Disclaimer : All characters belong to J. K. Rowling.

Karena saya ga punya kucing dan ga pernah punya, saya pake Manual Perawatan Fat Louie dari seri Princess Diaries karya Meg Cabot

Iya, tahu, cara perawatannya rada berlebihan. Fat Louie kan manja, wajar dong??


Chapter 2

"Hermione, Sayang, kau sudah bangun?" seru Mrs. Granger dari bawah tangga. Mrs. Granger mengenakan setelan blazer dengan rok selutut, jas putih tersampir di tangannya, siap berangkat kerja.

"Sudah, Mum! Aku turun seka… Ouch, Crookshanks!! Jangan lompat ke si..." teriakannya terputus saat terdengar suara sesuatu jatuh berkelontangan, disusul Crookshanks yang ribut mengeong ditambah Hedwig dan Pig ber-uhu bersahut-sahutan.

"Hermione, ada apa?"

"Crookshanks! Lagi-lagi kau menendang mangkuk airmu sampai tumpah! Sudah kubilang jangan melompat-lompat dalam rumah!" Teriakan putus asa Hermione menjawab pertanyaan Mrs. Granger. Rupanya Crookshanks menendang mangkuk airnya sampai tumpah dalam usahanya melompat untuk menyapa Hedwig dan Pig. Tanpa memedulikan teriakan tuannya, Crookshanks terus melompat-lompat dibawah tenggeran burung hantu, sementara Pig berceloteh kegirangan melihat Crookshanks dan Hedwig ber-uhu marah, karena tidurnya terganggu oleh semua keributan itu.

"Tunggu sebentar Mum, aku turun setelah membereskan ini!" teriaknya sambil menjulurkan kepala dari pintu.

"Ya sudah. Mum tunggu di ruang makan, ya!" seru Mrs. Granger lagi, sembari geleng-geleng kepala. Kalau kedua burung hantu itu berkunjung, pasti selalu ribut-ribut begini, batinnya. Meski begitu, Mrs. Granger merasa lega. Setidaknya putri kesayangannya sudah ceria lagi. Dia pun beranjak menuju meja makan, dimana suaminya –yang juga sudah rapi- duduk sambil membaca koran pagi. "Mana Hermione?" tanya Mr. Granger.

"Sebentar lagi dia turun," jawab Mrs. Granger. Jas putihnya dia sampirkan di kursi. Sementara di kamar, Hermione sibuk membersihkan air yang menggenang dari mangkuk Crookshanks.

"Scourgify," gumamnya, seketika genangan air menghilang dari lantai. Diambilnya mangkuk air Crookshanks, dan memeriksanya kalau-kalau pecah atau rusak, meskipun sepertinya tidak mungkin karena mangkuk itu terbuat dari plastik. Setelah yakin tak ada bagian yang rusak, diletakkannya kembali mangkuk itu di lantai, dan berkata,

"Aguamenti." Mangkuk pun terisi kembali dengan air. Dia berbalik menghadapi Crookshanks yang masih mengeong ribut dibawah tenggeran. Digendongnya Crookshanks sampai setinggi Hedwig dan Pig.

"Tuh, sekarang kau sudah melihat mereka. Sudah puas kan? Sekarang, biarkan mereka tidur dengan tenang," kata Hermione pada Crookshanks. Hedwig dan Pig bersuara, seolah mengiyakan perkataan Hermione. Crookshanks mengeong pelan, tatapan matanya menyorotkan rasa bersalah dan sakit hati.

"Hei, jangan salah sangka. Mereka bukannya tidak ingin bertemu denganmu. Mereka kesal karena kau mengganggu tidur mereka. Sudah, jangan sedih begitu. Lebih baik kau ikut turun denganku," hibur Hermione pada Crookshanks. Dia menggendong Crookshanks keluar kamar. Begitu pintu ditutup, Pig dan Hedwig melanjutkan kembali tidur mereka.

Sedetik kemudian, Hermione muncul di ruang makan.

"Pagi Mum, Dad," sapanya sambil mencium kedua orangtuanya.

"Pagi, Sayang." Mr. Granger melipat korannya dan bersiap untuk sarapan.

"Pagi, Sayang. Telurnya mau dibuat omelet atau mata sapi?" tanya Mrs. Granger dari depan kompor.

"Omelet saja, Mum. Jangan lupa pakai keju, ya," jawabnya sambil meletakkan Crookshanks di lantai dapur. Dia membuka salah satu lemari diatas tempat cuci piring, tempat persediaan makanan Crookshanks.

"Mum, Whiskas Crookshanks habis, ya?" tanya Hermione.

"Oh ya?" kening Mrs. Granger berkerut, dan sesaat kemudian, matanya membulat seolah teringat sesuatu.

"Oh, Sayang, Mum lupa belum membeli persediaan makanannya bulan ini."

"Tak apa Mum, nanti biar aku yang beli. Mum akhir-akhir ini sangat sibuk, kan? Pagi ini biar Crookshanks makan tuna kaleng saja," jawabnya. Dia mengambil tuna kaleng di kulkas, membuka kemasannya, dan menaruhnya di piring makan milik Crookshanks, yang langsung disambutnya dengan girang. Tak lupa Hermione mengisi mangkuk dengan air dan meletakannya di sebelah Crookshanks. Barulah dia duduk dan menuang jus jeruk ke gelasnya. Beberapa saat kemudian, sepiring omelet keju dengan roti bakar yang masih mengepul tersaji di hadapannya. Mrs. Granger menuang kopi untuknya dan suaminya sebelum duduk di sebelah Mr. Granger.

"Bagaimana kabar Harry dan Ron? Ibumu bilang, semalam kau menerima surat dari mereka," tanya Mr. Granger. Hermione mengangguk.

"Mereka baik-baik saja. Well, Harry bilang dia baik-baik saja, tapi dari suratnya terkesan kalau dia masih belum bisa melupakan… kejadian malam itu." Hermione tidak sanggup mengucapkan nama Dumbledore tanpa meneteskan air mata. Dan dia tak ingin membuat orangtuanya khawatir dengan menangis di depan mereka.

"Melupakan bukanlah penyelesaiannya. Memori manusia bekerja dengan cara yang tak bisa kita mengerti. Terkadang kita tak bisa melupakan hal-hal yang sebetulnya ingin kita lupakan. Yang bisa kita lakukan hanyalah merelakan apa yang sudah lepas dari tangan kita, dan berusaha menjalani hidup lebih baik lagi." Ucapan bijak Mr. Granger terasa seperti embun yang menyejukkan hati Hermione. Perlahan gejolak emosinya mereda.

"Thanks, Dad. Well, anyway, Mrs. Weasley mengundang kita semua datang ke pernikahan Bill dan Fleur awal Agustus nanti. Mum dan Dad bisa datang?" tanya Hermione ragu. Akhir-akhir ini, kedua orangtuanya sangat sibuk.

"Tentu saja! Katakan pada Mrs. Weasley, kami akan datang. Dia wanita yang baik, tidak sopan kalau kami menolak undangannya. Selain itu, pasti sangat menarik melihat pernikahan di dunia sihir. Sayang, apakah pernikahan dunia sihir berbeda dengan pernikahan di sini?" jawab Mrs. Granger antusias. Hermione tersenyum lega.

"Entahlah, Mum. Aku sendiri belum pernah menyaksikan pernikahan dunia sihir. Tapi aku setuju dengan Mum, pasti akan menarik sekali."

"Kalau begitu, Bill sudah sembuh dari lukanya?" tanya Mrs. Granger lagi. Hermione menghela nafas.

"Bekas lukanya tak bisa hilang. Tapi untungnya, dia tidak berubah jadi manusia serigala. Ron menyuratiku setelah malam bulan purnama beberapa waktu lalu, katanya Mrs. Weasley menangis saking leganya."

"Syukurlah. Lalu, bagaimana cara kita pergi kesana nanti?" tanya Mr. Granger.

"Well, menurut Mrs. Weasley nanti akan ada yang menjemput, mungkin salah satu anggota Orde, untuk menjadi penunjuk jalan. Kita bisa pergi kesana naik mobil," jawab Hermione. Kedua orangtuanya tak bertanya lagi. Mereka meneruskan sarapannya dalam diam.

"Baiklah, Hermione, kami pergi dulu. Hati-hati dirumah, ya?" ujar Mr. Granger setelah sarapan. Hermione mengangguk, dan mengantarkan kedua orangtuanya ke depan pintu. Crookshanks yang sudah kenyang mengekor di belakang mereka. Dia menunggu hingga mobil orangtuanya menghilang di belokan sebelum masuk dan mengunci pintu depan. Hermione naik ke kamarnya, mengambil buku yang dibacanya tadi malam, gulungan perkamen, pena bulu dan botol tinta, kemudian turun ke dapur dan mengambil jus kaleng di kulkas.

Hermione melangkah keluar dari pintu dapur. Cuaca hari itu sangat cerah, dia ingin menghabiskan hari itu dengan membaca di tempat favoritnya, dibawah pohon maple yang tumbuh di halaman samping rumahnya. Crookshanks dengan setia menemani tuannya di bawah pohon.

Mr. dan Mrs. Granger mengira Hermione belajar untuk persiapan NEWT. Sebenarnya, tidak. Sejak kembali dari Hogwarts, Hermione menghabiskan sebagian besar waktu luangnya untuk berlatih dan menyelidiki segala hal tentang Horcrux. Dia telah membuat daftar mantera-mantera yang menurutnya berguna dalam pertempuran yang sudah dikuasainya. Cukup banyak, ternyata. Sebagian besar dia kuasai saat membantu Harry berlatih untuk Kejuaraan Triwizard saat kelas empat, sebagian lagi dia kuasai ketika bergabung dalam Laskar Dumbledore sepanjang tahun kelimanya. Dia juga menyalin banyak dari buku-buku perpus mengenai keempat penemu Hogwarts, berharap bisa menemukan petunjuk tentang letak sisa Horcrux.

Untuk hari ini, Hermione memutuskan untuk membaca daftar mantra, kutukan, kontra-kutukan, serta mantra penyembuh buatannya sebelum berlatih lagi. Daftar itu dibuatnya ketika masih berada di Hogwarts, berjuta terima kasih pada semua buku yang membantunya di perpustakaan. Hermione mulai membuat daftar tersebut di pertengahan tahun keenamnya, saat Harry mulai berlatih pada Dumbledore. Hermione merasa harus mempunyai persiapan yang amat sangat matang untuk menghadapi perang ini. Sementara Harry berlatih dengan Dumbledore, Hermione dan Ron memutuskan untuk melatih kemampuan mereka bertarung, mengingat Laskar Dumbledore tidak lagi mengadakan pertemuan.

Kemajuan yang dicapainya saat berlatih dengan Ron cukup bagus, well, paling tidak kemajuannya bagus. Ron masih tertinggal beberapa langkah di belakangnya. Namun, kemajuannya sekarang, saat tak ada pasangan untuk berlatih, kurang begitu memuaskan. Hermione tak tahu seberapa bagus penguasaannya atas mantra yang dia latih, mengingat dia tak bisa mencobanya pada seseorang. Yah, semoga saja nanti aku punya kesempatan untuk mengetesnya, batinnya.

Saat sedang membaca, pikirannya melayang pada surat di atas mejanya. Surat dari Harry dan Ron. Surat yang membuatnya bimbang, sehingga dia menunda membalas kedua surat itu sebelum merasa yakin.

Bagaimana tidak, saat dia membaca surat dari Harry, dia semakin yakin bahwa kondisi emosional Harry masih belum berubah, kalau tidak lebih buruk. Harry memang tidak menyebutkan secara tertulis dalam suratnya, itu kesepakatan mereka untuk menghindari burung hantu mereka diperiksa. Namun Hermione yakin, Harry ingin melakukan pencarian Horcrux itu sendirian, tanpa dirinya maupun Ron. Sampai saat ini pun, Harry masih menyalahkan dirinya atas kematian yang menimpa Dumbledore dan Sirius. Harry berpendapat, dia tidak boleh melibatkan orang lain lebih jauh lagi. Pendapat yang membuat Hermione ingin memukul kepala Harry yang bodoh itu saking kesalnya. Setelah semua yang telah mereka bertiga lalui bersama, Harry masih menganggap dirinya dan Ron orang lain?

Pikirannya terhenti saat dering telepon di ruang tengah terdengar lewat jendela yang terbuka. Hermione tersentak dari lamunannya, dan bergegas mengumpulkan semua barang-barangnya sebelum kemudian berlari masuk ke rumah.

"Halo,"

"Hermione? Apa itu kau?" suara di seberang membuatnya kaget setengah mati. Untuk apa dia menelepon, sementara selama ini dia tak pernah melakukan itu?

"Harry? Ada apa? Tumben kau menelepon, biasanya kau mengirimiku Hedwig," tanya Hermione keheranan.

"Sstt, dengar, Keluarga Dursley sedang pergi, jadi aku bisa mencuri kesempatan meneleponmu. Tapi aku tak tahu bisa berapa lama. Apa yang akan aku sampaikan ini sangat penting, aku tak bisa mengambil resiko Hedwig dilacak." Suara Harry terdengar sangat serius. Ekspresi Hermione berubah.

"Tunggu sebentar," ucapnya. Apa yang akan disampaikan Harry pastilah sangat penting sehingga dia tak bisa mengambil resiko mengirimkannya lewat Hedwig. Saat ini, memang hanya ada dia dan Crookshanks dirumah, namun tak ada salahnya melakukan beberapa tindakan pengamanan. Hermione mengayunkan tongkatnya, mengunci semua pintu dan jendela, kemudian menggumamkan mantera Silencio.

"Ok, ada apa?"

"Ini tentang orangtuamu, Hermione." Jantung Hermione berdetak lebih kencang. Apa yang bakal disampaikan Harry pastilah bukan kabar baik. Dia menarik nafas, menyiapkan mentalnya menghadapi yang terburuk.

"Ada apa dengan orangtuaku?"

Terdengar helaan nafas dari seberang sebelum Harry berkata,

"Well, sebenarnya ini baru perkiraanku saja, namun tak ada salahnya kita bersiap-siap. Hermione, ada kemungkinan Voldemort mengincar keluargamu." Keringat dingin membanjiri tubuh Hermione, buku kuduknya tiba-tiba berdiri. Dia memang sudah memprediksikan hal itu, tapi tetap saja, mendengarnya keluar dari mulut orang lain menambah ketakutannya akan keselamatan oangtuanya.

"Harry, sebenarnya aku juga sudah menduga hal itu," jawabnya pelan. Harry terdiam sebentar sebelum menjawab,

"Entah kenapa, aku tidak heran mendengarnya keluar dari mulut penyihir terpandai di Hogwarts." Hermione berani bersumpah Harry tersenyum saat mengatakan hal itu. Mau tak mau, dia ikut tersenyum juga. Namun, sesaat kemudian Harry kembali serius.

"Ya. Orangtuamu Muggle, dan terlebih lagi, mereka orangtua dari sahabatku. Mereka pasti akan melakukan apa saja untuk mendapatkanku. Voldemort pernah berusaha mendapatkanku lewat Ginny, dia pasti tidak ragu untuk mendapatkanku lewat kau. Tak ada salahnya meminta pertolongan Orde untuk mengawasi dan menjaga rumahmu selama 24 jam penuh."

"Tapi Harry, bagaimana kalau pengawasan itu membuat mereka mengetahui tentang Horcrux? Itu mungkin saja terjadi, cepat atau lambat, kalau mereka menempeliku selama 24 jam!"

"Bagaimana mungkin?" tanya Harry curiga.

"Aku, well, terus terang saja, selama ini aku menyelidiki segala sesuatu tentang Horcrux dan barang peninggalan keempat pendiri Hogwarts. Aku mengolah informasi darimu dan mencari referensi tambahan dari perpustakaan ketika masih berada di Hogwarts." Hermione berkata cepat, seolah tidak ingin terdengar terlalu membanggakan diri. Dia tidak memedulikan Harry yang hendak mengatakan sesuatu di seberang telepon.

"Apalagi, kita berencana untuk pergi mencari Horcrux yang tersisa setelah pernikahan Bill dan Fleur. Kalau mereka ada disekitarku, mengawasiku, bukan tidak mungkin mereka juga bisa mengendus rencana kita itu!"

"Hermione, mengenai hal itu, aku tidak memaksamu dan Ron untuk ikut denganku, apalagi sekarang..." ucapan Harry dipotong oleh seruan penuh emosi Hermione.

"Oh, bagus, setelah semua yang kita lalui bersama-sama selama ini, tiba-tiba kau berlagak sok pahlawan dengan berusaha mencari sisa Horcrux sendirian? Bagus sekali," ucap Hermione sarkastis.

"Aku tidak berlagak sok pahlawan! Aku hanya tidak ingin mengancam keselamatanmu dan Ron!" teriak Harry marah. Hermione tidak menggubrisnya.

"Harry, kau sendiri yang bilang, Voldemort sudah mengetahui kalau aku dan Ron adalah sahabatmu. Kami ikut denganmu atau tidak, nyawa kami sudah terancam!" Hermione benar-benar gusar. Dasar Harry bodoh, apa sih yang dipikirkannya? batinnya. Harry menghela nafas.

"Baiklah, baiklah, lalu sekarang bagaimana? Kau tetap harus dapat perlindungan!" putus Harry. Mereka terdiam selama beberapa saat, sebelum Harry berbisik tertahan,

"Hermione, mereka sudah pulang. Aku harus menutup teleponnya sekarang, kalau tidak Paman Vernon akan membantu Voldemort dengan membunuhku."

"Harry, tung..." ucapan Hermione terputus ketika Harry menutup teleponnya. Seakan tak percaya Harry sudah menutup telepon, Hermione masih tertegun di tempatnya. Perlahan, dia menghempaskan tubuhnya di sofa.

Hermione menghela nafas. Sekarang, setelah Harry memastikan dugaannya, ketakutannya semakin besar. Dia memandang berkeliling, seolah melihat Death Eater dimana-mana. Sungguh, belum pernah dia setakut ini. Kali ini, bukan hanya dirinya, tapi nyawa kedua orangtuanya juga terancam. Dia merinding. Kesepian di sekelilingnya seolah mencekamnya. Mendadak ketakutannya bertambah. Merlin, bagaimana kalau Mom dan Dad diserang di tempat praktek mereka? Bagaimana kalau mereka diserang di jalan? Kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka, itu semua salahku. Tapi aku harus bagaimana?

Air mata meleleh di pipinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia berharap dirinya hanyalah seorang gadis remaja Muggle biasa, tanpa kemampuan sihir, dan tanpa mengetahui apapun tentang dunia sihir.


TBC