"Hinata-san, kita bertemu lagi," kata seorang berambut pirang jabrik. Matanya yang sewarna dengan jernihnya air di samudera itu menyipit karena senyumnya yang lebar.
"Ah, ya. Kebetulan sekali, Naruto-san," kata Hinata.
Saat ini, mereka sedang berada di sebuah café yang berada di jalur Konoha Street. Sebuah café yang terlihat bernuansa klasik dengan dindingnya yang hanya berupa susunan batu bata dan juga furniture yang terbuat dari kayu. Musik-musik yang biasanya terdengar di-era 70–an juga terdengar dari speaker yang terpasang di sudut-sudut café itu.
"Um… untuk tanda terima kasihku yang waktu itu, bagaimana kalau kutraktir?" tawar Hinata.
"Baiklah." Naruto menyetujuinya.
Mereka duduk di sudut dekat jendela café itu. Menikmati isi cangkir milik mereka yang berada di hadapan mereka. Percakapan terus saja mengalir bagaikan air dari awal mereka bertemu. Kadang kala, tawa pun juga terselip disana. Terlalu asik mengobrol, mereka tidak sadar beberapa orang ada yang memandang mereka dengan ekspresi terkejut, bingung, dan juga sulit untuk diartikan. Mungkin dalam pikiran mereka terlintas beberapa pertanyaan.
Blitz…
.
.
.
.
.
.
NARUTO © Masashi Kishimoto
Our Feeling © Kazuma B'tomat
© 2010
.
.
.
Language : Indonesia
Rated : T
Genre : Romance & Hurt/Comfort
Character : Sasuke.U & Sakura.H
Pairing : SasuHina & SasuSaku
.
.
.
Warning :
AU, OOC, not for bashing character!
Hinata x Sasuke x Sakura
Italic = inner
.
.
.
Kazuma House Production present…
Our Feeling
.
.
.
.
.
.
Srek…
Sebuah koran dilemparkan tepat ke hadapan Hinata. Hinata yang sedang terduduk pun terkejut, apa lagi di halaman pertama koran tersebut terpasang gambarnya sedang mengobrol berduaan dengan Naruto. Ia takut kalau-kalau Ayahnya akan memarahinya. Apalagi dengan judul yang terpasang secara besar dan jelas, ini semakin membuatnya takut. Ruang kerja Hiashi–tempat mereka berada sekarang–terasa lebih dingin dari biasanya.
"Jelaskan semua ini!" perintah Hiashi. Matanya menatap dengan lurus dan tajam anaknya bagaikan peluru yang sedang melesat ke arah sang target.
"Aku hanya mengobrol singkat dengan Uzumaki-san, dan juga sebagai ucapan terima kasihku padanya," jelas Hinata dengan menunduk. Ia belum berani menatap mata Sang Ayah.
"Kau mungkin dapat berkata seperti itu, tapi media masa pasti akan menguras lebih dalam tentang hal itu! Bahkan mungkin gossip-gossip aneh akan keluar."
"Aku tahu, Ayah…"
"Sudahlah, kita sarapan dulu." Hiashi dan Hinata pun keluar menuju ruang makan. Di sana, Shion sedang duduk manis di salah satu kursinya.
Di meja makan yang terlapisi taplak putih dengan bordiran bunga, telah tersedia roti gandum berserta butter dan juga beberapa toples selai berbagai rasa.
.
.
.
.
.
"Sasuke, apa kau sudah melihat berita di Tokyo Site?" tanya Itachi.
"Ya."
"Apa pendapatmu?" tanya Itachi sambil terus mengikuti langkah kaki Sasuke yang besar. Sasuke hanya terus melangkah lurus menuju ruang kerjanya yang berada di ujurng lorong di lantai itu.
"That's great! Really great."
Itachi menghentikan langkahnya. "Kau itu bodoh, ya?" tanya Itachi bingung. Dahinya mengerut. Ia tak habis pikir dengan jawaban yang dilontarkan oleh Adiknya.
Merasa tidak ada orang yang mengikutinya, Sasuke menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Itachi yang sedang diam melongo menatapnya. "Tidak, aku tidak merasa bodoh. Memangnya kenapa?"
"Apa yang akan masyarakat katakan tentang kau yang sebodo amat dengan tunanganmu sendiri, Sasuke? Ingat, walaupun kau tidak mengakuinya, tapi dimata publik kau tetap tunangannya." Itachi menekankan kata yang menyangkut tentang 'tunangan' dalam kalimatnya.
"Persetan dengan yang dikatakan publik. Apa yang publik lihat, tidak sama dengan yang kulihat. Yang mereka tahu, aku dan Hinata saling mencintai. Dan semuanya adalah bullshit!" Sasuke menanggapinya dingin, cuek, dan sinis–seperti biasanya. Itachi hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Dasar chicken butt bodoh! batin Itachi. Ia mengikuti langkah Adiknya yang sudah masuk terlebih dahulu ke dalam ruangannya.
.
.
.
.
.
"Namikaze-san, apa tanggapan Anda perihal anak Anda yang di-gossip-kan sedang menjalin hubungan khusus dengan tunangan dari Sasuke Uchiha?" tanya seorang reporter pada lelaki berambut pirang yang sedang berusaha menghindari para wartawan. Minato Namikaze. Pemimpin PT. Namikaze Corporation.
"Maaf, maaf. Permisi." Ia tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya meminta mereka untuk menyingkir dari jalannya–supaya dia dapat memasuki gedung kantornya, tentu saja.
"Namikaze-san, Namikaze-san, sudah berapa lama putra Anda menjalin hubungan ini?"
"Apakah Anda merestui hubungan mereka ini?"
"Bagaimana hubungan kerja Anda dengan Uchiha Company, dengan adanya gossip ini?"
"Apakah terjadi percekcokan diantara putra Anda dengan Sasuke Uchiha?"
"Semuanya baik-baik saja. Permisi ya…" Minato hanya menanggapinya dengan senyuman. Ia berjalan dengan cepat meninggalkan para wartawan yang sekarang ditangani oleh security.
"Huh…" Minato menghela nafas berat setelah dia berhasil masuk ke dalam gedung perusahaannya. Rasa panas, lelah, dan pegal menyatu jadi satu. Kini ia terduduk di kursi ruang kerjanya yang empuk. Andaikan di sana ada sebuah ranjang atau kasur, pastilah ia sudah tertidur sekarang.
Kalau kalian melihat penampilan Minato saat ini, jangan mengharapkan ia mengenakan setelan baju kerja yang rapi. Karena dalam kenyataannya, penampilannya kini dapat dikatakan berantakkan untuk orang-orang yang sekelas dengan dirinya. Dasi longgar, kemeja agak kusut, dan peluh yang menetes.
Apa para wartawan itu tidak capek lari-lari mengejar berita begitu? batinnya. Sejujurnya, dia merasa salut dengan orang-orang yang berprofesi sebagai wartawan itu. Rela berpanas-panasan demi mendapatkan kebenaran tentang suatu hal.
.
.
.
.
.
"…Selamat siang, dengan Itachi Uchiha di sini," kata Itachi menjawab telephone yang masuk.
"Selamat siang, Itachi-san. Saya Kimmimaro Kaguya dari perusahaan PT. KAGUYA GROUP. Saya ingin bertemu dengan Anda. Apa nanti siang kita dapat bertemu?" jawab orang di seberang sana yang mengaku bernama Kimmimaro.
"Baik. Di mana?
"Di Café D'Lampion"
"Baiklah."
"Baik, jam dua belas siang di Café D'Lampion."
"Nanti saya akan ke sana."
"Ya,terima kasih dan selamat siang."
Tut…
"Siapa, Kak?" tanya Sasuke yang tahu-tahu sudah berada di belakang Itachi.
"Orang dari PT. KAGUYA GROUP."
"Ada apa orang dari KAGUYA GROUP menelphone –mu?" tanya Sasuke menyelidiki. Ia memincingkan matanya.
"Entahlah." Itachi menggedikan bahunya.
"Tumben sekali."
"Palingan juga untuk pembuatan lagu iklan produk mereka."
"Mungkin. Tapi kalau hanya begitu, untuk apa mereka memintamu yang seorang komposer? Bukannya kalau orang biasa juga bisa?"
"Mana aku tahu, bodoh!" Itachi menjitak kepala Adiknya itu. "Kau itu pintar-pintar nge-gemes-in juga, ya. Jadi pengen dicubit!" Itachi mencubit kedua pipi tirus Sasuke.
"Bohoh! Hehashan ahu!" (Bodoh! Lepaskan aku!) Sasuke mencoba untuk menarik tangan Itachi, namun yang didapat adalah tarikan di pipinya yang semakin menyakitkan.
"Hahahah…" Itachi melepaskan cubitannya dari pipi Sasuke. Sasuke hanya memegangi pipinya yang terasa perih dan berwarna kemerahan.
"Eh, jam berapa ini?" tanya Itachi.
"Sebelas. Sudah, kau bantu aku mengerjakan pekerjaan ini dulu, baru pergi!" kata Sasuke sambil menyeret Itachi–dengan menarik jas -nya–menuju sofa yang berada tak jauh dari meja kerjanya. Di atas meja itu, terdapat tumpukan map berbagai warna–yang entah apa itu isinya–dengan sebuah laptop dan charger-nya.
"Iya, iya."
.
.
.
.
.
Naruto_ : Hi, Teme.
: Apa, Dobe? Lebih baik langsung to the point saja.
Naruto_ : Ok. Kau pasti sudah melihat berita di Tokyo Site.
: Ya.
Naruto_ : Sebenarnya Hinata hanya mentraktirku sebagai tanda terima kasihnya waktu itu.
: So?
Naruto_ : Ya… aku hanya takut kalau kau marah dan persahabatan kita putus karena berita tersebut.
: Kalau pun kau mau pacaran atau menikah dengannya, aku takkan peduli.
Naruto_ : Kau bercanda!
: Tidak.
Naruto_ : Sepertinya kau ada masalah dengannya. Bukannya dari dulu kau adalah sahabat seperti yang kau ceritakan lewat e-mail?
: Ceritanya panjang dan kau tidak akan mengerti keadaannya.
Sasuke Uchiha is now offline
.
.
.
.
.
"Apa yang Sasuke katakan, Naruto?" tanya seorang berambut merah panjang yang sedang duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja Naruto. Ialah Kushina Uzumaki, Ibu Naruto.
"Dia orang ter-aneh yang pernah ada!" kata Naruto pada Ibunya setelah ia chatting dengan Sasuke tadi.
"Memangnya kenapa?" Kushina memandang anaknya dengan tatapan bingung.
"Dia bilang kalau aku pacaran atau pun menikah dengan Hinata, dia tidak akan peduli."
"Kau harus mencari tahunya, Naruto." Kushina menasehati anaknya yang sedang mengacak-acak rambut pirangnya.
"Tapi bagaimana?" tanya Naruto yang bingung. Sepertinya ia benar-benar dibuat frustasi dengan gossip itu.
"Dari orang-orang terdekat mereka."
"Hm…"
.
.
.
.
.
Café itu cukup ramai didatangi oleh para kaum muda-mudi yang sedang mengisi jam makan siang mereka. Memang, letak café itu tak jauh dari University of Japan. Jadi wajar saja kalau banyak muda-mudi yang sering berkumpul di sana. Mungkin hanya sekedar menikmati santap siang mereka atau mendiskusikan suatu hal.
Ukuran café itu tidak terlalu besar ataupun kecil. Interior café itu terkesan minimalis dan simpel. Warna ubin lantainya disusun seperti papan catur–hitam putih selang-seling. Sekeliling dindingnya adalah kaca tebal, memungkinkan orang-orang yang ada di luar sana melihat apa yang ada di dalam–kecuali bagian counter yang di belakangnya adalah dapur. Bagian dinding berwarna coklat muda yang berada di atas kaca-kaca tebal itu dipasangi banyak foto-foto dari tahun ke tahun, saat café itu baru dibuka.
"Selamat siang, Itachi-san." Seorang lelaki berambut putih dengan dua titik merah di dahinya menyambut Itachi ketika Itachi sampai di Café D'lampion meja nomor sepuluh.
"Selamat siang. Anda pasti Kimmimaro, bukan?" Itachi balas menjabat tangan lelaki itu.
"Ya."
"Maaf telah membuat Anda lama menunggu." Itachi mendudukkan dirinya di sofa yang berhadapan dengan Kimimaro.
"Tidak apa-apa," kata Kimmimaro. "Jadi tujuan saya ini, saya ingin menjadikan Anda sebagai juri sebuah kontes pencarian bakat yang akan segera diadakan oleh PT. kami," jelasnya singkat.
"Bakat apa?"
"Bakat-bakat bermusik dan menyanyi."
"Siapa saja yang nanti akan menjadi jurinya selain saya?"
"Ada Sai Shimura, dia seorang sutradara film, yang pastinya Anda sudah tahu; Sasame Fuuma, seorang pembawa acara; dan yang terakhir adalah Shizune Shiranui, seorang penyanyi yang sudah go international."
"Apa mereka semua sudah setuju?" tanya Itachi sambil membuka lembar demi lembar kertas yang ada di dalam file yang tadi Kimmimaro berikan kepadanya. Ia membacanya dengan saksama.
"Ya. Beberapa hari yang lalu mereka sudah saya hubungi, dan mereka setuju."
"Oh…"
"Untuk honor, kami menyamakan semuanya. Tujuh ratus lima puluh ribu yen (¥750,000) per hari tampil."
"Baiklah, saya terima." Kimmimaro menyerahkan sebuah bolpen pada Itachi. Itachi pun menandatangani salah satu halaman dari proposal yang diajukan Kimmimaro padanya.
"Terima kasih telah mau bekerja sama dengan perusahaan kami. Untuk selanjutnya, nanti akan kami hubungi."
.
.
.
.
.
"Permisi, apa Sasuke Uchiha ada?" tanya seorang gadis berambut biru ke–ungu–an pada seorang resepsionis.
Gadis itu memakai sebuah dress berwarna putih yang panjangnya selutut dengan jaket berwarna ungu yang terbuat dari jarutan benang wol. Di kepalanya, sebuah kacamata hitam besar dengan frame berwarna putih. Sepatu sandal berwarna putih juga menghiasi kakinya. Tas besar berwarna ungu gelap mengkilat membuatnya terlihat sempurna.
"Tuan Uchiha sedang ada makan siang dengan client–nya," jawab sang resepsionis. "Kalau Anda mau, Anda dapat menunggu Tuan Uchiha di ruangannya."
"Apa setelah ini, Sasuke ada pertemuan lagi dengan client–nya?"
"Maaf, saya tidak tahu."
"Kalau begitu, terimakasih." Gadis itu berjalan dengan anggunnya menuju lift yang berada di samping kiri meja resepsionis.
Hinata–nama gadis itu–sedang duduk di sofa yang berada di ruang kerja Sasuke. Sejak tadi, berkali-kali ia selalu melihat pada jam yang tergantung di dinding berwarna coklat susu di ruang kerja tunangannya itu. Sudah sekitar setengah jam dia menunggu di sana, namun orang yang ditunggu belum juga datang.
Ceklek…
Pintu terbuka menampilkan Sasuke di sana yang masuk ke dalam yang diikuti oleh sekretarisnya. Harapan Hinata terkabul. Hinata bangkit dari duduknya. Berjalan menghampiri Sasuke.
"Sasu-"
"Mau apa kau di sini, Hinata?" tanya Sasuke memotong perkataan Hinata. Mendengar pertanyaan ketus Sasuke, Hinata merasa kalau Sasuke sedang mengusir dan melarangnya masuk ke dalam ruangannya–tentu saja secara tidak langsung.
"A- aku kan hanya ingin mengunjungi tunanganku," kata Hinata sambil menunduk mentap karpet yang berwarna merah marun dengan corak yang berwarna kuning keemasan.
"Kalau kau ingin berbicara, lebih baik to the point." Sasuke menunggu Hinata berbicara, namun Hinata tetap terdiam menatap sepasang mata yang sewarna batu obsidian itu. "Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan, lebih baik kau–"
"Tunggu Sasuke-kun! Ada yang ingin aku bicarakan," kata Hinata sambil melirik Karin yang sedaritadi memandang mereka dengan bingung. "Tapi secara empat mata…"
"Karin, tolong keluar."
"Baik Sasuke-sama." Karin keluar dari ruangan itu, menyisahkan Hinata dan Sasuke yang ada di sana.
"Kau pasti telah mendengar berita yang tersiar tentang aku dan Naruto-san."
"…"
"Waktu itu aku hanya mentraktir Naruto-"
"Naruto sudah bilang tentang hal itu. Sekarang silahkan keluar, karena saya masih memiliki banyak pekerjaan." Hinata berjalan keluar dari ruangan Sasuke.
Saat Hinata berjalan keluar dari ruangan Sasuke, terdengar bisik-bisik dari para karyawan kantor itu. Hampir semua yang ada di sana memandangi Hinata. Banyak pandangan dari para karyawan yang memancarkan penuh rasa kagum, tapi tak sedikit pula yang memandanginya sinis.
"Hei! Itu bukannya tunangannya Sasuke-sama?"
"Dia katanya selingkuh dengan sahabat Sasuke-sama. Siapa itu namanya? Na- Na- Naroko?"
"Naruto Uzumaki!"
"Ah, ya. Beruntung sekali dia bisa dekat dengan dua orang yang cukup ternama di negara ini."
"Aku jadi iri dengannya."
Hinata hanya berjalan dengan tegak layaknya pragawati berjalan di atas catwalk, melewati mereka seakan tidak terjadi apapun di sana. Sepertinya kedua telinganya sudah kebal menghadapi sindiran-sindiran semacam itu.
.
.
.
.
.
"Oh, ayolah, Forehead…" kata seorang gadis berambut blonde yang sedang menarik-narik tangan temannya yang berambut merah muda. Ia tampak memelas terhadap gadis berambut merah muda itu.
"Piggy… aku malas mengikuti hal-hal seperti itu…" kata temannya yang berambut merah muda. Gadis yang memiliki rambut sewarna gula-gula kapas itu berusaha berjalan dengan sebelah tangannya ditarik oleh temannya ke arah yang berlawanan.
"Ayolah… anggap saja ini sebagai hadiah ulang tahunku darimu…" bujuk temannya lagi, "lagipula, tidak ada salahnya, kan, kalau kau mengikutinya?" tanyanya sambil menunjukkan puppy eyes-nya yang benar-benar menggemaskan itu.
"Oke, oke. Kau menang, Ino-Pig. Tapi hanya kali ini!" kata temannya. "Sekarang, lepaskan tanganku."
"Benarkah? Terima kasih, Sakura!" kata gadis berambut blonde itu sambil memeluk erat temannya.
"Se- sesak… Lep –lepaskan pelukanmu, Ino!" bentak temannya yang tadi dipanggil dengan nama Sakura. Ia kesulitan bernafas karena pelukan itu.
"Hehehe… Sorry," kata gadis berambut blonde itu–yang diketahui bernama Ino–sambil menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf 'V'.
To Be Continue…
Complete:
2 January 2011
Edit:
7 April 2011
8 April 2011
9 April 2011
Thanks for review. Review please?
Our Feeling © Kazuma House Production ® 2011
