.

The way we faced WE ARE

Naruto © Masashi Kishimoto

Naruto and all characters is purely Masashi Kishimoto's. I just take some of his character to build up this fiction. I don't take any material profits, too.

Story © Rachel Cherry Giusette

.


.

[Tentang dua anak manusia yang terpisah jarak ribuan mil dan segala tetek-bengeknya.]

.

SasuSaku, OOC, AU, Plot scene lompat-lompat.

Selamat menikmati =)

.


.

#2
NAÏVE

.

Dan Sasuke, dengan segala kenaifannya. Satu sisi dirinya yang masih jadi misteri menarik untuk kutelisik di awang-awang.

Kami selalu satu sekolah mulai dari SMP sampai SMA. Saat SMP, Sasuke menempati kelas reguler, sementara aku terkungkung di peradaban kelas A yang kompetitifnya-tidak-karuan selama tiga tahun nonstop.

Soal Sasuke, selenting angin kadang, beberapa kali aku mendengar namanya disebut halo-halo sekolah. Selebihnya aku tak ingat sama sekali bagaimana rupanya dulu di SMP. Bahkan tidak sadar saat berpapasan di sekolah.

Intinya, aku sama sekali tidak tahu Sasuke.

Lanjut ke SMA, dimana penjurusan kelas sudah dimulai sejak kelas 10. Sasuke masuk di kelas IPA, dan aku di kelas IPS. Entah bagaimana mulanya Sasuke mulai mengenalku. Tahu-tahu matanya sudah mengekori sosokku dari jauh. Melihatku mondar-mandir ke ruang guru untuk berkonsultasi dengan guru Bahasa Indonesia, sibuk kesana-kemari dengan segala tetek-bengek urusan redaksi majalah bulanan sekolah, dan tahu peranku sebagai malaikat pembawa mendung-muram-durja ke kelas: pembawa tugas-tugas dari guru.

Di tahun kedua, aku resmi ikut keanggotaan pramuka dan PMR sekolah. Katanya, dia salut padaku yang langsung tancap gas mendapat posisi ketua adat di pramuka sekolah (posisi tertinggi yang bisa dicapai anak kelas dua) waktu itu. Meskipun aku tidak terlalu berperan di satuan PMR, Sasuke selalu tahu bagaimana aku yang bersengsara-ria mengatasi jerit sendiri karena darah bohongan tiap kali mengikuti simulasi penanganan bencana alam.

Aku tetap tidak menyadari keberadaan Sasuke, pun ketika dia resmi bergabung dengan satuan PMR saat kelas tiga. Nama Sasuke ada banyak, kalau kau tak tahu. Dan nama itu pasaran. Lagipula pengurus PMR sebanyak itu tak mungkin kuhafal semua namanya. Pun lagi, aku ini tipe orang yang jelek soal memadankan nama dengan wajah pemiliknya.

.

.

He's got his eyes on me. Mata gelap itu terus memancang fokus pada si merah muda. Begitulah rutinitas otomatis yang menghiasi hari seseorang. #ehem.

.

.

Dan puncak tersengelin—entah terkocak—bagi Sasuke adalah, saat dimana dia nekat menulis surat kaleng isi puisi cinta alay (kata dia sendiri loh, bukan aku) yang dengan setupitnya dia kirim lewat teman cowoknya.

Waktu itu kemah dalam rangka purna pengurus PMR angkatanku. Semua orang sibuk dengan pertetek-bengekan tugasnya masing-masing. Seluruhnya berjalan lancar dan damai sampai dua hari acara terasa cepat berlalu, kecuali bagian "telah ditemukan surat kaleng alay oleh kakak PMR di dekat gudang peralatan saat jurit malam".

Untung si penemu suratnya bijak, jadi kabar itu hanya santer di kalangan pengurus saja, tidak sampai bocor ke adik kelas.

Dan sesi bodohnya bagiku adalah, aku ikut-ikutan menimbrung saat anak-anak angkatanku yang sesama pengurus bergosip-ria tentang masalah itu di tenda cewek. Waktu itu kami sama-sama gak tahu dan tak punya ide untuk siapa surat itu dituju, pun si empu yang menulis deretan separagraf puisi konyol itu.

Aku sempat membacanya sekilas, sih, karena kebetulan yang menyimpan suratnya adalah Hinata, teman dekatku. Aku tidak terlalu ingat apa isinya. Tapi menurutku gak lebay, kok. Justru enak dibaca, tidak bikin sakit mata banyak-banyak. Malahan menurutku cenderung sarkastik untuk bisa dibilang sebagai surat cinta, haha.

Kasus surat cinta kaleng itu tidak jelas juntrungnya sampai angkatanku lulus. Tidak terpecahkan, dan sudah dilupakan.

.

.

Nyatanya, kebenaran terungkap setelah bangkai menjadi tanah. Omongan soal surat kaleng itu mulai terdengar lagi pasca hari kelulusan. Kasak-kusuk berisi dugaan tentang siapa-pengirim-dan-untuk-siapa-surat-dituju itu mampir ke telingaku saat mengurus kelengkapan tetek-bengek dokumen yang belum tuntas di sekolah.

Aku tidak ambil peduli pada awalnya. Yah, bodo amat. Tapi aku mulai terusik saat temanku bilang, 'Eh Sakura! Gak sadar apa, kalau surat itu buat kamu?'

Masih kucueki kalau saja yang bilang begitu hanya satu orang. Nah ini, kurang lebih delapan orang yang mengatakan hal serupa.

Dan responku akhirnya hanya, 'Hah? Apa-apaan? Bercandanya kok gak asik sih.' Plus kutambahi tawa garing setelahnya.

Begitu aja.

.

Entah itu deduksi dari mana sampai bawa-bawa namaku segala. Yang jelas aku baru tahu setelah si pelakunya sendiri yang mengaku. Aku tidak langsung gamblang percaya. Maka dari itu kutanya Suigetsu, si kurir dong-dong yang menjatuhkan surat yang berakhir dengan kehebohan itu. Dia membenarkannya, bahwa Sasukelah pelakunya.

.

Sasuke Uchiha.

.

Sasuke si kacamata ceking.

.

Sasuke si kacamata ceking yang hidupnya hanya berputar-putar dengan buku hitungan ruwet dan penggila periodik unsur.

.

Mana ada yang mengira dia pelakunya?

WAH, SUNGGUH. Sasuke ini memang nerd yang sangat-sangat diluar prediksi semua orang! Siapa saja pasti menilainya anak anteng*yang kalem dari sekali lihat.

Haduh, drama deh. Ampun.

Pasca dia bercerita, aku hanya bisa mencuap tiga kata, 'OH ITU KAMU?'

.

.

Sasuke, dengan segala kenaifannya. Satu sisi dirinya yang masih jadi misteri menarik untuk selalu aku kepokan dalam awang-awang. Aku mulai mereka-reka kalau: jangan-jangan itu hanya kulit luar sifat konyol Sasuke. Bagaimana kalau dia punya bakat konyol terpendam? Bagaimana kalau dia bisa jadi lebih konyol dari itu nanti-nanti? Apa aku bakal mendapat malu di masa depan?

…bagaimana kalau nanti Sasuke mengirimiku surat-surat ancaman pembunuhan sebagai alibi untuk berbaikan saat kami bertengkar? Atau kalau tidak begitu, Sasuke meleponku lewat panggilan dari kantor polisi dan bilang kalau "Sasuke Uchiha kecelakaan parah dan tidak tertolong nyawanya" demi memberi kejutan hari jadi?

.

Bagus! Sekarang malah aku yang melantur.

.

Aku tidak habis pikir. Cowok aneh pengirim surat kaleng yang kupikir hanya ada di zaman orang tuaku dulu, ternyata masih ada di generasiku.

Aduh, naifnya…

.

.

.

Aku melotot. Jam di dinding kamarku sudah menunjukkan pukul 11 malam. Paper-paper tugasku masih berserakan di hadapanku sekarang. Oh, tidak… gara-gara memikirkan Sasuke, aku jadi lupa mengerjakannya!

"Sial," rutukku, mataku langsung beringsut menari-nari liar ke deretan kalimat perintah tugas.

Sasuke, kalau besok aku belum juga menyelesaikan paper sialan ini, ini karena salahmu! Batinku meracau. Tapi tak bisa kupungkiri, batinku juga berkata:

.

Sedang apa kamu disana? Sudah tidur atau belum?

.

.

.


Catatan:

Anteng = diam/tidak suka berlaku macam-macam (Bahasa Jawa)

ARA (Area Racauan Author):

Halo! Berhubung mood lagi bagus, langsung aku update nih. /padahal baru publish kemarin =_=

Terima kasih untuk V, chibtha, dan dewisetyawati411 yang sudah mereview chap pertama! *peluk-peluk* buat Miss Divania Cherry yang sudah memfav, terima kasih jugaa =))

Mind to RnR?