Euterpe

Gintama - Sorachi Hideaki. Dibuat untuk menyalurkan kegemaran semata dan bukan untuk mencari keuntungan pribadi. A/N : ensemble, straight multipair (Gintoki/Tsukuyo, Hijikata/Mitsuba, Sougo/Kagura, Katsura/Ikumatsu, Tatsuma/Mutsu, Kankou/Kouka, Kondo/Otae.) Terima kasih dan selamat membaca.

i.

Terkadang Hijikata akan tersenyum kecil dan membayangkan hal ini;

satu, dua kali ketika dirinya terbangun terlampau pagi—dengan hangat yang diuar dari genggaman tangan mungil Mitsuba yang masih terlarut dalam alur napas teratur, berkalang dengan mimpi. Jari-jari Mitsuba menaut jemarinya pelan dengan sentuhan yang begitu literal, dengan kepala yang bertumpu pada bahunya dan dibiarkannya begitu saja—karena aroma Mitsuba hadir untuknya. Rekah-rekah fajar yang mengingkari langit malam berbintang mengisi visinya dalam sekali pandang, diselipkannya helaian kecokelatan milik Mitsuba ke tepi cuping telinga—kemudian dirinya akan memandang wajah wanitanya begitu lama sampai waktu tertelan sedikit demi sedikit.

Kemudian di antara dekap-dekap kantuk yang masih mendera, Mitsuba perlahan mengerjapkan matanya sekali, lalu wanita itu akan tertawa geli begitu mendapati wajahnya tepat berada di hadapannya sampai Hijikata memalingkan wajah ke direksi lain, dan senyumannya akan terbentuk, lembut—"Kau membangunkanku, Toushirou-san," yang akan dibalas dengan kecup lembut di atas kening yang diinisiasi olehnya dan suguhan selamat pagi untuk memulai laju hari.

Mitsuba akan menyiapkan sarapan pagi selagi dirinya menyiapkan seragam Shinsengumi untuk dikenakan, kemudian wanita itu akan menanyakan keadaan Sougo yang dibalasnya sambil lalu, "Bocah itu masih seperti biasanya, kautahu, sadis, menyebalkan, dan kekanakan," dan Mitsuba akan tertawa pelan seraya menanggapi, "Sou-chan memang seperti itu."

"Dia masih mencemaskanmu."

"Aku sekarang bersamamu, Toushirou-san. Kau akan menjagaku, 'kan?"

"Hm."

Hijikata akan menyukai saat-saat ketika dirinya menyaksikan punggung kecil Mitsuba bergerak-gerak di hadapan kompor, suara ketukan ujung pisau dan harum masakan mengisi paginya dan Hijikata akan mengulas senyum teramat tipis ketika mendapati Mitsuba menyempatkan diri untuk mencuri tolehan kecil, tersenyum lembut. Mereka akan duduk berhadapan di meja makan, dan Mitsuba akan melebarkan matanya panik ketika mendapati Hijikata meringis saat mulai menyantap masakannya yang didominasi masakan pedas, "Kau tidak apa-apa, Toushirou-san?"—sampai Hijikata menambahkan mayones kesukaannya, dan Mitsuba tidak mengapa. Wanita itu akan mengulas senyum di ujung bibir ketika menyaksikan Hijikata menghabiskan sarapan paginya dengan begitu cepat, berkata dengan jujur bahwa masakannya lezat—"Aku suka masakanmu, tidak apa-apa. Ini enak."

Mitsuba akan melepasnya di pinggir ambang pintu ketika hari berangsur siang, merapikan kerah baju Hijikata yang sedikit terlipat dan menepuk pundaknya pelan, berkata selamat jalan—yang akan dibalasnya dengan anggukan kepala dan ujaran aku berangkat sebagai formalitas.

(Bila semua ini hanya buai mimpi, Hijikata tidak mau terbangun, sungguh.)

ii.

Terkadang Hijikata akan tertawa dan membayangkan hal ini;

ketika ia akan pulang terlalu malam dan mendapati Mitsuba akan menunggunya di depan dipan pintu rumah mereka yang begitu sederhana. Mitsuba akan membantunya melepaskan jas Shinsengumi yang dikenakannya, memakaikan yukata—menyiapkan teh hangat sampai mendapati dirinya tertidur begitu saja di ruang tamu dengan kepala bertumpu pada meja. Wanita itu beranjak meraih lembaran selimut dari kamar, menyelimuti tubuh Hijikata dengan perlahan—membisikkan selamat malam dengan suara teramat lirih.

Atau ketika Mitsuba menyambutnya pulang bersama dengan lengan mungil yang melingkari lehernya dengan gembira, wajah yang serupa dengannya—hanya dengan warna rambut sewarna dengan milik Mitsuba—yang akan berteriak riang ketika dirinya mengusap kepala bocah itu—"Apa kabar, jagoan?"—yang dibalas dengan ujar-ujar ceria penuh kepolosan, "Ayah, tahu tidak, hari ini aku mengalahkan Paman Sougo dalam pertandingan kumbang!" dan Mitsuba akan tertawa sebelum menyuruh mereka lekas masuk ke dalam rumah.

Mitsuba akan menyajikan makanan, dan mereka bertiga akan menyantapnya bersama. Dua piring penuh nasi berlumur mayones dan satu piring nasi yang dipenuhi bubuk cabai.

Mereka bertiga akan berbincang-bincang dengan pola pembicaraan apa saja—membentuk semesta kecil bersama;

karena mereka tidak pernah memiliki akhir.

iii.

Terkadang Hijikata akan terdiam dan membayangkan hal ini;

ketika ia menemukan Mitsuba, berada di hadapannya—membisikkan namanya dengan senyuman kuyu yang menyayat sembilu, "Toushirou-san."

(Hijikata tidak bisa menyelamatkannya. Tidak bisa.)

"... Aku hanya ingin wanita yang kucintai itu bahagia, itu saja."

Kue beras pedas itu tidak lagi berbentuk seperti seharusnya.

end.