Miracle In December
Writer/Author: Na U-Young
Main Cast : Huang Zi Tao (Tao)
Kris & / Wu Yi Fan
Other Cast : Xi Luhan (Luhan)
Oh Sehun (Sehun)
Wu Ji Han
Genre : Romance, Angst, Hurt-Comfort, Brothership, YAOI.
Rate : T – M
Warning : Dont like dont read, no bash, no flame, no war. My own story
no copast, Typo, Kesalahan EYD harap dimaklumi.
Summary : "Tuhan... Permintaan terakhirku di bulan desember ini yaitu aku ingin melihatnya untuk yang kedua kalinya, kesekian kalinya atau yang terakhir kalinya jika kau masih mengizinkan aku untuk bernapas, walau mata ini tertutup lagi, walau raga ini tidak bisa bergerak setidaknya aku bisa merasakan kehadirannya."
CHAPTER 2...
"Tao... ayo... bangun. Hey... baby Zi Tao..."
"Nghh... ge... waeyo? Tao masih ngantuk..."
"Tao... mian gege harus berangkat kerja pagi ini ditoko rotinya Luhan ge. Jangan lupa makan ne... jangan pergi kemana-mana sebelum gege pulang?"
"Tapi bagaimana jika Tao ingin bertemu dengan gege. Tao bosan sendirian dirumah."
"Aiihh... ne... Tao bisa temui gege di toko roti. Ingat hati-hati, perhatikan langkah mu. Mintalah bantuan orang lain apabila kau ingin menyebrang. Arraseo?"
"Hehee... gomawo ge... iya, Tao akan berhati-hati."
Yi Fan tersenyum penuh arti, ia mengusap pipi dan rambut Tao pelan. Diciumnya kedua kelopak mata, dan kening adik tersayangnya sebelum beranjak pergi ke tempat setiap hari sabtu dan minggu di tempat sahabatnya Luhan.
.
.
.
Tidak terasa kini hari telah menjelang sore, namun pelanggan di toko roti tempat Yi Fan bekerja masih nampak ramai pengunjung.
"Hey... Wu Yi... kau nampak pucat, kau tidak apa-apa?" Tanya Luhan yang mulai khawatir dengan wajah pucat Yi Fan serta keringat yang terlihat disekitar pelipisnya walau tertutupi topi kerjanya.
"Aku baik-baik saja Lu..." Yi Fan merasa diperhatikan oleh sahabatnya yang sekaligus pemilik dari toko Roti menjadi tidak enak hati dan berusaha menutupi dengan senyumannya.
"Yi fan... istirahatlah dahulu, biar aku yang mengurus pelanggan. Oke..."
"Ne... sie-sie Lu ge..." Yi Fan kemudian mengistirahatkan tubuhnya dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang dekat dengan jendela toko yang transparan. Ia menghela napas dalam dan memejamkan matanya sejenak, betapa lelahnya dirinya hari ini. Kemudian diliriknya jam tangan berwarna hitam yang sudah menunjukan pukul 4 sore, sambil tersenyum mengingat betapa ia sudah tidak sabar ingin merengkuh tubuh adiknya yang selalu membuatnya nyaman hingga rasa penatnya hilang.
.
.
.
"Aiih... Tao bosan... kenapa gege lama sekali..." Tao yang sedari tadi duduk berjongkok menunggu Yi Fan di depan aprtemen sederhananya menggerutu mengapa gegenya tidak kunjung datang.
"Hmm... bagaimana kalau Tao menemui Yi fan ge ditoko. Ia pasti senang melihatku menjemputnya. Hihii..." Ide cemerlang melintas di benak Tao, dan dengan segera dirinya mengunci pintu apartement dan berjalan menuju tempat Yi Fan bekerja.
.
.
Ttakk... Ttaak... Tttaak...
Tao berjalan perlahan dengan menggunakkan tongkatnya sambil mengingat-ingat letak dimana toko Yi Fan berada. Dengan hati-hati ia gerakan tongkatnya kesana-kemari untuk menghindari adanya lubang yang kapan saja dapat membuatnya terjatuh apabila tidak berhati-hati. Tao berjalan mendekati tiang rambu-rambu lalu lintas dan meraba-raba tiang tersebut hingga ia menemukan tombol yang akan dia tekan sebagai pertanda bahwa ada pejalan kaki yang ingin lewat terutama dirinya yang merupakan seorang tuna netra. Baru kali ini Tao berani menyebrang jalan tanpa meminta bantuan orang lain untuk menyebrangkannya.
"Luhan... aku pulang duluan ya, kasihan adikku sudah lama menunggu."
"Ne... maaf ya, aku sudah membuatmu terlambat pulang. Salahkan Sehunie yang tidak mau membantu membersihkan toko. Awas saja, akan aku beri hukuman." Ujar Luhan kesal.
"Hahaha... berilah hukuman yang bisa membuatnya melayang. Kalian kan memang sering melakukan itu. Sehun pasti akan menerimanya dengan sengat senang Lu. Hahaha..." tawa Yi Fan saat berhasil membuat Luhan menganga, ia berpikir darimana Yi Fan mengetahui jenis hukuman yang akan diberikannya pada Sehun. Ya walau sebenarnya itu bisa dibilang hukuman karena mereka sama-sama menikmatinya. "Yak... pasti sehunie yang membocarkan, aiishhh... bikin malu saja huh... Yak Yi Fan, berhenti tertawa. Kalau tidak..." Luhan sejenak memberhentikan protesnya pada Yi Fan melirik ke arah seberang dan matanya melotot melihat siapa yang berdiri disana.
"Yi Fan... adikmu mau menyeberang!" Seru Luhan terkejut akan kenekatan adiknya Yi Fan yang ingin menyeberang.
Mendengar adiknya yang mau menyebrang, Yi Fan langsung berlari keluar toko dan betul saja ia melihat adiknya sedang memencet tombol lampu rambu-rambu lalu lintas.
"Taoo... hati-hati jalannya... gege disini..." Teriak Yi Fan memperingati Tao agar memperhatikan jalannya.
"Yi Fan ge..." Mendengar suara Yi Fan diseberang sana lantas membuatnya langsung berlari ke sumber suara tanpa mengingat lagi posisinya saat ini.
"Andwae... Tao... Tao..." Saat melihat Tao berlari kencang, hatinya mencelos dan kaget. Segera iapun berlari menghampiri adiknya yang tengah berlari hingga dari arah barat sebuah mobil audi hitam datang dengan kecepatan tinggi.
"Taaooo!" Teriaknya saat ia sudah berhasil mendorong tubuh Tao menjauh dari mobil yang hampir menabrak tubuh adiknya.
CKKIIIEET...
TIIINN... TIIIN...
BRUUAAKK...!
"GEEE...!"
Tubuh Yi Fan terpental keras akibat sebuah mobil berkecepatan tinggi menabraknya. Tubuh Yi Fan terkapar tidak berdaya hingga darahnya perlahan mengucur derasnya keluar dari kepala, hidung dan mulutnya. Namun, dirinya masih ingat dan sangat bersyukur karna adiknya selamat dari hantaman mobil.
"Aakkh... Tao... didiku... uhuk... gege tidak apa-apa...!"
Tao mencari suara Yi Fan dan semakin kalang kabut ketika ia menemukan tubuh Yi fan yang terkapar diaspal. Ia raba seluruh permukaan wajah dan tubuh Yi Fan. Matanya terbelalak kaget saat dirasanya ini serupa dengan air namun kali ini lebih kenta dan berbau amis. Tidak... ini tidak mungkin batin Tao. Seketika ia menjerit, berteriak dan menangis meminta pertolongan. Ia terus memeluk tubuh Yi fan dan memanggil nama Yi Fan dan berharap Yi Fan nya sadar kembali. Semua orang menyaksikan kejadian itu memandang miris dan prihatin, hingga tidak beberapa lama sebuah ambulance datang dan segera mengangkat tubuh Yi Fan dan membawanya ke Rumah Sakit terdekat. Tersangka yang sudah menabrak Yi Fan untungnya mau mempertanggung jawabkan kesalahannya dan ikut bersama rombongan pihak ambulance untuk membiayai segala bentuk perawatan medis pada korban yang telah ditabraknya.
.
.
Saat melihat kejadian tersebut Luhan segera berlari kearah Tao dan Yi Fan berada hingga sebuah ambulance menghampiri mereka.
"Gee... bangunn gee... jangan tinggalkan Tao... gege... Tao takut... banguunnn ge... GEE!" Tao terus berusaha membangunkan Kris dipelukannya.
"Tao... bersabarlah, gege mu pasti akan siuman. Ambulance sudah datang dan biarkan pihak medis membawanya." Luhan yang prihatin ikut merengkuh tubuh Tao yang bergetar hebat.
"Maaf dik, saudara anda harus segera dibawa kerumah sakit. Saya berjanji akan mempertanggung jawabkan kesalahan saya" Mendengar penuturan kesalahan dari orang yang telah menabrak Yi Fan, Tao pun mengangguk setuju..
"Baiklah, aku akan memaafkan kesalahan anda apabila gege ku sudah sadar dan sehat kembali. Kalau tidak maka anda harus mempertanggung jawabkannya di kantor polisi." Ujar Tao mengancam.
"Baiklah aku berjanji..."
.
.
.
Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, pria paruh baya yang telah menabrak Yi Fan tidak henti-hentinya memanjatkan doa agar pemuda yang sedang melawan maut ini masih diberikan Tuhan umur yang lebih lama lagi.
"Anak muda... bertahanlah... aku mohon maafkan aku..." pria paruh baya tersebut merasa bersalah dan sangat menyesal akan keteledorannya hingga berakibat seperti ini. Padahal dirinya baru saja mendapatkan kabar baik yang sangat dinanti-nantikannya selama 20 tahun ini.
"Huang Zi Tao... nnghh.. Tao..." Terdengar samar-samar suara Yi Fan yang menyebutkan nama adiknya hingga pria paruh baya itu bergerak mendekati tubuh Yi Fan dan mengusap puncak kepala Yi Fan guna mengurangi rasa sakit menurutnya.
"Nak... kau sadar... bertahanlah... bertahanlah untuk adikmu... dan kumohon maafkan aku, aku akan melakukan apapun asal kau tetap hidup" ucap pria paruh baya tersebut memberi semangat sambil terus mengusap helaian rambut Yi Fan.
DEGG...
Pria paruh baya itu terkejut saat melihat wajah pemuda yang ia tabrak itu, mengapa terlihat sangat familiar. Ia terus memandangi wajah Yi Fan dan berpikir siapa yang ada dihadapannya kini. Hingga ia tersadar akan seseorang yang terlihat serupa dengan pemuda yang baru saja ia tabrak.
"Uuuhuukk... Tu.. tuan... gwenchanahh... aku sudah memaafkan tuan. Tapi, kali ini aku mohon kau mengabulkan permintaanku yang terakhir kalinya. Maukah kau mengabulkannya?" Tanya Yi Fan yang masih terus berusaha dan memaksakan agar ia dapat menyampaikan permintaanya.
"Baiklah, anak muda. Apapun akan aku kabulkan. Tapi apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku?"
"Berikanlah mataku ini untuk adikku Huang Zi Tao. Buatlah hidupnya bahagia... uhuuk..." Pria paruh baya tersebut semakin kalang kabut mendengar permintaan yang diajukan oleh pemuda di hadapannya. Ia semakin panik saat Yi Fan memuntahkan darahnya melalui mulutnya.
"Tidak... anak muda kau harus kuat. Ingat adikmu sangat membutuhkanmu."
"Tu... tuan... a.. aku mohon... Aku ingin adikku uughh... bisah melihat dunia ini dengan mataku ini. Dan tolong sampaikan padanya aku akan selalu ada didekatnya dan satu hal tolong katakan padanya aku... Aku sangat mencintainya..."
"Baiklah... akan aku penuhi. Tapi, siapa namamu nak?"
"Wu Yi Fan..."
DEGG...
Wajah pria paruh baya itu memucat, tubuhnya menegang saat mendengar nama yang disebutkan pemuda yang mengaku namanya adalah Wu Yi Fan. Jangan bercanda, tidak mungkin dia adalah orang yang selama ini ia cari setelah tragedi kecelakaan beberapa puluh tahun silam.
"Kau... kau... Wu Yi Fan...?" Tanyanya tidak percaya yang kemudian dibalas anggukan lemah oleh Yi Fan.
DEG... DEG...
"Kau adalah anakku... kau masih memiliki adik, dia adalah kembaranmu Yi Fan. Appa mohon bertahanlah. Hiks... Maafkan Appa Yi Fan, Appa sangat menyayangimu nak... hiks..."
"Kau.. Appaku? Siapa nama anda tuan?"
"Wu Ji Han, ayahmu dan adikmu ia bernama Kris dan sangat mirip sekali dengan mu nak."
"Jika benar aku senang bisa bertemu denganmu ayah... Akuuh... memaafkanmu sungguh... mungkin umurku hanya sampai hari ini ayah, tapii... aku mohon kabulkanlah permintaankuuh, jaga Tao untukku karna aku tidak mungkin berada disisinya lagi. Uuhhukk..." Yi Fan membalas genggaman tangan ayahnya erat.
"Ne... anakku... aku berjanji..."
"Terima.. kasih... ayah.. Uuuhukk... Aaakkh... Tao... Tao... SARANGHAE..."
"YI FAANNN!" Ayah Yi Fan menangis histeris saat melihat genggaman tangan Yi Fan pada lengannya tiba-tiba terkulai begitu saja. Ia terus mengguncang-guncangkan tubuh Yi Fan untuk menyadarkan anaknya yang akhirnya ditemuinya untuk yang pertama kali dan yang terakhir kalinya dalam hidup sang ayah.
TO BE CONTINUE...
Wanna Review? Terimakasih banyak yang udah review... kekeke... Yang ingin review FF ini dipersilahkan, tolong tinggalkan jejak ya... Berikan komentar yang positif dan mendukung agar FF ini bisa lebih bagus lagi di chapter berikutnya...^^V
