Yo..minnacchi! Sesuai janji kyo yang abis hiatus, kyo lanjutin deh ceritanya! Sempet bersemedi dulu buat dapet pencerahan dan akhirnya dapet juga… Gak Cuma itu doang, kyo mesti bolak-balik nyari software anti blok karena internet kyo fanfictionnya di blok jadi yah lama deh -_-" plus ngebut juga biar chapter 2 nya diupdate pas ulang tahun Kise-chan! Otanjoubi Omedetou Ki-Chan! oh iya sebelum lanjutin cerita kyo mau bales review dari reader-tachi dulu. Yukari daftarnya! (yukari:iya, nih.. )

LalaNur Aprilia : he… kyo tadinya juga kasian ama ki-chan kok… pengen banget bunuh yang buat ki-chan kayak gitu! (yukari: dia yang buat,dia yang kesel *ngedumel gak jelas*). Pasti update kok…tenang aja Lalacchi!

Aoyama Akiyoru : yep! Bener banget Aocchi, GoM itu kerja, kalo masih SMA susah mikir ceritanya hehehe… Kalo soal ide itu... hehehe tenang… nanti kyo urus masalahnya…*senyum senyum gak jelas* (yukari: ho, ada maksud tertentu tuh!)

Humusemeuke: udah kok…dilanjutin nih… makasih udah baca!

Yosh! Sekarang kyo lanjutin ceritanya. Happy reading minna!


Otou-san is my nightmare

.

.

.

Disclaimer:Kuroko no Basket © Fujimaki-sensei

Warning: OOC, bahasa sedikit kepeleset, typo, dll

.

.

.

Enjoy!

Chapter 2

Kini keadaan anak itu kembali tenang, walau isak tangis masih terdengar dari mulutnya. Keadaan yang memprihatinkan, membuat anak itu kelihatan… ah,bahkan sangat susah untuk dijelaskan. Kuroko masih sesekali mengelus kepala anak itu untuk menenangkan anak itu. Setelah dirasa keadaan kembali kondusif, Akashi memutuskan untuk bertanya pada anak itu.

"hei,dik. Siapa namamu?" Tanya Akashi lembut –takut membuat anak itu menjadi ketakutan jika bertanya dengan nada intimidasi-.

"Ryota, Ki-kise Ryota, hiks…"ucap anak- maksudnya Kise.

Keadaan kembali sepi, yang terdengar hanya sesegukan dan isakan dari Kise. Mereka bingung apa yang harus mereka katakan karena memang mereka bingung apa yang harus dibicarakan. Bahkan, Kagami dan Aomine yang biasanya blak-blakan saja bingung harus berbuat apa. Jam dinding mulai berdentang dan mengisi kesunyian yang masih setia menemani mereka. Kuroko yang menyadari bahwa hari sudah malam mengendong Kise yang masih terisak.

"Akashi-kun, sekarang sudah larut dan anak ini harus tidur. Kita tidak bisa bertanya masa lalunya jika keadaannya saja seperti ini. Jadi bisakah kita pergi kekamar yang kau bilang tadi?" Tanya Kuroko.

Mereka saling berpandangan. Ini memang sudah larut dan mereka tidak bisa bertanya masalah apa yang menimpa Kise. Jadi lebih baik mereka melanjutkan besok hari saja.

Akashi hanya mengangguk dan memberi isyarat untuk mengikuti mereka. Akhirnya mereka pun sampai di kamar yang dimaksud Akashi. Akashi membuka pintu kamar tersebut sementara yang lain hanya bisa diam memandang kamar itu. Bagaimana tidak? Apa kau tidak terkejut ketika melihat kamar yang luasnya sama dengan satu rumah lengkap dengan ruangan ruangannya?

"ngg… Akashi, saat kita pergi kerumahmu dulu, aku tak melihat kamar ini…" ucap Aomine.

"oh,ini? Ini sudah lama dan memang jarang dipakai… sudah lupakan, lebih baik kita beristirahat, sudah malam…" jelas Akashi.

Mereka menatap satu sama lain. Memang benar apa yang dikatakan oleh Akashi. Mereka sudah terlalu lelah dan lebih baik mereka segera beristirahat. Mereka masuk ke kamar dan tidur di kamar masing masing dan pergi tidur. Kuroko tidak bisa membiarkan Kise tidur sendirian karena takut dia akan semakin ketakutan nantinya jadi dia tidur bersama Kise.

(Walau mereka berdua tidur bersama mungkin Kuroko tidak menyadari Kise menggumamkan sesuatu, "Ayah,maaf aku meninggalkan ayah.")


Keesokan hari, mereka semua sarapan dan menjalankan aktivitas liburan mereka. Yah, walau hanya sekedar santai dan bermalas-malasan. Tapi sejak pagi diantara mereka tidak ada yang berbicara, atau lebih tepat nya, sunyi. Entah sepertinya Kise telah membuat mereka berubah 180 derajat. Kalau mungkin dulu tiada hari tanpa keributan, sekarang sepertinya mereka bingung mau melakukan apa.

Mereka masih termenung dengan pikiran mereka sendiri. Masih berkutat dengan apa yang akan mereka lakukan pada Kise. Membawanya ke panti asuhan? Tidak, Kise mungkin bukan anak yatim piatu. Melapornya ke polisi? Bisa jadi, tapi masalah seperti ini di proses terlalu lama oleh polisi karena dianggap masalah sepele. Menyebarkan pengumuman anak hilang? Tidak juga, bisa jadi orang yang mengaku orang tua kise ternyata bukan orang tua Kise dan malah menjualnya sebagai budak anak anak. Oh mereka tidak tega jika anak kecil seperti Kise di perlakukan seperti itu.

Keheningan masih setia menemani mereka sampai Kise keluar dari kamar setelah terbangun dari tidurnya. Kise yang masih terlihat mengantuk melihat bingung keenam pemuda yang tengah menatapnya. Kuroko yang melihat Kise kelihatan kebingungan melangkah mendekati Kise dan menggendong Kise dan memangkunya di sofa. Kelihatannya Kise nyaman berada dipangkuan Kuroko. Iris honey brown nya menyusuri ruangan itu sampai irisnya berhenti disuatu benda.

"Teddy bear 'ssu" ucap Kise tersenyum sambil menunjuk boneka beruang yang diyakini adalah lucky item milik Midorima.

Midorima yang merasa lucky item nya dalam bahaya langsung menjauhkannya dari Kise. Kise yang notabene nya masih polos hanya bisa menahan tangisnya. Sebegitu berharganya kah lucky item mu sampai kau tega membuat Kise menangis, Midorima?

Akashi yang melihat itu langsung mengeluarkan gunting kebanggannya. Merasa nyawanya dalam bahaya, Midorima segera memberikan teddy bear nya kepada Kise. Kise langsung tersenyum saat Midorima memberikanya teddy bear itu dan langsung mengucapkan terima kasih.

BLUSH

Keenam pemuda itu blushing seketika. Akashi yang biasanya mengendalikan dirinya, sekarang juga ikutan blushing. Rasanya hati mereka hangat saat melihat Kise tersenyum. Setidaknya lebih baik seperti ini dari pada dia menangis seperti kemarin,kan?

Akashi kembali ke dirinya yang semula diikuti oleh yang lainnya. Kise yang menatap bingung mereka semua langsung angkat bicara.

"nii-tachi, ada apa? Ada yang aneh dengan ku 'ssu?" Tanya Kise sambil memiringkan kepalanya yang membuat dia lebih imut lagi.

" A-a-a... tidak apa apa kise, tenang saja." Jawab Aomine sedikit gugup.

"Oh iya, aku tidak tau nama nii-tachi 'ssu. Nama nii-tachi siapa?" Tanya Kise.

Keenam pemuda itu bertatapan seakan saling menunjuk untuk memperkenalkan mereka. Merasa hal seperti itu memakan banyak waktu lama, Akashi langsung angkat bicara.

"Nanti kau juga akan tau Ryota. " Ucap Akashi singkat yang hanya dibalas anggukan dari Kise.

Diam kembali. Hei, bisakah buat ruangan ini jangan seperti ada jarak satu sama lain? Kenapa rasanya salah satu diantara mereka tidak bisa memeriahkan suasana?

"hey Kise. Mengapa lehermu terluka? Ada beling pula. Apa bisa kau ceritakan?"

Mungkin itu salah satu bagian memeriahkan suasana. Tapi, bisakah Aomine memilih topic lebih bagus atau jangan terlalu 'to the point' ? mereka semua menatap Aomine dengan tatapan horror sementara itu Kise sedikit terkejut karena diingatkan dengan kejadian kemarin. Ketakutan kembali menyelubungi Kise.

"Daiki, usaha yang bagus untuk membuat Ryota kembali takut. Kau akan masuk daftar 'acara pemakaman' hari ini." Ucap Akashi sambil mengeluarkan guntinya.

"Tidak heran maka namanya AHOmine Daiki." Ucap Kagami sembarangan.

"Berisik kau, BAKAgami!" teriak Aomine.

Keributan yang dulu kembali lagi saat mereka berkumpul. Mereka akhirnya bisa tertawa dan berbincang dengan lepas tanpa merasa canggung. Semua kembali diam saat mendengar adanya sedikit isakan . ternyata, Kise menarik kecil baju Kuroko. Kuroko menatap Kise yang sedang menahan tangis. Kuroko mengelus kepala Kise dan lalu bertanya.

"Kenapa, Kise-kun?" Tanya nya lembut.

"Tidak apa-apa, nii-cchi. Hanya rindu ayah…." Ucapnya bersamaan saat air matanya sudah tidak bisa terbendung.

Keenam pemuda itu agak terkejut sambil memandang perban yang terlilit rapi di leher Kise. Mereka berpikir, jika mereka ada di posisi Kise, mungkin mereka akan melaporkan ayah mereka kepada polisi dan membenci ayah mereka seumur hidup. Tapi, beda dengan Kise yang justru kelihatan menyesal meninggalkan ayahnya. 'Apa dalam kamusmu tidak ada kata benci, kise?' mungkin itu yang ada didalam pikiran mereka. Dan mereka pun termenung dalam pikiran mereka sendiri sendiri.


Disisi lain, seeorang pemuda berjalan gontai menyusuri ramainya kota. Matanya melirik kekanan dan kekiri seperti tengah mencari sesuatu. Ia terus berjalan sambil sesekali menghela nafas. Ia menghentikan langkahnya saat ia sampai di suatu taman. Pemuda itu memasuki taman itu dan duduk di salah satu ayunan yang ada disana. Ia pun membayangkan kenangan kenangan lama.

Pemuda itu teringat akan sesuatu yang ada dikantong jaketnya. Ia mengeluarkan bungkusan kecil bewarna kuning dengan pita orange dan menatapnya. Terus menatapnya sampai ia tidak sadar ada yang jatuh dari matanya. Ia menangis. Bibirnya hanya mengucapkan kata yang semu. Dia pun kembali menatap langit dan mulai berbicara seakan ada orang yang mendengarnya.

" Hari ini hari ulang tahunmu. Dan kau sekarang sudah lari entah kemana sejak kejadian itu. Mungkin sekarang kau sudah menemukan keluarga baru yang akan lebih memperhatikanmu. Dan hadiah kecil ini mungkin tidak akan bisa dipegang oleh tangan putih dan polosmu. Senyum seindah mentarimu mungkin tak akan terlihat lagi." Ia berkata sambil tersenyum simpul menatap hadiah kecil itu.

Ia mengangkat kepalanya menghadap langit dan menarik napas panjang. Mengingat apa yang telah ia perbuat kemarin. Hatinya begitu sakit mengingat kelakuan bodoh yang ia lakukan. Masih terngiang dipikirannya wajah takut dan benci yang ditujukan kepadanya dan suara mohon ampun. Pemuda itu menghela napas dan melanjutkan omongannya.

" Tapi mungkin ada saatnya kau akan datang kehadapanku. Dan mungkin saat itu aku akan memberikan hadiah kecil ini dan meminta maaf padamu. Tapi walai sekarang kau tidak bisa mendengarnya. Ayah minta maaf. Maafkan ayahmu yang bodoh ini, Ryota."

Dan pemuda itu pun menangis pilu sambil mengenggam erat hadiah kecil yang ada di tangannya. Seeakan sangat amat menyesal dengan apa yang dilakukannya. Yah semua orang tau menyesal itu datang belakangan kan?

To be Continue


OTANJOUBI OMEDETOU KI-CHAN! *tebar bunga*

Fuaah… akhirnya kesampean juga update nya…

Tapi kesannya ulang tahun ki-chan di sini suram amat yah?

Yah, abis kyo baru inget ultah ki-chan sekarang..jadi yah… begitu lah!

For the the last REVIEW PLEASE!

V

V

V