teruntuk kalian makhluk-makhluk kelaparan yang kurang asupan
terima kasih sudah mau membaca hehe. Sudah kuduga kalian bakal review cuma buat nanya "anak siapa?!"
semoga kalian menikmati fic ini. kemarin agak berantakan dan pendek soalnya sudah kehilangan passion untuk membuat fic dengan kata diatas 5 ribu hohoho.
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih teman-temanku!
Darah
Chapter 2
Boboiboy memanggil ambulans dari Rumah Sakit Rintis. Dengan Yuu digendongannya, Boboiboy masuk ke dalam ambulans dan menemani Fang yang terbaring lemah di dalam mobil. Boboiboy tidak mengatakan apa-apa selama perjalanan. Yuu juga sangat patuh dan pendiam. Ia bahkan tidak protes pada Boboiboy yang terus menerus memeluknya seakan-akan Yuu sudah kehilangan kakinya.
Sebenarnya dalam hatinya, Yuu sangat senang diperlakukan seperti ini. Digendong oleh seseorang kemana pun dia pergi adalah sesuatu yang tidak pernah ia rasakan. Kalau berpergian jauh, robot transportasi akan mengantarnya dan itu jelas berbeda dengan kehangatan yang ia dapat dari Boboiboy. Jadi, dengan senyuman tipis, ia melingkarkan tangannya dileher Boboiboy dan menikmati perjalanannya.
Berbekal ingatan yang cukup kuat, Boboiboy mengisi formulir untuk Fang dengan lancar. Yuu berdiri di sampingnya dengan tangan menggenggam ujung jaket oranye Boboiboy. Beberapa suster yang melihat bahwa Yuu sangat manis dan berbeda tidak ragu untuk mencubit pipinya atau sekedar berjongkok dan mengajaknya mengobrol.
Setelah orang kelima pergi, Yuu melingkarkan tangannya pada pinggang Boboiboy dan membenamkan wajahnya pada perut Boboiboy. Yuu tidak mengatakan apa-apa dan tetap pada posisi itu sampai Boboiboy selesai dengan administrasi.
"Hei, ada apa?" tanya Boboiboy.
Yuu mengangkat kepalanya sedikit. "Semua orang mengatakan aku lucu."
Boboiboy terkekeh. "Itu kenyataan. Kamu memang lucu."
"Itu karena rambut dan mataku…"
"Lalu? Kau mau merubah warna rambutmu dan memakai softlens?"
"Eum…."
Melihat Yuu tengah mempertimbangkan pertanyaan Boboiboy, pria itu segera menangkupkan tangannya ke wajah Yuu dan mencubit pipinya. "Jangan macam-macam. Ini warna dari Ayahmu dan ini wajar. Semua orang sudah mengenal Fang sejak dulu jadi kamu tidak perlu khawatir."
Boboiboy melepaskan pelukan Yuu dan menggenggam tangannya. Boboiboy segera membawa Yuu masuk ke IGD dan menatap tirai yang tertutup dimana Fang tengah diperiksa.
Duduk dikursi kosong dengan Yuu dipangkuannya, Boboiboy menatap sekeliling ruangan. Hanya ada 3 tirai yang tertutup dan para suster dan dokter bergerak dengan cepat membawa peralatan dan kertas-kertas mereka.
Diantara kesibukan itu, pintu mendadak terbuka, tidak ada yang benar-benar memperhatikan dan hanya suster yang bertugas dimeja untuk pendataan yang menyempatkan diri untuk melirik sekilas.
"Selamat siang, Dokter Ying."
"En, selamat siang."
Boboiboy langsung menoleh ke belakang untuk melihati siapa yang masuk. Matanya terbelalak segera setelah ia mendapati kawan lamanya mampir ke IGD.
"Ying," panggil Boboiboy. Yuu turut menoleh dan meneliti perempuan berjubah dokter yang dipanggil Boboiboy.
"Oh! Boboiboy? Siapa yang sakit?" Manik birunya menangkap sosok anak kecil dipangkuan Boboiboy. "Anak…siapa?" Tak lama setelah itu ia hampir menjerit. "FANG?"
Melihat keterkejutan diwajah Ying, Boboiboy segera menurunkan Yuu dan berjalan menghampir Ying. "Ini anak Fang."
Ying mengerjapkan matanya. "Uh? Oh? Anak? Serius?"
"Kenapa…?"
"Kamu tidak berpikir ini adalah Fang yang terkena semacam senjata aneh?"
Yuu mengeryitkan alisnya. "Kenapa kamu bicara begitu soal Ayah?"
Boboiboy segera mengusap kepala Yuu. "Ini Ying. Dia temanku dan Ayahmu. Ying, ini Yuu, anak Fang."
Ying sedikit mengendurkan ekspresinya dan berjongkok di depan Yuu. "Hai, Yuu. Aku dokter Ying."
"Hai, dokter."
Ying menatap Yuu lalu menatap Boboiboy dan mengulang hal itu 3 kali. Setelah merasa cukup, ia berdiri dan mendekatkan diri pada Boboiboy. "Dia…tidak mungkin…denganmu 'kan?"
Boboiboy reflek menampar bahu Ying. "Sembarangan."
"Aiyah! Kau nih! Aku 'kan khawatir. Meski pun sangat mirip dengan Fang, dia ada miripnya denganmu haha. Oh iya, tunggu. Anak ini datang darimana? Apa Fang ada di sini?"
"Iya. Dia sedang diperiksa. Untuk sementara aku hanya tahu dia sedang lari dari perang."
Ying menatap Yuu. "Dia ke sini dengan anak ini?"
"Iya. Pesawatnya masih di taman. Ah! Aku harus mengurus pesawatnya."
Ragu-ragu, Ying bertanya, "dimana ibunya?"
Boboiboy agak terkejut dan tidak terpikir olehnya masalah Ibu Yuu. Dia menunduk dan bertanya pada Yuu. "Ah, Yuu. Dimana ibumu?"
Yuu menggeleng. "Tidak tahu."
"Apa kalian tidak kabur bersama?"
"Aku tidak ingat soal Ibu. Ibu menghilang pada saat aku berusia 1,5 tahun," jawab Yuu tenang.
Terkejut dengan ketenangan Yuu, Boboiboy mengusap rambut Yuu lagi untuk menenangkannya kalau-kalau Yuu hanya sok-sokan tenang diluar disaat hatinya penuh dengan kesedihan seperti Fang dulu.
Ying mengulum bibirnya dan menepuk pundak Boboiboy. "Aku bisa membantumu mengurus Fang. Kau urus pesawat Fang sana."
Boboiboy mengangguk. "Tentu. Terima kasih banyak, Ying. Maaf merepotkanmu."
Mempercayakan Fang pada Ying, Boboiboy segera memanggil taksi untuk pergi ke kedai. Dengan wajah penuh rasa bersalah, Boboiboy tersenyum kikuk pada Tok Aba yang sibuk membuat pesanan.
"Asalamualaikum, Tok."
"Wa'alaikumsalam. Ayo cepat bantu."
Boboiboy diam-diam memberi kode melalui mata dengan menggerakan matanya menuju Yuu beberapa kali. Tok Aba segera mengangguk dan kembali bekerja. Melihat pesawat ayahnya, Yuu segera melepas tangan Boboiboy dan berlari menuju pesawat Fang.
"Yuu, kamu punya kunciny?"
Yuu mengangguk dan mendekati pintu. Ia meletakkan tangannya diatas layar kecil disamping pintu.
Sebuah suara eletronik terdengar. "Mohon konfirmasi identitas."
Yuu segera mendekatkan wajahnya pada pemindai dan membiarkan pemindai bekerja. Setelahnya, ia berdeham kecil dan berkata, "Yuu anak kesayangan Fang."
"Identitas diterima. Selamat datang, Yuu." Pintu terbuka pelahan setelahnya.
Dibelakangnya Boboiboy sudah menahan tawanya. Yuu melihatnya dan mengeryit tidak suka. "Kenapa Paman tertawa?"
"Tidak apa-apa. Itu terdengar lucu hahaha…" Setelah menenangkan diri ia bertanya, "kenapa kamu memanggilku paman?"
"Karena Paman temannya Ayah."
Boboiboy tertawa kaku dan menepuk pundak Yuu yang mungil, mendorongnya masuk kedalam pesawat.
Yuu langsung membawa Boboiboy masuk ke kemudi. Meski Boboiboy juga hafal diluar kepala kondisi pesawat ini, ia membiarkan anak kecil di depannya menuntunnya masuk. Begitu mereka masuk, Boboiboy langsung disuguhi dengan deretan senjata yang digantung di dinding yang dulunya kosong. Manik madunya berbinar seiring dengan tangannya yang menyapu deretan senjata itu.
Yuu duduk dengan nyaman di salah satu kursi dan menggoyangkan kakinya. Ia mengikuti pergerakan Boboiboy yang mengeksplorasi isi ruang pribadi Ayahnya.
"Kau tidak pernah masuk ke sini?" tanya Yuu penasaran.
"Itu sudah 15 tahun yang lalu. Dulu ini hanyalah dinding kosong," jawab Boboiboy dengan suara yang lemah.
Yuu dengan bangga memukul dadanya. "Seumur hidupku aku selalu punya kesempatan untuk masuk ke sini dan melihat bagaimana Ayah mengubah tata letak barangnya." Yuu mendadak bangkit dari kursinya dan berlari ke salah satu sudut dan menunjuk sebuah bingkai foto yang tidak dapat diraihnya.
Boboiboy segera mendekat pada Yuu dan melihat bingkai foto itu. Senyum terulas dibibirnya.
"Kau lihat itu? Itu gambarku dan Ayah! Aku yang menggambarnya dan Ayah memajangnya!"
"Hmmm. Itu sangat bagus! Sangat indah. Yuu jago gambar, hm?"
Yuu mengangguk antusias. "Iya! Aku bisa menggambarmu juga!" Ia berlari ke lemari yang tertanam di dinding samping kiri pintu. Ia menyentuh dinding dan pintu lemari terbuka. Ia segera mengambil sebuah tas dan membawanya ke kursi.
Boboiboy berdiri di samping Yuu dan memperhatkan dengan seksama. Yuu mengambil sebuah buku gambar dan pensil warna. Ia menatap Boboiboy sebentar lalu mulai menggambar. Boboiboy membiarkan Yuu berkreasi sementara dia mulai mengoperasikan mesin.
Yuu terdiam sebentar dan menatap Boboiboy yang tengah memanaskan mesin. "Kau tahu caranya?"
Boboiboy tertawa kikuk. "Kau ingat kan. Aku orang TAPOPS."
"Benar juga…Tapi Ayah bilang ini pesawat khusus dan tidak ada duanya?"
Boboiboy tersenyum pada Yuu. "Selain orang TAPOPS, aku juga teman Ayahmu."
Melihat senyum yang bertolak belakang dengan alisnya yang agak menukik turun, Yuu sedikit bingung. Namun karena gambarnya belum selesai, ia hanya mengendikkan bahunya dan kembali mencorat-coret.
Boboiboy dengan lihai membuka peta dan mencari tempat untuk memarkirkan benda aneh ini. Setelah meneliti beberapa tempat, ia memutuskan untuk menyimpannya dulu di bekas markas A Du Du.
Warga yang sudah lama tidak melihat pesawat luar angkasa menatap langit dengan takjub. Boboiboy membalik topinya dan menurunkan lidah topinya untuk menyembunyikan wajahnya yang padahal tidak akan terlihat juga. Setelah sekitar 10 menit, mereka sampai di lapangan kosong dimana barang-barang elektronik rusak terbuang. Ia mematikan mesin dan kembali menggendong Yuu untuk membawanya turun.
Yuu memasukkan peralatannya ke dalam tas dan mendongak menatap Boboiboy. "Kita akan kemana?"
"Kedai Tok Aba."
"Apa yang dijual?"
"Coklat!"
Yuu menatap bingung pada Boboiboy. "Kau menjual bahan bakar?"
Boboiboy tertawa. "Kalian para makhluk diluar makhluk Bumi selalu berpikir coklat sebagai sumber energi. Di sini," Boboiboy mencubit ujung hidung mungil Yuu, "coklat itu dimakan."
Yuu mengusap hidungnya yang sedikit merah. "Apa itu enak?"
"Hmm! Sangat enak. Terutama milik Tok Aba. Terbaiiik."
"Aku mau coba!"
"Tentu. Tentu. Kau harus mencobanya!"
Berjalan kaki menuju kedai tentu saja memungkinkan mereka bertemu dengan orang yang dikenal. Boboiboy hanya bisa tersenyum pada pertanyaan tidak bermoral yang absurd dari para warga.
"Boboiboy? Tidak mengirim undangan pada kami dan sekarang pulang ke kampung membawa seorang anak?"
"Boboiboy! Haiya! Kau ni tak tahu malu ke? Anak sudah sebesar ini baru diakui?"
"Kenapa aku tidak punya kesempatan untuk melihat anak ini tumbuh? Huhuhuhu…"
"Hei, Boboiboy. Makcik mencari kau seharian dan kau malah membawa seorang anak. Tolong makcik buat kandang ayam ye. Rusak lah ni kandang ayam makcik."
Boboiboy tertegun begitu pula Yuu. Ia menunduk dan mengusap kepalanya canggung. "Anu, makcik…Boboiboy agak sibuk nih. Ada kerja di kedai."
Makcik yang identik denganmake uptebal itu nampak kecewa. "Aduh…kasihan lah ni ayam-ayam makcik."
Mendengar kata ayam, Yuu menjadi penasaran. Ia berusaha untuk menegakkan tubuhnya dan mengintip ke dalam pagar namun masih tidak terlihat. Ia bertanya pada Boboiboy dengan wajah polos. "Apa itu ayam?"
Makcik dan Boboiboy berkedip lambat karena bingung. Boboiboy bertanya ragu, "kamu tidak tahu ayam?"
Yuu menggeleng. "Ayah dan teman-temannya tidak pernah menyebutkan ayam."
Boboiboy pikir itu wajar karena mungkin di planetnya tidak ada ayam. Jadi ia mengangguk mengerti namun anggukannya harus membeku dengan kelanjutan dari kalimat Yuu yang ternyata belum selesai.
"Aku hanya diajari masalah negara serta beladiri dan tidak diajari soal binatang."
Makcik dengan wajah sedihnya melambaikan tangannya di depan wajah Yuu yang menurutnya menyedihkan. "Aduh, Boboiboy. Kamu ini jahat sekali mengambil masa kecilnya."
Boboiboy segera menggelengkan kepalanya. "Salahkan Ayahnya!"
"Siapa pula ayah die? Kejam sangat…Nah, bagaimana kalau makcik memberi tahu kamu soal ayam. Mau?"
Yuu mengangguk antusias. "Mau!"
"Tapi kamu harus minta Boboiboy memperbaiki kandang ayamnya, ya."
Yuu menatap Boboiboy penuh harap. Boboiboy yang tahu akan dieksploitasi hanya bisa mengangguk pasrah dan masuk setelah Makcik membuka pintu pagarnya.
Yuu turun dari gendongan Boboiboy dan menghampiri hewan berkaki dua disudut halaman. Ia berjongkok dengan penuh rasa penasaran dan menatapnya dalam diam. Boboiboy segera mengambil peralatan tukang dari Makcik dan mengumpulkan papan kayu. Ia memutuskan untuk membiarkan Yuu bermain sementara ia harus dengan cepat menyelesaikan kandang.
Makcik? Oh, dia sudah masuk ke dalam rumah dengan bedaknya.
Melihat Boboiboy tidak memberi informasi yang dia inginkan dan malah memantek paku, Yuu berinisiatif untuk membuka mukut terlebih dahulu.
"Paman. Ayam itu seperti apa?"
Boboiboy mengerutkan keningnya dan berpikir keras. "Hewan berkaki dua dan mempunyai sayap tapi tidak bisa terbang—aw! Hey, aku sedang memperbaiki kandangmu tahu!"
Siapa kira ayam-ayam itu mempunyai pendengaran yang tajam dan mematuk kaki Boboiboy mendengar pernyataan Boboiboy soal ayam tidak bisa terbang.
"Baik-baik! Ayam bisa terbang tapi hanya sebentar. Mereka tidak bisa terbang lama."
"Apa yang mereka makan?"
"Menurutmu?'
Yuu menyentuh dagunya dengan gestur berpikir keras. "Coklat?"
Boboiboy hampir memukulkan palu kekepalanya sendiri. "Ayam bukan power sphera, Yuu."
"Lalu mereka makan apa? Batu energi?"
"Bukan."
"Bunga energi?"
"Bukan."
"Bensin?"
"Bukan."
"Solar?"
"Bukan."
"Lalu apa?"
"Kau lihat benda seperti botol terbalik diujung sana?"
Yuu menoleh dan mengangguk.
"Di situlah makanan dan minuman mereka. Itu pakan khusus."
"Terbuat dari apa?"
"Hmm… masalah ini Paman tidak bisa menjawab."
"Apa itu seperti kantung makanan kering?"
"Sejenis."
"Apa ada lagi yang mereka makan?"
"Beras dan batu."
"Batu spiritual?'
"Sudah kubilang bukan…"
"Lalu batu seperti apa?"
"Batu biasa. Apa saja."
"Kenapa makan batu biasa?"
"Mereka tidak punya gigi—aw!" Seekor ayam mematuk Boboiboy. "Untuk mencerna makanan mereka butuh batu untuk menghancurkan makanan diperutnya."
"Hei, apa ini?"
Boboiboy menoleh kebelakang dan melihat Yuu berjongkok dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh cairan padat berwarna hijau kecoklatan di tanah. Seketika wajah Boboiboy berubah horor. "ITU KOTORAN AYAM!"
Yuu dengan polos menyentuhkan tangannya lalu menatap Boboiboy dengan pandangan, 'oh ya?'
Tersenyum lemah, Boboiboy bergumam, "terbaik…"
Boboiboy melempar palunya dan menuntuk Yuu untuk berdiri dan berjalan menuju keran terdekat. Ia membasuh tangan Yuu dengan air lalu berjalan masuk ke rumah Makcik untuk meminta sabun. Kembali setelah mengambil sabun dari kamar mandi, Boboiboy mencuci tangan Yuu dengan penuh perhatian sampai ia yakin tidak ada satu bakteri pun yang berani menempel pada tangan mungil Yuu yang halus.
Selama proses mencuci tangan yang membosankan itu, Yuu diam-diam menatap Boboiboy. Hanya bisa melihat dari wajah sang paman tidak sedarah, Yuu agak kecewa. Ia memerhatikan bagaimana alis Boboiboy menyatu dan manik madu yang terfokus pada tangan Yuu. Hidung mungil yang manis dan pipi yang sedikit gembul dan terlihat lembut. Bibirnya saling menekan dengan erat dan sedikit pucat dan kering.
Yuu tidak tahu kenapa. Tapi ia yakin ini mungkin yang ayahnya bilang dengan perasaan tak terlukiskan saat melihat wajah serius dari teman kecilnya Boboiboy.
Boboiboy mengeringkan tangan Yuu dengan jaketnya sendiri lalu berdiri. "Kamu jangan pegang apa pun dan menunggu lah dengan patuh. Aku akan segera menyelesaikan kandang lalu kita akan makan coklat."
"Oke."
Menghabiskan waktu hampir satu jam, Boboiboy akhirnya selesai dengan kandang dan membereskan peralatan tukang. Ia mengambil sapu dan membersihkan potongan kayu dan membuangnya. Yuu memperhatikan dengan penuh semangat dan mulai bertanya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Menyapu."
"Apa itu menyapu?"
Boboiboy mengedipkan matanya. "Kau…tidak tahu?"
"Tidak."
"Ini…kegiatan membersihkan kotoran, sampah, atau debu."
"Oh! Seperti memvacuum?"
"Iya. Seperti itu. Tapi ini menggunakan tenaga manusia."
"Manual?"
"Bisa dikatakan begitu."
"Tidakkah itu melelahkan? Lebih baik gunakan penyedot debu otomatis."
Boboiboy mengangkat tangan kanannya dan menaikkan lengan kaosnya, menunjukkan otot lengan atasnya yang samar lalu menepuknya. "Seorang lelaki harus tahu lelah untuk membentuk otot."
Yuu menatap Boboiboy dengan tatapan berbinar lalu tersenyum. "Ajari aku cara menjadi lelah!"
Boboiboy tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Kapan-kapan saja. Manusia yang lelah ini harus menyimpan energinya untuk berjalan ke kedai."
"Uh…"
Makcik keluar dari rumahnya dengan sebuah piring dan dua gelas yang dibawa diatas nampan. "Terima kasih banyak, Boboiboy! Ini makcik bawakan donat dan air."
Boboiboy yang sedang mencuci tangan mengangguk antusias. "Terima kasih kembali."
Yuu menatap donat itu dengan penuh tanda tanya. "Apa itu?"
"Ini donat lobak merah," jawab Makcik itu sambil berjongkok untuk menunjukkan makanan yang dibawanya.
"Lobak merah? Benarkan? Aku mau coba!"
Yuu dengan riang mengambil satu dan memakannya dengan gigitan kecil. Manik merahnya berkilauan ketika ia merasakan manis dari makanan tersebut. "Ini enak!"
Boboiboy menyahut. "Iyela! Donat lobak merah Makcik kantin memang yang terbaik."
Makcik tertawa kecil. "Kalau kau mau aku akan membungkuskan beberapa untuk kalian."
"Benarkah? Terima kasih banyak, makcik!"
Makcik menatap Yuu yang dengan mulut penuh dan bibir penuh krim tersenyum lebar tanpa rasa malu. Ia menepuk kepala yang dimahkotai rambut ungu dengan lembut. Beberapa saat kemudian ia terdiam dengan wajah kaget.
"Hei, Boboiboy. Ini…Fang yang maniak donat itu?"
"Ini anaknya makcik."
Makcik itu ber'oh'ria. "Kurasa Ayahnya lupa mengajarkannya bagaimana cara makan donat lobak merah favoritnya sendiri."
"Di tempatnya tinggal tidak ada donat lobak merah, lah, makcik."
"Ah macam tu. Kenapa kamu tak ajarkan?"
"Eh?"
"Kan makcik dah bagi resep."
"Ah, itu…"
"Tidak apa-apa. Jangan lupa pertemukan makcik dengan bocah donat itu! Dah lama makcik tidak melihatnya."
"Tentu, tentu."
"Kau sendiri. Tidak berminat untuk berkeluarga?"
Boboiboy tertegun. "Itu…"
"Temanmu saja sudah punya anak lucu begini. Mau sampai kau menunda?"
Boboiboy tersenyum kecil. "Aku masih menunggu seseorang."
Setelah memasukkan bungkusan donat ke dalam tas Yuu, Yuu dan Boboiboy meninggalkan Makcik dengan lambaian riang dari Yuu. Mereka berjalan kembali ke kedai dengan penuh semangat dan nyanyian dari Yuu.
"Hoi, Boboiboy! Kau kembali dari KL tak bilang-bilang!"
Boboiboy hampir menjatuhkan Yuu ketika mendengar suara dari belakangnya. Boboiboy dengan wajah marah berbalik dan menatap Gopal sengit.
"Kau ni! Jangan kagetin orang napa!"
Gopal ingin membalas tapi tatapannya teralih ke arah anak kecil dipelukan Boboiboy. "Kau….kau…."
"Apa?"
"Kau kembali untuk minta restu Tok Aba?"
"Tidak!"
"Astaga Boboiboy. Tidak masalah. Aku paham. Aku paham. Kita akan adakan syukuran untukmu. Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Cukup bayar hutangku pada kedai saja."
"GOPAL!"
Melihat bagaimana paman kecilnya sangat kesal pada pria coklat—maafkan author—di depannya, Yuu ikut marah. Ia menggembungkan pipinya dan menatap pria itu. "Jangan buat Paman marah!"
"Oh. Lihat bagaimana anakmu membelamu. Eh—paman?"
Boboiboy ingin memukul Gopal tapi Yuu ada di pelukannya jadi ia menahan diri.
"Fang?" Gopal mendekatkan wajahnya pada Yuu. "Fang berubah jadi kecil? HAHAHAHAHA. 15 tahun menghilang dan ketika kembali berubah jadi anak kecil HAHAHAHA."
"Jangan tertawakan ayahku!"
"Bukan..ini anak Fang."
Gopal menghapus jejak air matanya. "Fang? Punya anak? HAHAHAHA."
"Fang ada di rumah sakit sekarang. Ying sedang merawatnya…anak ini datang bersamanya."
"Siapa namamu, dik?"
Yuu, "Hmph."
"Namanya Yuu. Planet Fang tinggal sedang berperang dan mereka dalam pelarian."
Gopal baru saja ingin mengejek Fang dengan beberapa sindiran tapi tidak jadi saat melihat raut wajah Yuu berubah saat Boboiboy menyebutkan perang.
Gopal tersenyum jenaka dan mengusap rambut ungu Yuu. "Jangan sedih! Paman Gopal akan menraktirmu Hot Chocolate Special Tok Aba!"
"Jangan sampai aku yang harus mengeluarkan dompet ya, Gopal…"
