a ChanBaek Fanfiction written by Cla
EX PREGNANT
Park Chanyeol x Byun Baekhyun
"Entah sebelumnya ada badai apa yang menghampiri, Chanyeol tiba-tiba kedapatan sang mantan di depan apartemen, lalu... "Aku hamil, Yeol." Hah? Apa? Tolong siapapun tampar Chanyeol. Masalahnya adalah, dia tidak pernah merasa telah menghamili bocah SMA itu."
( ! ) Boys Love. Typo(s). Lil Mature. MPREG. Chaptered.
"Ayo kita putus saja."
Tak ada sahutan apapun, hanya riuh suara siswa-siswi yang terdengar samar di dalam gedung sekolah. Satu yang lebih besar di antara mereka tampak hanya menghela nafas tenang, tak benar terkejut untuk patahan kata yang baru saja dilontarkan itu.
Sementara satu yang lainnya menghentak kaki kesal di tempat mendapati pacarnya yang masih juga diam dan tak kunjung menanggapi. "Ish. Aku bilang ayo kita putus saja!"
"Kau yakin?" Chanyeol akhirnya menoleh, menatap Baekhyun di depannya dengan alis terangkat satu. "Ini sudah ke yang berapa kalinya kau mengajak kita putus omong-omong. Apa kau tidak bosan?"
"Daripada terus seperti ini!" Suara Baekhyun mulai terdengar sedikit bergetar di sela sentakkannya. Tatapan anak itu kini berubah nanar pada Chanyeol, namun yang lebih tinggi malah tak benar dapat memahami hal itu.
"Ini bagaimana, sih?" Chanyeol bahkan terlihat frustasi saat ini.
"Kau terus saja fokus belajar sampai lupa padaku!"
"Aku harus ikut suneung, kau tahu itu kan?" Chanyeol mendesah letih. "Aku tidak bisa bersantai-santai apalagi berpacaran sementara aku harus masuk universitas sebentar lagi."
"Tuh lihat kan!" Tuding Baekhyun. "Akui saja kau memang sudah tidak ingin berpacaran lagi denganku!" Nada suaranya meninggi siap untuk ledakan emosi yang lain. "Ya sudah kita lebih baik putus saja supaya kau bisa lebih fokus!"
"Apa kau tidak mengerti, Byun Baekhyun? Aku sudah berada di kelas akhir wajar saja jika aku lebih sibuk!" Chanyeol ikut meninggikan suaranya sebab merasa di sini ia lagi yang menjadi alasannya.
"Aku mengertikanmu. Tapi tidak bisakah kau mengabariku setidaknya lewat chat?!"
Chanyeol lagi terdiam. Pandangannya langsung ia buang ke arah lain untuk menetralkan sesuatu di dalam dirinya saat ini. Suasana sepi di belakang sekolah benar membuat Baekhyun bebas meledak-ledak seperti itu, berbeda dengan Chanyeol yang harus beribu kali berpikir ulang untuk balas melakukan hal yang sama.
"Ya sudah apa maumu? Jika memang kau masih menyalahkanku, aku minta maaf."
"Aku tidak menyalahkanmu kau memang bersalah di sini!"
"Ya sudah apa maumu sekarang?!" Mata Chanyeol tak bisa ditahan lagi membeliak menatap Baekhyun berikut sentakkannya yang seperti itu.
"Aku ingin kita putus!"
Chanyeol hanya bisa menghela nafas kembali. "Kau yakin itu maumu?" Baekhyun mengangguk tanpa menatapnya di sana. "Kalau begitu jangan membuat snapgram yang seolah-olah kau ditinggalkan olehku. Padahal kau sendiri yang minta putus." Sindirnya yang langsung dihadiahi pelototan mata dari Baekhyun.
"Aku tidak!" Jelas Baekhyun menyalak tak terima. "Jadi orang jangan sok tahu jika nyatanya kau tidak tahu apa-apa."
Chanyeol benar menahan geramannya. Rasanya ia ingin sekali mencekik makhluk di hadapannya ini sekarang juga. Padahal sudah jelas-jelas Baekhyun melakukannya seperti di hari lalu ketika mereka usai putus anak itu langsung membuat berbagai snap yang menyedihkan. Bahkan Chanyeol curiga itu hanya ditujukan kepadanya saja sementara teman-temannya yang lain tidak mendapatkan notifikasi apapun dari Baekhyun.
Itu bukanlah apa-apa sebenarnya, toh mereka selalu balikan kembali usai Chanyeol meminta maaf. Jadi itulah mengapa ia tampak lebih tenang untuk seukuran pria yang baru saja diputuskan pacarnya.
"Jadi bagaimana?" Chanyeol menghela nafas lagi, entah untuk yang keberapa kalinya dalam lima menit ini. "Aku ada latihan tes setelah ini. Dan kau malah membuang-buang waktu belajarku di sini."
"Membuang-buang?" Baekhyun mencolos dan tak benar ingin menyembunyikan tatapan terlukanya di sana. Ia merasa Chanyeol sangat keterlaluan sekarang, di saat seperti ini pria itu bahkan masih memikirkan dirinya sendiri. Jelas Baekhyun marah, ia merasa sudah cukup lalu mendengus kemudian. "Baiklah. Kita putus sekarang!" Kemudian dia berbalik dan berlari menuju gedung sekolah.
Ada sedikit perasaan menyesal muncul di hati Chanyeol begitu melihat pacar mungilnya meninggalkan dia di sini. Chanyeol ingin menyusul, meminta maaf dan membujuk mereka untuk baikan, namun setan kalapnya masih menguasai diri pria itu hingga ia tak peduli dan berpikir mudah untuk masalah yang satu ini. Seperti yang sudah-sudah.
Tapi tahunya, semenjak hari itu Baekhyun dan dirinya benar-benar tak pernah terlibat lagi dalam suatu percakapan hingga hari perpisahan tiba dan Chanyeol masuk ke universitas.
...
Wajah Chanyeol benar-benar tidak sedap untuk dipandang saat ini. Awan hitam memenuhi aura pria itu, langkah kakinya pun bahkan menyerupai preman pasar di sepanjang jalan. Salahkan saja mengapa hari ini berjalan begitu buruk untuk Chanyeol.
Dosen yang dicurigai memiliki dendam tersembunyi kepada Chanyeol lagi-lagi memberikan nilai ujian tengah semester pria itu dengan huruf E, padahal Chanyeol bersumpah dia sudah merasa menjawab betul semua pertanyan di sana. Tapi karena hasil yang tidak dibagikan membuat Chanyeol benar tidak bisa mengajukan protes dan berakhir memuram durja seperti ini.
"Akupun berpikir seperti itu." Sohibnya, Jongin juga bahkan menyetujui kecurigaan Chanyeol tersebut. "Aku bahkan tidak belajar sekeras kau tapi masih mendapat A- di kelasnya." Aku Jongin yang malah semakin menambahkan kekesalan temannya itu.
Chanyeol langsung mendengus keras, menghentakkan coffee cup miliknya ke atas meja penuh emosi. "Aku mempertanyakan keprofesionalitasan pekerja di sini."
"Sudahlah." Jongin melerai. Pria bermarga Kim itu tak suka melihat Chanyeol yang terus menggerutu sepanjang hari lantas mengedarkan matanya yang jatuh kemudian pada seorang perempuan di depan sana.
Itu Lee Sohee, gadis cantik dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang Jongin ingat pernah dibicarakan mahasiswa karena menyukai Chanyeol. Suatu kegemparan di kampus mereka saat itu mengingat Sohee adalah sang primadona di fakultasnya sedang Chanyeol hanyalah seonggok daging yang terlampau dingin.
"Hei Chanyeol, coba lihat arah jarum jam enammu." Kata Jongin.
Pria Park itu melirik sesaat jam tangannya sebelum kemudian menoleh ke belakang. "Ada apa?" Tanyanya clueless karena tak mendapatkan hal yang menarik di sana lalu menatap Jongin kembali.
Pria Kim itu berdecak tanpa suara. "Ada Lee Sohee di sana. Dia itu menyukaimu, kan?"
Chanyeol hanya memutar bola mata malas untuk itu. "Kau termakan gosip itu juga? Aku saja merasa tidak pantas untuknya."
"Tapi bagaimana jika itu benar?"
Sejumput senyum yang diperlihatkan Jongin benar tak dimengerti Chanyeol sama sekali. Pria Park itu masih dengan ekspresi yang sama menatap Jongin tak berhenti. "Kau sedang mencoba mengatakan apa sih sebenarnya?"
"Maksudku coba saja dekati Sohee, siapa tahu kau mendapat kemajuan di kelas Professor Lee. Dia itukan anaknya."
Oh benarkah?!
...
Kedongkolan Chanyeol masih tak kunjung hilang rupanya. Itu seperti menemani Chanyeol di sepanjang hari bahkan ketika pria itu sudah sampai di gedung apartemennya. Chanyeol ingin segera beristirahat, tapi mengingat di dalam tempatnya kini ia menyimpan seseorang, Chanyeol berharap dia tidak akan terkena darah tinggi lagi setelah ini.
Tapi tahunya sebuah sambutan begitu Chanyeol masuk ke apartemen benar meledakkan darahnya seketika itu juga.
"Apa yang kau lakukan, Byun Baekhyun?!"
Mendapati keadaan dapurnya yang seperti kapal pecah di sana dengan kepulan asap warna hitam memenuhi juga wajah gosong Baekhyun yang selanjutnya ia lihat, Chanyeol tak lagi menunggu untuk sebuah sahutan. Cepat saja ia mengambil hydrant yang menggantung di dekat pintunya lalu menyemprotkan benda itu pada kebakaran kecil yang sedang terjadi di sana.
Suara batuk terdengar dari Baekhyun berulang kali sampai kepulan asap itu perlahan sudah sedikit berkurang dan kini tinggal menyisahkan api kecil di lap yang terbakar. Chanyeol telah selesai di sana lantas melemparkan hydrant itu setelahnya.
"Aku—" Baekhyun mendekat namun sontak dibuat mundur kembali saat sentakan Chanyeol terdengar menggelegar.
"Apa kau ingin menghancurkan dapurku HAH?!"
"Aku tidak!"
"Lalu yang sekarang ini apa?!" Chanyeol membuka tangannya lebar menunjukkan peralatan dapur yang sudah dipenuhi warna hitam.
Melihat itu Baekhyun tertunduk, ia tahu dirinya bersalah di sini. Tapi tetap saja Baekhyun ingin membela dirinya. "Aku tidak tahu kain lapnya terbakar dan itu tiba-tiba membesar begitu saja."
Chanyeol mendengus kasar. Hari-harinya benar berlalu dengan kacau dan ia merasa ini sudah cukup.
"Pergi."
"Apa?"
"Kubilang pergi dari sini!"
Suara tinggi Chanyeol lagi membuat Baekhyun tersentak. Lelaki itu mengerjap menemukan raut wajah Chanyeol yang dipenuhi emosi kini, Baekhyun menjadi tak berani untuk terus berdiri di sana. Lalu ia pun berbalik keluar dari dapur, benar meninggalkan Chanyeol setelah berujar dengan suaranya yang bergetar.
"Aku minta maaf."
Bunyi pintu yang tertutup menandakan Baekhyun sudah berada di luar. Tapi Chanyeol masih bergeming dan butuh waktu beberapa saat untuk pria itu kemudian bergerak membereskan kekacauan.
Ia baru menyadari di meja makan sudah siap dengan alat makan. Apa anak itu yang menyiapkannya dan tengah mencoba masak sebelum kebakaran? Chanyeol dibuat menghela nafas untuk dirinya sendiri yang sudah melupakan satu fakta jika Baekhyun dan dapur itu adalah sesuatu yang harus dijauhkan.
Chanyeol membuka pintu kamarnya kemudian. Di dalam sana tahunya sudah dalam keadaan yang rapi tapi Chanyeol tidak ingat sebelumnya ia sudah membereskan tempat ini.
Seketika pria Park itu teringat akan sesuatu. Segera saja dia meninggalkan kamar untuk melihat keadaan apartemennya yang baru ia sadari dalam keadaan bersih dan rapi pula. Piring kotor di westafel sudah tercuci. Pakaian kering sudah terlipat dan siap disetrika. Begitupun baju kotornya yang sudah dijemur di balkon sana.
Apakah Baekhyun yang melakukan semua itu?
Rasanya mustahil, Chanyeol ingin mengelak tetapi mengingat kembali dulu Baekhyun selalu mencekcokki keadaan apartemennya yang berantakan, ini masuk akal saja jika anak itu yang membereskannya sekarang. Lagipula Baekhyun sudah mengatakan hal ini sebelumnya, bukan? Chanyeol akui jika Baekhyun pandai dalam hal pekerjaan rumah, pengecualian untuk memasak.
Sesaat Chanyeol merasa bersalah karena sudah membentak Baekhyun seperti tadi. Mengabaikan rasa lelahnya Chanyeol lantas beranjak keluar dan melupakan niat awalnya untuk beristirahat dengan berganti menyusuli Baekhyun kini.
Tapi anak itu sudah tidak terlihat di dalam gedung apartemen. Chanyeol tak sampai berhenti di sana masih berniat untuk mencarinya di luar. Walau rasanya mengerikan membayangkan dia yang berkeliling di kota besar ini hanya untuk mencari Baekhyun, namun untungnya Dewi Fortuna sedang berbaik hati padanya di sore ini.
Chanyeol menemukan anak itu masih berada tak jauh dari tempat tinggalnya. Baekhyun sedang berdiri di stan baso ikan goreng, terlihat ingin membeli makanan itu namun tak kunjung terlihat beranjak melakukannya dan Chanyeol cukup tahu apa alasannya. Baekhyun mungkin tidak ada uang.
Cepat saja Chanyeol menyebrang jalan untuk menghampiri Baekhyun kemudian. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Lalu mengujar tanya cepat, tak peduli responsif anak itu yang tersentak mendapatinya.
"Kenapa kau selalu saja menanyaiku hal itu." Baekhyun berprotes tanpa ingin menoleh pada Chanyeol. Ia bahkan tidak begitu mengambil tanda tanya untuk kehadiran Chanyeol, alih-alih menunduk yang selanjutnya Baekhyun lakukan. "Aku minta maaf untuk dapurmu yang hancur. Aku hanya ingin makan."
"Ikutlah."
Belum sempat Baekhyun bertanya, Chanyeol sudah menarik tangannya dan menuntun dia menyebrangi jalan kembali. Baekhyun sedikit dibuat terkejut saat tahu kemana arah yang dituju mereka.
"Kau akan membawaku ke tempatmu lagi?"
"Kau tidak ada tujuan, bukan?" Chanyeol balik melempar tanya. Dan Baekhyun tahu betul itu adalah jawaban lain dari iya.
Tak ingin berakhir serupa, Baekhyun lantas mencoba menarik tangannya yang dicengkram. "Aku tidak mau. Kau terus saja memarahiku."
Tapi Chanyeol tidak mengindahkan dan Baekhyun juga tidak memberontak. Hingga mereka sudah memasuki lift, barulah Chanyeol melepas tangan bocah itu di sana.
"Aku hanya kelelahan, dan melihatmu seperti itu siapa yang tidak emosi coba." Ujar Chanyeol lalu menghela nafas kecil.
"Itu karena kaunya saja yang pemarah!" Baekhyun menimpal tak suka. Benar tak peduli jika setelah ini ia akan ditendang kembali oleh Chanyeol sekalipun.
"Iya aku memang pemarah." Mengejutkan bagaimana Chanyeol tahunya mengakui hal itu. "Jadi tidak bisakah kau menuruti ucapanku saja?"
"Sudah aku bilang aku hanya ingin makan. Dan menggoreng sosis kupikir tidak terlalu sulit, salahkan kain lapnya yang tidak terlihat dan tahunya sudah terbakar begitu saja." Baekhyun merengut bersamaan itu pintu lift terbuka dan Chanyeol menarik tangan Baekhyun kembali.
Chanyeol menekan beberapa angka password untuk masuk ke dalam apartemen lalu setelah itu ia mendudukkan Baekhyun di tempat makan sementara dirinya masuk ke dalam dapur yang masih meninggalkan jejak Baekhyun di sana.
"Kau ingin makan apa?" Tanyanya yang segera dijawabi Baekhyun antusias.
"Terserah apa saja."
"Apa dari pagi kau belum makan?"
Baekhyun menggeleng dengan bibir mengelupas keluar seperti itu. "Aku baru ada nafsu makan sekarang."
Melihat Chanyeol yang sudah lebih baik kepadanya, Baekhyun lantastersenyum lebar menyadari sesuatu. "Jadi aku boleh tinggal di sini lagi?"
Untuk sesaat Chanyeol menoleh. "Tidak selamanya."
Itu terdengar tidak buruk juga daripada Baekhyun harus pergi mencari tempat yang belum pasti aman untuknya. Karena untuk sekarang anak itu masih belum juga terpikirkan siapapun selain Chanyeol untuk menyembunyikannya saat ini.
"Ah aku melihat di sini kamarnya ada dua!"
Seruan penuh maksud Baekhyun sontak menolehkan kepala Chanyeol kembali. Benar ia temukan di sana Baekhyun bersama cengirannya selaras dengan apa yang ia pikirkan.
"Apa yang kau harapkan?" Chanyeol hanya memutar bola mata mengerti itu. "Yang satu itu kamarnya Yoora, dia sedang pergi kemping sekarang."
Kontan saja si mungil mendesah. "Jadi aku tidur di sofa itu lagi?" Diliriknya sofa yang sebelumnya Baekhyun tiduri di ruang tengah sana. Dan Chanyeol menangkap itu berdecak keras.
"Tidak bisakah kau bersyukur?"
"Iya iya." Baekhyun berdecih pelan. Pikirnya mengapa Chanyeol jadi sensitif dengan mulut penuh nada sarkastik begitu.
Untuk beberapa saat Chanyeol masih berkutat di dapur dan tak mendengar ocehan apapun lagi dari Baekhyun. Sepiring omelet sudah tersaji, Chanyeol segera membawanya ke meja makan namun di sana ia tahunya hanya menemukan Baekhyun yang memejamkan mata dengan kepala di atas meja.
Chanyeol ingin mencak-mencak melihatnya, jika perlu ia balikkan meja makan itu untuk membuat anak itu terbangun. Namun nyatanya tak benar Chanyeol lakukan, tentu saja. Alih-alih pria Park itu kini mendudukkan diri di seberang Baekhyun dan tak sadar mulai memperhatikan wajah mantan kekasihnya di sana.
Baekhyun terlihat sangat kelelahan, itu mungkin saja karena Baekhyun sudah melakukan banyak pekerjaan di sini dan Chanyeol tiba-tiba saja merasa begitu bersalah. Lantas ia beranjak dari tempat duduknya menuju Baekhyun lalu menggendong anak itu dan membaringkan tubuh Baekhyun di sofa.
"Padahal kau belum makan sama sekali."
...
Perkataan Jongin siang tadi betul masih mengiang di kepala Chanyeol sampai saat ini. Pria bernama keluarga Park itu sedikit banyak terpengaruh dengan ponsel di tangannya kini yang ia tatapi kontak wanita bernama Lee Sohee di sana.
Haruskah Chanyeol melakukannya?
Ia sejujurnya tak benar merasa tertarik pada wanita itu tapi Chanyeol tak berbohong ia ingin sekali mata kuliah Professor Lee meningkat untuknya. Tapi dengan mendekati Sohee? Itu benar-benar cara yang pengecut Chanyeol pikir, terdengar bukan dirinya sekali.
Bruk.
Suara keras itu melonjakkan Chanyeol seketika di tempatnya. Lamunan pria itu sukses tertarik saat suara erangan terdengar menyusul setelah itu. Chanyeol lantas pergi dari balkon untuk melihat Baekhyun yang benar ia temukan di sana sebagai pelaku yang membuatnya terkejut.
Anak itu sudah terbangun dari tidurnya dengan wajah mengernyit sakit.
"Kau tidak apa?" Chanyeol bertanya dan menghampiri.
Baekhyun menggeleng kecil sambil merutuk. "Aku sudah dua kali jatuh di sini."
"Lagian apa yang kau mimpikan sih." Chanyeol mendengus geli. Sofanya tidak terlalu sempit omong-omong, dan ia tak mengerti mengapa Baekhyun bisa sampai terjatuh bahkan untuk yang kedua kalinya. "Kau baik-baik saja, kan?"
Deheman Baekhyun menyahut sebagai jawaban, tapi tangan lelaki itu memegang perut di sana membuat Chanyeol menjadi sedikit banyak merasa cemas.
"Kenapa? Perutmu sakit?" Tanyanya berikut tubuh yang berjongkok untuk berhadapan langsung dengan wajah Baekhyun.
Remaja Byun itu tidak menjawab. Matanya hanya mengerjap-ngerjap balas menatap Chanyeol. "Aku tiba-tiba saja ingin sekali mangga."
Ujaran itu kontan membuat satu yang lainnya memutar bola mata di sela sisipan lega menyusupi. Chanyeol mendengus lagi sebelum berdiri kembali dari posisinya.
"Yang benar saja."
"Aku serius. Aku ingin mangga, Chanyeol." Baekhyun mendongak, sipitnya sedikit tergenang dengan binaran aneh di sana. Dan Chanyeol melihat itu tanpa ekspresi.
"Aku tidak punya." Cetusnya, tak ingin berlama-lama di sana Chanyeol memutuskan untuk segera beranjak menuju kamar. "Tidurlah lagi sana."
Namun Baekhyun menggeleng dalam jumlah yang banyak menanggapi pria itu. "Tidak bisa. Aku rasa aku akan mati jika tidak makan mangga sekarang juga."
"Ini sudah malam, Baekhyun."
"Mangga~" Dayuan suara Baekhyun berubah bergetar, terdengar nyaris akan menangis. Benar-benar persis seperti anak kecil yang kehilangan permen, ditambah posisinya yang masih terduduk di atas lantai seperti itu.
Chanyeol dibuat keheranan melihat hal tersebut. Ia benar takkan mengindahkan jika saja Chanyeol tidak disadarkan akan sesuatu. Tungkainya sontak berhenti melangkah kemudian berbalik memandang Baekhyun.
"Tunggu sebentar.. Apa sekarang kau sedang mengidam?" Chanyeol sendiri skeptis dengan ucapannya. Bahkan dia merasakan gelenyar aneh saat mulutnya mempersuakan kata sakral baginya itu.
Baekhyun di sana balas menoleh kepadanya, wajah memerah anak itu samar berkerut bingung. "Apa itu mengidam?"
Suara cikcak di dinding berganti menyahuti setelahnya. Chanyeol untuk sesaat hanya membuka mulut namun tak benar keluar suara apapun di sana.
Ini sungguh konyol, serius. Mengapa sekarang Chanyeol harus bersama dengan orang yang sedang hamil? Mereka itu sangat merepotkan, terlebih untuk Chanyeol yang tak ada sangkut pautnya dengan kehamilan Baekhyun sama sekali. Satu yang Chanyeol tahu fase mengidam adalah mimpi terburuk, karena bila tidak dikabuli anak yang akan terlahir nanti akan mengeces.
Itu menjijikkan. Dan Chanyeol tak bisa membayangkan—sebenarnya ia tak tega Baekhyun kelak mempunyai anak yang mengeces. Tapi sungguh apa pedulimu, Chanyeol?
"Kau sungguh ingin mangga?"
Baekhyun langsung memberikan anggukan cepat, tak lupa dengan mata anjing yang juga diperlihatkan mantannya itu. Chanyeol menemukan dirinya menghela nafas untuk itu sebelum menyambar kunci mobilnya kemudian. Ia tahu, sesuatu pasti sedang ada yang bermasalah di kepala Chanyeol hingga dia merelakan waktu malamnya hanya untuk berkeliaran mencari mangga.
"Kau harus membayar untuk ini, Baek."
"Huh? Kau mau kemana?" Baekhyun sigap berdiri begitu Chanyeol berjalan ke pintu keluar. Dan selanjutnya anak itu dibuat tertegun mendapati jawaban Chanyeol.
"Mencari mangga."
Pintu lalu tertutup. Baekhyun ditinggal sendiri kini namun senyum anak itu perlahan terlihat berkembang. Di depannya masih dapat ia lihat seperti apa Chanyeol menghilang dengan ujaran seperti itu.
Benarkah Chanyeol melakukannya? Tetapi daripada itu—apakah ada orang yang berjualan mangga di tengah malam seperti ini?
Mari berdoa saja untuk Park Chanyeol, seperti apa yang dilakukan Baekhyun sekarang.
...
Next Chapter
"Justru dengan jawabanmu itu Kyungsoo pasti akan menganggapmu sebagai seorang pemain yang melakukannya dengan banyak orang. Apa kau mau seperti itu?!"
"Kenapa kau jadi marah padaku?!"
"Itu karena kau tidak berterima kasih padaku sama sekali!"
"Baik! Aku sangat berterima kasih padamu! Terima kasih karena kau sudah mau mengaku-ngaku ini adalah perbuatanmu! Terima kasih karena dengan begitu Kyungsoo akan berpikir Pean adalah milikmu! Lalu setelah Pean lahir Kyungsoo akan bertanya mengapa anakku tidak memanggilmu ayah!"
To be continued..
a/n : saia mencium bau kebucinan di sini ╰( ̄▽ ̄)╭ ada yang bisa nebak kenapa baekhyun bisa pacaran sama matthew?
