-OH SEHUN-

Wonwoo merutuki keputusannya untuk menerima tawaran sang eomma. Sepertinya ia telah melakukan kesalahan besar.

Setelah pembicaraan yang ternyata begitu singkat dengan Jeon eomma kemarin siang, muncul masalah baru yang tak terduga. Ketiga calon suami yang akan dijodohkan dengan Wonwoo ingin segera bertemu dengannya.

Alhasil Jeon eomma yang begitu gembira langsung membuat jadwal pertemuan untuk tiga hari berturut-turut. Jadwal dibuat berdasarkan undian ala kadarnya. Nota belanja dari minimarket disobek menjadi tiga bagian dan ditulis dengan masing-masing nama calon menantunya.

Dengan disaksikan oleh Jung Ahra –tetangga Wonwoo yang kebetulan mampir membawa lauk makan siang— berikut urutan hasil undian:

Oh Sehun

S. Coups

Kim Mingyu

Jadi untuk tiga hari kedepan Wonwoo akan cuti dari pekerjaannya dan menuruti keinginan Jeon eomma untuk bertemu ketiga calon suaminya.

Hingga akhirnya hari pertama tiba. Ia yang notabene tidak menyukai kehadiran orang baru, kini akan dihadapkan dengan seorang lelaki asing yang belum pernah ia temui sebelumnya.

Mereka berjanji untuk bertemu di depan taman kota pada sore ini. Namun sepertinya taman kota bukan tempat yang tepat untuk sebuah pertemuan. Sore ini jalanan sangat padat karena bertepatan dengan jam pulang kantor dan pulang sekolah. Tidak terjadi kemacetan meskipun arus lalu lintas terbilang cukup padat.

Wonwoo sudah sampai di taman sepuluh menit lebih awal dari jam yang sudah dijanjikan. Ia duduk disalah satu bangku dibawah pohon cherry blossom, langsung menghadap jalan raya. Oh Sehun memintanya untuk menunggu di tempat yang paling dekat dengan jalanan untuk menghemat waktu.

Sesekali diliriknya smartphone dalam genggamannya. Tidak ada balsan dari Sehun setelah Wonwoo mengirim pesan rincian dimana ia menunggu. Diayunkan kedua kaki rampingnya. Ia sudah mulai bosan menunggu.

Tringg

Tak sampai lima menit ada satu pesan masuk, dari Sehun.

Aku sudah sampai

Aku tunggu di pinggir jalan. Jaket bomber hitam

Wonwoo melangkah menuju pinggir jalan. Diedarkan pandangannya mencari sosok Sehun yang mengenakan jaket bomber hitam.

Ia membelalakkan manik rubahnya ketika mendapati seorang lelaki duduk menyandar pada motor sport berwarna hitam. Oh Sehun. Ia ragu dengan pilihnnya untuk menghampiri atau kabur sebelum Sehun melihatnya. Namun niat buruknya hilang begitu laki-laki tinggi itu menyadari kehadiran Wonwoo. Ia sudah tertangkap.

Sehun menghampiri Wonwoo dengan senyuman tipis yang jarang ia perlihatkan. Tanpa permisi digenggamnya jemari Wonwoo dan menariknya menuju motor besarnya. Wonwoo masih diam. Ia sedikit ketakutan. Bukan takut karena sosok lelaki dihadapannya. Ia takut dengan kendaraan yang ditunggangi Sehun.

Tanpa mengindahkan sikap Wonwoo yang sedikit aneh, Sehun tetap memakaikan helm putih pada perempuan dihadapannya.

"Naiklah" Sehun menaikkan standar motor, menunggu Wonwoo duduk dalam boncengannya.

Wonwoo menatap ragu.

"Naiklah, aku tidak akan kebut-kebutan seperti dulu."

Wonwoo tercenung.

Dulu? Apa sebelumnya dia mengenalku? – Wonwoo

Wonwoo yang semula ragu akhirnya memberanikan diri ikut menunggangi motor sport hitam milik Sehun. Jemarinya meremas belakang jaket Sehun.

Sehun menolehkan kepalanya pada Wonwoo, yang dibalas dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia menghela nafas. Diraihnya jemari yang semula meremas belakang jaketnya, kemudian dibawanya melingkarkan pada perut Sehun dengan erat. Rona merah muda menjalar di pipi Wonwoo ketika diperlakukan dengan begitu lembut oleh laki-laki yang baru pertama kali ditemuinya hari ini.

Sehun melajukan motor sportnya dengan kecepatan sedang, menikmati hangatnya pelukan yang ia rindukan sejak lama. Selama perjalanan tidak ada satupun yang berniat membuka pembicaraan. Keduanya terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing.

.

.

.

Deru motor sport berwarna hitam membelah suara ombak yang lamat-lamat mulai terdengar. Sekitar tiga puluh menit perjalanan dari taman kota menuju pantai tanpa bahan pembicaraan. Ditepikannya motor sport miliknya didekat pembatas jalan. Wonwoo turun dari boncengan Sehun lalu duduk menjuntaikan kakinya dipinggir tebing yang tidak terlalu tinggi. Ia memandang takjub semburat jingga di ufuk barat sana ketika sang mentari perlahan bersembunyi.

"Ingin turun?" Wonwoo menolehkan kepala pada Sehun yang sudah ikut duduk dengan nyaman disebelahnya.

"Disini saja."

Kemudian hening kembali.

"Kau tak ingin bertanya apa pun pada ku?"

Alis Wonwoo naik sebelah mendengar pertanyaan dari laki-laki disebelahnya.

"Padahal dulu kau cerewet sekali." Sehun tersenyum kembali. Namun saat ini yang terlihat adalah sebuah senyum kesedihan.

"Dulu... kau mengenal ku?" Hati Sehun nyeri mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Wonwoo.

Diusapnya surai kelam beraroma red raspberry yang masih tetap sama dengan perasaan nanonano.

Aku tidak ingin kau mengingat hal-hal buruk meskipun pada akhirnya aku juga kau lupakan – Sehun

Kata-kata itu hanya dapat ia telan kembali. Bagaimanapun juga Sehun merasa bersalah setelah mengetahui keadaan Wonwoo saat ini. Senyuman sedih kembali tersemat diwajah Sehun. Diraihnya kedua tangan Wonwoo kemudian digenggamnya erat.

"Biarkan kali ini aku yang menjaga mu."

"Apapun akan ku lakukan untuk mu."

"Jadi—"

Tatapan mereka saling bertemu.

"pertimbangkan aku"

Angin laut berhembus menerpa wajah Wonwoo membuat helaian kelamnya terbang tak beraturan. Bagi Sehun pemandangan didepan matanya kini jauh lebih indah dibandingkan sunset yang telah ia abaikan.

"Eerrr... Aku tidak bisa memutuskan hal itu sekarang. Karena aku ingin bertanya banyak hal."

Sehun terkekeh mendengar kalimat Wonwoo.

"Kau tidak berubah. Selalu merusak moment romantis."

Wonwoo menarik kedua tangannya yang sempat digenggam Sehun. Sedikit bergetar karena gugup.

"Apa dulu kita dekat? Apa yang terjadi dengan ku hingga aku tak mengingat mu? Dan... Apa hubungan kita dulu?"

"Satu jawaban untuk satu kali pertemuan. Tidak ada penawaran"

Wonwoo mencebikkan bibirnya ketika niat protesnya diinterupsi.

"Mana pertanyaan yang akan kau tanyakan dahulu?"

Wonwoo menggigit bibir bawahnya, menimang-nimang pertanyaan yang akan ia ajukan.

"Kau siapa?"

Sehun tersenyum lembut

"Aku

Malaikat pelindung mu"

.

.

.

TBC

Lanjut tidak yeorobun?

Budayakan meninggalkan jejak yess