"hah….hah…Dimana ini?"
.

.

Digimon : Digital Destiny

Disclaimer : Akiyoshi Hongo

By: XVLove

Genre: fantasy, adventure, frienship

Warning: OC, typo, dan kekurangan author lainnya.

.

Chapter 1

Stronger

.

Langkah kaki terus terdengar melangkah melintasi jalanan, terlebih di kota besar dan sibuk seperti Tokyo ini. Tak ada yang bisa menghentikan langkah-langkah itu ketika ia sudah bergerak dari rumah hingga sampai ke kantor mereka, tidak juga ketika langkah itu kembali bergerak kerumah. Naluri manusia mereka telah lama membaur dengan norma dan aturan hidup yang telah dirancang oleh siapa, terlalu lama hingga sang naluri sendiri lupa siapa dia sesungguhnya. Lupa? Mungkin tidak juga, lebih tepatnya mereka terlalu sibuk, sibuk dengan "hidupnya" masing-masing hingga tak sempat untuk duduk dan memikirkan hal-hal "bodoh" sejenak. Karena menurut mereka, hal-hal "bodoh" hanyalah untuk anak-anak.

"Oii… apa yang sedang kau lakukan disini… haa?"

Seorang anak kecil memadang bengis tiga anak didepannya yang memasang seringaian jahil dan jahat, seringaian yang biasa dikeluarkan anak-anak saat ingin mengerjai anak lainnya. Anak itu tersudut di pagar sebuah taman yang diibaliknya adalah sebuah hutan yang akhir-akhir ini menjadi sedikit "terkenal".

"Hei jawab boss kami!" Bentak salah seorang anak lainnya yang menggunakan topi sambil menjambak rambut spiky si anak kecil yang terlihat sangat mencolok.

"Kau mau kami lempar kebelakang hutan itu ha!? Biar kau dimakan serigala-serigala itu!" Kata seorang anak yang berkelebihan beban untuk anak seumurnya.

"Coba saja! Aku tidak takut! Aku akan menghajar wajah kalian satu-persatu!" Si anak kecil berambut spiky mengepalkan tangannya seperti orang yang ingin berkelahi. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menahan kakinya agar tidak gemetaran.

"Heh, berani sekali kau berteriak kepada kami! Ayo kita berikan dia pelajaran." Titah si anak yang paling tinggi.

Tak berselang lama, si Spiky itu terkulai lemah di hadapan tiga anak yang sedang tertawa puas bak serigala yang telah mendapatkan mangsanya.

"hahaha… inilah akibatnya kalau kau melawan kami." Kata si Gendut.

"Hei! Kemari kalian aku masih belum selesai!" Ketiga anak itu awalnya ingin berbalik untuk pulang tapi langkah mereka langsung terhenti ketika si Spiky kembali menantang mereka.

Anak yang paling tinggi memandang kesal ketika anak yang mereka hajar barusan berusaha untuk berdiri.

"Anak ini!" Geramnya. Ia dan teman-temannya kembali mendekati anak itu untuk menghajarnya, lagi.

Sungguh disayangkan untuk ketiga anak berandalan itu karena langkah mereka harus terhentikan saat sebuah suara muncul dari semak-semak di belakang pagar. Mereka memandang takut ke arah tempat berasalnya suara.

Di balik semak-semak, tampak sesosok makhluk pendek dengan matanya yang bersinar. Hujan tiba-tiba turun dengan lebat disertai dengan petir, si Spiky tidak ingat sejak kapan awan-awan mendung itu ada dilangit. Meskipun cuaca buruk membuat pandangannya kabur, akan tetapi ia masih dapat melihat tangan besar berwarna biru makhluk itu.

"S-serigalaaa!" Teriak si Gendut berlari diikuti oleh dua temannya.

Si Spiky, dengan wajahnya yang babak belur, menguatkan kakinya untuk berlari. Menurutnya mati di tangan ketiga anak tadi lebih baik dari pada mati dimulut serigala, karena kalau yang membunuhnya manusia, ia bisa menuntutnya kepenjara atau paling tidak menghantuinya. Kalau serigala? Orang waras mana yang mau menuntut serigala! Ia berlari sekuat tenaga menjauh dari situ.

.

"Ryusuke! Kamu berkelahi lagi!?"

Ya, itulah namanya. Ryusuke Yatogami, seorang anak laki-laki yang baru saja menginjak kelas 3 SMP. Kulitnya berwarna tan dan rambut coklatnya ditata dengan model spiky. Tapi kali ini penampilan anak itu juga dihiasi oleh aksesoris yang bernama "luka" disana-sini.

"Ya sudah, sekolah akan mentoleransi masalahmu kali ini, tapi jika sampai kau berkelahi lagi, kami akan memanggil orang tuamu kemari. Sekarang lebih baik kamu cepat pulang."

"Ha'i, Sakura-sensei." Kata Ryusuke pada wanita yang sedari tadi memarahinya, lalu pergi melangkahkan kakinya menuju rumah.

Rumah… Ia sangat membenci tempat itu. Bukan karena rumahnya jelek, apartemennya mungkin memang bukan rumah impiannya, tapi rumahnya tidaklah jelek. Ada hal lain yang ia tidak inginkan disana, kedua orang tuanya. Pikiran itulah yang selalu membuat tangannya berpikir ulang untuk membuka pintu, walaupun pada akhirnya ia tetap membuka pintu kediamannya, dengan perlahan.

"Sudah cukup! Aku harus kembali berkerja!" Suara keras langsung menghampiri telinga Ryusuke beserta dengan tubuh yang menabraknya hingga ia terduduk dilantai. Pria, yang baru saja menabraknya, menatapnya sebentar sebelum kembali berjalan. Ryusuke melihat kepergian ayahnya sebentar lalu berdiri.

"Ryusuke! Kemana saja kamu baru pulang sekarang!?" Kali ini bentakan dari seorang wanita menghampiri telinganya saat ia memasuki rumah.

"Seorang ibu seharusnya lebih mengkhawatirkan luka ditubuh anaknya daripada dari mana anaknya yang sudah jelas - jelas dari sekolah!" Kata Ryusuke pada ibunya dengan suara yang keras dan langsung berjalan menuju kamarnya.

Ia melemparkan tubuhnya keatas kasur. Ia benar-benar lelah dengan semua orang di sekelilingnya.

Sejenak pikirannya kembali melayang kepada makhluk yang dilihatnya tadi. Ia penasaran dengan serigala—tidak, entah makhluk apa itu. Ia sangat yakin makhluk itu bukan serigala karena serigala tidak memiliki tangan.

Sebenarnya saat ini ia sangat penasaran tapi tubuhnya terlalu lelah saat ini, bahkan untuk berpikir, jadi ia memutuskan untuk tidur saja.

Beberapa hari telah terlewati semenjak perkelahiannya, namun ketiga anak itu masih saja berusaha mencari kesempatan untuk menghajarnya. Untung saja ketika disekolah, mereka tidak bisa menyentuhnya karena guru-guru, terutama Sakura-sensei, selalu bersamanya saat istirahat. Dan saat proses belajar mengajar telah selesai, Ryuusuke akan langsung pergi ke hutan, berusaha untuk mencari makhluk yang "menolong"-nya. Terbsit sejenak perasaan kecewa di dadanya saat ia melihat luka-luka ditangannya yang mulai menghilang.

Tak terasa kedua kakinya telah sampai di depan pintu itu, ia sengaja pulang cepat hari ini karena ia harus mempersiapkan perjalanan panjang yang telah ia rencanakan untuk malam ini. Ia berencana untuk mencari makhluk itu semalaman penuh! Ayahnya pasti akan pulang larut setiap malam weekend karena ia harus minum-minum dengan boss dan rekan kerjanya; ibunya selalu tidur lebih cepat malam ini karena ayah pasti sudah bertengkar dengannya sebelum ia pergi minum.

Seperti dugaannya, ia dapat dengan mudah menyelinap keluar rumah malam ini, salah sendiri ibunya menyimpan kunci rumah dimeja dapur. Dengan tenang ia berjalan menuju taman tempat ia dihajar sampai babak belur, ia benar-benar serius saat mengatakan ingin mencari makhluk tadi. Untuk apa? Entahlah, mungkin berterima kasih.

Ia tidak tau kenapa, diantara banyaknya hal yang bisa ia pikirkan, ia harus memikirkan kedua orang tuanya. Ia selalu bingung kenapa ayahnya selalu pulang sebelum sore saat weekend—sebelum ia pergi minum dengan bossnya—padahal ayah pasti tau ibunya akan marah jika dia pergi minum. Anehnya, di hari-hari kerja ayah hanya pulang saat jam makan siang saja. Lalu ibu, masih saja mengajak ayah bertengkar padahal sudah jelas ayah tidak akan pernah mendengarkannya. Dan saat ayah pulang nanti, ibu pasti langsung memarahinya lagi dan pertengkaran kedua pun terjadi.

"Haah..." Memikirkan mereka hanya akan membuatnya gila. Atau mungkin dia memang sudah gila? maksudnya, ia mencari dan ingin meminta maaf pada makhluk yang belum tentu jinak dan bisa berbahasa manusia, sungguh gila! Tapi menurutnya menjadi gila lebih baik daripada harus diam di rumah itu.

Jalan menuju taman itu sedikit memasuki hutan yang akhir-akhir ini menjadi terkenal karena ada serigala di sana. Katanya sih serigala itu menyerang dua pejalan kaki yang kebetulan "nyasar" ke sana. Berita tentang mereka langsung menjadi trending topic se-distrik ini sehingga pengunjung mulai berkurang. Tapi dikarenakan polisi yang menyelidiki kasus ini tidak menemukan apapun yang berkaitan dengan serigala, bahkan jejaknya saja tidak ditemukan, mereka mengambil kesimpulan kalau kedua pejalan kaki itu diserang oleh anjing liar. Karena hujan yang terlalu lebat, mereka salah menyangka anjing liar itu sebagai serigala. Tapi tetap saja berita itu masih hangat dibicarakan.

Lamunannya terpaksa harus buyar ketika ia terduduk karena menabrak seseorang. Seharusnya ia tidak berjalan sambil melamun sesalnya.

"wah..wah..lihat siapa ini?" Tidak bisakah nasibnya menjadi lebih buruk dari ini.

Orang tersebut menyeringai dengan lebar bersama dua temannya. Menyesali nasibnya adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat ini. Orang yang beberapa hari yang lalu menghajarnya akan mengahajarnya lagi, ia bingung kenapa hidupnya sama sekali tidak bervariasi. Oh God, paling tidak biarlah preman-preman pasar yang menghajarnya, paling tidak ia bisa menuliskan sesuatu yang keren di nisannya.

Si Tinggi menarik kerah baju Ryusuke hingga ia terpaksa berdiri, tinggi Ryusuke hanya sampai sedagunya. Ia menarik tangannya yang telah terkepal kebelakang, mulai mengambil ancang - ancang untuk memukul Ryusuke, saat ia ingin memukul Ryusuke.

"V-mon Head!"

"AAGHHH" Teriak si Tinggi saat punggungnya dihantam dengan sangat keras. Ia sampai terjatuh, dan menindih tubuh Ryusuke.

"A-a-apa itu!" Teriak si Gendut lalu langsung pergi meninggalkan mereka. Tak sampai semenit berselang si topi juga menyusulnya.

"Aaghh pergi! Agghhhh!" Teriak si Tinggi sambil berlari menjauh, meninggalkan Ryusuke yang terpaku melihat makhluk didepannya.

"Se-sebenarnya kau ini apa?" Bukannya mengalirkan tenaga untuk berlari, otaknya malah mengalirkan kata-kata itu dari mulutnya.

Ia berusaha dengan sekuat tenaga menahan gemetar di kakinya saat makhluk itu berjalan mendekat.

"Aku? Aku adalah digimon!" Ia memandang makhluk biru yang berdiri dihadapannya itu dengan seksama. Seluruh tubuhnya tertutupi oleh warna biru kecuali bagian hidung hingga perut depannya. Mata merahnya tidak terlihat menyeramkan seperti di film-film vampire—selain "Twilight". Selain kedua telinganya yang berbentuk seperti topi penyihir, hidungnya yang bertanduk kecil dan pola kuning berbentuk "v" dijidatnya pun tak lepas dari kekaguman Ryusuke. Entah kenapa ia merasa familiar dengan makhluk itu.

Kata terakhir yang diucapkan oleh si makhluk biru terus terngiang di kepalanya, ia seperti pernah mendengar kata itu tapi dimana? Kapan?

"Halo... apa kau baik-baik saja?"

"Tentu saja tidak! Aku melihat makhluk yang belum pernah aku lihat sama sekali dan makhluk itu telah menyerang orang yang menyerangku sampai ia seperti anjing yang ditarik ekornya! Bagaimana mungkin aku bisa tenang!" Teriaknya sambil berusaha untuk bergerak mundur, tapi ia hampir tidak berpindah sesenti pun karena seluruh tenaganya menghilang.

"Aku melakukan itu karena mereka ingin berbuat jahat padamu, seperti beberapa hari yang lalu. Makanya aku tidak bisa tinggal diam waktu mereka mau memukulmu lagi!" Ucap makhluk biru itu semangat namun langsung berubah lesu ketika ia berucap, "Tapi kalau kau tidak suka, aku minta maaf."

Seolah dapat merasakan kesedihannya, Ryusuke bangkit dari duduk, dan mengelus kepalanya, membuat si Biru memandang Ryusuke bingung. "Maaf, seharusnya aku berterima kasih padamu, bukannya malah marah-marah" Ucap Ryusuke sambil tersenyum pada si Biru.

"Perkenalkan namaku Ryusuke Yatogami, panggil saja aku Ryusuke." Si Biru menyambut tangan Ryusuke dengan sangat gembira. "Aku V-mon, salam kenal!".

"V-mon, tadi kau bilang kalau kau tidak ingin berbuat jahat padaku, seperti beberapa hari yang lalu, jadi itu artinya makhluk itu kamu?" Tanya Ryusuke sambil memberikan jus kalengnya pada V-mon. Mereka berdua duduk di salah satu bangku taman.

"Iya!"

"Kau telah menolongku dua kali, terima kasih."

"Itu masalah kecil."

Cukup lama mereka terdiam, menikmati kesunyian malam itu yang terasa begitu nyaman untuk mereka berdua.

"V-mon, Kenapa kamu bisa disini?" Tanya Ryusuke memecah keheningan malam itu.

"Aku tidak tahu, seingatku waktu itu aku sedang bermain di hutan Folder Server, entah bagaimana caranya aku tiba-tiba nyasar ke hutan ini" Ryusuke cuma mengerti satu hal dari apa yang dikatakan V-mon, dia nyasar.

"AH! Sudah jam segini! Aku harus segera pulang" Ucapnya panik saat tidak sengaja melihat posisi jarum-jarum di jam taman. "Ung...V-mon, kau akan terus disinikan? Tidak apa-apa kan kalau aku datang lagi?"

"Aku akan menunggumu, Ryusuke! Aku janji!" V-mon mengacungkan jari jempolnya.

Ryusuke sangat senang mendengar itu. Padahal mereka baru saja bertemu tapi entah kenapa ia merasa sangat nyaman ketika berbicara dengan V-mon. "Syukurlah, sampai besok V-mon" Pamitnya lalu berlari pergi meninggalkan taman itu.

Apa yang telah terjadi malam ini terus memenuhi pikirannya sepanjang perjalanan pulang. Tentang keluarganya, tentang ketiga musuhnya, tentang pertemuannya dengan si makhluk biru yang bernama V-mon. Dahinya mengernyit ketika kata yang diucapkan V-mon melintas dikepalanya. "Digimon", entah kenapa ia merasa familiar dengan nama itu, seolah-olah ia pernah mengenal nama itu sebelumnya. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sampai tidak sadar kalau pintu rumahnya sudah berada di depan mata. Ia menarik nafas panjang lalu masuk ke rumah sambil mengendap-endap. Ia merapikan seluruh "perlengkapan"-nya agar tampak seolah-olah tidak tersentuh. Secepat mungkin ia berusaha masuk ke kamarnya tanpa membangunkan kedua orang tuanya, ia benar-benar tidak mau ada perang tambahan malam ini.

Ia membaringkan tubuhnya diatas kasur.

"Digimon", kata itu terus ia rapalkan di kepalanya, ia benar-benar merasa pernah mendengar kata itu. Dimana? Kapan? "AH!" Sebuah bohlam menyala diatas kepalanya, ternyata ia lupa mematikan lampu! #ditendang. "Aku ingat!" Ryusuke bangkit dari kasunya, dan mengambil sebuah kardus dari bawah kasurnya. Ia membuka kardu itu dan mengeluarkan seluruh isinya. "Dimana? Dimana?" Ucapnya sambil terus mengobrak-abrik isi kardus itu.

"Ini dia!" Ucapnya senang saat menemukan sebuah kartu. Ia memandang gambar di kartu itu dengan seksama; gambar seorang malaikat yang memiliki enam sayap dan pedang ungu. "Holyangemon" Gumamnya.

Kemudian ia mengambil sebuah gantungan kunci dari mejanya lalu memisahkan antara boneka dan gantungannya. Setelah itu ia membolongi bagian paling atas kartu itu, dan memasangkannya di gantungan. Ia memandang gantungan itu puas lalu memasangkannya di tas.

.

Ryusuke memandang langit dari balik jendela kelasnya. "Haah..." Entah sudah berapa kali ia menghelas nafas. Seharusnya ia menghabiskan waktunya bersama V-mon hari ini, seperti yang direncanakan tadi pagi. Sayangnya ia baru ingat kalau mulai minggu ini mereka mulai sekolah di hari-hari weekend karena sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian. Disinilah ia sekarang, diruang kelasnya yang hanya dihadiri oleh beberapa siswa saja. Tidak ada yang serius mengikuti pelajaran tambahan hari ini. jangankan muridnya, guru-guru saja tidak serius mengajar mereka.

Biasanya bel istirahat adalah hal yang paling ditunggu-tunggu olehnya, tapi sekarang, mendengarnya saja malas. Mau apa dia saat istirahat? Jangankan makanan, bahkan penjaga kantin saja tidak ada! Jadilah sekarang ia terjebak diruang kelas dengan perut keroncongan bersama beberapa murid yang juga memilih untuk diam disana.

"Yo, Ryusuke. Aku dengar kau berkelahi lagi kemarin." Ucap seorang pria yang tiba-tiba duduk bangku di hadapan Ryusuke.

"Aku malas mebahasnya. Akira, Ada yang lebih penting dari itu!" Ryusuke menatap Akira, sahabat sejak kecilnya, antusias, "Akira kau tidak akan percaya dengan apa yang aku alami kemarin"

"Memangnya ada apa?"

"Kau masih ingat dengan Digimon?" Tanya Ryusuke

"Digimon...? Oh maksudmu anime yang sering kita tonton waktu kecil? Memangnya kenapa?"

"Jadi Kemar-"

Ryusuke tidak dapat menyelesaikan kalimatnya karena terpotong oleh suara bel yang menandakan pelajaran selanjutnya akan segera dimulai. Murid-murid lainnya lanngsung berhamburan kembali ketempat duduk mereka masing-masing.

Tak berselang lama, guru matematika mereka masuk, "Haahh... Pasti akan membosankan." Gumamnya pelan. Padahal pelajaran belum dimulai tapi sudah bosan merasa bosan. ia tidak sabar menanti bel pulang sekolah.

Karena sepertinya ia akan mati kebosanan jika ia tetap diam di sekolah beberapa menit lagi saja dan didukung oleh ketidakhadiran sang guru pelajaran terakhir, disinilah ia, di tempat pertemuannya dengan V-mon kemarin, mencari makhluk yang baru semalam menjadi teman barunya. Ia sudah mencarinya keseluruh taman ini bahkan sampai di ke tempat ia dihajar kemarin pagi, namun tidak juga menemukannya. Ia heran kemana perginya makhluk biru itu. Ia terus mencarinya hingga tubuhnya tidak sengaja menabrak seseorang hingga ia jatuh terduduk. "Wah.. Wah.. Lihat siapa ini?" Sepertinya tuhan sangat tidak ingin mengabulkan permintaannya, walaupun hanya sekedar memberikan variasi dalam hidupnya.

Ia menatap orang yang ditabrak tadi—yang juga merangkap sebagai orang yang menghajarnya pagi kemarin dan orang yang ia tabrak dan hendak menghajarnya kemarin malam—sepertinya tuhan benar-benar tidak peduli padanya. Kalimat itu mengalir pasrah di kepalanya saat Si Tinggi menarik kerah bajunya.

"Aku akan membalas kejadian semalam!" Teriak Si Tinggi tepat didepan muka Ryusuke, dan langsung memukul perutnya hingga ia jatuh terbatuk ditanah. Si Tinggi kemudian menendang Ryusuke hingga terbaring di tanah. Tidak mau kalah Ryusuke bangkit lalu memukul wajah Si Tinggi dan langsung menendang perutnya. Namun Ryusuke tau, hasil dari perkelahian ini tidak akan pernah berubah. Si Tinggi tidak akan menjadi bos anak-anak nakal sekolahnya tanpa sebab. Karena itulah ia hanya bisa pasrah terbaring ditanah dengan wajah yang babak belur sambil perutnya terus ditendang.

"Heh... Rasakan itu, kau seharusnya tidak mencari masalah denganku!" Ucap Si Tinggi sambil terus menendangnya. "Rasakan ini!" Teriak anak itu saat ingin menendang Ryusuke dengan sekuat tenaga.

" V-MON HEAD"

"AGGGHHH" Ryusuke tersenyum saat melihat V-mon menanduk Si Tinggi hingga terjatuh tersungkur di tanah.

"V-mon!" Teriaknya bahagia saat V-mon membantunya berdiri. Mereka saling tersenyum satu sama lain. Ryusuke menggepalkan tangannya dan mengarahkannya ke makhluk biru itu. V-mon, yang mengerti maksud Ryusuke, membalas dengan meninju pelan kepalan tangan Ryusuke.

"Kau! Akan kuadukan ke ibu!" Mereka menatap Si Tinggi yang kini telah berdiri, ia terlihat sangat kesakitan dan hampir menangis. Mereka berdua tertawa-tawa saat melihat anak itu berlari seperti anjing yang habis ditendang.

"Terima kasih, V-mon. Kau menolongku lagi."

"Ou! Kinishinaide! Kalau Ryusuke sedang kesusahan dan tidak bisa berbuat apa-apa, aku pasti akan menolongmu!" Ucap V-mon dengan semangat, dan mengacungkan jempolnya. Kalimat itu, tanpa V-mon sadari, menorehkan sebuah kata kedalam hati Ryusuke, "Lemah". Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya.

Tapi pikirannya itu langsung menghilang saat ia mendengar suara aneh berasal dari V-mon, yang kini tengah memegang perutnya malu. "Hehehe... Maaf Ryusuke, apa kau punya makanan?"

"Kau ini..." Ia ingin mengambil roti yang ia beli saat berangkat sekolah tadi dari tasnya, tapi tangannya tidak menemukan apapun saat menggapai punggungnya.

"Disekolah." Gumamnya malas.

"Apa?"

"Tidak apa-apa. V-mon aku akan kesekolah sebentar untuk mengambil makanan, kamu tunggu di sini ya aku akan segera kembali." Ryusuke langsung berlari meninggalkan taman itu.

Ryusuke sangat bersyukur karena ia sampai di sana saat waktu pulang. Awalnya ia sempat khawatir bagaimana caranya sampai ke kelasnya, di lantai dua, tanpa ketahuan guru-guru yang ada di ruang guru—di sebelah tangga—untunglah ia sampai di waktu yang tepat. Ia menyelinap diantara kumpulan para murid yang tengah pulang, dan langsung berlari ke kelasnya.

"Sekarang tinggal kembali ke taman." Ryusuke langsung mengambil tas dari bangkunya, dan berjalan keluar.

"RYUSUKE!" Langkah kakinya berhenti saat melihat guru yang memarahinya kemarin berdiri di hadapannya. Ryusuke dapat melihat kerutan-kerutan didahinya, dan matanya... Ryusuke tidak ingin melihat matanya.

"Sakura-sensei... ada apa?" Tanya Ryusuke dengan gelisah. Sakura terlihat sangat menyeramkan saat ini, belum lagi ia harus memberi makan V-mon.

"Keruang guru. SEKARANG!"

"Tapi-"

"Tidak ada tapi-tapian."

Ryusuke yang ridak mau memperpanjang masalah, dan takut dengan tatapan tajam gurunya, melangkahkan kakinya menuju ruang guru, Sakura berjalan mengikuti di belakangnya. Ia harus memberi makan V-mon segera, itulah satu-satunya hal yang ada dikepalanya.

"Ryusuke! Kamu benar-benar membuat kami malu! Bukannya belajar, malah pergi untuk berkelahi!" Ia ingat, ia pernah berkelahi saat sd hingga akhirnya ia dipanggil keruang guru, disana ayahnya menamparnya. Sekarang pun tak jauh beda dari saat itu. Ryusuke memandang kedua orang tuanya, yang tengah menatapnya marah, malas. Mereka hanya akan memerhatikannya jika seperti ini saja.

Barusan sekolahnya mendapatkan laporan dari salah satu orang tua siswa yang mengaku kalau anaknya di pukuli oleh Ryusuke sampai-sampai ia trauma dan berhalusinasi melihat monster. Sejujurnya, ia merasa lucu jika mengingat kalau anak yang mengadu ini adalah bos dari anak-anak nakal disekolahnya.

"Ini semua pasti gara-gara kamu yang tidak becus mengurusi anak dirumah!" Ucap ayah Ryusuke sinis sambil menunjuk ibu Ryusuke.

"Apa!? Kau seharusnya mengatakan itu pada dirimu sendiri! Kalau saja kau punya waktu paling tidak untuk mengurusi Ryusuke dan mengajaknya bermain disaat aku tidak ada! Dia tidak aka jadi anak nakal seperti sekarang ini!" Ibu Ryusuke membalas dengan tidak kalah kerasnya.

"Mohon maaf ibu dan bapak, anda tidak seharusnya bertengkar. Kita disini untuk membahas tentang Ryusuke, bukan untuk saling menyalahkan satu sama lain. Kita harus menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin." Ucap seorang wanita yang sudah agak tua, kertas dengan tulisan "kepala sekolah" berdiri di atas mejanya. Wanita itu menggerakan tangannya, mempersilahkan ayah dan ibu Ryusuke untuk duduk disofa.

"Jadi, Ryusuke apa ada sesuatu yang ingin kau katakan mengenai laporan itu?" Kata wanita itu yang duduk di kursi kepala sekolahnya.

"Aku..." Ryusuke menundukkan kepalanya. Ia tersenyum. Ia pasrah. Ia lelah. Ia menyerah.

"Aku hanya ingin mengatakan satu hal. BISAKAH KALIAN BERHENTI!? AKU SUDAH MUAK DENGAN SEMUA INI! KALIAN SALING MENYALAHKAN SATU SAMA LAIN TAPI TIDAK MAU DISALAHKAN! AKU SUDAH MUAK DENGAN SIKAP KALIAN SEMUA!" Mereka semua kaget saat Ryusuke yang tiba-tiba berteriak marah. Ia berlari meninggalkan ruangan itu, tidak peduli pada orang tua dan gurunya yang memanggil namanya.

Ia terus berlari hingga ia tiba di taman. Dengan terengah-engah, ia melihat kesekelilingnya, berusaha mencari V-mon, namun tidak menemukannya dimanapun. Ia terus mencari makhluk itu dengan susah payah karena sang cahaya sudah menghilang dari langit.

"V-mon!" Ryusuke terus mengelilingi tempat itu sambil memanggil namanya hingga ia mendengar sebuah suara hantaman. Tanpa buang-buang waktu lagi ia langsung berlari kesana, dan benar saja, ia menemukan V-mon di lapangan taman itu. Anehnya V-mon tidak sendiri, ia bersama dengan makhluk lain, bentuk tubuhnya seperti anjing, bulunya berwarna biru, kepalanya seperti kucing, kuku-kukunya besar dan panjang, dan telinganya panjang dan berbulu lebat.

"V-mon." Teriak Ryusuke yang berlari kearah V-mon.

"Jangan kemari!" Ryusuke menghentikan langkahnya, melihat V-mon yang penuh dengan luka dan juga kelelahan.

"Kalau hanya satu Gazimon, Aku pasti bisa mengahadapinya sendirian!" Ucap V-mon sambil tersenyum dengan percaya diri.

Gazimon berlari menerjang V-mon, tapi ia berhasil menghindar dan memukul Gazimon yang juga kelelahan hingga terpental. Dengan lincah, Gazimon langsung berbalik, menerjang, dan menggigit tangannya.

"V-mon!"

"Aku tidak apa-apa!" V-mon menarik telinga Gazimon, dan melempar makhluk itu kedepannya, "V-MON HEAD."

Gazimon terlempar hingga menabrak pohon. Perlahan, tubuhnya terurai di udara. Melihat itu, V-mon langsung mengacungkan jempol kearah Ryusuke dengan senyuman yang bahagia. Tanpa mereka sadari, Gazimon lain, yang sedari tadi mengamati mereka dari semak-semak, langsung berlari menerkam Ryusuke. Melihat hal itu, V-mon langsung berlari sambil mengayunkan lengannya, dan berteriak,

"Ryusuke, menghindar! Boom Boom Punch."

Untunglah Ryusuke memiliki reflek yang bagus sehingga ia dapat menghindar, dan serangan V-mon mengenai makhluk itu telak. "Ryusuke mundurlah, makhluk itu membawa temannya!"

"Tapi kau kan-"

"Aku sudah bilangkan aku akan melindungimu disaat kau kesusahan! Lagi pula, kau tidak bisa melawannya kan." Ia tidak terima dengan ucapan V-mon, tapi ia tidak bisa menyangkalnya karena memang apa yang dikatakannya itu benar. Ia hanya bisa memandang temannya berkelahi dari jauh tanpa bisa berbuat apapun.

"V-MON HEAD." Gazimon berhasil menghindari serangan itu, dan membalasnya dengan mencakar V-mon sampai ia terpukul mundur.

Gazimon menarik nafas panjang, "PARALYZE BREATH !" Ia menghembuskan nafas beracun, tepat mengenai V-mon. Serangan barusan tidak hanya menyakitkan, tapi setelah itu nafasnya seperti dihambat dan tubuhnya sangat sulit untuk digerakan. Ryusuke ingin sekali berteriak saat melihat Gazimon yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menyerang V-mon, ingin sekali menolongnya. Jemarinya terus terkepal saat menyadari betapa tak berdayanya ia saat ini.

Tidak bisa melakukan apa-apa, selalu kalah saat berkelahi, selalu membuat masalah, dan hanya bisa bergantung pada pertolongan orang lain. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menyusahkan orang lain, bahkan teman yang baru ditemuinya. Teman...? Iya, ia emang sudah menganggap V-mon sebagai teman sejak mereka pertama bertemu. Ia tidak tau kenapa, disaat seharusnya seorang anak-anak takut dan menjauh saat melihat makhluk yang tidak diketahuinya, Ryusuke malah mendatangi makhluk itu. Ia merasa ada sesuatu di dalam diri V-mon yang menariknya untuk bertemu dan mengenalnya. Tak butuh waktu lama untuk rasa ingin "bertemu dan mengenal" itu berubah menjadi rasa "menemukan kepingan yang hilang". Oleh karena itulah, ketika ia melihat V-mon tidak berdaya seperti sekarang ini, ketika ia sangat ingin menolong temannya itu tapi tak mampu, ketika yang ia bisa lakukan hanyalah berdiam dan menatap, ia ingin menjadi lebih kuat. Untuk melindungi V-mon ketika ia tidak berdaya, ketika ia tidak sanggup menghadapi musuhnya, ia harus menjadi lebih kuat!

Ryusuke mengambil salah satu tong sampah disitu dan memukul Gazimon, yang menindih tubuh V-mon, hingga terpental.

"Ryusuke!"

"Mana bisa aku diam saja saat temanku dalam bahaya!" Teriaknya lantang kearah Gazimon yang kembali bangkit.

Gazimon berlari kearah Ryusuke, hendak mencakarnya, tapi berhasil ditangkis oleh Ryusuke dengan tong sampah tadi. Sayangnya, Ryusuke tidak mampu menghindari Gazimon yang langsung melesat, dan menggigit tangannya sampai ia menjatuhkan tong sampah yang ia pegang. Gazimon, kini telah berdiri diatas tubuhnya, menggeram tepat didepan mukanya.

"Ryusuke!" V-mon berusaha menggerakkan tubuhnya dengan sekuat tenaga, tapi sepertinya efek mati rasa dari racun Gazimon tidak menunjukkan pertanda akan menghilang. Tapi ia tidak menyerah. Ia mengerahkan seuruh tenaganya hingga ia berhasil berlari kearah Gazimon meskipun dengan susah payah. Gazimon yang melihat itu juga langsung berlari kearah V-mon sambil menarik nafas panjang.

"V-MON HEAD!"

"PARALYZE BREATH!"

Paralyze breath yang mengenai tubuh V-mon tidak mampu menghentikan serangannya. V-mon Head mengenai Gazimon telak, membuat digimon itu langsung terurai di udara. Ryusuke merasa sangat lega ketika Gazimon menghilang, namun kelegaannya itu langsung menghilang ketika V-mon jatuh. Ryusuke langsung berlari kearahnya, dan membaringkan kepala V-mon dipangkuannya. Ia sangat khawatir dengan keadaan V-mon sampai-sampai tidak menyadari mendung beserta petir yang menghiasi langit dan lampu-lampu taman yang semula menyala mulai mati-hidup.

"V-mon kau tidak apa!?"

"Aku tidak apa, Ryu-suke."

"Bagaimana mungkin kau tidak apa? Kau terluka parah! Apa yang harus aku lakukan V-mon!"

"Ti-dak apa Ryusuke." V-mon menarik nafas dalam sebelum melanjutkan perkataannya, "Ryusuke bolehkah aku bertanya sesuatu?"

"Jangan memaksakan dirimu untuk bicara, nanti kamu tambah parah." Lirihnya. Rasa takut dan sesal terus menjalar di jantungnya.

"Ryusuke, apa perkataanmu tadi serius?"

"Yang mana?"

"Kalau aku adalah temanmu?"

"Tentu saja! Kau adalah temanku V-mon! Temanku yang berharga! O-oleh karena itu bertahanlah aku akan berusaha menolongmu! Aku akan membawakan obat untukmu-tidak! Aku akan membawamu kerumah sakit! Lalu setelah itu kita bisa bermain lagi! Kita akan terus bermain! Kau dan aku akan menjadi sahabat selamanya!"

"Ryusuke, terima kasih. Bisa menjadi temanmu, aku sangat bahagia." Cahaya memancar dari tubuh V-mon, entah kenapa ia merasa kalau ini bukan pertanda baik.

"V-V-mon..." Lirihnya tanpa memerdulikan suara petir bak perang antara meriam-meriam di medan perang. Lampu-lampu taman semakin beringas memati-hidupkan cahayanya, angin yang semula sepoi-sepoi kini bertiup dengan sangat kencang, dan tak jarang kilat menyambar hingga mengenai tanah ditempat itu namun tidak meninggalkan bekas tebakar.

"V-mon..." Matanya mulai merasa panas, "V-mon..!"

"V-MON!" Teriaknya saat kaki V-mon mulai menghilang. Setetes air mata telah berhasil lolos dari matanya, diikuti oleh air mata-air mata lainnya.

"Kalau saja aku lebih kuat, aku pasti tidak akan kalah oleh mereka." Kalimat itu terus terngiang di kepala Ryusuke begitu keras sampai-sampai ia tidak menyadari rambutnya kini telah berantakan karena angin yang terus bertiup semakin kencang.

"Kalau saja aku lebih kuat, aku pasti bisa melindungi diriku sendiri." Tangannya menghilang.

"Kalau saja aku lebih kuat, aku pasti bisa hidup sendiri tanpa harus bergantung pada mereka." Badannya menghilang.

"Kalau saja aku lebih kuat! V-mon pasti tidak akan berakhir seperti ini." Lehernya menghilang.

"Kalau saja aku.."' Airmata terus mengalir dari pipinya saat kata-kata itu berjalan di kepalanya. Kilat menyambar semakin ganas di sekitarnya, pohon-pohon terayun kesana-kemari terbawa oleh hembusan angin, dan cahaya mulai memancar dari tanah di sekitarnya.

Ryusuke sekuat tenaga sambil memeluk sisa-sisa kepala V-mon kuat, "LEBIH KUAT!" Teriaknya tepat sebelum lambang v dikepala V-mon menghilang. Cahaya terang benderang muncul dan menjulang tinggi sampai kelangit. Mereka hilang di dalamnya seolah-olah cahaya itu menelan mereka.

.

.

TBC

.

"Tolong."

"Dear Elvin,..."

"Ikutlah denganku."

"Bawa aku!"

Next Chapter : "A Bird in a Cage"