Coklat Abu's here~
Pertama, maap karena ane baru apdet setelah sebulan berselang. Tapi, terima kasih untuk senpai-tachi semua. Terima kasih sudah berkenan RnR.
Terimakasih kepada::
Hyou Hyouichiffer, Anna Just Reader, Sora no Aoi, Ulva-chan, Reita, Kimidori Hana, Mamizu Mei, Tsubasa XasllitaDioz, Fie-chan, uchihyuu nagisa, Botol Pasir, Lollytha-chan, Haru3173, OraRi HinaRa, YamanakaemO, U-know Maxiah, chibi tsukiko chan, n, Masahiro 'Night' Seiran, Zoroutecchi, Ind, Ryu Uchiha, Ficya, Uchiha Athrun, Vytachi W.F, Desy Cassiotaku, Vipris, fuyu-yuki-shiro
Buat yang login, ane bales lewat PM, dan buat yang anon, ane bales di sini, ya?
Anna Just Reader:: Syukurlah kalau suka, ane harap chapt yang ini ga mengecewakan. ^^ Makasih. RnR lagi, ya?
Sora no Aoi:: Nanti akan ada alasan Hinata jadi gagap. =) Buat chapt belum tau, nih. Makasih. kalo ga keberatan RnR lagi, ya?
Ulva-chan:: Makasih banyak. Iya, virtual-nya Sasu itu Hina. RnR lagi, ya?
Reita:: Haha. Sama, dong. Makasih, RnR lagi, ya?
Mamizu Mei:: Bisa manusia, bisa jadi di dalem layar. Di chapt ini ada ulasannya. ^^ Makasih. RnR lagi, ya?
Tsubasa XasllitaDioz:: Makasih banyak. Kalo berkenan. RnR lagi, ya?
Fie-chan:: Udah apdet, nih! Makasih. RnR lagi, ya?
YamankaemO:: Nama ane diambil dari warna yang bergradasi. Coklat Abu. Makasih. RnR lagi, ya?
Ind:: Makasih banyak. Ane masih ga luput dari kesalahan, lho. Makasih. RnR lagi, ya?
Ryu uchiha:: Hehe~ pantengin terus ceritanya, ya? Makasih. RnR?
Ficya:: Makasih banyak. Bersediakah RnR lagi?
Apalah arti seorang author jika karyanya tidak dibaca. Jadi, ane berharap karya ane—walau begini—ada yang baca, dan inilah chapter 2-nya!
Virtual ally. Mereka tak bedanya dengan manusia biasa. Mereka bicara, bergerak, dan memiliki hati. Mereka hidup dalam sebuah dimensi hampa di dalam tablet PC—yang artinya berada dalam dekstop seperti sebuah gambar, dan dapat menyerupai manusia dalam fisik yang utuh—kokoh, sesekali.
Namun demikian, janganlah terlupa akan realita bahwa mereka tetaplah para penghuni dunia elektronika yang bersinggungan dengan air. Tak sedikit manusia yang khilaf, dengan dasar mengajak kencan di pantai nan romantis, mereka kehilangan virtual ally mereka.
Virtual ally, teman sehidup manusia abad kini.
Dari masa depan, kisah ini berawal.
.:: Virtual Love ::.
.●.
Disclaimer
N A R U T O © Masashi Kishimoto
.●.
Main Character
My beloved pair :: Sasuke Uchiha & Hinata Hyuuga and slight pairs
.●.
I warn you, first. On this fict, you may find some typo(s), OoC, out of EYD, inspirated by Epotoransu, and more
.●.
Capitulo 2:: Chaos!
Ok, Minna-san, this's just for pastime!
Seluruh siswi dan siswa berbaris dengan kerutan di dahi pada pukul tujuh pagi. Sengaja mereka mengayuh sepeda lebih dini ketimbang hari biasa dengan maksud mengungkap lentera padam atas keingintahuan mereka perihal virtual ally Sasuke Uchiha.
Cukup banyak doa buruk yang menghiba sosok tak rupawan untuk mendampingi hidup Sang Junior Uchiha, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan.
Sayang, doa petaka selalu membalik arah menjadi doa sahaja yang penuh maslahat.
Pemuda raven melangkah memasuki koridor, berpuluh pasang mata tak berkedip, setia memandangi aktivitas sang pemilik yang kini tengah mengganti sepatu dengan slipper sekolahnya. Ia tak mengacuhkan barang seorangpun yang menurutnya hanyalah pembuat risih.
Dengan angkuh ia melangkah, menelusuri koridor yang membentang di antara kelas dengan tatapan mata lurus ke depan.
Kali ini, ia datang sedikit terlambat, memang. Terbukti dari keberadaan Sang Uzumaki di kursinya kala Sasuke melangkah masuk ke dalam ruang kelas.
"Oi," Naruto menyapa dengan cengiran khasnya. Tampak di samping siluetnya berdiri sesosok gadis bersurai merah muda dengan gaun emerald serupa irisnya.
Sosok Sakura dalam ukuran manusia, itulah ia. Keduanya tersenyum kepada Sang Uchiha yang dibalas dengan pengindahan.
Sejoli itu bercengkerama—tidak mempermasalahkan perangai Sasuke yang mereka kenal dengan baik memang demikian, dengan iringan senda gurau yang terselip kadang kala. Sasuke tersenyum tipis melihat pemandangan itu, sekejap mata. Setelahnya, ia menghempaskan tubuhnya ke kursi, bertopang dagu sembari membuka sebuah buku tebal yang ia bawa.
TEP!
Jemari lentik yang bertengger di bahu membuat ia mengalihkan pandangan matanya untuk balas menyapa pandangan dari sepasang emerald Sakura.
"Sasuke-kun," ia tersenyum, "kenapa kau tidak menyalakan ipad-mu? Aku ingin mengobrol dengan Hinata-sama."
Sasuke memalingkan wajah, kembali ia berjibaku dengan wacana sukar di depannya. Menjawab pertanyaan Sakura dengan sefrasa, "Nanti saja."
Sakura dan Naruto lempar pandang dan angkat bahu. Mencoba positif atas jawaban Sasuke dengan berpikir bahwa ia barangkali mengantisipasi kemungkinan pemuda lain yang jatuh bisa saja hati akan kecantikan paras Hinata.
Akan tetapi, reaksi Sasuke rupanya mendapat perspektif lain dari pelajar selain Naruto dimana mereka menerjemahkan acuan Sasuke sebagai tanda bahwa ia malu dengan virtual ally-nya.
"Lihat! Sasuke-kun tidak mau memberitahukan virtual ally-nya! Pasti wujud virtual ally itu buruk sekali!" Pekik seorang gadis berkelereng merah dengan surai serupa dalam pekik kegirangan—yang mengenaskannya, salah paham semata.
Gadis yang lain mengadopsi gerakan kesenangan dari gadis bernama Karin.
Ironis.
Para siswa tak bedanya, mereka mengucap syukur dengan persepsi bahwa virtual ally Sasuke adalah banci, laki-laki, atau gadis buruk rupa.
Terutama seorang pemuda dengan nama Kiba. Ia yang memang selalu merasa di bawah pamor Uchiha, sungguh naik bahtera dengan fakta—salahpaham—tersebut.
Kesalahpahaman ini pun tak usai karena dibatasi jam masuk kelas dimana para tablet PC harus dinonaktifkan dan rasa penasaran mereka mau tak mau dibungkam untuk sementara waktu.
Lonceng yang berdentang selama empat kali mengkomando para guru untuk pamit keluar dari ruang kelas, sekaligus menandakan jam istirahat bagi pelajar.
Ruang kelas yang lain boleh jadi sepi karena seisinya memilih tempat lain untuk meluangkan saat kosong mereka. Tapi, kelas Sasuke tidak. Fans dari Sang Uchiha selalu setia membuat ruangan dimana Sasuke berada terasa sempit, dan penuh sesak oleh jerit nakal mereka.
Kedatangan seorang pemuda juga tak meminimaliskan suasana keruh yang ada. Justru menambahnya.
Ya, seorang pemuda dengan helai hitam dan wajah tak bersemangat yang entah bagaimana di mata kaum Hawa terlihat ... eksotis?
"Shika," keturunan Minato Namikaze memandang bosan, "kau pasti bolos pelajaran tadi untuk tidur di atap, ya?"
"Aku—"
"—Bukan, Shikamaru tadi harus menghadiri rapat ketua kelas di aula," suara seorang gadis dari dalam tablet PC yang ditenteng Shikamaru, yang mendahului jawaban pemuda Nara itu sendiri, dibalas oleh anggukkan pemuda pirang yang kini tengah merogoh tablet PC di laci meja.
Walau raut wajah Shikamaru seperti zombie, ia tetap memegang peranan penting dalam organisasi sekolah. Terlebih karena ia didaulat untuk menduduki kursi ketua OSIS sekaligus ketua kelas. Walau tak jarang Gaara—wakil ketua OSIS dan wakil ketua kelas—mengkoordinir tugasnya jikalau ia tengah terinfeksi bakteri malas.
Sasuke yang sedari tadi diam membaur, "Jadi, bisakah kita ke kantin sekarang?"
Cengiran Naruto terkembang, lekas dirangkulnya leher Sasuke sementara sebelah tangan ia gunakan untuk menenteng tablet PC.
Shikamaru mengerling saat menyadari bahwa tangan Sasuke bebas, "Kau tak mengajak virtual ally-mu?"
Hanya ada gelengan kecil yang lalu ditanggapi Shikamaru dengan kedikan bahu.
Uchiha itu seperti gula yang dikerubungi semut. Perawakannya menjadi magnet daya tarik bagi para siswi. Lihat saja, hampir separuh siswi yang ada mengekor kemanapun ia pergi, membuat kantin sesak seketika.
Namun, ada gelimangan manusia berjenis kelamin perempuan yang tersisa di dalam kelas Sasuke. Mereka tak lain Tayuya, Fuuka, dan Konan.
Senior Sasuke yang juga memiliki identitas ganda sebagai perintis Sasuke FC itu tengah menggeledah tas pemuda raven, mencari benda elektronik milik Empunya.
Tombol "ON" ditekan sekilat guntur, hingga tak lama layar menunjukkan indikasi bahwa tablet PC tersebut akan menyala.
Kemunculan seorang rupawan virtual ally dari dalam layar membuat tiga pasang kelereng membelalak kaget.
Terlalu ... sempurna ...
"K-kalian siapa?" Hinata terpatung mendapati bahwa di hadapannya berdiri tiga sosok yang sangat asing. Ia bukan sahabat Sasuke, pemilik haknya. Jadi, siapa mereka?
Iri dengki adalah faktor utama yang menyudutkan Hinata di antara tiga gadis yang diluapi kegeraman, kini. Tentu tak mereka terima jika Sasuke memiliki virtual ally seperti Hinata yang bisa jadi suatu saat akan terlibat cinta.
Tidak bisa kubiarkan! Tayuya mengangkat tablet PC tersebut tinggi-tinggi, berniat melabuhkannya di lantai hingga hancur berkeping-keping. Namun, hal tersebut batal terjadi dikarenakan temperature AC kelas yang berada pada titik terendah secara mendadak dan lampu di ruang kelas yang sontak padam.
"Di-dingin sekali!" Konan merekatkan cardigan yang melilit tubuhnya.
Dua iris Fuuka menjadi tak fokus, ia menatap seluk kelas dengan ketakutan yang berkecamuk, "Dingin dan gelap."
Bulu kuduk ketiganya berdiri menyerap suasana yang secara spontan menjadi laksana lokasi syuting film horor tatkala lampu di atas mereka berkedip hingga kesekian kali. Ketiganya berlari dan melempar tablet PC Hinata ke luar jendela.
GRAP!
Lengan panjang nan atletis milik seseorang menggapai tablet PC Hinata secara pesat. Sosok seorang pemuda yang sedari tadi menonton jalannya cerita "Penggeledahan Tas Sasuke".
Sosok itu menarik nafas lega saat dilihatnya tablet PC yang ia genggam tak rusak. Temperature dan lampu kelas menjadi kembali stabil pasca itu.
Emerald dan Lavender bersimpangan di satu titik, kemudian. Bertemu dan terdiam.
Pemuda bersurai sewarna tanah liat membuka mulut dengan ragu.
"Kau, 'kan..."
Sasuke menatap udon di hadapannya dengan tiada gairah. Ah, ia bagaikan angin lalu yang kini harus terdiam sendirian sementara Naruto bercanda ria dengan Sakura dan Shikamaru berdebat ria dengan Temari.
Jujur saja, ia ingin sekali membawa Hinata ke sini, bercengkerama dengannya. Hanya, setiap rekaman malam tadi berputar di memorinya, keinginannya musnah sudah.
Ini semua bermula malam tadi.
"Hinata?" Sasuke memandang gugup pada sang virtual ally yang kini berwujud manusia di sisi kirinya. Usai perjumpaan di lantai dasar tadi, mereka beranjak ke atas. Menikmati suguhan dari alam melalui ksatria cahaya—bintang—yang berbaris sembarang di berbagai penjuru.
Selepas pesta kecil ulangtahun sekaligus penyambutan virtual ally Sasuke, para tamu undur diri. Mempersilahkan dua tokoh utama untuk melewatkan malam dengan orientasi pribadi mereka.
Hinata tak melirik ke arah Sasuke, ia memilih memejamkan mata, menikmati semilir angin malam di wajahnya. "Ya?"
Mendengar gubrisan Hinata, pemuda gentle itu tersenyum kecil sembari ikut memejamkan mata.
"Terima kasih."
"Untuk?"
SET...
Sasuke membalikkan badan, menyandarkan punggungnya di besi dingin beranda di sana.
Ia mengulurkan tangan secara perlahan. Membelai lembut telusur pipi mulus Hinata, dan berakhir di bibir sang gadis lavender yang kini membuka kelopak matanya.
Dibawa olehnya wajah Hinata mendekat ke arah wajahnya. Namun, pupus sudah romansa malam itu seketika karena Sang Princess of Virtual lebih terlebih dahulu meletakkan telunjuknya di bibir Uchiha. Mengatakan "tidak" sehalus yang ia bisa.
"Terlalu cepat, Sasuke-san," singkat, namun ucapan Hinata membuat Sasuke kembali dari ketidaksadaraannya dengan sukses. Menyadari perbuatannya barusan ia menutup bibirnya dengan punggung tangan seraya menjauh dari Hinata.
"Sasuke-san!"
Sasuke mengabaikan panggilan nan merdu itu dan memilih untuk tetap melangkah pergi. Jadilah malam itu dilalui mereka tanpa ada perbincangan lebih lanjut, dan Sasuke memilih tidak mengunjungi kamarnya malam itu sementara karena rasa malu yang mendalam.
Lavender Hinata masih tak lepas dari pintu kamar yang barusan mengambangi sang pemuda rupawan.
Ia tersenyum tipis dan kembali mengarahkan vistanya pada lukisan alam bernuansa kelam di hadapannya.
Senyuman sendu yang siratkan nestapa yang dalam.
Maaf, Sasuke-san. Tapi, aku...
"Bodoh!" Uchiha bungsu kini menjambak helai surainya dalam kemelut chaos di ruang baca, rasa sesal memenuhi kalbu Sasuke, saat ini.
Memang ia melakukan hal tadi atas dorongan biologisnya, tetapi tetap saja pernyataan tersebut tak menampik kenyataan bahwa ia telah menyerupai pemuda kurang ajar yang hendak "memangsa" seseorang yang baru ia jumpai tadi!
Sasuke melirik jam antik yang kini merujuk angka satu. Mengendap, Sang Uchiha kembali ke kamarnya. Ia memutar kenop pintu kamarnya dengan perlahan, menyibak secuil pemandangan.
Nihil adanya. Yang ia dapati hanya jendela yang terbuka lebar dengan tak ada seorangpun di sana.
Ia melangkah masuk, menumpukan mata pada tablet PC yang menyala, menyajikan seorang gadis yang tertidur pulas di dalam sana.
Telunjuk Sasuke terangkat, menekan tombol turn off—dengan iring-iringan senyum tipis di wajah tampannya.
Oyasumi, Hinata...
"Jadi," Naruto yang tengah menyuapkan ramen ke mulutnya melirik Sasuke, "apakah sekarang kau menyesal karena tidak mengikutsertakan Hinata ke sini?"
Alis Sasuke terangkat keduanya, membenarkan pertanyaan yang lebih pas dibilang pernyataan dari Naruto.
Sang gadis virtual bersurai kelopak bunga menatap jijik pada pemilik haknya yang kini begitu tampak belepotan oleh kuah ramen—ditambah dengan mulutnya yang dipenuhi sulur ramen, yang sesekali terbuka saat ia bicara.
BUAGH!
Sakura memukul punggung Naruto, kencang, "Telan makananmu dulu, Baka!"
Naruto yang kaget lalu tersedak, ia memegangi lehernya sembari meminta tolong. Merasa terkejut dan bersalah, sang virtual ally lekas memukuli tengkuk sang pemilik sembari memasang ekspresi panik serta menyesal.
Sasuke, Temari, dan Shikamaru menghela nafas maklum.
"Jadi, bagaimana?" Shikamaru menyambung pembicaraan antara Naruto dan Sasuke, barusan. Mengindahkan pemandangan konyol Naruto yang bergulingan karena makanan yang menyangkut di tenggorokan dan Sakura yang mencoba meminta maaf namun tetap garang, di sisi kirinya.
Kedikan di bahu dari Sasuke membuat alis pemuda jenius tapi malas itu bertautan.
"Semalam aku nyaris menciumnya."
Shikamaru nyaris tersedak layaknya Naruto saat mendengar pengakuan dari Sang Uchiha yang entah mengapa tetap sanggup memajang wajah datarnya.
"Aku tidak punya muka untuk bertegur sapa dengannya. Aku benar-benar seperti laki-laki yang tidak tahu diri."
"Kau tahu?" Pemuda bersurai gradasi nanas meneguk secangkir teh yang Temari sodorkan guna meredakan rasa sakit di tenggorokannya sekaligus sebagai candu yang membuatnya menenangkan diri dari keterkejutan akibat perkataan Sang Uchiha, "terkadang kau harus menjadi laki-laki kurang ajar demi memertahankan seseorang yang kau cintai."
Sasuke menumpukan kepalanya frustasi. Iapun tahu itu. Karena jika tidak...
"Atau dia terlanjur direbut orang lain."
Itu dia! Sasuke mau tidak mau harus membanting harga diri bila ia tidak ingin Hinata-nya direbut orang lain.
Tetapi, direbut siapa? Hinata berada di dalam tasku sedari tadi. Jadi, ia tidak mungkin bertemu dengan orang lain—pemuda lain.
Sasuke, Sasuke. Terkadang manusia tidak mengetahui apa yang secara rinci dan aktual tengah terjadi. Secara logika Hinata mungkin tidak bertemu dengan pemuda selain dirinya hari ini, namun waktu telah berucap pada takdir. Memberi titah untuk suatu kejadian yang menimpa Hinata tanpa sang pemuda Uchiha duga.
Sasuke, bantinglah harga dirimu sekarang, atau kau akan menyesal!
つづく
(To Be Continued)
Maap apdetan-nya abal...
Kalo sudi, review, ya, senpai-tachi~
Review?
