Sore ini hujan turun lebat. Mengguyur hampir seluruh permukaan Tokyo. Membuat sebagian besar warga kota memilih mendekam di rumah masing-masing. Menikmati secangkir cokelat panas, atau bersembunyi di balik tebalnya selimut, boleh jadi opsi yang lebih pas. Meski tak sedingin musim salju, hujan tetaplah membuat temperatur menjadi rendah.
Naruto memilih bermalas-malasan di kamarnya. Merebahkan diri di ranjang, tangannya lincah memencet tombol pada layar sentuh ponsel. Memainkan salah satu permainan yang sedang diminati remaja masa kini.
Serius sekali ia memainkannya. Beberapa jam berlalu, rasanya seperti beberapa menit. Sampai rasa lapar menghentikannya.
Ya, perutnya berbunyi seolah menjadi alarm bagi Naruto untuk menghentikan kegiatannya. Ia beranjak dari ranjang sembari memegangi perut yang lapar
"Hari ini makan apa ya?"
Mengatakan itu, tangannya menggaruk kepala membuat rambut kuningnya semakin berantakan. Ia mengintip lewat jendela. Hujan memang tak sederas tadi, tapi untuk berjalan keluar rasanya tidak mungkin. Tidak mungkin dengan segala kemalasan yang masih melekat pada dirinya.
"Di luar pasti dingin sekali," Naruto bergumam.
Baru selesai mengatakan kalimat itu, ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya.
Naruto menguap, matanya melirik malas pada jam yang tergantung di dinding ruang depan.
"Siapa sih yang bertamu di cuaca seperti ini? Apa dia tak punya pekerjaan lain untuk dilakukan? Tidur misalnya."
Sedikit kesal, Naruto berjalan menuju pintu. Perlahan ia memutar kenop tanpa repot-repot mengintip dahulu siapa yang datang. Dan ... iris biru yang sedianya sayu itu mendadak membulat. Binarnya terkejut.
"Hinata-chan?"
Naruto benar-benar tak habis pikir. Penampilan gadis itu sungguh berantakan. Rambut panjangnya lepek, bajunya basah kuyup, dan napasnya tersengal. Sebelah tangan Hinata sedang memeluk tubuh rampingnya, mungkin berniat menghangatkan, meski hal itu sia-sia. Sementara sebelah tangan yang lain sedang memegang payung.
Payung?
Namun yang keluar dari bibirnya adalah pertanyaan lain.
"Ke-kenapa dengan bajumu?"
Hinata menatapnya dengan senyum gemetar. Badannya kedinginan.
"Hehehe ... dua kali mobil yang lewat melintasi genangan air dan membuat bajuku basah ... hatchu ..." Hinata menggosok ujung hidungnya.
Naruto sempat menertawakan gadis itu dalam hati. Tanpa ada mobil pun, pada cuaca seperti ini, payung tidak pernah benar-benar melindungi.
"Ayo masuk," perintah Naruto pelan. Ia sengaja memalingkan muka agar tidak melihat tubuh Hinata yang-
Ugh! Sial! pikirannya jadi kemana-mana.
Gadis itu mengangguk. Ia mengikuti langkah pemuda berambut kuning di depannya, membawa ia ke kamar.
Kemudian tertegun. Kamar ini tergolong kemas untuk ukuran anak laki-laki seperti Naruto. Buku, pakaian, semua tertata rapi meski berada di luar tempat penyimpanannya. Hanya posisi selimut saja yang sedikit mengganggu pemandangan.
"Du-duduklah!"
Hinata mengerutkan dahi. Bagaimana ia bisa duduk dalam kondisi basah kuyup seperti ini. Naruto yang seolah memahami pergolakan batin Hinata, tersenyum.
"Duduk saja di sofa, tenang, sofa itu anti air kok."
Hinata balas tersenyum. Ia duduk, sementara Naruto membuka-buka lemari untuk mengambil baju yang sekiranya pantas dipakai Hinata.
"Nah, ganti ini setelah kau mandi! Aku ... aku akan menunggumu di ruang depan."
Selesai mengatakan itu, Naruto pergi meninggalkan Hinata di sana dan keluar kamar. Namun begitu menutup pintu, ia teringat sesuatu.
Ia lupa memberitahu Hinata kalau handuknya ada di kamar mandi.
Naruto pun lekas berbalik dan kembali membuka pintu kamar. Seketika ia membelalakkan mata saat mendapati Hinata sedang menurunkan celana. Pemuda itu terkejut setengah mati, dan langsung menutup wajahnya dengan punggung tangan.
"Ma-maaf, a-aku tidak bermaksud mengintipmu. Ha-hanya saja aku mau bilang, handuknya ada di kamar mandi."
Dan ia berlari mencapai pintu.
Blam
Naruto menutup pintunya kembali. Wajahnya memerah malu. Ingin ia bersumpah tidak melihat apa pun, tapi nyatanya sama sekali berbeda. Ia sempat melihat ...
"Argh!" Naruto berteriak dalam hati. Malu dan marah beradu menjadi satu. Bagaimana jika Hinata berpikir macam-macam tentang dirinya? Bagaimana jika gadis itu mengira ia baik hati karena memiliki maksud tertentu?
Tanpa ia sadari, di kamar, sang gadis tengah merona pekat dan menahan malu tanpa ada satu pikiran negatif pun tentang Naruto.
.
Lepas mandi, Hinata berjalan ke ruang tengah. Di sana Naruto sudah menunggunya. Sebelum masuk, Hinata sempat menatap tubuhnya sendiri yang hanya mengenakan kaus oblong hitam milik Naruto yang panjangnya mencapai lutut. Ia sebenarnya malu, kaus ini terlihat seperti daster, tapi menonjolkan beberapa bagian tubuh yang seharusnya ia sembunyikan. Mukanya memerah hanya dengan menatap tubuhnya sendiri. Mau bagaimana lagi, bajunya basah kuyup dan sekarang sedang ia keringkan di dekat blower kamar mandi.
Dengan perlahan Hinata berjalan masuk dan langsung duduk di kursi tepat di hadapan Naruto. Pemuda itu menyodorkan secangkir teh hangat untuknya.
"Minumlah. Aku takut kau kedinginan setelah kehujanan tadi."
Tidak dapat dipungkiri, Hinata memang kedinginan. Kulit jemarinya bahkan sampai keriput. Ia melirik ke arah meja. Kepul uap dari arah cangkir benar-benar membuatnya merasa haus, tapi apa daya tangannya benar-benar kaku sekarang.
"Kau kenapa, Hinata-chan?"
Melihat Hinata yang diam saja tentu Naruto bingung. Ia bahkan berpikir, apa Hinata tidak suka berada di sini bersamanya, atau Hinata tidak suka minum teh, atau Hinata masih mengingat kejadian tadi?
Hinata menggeleng sembari tersenyum kecut. Gadis itu sibuk meremas-remas dan menggosok jemarinya. Sesekali ia juga meniupnya. Melihat itu, Naruto jadi paham.
"Mau kuambilkan?"
Wajah kecokelatan Naruto memerah saat mengatakan itu. Bayangan tentang dirinya meminumkan teh hangat pada Hinata sungguh membuat pikirannya berantakan.
"Tidak perlu. Sebentar lagi tanganku akan kembali hangat."
Naruto mengangguk. Ia beranjak berdiri membelakangi Hinata untuk mengambil keripik kentang di dalam lemari ruang tengah. Ia menghela napas dalam sebelum berbalik dan menyodorkan keripik itu ke bagian tengah meja.
Mereka menikmatinya dalam diam. Beberapa menit berlalu, suasana benar-benar hening dan canggung. Satu sisi Naruto merasa takut jika Hinata salah paham akibat kejadian tadi. Apalagi gadis itu terus saja membungkam bibirnya.
Tak tahan dengan kesenyapan ini, Naruto memulai bersuara.
"A-aku minta maaf, Hinata-chan. Tadi aku benar- benar tidak sengaja."
Pemuda itu menunduk.
"Aku tahu kau tak sengaja, Naruto-kun."
Naruto mendongak. Ia membalas senyum Hinata. Kemudian perbincangan mengalir di antara keduanya. Mulai dari nostalgia masa kecil, beralih kepada kehidupan masing-masing setelah mereka berpisah. Naruto yang lebih mendominasi percakapan, disambut Hinata dengan senyum dan tawa. Sampai tiba gadis itu bercerita perihal mengapa ia bersekolah di sekolah khusus perempuan.
"Jadi begitu, kau memang sengaja masuk ke sekolah khusus perempuan karena ingin lebih disiplin?"
Naruto mengernyitkan dahi. Rasanya tidak ada hubungan sama sekali antara sekolah khusus perempuan dengan tingkat kedisiplinan.
"Lebih tepatnya aku tidak ingin ada yang mengganggu konsentrasi belajarku. Dan kau sendiri juga sama. Mengapa kau memilih masuk ke sekolah khusus laki-laki, Naruto-kun?"
Naruto mengeluarkan cengiran rubahnya.
"Aku dengar tim sepak bola di sekolah itu bagus, makanya aku mendaftar ke sana."
Hinata mengangguk. Dari dulu memang Naruto dan dirinya suka sekali sepak bola. Mereka bahkan kerap berlatih bersama sepulang sekolah dulu.
"Kau tidak ingin kalah dariku ya?" Hinata menggoda Naruto. Alisnya naik turun dengan intensi yang kentara. Naruto menjawabnya dengan dengusan kasar.
"Kau masih ingat saja. Oh ya, bagaimana kau bisa berada satu tingkat di atasku, Hinata-chan?"
Hinata terdiam. Ia tampak berpikir meski berusaha menampilkan raut muka biasa. Agak ragu ia menjawab, "Aku berhasil masuk kelas akselerasi."
Naruto mengangguk.
Semakin malam, mereka semakin asyik mengobrol, sedikit melupakan bahwa malam sudah cukup larut. Udara juga kian terasa dingin meski penghangat ruangan telah dinyalakan.
Naruto mengintip ke luar jendela. Tak hanya hujan, angin kini ikut beradu kencang. Netra biru miliknya bisa melihat pohon-pohon ek tua yang ikut bergoyang seakan hendak roboh. Pemuda itu menghela napas. Ia kembali duduk.
Dan tiba-tiba ... lampu di rumah itu mati.
"Kyaaa ..."
Naruto terkejut bukan hanya karena ruangan mendadak gelap, melainkan juga sebab teriakan Hinata yang cukup melengking. Ia panik.
"Hi-Hinata-chan?"
Pemuda itu berjalan cepat dengan meraba-raba, mendekati Hinata yang saat ini meringkuk di kursi. Ia nyalakan ponsel sebagai penerangan dan ia perhatikan, gadis itu sepertinya benar-benar ketakutan. Tubuhnya menggigil. Ia menangis dengan kedua tangan menutup penuh wajah. Dengan hati-hati Naruto mendekap Hinata. Ia tak habis pikir, sejak kapan Hinata takut gelap? Hinata yang ia kenal dulu tidak pernah takut dengan apapun. Naruto ingat betul, sebab dulu mereka acap bermain hingga lupa waktu, dan Hinata tidak pernah minta diantar sampai rumah. Yang ada, Hinata yang kerap mengantarnya. Seperti kejadian di mana mereka tersesat di hutan.
Meski dilanda kebingungan, Naruto tetap bersyukur. Setidaknya jika seperti ini, ada satu sisi di mana ia memiliki kelebihan dibanding Hinata. Di mana dia bisa berlagak layaknya laki-laki sejati di hadapan wanita yang dulu lebih tangguh darinya.
"Hinata?" panggilnya pelan.
Gadis itu tak menjawab. Membuka mata pun tampaknya enggan. Naruto menarik tubuh Hinata yang masih dalam dekapannya dan menuntunnya berjalan. Ia membawa Hinata ke kamar.
.
Naruto membantu Hinata duduk di ranjang kemudian beranjak pergi, bermaksud mengambil lilin di lemari dapur. Namun lengannya tertahan oleh tarikan tangan Hinata. Naruto menoleh.
"Aku mau mengambil lilin," ucapnya.
Hinata bergeming dan tetap menangis, membuat Naruto menghela napas dan duduk di samping gadis itu. Pemuda itu mengelus rambut panjang Hinata untuk menenangkannya.
"Hanya sebentar, Hinata-chan. Dari pada kita terus gelap-gelapan seperti ini?"
Naruto menatap wajah ayu sang gadis yang kini sembap. Kemudian menghapus air mata yang menganak sungai di pipi gembilnya.
"Ini, kau pegang dulu ponselku. Aku akan mengambil lilin sebentar. Oke?"
Hinata menerima ponsel itu dan mengangguk ragu.
.
Sekarang mereka sudah berada di kamar, merebah di atas ranjang dengan guling menjadi batas tidur. Ruangan menjadi sedikit temaram akibat pencahayaan lilin di atas nakas.
Awalnya Naruto ragu. Di luar hujan kian deras, ditambah petir yang menyambar-nyambar. Hinata tidak mungkin pulang dalam kondisi cuaca seperti ini. Akhirnya, terpaksa tidak terpaksa, Naruto meminta Hinata untuk menginap.
Gadis itu tentu tidak menolak. Ia bahkan dengan cepat merebahkan tubuhnya di ranjang. Naruto tersenyum, ia hendak melangkah ke luar kamar, tetapi Hinata kembali menahannya dengan tangan bergetar.
"Ti-tinggallah di sini."
Naruto mengerutkan kening. Sepuh merah menghiasi pipi bergarisnya. Ia tidak yakin, tapi tatapan memelas gadis itu membuatnya mengerti. Ia mengangguk, menyetujui.
Malam semakin bertambah larut. Naruto tidak bisa tidur dalam jarak yang terlalu dekat dengan Hinata. Ia mengubah posisi telentangnya menjadi miring, tepat menghadap ke arah perempuan itu.
Hinata sudah tertidur. Naruto mengamati tiap jengkal wajah ayu yang tengah memejamkan mata pulas. Wajah pucat yang cantik dan lembut. Kulit putih dan sepertinya halus. Pipi gembil yang bersemu merah, entah sebab udara dingin atau sebab yang lain. Dan netra seindah permata azure itu merunut ke bawah. Tepat pada belah bibir sewarna buah persik. Naruto tergoda. Tangannya terulur menyentuh bibir ranum Hinata yang sedikit membuka.
Entahlah, rasanya, darahnya menjadi berdesir. Jantungnya berdegup lebih kencang, dan entah mengapa ini begitu aneh. Padahal dulu ia biasa saja bila berdekatan dengan gadis itu. Bahkan sewaktu kecil, mereka kerap tidur bersama dan tak ada rasa apa pun yang mengganggu. Mungkinkah karena saat itu mereka berdua masih belum mengerti?
Pipi Naruto memerah pekat. Ia mendekatkan wajahnya. Sadar atau tidak, pemuda itu membuang guling yang memisahkan mereka. Naruto memeluk tubuh gadis itu lebih erat, dan mencium keningnya.
Naruto memejamkan mata. Sensasinya sungguh luar biasa. Jantungnya kembali bertalu.
Entahlah. Ini gila. Hinata yang ada di depannya kini membuatnya gila. Membuat ia tak mampu mengendalikan tubuhnya sendiri.
Dalam hati Naruto berujar maaf.
Kecupannya beralih lagi, kali ini ke pipi, kemudian berpindah pada hidung, dan akhirnya ... mendarat di bibir gadis itu.
Dan ... saat itu juga, netra Hinata membuka. Memperlihatkan ametis yang menatap tak percaya. Naruto yang terkejut langsung menarik mundur badannya. Ia memalingkan wajah dan dengan cepat menatap arah lain.
Sementara Hinata bangkit dari tidurnya. Ia duduk dan memegangi bibir, masih menatap Naruto tak percaya, "... Na-Naruto-kun?"
Naruto diam. Dalam hati ia menghardik kebodohannya yang tak mampu mengendalikan perasaannya. Ia meminta maaf pada Hinata, tetapi gadis itu tetap diam.
"Maaf ... maaf aku menjadi pemuda yang menjijikkan," sesalnya.
Namun itu tak berlangsung lama. Netra biru Naruto membulat saat ia merasakan kehangatan kembali menyapa tubuh kekarnya. Ia ganti tak percaya. Hinata tengah memeluknya.
"A-aku tidak marah. A-apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"
Bisikan Hinata seakan menyentak keduanya dalam sadar. Pelukan keduanya semakin erat. Cukup lama hingga mereka saling mengurai dan mendekatkan bibir.
Hangatnya napas kini beradu, seiring dentuman riuh di dalam rongga dada. Kian lantang dengan bibir mereka yang saling mendekat dan ... bersentuhan.
Mereka berciuman.
Awal hanya pasang bibir itu bersentuhan, hingga beralih saling melumat. Diikuti gerakan anggota tubuh lain yang menuntut kehangatan sama. Bagai lantunan melodi cinta, malam gelap nan dingin tersebut larut oleh kehangatan yang mereka cipta sendiri.
Tangan Naruto bergerak melucuti satu demi satu pakaian yang Hinata kenakan. Kaus oblong hitam telah lolos dan terlempar ke lantai. Wajah Naruto merona kala tangannya menyentuh bongkah dada Hinata.
Perempuan itu mengangguk seakan mengerti kemauan pemuda yang duduk di hadapannya. Tangannya menyibak rambut agar Naruto dengan mudah melepas kaitan bra-nya. Sepuh merah jambu balik menghiasai pipi. Naruto meneguk ludah dalam-dalam selepas memperhatikan pemandangan indah yang biasa bersembunyi di balik baju.
Hinata yang terlihat malu beringsut ke kiri. Namun Naruto menahan bahunya, yang membuat langkah itu akhirnya terhenti.
"Boleh?" Naruto bertanya pelan-pelan.
Jawaban Hinata adalah ia yang ambruk ke pelukan Naruto, membenamkan wajahnya pada dada bidang pemuda itu.
Hinata malu, dan Naruto tahu.
Entah bagaimana awalnya hingga posisi mereka berakhir dengan Hinata yang sudah tak mengenakan lapis apapun, merebah di bawah kungkungan Naruto. Naruto pula terlihat sama. Tubuh mereka tampak basah oleh keringat dengan pipi sama-sama merona pekat.
Naruto membuka kaki Hinata lebar-lebar. Ia sedikit membungkuk, lantas menyeka air mata yang luruh di pipi perempuannya.
Si gadis tersenyum. Walau Naruto sebenarnya tahu jika ia sedang menahan sakit. Di bawah sana, terasa sangat sempit. Bisa jadi ini adalah hal pertama bagi Hinata, pun ia.
Naruto melumat bibir Hinata sekali lagi. Memasukkan kejantanannya pelan-pelan, membiarkan punggungnya kembali tergores oleh kuku-kuku Hinata.
.
.
Hangat sinar matahari yang menyusup melalui celah tirai jendela mengetuk-ngetuk kelopak matanya.
Ia menggeliat, sebelum melirik ke samping pada separuh ranjang yang telah kosong. Naruto bangkit dengan cepat, terkejut mendapati Hinata yang sudah tak ada di sampingnya.
"Selamat pagi, Naruto-kun."
Sapaan lembut itu ia terima dari ambang pintu.
Naruto menoleh. Ia melihat Hinata telah berpakaian rapi dan menenteng tas selempangnya.
"Kau mau ke mana, Hinata-chan?"
"Aku mau pulang,"
Naruto terkejut. Secepat itu? Mereka bahkan belum sarapan.
"Eh? Kenapa buru-buru sekali?"
Hinata bergerak-gerak gelisah. Sebenarnya ia merasa tidak enak, tetapi mau bagaimana. Semakin lama ia berada di sini, ia juga akan semakin merepotkan Naruto.
"Sehari semalam kurasa waktu yang cukup lama, Naruto-kun. Aku tidak mau merepotkanmu lebih dari itu,"
Naruto mendesah. Berdiri dan mengambil kaus yang tergeletak di lantai, kemudian memakainya.
"Kau sama sekali tak merepotkanku."
Mereka berjalan keluar kamar. Pikiran Naruto berkecamuk, antara ingin mengatakan sesuatu atau tidak. Ia tampak meragu.
"A-apa ini gara-gara kejadian semalam?"
Hinata menggeleng. Bibirnya menyemat sebuah senyum.
"Tidak,"
"Maaf, aku memang laki-laki berengsek."
Langkah Naruto terhenti ketika Hinata memegang bahunya. Ia menatap heran mata ametis yang belakangan membuatnya gila.
"Aku senang dengan apa yang kita lakukan semalam. Aku sama sekali tidak marah, Naruto-kun."
Naruto memandang mata bulat itu dengan menyidik. Memang tak ada tanda-tanda kebohongan di sana. Itu membuat pemuda kuning tersenyum lebar.
"Mau kuantar sampai depan?"
.
Naruto kembali ke kamarnya setelah Hinata pulang. Ia tersenyum menatap ranjang tempat dirinya berbagi kehangatan bersama gadis itu. Ingatan perihal kejadian semalam pun memenuhi pikirannya, membuat ia tertawa.
Ia merebahkan tubuh, pikirannya menerawang. Memorinya bersama Hinata kembali melintas. Sampai ia disadarkan oleh getaran kecil di samping dirinya tidur.
Tangannya terulur meraba dan mendapati sebuah benda kecil tengah menyala. Ia pun bangkit dengan cepat.
"Astaga ... ponsel Hinata tertinggal?"
Naruto bergegas mandi dan berpakaian rapi. Ia harus segera mengembalikan ponsel itu, karena sudah pasti Hinata sangat membutuhkannya. Namun terlebih dulu ia harus mencari alamat rumah Hinata. Dan jalan satu-satunya melalui surat yang pernah gadis itu kirimkan.
.
Perjalanan memakan waktu sekiranya 25 menit menggunakan bus. Naruto turun tepat di depan sebuah pagar rumah. Ada plang yang menunjukkan nama pemilik rumah di sana. Netra biru itu menyipit, sedikit kaget.
"Inuzuka?"
Kening Naruto mengerut. Ia kembali memperhatikan alamat yang tertulis di surat, kemudian melihat lagi nomor rumah di pagar itu. Sekali, dua kali ia membaca dan berusaha meyakinkan bahwa ini benar alamat yang ia tuju.
"Tidak ada yang salah bukan? Apa dia pindah rumah?"
Saat tangannya terulur hendak membuka pintu pagar, ia mendengar suara yang familier di telinganya.
"Iya Bu, aku tak kan lama."
Suara itu berasal dari pagar seberang jalan ia berdiri. Naruto menoleh. Ia melihat Hinata keluar dari sana, dan Hinata tanpa sengaja juga melihatnya.
Pasang netra berbeda warna tersebut bertemu, pandangannya bersirobok.
"... Hinata?"
"Na-Naruto-kun?"
Saling tatap untuk beberapa saat. Tak ada yang mau, pun tak mampu membuka suara. Hingga tidak lama terlihat seorang wanita berambut ungu panjang keluar dari dalam rumah.
Wanita yang ia ingat memiliki wajah yang cukup berbeda dari ibu teman semasa kecilnya.
"Hinata-chan, kau melupakan kue mochi untuk Bibi Kurenai."
Hinata menoleh ke arah wanita yang kini berjalan ke arahnya. Wanita itu menatap Naruto dan tersenyum.
"Ada temanmu? Ajak dia masuk. Apa kau tega membiarkannya berdiri di sana?"
Wanita itu tersenyum. Sementara mata Naruto teralih pada papan nama di pagar depan rumah itu.
'Hyuuga'
Naruto semakin bingung dan terkejut.
"A-apa maksudnya ini?"
Hinata bergeming mendengar pertanyaan tersebut. Gadis itu bahkan terlihat gelisah.
Melihat reaksi yang ditunjukkan Hinata, sepertinya Naruto mulai paham. Pemuda itu berbalik dan berlari, mengabaikan ibu Hinata yang menawarinya masuk.
"Loh? Hinata-chan, temanmu ..."
Hinata pun ikut berlari mengejar Naruto dan mengabaikan kue mochi serta panggilan dari ibunya. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bagaimana ia menjelaskan kepada Naruto perihal apa yang sebenarnya terjadi.
"Naruto-kun," panggilnya sembari tak berhenti berlari. Yang dipanggil tentu saja abai.
"Naruto-kun, tunggu!"
Hinata berteriak lebih keras, tapi tak jua membuahkan hasil. Pemuda itu tetap melangkah laju tak peduli pada sang gadis yang sudah terengah-engah menyamai kecepatannya.
"Naruto-kun?"
Naruto tak menjawab.
Sampai di ujung gang, pemuda itu berhenti. Disusul oleh Hinata yang berdiri setengah membungkuk di belakangnya.
"Na-Naruto -!"
Napas Hinata tersengal. Ia memegangi dua lututnya untuk mengatur jalur respirasinya agar kembali normal. Pemuda di hadapannya terlihat mengembuskan napas panjang, kemudian berbalik.
"Naruto-kun, kenapa kau berlari? Dengar aku," pinta Hinata serak.
Hinata bisa melihat tangan Naruto yang bergetar.
"A-aku bisa menjelaskannya ..."
"Menjelaskan? Menjelaskan bila selama ini kau membodohiku?"
Naruto memotong perkataan Hinata yang membuat pupil perempuan itu membola.
"Seharusnya aku menyadari bagaimana kalian sangat berbeda. Sedari awal, harusnya aku tak mempercayaimu. Aku hanya berpikir, aku dapat menemuimu lagi, dan semua itu membuatku tak sadar jika kau sedang menipuku!"
Ekspresi menahan marah dari Naruto jelas sekali menggambarkan kekecewaannya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Naruto-kun, sungguh ..."
Hinata yang di hadapannya ini bukanlah Hinata teman semasa kecilnya.
Mereka hanya memiliki nama panggilan yang sama, dengan ciri fisik yang mirip.
Nama marga teman semasa kecilnya adalah Shiranui, bukan Hyuuga.
"Lalu di mana Hinata yang asli?!"
.
.
Tiga tahun lalu,
Peluh masih membasahi bajunya sebab ia harus berjalan dari halte menuju rumah yang jaraknya terbilang jauh.
Tiba-tiba telinganya mendengar suara lonceng sepeda. Gadis itu melirik ke depan gerbang rumahnya. Seorang tukang pos tampak sedang memasukkan sesuatu ke dalam kotak surat rumahnya.
Saat Hinata menghampiri, pria itu sedikit terkejut. Mungkin karena tidak menyangka akan ada orang di hari yang cukup sepi itu.
"Surat untuk siapa Pak?" Hinata bertanya.
Sebenarnya ia merasa bingung karena selama ini dia dan ibunya jarang menerima surat. Mereka lebih banyak menerima pengiriman barang dari sang ayah yang tinggal di luar kota.
"Nona Hinata, kan?"
Kening Hinata mengernyit, tidak menyangka jika surat itu ditujukan khusus untuknya.
"Untukku?"
Masih ragu, Hinata mengulurkan tangan untuk menerima surat tersebut.
"Te-terima kasih,"
Hinata segera membuka surat itu dan mulai membacanya. Dahinya berkerut lagi. Sepertinya ada aneh. Menyadari surat tersebut salah alamat, Hinata lantas menutupnya kembali. Ia melirik ke rumah depan, tempat tinggal tetangga yang baru pindah sekitar dua bulan lalu. Kebetulan anak gadis penghuni rumah itu memiliki nama yang sama dengan dirinya, Shiranui Hinata.
Hinata berjalan menuju rumah keluarga Shiranui. Ia mengetuk pagar rumah, tapi tak ada jawaban dari dalam. Karena kebetulan saat itu pintu gerbang tak terkunci, Hinata membuka gerbang tersebut dan mengetuk pintu rumah.
Pintu itu membuka dan menampakkan seorang anak yang duduk di kursi roda. Gadis itu memiliki rambut pendek berwarna ungu. Sepintas mirip dengan dirinya.
Lalu Hinata terkejut, entah karena apa gadis kecil itu marah dan membentaknya untuk segera keluar.
"Pergi! Pergi kau! Pergi!"
Gadis itu mengambil payung yang ada di dekatnya untuk dilempar kepada Hinata. Tak berhenti di sana, sempat ia mengambil sandal yang tergeletak di dekatnya dan melemparkannya juga.
"Pergiiii!"
Brukk ...
Gadis itu jatuh dari kursi roda. Ia berteriak histeris dan terus berkata kasar meminta Hinata keluar. Sampai ibu dari anak itu datang dan meminta Hinata untuk benar-benar pergi dari sana.
Saat Hinata ingin menyerahkan surat tersebut, yang ada wanita dewasa itu malah mendorongnya dan menutup pintu setengah kuat.
Blam
.
Hari-hari berikutnya Hinata terus mendapat surat dari pengirim yang sama. Seorang anak yang ia perkirakan seusia dengan gadis itu. Dia bernama Uzumaki Naruto. Karena tahu surat tersebut bukan ditujukan untuk dirinya, meski selama ini surat tersebut selalu jatuh ke tangannya, sama sekali Hinata tidak pernah membuka.
Jadi semua surat yang terkumpul ia simpan di dalam kotak kecil yang ia sembunyikan di kolong tempat tidurnya.
.
Pulang sekolah Hinata terkejut melihat depan rumahnya ramai-ramai dengan orang yang berkumpul.
Mobil polisi tampak terparkir di badan jalan, setelah sebelumnya sebuah mobil ambulance keluar dari sana.
Beberapa orang tampak berbisik. Hinata pun melihat wanita yang mendorongnya beberapa bulan lalu, masuk ke dalam mobil polisi dengan air mata yang bercucuran.
"Wah, kasihan sekali ya ...,"
"Padahal masih anak-anak, tapi sudah berpikir yang seperti itu,"
Hinata mendengar bisik-bisik tersebut dari orang di sampingnya.
Ia yang penasaran lantas menerobos kerumunan. Ia melihat ibunya berdiri di depan, di belakang garis batas polisi.
"Ada apa, Bu?"
Sang ibu langsung mendekapnya.
"Anak itu ... dia bunuh diri."
Mata Hinata terang membulat.
Gadis kecil tersebut ditemukan dalam kondisi mulut berbusa, di dalam kamar mandi rumahnya.
Berdasar cerita yang beredar, ia sempat depresi lantaran kakinya yang harus diamputasi setelah mengalami kecelakaan mobil.
.
Satu bulan kemudian,
Tak butuh waktu lama. Setelah kepindahan keluarga Shiranui, rumah itu dihuni oleh keluarga baru pindahan dari Yokohama, keluarga Inuzuka.
Pagi itu matahari bersinar cerah. Hinata yang bangun kesiangan buru-buru berangkat sekolah, sampai mengabaikan teriakan sang ibu yang menyuruhnya sarapan.
"Nanti saja, Bu. Aku sudah sangat terlambat. Lagi pula hari ini ada ujian kenaikan kelas."
Saat berlari, ia melihat tetangga barunya membawa kardus keluar, kemudian meletakkannya di samping bak sampah. Bisa jadi kardus tersebut berisikan barang-barang dari keluarga lama.
Hinata menggelengkan kepala. Bukan saatnya memikirkan itu, ujian sudah di depan mata.
.
Pulang sekolah, Hinata tanpa sengaja melihat tumpukan kardus tersebut masih berada di tempat semula.
Sepertinya hari ini tidak ada jadwal pengambilan sampah oleh truk pengangkut.
Hinata menengok isi kardus itu. Awalnya hanya melihat-lihat, tetapi akhirnya ia mulai memegangi benda di dalamnya satu persatu. Vas bunga, sepatu, kertas karton, buku gambar, topi anak SD, jas hujan, beberapa mainan, dan ... sebuah buku harian.
"...?"
Mata Hinata jadi berkilat penasaran.
Dengan perasaan membuncah, diambilnya buku harian tersebut dan membawanya pulang.
.
Purnama terlihat sempurna didukung langit malam yang cerah. Hinata duduk di atas ranjang, menghadap ke arah jendela yang terbuka tirainya.
Pikirannya dipenuhi hal-hal yang membuat ia penasaran. Mengenai alasan mengapa anak bernama Naruto itu terus mengiriminya surat meski tak pernah mendapat balasan, mengenai apa hubungan di antara kedua anak tersebut.
Naruto dan Shiranui Hinata. Saudara, kah? Atau ... teman masa kecil?
Perlahan tangannya mengambil buku harian di atas nakas. Buku harian dengan sampul biru tua itu terlihat menggoda di pangkuannya.
Ia merasa penasaran, tetapi juga merasa bersalah.
"Ah ..."
Tak tahan lagi Hinata memutuskan untuk membukanya. Dalam hati, Hinata meminta maaf sebesar-besarnya atas kelancangan ini. Tak lupa ia mendoakan terlebih dulu gadis itu, semoga dapat beristirahat dengan tenang.
Hinata mulai membuka lembaran pertama.
Yang ia lihat, adalah foto dua orang anak sedang tersenyum lebar dan saling memeluk. Mereka seperti dua bocah laki-laki, tetapi Hinata tahu, yang berambut ungu pendek adalah gadis itu, Shiranui Hinata, ia memang gadis tomboi.
Dalam foto tersebut, si gadis kecil terlihat masih memiliki sepasang kaki.
Halaman berikutnya ... tentang lomba lari. Sekilas tak ada yang aneh dari buku harian tersebut. Khas layaknya tulisan anak kelas 5 SD yang menceritakan bagaimana si pemilik bermain, bertanding olahraga, juga liburan mereka, termasuk saat keduanya tersesat di taman dan dikejar anjing.
Diary,
Hari ini aku sangat senang. Tadi guru memanggilku ke ruangannya. Aku kira aku akan dihukum karena tidak bisa menjawab soal yang diberikan tadi pagi. Ternyata tidak. Guru bilang aku akan mewakili sekolah untuk lomba lari di Nagano. Aku senang bukan main. Aku bercerita pada Naruto-kun. Kau tahu? Dia merasa iri padaku. Dia bahkan merajuk. Ahahahaha ... Kau harus melihat ekspresinya. Itu lucu sekali. Lalu dia sengaja menumpahkan es krimnya ke baju sekolahku. Aku marah dan mengejarnya. Ha! Tentu saja aku bisa menangkapnya dengan mudah. Dia kan tidak bisa berlari. Hahahaha ... Oh ya, aku harus siap-siap untuk hanami besok.
Lembar berikutnya, kembali Hinata buka.
Diary,
Sehari tadi kami sekeluarga berhanami. Naruto, bibi Kushina dan paman Minato juga ikut. Kami duduk bersebelahan di taman. Bunga sakuranya indah. Warna merah muda di mana-mana. Aku menyukainya. Lalu aku dan Naruto bermain kejar-kejaran tadi. Dan ... konyolnya Kami tersesat. Padahal hutan buatan itu tak terlalu luas. Kami berjalan, berusaha mencari jalan keluar. Namun tidak ketemu juga. Aku jadi kesal. Apalagi si Naruto itu penakut sekali. Dia berjalan di belakangku dan menarik-narik kausku. Padahal dia kan laki-laki, kan?
Kulihat dia juga menangis.
Entah mengapa Hinata tersenyum membaca ini. Masa kecil yang manis. Seakan ia ikut hadir pada masa itu, dan merasakan kehangatan pertemanan mereka berdua.
Ametisnya semakin berbinar, seolah tiap lembar yang akan ia buka menampilkan kejutan tertentu yang ia harap.
Lembaran berikutnya mulai bercerita perihal kegundahan gadis itu saat hendak pindah rumah. Ia takut jika mereka tak bisa bermain bersama, dan Naruto melupakannya.
Gadis itu bercerita bagaimana ia menangis ketika melihat Naruto mengejar mobil yang ia naiki, dan berteriak berjanji akan menemuinya suatu hari nanti.
Halaman berikutnya, tentang ia yang putus asa setelah kakinya diamputasi. Kecelakaan di depan sekolah barunya, membuat ia kehilangan sepasang kaki.
Setelahnya, yang Hinata temukan adalah halaman kosong, sampai pada halaman terakhir, Hinata membaca sebuah kalimat yang memilukan.
Aku ingin bertemu denganmu, Naruto-kun.
Sangat ingin. Tapi aku malu. Aku malu karena sekarang aku cacat. Aku tak lagi punya kaki. Aku tidak mau kau melihatku begini, Naruto-kun.
Selalu ... selalu aku mengingat masa-masa pertemanan kita. Kau anak yang cengeng dan penakut. Aku harap kau bisa berubah
Di saat begini ... entahlah. Aku hanya berpikir, andai saja ada seseorang yang mau menggantikanku sementara untuk bertemu denganmu. Mengatakan, aku selalu merindukanmu, dan memastikan kau baik-baik saja; kau selalu tersenyum dan hidup bahagia.
.
.
.
Gerimis turun sore ini. Beberapa orang tampak berlalu lalang dengan payung sebagai pelindung kepala.
Bau tanah basah menyentuh indera penciuman, membawa ketenangan bagi siapa pun yang menghirup.
Di pemakaman, tepat di ujung jalan setapak, seorang pemuda berpakaian serba hitam berjongkok dengan tumpuan satu lutut di depan sebuah makam.
Guyuran air hujan yang membasahi tubuh dan rambut kuningnya ia abaikan. Tatapan netra birunya nyalang. Rautnya memerikan kesenduan mendalam. Naruto memegang sebuah buku kecil bersampul biru tua di tangannya. Ia menangis. Meski tersamarkan oleh rintik hujan.
"Dasar bodoh ... kau bodoh ..."
Terdengar ia mengumpat berkali-kali. Terkadang tangannya mengepal dan memukul tanah pemakaman yang telah rata.
Selama beberapa jeda ia menghabiskan waktu di sana. Hingga hujan pun reda, dan awan kelabu mulai melenyap, tergantikan oleh hamparan biru langit yang mulai cerah.
Naruto berdiri, ia berjalan keluar area pemakaman.
.
Sepanjang jalan menuju rumahnya, Naruto hanya bisa tertunduk. Sisa air mata masih menggantung, enggan ia hapus.
Kenangan bersama sahabat masa kecilnya terus melintas. Bagai pita rekaman memori yang tak terhenti.
Hingga tanpa sadar, ia telah sampai di depan pagar rumahnya.
Iris biru sejernih lautan itu menatap sayu pada sosok gadis remaja yang berdiri di samping pagar. Seakan gadis itu memang menetap di sana sementara waktu untuk menunggunya.
"Naruto-kun," panggil Hinata.
Naruto bergeming tepat di hadapan gadis itu, tidak menghadap pun membelakangi. Tepatnya ia hanya menatap lurus pagar rumahnya.
"Maafkan aku,"
Hinata semakin lirih mengiba. Air matanya menetes menuruni pipi. Rasa bersalah masih menyelimuti hatinya. Namun menghindar pun ia tak mampu. Faktanya, lakon palsu ini membuat ia mencintai pemuda itu.
"Maaf ..."
"Sudahlah," potong Naruto berbalik menghadap Hinata.
Mereka saling tatap untuk beberapa jeda. Membiarkan pias cahaya di iris mereka saling menyelam. Mendalami perasaan masing-masing dan menafsirkan cinta yang memang tumbuh di antara hati dengan cara tak terduga.
Naruto menggapai jemari Hinata.,
"Masuklah."
Serupa hari itu, baju Hinata telah basah oleh air hujan.
"Aku tak mau melihat orang yang kusayang sakit. Jadi perhatikan dirimu, dan jangan melakukan hal bodoh seperti ini lagi."
Mata Hinata kontan membelalak mendengarnya. Ia bergeming. Otaknya masih sibuk mencerna, apakah ada arti lain dari kata sayang yang diucap pemuda itu.
"Sa-sayang ...?"
Terbata Hinata mengucapkannya. kepalanya sejenak menunduk, lalu kembali menatap mata sang lawan bicara.
Sempat ia menahan napas kala dirasakan hangat menerpa tubuhnya. Naruto memeluknya, erat.
"Apa yang kau pikirkan?"
Hinata membalas pelukan tersebut dengan wajah yang ia benamkan.
"Aku mencintaimu, Naruto-kun!" teriaknya.
.
.
.
FIN
Terimakasih telah membaca. Jangan lupa fave/foll and review ya:))
