Terima kasih banyak buat yang udah review di chapter sebelumnya, typo sudah saya perbaiki.

Dan buat yang bilang kalau ini kayak Naruto Road to Ninja, maaf aja tapi fanfic ini tidak berdasarkan film itu, nonton aja belum sempat XD
Jadi kalau misalnya ada kesamaan alur cerita dan sebagainya, berarti itu kebetulan semata. Soalnya saya sendiri bikin fanfic ini buat coba-coba main di genre Adventure sama Sci-Fi karena fanfic saya yang lain kebanyakan bergenre Romance. Jadi maafin kalau kesannya saya kayak asal main serobot bikin ff tentang dunia paralel, ide saya emang mainstream -_-


Upside Downside

Boboiboy (c) Animonsta Studios
Story (c) Me

Genre : Adventure, Sci-Fi


Chapter 2 : Revert


Sebuah roda pada hakikatnya akan terus berputar, sama seperti takdir seseorang.

Adu Du, alien hijau dengan kepala berbentuk kubus yang biasanya selalu mengalami kegagalan, pada hari ini akhirnya berhasil memutar roda takdirnya yang selalu berada di bawah.

Dengan menggunakan senjata yang telah ia rangkai selama berbulan-bulan, akhirnya ia berhasil melayangkan tembakan pada musuh bebuyutannya, Boboiboy.

Senjata Teleport Dimensi X, nama senjata yang telah membuat Boboiboy, Fang dan Ochobot lenyap dari hadapannya dalam hitungan detik ternyata bisa membuatnya merasakan apa itu kemenangan. Sementara Probe, robot tempur miliknya yang berwarna ungu, tak henti-hentinya menyelamati bosnya itu. Namun sepertinya Adu Du tidak sepenuhnya senang akan kemenangannya itu.

"Selamat Incik Bos! Akhirnya setelah sekian lama, Incik Bos berhasil melenyapkan Boboiboy! Horee!"

"Heh! Berisik sekali kau Probe! Aku tahu aku sudah berhasil, tapi masalahnya bola kuasa itu juga ikut lenyap bersama mereka!" Bentak Adu Du dengan wajah yang geram. Ia tidak menyangka bahwa Ochobot si bola kuasa yang seharusnya ia miliki saat melenyapkan Boboiboy dan Fang justru malah ikut terbawa bersama mereka.

"Kalau begitu… tinggal Incik Bos teleport kembali Ochobot lah!" Seru Probe dengan nada riang, namun berhasil mendapat balasan lemparan cangkir besi.

"Ish, kau kira semudah itu menteleport sesuatu?! Aku bahkan tidak tau kemana mereka dikirimkan!"

Adu Du pun berpikir keras bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan Ochobot. Walau Boboiboy dan Fang tidak ada saat ini, tapi kalau Ochobot tidak ada sama saja ia mengalami kegagalan.

Karena mau bagaimanapun Ochobot merupakan kunci emasnya untuk mendapatkan kekuatan super.

"Bos, sepertinya kita harus menganalisa senjata baru ini lagi untuk mendapatkan data transfernya." Ucap sebuah layar komputer pada Adu Du.

"Hm, sepertinya kau benar Komputer. Kuserahkan bagian analisa ini padamu, begitu mendapatkan informasi segera laporkan padaku."

"Baik, Bos!"


Sementara itu, di dunia yang lain…

"Hm, sudah di teleport ke dunia paralel oleh Adu Du mungkin?"

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

"APAAAAAAAA?!"

Boboiboy dan Fang, korban dari senjata teleport milik Adu Du pun hanya bisa berteriak histeris. Kaget akan pernyataan Ochobot bahwa mereka sudah dikirimkan ke dunia paralel oleh senjata jahanam milik Adu Du.

"Tidak mungkin! Apa maksudmu dengan dunia paralel Ochobot?! Cepat jelaskan!" Boboiboy pun mengguncang-guncang tubuh Ochobot yang hanya sebesar bola sepak tersebut.

"Hadeuh… Kalian tidak lihat apa, Ying dan Yaya yang ada di hadapan kalian itu sifatnya bertolak belakang dengan yang kalian kenal kan? Itu saja bisa menjadi bukti kalau kita sedang berada di dunia paralel!"

"Hmmm… memang benar kalau sifat Ying dan Yaya ini tampak aneh… Mengenai sifat Ying mungkin aku bisa mengerti, dia yang tomboi, ramah dan ceria tiba-tiba berpenampilan feminim dan angkuh…" Tanya Fang sambil membenarkan letak kacamata miliknya.

"Tapi bagaimana dengan Yaya? Aku kira Yaya akan memiliki sifat galak seperti saat disekolah! Tapi kenapa dia jadi sangat pemalu? Bahkan dia masih pingsan sekarang… Eh, kita harus menolong Yaya dulu!"

Boboiboy dan Fang tampaknya baru menyadari bahwa Yaya masih terbaring di tanah. Mereka pun membopong Yaya menuju kedai Tok Aba. Sementara Ying mengikuti mereka dari belakang sambil masih mengipaskan kipas miliknya dengan gaya bak seorang tuan putri.

"Yaya itu memang baik dan ramah pada siapa saja, tapi pada kenyataannya sifat galak dan tegas saat dia berada di sekolah itu juga masuk kedalam sifat aslinya walau cuman muncul saat di sekolah." Jelas Ochobot.

"Lalu kenapa di dunia ini dia jadi pemalu?" Boboiboy mengulang pertanyaannya.

"Sifat ramah dan galak itu ada kesamaan, sifat berani menghadapi orang-orang. Jadi karena itu lah sifatnya disini pemalu, begitu saja kau tidak mengerti," jawab Fang sambil memutar bola matanya. Boboiboy pun tertawa garing sambil mengacungkan ibu jarinya. "Hehehe, terbaik lah Fang."


"Assalamu'alaikum Tok Aba." Salam Boboiboy pada kakeknya setelah menidurkan Yaya di tempat peristirahatan terdekat. Namun yang Boboiboy dapatkan dari kakeknya justru tatapan murka dari kakeknya.

"Wa'alaikumsalam. Kau ini kemana saja Boboiboy? Jam segini baru kau pulang!" Sembur Tok Aba. Boboiboy pun kaget, tidak biasanya Tok Aba memarahinya seperti ini.

Dua detik kemudian dia baru ingat kalau dia sedang berada di dunia paralel.

'Tok Aba yang biasanya perhatian dan baik hati, di dunia ini jadi galak begini…'

Boboiboy pun hanya bisa menunduk, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf Tok," jawabnya sambil tersenyum tipis.

"Kau kerasukan apa Boboiboy? Biasanya kau mengamuk kalau sudah dimarahi Tok Aba ma!" Cerocos Ying yang sedari memperhatikan. Tok Aba pun nampaknya juga bingung dengan sikap 'cucunya' itu. "Ah, Yaya sepertinya sudah siuman, aku akan kesana untuk menemaninya," Ying pun berlalu menuju ketempat Yaya yang sedari tadi dijaga oleh Fang.

"Eh? Mengamuk?"

'Tunggu dulu… Apa artinya di dunia ini pun ada aku yang satunya lagi? Kalau begitu Fang juga…'

"Hoi Boboiboy!"

Sebuah suara khas yang dikenalnya pun tiba-tiba terdengar dan membuyarkan lamunannya. Boboiboy pun menoleh, mendapati seseorang yang perlahan berlari mendekatinya, Boboiboy sepertinya mengenali orang itu.

"Err… Gopal?"

"Ck, aku memang Gopal,kau kira siapa lagi?!" Balas orang yang mengklaim dirinya sebagai Gopal. Oke, ini benar-benar membuat Boboiboy bingung sekaligus tidak percaya.

"Ada apa ini Boboiboy? Orang ini siapa?" Ah syukurlah Fang akhirnya datang.

"Ini… Gopal," jawab Boboiboy singkat, sambil menunjuk ke arah Gopal yang memiliki tubuh yang tidak gemuk lagi. Tubuh Gopal yang ada di depan matanya itu ramping! Walau kulitnya masih berwarna gelap dan wajah Indianya masih ada, tetap saja melihat Gopal yang ramping itu membuatnya tampak agak lain.

"Hah?" Fang pun mengamati bocah yang dilansir sebagai Gopal. Tak lama Fang pun terkekeh. "Aku tidak menyangka Gopal ternyata bisa kurus."

"Apa maksudmu hah?! Aku ini memang sudah kurus dari dulu tau! Justru kau yang aneh Fang! Biasanya kau selalu lengket sama Boboiboy seperti perangko, udah kayak kacung!" Komentar Gopal tidak terima.

Spontan, baik Boboiboy dan Fang pun saling pandang, lalu menjauh. "Hii! Tidak sudi aku dekat-dekat dengan bocah dinosaurus ini!" Seru Fang sambil memeluk dirinya sendiri.

"Ih, siapa juga yang mau dekat-dekat cowo cantik kayak kamu!" Balas Boboiboy dengan wajah jijik.

"Apa kau bilang?! Aku ini ganteng lah!" Fang pun murka, tak sudi wajahnya yang tampan dikatai cantik oleh bocah yang sebulan lebih tua daripadanya.

PRAK!

Sebuah kayu rotan pun di pukulkan tepat dibelakang Boboiboy dan Fang. Tampak Tok Aba yang tampaknya sudah terganggu dengan pertengkaran antara murid SD tersebut.

"Kalau kalian ribut lagi, akan Atok pukul kalian satu-satu dengan kayu rotan ini!" Ancamnya. Kedua tersangka pun diam meneguk ludah, tidak mau cari mati.

Oke, kelihatannya mereka lebih baik pindah ketempat yang agak jauh dari kedai Tok Aba.


Ada yang bilang kalau sifat manusia itu seperti sebuah koin. Kedua sisinya memiliki ukuran dan ketebalan yang sama, namun kalau diperhatikan, simbol yang terukir pada kedua sisi koin tidaklah sama.

Sama halnya dengan anak kembar, walau dari luar terlihat sama bahkan identik. Namun sesungguhnya sifat mereka tidak akan sama, bahkan ada yang sifatnya bertolak belakang satu sama lain. Tampak sama namun berbeda.

Begitulah yang sedang dipikirkan oleh Boboiboy. Otaknya dipenuhi pikiran yang tidak menentu mengenai dirinya yang satu lagi di dunia ini.

Apakah dia seorang super hero juga seperti dirinya?

Apakah dia juga harus melawan Adu Du demi menjaga ketentraman dunia?

Dan berbagai pertanyaan lainnya. Namun yang paling mengganggu Boboiboy adalah pernyataan Ying bahwa biasanya ia akan mengamuk kalau dimarahi Tok Aba.

'Apa sifatku segitu buruknya di dunia ini?'

Ia pun hanya memegangi kepalanya yang pusing, menutup wajahnya lalu menghela napas panjang.

Fang, yang sedari memperhatikan Boboiboy pun mulai kesal dengan tingkahnya.

"Mau sampai kapan kau mau mengulang-ulang gerakanmu itu hah? Ini sudah yang kesepuluh kalinya dan aku sudah bosan dengan tingkahmu," komentarnya dengan wajah kesal.

Ia pun menyilangkan kedua tangannya didepan dada, memejamkan kedua mata lalu menunjukkan ekspresi seolah sedang berfikir seperti seorang detektif. Sebenarnya ia pun memikirkan hal yang hampir serupa dengan Boboiboy.

Dan yang paling mengganggunya juga tentang mengenai dirinya yang seorang lagi yang berada di dunia serba bertolak belakang ini.

Bagaimana tidak terganggu? Ia, yang notabennya adalah seorang laki-laki populer disekolah, memiliki wajah tampan dan otak yang cemerlang, dikatai orang yang suka mengikuti kemana saja Boboiboy pergi layaknya seorang kacung oleh 'Gopal'. Mau ditaruh dimana wajahnya?

"Hn, kau pun sama saja…" balas Boboiboy. Fang pun menatapnya sesaat lalu mengalihkan pandangannya ke arah langit sedetik kemudian.

Ya, intinya mereka berdua sama-sama bingung harus berbuat apa. Punya tujuan saja tidak. Walau sebenarnya mereka ingin segera keluar dari dunia aneh ini, namun karena mereka sama sekali tidak tau harus memulai dari mana dan minimnya informasi yang ada, mereka hanya bisa menunggu. Menunggu sampai mereka menemukan pentunjuk lalu menghajar Adu Du habis-habisan begitu mereka kembali ke dunia asal mereka yang tidak aneh.

"Ochobot, sudah menemukan ide belum?"

"Hm, aku belum menemukan ide."

"Lalu mau sampai kapan kita berada di sini?"

Robot kuning itu tidak bisa membalas. Ia tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk menenangkan kedua anak laki-laki yang masih duduk di kelas 5 SD itu.

Walau mereka adalah super hero yang sudah sewajarnya bersikap dewasa, tapi tetap saja mereka hanyalah anak kecil. Merasa panik maupun putus asa itu tindakan yang wajar.

"Bagaimana kalau..." Ochobot pun angkat bicara.

"Kalau?" Tanya Boboiboy dan Fang bersamaan, dengan wajah seakan akhirnya mereka menemukan cahaya di tengah kegelapan. Wajah penuh harap.

"Kalau kita pasrah saja..."

Empat sudut siku-siku pun muncul di kedua kepala super hero kita.

BUK! BUK!

"Mana mungkin kita hanya bisa pasrah!"

"Ho'oh! Kalau cuman pasrah kita malah tidak akan bisa kembali sama sekali tau!"

"Sudah tau begitu kalian cuman duduk-duduk saja daritadi..." Ringis Ochobot.

"Ck, kalau begitu sebaiknya kita coba berkeliling..." Fang pun berdiri, memposisikan kacamata miliknya lalu mulai berjalan meninggalkan Boboiboy dan Ochobot. Mencoba berlagak seperti seorang pemimpin sekali-kali.

"Tunggu aku Fang!"

"Ya, setidaknya mereka akhirnya bisa semangat lagi," bisik Ochobot pada dirinya sendiri.


"Oi Fang."

"Apa?"

"Menurutmu kita yang ada di dunia ini itu seperti apa?"

"..."

"Fang?"

"Ck, mana kutahu! Bukannya kau sudah dengar dari 'Gopal' tadi?!"

"Aku memang dengar, tapi... masa sih Fang yang di dunia ini itu kacungku, hehehe," Boboiboy terkekeh, menertawakan sembari membayangkan Fang mengikuti dirinya seperti seekor anak ayam yang mengikuti induknya kemana saja.

"Hish, kau ini memang terlalu Boboiboy!" Fang mengepalkan tangannya geram. Malu? Iya. Marah? Iya. Pokoknya komplit sudah paket amarah Fang untuk Boboiboy.

"Kabuurr!"

"Kembali kesini kau Boboiboy!"

Akhirnya aksi kejar-kejaran pun terjadi, tindakan yang sangat kekanakan memang. Tapi hey, mereka memang masih anak-anak.

Boboiboy yang berlari kesana-kemari untuk menghindari amukan Fang pun tidak memperhatikan jalan yang ada didepannya. Ia hanya memfokuskan dirinya pada Fang yang mengejarnya dibelakang, sehingga daftar kesialan untuk Boboiboy hari itu pun bertambah lagi.

BRUK!

Boboiboy terpental kebelakang, mendarat di aspal jalan. Beruntung ia tidak lecet, tapi tetap saja terasa sakit.

"Aduuhh..."

"Oi Boboiboy kau tidak apa-apa?" Amarah Fang yang tadi meluap-meluap langsung sirna begitu mendapati rival kepopulerannya itu terjatuh, lebih tepatnya menabrak seseorang.

"Woi! Kalau jalan liat-liat dong!" Sebuah suara yang entah kenapa sangat dikenali Fang pun terlontar dari tubuh yang ditabrak oleh Boboiboy barusan.

"Maaf..." Boboiboy memposisikan tubuhnya lagi untuk berdiri, lalu membersihkan bagian belakangnya yang kotor dari debu.

"Maaf, maaf. Memangnya maaf bisa bikin aku tenang hah?!"

"Eh, suara ini... suaraku?"

Boboiboy yang sedari tadi tidak melihat lawan bicaranya yang baru akhirnya menatap orang itu.

Atau menatap dirinya. Yak, ternyata itu adalah 'Boboiboy' yang seorang lagi.

Yang ditatap, yang memiliki rupa persis Boboiboy pun menatap dirinya yang seorang lagi. Wajahnya tampak terkejut dan heran. Masa aku punya doppleganger? Pikirnya.

"Kamu kan..." Ucap kedua Boboiboy itu bersamaan.

Lima detik berselang pada acara tatap-tatapan antar Boboiboy, mereka pun berhenti untuk saling menatap, lalu beralih ke acara menirukan gerakan seperti pada cermin. Mulai dari gerakan melambaikan tangan kesana-kemari, mimik wajah, dan yang terakhir adalah pose khas mereka berdua.

"Terbaik!"

Dan hasilnya tentu saja seri.

Fang yang melihat rival kepopulerannya bertambah satu pun memandangi mereka dengan tatapan bosan. "Mau sampai kapan kalian mau begitu hah?"

"Hehehe." Boboiboy pun menggaruk pipinya yang tidak gatal.

"Eh, kenapa aku bisa punya tiruan?! Kau pasti robot yang diciptakan Adu Du untuk merebut kepopuleranku kan?!" Seru 'Boboiboy' tiba-tiba. Wajahnya masih tampak kaget karena Boboiboy yang dikiranya adalah tiruannya itu sangat mirip bahkan terlalu identik dengan dirinya.

"Dan kau!" 'Boboiboy' menunjuk ke arah Fang. "Kenapa kau bisa berada disini hah?! Padahal tadi aku sudah mengikatmu di tiang bola basket!" Tambahnya.

Apa?

Diikat di tiang bola basket?

For the God's sake?

"Fang yang disini itu bukan 'Fang' yang kau ikat di tiang bola basket itu tadi." Sebuah bola kuning yang lain pun muncul di tengah perdebatan antara dua Boboiboy dan Fang.

"Eh Ochobot? Kemana saja kau Ochobot? Dari tadi aku mencarimu, nasib baik aku bisa lari dari 'Fang' tadi... Tapi apa maksudmu dengan Fang yang ada di hadapanku ini bukan 'Fang' yang aku ikat?"

"Aih, aku pun ada yang seorang lagi?" Ochobot yang bersama dengan Boboiboy pun menghampiri dirinya yang lain. Namun dengan cepat mereka memahami permasalahan dan keadaan yang sedang terjadi.

"Hah?! Kenapa Ochobot ada dua?! Kenapa diriku ada yang satu lagi?! Dan kenapa Fang yang ini sikapnya normal?!" 'Boboiboy' nampak histeris, bingung karena tidak mengerti.

"Woi! Sikapku dari dulu normal tau!" Fang pun kembali naik pitam. Jadi di dunia ini kelakuannya itu sama seperti orang gila begitu?

"Sudah sudah, nanti akan kami jelaskan, sebaiknya kalian tenangkan diri dulu," ucap Boboiboy menenangkan suasana. Tampaknya dia yang ada di dunia ini adalah orang yang tidak sabaran, liar dan cepat marah. Dan kalau ada Ochobot yang lain, artinya dia yang itu juga mempunyai kekuatan seperti dirinya.

"Hmp, aku pun ingin tau kenapa aku bisa punya doppleganger. Berani-beraninya ada yang menjiplak pesonaku disini."

Tambahan, 'Boboiboy' yang ini orang yang narsis.


"Oh begitu, bilang dari awal dong kalau kalian itu dari dunia paralel! Hahahaha, ternyata dari dunia manapun aku masih cakep ya!" Seru 'Boboiboy' dengan riangnya, lalu menepuk-nepuk lantai kamar miliknya.

Yap, mereka sekarang sedara berada di kamar milik 'Boboiboy'.

'Dasar narsis!' Jerit Boboiboy dan Fang dalam hati.

"Sebelumnya kau kira aku itu robot buatan Adu Du kan? Kalau begitu apa artinya Adu Du yang ada disini itu juga jahat?" Tanya Boboiboy pada dirinya yang seorang lagi.

Jujur saja, Boboiboy agak merasa janggal untuk bicara pada dirinya yang lain. Walau biasanya ia sering berbincang dan meminta pendapat pada tiga pecahan dirinya , hanya saja kali ini rasanya agak lain. Ya masih untung dirinya yang lain itu orang yang baik, walau agak liar.

"Ya! Dia yang terburuk! Aku bahkan tidak ingin bertemu dengannya!"

"Aneh sekali, kenapa cuman Adu Du yang sifatnya tidak berubah di dunia ini?" Fang menerka-nerka.

"Entahlah, tapi kita harus menemui Adu Du segera, dia pasti tau cara mengembalikan kita ke dunia asal kita." Balas Boboiboy cepat. "Ayo Fang, Ochobot, kita temui Adu Du!"

"Eh?! Kalian mau ketempat Adu Du? Kalau begitu aku juga ikut!" Seru 'Boboiboy' tak mau kalah. Yang lain pun kembali bingung.

"Aih, tadi kau bilang kau tidak mau bertemu dengannya, sekarang kau malah ingin ikut," sanggah Boboiboy pada dirinya yang lain itu.

"Hehehehe, itu kan tadi, sekarang aku ingin ikut!"

Tambahan lagi, 'Boboiboy' yang ini sifatnya kekanakan.

"Hm, dasar plin-plan," komentar Fang.

"Dan sebaiknya kita melepaskan Fang yang seorang lagi dari tiang bola basket," tambah Ochobot.

"Eh jangan! Kalian tidak tau kalau dia lepas dia akan terus membuntutiku seperti stalker!"

"Pftt, stalker?" Boboiboy mencoba menahan tawanya. Sementara Fang hanya menunduk menahan malu sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

"Hish, pokoknya aku gak mau ikut ngelepasin Fang nanti!"

"Segitu 'mengerikannya' kah Fang yang itu?" Tanya Boboiboy lagi, sambil menyikut-nyikut Fang dengan niat menggoda.

"Yang terburuk! Tapi..."

"Tapi?"

"Entah kenapa Fang yang disini sangat pendiam, gayanya pun lumayan keren, berbeda sekali dengan 'Fang' yang aku kenal."

"Ha, tentu saja! Aku kan lebih populer daripada Boboiboy di dunia asal kami!" Klaim Fang tiba-tiba dengan nada penuh harga diri. Ia pun lalu meminum coklat panas yang baru saja diantarkan Ochobot.

"Sepertinya aku menyukai Fang yang ini!" Ucap 'Boboiboy' dengan polosnya.

"UHUK UHUK!" Fang pun tersedak, untung saja dia tidak menyemburkan coklat yang ia minum. "AKU BUKAN HOMO!" Serunya dengan lantang sambil menahan malu.

"Hehehe, terbaik!" Ucap Boboiboy. Kedua Boboiboy pun tertawa berbarengan diatas penderitaan Fang yang meratapi nasibnya. Kali ini sepertinya roda kehidupan milik Fang pun sedang berada di bawah.


Disisi lain...

"Bos, saya sudah mendapatkan informasi mengenai keberadaan Boboiboy saat ini."

"Informasi apa?"

"Saya menemukan adanya gelombang elektromagnetik yang berasal dari lapangan sepak bola tempat Incik Bos menyerang Boboiboy tadi, sepertinya disana ada portal yang mengarah ke tempat dimana Boboiboy, Fang, dan bola kuasa berada saat ini. Tapi karena gelombang ini sangat lemah, sepertinya kita harus membuat sebuah alat untuk memperbesar gelombangnya sebelum bisa kita lewati." Jelas Komputer sembari menunjukkan gambar lapangan tempat Adu Du berulah di layar.

"Hmmm, sepertinya kita harus meng-upgrade senjata teleport dimensi X ini untuk mendapatkan bola kuasa itu. Probe!"

"Ya, Incik Bos!"

"Segera kau curi serbuk coklat milik Tok Aba! Kita akan memerlukannya sebagai sumber energi. Hahahaha, sebentar lagi aku akan mendapatkan bola kuasa! Tunggu saja Boboiboy!"

Markas kotak pun seketika itu juga dipenuhi suara tawa sang alien kotak.


- To be Continued -


Gaje? Aneh?

Maklum kelamaan hiatus, rasanya penggunaan diksi saya ngga ada kemajuan dari saat terakhir kali saya hiatus.

Jadi mohon kritik dan sarannya ya, saya ingin bisa menulis lebih baik dari yang sekarang XD

Nantikan chapter berikutnya!