Futaba tidur nyenyak di kasurnya yang hangat sedangkan Kai dia merasa kedinginan dan bergemetar hebat, dia sadar bahwa aliran listrik padam dan penghangat ruangan tidak berkerja, dengan terpaksa dia bangun dari tidurnya dan melangkahkan kakinya mendekat Futaba berniat meminta selimut tambahan.

"futabaaa. . ."

Kai mengguncangkan sedikit tubuh Futaba agar dia bangun, alhasih Futaba bangun dengan manisnya.

"hmm? Kai? Kenapa?"

Tanya Futaba sambil mengucek-ngucek matanya.

"aku kedinginan minta selimut lagi dong"

Pinta Kai dengan wajah ngantuknya.

"ga ada Kai udah habis"

Ungkap Futaba yang setengah bangun dari tidurnya.

"apa? Aduuh tapikan dingin!"

Kai curhat didalam kesengsaraannya, Futaba yang mendengarkan merasa kasihan lalu melihat kearah Kai yang memamang terlihat menggigil, Futabapun duduk dan menyuruh Kai untuk tidur bersamanya.

"disini hangat"

Ucap Futaba sambil menggeserkan tubuhnya sedikit agar Kai bisa masuk, Kai cengok dengan perintah Futaba, karena dingin terpaksan Kai tidur dengan Futaba dan TIDAK melakukan hal-hal aneh mungkin.

Merekapun tertidur, karena udara semakin dingin Kai akhirnya merasakan kedinginan itu lagi, dia mengigil dan sesekali menggesekan tangannya ke tubuhnya, Futaba yang mendengar suara itu melihat perlahan, walaupun gelap dia bisa melihat Kai yang masih menggil.

Dengan cepat Futaba memeluk Kai kedalam pelukannya membuat Kai agar tidak menggigil lagi.

"futabaa. ."

Terdengar sura kecil dari Kai, Futaba cepat-cepat melepaskan pelukannya.

"eeh? Kok di lepas?"

Tanya Kai dengan wajah tidurnya yang heran.

"e~eh ma~maaf"

Jawab Futaba dengan senyumannya.

"tolong peluk aku lagi, aku kedinginan"

Ujar Kai sambil membuang mukannya kedalam bantal, Futaba yang senang dengan ucapan Kai lalu memeluk kembali sang calon suami kedalam pelukannya yang hangat.

"Futaba!"

Ucap Kai lagi.

"ya!"

Jawab Futaba pelan.

"aku tidak bisa tidur, maukah kau menyanyi untuk ku?"

Pinta Kai dengan bisikannya, Futaba mengangguk.

"baiklah aku akan menyanyikan Pledge untuk mu"

Ucap Futaba sambil memeluk Kai, Kai tersenyum dengan ucapan Futaba yang membuatnya senang itu.

"haaa. .aku mulai ya"

Ucap Futaba, Kai mengangguk pelan.

"kizutsuketa ato tashika. . .kizukenakatta koto. . . . ayamachi no kazu kimi o motome. . . mitsume aeta hazu sa. . ."

Kai mulai menutupkan matanya sambil mendengarkan suara merdu Futaba yang membuatnya tenang.

"chiisana uso ga hibi o umete ita. . .utagai o kawasu you ni. . . ushinau imi o kokoro ga shiru. . . tachi tsukusu nidome no fuyu. . .kimi wa mienai asu ni tomadoi. . . koe wo age naiteita ne. . .kotoba wo sagasu koto mo de kizu ni. . . ochiru namida o hirotta. . . .hmm!"

Futaba tersenyum dan berhenti bernyanyi pada saat melihat Kai yang sudah tertidur dalam pelukannya.

"oyasuminasai~"

Futaba mencium kening Kai lembut lalu tidur sambil memeluk Kai dan akhirnya mereka tertidur berpelukan seperti Teletubbies XD

Malam berganti pagi, banyak burung-burung bernyanyi, ada juga yang menari, mandi juga begosip (?) Futaba dan Kai masih tertidur di atas kasur Futaba yang besar mereka terlihat sangat nyaman dengan pelukan mereka.


TRRRRT TRRRRT TRRRRT terdengar suara ponsel Kai yang berbunyi dengan keras, seketika Kai bangun dan mengambil Ponsel yang masih dia simpan di saku celananya.

PIIP

"hhhmm?"

Ucap Kai kepada ponselnya.

"KAAII! DIMANA LU? GUA CARI DI RUMAH LU GA ADA!"

Terdengar suara cempreng Uruha yang langsung membuatnya terbangun dan duduk, Futaba yang masih memeluknya bergerak sedikit dan terus tidur, Kai yang melihat Futaba tersenyum manis lalu membangunkannya.

"futabaaa~ ayo bangun sudah pagi. ."

Ucap Kai sambil menggerakkan tubuh Futaba yang sedang tidur itu.

"iyaaa. . . ."

Jawab Futaba sambil menggeliat, dan duduk di sebelah Kai yang masih memegang ponselnya.

"Ohayou~"

Ucap Kai langsung mencium bibir Futaba yang sedang menguap dengan cepat sampai membuat Futaba tertidur kembali.

"mmm. . .khhhhhyyy"

Teriak Futaba dengan wajah kagetnya yang memerah sambil mendorong pundak Kai perlahan, Kai melepaskan ciumannya.

"hmm? Sebentar saja!"

Ucap Kai lalu melanjutkannya lagi *lama-lama ini Fic penuh sama Lime =_=" author di asingkan ke mars*

Futaba yang sudah pasrah hanya diam membiarkan Kai menciumnnya sesekali berbedehem (?) tidak di sadari oleh Kai, Uruha yang masih menelponnya kaget dengan suara yang dia dengar di ponselnya, uruha mematung dengan ponsel yang dia tempelkan di telinga.

"astagaaa. . .ini kan masih pagi! Si kai lagi apa ya? Kok suaranya kayak yang. . ."

Pipi Uruha berubah mejadi merah pikirannya mulai berkelabat dengan suara yang dia dengar, dia berpikir hal yang aneh-aneh dan layak di sensor.

"hmmph. . haaaa"

Kai melepaskan ciuman selamat paginya untuk Futaba, Futaba yang diserang hanya merebahkan badannya dan mengatur nafasnya yang terengah-engah.

"ka~kaiii"

Kata Futaba dengan suara yang ngos-ngosan.

"iya?"

Jawab Kai dengan wajahnya yang manis.

"i~ituuh. .haaa. . ponsel mu!"

Futaba menunjuk-nunjuk ponsel yang Kai masih pegang.

"a~aaakhh URUHAAAA!"

Teriak Kai pada ponselnya

"aaaarggh. . . .Kai! eh eh lu nginep di tempat si Futaba? Hayooo kalian udah ngapain!"

Uruha mengintograsi Kai yang sedang berblushing ria karena perkataannya, Kai terdiam tidak menjawab sedangkan Futaba yang sudah menemukan nafasnya (?) duduk di sebelah Kai dengan wajah yang penasaran, sekejap Kai memandang Futaba dan terlintas di pikirannya biar Futaba yang berbicara dengan uruha.

"fu~futaba katanya uru mau ngomong sama Futaba a~aku mau mandi dulu ya. .ehehe"

Kai memberikan paksa ponselnya ke tangan Futaba, Futaba yang heran dengan tingkah laku si calon suami hanya berdiam seribu kata dan mulai pembicaraannya dengan Uruha.

"haloo! Uruha?"

Tanya futaba kepada ponsel milik Kai itu.

(ganti posisi pengetikan)

Uru : a`aah Futaba, eh Kai nginep di tempat mu?

Futa : iya, memang kenapa?

Uru : apa si Kai berbuat sesuatu

Futa : eh? Maksudnya?

Uru : yaa melakukan sesuatau yang. . . .hmm yang gitu. . .

Futa : yang Gitu? *berpikir* 'apaya? Aku ga tau, iya aja deh' Iya memang kenapa?

Uru : APA! *teriak*

Futa : *menjauhkan ponsel*

Uru : dia melakukan hal yang seharusnya pengantin baru lakukan?

Futa : *baru ngeh* e~eeeh? Bu~bukaan i~itu. . .hmm 'eh kemarin iya sih mau tapi ga jadi'

Uru : hayo mengaku! pasti kalian melakukannya kan? *ngotot

Futa : hmm kalau itu sih engga jadi~ *polos*

Uru : ga jadi? *melongo 0.0

Futa : i~iya ga jadi. . . .*blushing

Uru : K.. . . kaaaaiiii. . . .asstagaaaaa *terduduk lemas

Futa : eeeeh? Uruha! Kenapa?

Uru : engga, hmm. . . .kenapa kalian tidak melakukannya *kecewa

Futa : eh!itu kata Kai belum waktunya, biar nanti saja agar surprise! hahahaha *tertawa

Uru : belum waktunya 'itulah sahabatku yang gentle' *senyum ga jelas* oh iya Kai sudah melamar mu?

Futa : iya. . . .sudah waktu tadi malam *mandangin cincin

Uru : hmm *tersenyum* selamat ya

Futa :iya makasih *senyum

TAP TAP TAP

Kai yang telanjang dada *author mimisan* habis mandi menghampiri Futaba yang masih duduk sambil tertawa bersama ponselnya.

"e~eeh Kaai?"

Futaba kaget melihat dada Kai yang sispek, membuatnya membulatkan matanya besar-besar, membuat Kai ikut kaget.

"eeh? Kenapa?"

Tanya Kai sambil berhenti menggesekkan handuk ke rambutnya yang basah.

"kyaaaaaaaa~~"

Futaba menutup mukanya karena malu melihat Kai yang telanjang dada, Kai kaget lalu mendekat kepada Futaba yang masih terduduk lemas di kasurnya.

"hei hei! Kenapa?"

Tanya Kai yang duduk di samping Futaba.

"pakai bajumu!"

Perintah Futaba yang masih menutup mukanya karena malu, Kai memandang tubuhnya dan bergegas memakai bajunya, wajahnya pun terlihat merah karena ini pertama kalinya dia menampakkan dadanya di depan Futaba.

1 setengah jam berlalu Kai meminta ijin kepada Futaba untuk pergi dan dia bilang rahasia, Futaba membiarkannya dan mengantarkan sampai di tempat parkiran mobil.

"aku pergi dulu ya!"

Ucap Kai kepada Futaba yang berdiri di depannya.

"iya, hati-hati ya"

Jawab Futaba kepada Kai dengan senyumannya yang manis, Kai menjawab dengan tatapan ramah rasanya dia tidak ingin meninggalkan senyuman Futaba, ingin sekali dia menatap wajah tersenyumnya itu setiap saat, Kai menggenggam kedua tangan Futaba.

"aku berjanji, aku akan menikahi mu, hmmm kita menikah seminggu setelah konser kita di Osaka yu!"

Ajak Kai yang sontak membuat Futaba kaget.

"eeh? Secepat itu kah? Konserkan 2 minggu lagi!"

Ungkap Futaba dengan wajahnya yang polos.

"aaiiih semakin cepat semakin baik, benarkan! ahahaha!"

Kai tertawa lalu memeluk Futaba dengan erat.

"aku tidak mau kehilangan mu, aku ingin cepat-cepat mendapatkan mu seutuhnya!"

Dari suaranya Kai terdengar sangat serius, Futaba terharu dan memeluknya kembali.

"kau janji? Kau janji akan mendapatkan ku seutuhnya?"

Tanya Futaba kepada Kai tidak kalah serius.

"aku berjanji!"

Kai tersenyum kepada Futaba.

"baiklah kalau begitu aku akan menunggu mu"

Futaba menyodorkan kelingkingnya Kai yang melihat mengkailkan kelingkinnya dan mereka tertawa bahagia, adengan romantis mereka hari ini di akhiri dengn ciuman panas di depan mobil ferarri Kai yang berwarna biru tua itu.

"hmmm"

Terlihat gadis berambut coklat sebahu dan bermantel coklat muda berseringai sambil menggenggam tangannya keras.

5 menit berlalu Kai melepaskan ciuman panasnya dari Futaba lalu masuk kedalam mobilnya dan perlahan membawanya pergi meninggalkan Futaba, Futaba melambaikan tanggannya, Kai yang melihat membukakan kaca jendelannya dan mengeluarkan kepalanya (?)

"aku janji! Akau janji! Tunggulah aku Kurahasi Futaba"

Teriak Kai dan sekejap membaut Futaba tersenyum Haru, Lalu Kaipun meninggalakan Futaba yang sekarang sedang berjalan kearah apartementnya.

Pada saat Futaba berniat masuk kedalam Lift seseorang memasukkan tangannya di sela-sela leher Futaba yang jenjang

GREP

Futa yang kaget sontak akan teriak tetapi perkataan Orang itu membuatnya diam.

"jika kau ingin selamat diam dan jangan teriak!"

Terdengar suara cantik dari orang yang mengarahkan pisau lipat di lehernya itu, Futaba terdiam sambil sesekali menelan ludahnya.

"ka~kau siapa? Apa yangkau inginkan?"

Tanya Futaba hati-hati sambil melihat pisau lipat yang ada di lehernya itu.

"aku? Hmm aku yang selalu memberikan bingkisan manis untuk mu!"

Ucap sang penjahat dengan nadanya yang manis, Futaba kaget mendengar ucapan sang gadis itu lalu mengingat semua kiriman yang dia dapat.

"kau! Kau yang salalu menerorku!"

SRAAK GREEP Futaba yang sedikit bergerak membuat dirinya dalam masalah tenaganya tidak bisa keluar karena kuncian leher dari sang pejahat terlalu kuat.

"hei hei! Berhentilah! Aku tidak ingin membunuh mu sekarang!"

Sang penjahat memandang leher Futaba dan melihat kissmark yang di buat Kai semalam.

"ini! Apa Kai yang melakukannya?"

Kata sang penjahat dengan nada Kasar dan juga tinggi sepertinya dia marah melihat tanda itu, Futaba terdiam lalu menjawab dengan santai.

"iya, Kai yang melakukannya!"

"APA!"

Penjahat itu menggesekkan giginya karena kesal mendapat jawaban itu dari Futaba dengan cepat sang penjahat mengoreskan pisaunya keleher Futaba.

SREET

"aaakh!"

Futaba terjatuh dengan leher yang berdarah walaupun tebasannya tidak dalam tapi rasanya sangat perih sekali, Futaba melirik penjahat yang sudah membuatnya begini, dan terlihat wajah yang tidak asing baginya.

"u~utadaaa!"

Ucap Futaba yang kaget melihat Utada Hikaru mantan kekasih Kai yang cuman pacaran 7 hari itu.

"apa kabar Futaba-Chan. . .ahahahaha!"

Utada tertawa seperti orang gila *Author di tendang fans Utada

"ta~tapi. . kenapa kau lakukan ini kepadaku?"

Tanya Futaba yang heran karena selama ini dia tidak pernah berbuat salah kepada Utada.

"apa! Kau tidak menyadarinya! Kau telah membuat hati ku terluka kau tau!"

Bentak Utada kepada Futaba yang masih terduduk di lantai berkeramik kream itu.

"kau telah merebut Kai dari ku! Kau telah merebut semua milik Kai dari ku! Seharusnya aku yang dia lamar, dan seharusnya aku yang dia cium bukan KAU!"

Utada menangis sambil marah-marah tidak karuan, karena tempat Parkiran kosong jadi tidak ada satu orang pun yang melihat mereka.

"KAU SUDAH MEREBUT KAI DARI KU!"

Teriak Utada membuat Futaba memandang khawatir.

"ahahaha, aku akan merusak hati mu Futaba, aku akan membunuh Kai! ahahaha"

Utada berbicara seperti orang mabuk dan mengangkat Tasnya besar dan penuh dengan barang-barang lalu BRUAK BRUAK BRUAK 3 kali dia pukulkan ke kepala Futaba yang masih terduduk lemas itu Futaba hanya menahan dengan tangannya, karena semakin kesal Utada menarik kerah baju Futaba dan mengangkatnya.

"kau dulu yang harus matii!"

Ucap Utada lalu dia meninju muka Futaba sampai dia menabrak tembok dengan kasar Futaba hanya menahan sakit tidak bisa melawan Karena rasa sakitnya tidak tertahankan, Utada yang masih melihat Futaba membukakan matanya bertambah kesal semakin lama dia memukuli wajah Futaba lalu dia mencari barang keras dan menemukan sebongkah Kayu besar dan segera mengambilnya.

"Kau akan mati Futaba"

Ucap Utada sambil memukuli Futaba dengan balok Kayu yang dia dapat, BRUAK satu pukulan mengenai bahu Futaba BRUAK dua pukulan mengenai kepala Futaba

"ARGH!"

Teriak Futaba kesakitan dia tersungkur di tembok lift lalu dia terduduk lemas, sambil mengatur nafasnya yang menahan sakit, Utada berjongkok di depannya lalu menarik wajah Futaba sambil menunjukkan pisau lipatnya Futaba membukakan matanaya besar-besar melihat pisau yang mengkilat itu..

"sayang sekali wajah secantik ini aku lukai"

SREET SREET Utada menciumkan ujung pisaunya ke pipi mulus Futaba dengan perlahan.

"bagaimana? Apa sakit?"

Tanya Utada kepada Futaba yang menggigit bibir bawahnya menahan sakit di pipinya, dengan perlahan Utada mengoreskan pisau itu lurus dari kening melewati pelipis mata lalu pipinya dan berakhir di dagu Futaba yang sembab karena pukulan Utada sekarang bertambah dengan darah yang keluar dari luka sayatan yang di berikan Utada kepada wajah Futaba.

"haaa. . . .sebentar lagi aku yakin kau akan mati. . ahahahaha"

"kalau kematian ku agar Kai tidak di bunuh oleh mu aku rela"

ucap Futaba menatap kasihan Utada lalu menendang Utada sampai terjatuh.

"dasar KAAAUUU!"

Utada menarik kepala Futaba dan DUAGH dia mendorongnya sampai berbenturan keras dengan tembok beton yang ada di belakang Futaba, Futabapun pingsan dan tidak sadarkan diri.

"hahahahaha dasar Berengsek!"

Ucap Utaba lalu menendang Futaba dengan keras sampai akhirnya seketika Futaba bersender di tembok sebelah lift.

"ahahahaha Kai tunggu lah aku!"

Ucap Utada sambil menjauh dari Futaba yang terlihat menurutnya sudah mati, Utada masuk kedalam mobil Vanquish putihnya sambil membawa balok yang penuh dengan darah agar tidak ada bukti dan meninggalkan Apartement itu menyusul Kai.

"ka~kaaaaiiii!"

Ucap Futaba sambil merogoh sakunya dengan tangan yang bergemetar, leher dan kapalanya terlihat penuh dengan darah, dengan perlahan dan sedikit penglihatan dia menelepon seseorang dan itu adalah Reita.

"hallo? Futaba Chan? Ini aku Ruki maaf Reitanya sedang di kamar mandi ada yang bisa aku bantu?"

Terdengar suara manis dari Ruki yang menjawab panggilannya, perlaharn Futaba menarik Ponselnnya menuju ketelinganya yang sudah bersimbah darah.

"ru~rukiiiii!"

Ucap Futaba perlahan menahan sakit, Ruki yang mendengar sura Futaba yang seperti sedang sekarat kaget lalu dia beranjak dari duduknya dan bertanya kepada Futaba

"futaba-Chan ada apa dengan mu? Apa kau baik-baik saja?"

Tanya Ruki cemas dan terdiam menunggu jawaban dari futaba.

"te~tempat Par~kirr! A~akkuuu! A~apar~tement. . .ka~kaaaiii. . . ."

PRAK tangan Futaba sudah tidak kuat lagi memegang ponsel tersebut lalu dia menjatuhkannya dengan keras membuat Ruki semakin khawatir.

"futaba? FUTABAAA? KAU BAIK-BAIK SAJA? HALLO? FUTABA? AYO JAWAAB!"

Ruki berteriak Histeris kepada ponsel Reita.

"astaga apa yang terjadi! Aku harus bergegas tapi kemana? Tunggu, dia bilang apartement, parkiran aparterment, ah aku harus kesana"

Ruki bergegas memakai Mantelnya dan mengambil kunci mobil.

"hei hei kau mau kemana?"

Tanya Reita yang sudah rapih mendekat kearahnya

"Rei! Aduh cepat pakai mantelmu! Ayo kita ke apartement Futaba"

Jawab Ruki dengan wajah gelisah.

"eh? Maksudmu?"

Reita kebingungan dengan perkataan Ruki itu.

"sudah cepat-cepat, di mobil nanti aku jelaskan"

Ruki menarik REita yang mengambil mantel hitamnya.


CKIIITTT

Suara mobil berhenti di Beast Agency Kai berjalan dengan wajahnya yang bahagia sambil sesekali memainkan kunci mobilnya.

"ZEROOO!"

Kai memanggil Zero sang fotografer yang sedang berjalan entah mau kemana.

"eh? KAI ! wahahaha sedang apa kau disini?"

Tanya Zero sambil berjalan mendekati Kai yang terlihat senang itu.

"hmm aku cuman mau meminta sesuatu saja"

Ucap Kai dengan wajah sedikit malu

"sesuatu? Apa itu? Dengan senang hati Zero sang fotografer akan memberikannya"

Ucapnya bangga, Kai hanya tertawa melihat tingkahnya.

"ahahaha begini sebenarnya aku dan Futaba-Chan a~akan. . hmmm. Akan menikah!"

Ujar Kai malu-malu sambil menundukkan kepalanya, Zero yang mendengar pernyataan Kai membukakan mata dan mulutnya lebar-lebar sedikit terkejut dengan pernyataan Kai.

"astagaaa! Aku tidak percaya. . ternyata pasangan yang aku idam-idamkan akan menikah juga!"

Jawab Zero sambil menggelengkan kepalanya pelan tidak percaya, Kai hanya tersenyum.

"hmm, bagus itu aku akan merestui kalian, oh iya apa yang mau pinta dariku ini?"

Tanya sang fotografer lagi dengan wajah normalnya.

"hmm. . .aku minta foto-foto kemarin kau jadikan foto pra wedding kami, bisakan?"

Tanya Kai dengan wajah kucingnya.

"apa? Cuman itu saja? Aaah hal kecil seperti itu bisa aku atasi dengan cepat"

Jawabnya sambil menepuk dadanya.

"ahahaha dan juga menjadi fotografer di pesta pernikahan ku nanti! Jadi mohon bantuannya ya!"

Zero terkejut tidak percaya, hal yang dia inginkan terwujud juga.

"tentu Kai tentu aku dengan senang hati. . . .a~aku. . aku akan menjadi fotografer kalian a~aku tidak akan mengecewakan kalian"

Zero sedikit menangis Kai yang melihatnya dengan senyuman bahagia.

"baguslah ahahaha"


"Rei, di sebelah mana liftnya?"

Tanya Ruki yang sudah sampai di parkiran apartement Futaba, dan mencari-cari Futaba yang tidak ada lalu mereka memutuskan pergi ke apartemannya sebelum itu mereka harus menaiki lift agar bisa menuju tempat Futaba.

"itu di sebelah sana"

Kata Reita menunjuk petunjuk arah yang ada di depannya, lalu mereka berdua mengalihkan pandangannya kearah lift yang mereka maksud dan melihat Futaba yang duduk menyender dengan darah dimana-mana.

"ru~ruki i~itu"

Reita terbata-bata melihat Futaba yang terlihat sangat mengenaskan

"FUTAABAAAAAAAA!"

Teriak Ruki lalu dia berlari dan Reita mengikutinya dari belakang.

DRAP DRAP DRAP DRAP

Suara langkah kaki mereka memecahkan keheningan tempat tersebut, Ruki yang sudah sampai duluan memeluk Futaba dam melihat kepala yang berdarah juga leher tidak lupa wajahnya yang rusak seketika Ruki menganggap Futaba sudah meninggal.

"re~reitaa. . a~apa dia masih hidup?"

Tanya Ruki dengan wajah yang memerah dan tangan yang gemetaran dia duduk memeluk Futaba dari belakang menyenderkan tubuh Futaba di tubuhnya yang kecil, Reita yang kaget mendengar perkataan Ruki langsung mengecek detak jantung Futaba.

"dia masih hidup! Sebaiknya kita bawa kerumah sakit!"

Reita langsung mengangkat tubuh Futaba dan lalu berlari kearah mobil mereka, Ruki memunguti ponsel Futaba dan tidak sengaja menemukan gantungan besi berbentuk kucing yang sepertinya dia kenal, dia mencoba mengingat milik siapa tapi karena keadaan yang tidak memungkinkan dia berlari menuju mobil Reita dan duduk di kursi penumpang sambil menidurkan Futaba di pangkuannya.

"REITA! CEPAAT AKU TAKUT DIA MATII!"

Ruki tidak bisa memendung ke khawatirannya melihat Futaba yang penuh dengan darah itu, Reita yang sedikit panik juga hanya menganggukkan kepalanya dan menancap Gas secepat mungkin.

"futabaaa bertahanlaah!"

Ucap Ruki sambil membersihkan darah yang hampir mengering di wajahnya Futaba.

"ka~kaaaaiiii!"

Terdengar Suara kelauar dari bibir Futaba, Ruki langsung menagkap suara itu.

"REI FUTABA BICARAA!"

Ruki berteriak kepada Reita yang berada di depannya, Reita bertanya kepada Futaba secara langsung tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

"futaba!Siapa yang malakukan ini? siapa?"

Tanya Reita Ruki terdiam dan melihat gerak gerik mulut Futaba yang berbicara.

"re~reiii!u~uta. . utaaadaaaa!"

Ruki dan Reita kaget mendengar jawaban dari Futaba, mereka mencoba menyangkal karena mana mungkin Utada yang teman mereka juga melakukan hal seperti itu, dari sejak itu Ruki mengingat gantungan besi yang berbentuk kucing itu dan dia ingat kalau itu percis dengan milik Utada yang selalu memakai gantungan itu.

"Reita, Futaba sepertinya benar, aku menemukan gantungan milik Utada di tempat tadi"

Ruki menyerahkan gantungan itu kepada Reita.

"tidak salah lagi!"

Ucap Reita sambil melihat gantungan itu.

"ruki!"

Terdengar suara lemas dari Futaba, Ruki langsung menggenggam tangan Futaba erta.

"iya apa?"

Jawab Ruki lembut.

"kai~kaai da~dalam ba~hayaaa, U~utadaaa, me~membuunuhhh! Ka~ka~kaaaiiii. ."

Futaba kembali pingsan, Ruki dan Reita membukakan matanya lebar-lebar.

"RUKI CEPAT HUBUNGI SI KAI!"

Perintah Reita cepat Rukipun bergegas menelepon Kai, tapi alhasil nihil, ponsel Kai sedang sibuk sepertinya dia sedang menghubungi seseorang.

"rei dia sepertinya lagi menelepon seseorang"

Ucap Ruki lemas meminta jawaban dari Reita.

"aaah sial! Ya sudah nanti saja sebaiknya kita kerumah sakit dulu!"

Lalu merekapun sampai di rumah sakit dengan selamat, Futaba langsung dibawa reita kedalam Ruang UGD lalu merekapun menunggu di luar dengan wajah khawatir apalagi Ruki yang sudah tidak bisa memendung air matanya.

Sedangkan Kai sekarang dia sedang berada di sebuah butik, dengan seperti biasa wajahnya sangat bahagia entah mengapa, TAK seseorang menepuk pundaknya lalu diapun berbalik.

"eh? Aaaahhh! Utadaaa!"

Teriak Kai kepada utada yang berada di hadapannya sekarang.

"hai Kai! Sudah lama tidak bertemu"


OMG! ini Fic. . . . .ckckck tidak bisa berkata apapun saking abalnya, yaaaah apa boleh buat ini yang ada di pikiran saya =_=

oh iya saya terima saran sama kritiknya *kayak apa aja* silahkan di REVIEW *di geplak panci

Jaaa~

salam hangat Ojou Yankumi ^^