Siang hari. Di sebuah MALL tidak jauh dari mansion milik Gallerian.
"Papa, Papa! Aku mau baju yang itu ya!"
"Yang mana? Oh, baiklah!"
"Horeee! Makasih, Pa!"
"Aku juga mau dong, Pah. Beliin yang ini."
"Pakai uangmu sendiri sajalah."
"..."
Nemesis ingin sekali menembak Pak Tua ini, sumpah.
.
.
Papaku Orangnya Pelit
Semua karakter yang ada di sini merupakan hak cipta milik Akuno-P/mothy.
Semua nama merek, band, atau apapun yang bersifat iklan dan disebutkan di sini bukan milik saya dan saya hanya keceplosan menyebutnya. /hush/ No commercial profit taken.
WARNING : Bahasa terkesan ala kadarnya. Bahasa kasar. OOC. No-bashing chara. Ada satu OC yang tercipta karena ketidaksengajaan. Just for fun. Semua tokoh yang ada di cerita ini hidup dalam dunia yang damai sentosa.
Fanfiksi ini dibuat tanpa adanya inti cerita tertentu. Hanya menceritakan tentang Gallerian yang pelit dan pilih kasih. /heh
.
.
Alasan Kedua . Mall
happy reading.
.
.
Baiklah. Jangan pikirkan bagaimana bisa ada pusat perbelanjaan alias MALL di dunia EC. Anggap saja ada meskipun kesannya maksa banget.
Hari ini Nemesis ulang tahun. Untuk merayakannya, MA selaku "orang tua" Nemesis, berencana untuk mengajak gadis itu jalan-jalan ke mall. Belanja baju gitu, sekali-sekali Nemesis ganti gaya bajulah. Daripada baju hitam-hitam mulu, dikira emo apa. Kebetulan hari ini MA sedang tidak sibuk.
"Nem, HBD ya! Wish you all the best!" Di rumah sederhananya, MA mengucapkan selamat kepada Nemesis.
"Haha, thanks, Mom."
"Hari ini, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan? Ke mall?"
"Uhmm..." Sebenarnya Nemesis ragu. Pasalnya dia paling susah kalau harus berada di dalam kerumunan orang. Karena dia terbiasa hidup dalam kegelapan... tapi demi menghargai tawaran MA, dia pun menyetujui saja. "Baiklah."
"Sip! Kita berangkat sekarang aja ya!"
Nemesis berlalu ke kamarnya tanpa mengucapkan apapun. Dia ganti baju. Tapi pada akhirnya, bajunya tetap hitam-hitam. Karena dia memang cuma punya baju itu.
Dan entah kenapa, dalam sesi berbelanja ini, MA memutuskan untuk mengajak Michelle juga. Dan itu berarti, mereka harus berurusan dengan sang hakim Marlon yang super protektif itu.
"Gallerian~"
"Huh?" Gallerian kaget karena MA tiba-tiba muncul di ruang kerjanya. Entah muncul dari mana. Kerjaannya sempat terhenti gara-gara kehadiran wanita itu mengusiknya.
"Hari ini Nem ulang tahun loh."
"Trus kenapa?"
"Sebagai bapaknya, seharusnya kamu mengucapkan selamat padanya."
Gallerian melirik pada MA dengan nista. "Aku tidak ingat pernah punya anak seperti dia."
"Kau ayahnya, tahu!"
"Kalau aku ayahnya, aku tidak akan menamainya dengan nama seperti itu."
"Trus? Namanya bakal jadi gimana?"
"Silver."
MA memutar matanya malas. Tidak jauh-jauh amat dari yang namanya UANG. "Pokoknya, aku mau kau mengucapkan selamat padanya!"
"Bagaimana aku mau mengucapkannya, orangnya aja gak ada," Gallerian mendengus. "Sudahlah, aku sedang sibuk. Jangan ganggu aku."
"Oh, benar juga." MA pun berjalan ke pintu ruangan, membukanya, dan melongokkan kepalanya keluar ruangan. "Nem, ke sini!"
Gallerian pura-pura tidak mendengar dan terus berkutat pada proposal di depannya. Setidaknya dia harus menguasai kasus yang akan dia hadapi malam ini, jadi tidak ada waktu untuk bersantai-santai siang ini.
"Apaan sih?" Itu suara Nemesis dari luar ruangan.
"Michelle mana?"
"Kak Michelle lagi tidur."
"Oh, sayang sekali." MA berdiri di depan pintu yang agak terbuka, dan bersedekap sambil memegang dagunya. Berpikir. "Padahal aku ingin sekali mengajaknya jalan-jalan ke mall."
"Kau mau mengajaknya jalan-jalan?" Gallerian menyeletuk dengan keberatan. "Dia sedang tidur siang."
"Hmm, begitu ya," MA bergumam pelan. "Gallerian, bangunkan dia."
"Aku tidak akan melakukannya."
"Kenapa?"
"Apa kau segitu teganya membangunkan seseorang yang sedang tidur nyenyak?"
"Aku tahu dia sudah tidur dari 3 jam yang lalu. Jadi, sudah waktunya untuk bangun."
Lagi-lagi Gallerian menghela napas capek. "Kenapa kau ngotot sekali ingin mengajaknya pergi?"
"Soalnya gak asik kalau gak ada Michelle." Kemudian MA terkekeh pelan.
"Aku tidak akan membangunkannya, dan dia tidak akan bangun kalau bukan aku yang membangunkannya."
"Hoo?"
"Sudahlah, Mah. Kita aja yang pergi."
"Nem, jangan gitu dong. Semakin banyak orang yang ikut, semakin asik!"
"Tapi kenapa harus Michelle yang kau ajak? Apakah tidak ada orang lain lagi?" Gallerian lalu terdiam sejenak. "Ah, aku baru ingat, Nemesis tidak punya teman. Kasihan amat."
"Bacot, bangke."
"Nah, justru karena itu, aku mau mencarikan teman untuknya! Dan orang terdekat yang kemungkinan besar bisa menjadi temannya adalah kakaknya yaitu Michelle!"
"Ck, sudahlah. Pergilah kalian. Membuang-buang waktuku saja." Akhirnya pria berambut biru itu mengusir kedua makhluk itu.
"Hum, aku memang akan pergi." MA pun sekalian keluar kamar, namun sebelum menutup pintu, dia berbicara lagi. "Aku akan pergi ke kamar Michelle sekali lagi. Nyahaha~"
"Hah?" Gallerian tidak ngeh, karena ucapan MA barusan, terdengar seperti "au-au" di telinga sang Marlon.
"Cih, lagi-lagi Mama seenaknya saja." Nemesis menghela napas. Lalu dia melirik pada Gallerian. "Atau kau mau ikut sekalian?"
"Kau harus tahu bahwa percuma saja kau mengajakku pergi ke tempat seperti itu."
"Oh, karena di sana adalah tempat di mana uang difoya-foyakan? Sudahlah, Pah."
"Berhenti memanggilku seperti itu. Aku bukan ayahmu."
"Mama bersikeras bilang kau ayahku."
"Jangan dengarkan wanita licik itu. Dia punya seribu alasan supaya bisa bersenang-senang dengan menyakiti orang lain."
"Bisa juga orang sepertimu merasa tersakiti?" Nemesis mencibir. "Dan si author juga bilang, kau adalah ayahku."
"? Author siapa?" Gallerian mengerutkan dahi, bingung. "Sudahlah. Apa kau tidak punya pekerjaan apapun selain menggangguku?"
"Itu Mama yang mulai. Dari tadi juga aku sudah ingin pergi dari sini."
"Yaudah, pergi sana."
Nemesis pun keluar dari ruang kerja Gallerian. Meninggalkan keheningan kembali yang sering menemani pria itu.
"Jalan-jalan ke mall?" Gallerian berbisik pelan pada dirinya sendiri. "Lama sekali aku sudah tidak ke sana."
Terakhir kali dia pergi berbelanja ke pusat perbelanjaan itu, sekitar dua tahun yang lalu. Di mana keluarga kecilnya masih utuh, dan bahagia. Dia, istrinya, dan Michelle. Bagaikan kisah dongeng, namun berakhir dan lenyap dalam sekejap ketika kapal yang membawa istri dan anaknya tenggelam akibat serangan gurita raksasa.
Dia tidak percaya itu bisa terjadi. Lagian, dari mana datangnya gurita raksasa itu!
Tapi Michelle selamat. Ya, "selamat". Dia sangat bersyukur akan hal itu. Makanya, karena dia tidak ingin kehilangan Michelle untuk kedua kalinya, sekarang dia menjadi begitu protektif pada putri tunggalnya itu. Dia oke-oke saja kalau harus berdebat dengan MA sepanjang hari, demi melindungi Michelle.
Trus, Nemesis itu siapanya Gallerian?
Entahlah, Gallerian sendiri bingung darimana datangnya hipotesis yang mengatakan bahwa Nemesis juga putrinya. Kalau Nemesis itu adalah anaknya, dan MA adalah ibu Nemesis, berarti dia punya hubungan lebih dari sekedar teman dengan MA dong? Padahal seingat Gallerian, MA belum menikah.
Dia hanya ingat, dia mengenal MA entah di mana. Gallerian bekerja sebagai hakim, dan MA bekerja sebagai sutradara yang entah kenapa Gallerian yakin bahwa pekerjaannya bukan hanya itu saja. Karena memiliki bermacam-macam profesi itu, MA menjadi disibukkan dan lebih sering "menelantarkan" Nemesis. Dia tidak peduli darimana asalnya anak itu, karena itu bukan urusannya.
(Gallerian sama sekali tidak mau mengakui bahwa dia memang ada affair dengan MA. Oh, ini akan kita bahas nanti. Entah kapan.)
Semua itu masih menjadi sebuah misteri yang pada dasarnya tidak mau diketahui oleh Gallerian. Membuang-buang waktunya saja soalnya.
"Papa!"
Gallerian sontak menoleh ke arah pintu dengan tatapan berbinar saat ia mendengar suara Michelle yang terdengar begitu merdu di telinganya. Ah, padahal baru beberapa jam yang lalu mereka terpisah, tapi Gallerian sudah merasa sangat rindu pada gadis berambut teal tersebut.
Wajahnya kembali tertekuk dalam ketika dia melihat ternyata Michelle datang bersama MA.
"Kau masih belum menyerah juga?" Gallerian berdiri dari duduknya, dan menghampiri MA. "Kuharap kau tidak meracuninya dengan hal macam-macam."
"Aku tidak meracuninya dengan hal macam-macam kok, hanya satu macam saja."
Gallerian menatap MA dengan curiga.
"Aku hanya bilang, aku ingin mengajaknya jalan-jalan ke mall, dan dia mau. Iya 'kan, Michelle?"
"Iya kok! Aku mau ikut Tante eM-A dan cewek itu! Boleh 'kan, ya, Pah?" Michelle masih saja memanggil Nemesis dengan kata "cewek itu".
Sang hakim pun mendadak delima.
"Hayoo~ Kau sudah tidak bisa mengelak lagi, Gallerian! Menyerahlah dan biarkan Michelle ikut dengan kami! Hohohoho!"
"Mama terdengar seperti nenek sihir."
"Rasanya nenek sihir itu suara ketawanya 'hi hi hi', 'kan?"
"Oh sudahlah, Kak."
"Baiklah." Ketiga perempuan di ruangan tersebut memasang wajah sumringah, akhirnya si bapak kolot ini menyerah! "Tapi aku harus ikut menemani Michelle!"
"Hohoho, silakan!" MA pun menyeringai, lagi-lagi dia berhasil menjebak manusia pelit ini.
"Yakin gak apa-apa, Mah?" Nemesis melirik MA di sampingnya. Wanita misterius itu hanya mengangguk pelan tanpa kehilangan satu sentimeter pun dari seringainya.
Jadi pada saat itu juga, mereka pergi ke mall di negeri tetangga dalam rangka merayakan ulang tahun Nemesis yang ketujuh belas. Dengan pakaian yang biasanya mereka kenakan. Bayangkan saja betapa mencoloknya mereka di antara para pengunjung yang rata-rata mengenakan baju santai.
"Papa, Papa. Kenapa orang-orang melihat kita seperti itu?" Michelle bertanya pada sang ayah yang ada di belakangnya saat mereka telah memasuki teras mall. Demi melindungi sang putri tercinta, Gallerian memutuskan bahwa dialah yang harus mendorong kursi roda Michelle apapun situasinya.
"Oh, itu pasti karena papamu yang terkenal sebagai hakim paling pelit sejagad raya Evillious ini, Michelle. Jadi mereka heran kenapa manusia macam dia bisa berkeliaran di mall." MA mulai kumat.
"Kupikir itu karena penampilanmu saja yang 'aneh'."
"Ah, bilang aja kamu suka penampilanku yang mempesona ini," jawab MA sambil sedikit mengayunkan kepalanya, dan tiba-tiba terselip efek iklan yang membuat rambut hitamnya terkibas secara slow-motion macam iklan sampo Pantin.
Gallerian tiba-tiba merasa eneg mendengarnya. Tapi sebenarnya dalam hati, dia mengakui sih.
"Mama, aku mau wortel yang dimasukkan dalam mesin itu."
"Oh, maksudmu, jus wortel?" MA melihat ke mana Nemesis memandang. Sebuah stand jus. "Oke, ayo kita ke sana."
"Selamat siang, Nyonya! Mau pesan yang mana ya?" sapa si penjual dengan ramah. Ngomongnya sama MA, tapi matanya ke arah Gallerian. Sungguh ini super sekali.
Tapi namanya juga terbiasa menghadapi orang-orang macam gini, MA justru pura-pura tidak sadar. "Jus wortelnya satu ya."
"Jangan bilang aku yang harus membayarnya." Entah kenapa dari tadi Gallerian masih saja uring-uringan.
"Siapa yang bilang? Tenang, aku bawa uang kok."
Gallerian menghela napas lega. Setidaknya dia tidak perlu mengeluarkan uang berharganya. Untuk kali ini.
"Michelle mau juga?" tawar MA pada Michelle.
"Boleh?"
"Tentu saja, Michelle sayang." MA membelai kepala Michelle yang lebih rendah darinya, karena Michelle memakai kursi roda.
Sementara itu Gallerian terpaksa memfokuskan seluruh perhatiannya pada wanita misterius itu. Dia pun menggeram pelan, "Jangan sentuh-sentuh Michelle seperti itu."
Gerakan MA terhenti, lalu dia menarik tangannya. Senyumnya sempat pudar walau hanya sesaat. "Kamu ini, protektif seperti biasanya."
"Aku mau yang stroberi aja deh!" Suara Michelle yang riang menyela di antara percakapan awkward tersebut.
"Oke!" MA pun seolah tidak mempedulikannya dan kembali menghadap pada si penjual yang sibuk. "Satu lagi jus stroberi ya!"
"Baiklah!" jawab si penjual dengan senyum ramahnya. Di sela-sela kesibukannya, matanya terus-menerus curi-curi pandang pada Gallerian. Orangnya sendiri tidak peduli dan sibuk mengawasi Michelle.
"Mama, minta uang dong," ucap Nemesis tiba-tiba pada MA.
"Buat apa?"
"Hum, aku mau... eng, itu..."
"Ke mana?"
"Halah, palingan dia mau naik itu. Matanya memperhatikan mesin itu dari tadi," ejek Gallerian menunjuk mainan anak-anak yang ada di sebelah stand jus itu. Itu loh, yang bentuknya macam-macam ada singa, gajah, macan, dan sejenisnya. Mirip odong-odong, tapi terpisah.
"Mungkin kau yang mau naik itu, Pak Tua," cibir Nemesis sarkastis.
"Trus kamu mau ke mana? Mungkin mau Mama temani?"
Nemesis tidak menjawab. Dia melirik-lirik gelisah, lalu menarik tangan MA dengan tidak sabaran. MA tentu saja kaget.
"Nem?"
"K-kita bicara di sana!" Dengan sewot, Nemesis menarik MA menjauh dari Gallerian dan Michelle.
"Eeeh, Tante eM-A pergi ke mana?" Michelle bertanya pada sang ayah.
"Entahlah. Nanti juga kembali ke sini," jawab Gallerian acuh tak acuh. Matanya bergiliran memperhatikan para pengunjung yang berkeliaran di hall, dan pada Michelle yang juga melakukan hal yang sama dengannya.
"Papa, Papa. Banyak orang ya!"
"Iya, Michelle." Sebenarnya Gallerian sendiri tidak begitu suka berada di tempat ini. Bukan berarti dia jadi tergoda untuk beli ini-itu, tapi dia merasa tidak tega jika harus melihat uang difoya-foyakan di tempat penuh dosa seperti ini. Halah.
Tapi melihat senyum lebar di wajah Michelle itu, tanpa sadar Gallerian jadi ikut tersenyum juga. Dia ikut senang melihat Michelle senang. Dia ingin kebahagiaan terus menyirami putrinya. Meskipun itu berarti dia harus membunuh dirinya sendiri, meskipun dia harus mati demi semua itu.
Eh, tapi tunggu. Kalau dia mati, trus siapa yang akan mengawasi dan melindungi Michelle dari tangan nenek sihir MA?
Ah sudahlah.
"Ini putri Anda, Tuan?" tanya si penjual jus. Sepertinya melihat MA pergi, dia mulai berencana untuk mendekati Gallerian. Soalnya dari tadi dia perhatikan, sepertinya pria itu punya tampang yang lumayan juga.
Dia hanya belum tahu siapa Gallerian yang sebenarnya.
"Iya," Gallerian pun menjawab sekenanya.
Lalu si penjual mengalihkan pandangannya ke Michelle. "Namamu siapa, Cantik?"
"Eeh, namaku Michelle, Kak!" Michelle menjawabnya dengan senyuman lebarnya yang ramah.
"Nah, ini minuman jusmu, Michelle!" Wanita penjual jus itu memberikan sebuah cup berisi jus stroberi pada Michelle. "Dan ini untuk kakakmu!"
"Wah, makasih, Kak!" Michelle menerima dua cup tersebut dengan wajah berseri-seri. "Hmm, anu. Tapi yang tadi itu adikku, Kak. Bukan kakakku."
"Eh, benarkah?" Si penjual salah tingkah karena salah menebak. Soalnya Nemesis terlihat lebih kalem dan dewasa daripada Michelle sih. "Duh, maaf ya! Tadi dikira gitu sih!"
"Gak apa-apa kok, Kak!" Lalu dia menyesap minumannya. "Hmm, enak!"
Si penjual ikut tersenyum melihat wajah itu begitu cantik, dan polos.
Dan tidak perlu ditanya lagi, dari tadi Gallerian memperhatikan penjual itu dengan wajah waspada. MA yang sudah lama dia kenal saja masih dia waspadai. Apalagi si penjual yang notabene tidak pernah dia kenal dalam hidupnya.
Hening sejenak.
"Oh iya, Tuan. Wanita tadi itu istri Tuan ya?"
Der.
"Bukan," Gallerian hanya menjawab dengan singkat, padat, dan jelas.
"Oh benarkah? Beliau terlihat sangat cantik dan anggun."
'Trus gua musti bilang WOW gitu?' Gallerian membatin. "Lalu?"
"Anda berdua terlihat cocok sekali!"
"Hiee, benar juga sih." Michelle kenapa ikut-ikutan setuju sih!
Gallerian pun terkejut. Tapi dia berusaha untuk tetap kalem supaya tidak dicurigai. "Meskipun begitu, kami hanya teman dekat."
Si penjual hanya tersenyum penuh arti. Sementara itu Michelle tiba-tiba menoleh ke suatu arah dan tersenyum sumringah. "Pah, itu tante eM-A sudah kembali!"
"Kalian ke mana aja sih?" Tanpa mendengarkan ucapan Michelle, Gallerian langsung melabrak ibu dan anak yang baru saja kembali entah dari mana itu.
"Gak dari mana-mana kok..." Nemesis hanya berucap lirih sambil membuang muka.
"Tadi Nemesis minta ditemani ke toilet," ucap MA santai.
"Mama, sudah kubilang jangan bilang-bilang kalau kita tadi ke sana!" tukas Nemesis jengkel.
"Gak apa-apa, 'kan? Daripada Mama bilang kamu habis be-ol." Entah MA sadar atau tidak mengatakan ini.
"MAMAAAAA!"
"Ayolah, Nem. Itu bukan suatu hal yang perlu dipermasalahkan karena itu adalah hal yang manusiawi."
"YA TAPI GAK USAH DIUMUMIN JUGA KALI."
"Tidak apa-apa. Kami tidak akan menertawakanmu kok," sela Gallerian. Padahal tadi dia sempat cekikikan meskipun dengan suara pelan.
"Nemesis, ini minuman kamu." Michelle menyerahkan cup minuman jus wortel yang ada di genggamannya pada Nemesis. Tanpa ngomong apa-apa, Nemesis menerimanya.
"Oh iya. Jadi semuanya berapa ya?" MA pun mengeluarkan dompetnya, dan menilik beberapa lembar uang di dalamnya.
"Jadinya 20 ribu, Nyonya!"
Lalu dia memberikan uang 20 ribu kepada si penjual.
"Terima kasih, Nyonya! Silakan datang kembali nanti!"
MA hanya tersenyum elegan dengan sekilas pada penjual itu, dan beralih lagi pada ketiga orang lainnya. "Ayo, kita pergi ke tempat lain lagi."
Yang paling antusias adalah Michelle. Nemesis hanya menjawab sekedarnya. Sedangkan Gallerian sama sekali tidak peduli asalkan Michelle tidak keberatan. Sebelum mereka sempat pergi dari sana, tiba-tiba lengan jubah Gallerian yang kedodoran (?) ditarik oleh seseorang. Otomatis pria berdarah Marlon itu menoleh.
"Ano, maafkan atas kelancangan saya ini, Tuan. Tapi bolehkah saya tahu siapa nama Anda?"
Ajigile. Klise banget sih. Macam sinetron yang sering tayang di TV author aja.
Keempat orang tersebut terhenyak mendengarnya. Tidak menyangka bisa-bisanya sampah masyarakat macam Gallerian Marlon terlibat dalam sebuah dinamika opera sabun.
Kemudian mereka semua pun terdiam.
"Namaku..." Trus Gallerian sengaja memotong kalimatnya di sini supaya lebih terlihat hiperbolis. Padahal sebenarnya dia lagi memikirkan nama samaran apa yang cocok buat dia karena dia tidak suka namanya ditanya-tanya.
Dan sebuah nama yang pernah tidak sengaja dia lihat di Samsung Tab milik Nemesis pun terlintas di otaknya. "... Nagito Shinomiya."
"PFFTTT..." Nemesis menahan jus wortelnya mati-matian di dalam mulut setelah mendengarnya. Pengen banget rasanya dia ketawa karena dia tahu nama siapa yang Gallerian pakai itu. Dia juga mati-matian menahan tawanya karena jaim.
"Ah, Tuan Shinomiya?" Dan sepertinya si penjual tidak tahu siapa Nagito Shinomiya yang sebenarnya itu. Yak mantap sekali. "S-salam kenal. Nama saya Lezuli."
Gallerian hanya mengangguk sekilas karena dia merasa sebenarnya adegan ini sama sekali tidak perlu dimuat. Tapi karena dia adalah seorang hakim yang tersohor di negerinya, jadi dia harus tetap menjaga tata kramanya di manapun dia berada. "Nona Lezuli, aku harus pergi dulu menemani putriku jalan-jalan."
"S-silakan..."
Gallerian merebut kursi roda Michelle dari MA, dan berjalan mendahului wanita itu di depan. MA sendiri terlihat tidak keberatan dengan perlakuan Gallerian barusan.
"Woah, GALLERIAN. BISA-BISANYA KAMU NGOMONG KAYA TADI. ULANGI LAGI DONG." MA tiba-tiba histeris di pinggir hall. Nemesis cuma mendengus. Michelle malah keasikan memperhatikan orang-orang lewat. "Tapi tunggu dulu, kenapa kau harus menyamarkan namamu sendiri?"
"Ck, apaan sih." Gallerian berdecak. "Aku hanya malas menyebutkan namaku sendiri."
"Mama, baju itu sepertinya bagus ya."
Nemesis menunjuk sebuah baju yang dipajang di manekin di depan sebuah toko. Baju blus berwarna hitam-perak.
"Wah, itu bagus juga." MA berbelok. "Ayo kita mampir sebentar."
Jadi mereka pun menghampiri dan masuk ke toko tersebut. Meskipun Gallerian sama sekali tidak berminat, dia ikutan aja karena dia di sini menjadi bodyguard Michelle. Biarin aja deh, nanti malam dia langsung sidang tanpa istirahat sama sekali. Yang penting Michelle tetap selamat sampai pulang ke rumah.
Dirasa sudah selesai memilih-milih baju, mereka pun ke meja kasir. Si kasir kebetulan cowok. Dan dia terus-terusan memperhatikan Nemesis, padahal lagi ngomong sama MA. Oh lagi-lagi dinamika relatifitas wajah pun terjadi.
Yah, syukur juga si kasir memperhatikan Nemesis, bukannya Gallerian lagi. Eh?
"Semua totalnya sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu lima ratus, Pak," kata si kasir. Gallerian langsung melotot.
"Yang benar aja! Barang murahan gini juga!" Gallerian membantah keras sambil menunjuk barang belanjaan mereka—ralat, belanjaan MA, Nemesis, dan Michelle. Pasalnya Gallerian tidak beli apa-apa. Dia terlalu sayang pada uangnya.
"Bapak kok beli barang murahan?" Si kasir tersinggung.
"Masih untung kami mau beli, mana ada orang bego yang mau beli kaos kekurangan bahan gini selain kami!" Gallerian sewot. Bahasa slenge'annya pun mulai keluar.
"Woi, yang lu maksud itu gue ya?!" Nemesis ikutan sewot, tidak terima dikatai bego.
"Kamu merasa tidak? Kalau tidak, diam aja deh," desis MA.
"Udah deh, Pak! Bayar!" Si kasir mulai emosi.
"Diskon dong!"
"Gak ada diskon!"
"Pelit."
"Bapak juga!"
"Gallerian bayar aja napa sih?" MA mulai capek.
"Diam! Satu juta gak pantas buat barang-barang begini!"
"Tunggu. Rasanya tadi dia bilangnya sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu lima ratus deh. Kenapa tiba-tiba jadi satu juta?" Nemesis bingung sendiri. Mungkin inilah akibat dari tidak lulus SD*.
"Namanya juga termakan merek, Pah," Michelle ikut berkomentar pelan.
"Bayar!" Si Mas Kasir pun akhirnya membentak mereka. Mukanya udah sewot banget.
"Gak! Diskon!" Dan Gallerian tetap bersikeras dengan kata "diskon"nya.
"Bayar!"
"Diskon gak?! Kalo gak, gue sebarin berita kalo elo HOMBRENG!"
DER.
Semua penonton pun terhenyak dengan ancaman nekad dari om-om pelit itu.
"Dafuq, gak nyambung banget sih lo." Nemesis menatap tajam Gallerian, tidak menyangka bahwa Gallerian akan segitu jauhnya mempertahankan uangnya.
"Bacot!"
"Bapak jangan mengada-ada ya! Gak ada bukti!"
"Siapa yang bilang gak ada bukti? Tadi saya lihat, kamu merhatiin saya terus."
"Itu mah Bapak aja yang ke-GR-an! Saya dari tadi merhatiin putri Bapak aja kok!"
Gallerian pun menyipitkan matanya, menatap si kasir dengan tajam. "Kamu ini sudah hombreng, ternyata pedofil juga ya! Bakal saya laporin ke bos kamu supaya kamu dipecat aja atau sekalian dilenyapkan dari muka bumi ini!"
Sepertinya Gallerian salah paham. Padahal yang dimaksud Mas Kasir itu adalah Nemesis yang kebetulan lagi berdiri di belakang Gallerian. Karena pada dasarnya Gallerian merasa bahwa putrinya itu hanya Michelle semata, jadi Nemesis itu sama sekali tidak ia anggap.
"Ancaman konyol!"
"Terserah."
"Gue gak takut!"
"Terserah."
"Coba aja!"
"Terserah."
BRUK!
Si kasir berlutut di depan Gallerian. "Tadi bercanda aja 'kan, Pak? Bisa dipecat saya kalau ada berita gituan! Tolong, Pak! Jangan, Pak!" Si kasir memohon dengan penuh penghayatan.
Tiga orang lainnya pun terhenyak takjub.
"Woah, hebat!" Nemesis berdecak kagum. Tidak dia sangka kepelitan ayahnya yang sudah akut ini bisa mengintimidasi orang seperti ini.
Lalu si kasir segera memeriksa belanjaan tiga orang wanita tersebut. Dan entah bagaimana caranya, dia berhasil memberi diskon pada semua benda itu.
"Maaf, Pak. Saya cuma bisa memberi diskon 30%."
Sebelum Gallerian bisa memprotes lagi... karena MA sudah bisa membacanya dari ekspresi wajah Gallerian yang mulai menegang, jadi dia segera menyela, "Iya. Tidak apa-apa kok. Itu sudah sangat cukup untuk kami."
"Hei, tapi—"
"Sudahlah Gallerian. Bayar saja. Nanti biar kuganti uangnya."
"Tunggu dulu—KENAPA HARUS AKU YANG MEMBAYARNYA?"
"Aku lupa bawa uang, dan uang untuk jus anak-anak ini tadi adalah uang terakhir yang ada di dalam dompetku karena aku belum sempat ke bank. Jadi untuk kali ini, tolong bayarkan dulu," ucap MA seenaknya. "Dan lagipula di awal naskah, kau sudah disuruh untuk melakukannya, kau tahu?"
Gallerian memutar matanya, lalu mendengus. Dia sudah menduga semua ini akan terjadi pada dirinya. Tapi meskipun begitu, dia tetap mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan... kartu kredit.
"Tidak kusangka ternyata kau punya kartu kredit, Gallerian," komentar MA lalu menyeringai, dan bergelayut sok mesra di lengan pria yang awet muda itu. Mulai menggodanya. "Mungkin—"
"Tidak."
"Ayolah, aku bahkan belum bilang apa-apa."
"Aku sudah tahu apa yang mau kau bilang."
MA memutar matanya dan melepaskan dekapannya sementara Gallerian memberikan kartu kredit tersebut pada si kasir.
"Tolong tanda tangan di sini, Pak."
Gallerian langsung menandatangani sebuah kertas yang ditunjukkan oleh kasir.
"Terima kasih telah berbelanja di toko kami. Silakan datang kembali lain kali." Seharusnya itu diucapkan dengan senyum lebar dan suara riang oleh seorang kasir di toko. Tapi karena masih terbawa gondok habis berdebat tentang "hombreng" dengan Gallerian, jadi si kasir ngomongnya dengan senyum lebar dan suara datar.
Gallerian cuma mengangguk sekilas dengan muka jutek karena dia tidak peduli. Yang penting dia berhasil meminimalisir pengeluarannya sekecil mungkin hari ini.
"Hm, Nem. Kamu yakin cuma beli satu baju sama satu celana aja?" MA bertanya pada Nemesis. Kemudian dijawab dengan anggukan.
"Atau... mungkin kita harus ke toko lainnya, siapa tahu ada yang bikin kamu tertarik..." Ucapan MA terhenti ketika menyadari Gallerian memberikan tatapan mematikan padanya.
"Kau boleh bicara seperti itu JIKA belanjaan kalian TIDAK memakai UANG milikku SEPESER PUN," ucap Gallerian dengan beberapa penekanan di beberapa kata. Kelihatan banget dia itu sebenarnya mau mencak-mencak, tapi karena ini tempat umum, jadi ya mana bisa gitu. Menghancurkan image cool-nya aja.
Tadi aja sebenarnya sudah lumayan bikin harga dirinya turun sedikit sih. Tapi ah sudahlah, namanya juga sudah cinta sama UANG, apapun akan dikorbankan termasuk image.
"Hoo, benarkah?"
Kalau mereka sedang berada di mansion, Gallerian pasti menabok tante-tante ini.
"Baiklah. Sepertinya kita cuma bisa sampai di sini. Mari kita pulang."
Akhirnya sesi belanja keluarga tidak bahagia dan hancur itu hanya berakhir sampai di situ saja akibat kepelitan sang "ayah" alias Gallerian Marlon. Walaupun pada akhirnya cerita tidak sesuai dengan naskah aslinya, setidaknya Nemesis sudah menikmati hari ulang tahunnya ini, 'kan?
"Meskipun bajuku ini pakai uang hasil rampasan?" Sudahlah, Nemesis. Terima saja semua itu.
.
.
OMAKE
"Gallerian," MA memanggil Gallerian yang ada di sampingnya.
"Hm?"
"Ayo, ucapkan selamat ulang tahun untuk Nemesis."
"Hah?"
"Sudah jangan mengeluh. Cepatlah."
Gallerian memutar matanya. "Bagaimana caranya aku mengucapkannya?"
"Tinggal bilang 'HBD Nemesis', beres, 'kan?" MA tidak pernah habis pikir, sebenarnya selama ini Gallerian hidup di dunia mana sih? "Atau kalau kau menambahkan doa seperti semoga panjang umur, itu jauh lebih baik."
Gallerian tidak menjawab. Dia berpikir keras apakah dia harus melakukan ini.
Kemudian sang hakim melirik pada Nemesis yang berjalan di samping MA. Cewek itu memang selalu keliatan misterius, dan kalem. Tapi di saat yang bersamaan, dia adalah orang yang pemarah, dan labil. Ya, itu sifat alami seorang remaja seperti dia sih. Gallerian tidak begitu ingat sejak kapan dia jadi kenal dengan Nemesis.
(Dan secara teknis, Gallerian adalah ayah tiri Nemesis. Tapi ilegal, alias tidak resmi. Halah, emangnya barang selundupan?)
"Nemesis."
"Hah?" Yang dipanggil hanya menyahut dengan malas. Tapi sebenarnya dia lumayan kaget, karena untuk pertama kalinya Gallerian memanggil namanya.
Gallerian tidak langsung berbicara. Dia malah sedikit menundukkan kepalanya, tiba-tiba dia bingung apa yang harus dia katakan.
"Pak Tua, kau mau bicara apa? Cepatlah," Nemesis menggeram dengan kesal. Entah dia kesal karena apa. Yah namanya juga ABG labil. Tapi seharusnya Nemesis senang karena dia dibelikan baju oleh "ayah"nya meskipun entah dengan ikhlas atau tidak, bukan?
Gallerian masih saja bergeming. Dan tiba-tiba saja MA menyenggol lengannya dengan kasar.
Sebenarnya rasanya tidak terlalu sakit, tapi karena kaget, jadi Gallerian malah latah. "Eh, kau itu tidak seperti ibumu. Dia elegan, kau beringasan."
...
...
Hah.
"... what?" Nemesis cengo mendengar latahan Gallerian yang sangat tidak elit itu. MA ikutan cengo, sementara Michelle hanya diam karena dia ketiduran di kursi rodanya.
Gallerian masih bingung apa yang baru saja dia katakan. Atau mungkin dia pura-pura gak tau?
Padahal tadi cuma mau ngomong HBD, malah jadi menghina orang. Emang dasar manusia bermental sadistik sih!
"Gallerian... kamu..." MA memperkeruh suasana dengan mendramatisir keadaan. "Maksudmu apa?"
"Oi, LO ITU LATAH ATAU EMANG SENGAJA MAU NGEHINA GUA, HAH?" Nemesis yang awalnya sudah uring-uringan, jadi makin sewot gara-gara dibanding-bandingkan. "SYUKUR AJA LO PISTOL GUA KETINGGALAN DI RUMAH."
Trus Gallerian baru sadar apa yang sedang terjadi. Dia pun membuang muka. "Aku tidak sengaja ngomong begitu."
"Sudahlah, Nem—"
"KENAPA SIH LO NYARI GARA-GARA MULU SAMA GUA, HAH? LO—"
Lalu sisanya harus disensor karena tidak layak untuk dipublikasikan.
.
.
END LAGI?
.
.
* Di cerita aslinya, tidak disebutkan apakah Nemesis itu pernah sekolah. Masalah dia yang jadi pinter bahasa Inggris itu... iyain aja deh ya? Biar cepet. /dibakar
Buat yang gak tau, Nagito Shinomiya itu salah satu bintang JGV (Japan Gay Video). Berarti Nemesis itu diam-diam fujo. /gakgitu
A/N : SIAPA DI SINI YANG NGE-SHIP GALLERIAN X MA. TOLONG TEMANI SAYA NGE-SHIP PAIRING TERKUTUK INI AAAAA. /dilempar
Oke, awalnya cuma mau dibikin satu chapter aja. Tapi entah kenapa ujung-ujungnya muncul lagi chapter baru. Meskipun gitu, saya tetap bakal masang label completed karena saya gak janji bakal apdet ini lagi. Cuma kalo lagi pengen aja. XD /seenaknya
Terima kasih buat yang udah kasih read, review, fav, dan follow di chapter sebelumnya. Saya jadi semangat kalo liat review kalian! XD /apaansih/ Baiklah. Mungkin ada yang mau kasih saran? Atau komentar?
03122015. POP2. YV
.
.
Changelog.
24122015. Memindahkan fanfiksi ini dari fandom Vocaloid ke fandom yang seharusnya, yaitu The Evillious Chronicles. Jadi otomatis saya harus menghapus beberapa bagian seperti disclaimer buat Vocaloid, setting, dan cast.
