REQUEST FROM:

Qieya Fujoshi Sejati (FB)

HERE WE ARE

Mau dikatain sampai jungkir-balik pun, Naruto hanya milik Masashi Kishimoto!

Kalau alurnya, baru punya saya!

Yaoi - Incest fic, don't like don't read!

Sasuke melihat sosok di depan pintu itu baik-baik. Tak lama kemudian, dia bahagia begitu mengetahui bahwa ini bukanlah mimpi.

"Oniisan…" kata Sasuke pelan.

Hinata menoleh kearah Sasuke.

"Eh? Jadi…dia…" Hinata agak terbata-bata.

"Iya! Tak salah lagi! Mata birunya, rambut kuning jabriknya…tak salah lagi! Dia oniisan!" kata Sasuke girang. Dia pun bergegas menuju ke depan pintu, dan menghampiri sosok yang dianggap 'oniisan'nya.

"Sasuke-kun! Tunggu!" kata Hinata.

"Anoo…" kata Sasuke.

Lelaki berambut kuning itu menoleh. Lalu tersenyum ramah kearah Sasuke.

"Ya? Ada apa?" tanyanya.

Kedua mata onyx Sasuke berbinar. 'Dia…benar-benar oniisan!' batinnya.

"Kau…Namikaze Naruto kan?" tanya Sasuke.

Kedua mata biru itu terbelalak lebar, "Bagaimana kau tahu namaku?" tanyanya.

Sasuke semakin girang mendengarnya, "Naruto-Nii! Aku Uchiha Sasuke! Otoutomu!" kata Sasuke.

Naruto menggaruk kepalanya, "Uchiha…Sasuke…? Otouto?"

Sasuke menganggukkan kepalanya. Dia menunggu jawaban dari Naruto.

Tapi, jawaban Naruto adalah…

.

.

.

.

.

"Kamu siapa?" tanya Naruto

.

.

.

.

.

DEG!

Jantung Sasuke berdetak kencang begitu mendengar jawaban dari Naruto. Bertepatan dengan hal itu, Hinata akhirnya berhasil menyusul Sasuke.

"Hh…hh…Sasuke-kun…" Hinata terengah-engah.

Sasuke tidak mengalihkan pandangannya dari Naruto. Dia masih tidak percaya pada jawaban Naruto.

"Sasuke-kun? Hallooo?" Hinata mengibas-ngibaskan tangannya tepat didepan muka Sasuke. Tapi Sasuke tetap tidak meresponnya.

Naruto melihat kearah Hinata. Mereka saling bertatapan. Membuat Hinata blushing.

"Hey, siapa namamu?" tanya Naruto.

"Sa…saya?" Hinata menunjuk dirinya sendiri.

"Iya, kamu." Kata Naruto.

"Hyuuga…Hinata Hyuuga." Balas Hinata. "Senpai ini oniisannya Sasuke-kun ya?" tanya Hinata.

"Huh? Sasuke? Bukan kok, temanmu salah orang tuh kayaknya." Kata Naruto.

"Eh? Bukan? Tapi…" Hinata terbata-bata.

"Tapi, namamu Namikaze Naruto kan?" tanya Sasuke.

"Iya…" balas Naruto.

"Kau juga anak dari Mikoto Uchiha dan Minato Namikaze kan?" tanya Sasuke lagi.

Kali ini, Naruto terdiam.

"…Gomen na…aku lupa…" jawab Naruto.

Kedua mata onyx Sasuke terbelalak. Ternyata, tidak hanya dia yang dilupakan, bahkan, orang tuanya pun dia lupakan.

"Kau…kau serius, oniisan?" tanya Sasuke. "Kau serius melupakan orang tuamu?" lanjutnya.

"Euh…maaf…aku melupakan segalanya sejak 6 tahun yang lalu…" kata Naruto.

"6 tahun yang lalu…?" tanya Sasuke.

Tak lama kemudian, seseorang memanggil Naruto.

"Hoy! Naruto! Ayo kita keliling sekolah lagi!" panggil temannya.

"Eh…hai…" Naruto pergi tanpa mengucapkan apapun pada Sasuke. Sasuke menarik baju Naruto.

"Oniisan mau kemana? Aku belum selesai bicara." Kata Sasuke.

Naruto membuka tangannya.

"Kemarikan ponselmu." Kata Naruto.

"Untuk apa?" tanya Sasuke bingung.

"Sudahlah, kemarikan saja." Kata Naruto.

Sasuke merogoh saku belakangnya, dan memberikan ponselnya kepada Naruto. Naruto mengetikkan sebuah nomor. Setelah itu, dia mengembalikannya kepada Sasuke.

"Kita lanjutkan kapan-kapan. Kau juga boleh menelponku." Kata Naruto sambil nyengir khas. Membuat Sasuke semakin yakin, bahwa orang itu adalah oniisannya.

'Oniisan…' gumamnya sambil menggenggam erat ponselnya.

Bel pulang berbunyi, seluruh siswa dan siswi Konoha 'Junior High School' pulang ke rumah mereka masing-masing. Termasuk si jenius kita, Uchiha Sasuke.

.

.

.

.

.

Sesampainya di rumah, Sasuke langsung mencari ibunya, Mikoto Uchiha.

"Okaasan! Okaasan dimana?" panggil Sasuke.

"Di dapur, Sasuke! Ada apa?" balas ibunya.

Sasuke segera pergi ke dapur rumahnya.

"Okaasan, Sasuke mau tanya." Kata Sasuke.

"Apa? Tanyakan saja." Balas ibunya.

"Anoo…Sasuke punya seorang oniisan kan? Siapa namanya?" tanya Sasuke.

Ibunya kaget mendengar pertanyaan putranya.

"Sasuke, kau tidak punya oniisan." Kata ibunya.

"Bohong! Tadi, oniisan ke sekolahku kok!" kata Sasuke.

Ibunya mendelik marah kearah Sasuke.

"Sudah kubilang, kau tidak punya oniisan!" bentaknya.

Tentu saja Sasuke kaget dengan bentakan okaasannya. Dia pun berlari ke kamarnya sambil menangis.

.

.

.

'Maafkan ibu, Sasuke…' kata Mikoto dalam hati.

.

.

.

BRAK!

Sasuke membanting pintu kamarnya. Lalu duduk bersandar di pintu itu sambil menangis terisak.

"Jangan menangis, Sasuke. Kau sama sekali tidak cocok dengan ekspresi itu…"

Tiba- tiba, Sasuke teringat akan kata-kata oniisannya. Oniisan berambut kuning yang sepertinya baru saja dia temui tadi. Dan juga, oniisan berambut kuning yang baru saja membuatnya kecewa.

Disambarnya ponsel miliknya yang berada di saku belakang celananya. Dia mencari sebuah nama, dan menekan tombol hijau di ponselnya.

"Nomor yang ada tuju sedang tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi."

"Tidak diangkat…" Gumam Sasuke.

Sasuke beranjak dari tempat dia duduk. Lalu pergi mandi untuk membersihkan dirinya.

Naruto berjalan-jalan di sekitar taman kota. Hanya sekedar refreshing saja.

"Hm…kalau sedang jalan-jalan begini…enaknya sambil dengar lagu kali ya?" gumam Naruto. Dirogohnya saku celananya. Lalu mengambil ponsel berwarna birunya.

'Eh? 1 panggilan tidak terjawab? Nomor siapa ini ya?' gumam Naruto.

Naruto mengabaikan nomor itu. Tak lama kemudian, ada sebuah pesan yang masuk ke ponselnya.

Oniisan

Ini aku, Sasuke

Kamu dimana?

Aku ingin bicara

.

Uchiha Sasuke

'Oh…Ini dari anak itu ternyata.' Gumam Naruto.

Aku Naruto

Saat ini ada di taman kota

.

Uzumaki Naruto

"Ah! Pesan masuk!" kata Sasuke. Dia pun segera membuka pesannya dan membacanya. Tak lama kemudian, sebuah senyuman polos terukir di bibirnya. Dia mengambil baju kaos dan celana jeansnya. Lalu bersiap menuju ke taman.

Naruto duduk-duduk santai di bangku taman sambil memakan es krim coklatnya. Tiba-tiba, sebuah tangan kecil menepuk pundaknya.

"Namikaze-senpai?" sapa orang itu.

Naruto menoleh.

"Eh? Kalau tidak salah, kau Hinata ya?" kata Naruto.

"Iya, senpai! Senpai sedang apa disini?" tanya Hinata.

"Yah…nungguin seseorang. Ee…siapa ya?" Naruto memegang belakang kepalanya. "Sa…U…ng…?" Naruto mengacak-acak rambutnya.

"Sasuke-kun?" kata Hinata.

"Ah! Yah! Sasuke!" Kata Naruto. "Makasih sudah diingatkan!" Lanjutnya sambil mengacak rambut Hinata.

"Huuh…senpai! Masa' baru ketemu aja langsung lupa?" keluh Hinata.

Naruto tersenyum paksa, "Oh ya, mau es krim? Aku yang traktir deh!" kata Naruto.

"Eh…ng…nggak usah. Makasih." Kata Hinata.

"Sudahlah, nggak apa-apa kok!" Naruto berjalan ke tempat penjual es krim. Dan memesan sebuah es krim stroberi untuk Hinata.

"Nih." Naruto menyerahkan es krim itu.

"Ah…arigatou! Senpai!" Kata Hinata sambil tersenyum.

"Eh, kita jalan-jalan yuk!" ajak Naruto.

"Hm? Bo…boleh saja…" balas Hinata.

Sasuke berlari kearah taman. Dia sudah tak sabar menemui oniisan-nya.

'Huuh…oniisan dimana ya?' tanyanya dalam hati.

Sasuke melihat-lihat ke semua arah. Pandangan matanya tertuju pada sesosok pria berambut kuning, yang berjalan dengan seorang gadis berponi. Sasuke terkejut ketika melihat mereka. Ternyata, mereka berdua adalah Naruto dan Hinata. Mereka tertawa. Sepertinya, mereka sedang bersenang-senang berdua. Ya, hanya berdua.

Sasuke bersembunyi di balik pohon besar. Entah mengapa, melihat pemandangan itu membuat hati Sasuke sangat sakit. Perasaan apa ini? Mengapa dia harus cemburu pada Hinata, sahabatnya sendiri?

Hati Sasuke semakin sakit ketika dia mendapati Naruto mengecup dahi Hinata. Dia semakin bingung pada perasaannya. Perasaan apa ini?

Tanpa sadar, ia berkata…

.

.

.

"Seharusnya, aku yang berada disana…"

.

.

.

Sasuke berlari menuju keluar taman. Air matanya sudah tak terbendung lagi. Dia berlari sambil menangis. Tak peduli, meskipun dia dibicarakan oleh orang-orang sekalipun. Ini pertama kalinya Sasuke merasakan perasaan yang begitu menyakitkan hati.

.

.

.

DEG!

Tiba-tiba saja, Naruto merasa jantungnya berdegup sangat kencang. Dia tidak mengerti kenapa jantungnya berdegup kencang. Wajah Naruto yang semula terlihat senang, berubah drastis menjadi wajah yang penuh ketakutan. Melihat hal itu, Hinata pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Naruto.

"Namikaze senpai, senpai kenapa? Kok kelihatan takut begitu?" tanya Hinata.

Naruto menoleh kearah gadis berponi disampingnya. Kemudian, dia tersenyum paksa.

"Ah…tidak kok…" balas Naruto.

"Hm…senpai yakin?" tanya Hinata.

Naruto menganggukkan kepalanya. Dia berusaha untuk tetap ceria didepan Hinata.

"Sudah hampir sore, aku pulang dulu ya senpai." Kata Hinata.

"Oh…ah…yah…kau pulang sendiri?" tanya Naruto.

"Iya. Lagipula, rumahku dekat kok!" balas Hinata.

"Hati-hati ya?" kata Naruto.

"Ya, senpai. Daah!" Hinata melambai-lambaikan tangannya kearah Naruto. Setelah dirasa Hinata sudah pergi cukup jauh, Naruto memasang wajah muramnya dan memegang kepalanya dengan tangan kanannya.

'Apa yang sebenarnya terjadi padaku?' batinnya

.

.

.

*tu bi kontinyu*

Sky: "As usual, review ye? Jangan lupe loh! Kalau lupa, gw jitak kepala kalian satu per satu!" *dibantai. "Beritempe - *tabok – maksudnya – beritahu saya kalau ada yang masi kurang ye? Kalau yang mau nge-flame, silakan. Itu tak berpengaruh pada saya. Hanya saja, usahakan pakai bahasa yang sopan – santun ye?"