Chapter 1 : Dream
Suasana seperti ini lah yang ia rindukan. Nanako-chan asik membicarakan peristiwa-peristiwa yang Souji tidak tahu. Dojima-san dengan senang menambahkan nya dengan lengkap hal-hal yang 'tertinggal' dari cerita Nanako yang lalu di hadiahi oleh pukulan Nanako yang sudah khas dengan wajah imutnya yang merona. Sang paman pun tertawa dengan puas. Suasana kekeluargaan yang Souji rindukan ini yang membuat hidupnya merasa lengkap.
Setibanya mereka di rumah, Nanako-chan mengambil alih tugas Souji dalam memasak dan memaksa Oni-chan nya untuk duduk manis sambil menunggu makan malam tersedia. Selama menunggu Nanako, Doujima-san memulai pembicaraannya dengan berbagai pertanyaan.
"Bagaimana kuliah Souji?" doujima-san memulai pertanyaannya.
"Seperti yang Paman tahu, kuliah ku... aku akan bohong kalau kuliah itu mudah, semakin lama aku semakin sibuk." Souji menjawab.
"Ya itu tidak aneh Souji, masa-masa kuliah adalah masa yang sangat penting. Kalau kau lulus dengan baik, masa depanmu juga akan baik."
"Benar, karena itu aku berusaha untuk mendapat nilai yang bagus. Tapi karena sebab itu juga aku semakin sibuk dan sulit untuk terus berkomunikasi dengan mu dan Nanako, menghubungi teman-teman di Inaba juga sulit." Souji menghela nafasnya.
"Hahaha, tidak usah khawatir Souji, aku bisa mengerti lagi pula bukan hanya kamu, teman-teman mu juga mengalami hal yang sama." Jawab pamannya menenangkan.
"Terima kasih banyak Paman, mungkin benar mereka juga sibuk. Semoga saja aku tidak mengganggu saat aku menemui mereka." Senyum Souji.
"Itu tidak mungkin, kau tidak tahu berapa kali mereka menanyakan ku kapan kau akan pulang ke Inaba, dengan kau datang kesini bebanku akan pertanyaan mereka setidaknya akan berkurang." Tawa Doujima-san.
"Begitukah? Kalau benar aku senang bisa membantu." Balas Souji sambil tertawa kecil.
Obrolan mereka panjang tapi terasa sangat singkat, hingga pada akhirnya mereka menghentikan pembicaraan mereka saat panggilan Nanako akan makan malam pun tiba. Makan malam berlangsung dengan damai dan nyaman. Nanako semakin lama semakin mahir dalam memasak. Itu dibuktikan dengan menu yang tersedia berbeda dari biasanya dan tentu saja enak. Mendengar pujian Souji, Nanako memberikan alasan bahwa karena Oni-chan nya lah yang memotivasi dirinya untuk bisa menandingi keahlian Souji dalam memasak. Pada akhirnya menciptakan sebuah tantangan tournament memasak antara Souji dan Nanako yang dengan senang Doujima-san terima menjadi juri antara 2 ahli memasak tersebut.
Makan malam selesai, tapi Souji masih belum boleh membantu pekerjaan rumah. Nanako mendorongnya langsung ke kamar Souji dan menguncinya dengan ancaman tidak akan pernah diizinkan untuk membantu pekerjaan rumah selama di rumah ini jika keluar kamarnya. Mendengar hal itu Souji menyerah dan dengan taat menetap dikamarnya. Kamar Souji tidak ada yang berubah, kecuali buku-buku dan cd yang tergeletak sudah mempunyai tempatnya masing-masing. Segalanya terlihat rapih dan bersih. Souji mengingatkan dirinya untuk berterima kasih kepada Nanako untuk hal ini besok pagi. Ia kemudian meletakan tasnya di sofa dan mengalihkan pandangannya ke futon yang sudah dirapihkan. Melihat futon yang rapih dan bersih itu mengingatkan tubuh Souji akan rasa lelah. Dengan lesu dan rasa malas yang luar biasa karena pengaruh lelah, Souji mengganti pakaiannya dengan yang lebih longgar dan segera membentangkan futonnya. Saat kepalanya mulai bersandar di bantalnya yang nyaman, dia mulai kehilangan kesadarannya, tapi sebelumnya ada sesuatu yang mengalihkan pendangannya. Sesuatu itu mengapung-apung di depan pandangan Souji dengan anggun. Kupu-kupu biru terlihat menari-nari lembut di depan matanya.
Suasana disekitarnya terlihat gelap. Dia merasa terapung-apung di tengah kegelapan. Souji merasa tidak enak dengan suasana ini. Kegelapan ini terasa menyesakkan. Kegelapan itu lalu menjerat seluruh tubuh Souji. Kaki, tangan dan lehernya terjerat sesuatu. Souji tidak punya waktu untuk melihat keadaan sekitar, yang ia tahu pasti jeratan itu terus mengencang dan mencekiknya. Souji yang terus berusaha untuk melepaskan diri mendapati dirinya lemah karena semakin lama oksigen yang ia dapat semakin berkurang. Dari ketidaksanggupan bernafas menimbulkan kepanikan yang tidak terelakan, seberapa keras pun ia memikirkan untuk tetap tenang tapi otaknya terkalahkan oleh insting untuk bertahan.
Keadaan semakin parah ketika ia mulai mendengar suara. Bukan suara, tapi jeritan kepedihan dan kesedihan. Jeritan itu kemudian bertambah banyak dan ramai, tapi setiap jeritan itu berkata sama setiap saatnya.
"Mati..." jeritan itu terdengar.
"Aku ingin mati..."
"Mati......mati...mati..."
Souji yang mendengar setiap kata-kata itu semakin panik dan lebih berusaha untuk bergerak.
"Aku tidak suka tempat ini..." kata Souji sambil berusaha untuk keluar dari sana dan bebas. Satu detik setelah Souji berucap, jeritan-jeritan di sekitarnya menjadi hening, seakan baru menyadari keberadaan Souji dan baru mendengar suaranya. Souji yang sempat bingung dengan perubahan mendadak itu tanpa sengaja mengendorkan rontaannya. Tindakan yang salah. Sesaat saja Souji meringankan rontaannya, jeratan itu menjadi dua kali lebih kencang. Secara refleks Souji membuka mulutnya untuk jeritan sunyi atas rasa sakit dan sesak yang mendadak.
Tapi bukan itu saja yang berubah. Jeritan-jeritan yang sempat sunyi tiba-tiba terdengar lebih kencang, seperti jeritan itu langsung mengarah kepada Souji. Dan perkataan mereka pun berubah.
"Mati...kau...mati...juga..."
"Semua.. mati... semua..."
"Mati...juga...mati...kau..."
"Mari...jemput....
"Kematian...jemput...mati..."
Dia sudah tidak tahan dengan tempat itu. Lalu secara tiba-tiba terlintas di pikirannya, 'Akan lebih baik kalau kita relakan saja', 'Menyerahlah, lepaskan saja semua', 'Tidak usah berusaha dengan keras, kematian tidak akan bisa dikalahkan', 'Lepaskan, dan damai'. Souji yang mulai terpengaruh mulai melepaskan genggamannya. Secara perlahan dia menghentikan rontaanya.
'Ah...aku...lelah..maaf semuanya...tapi...lebih baik begini...' pikir Souji. Janji tiga tahun yang lalu dengan teman-temannya untuk terus berjuang sudah terlupakan. Dengan jeritan-jeritan yang ia dengar, Souji perlahan mulai menutup matanya. Kegelapan pun mulai meneggelamkan dia. Di saat-saat ketika kegelapan hampir menutupi wajahnya, ia melihat sesuatu. Didepannya terlihat seseorang, seorang anak kecil. Tubuhnya diselimuti cahaya redup. Anak itu menjaga jarak dengan Souji, sekitar dua hingga tiga meter di hadapannya. Dari ukuran tubuh dan tingginya anak kecil itu masih sekitar enam atau tujuh tahun. Terlihat dari seragam sekolah SD nya. Sepatu kets, dan celana pendek selutut, kemeja yang dilepisi dengan jas kecil imut membungkus tubuhnya. Rambut biru menghiasi kepalanya.
Tapi yang membuat Souji tercengang adalah matanya. Mata abu-abu anak itu memancarkan kesedihan yang memilukan hati. Entah itu karena rasa kasihan ketika anak itu melihat Souji atau karena hal yang lain. Karena pancaran emosi itu lah yang membuat Souji terbangun kembali. Diantara rasa bertanya-tanya akan apa yang anak itu lakukan disini dan rasa sedih ketika melihat mata itu ia mulai menjulurkan tangannya kepada anak kecil itu. Entah itu bermaksud menolong atau untuk meminta tolong Souji tidak tahu. Yang ia tahu ia ingin anak itu mengambil tangannya agar setidaknya anak itu tidak sendiri, setidaknya pancaran mata itu tidak sedih. Menyadari pergerakan Souji, kegelapan di sekitarnya lebih mengencangkan jeratannya agar Souji tidak bisa lari dari tempat itu. Jeritan-jeritan yang semakin lama semakin keras itu membuat Souji kesal. Ia kemudian berteriak sambil terus menggapai anak itu.
"AKU TIDAK INGIN MATI!!"
Tepat setelah Souji berteriak suasana disekitar berubah total. Cahaya memenuhi ruangan dan membutakan penglihatan. Tangannya yang masih menjulur ditangkap oleh sebuah tangan kecil hangat yang memegang dengan erat. Lalu terdengar suara kacil yang memancarkan rasa senang yang puas.
"Terima Kasih..."
Souji tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia segera bangun dan mulai mengamati daerah sekitarnya. Saat sudah merasa pasti akan apa yang ia lihat, Souji menyadari kalau hari sudah pagi ketika ia melihat secercah cahaya yang lolos dari jendela kamarnya. Ia mengamati tangan nya yang sebelumnya terjulur untuk menggapai seseorang yang entah kenapa tiba-tiba ia lupa akan wajahnya.
Di luar, terlihat seekor kupu-kupu biru yang hinggap di luar jendela kamar Souji. Kupu-kupu itu hinggap sementara, yang kemudian terbang meninggalkan serpihan cahaya biru dan lalu hilang dalam sinar matahari.
Author note: Maaf maaf maaf baru update sekarang. Daku sibuk dengan pindahan kost and ospek yang tugas nya bejibun n dadakan yang menyebabkan saya tidur cma 2 jam. Tapi sekarang saya bebas!!! Hahahahaha!!! Ohh.. blom denk... masih ada osjur. Ya! Yang pasti ai trima kasih sekali dengan org2 yang sudah meng review! Akhirnya aku mengerti kenapa review sangat penting bagi author. Itu membuat semangat. Jujur daku jadi always bersemangat ktika membaca review2 anda skalian. Hehehehehe.
Oh, n thx atas koreksi nya. Ya itu seharusnya 'pun' bukan 'oun'. Aneh padahal aku sudah membaca beberapa kali tu prologue ada yang salah ato g, ko masih ada yang salah ya. ("yaudah salah ya salah, g usah protes!" "Siap teteh DMT!" (maaf kepada para senior panitia DMT... ini cma merupakan humor hehehehe)). Ok, ntar klo ada yang salah lagi blang2 ya! Aku cba update di percepat entar.
