Chapter 2

Aku tidak bisa menjelaskan perasaanku tentang Itachi. Waktu umurku (dan Sasuke) 12 tahun dan Itachi 19 tahun, kami berteman sangat dekat. Pergi ke sekolah bersama (kebetulan sekolah kami memang bertetangga), makan bersama, malam minggu bersama, dan semacamnya. Tapi hubunganku dengan Itachi lebih dekat karena dia sempat menjadi tutorku ketika nilaiku anjlok dan terpaksa ikut remedial. Sasuke tidak ikut belajar karena dia memang jenius sejak lahir. Cukup lama kami belajar bersama karena Itachi ingin memastikan nilaiku bagus sampai kenaikan kelas. Karena perhatiannya itu, aku yang baru puber mulai menyukainya.

Tapi seperti tokoh-tokoh mainstream di novel-novel, aku takut menyatakan cinta padanya. Aku khawatir tingkahnya akan berbeda. Tapi ketika Itachi berulangtahun yang ke dua puluh dan dia mengadakan pesta kecil-kecil dengan teman-temannya (aku dan Sasuke pun juga diundang), aku menyatakan perasaanku padanya. Waktu itu aku mabuk setelah minum segelas sake, jadi kejujuran itu meluncur begitu saja dari mulutku. Untung aku menyatakannya ketika Itachi menggendongku ke kamarku (ternyata kamisama menghukumku lebih berat dengan mengingat kejadian memalukan itu), dan Sasuke tidak ada di sana. Kalau tidak aku dan Itachi bisa lebih malu.

Sayangnya, Itachi, bukan sejenis orang mainstream yang kutakuti akan berubah. Ia justru tidak menggubris pernyataan cintaku dan menganggapnya tidak pernah terjadi. Ia tetap bertingkah biasa dan masih perhatian. Tapi.. aku penasaran bagaimana perasaannya yang sebenarnya. Apakah dia diam-diam menganggapku anak kecil? Atau dia yang selalu melihat tingkah konyolku merasa tidak sudi berpacaran denganku. Yang pasti, sekarang ini, setiap kali aku mencoba bertingkah biasa, hatiku terasa tercabik. Seperti saat aku mencoba membohongi ibu ketika mengatakan bahwa aku membuat sup sendiri (padahal Itachi yang membuatkannya untukku).

Naruto ©MasashiKishimoto

Mondai ©VannCafl

Pairing: Sasuke x Karin x Itachi

Genre: Family, romance.

Rate: M

"Ngomong-ngomong, Karin, kapan orangtuamu pergi ke Hawaii?" tanya Itachi, memecah keheningan. Aku menoleh ke samping untuk melihat ekspresinya. Dia tersenyum kecil dengan lirikan tajam ke arahku.

"Kau pelupa sekali, Nii-san," komentar Sasuke keji, dari kursi belakang mobil. Ia sedang tiduran sambil mengunyah permen karet. "Mereka itu perginya besok."

"Aku bukannya lupa, aku memang tidak tahu," protes Itachi. "Kau sudah minta oleh-oleh, ya, Sasuke?"

"Sudah," jawab Sasuke enteng. "Mereka bilang mereka akan mampir ke toko robot. Jadi Kusina-baba menanyakan robot apa yang kuinginkan. Dan aku menjawabnya. Jadi itu lebih seperti tawaran daripada permintaanku sendiri, ya, kan?"

"Dilihat dari sisi mana pun, tujuan orangtuaku ke toko robot hanya untuk mencari oleh-oleh untukmu!" bentakku kesal. "Terlihat jelas mereka lebih sayang padamu daripada anak mereka sendiri. Aku saja tidak ditanyai mau oleh-oleh apa!"

"Haah? Bukannya ibuku juga lebih menyayangimu daripada aku?!" debat Sasuke. "Dia selalu memanjakanmu dan sering berkata ingin punya anak perempuan. Terkadang aku heran mengapa dia tidak menikahkan kau dengan Itachi!"

Aku terperanjat sementara Itachi hanya tergelak. "Intinya, kalian berdua sangat disayangi orang tua masing-masing," ujarnya. "Kalau seandainya kalian ingin menikah, aku yakin semua orang menyetujuinya."

Sasuke mendengus. "Kau mencomblangkan aku dengan Karin agar kau bisa menikah dengan Sakura, kan?" tuduhnya. "Dasar guru mesum!"

"Wah, sepertinya kau tidak tahu, ya, Sasuke," ucap Itachi tenang. "Kalau Sakura yang lebih dulu menyatakan perasaannya."

"Jadi kau mau bilang bahwa kau berpacaran dengannya hanya karena kasihan?" tuduh Sasuke (lagi). Lirikan tajamnya benar-benar membuatku merinding. Sejenis peringatan bahwa aku akan melihat pertengkaran antar saudara.

"Yah, begitulah," jawab Itachi dingin.

Sasuke terdiam cukup lama. "Itachi.." bisiknya pelan.

"..apakah kau penyuka sesama jenis?"

"Haah?" teriakku kaget. "Tidak mungkin lah, Sasuke!" Aku melirik Itachi. Dia tetap tenang, seperti biasa. "Itachi, tunjukkan kalau kau itu straight!" batinku.

Seolah mendengar pikiranku, tiba-tiba dia menarik bahuku ke arahnya dan mengecup bibirku. Setelah itu dia melepasku dan berkata, "Sudah jelas aku bukan penyuka sesama jenis!" Tatapannya kembali tertuju ke jalanan.

Aku langsung memukul pipinya. "Itu ciuman pertamaku, baka!" teriakku sebal, sementara Itachi mengaduh kesakitan.

Sasuke mengerjap. "Yang tadi itu boleh dihitung straight, tidak?" tanyanya pada diri sendiri. Aku meliriknya dengan tatapan sadis. "Habisnya aku ragu Karin itu beneran perempu—"

Satu pukulanku melayang ke pipinya. "Ah, maaf, Sasuke," kataku dingin. "Tanganku bergerak sendiri."

Ia melirikku sebal. Secepat kilat ia menangkap tanganku, yang kugunakan untuk memukulnya tadi, dan menggigit pergelangan tanganku. Aku mengaduh. "Dasar tangan nakal," gumamnya.

Sial! Aku pun memukul rahangnya dengan tanganku yang bebas. "Rasakan, idiot!" bentakku sebal.

"Kalian tak pernah akur, ya.." komentar Itachi, menginterupsi sinyal ngajak berantem yang hendak kulemparkan ke Sasuke. "Bagaimana kalau besok malam, setelah orangtua Karin pergi, kita minum di kamarku? Besok Ayah dan Ibu pergi ke rumah saudara di desa Suna selama satu hari."

"Contoh buruk tuh," komentarku. "Menurutku cara terbaik membuat aku dan Sasuke akur itu dengan mempersatukan kami di ring tinju!"

"Ide bagus!" gumam Sasuke dengan mimik serius. Aku pun memasang wajah yang sama. "Tapi ide Itachi lebih baik. Habisnya, Ayah tak pernah membolehkanku minum anggur sedikit saja. Bisa-bisa tubuhku tidak akrab dengan alkohol lagi."

Aku mendengus.

Sasuke melirikku. "Karin, kau mau bertarung denganku tidak?" tantangnya. "Siapa yang minum paling banyak, dia yang menang."

"Kau yakin Sasuke?" tanya Itachi was-was. "Menantang perempuan adalah tindakan pengecut."

"Tenang saja, Nii-san. Sejak pesta ulang tahunmu waktu itu, hampir setiap hari Karin mabuk-mabukkan di rumah Naruto. Naruto bilang Karin ingin lebih kuat saat kau mengajaknya minum lagi. Jadi kurasa dia sudah jadi lawan setara untuk—"

"Benarkah itu, Karin?" Mendadak Itachi memotong ucapan Sasuke. Ia langsung meminggirkan mobil.

Aku menggeleng, berniat berbohong. Tapi dari gelenganku yang patah-patah seperti robot kurang oli, sudah memberi Itachi jawaban pasti. Wajahnya terlihat sangat marah, membuatku tak sengaja menelan ludah.

"Karin, kau tahu kan, bahayanya mengosumsi alkohol sesering itu?" tanyanya.

"Sasuke salah. Aku tidak minum setiap hari, hanya tiga hari sekali," jawabanku itu sudah jelas ngibulnya tapi kuharap dia percaya.

"Itu sering," katanya, tetap saja terkejut.

Sasuke mendengus. "Oi, Nii-san. Hentikan tingkahmu yang sok dewasa itu," katanya sebal. "Barusan kau juga mengajak anak di bawah umur minum, kan?"

"Yah, menurutku kalian perlu mencicipi alkohol sesekali agar ketika dewasa kalian sudah tidak asing lagi," kilahnya dengan wajah sumringah. Sedetik kemudian, ia kembali serius dan memandangku. "Tapi, Karin, aku melarangmu minum di rumah Naruto. Kalau perlu, kau tidak kubolehkan ke sana lagi."

"Sonna!" Aku berteriak kaget. "Dia itu sepupuku, loh!"

"Kau berlebihan sekali, Nii-san," timpal Sasuke.

"Yah, pada akhirnya terserah pada Karin dia ingin menurutiku atau tidak," ucap Itachi. Ia menjalankan mobil lagi.

"Kau percaya diri sekali, Nii-san," komentar Sasuke.

Aku menggigit bibir. Apakah Itachi sedang mengujiku, ya? Jika aku tidak menurutinya, akan kah dia membenciku?

.

.

.

"Apa? Itachi melarangmu minum di rumahku?" tanya Naruto nyaring ketika kami makan bento keesokan harinya. "Memangnya dia ayahmu, ya?"

Aku merungut. "Untuk sementara ini, dia memang bertanggung jawab terhadap diriku," kataku tak rela.

"Tapi menurutku itu romantis sekali, loh!" komentar Ino. Kemudian ia memelankan suaranya. "Dia saja tidak sepeduli itu pada Sakura."

"Heh? Apa hubungannya dengan Sakura?" tanya Naruto sembari memakan ramennya.

"Sakura itu pacarnya Itachi-sensei loh!"

"Hah? Bukannya kemarin Karin bilang Sakura itu pacarnya Sasuke!" kata Naruto.

"Aku sudah menanyai Sakura langsung, semalam. Dan dia bilang, dia pacaran dengan Sensei."

"Hah? Masa?" melihat wajah Naruto yang konyol itu pasti membuat kesabaran Ino menipis. Tiba-tiba saja gadis berambut pirang itu melempari Naruto dengan kacang-kacangan di bekalnya.

"Maaf, aku salah informasi. Yang Ino bilang benar," ujarku.

Naruto mengerjap. "Tadinya aku tidak mengatakannya karena merasa hal ini hanya gosip belaka," katanya. "Tapi Karin, tadi pagi ada siswi yang mengaku melihatmu dan Itachi berciuman, saat kalian pulang bersama kemarin. Makanya aku tidak percaya Itachi dan Sakura berpacaran."

"Haah? Kau yakin tidak salah dengar, Naruto?" tuduh Ino. "Ini Karin loh, yang jadi subjeknya. Tidak mungkin Itachi mau ciuman dengan cewek tomboy seperti Karin!"

"Hoi… Ino.. Aku di sini loh.." panggilku.

Tiba-tiba sebuah lengan melingkari bahuku. Wangi tubuh seseorang langsung memenuhi indra penciumanku. Aku menoleh kesamping untuk melihat siapa yang berani memelukku dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke.

"Sedang menggosipkan kakakku, ya?" tanyanya sembari mencomot makananku. "Aku bergabung ya!"

Aku mengedikkan bahuku dan menyadari betapa orang ini membebaniku. "Oi, Sasuke, kau berat sekali!" kataku sebal. "Jangan bergantung seperti monyet begitu, dong!"

Seperti biasa dia tidak menanggapi protes dariku. Tiba-tiba saja dia memiringkan kepalanya dan mengendus leherku. Wajahku langsung memanas. "Ngapain kau?!" tanyaku.

"Tumben sekali kau wangi," katanya.

Aku cemberut. "Jadi biasanya aku bau, begitu?! Sana pergi!" salakku.

Sasuke, lagi-lagi tak menggubrisku. Ia malah mencomot satu lagi makananku. Entah perasaanku saja tapi sepertinya dia lebih pendiam dari biasanya.

"Sasuke, jangan bermesraan di depan umum begitu dong!" kata Naruto sebal. Ia mendecakkan lidahnya. Aku dan Ino mengangguk setuju.

"Hn," Sasuke berdiri dan menarik kursi ke meja Naruto. Ia pun duduk dengan sepatu kanan naik ke atas lutut kirinya. Gaya duduknya saat dalam mode Kuudere.

Naruto memasukkan telur dadar gulung ke dalam mulutnya. "Jadi, gadis berambut merah yang kau suka itu Karin, ya?" tanya Naruto sambil mengunyah lambat.

Sasuke menegakkan kepalanya dan (lagi-lagi) mencomot makananku. "Di mataku, Karin itu berambut pirang," ujarnya. "Dia kan satu marga denganmu."

"Sasuke, marga asliku itu bukan Uzumaki, melainkan Namikaze," koreksi Naruto. "Namaku menjadi Uzumaki ketika ayahku meninggal."

"Eh?" Sasuke berhenti mengunyah makanan yang baru saja dia ambil dari kotak bekalku. "Aku turut berduka."

Naruto melambaikan sumpitnya. "Tidak apa-apa. Karena ayahku sudah lama meninggal. Waktu aku masih bayi."

"Pantas saja aku tidak pernah melihatnya," gumamku. "Aku kan lebih muda darimu."

"Tapi, Naruto, kau tetap dapat warisan ayahmu, kan?" tanya Ino. "Dari yang aku dengar, keluarga Namikaze sangat kaya."

"Ibuku bilang, saat aku menikah nanti aku akan mengganti namaku kembali dan mengambil warisannya," jelas Naruto. "Bagaimana denganmu, Sasuke? Siapa yang akan menjadi pemimpin grup Konoha? Kau atau kakakmu?"

Sasuke mengedikkan bahu. "Mungkin tetap ayahku?" tanyanya balik. "Aku tidak tahu. Mungkin saja cucunya. Yang pasti Itachi sudah jadi pengajar dan aku ingin jadi dokter."

"Ayahmu yang malang," komentar Ino. Aku mengangguk setuju.

"Cucu?" Naruto mengerjap. "Maksudnya anakmu atau anak Itachi? Apakah Sakura sudah.." Naruto merendahkan suaranya. "..hamil?"

"Tidak. Kakakku tidak seserius itu dengannya," bantah Sasuke pelan. Entah mengapa hari ini dia terlihat tidak bersemangat. "Kemarin ia sudah mengincar gadis lain."

"Wow, ini lah yang aku suka dari Sasuke!" Tiba-tiba Kiba dan cowok-cowok lain nimbrung bersama kami. "Kau selalu punya gosip menarik. Jadi siapa gadis malang ini?"

Sasuke mengedikkan bahu lagi. "Entahlah," ujarnya. "Saat ini aku sedang tidak bersemangat membicarakannya."

"Sasuke, apakah kau juga mengincar gadis ini?" tanya Shino. Sasuke hanya diam. Tangannya yang terangkat untuk mengambil makananku, berhenti di udara.

Shikamaru mendengus. "Kalau begitu dia gadis yang beruntung. Bukan malang," Ia menyimpulkan. "Aku jadi kasihan padamu, Sasuke. Masalah ini ternyata cukup mendokusai."

"Aku tak mengerti arah pembicaraan ini," sela Naruto. Ia menyuapkan telurnya ke mulut Sasuke. Anehnya, Sasuke tidak menolak. Aku dan semua orang di sini langsung berseru melihat adegan yaoi di depan kami. "Heeh?"

"Segitunya kau menyukai gadis ini, Sasuke!" teriak Ino kasihan.

"Apakah dia berambut merah?" tanya Shino polos.

"Pasti dia sangat cantik, ya?" duga Lee. "Lebih cantik dari Sakura, tidak?"

"Lupakan saja, lah, Sasuke!" saran Shikamaru santai. "Dilihat dari sisi mana pun, kakakmu lebih perfect darimu."

.

.

.

"Sasuke kenapa, ya?" gumam Itachi sembari menghidupkan mesin mobilnya. "Tumben sekali dia ingin bertanding futsal."

Aku mengedikkan bahu. "Mungkin karena semua teman-temannya ikut bermain?"

"Itu benar juga sih.." Itachi menghembuskan nafas pelan, kemudian menjalankan mobil. "Omong-omong, Karin, soal kemarin aku minta maaf."

"Tak apa," ujarku berusaha bersabar. "Tapi traktir aku crepes, ya!"

Itachi tak menggubris ucapanku yang terakhir. Karena tanpa kuminta pun dia selalu mentraktirku. "Sudah banyak yang mengetahuinya," katanya lagi. "Bahkan di kantor guru. Tapi aku sudah membersihkan gosip ini."

"Bukan masalah," kataku tenang. "Lagi pula aku tidak pernah ke kantor guru." Mengatakannya membuatku teringat kejadian kemarin, saat aku memergoki Itachi dan Sakura bersama. Dan sepertinya Itachi memikirkan hal yang sama. Sial.

"Soal Sakura, kami sudah putus," jelasnya tiba-tiba. "Kami bertemu tadi pagi dan dia langsung menyuruhku memutuskannya, karena gosip itu."

"Dia baik sekali, ya.." komentarku setengah hati. Cewek mana, coba, yang senang bila cowok yang ia taksir membicarakan cewek lain?

Itachi mengangguk. "Dia bilang, aku harus lebih memperhatikan kebahagiaanku," katanya lagi. Rasanya aku ingin muntah karena Itachi tak berhenti membicarakan Sakura. Cepat-cepat aku mengeluarkan botol minum untuk menenangkan perutku. "Karin.. mau tidak jadi pacarku mulai hari ini?"

Aku tersedak. Air yang keburu keluar dari botol karena belum kututup tumpah ke baju seragamku, mengenai dada dan leherku. Cepat-cepat aku menyimpan botolku dan meng-lap mulutku dengan lengan baju. Itachi menepikan mobil dan mengambilkan tissue. Ia membantu mengeringkan leherku.

Setelah aku cukup kering, Itachi menjalankan mobilnya. Dan aku masih belum tahu ingin menjawab apa. Jadinya kami hanya berdiam-diaman sampai tiba di rumahku. Saat ini rumahku sudah sepi karena orangtuaku sudah berangkat tadi pagi.

"Terimakasih, Itachi," kataku sembari turun dari mobil.

Itachi mengangguk. "Sampai jumpa nanti malam," katanya sebelum aku menutup pintu. Setelah itu ia melaju sedikit dan berbelok tajam memasuki halaman rumahnya. Aku tersenyum tipis dan masuk ke dalam rumah.

Sasuke pasti salah. Saat ini Itachi bukan mengincar gadis incaran Sasuke (yang sudah lama kuketahui bernama Hinata), syukurlah. Aku tidak mau melihat kakak-adik itu bertengkar memperebutkan perempuan.

Tapi entah mengapa, aku mulai ragu Sasuke masih menyukai Hinata-hime. Habisnya belakangan ini, Sasuke sudah jarang menyapanya—malah si Hime yang lebih dulu menyapanya. Apakah karena Sasuke mengira Itachi menyukai Hinata-hime, ya? Kalau memang begitu, berarti berpacaran dengan Itachi adalah yang terbaik bagi Sasuke dan Hinata.

To be continued

a/n: mungkin lebih baik kuberitahu dari awal. Karin salah soal dugaannya tentang Hinata. Kalau dipikir-pikir, Karin juga salah saat menduga Sasuke dan Sakura berpacaran. Semoga readers suka ceritanya.

Mata ne.