Wake Up Call

(Love is Forever)

Author :

Deer Luvian

Cast :

Kim Jongin

Lu Han

Other cast :

Oh Sehun

Wu Yifan

Zhang Yixing

Do Kyungsoo

Choi Minho

Genre :

?

Rated :

?

Lenght :

Three Shoots

*Disclaimer:

Para tokoh yang tertera ditulisan author ini bukan milik author. Semuanya milik Tuhan Yang Maha Esa. Menjadi terkenal melalui agensi mereka. Author hanya meminjam nama dan ciri fisik saja. sedangkan jalan cerita adalah milik author tanpa ada plagiasi dari pihak manapun. Meskipun ini cerita merupakan cerita inspirasi.

*Catatan:

Ini cerita tidak tahu apakah cocok dengan judulnya, eh kebalik... Judulnya apakah cocok dengan ceritanya, hahahaha..

Soalnya, cerita ini terinspirasi dari salah satu lagu Maroon Five yang berjudul Wake Up Call. Gak terlalu sama banget sih sama jalan cerita lagu, tapi part reffnya memberi inspirasi, hahahaha. Berhubung saya tidak tahu judul yang pas, yaa sudah pake judul itu saja hahahaha..

Okkeee, kalau kalian sudah membaca, Tolong Review, Komen dan kritikannya yaa...

Jangan ngebash author atau plagiat cerita author.

Terima kasih...

Happy Reading..

Chapter 1


03.00 P.M KST March 12, 2019. Songpa-Seoul.

Ruangan gelap dengan satu lampu kuning sebagai penerang hanya membuatnya terlihat buruk. Kondisinya tak sama seperti saat itu. Wajahnya tak setampan dulu, saat ini segaris rambut liar menghias di sekitar bibir tebalnya. Kulitnya kusam dan tubuhnya tak sewangi dulu.

Dengan selembar kaca kecil, ia memandang sosok yang dipantulkan kaca itu. Bibirnya tertarik miring.

"Lihatlah.. Kau sungguh menyedihkan.. Apa dia akan menerimamu kembali jika kondisimu seperti ini?" gumamam itu menghina dirinya sendiri.

"Ini baru tahun kelima, masih ada lima tahun lagi.." Lantas ia merapikan apa yang bisa dirapikan di sekitar wajahnya. Senyuman miring masih tercetak di wajahnya. Entah apa yang ada di pikirannya hingga ia berkata seperti itu.

Setelah puas menatap sinis sosok menjijikan itu, ia meletakkan kembali kaca kecil yang ia pegang. Tubuhnya terasa lelah, ia membaringkan diri di atas lantai dingin yang siap merajamnya lagi dan lagi. Matanya memejam kemudian, membawa tubuh lelah dan penuh lebam itu kealam mimpi yang membuatnya merasa lebih baik. Meski terkadang kejadian menyakitkan beberapa tahun silam secara tidak sengaja berputar dipikirannya lagi.

"Yaa! Kim Jongin... Bangun kau! Masih ada yang harus kau kerjakan lagi..!" pekikan keras memaksa pemilik nama membuka kembali mata yang baru saja terpejam. Ia bangkit dan memandang heran sosok berseragam biru muda dipadukan celana kain berwarna lebih gelap dengan tangan memegang alat kebun.

"Kerjakan taman bagian depan! Kau belum melakukannya! Apa kau lupa kalau hari ini giliranmu?" ucapnya lagi. Kali ini sesuatu terbayang di pikirannya, lantas ia mendekat kearah sosok itu lalu menunduk dalam.

"Maaf aku lupa.. Baiklah, akan aku kerjakan.."

Pintu dengan batang-batang besi berjejer itu terbuka, memberikan akses kepada lelaki bernama Kim Jongin agar keluar untuk melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Bukan hal baru baginya, ini sudah menjadi rutinitas dirinya setelah menyandang status... Tahanan.. Yaa... Tahanan... Selama lima tahun ia mendekap di balik jeruji besi karena hal konyol yang ia perbuat.

Sedikit menahan sakit luka lebam yang ia terima beberapa hari yang lalu, Jongin menggerakan alat pemotong rumput. Membersihkan taman sekitar ruang tahanan dengan kerabat baru yang lain. Tak mampu bergerak cepat, ia mendudukkan diri mengistirahatkan tubuhnya yang mulai melemah tanpa ada pasokan nutrisi lagi setelah persediaannya habis untuk kegiatan sebelum ini.

"Melelahkan bukan? Hidup seperti ini.. Berbeda sekali ketika kita berada dalam titik puncak.." lagi dan lagi, pertanyaan itu selalu ia terima ketika melakukan hal ini. Seseorang mendekat kearah Jongin dengan senyum mengembang seraya meletakkan alat kebun disebelahnya.

Jongin melempar senyum kepadanya lalu mendesah pelan. "Yaah... Aku tak tahu jika karierku akan berakhir disini..." jawabnya datar.

"Kau tinggal lima tahun lagi.. berbeda denganku yang harus melanjutkan hingga usia 38 tahun.." seseorang itu menyenggol kasar lengan Jongin. Memang, seseorang di sampingnya ini menjadi teman Jongin semenjak dua bulan lalu dan akan berada di tempat ini selama sepuluh tahun kedepan.

"Iya..."

"Apa kau pernah berpikir? Jika dulu kau selalu menangkap pembunuh sekarang kau ditangkap sebagai pembunuh?"

Sejenak kedua kristal coklat Jongin melirik kearahnya, lalu beralih pada rumput yang tengah ia pegang.

"Aku tidak pernah berpikir itu terjadi.." kata-katanya masih terdengar dingin. Pandangannya menjadi kabur karena tiba-tiba embun menyeruak di antara bola mata dan kelopak tipisnya.

"Sungguh menyedihkan kisahmu itu, kawan.."

Flashback...

05.00 A.M KST October 10, 2014. Songwoldong Apartment, Joonggu-Seoul.

Hari ini terasa begitu melelahkan, setelah seharian bekerja di Kantor Polisi Songpa Jongin memutuskan untuk kembali ke apartemen hangatnya. Paling tidak, ia ingin melepaskan segala kerinduan yang tertahan. Bekerja sebagai seorang polisi hanya memberikan sedikit waktu longgar untuk bertemu dengan sang kekasih. Sang kekasih yang setia menunggunya pulang dan memberikan kecupan hangat ketika sosok Jongin muncul di hadapannya.

Bibir penuhnya seolah tak lelah terus bersiul. Siulan pelan terdengar sangat merdu mengalun dari sana. Bisa ditebak, sosok ini tengah digelayuti perasaan senang dan sumringah. Mungkin kesempatan untuk bisa bertemu dengan pujaan hati mengisi pikirannya, hingga menghasilkan reaksi kesenangan berlipat dalam dirinya.

Rasa tak sabar telah menyebar diseluruh tubuhnya. Lantas ia menekan angka-angka dengan cepat dan detik berikutnya pintu apartemennya terbuka. Kakinya melangkah kedalam, namun apa yang ia inginkan tak ditemukan. Sesaat sorot matanya beredar, mencari sesuatu di antara puluhan benda yang mengisi apartemen besar itu. Tak mendapatkan apa yang dicari, ia beranjak dan menuju kamar.

Krieekk...

Suara gesekan kayu yang bersentuhan dengan lantai terbuka kasar, Jongin mendongak ke dalam. Suasananya gelap, hanya semburat tipis cahaya bulan menyelungsup dari balik kain tipis tirai jendela.

"Luhan-hyung... Apa kau sudah tidur?" tanyanya pelan seraya meraba-raba mencari tombol lampu.

Tak ada sahutan terdengar, Jongin semakin mempercepat gerakan merabanya dan...

Ckleekkk..

Cahaya lebih terang bersinar memudahkannya memandang sekitar. Ia mendekat kearah tempat tidur. Namun...

"Luhan hyung... Kau itu?" Suaranya tampak ragu.. Iya, ia ragu dengan apa yang ia lihat..

Lensa kembarnya menangkap dua sosok tengah tertidur lelap di atas ranjang besar itu dengan posisi yang bisa dibilang tidak normal. Keduanya berpelukan dengan telanjang dada, bagian bawah tubuh tertutup sebuah selimut. Tetapi, kristalnya tak memantulkan celana yang terlepas. Hanya dua buah kaos yang jatuh di sebelah tempat tidur.

"Luhan hyung..." serunya keras ketika mengenali siapa sosok yang tengah berpelukan itu. Benar, sosok itu adalah Luhan kekasih Kim Jongin. Tangannya dengan kasar menarik selimut yang membentang di atas tubuh keduanya.

"Bangun kalian..." kali ini, suaranya meninggi. Jelas, tampak jelas amarah dan kekecewaan memuncak di dalam dirinya.

Suara tinggi Jongin sampai pada gendang telinga mereka. Dua sosok di depan Jongin mengerjab pelan, mencoba memahami apa yang terjadi. Ketika mata rusa itu menyadari posisi tidurnya, ia tersentak kaget. Lalu memaksa lepas dari pelukan seseorang lain.

"Yaa! Apa yang kau lakukan Luhan hyung..." Jongin melempar selimut yang ia pegang pada keduanya. Berikutnya ia menarik paksa sosok yang bersama Luhan.

"Jo-Jo-jongin.." panggil Luhan dengan terbata. Ia terkejut, otaknya telah berhasil memproses dengan cepat.

Sontak ia bangkit dan memegang lengan Jongin. "Jongin, ini tidak seperti yang kau pikirkan..."

"Apa hyung? bagaimana kau akan menjelaskan ini semua?" Jongin menghempaskan tubuh seseorang itu, tatapannya menghujam tajam kearah Luhan.

Menyadari tatapan mematikan Jongin, Luhan menunduk sebentar. Tak lama langkahnya terdengar menyentuh telinga Luhan dan sebuah cengkraman kuat mendarat di pundaknya.

"Apa seperti ini kelakuanmu selama aku pergi?" bentakkan keras melayang dari bibir tebal Jongin. Luhan masih menunduk.

"Jawab aku Luhan!" tak tahan dengan kediaman Luhan, Jongin memekik keras.

Luhan menggeleng ketakutan. "A-aku tidak melakukan apa-apa.." jawabnya tercekat dengan air mata mengalir pelan.

Jongin berdecih, "Aku tidak percaya omonganmu.." Tangan Jongin terangkat, gerakannya seolah ingin memukul seseorang di depannya. Dan benar saja, pukulan itu hampir mengenai wajah Luhan jika seseorang lain tidak menahannya.

"Hentikan! Kim Jongin-sshi... Kau salah paham... Kita tidak melakukan apa-apa..."

Jongin berbalik menatap benci orang itu. "Aku tidak buta jelas-jelas kalian telanjang! Kalian pasti telah melakukan hal itu..."

"Ini bukan seperti yang kau katakan..." orang itu mencoba berkata lagi. "Luhan hyung sedang sakit... Jadi ak-."

Belum sempat orang itu melanjutkan kata-katanya Jongin memotongnya. "Cukup... Aku tidak butuh alasan lagi..." Jongin merogoh sesuatu dari balik celananya. Sebuah benda ditangan membuat kedua sosok lainnya terperangah kaget.

"Apa yang akan kau lakukan Jongin..." seru Luhan seketika ia mengacungkan benda itu kearahnya. Tetapi...

Doorr...

Tembakan keras mengarah pada sosok lain. Bukan kepada Luhan, tetapi sosok yang bersama Luhan. Luhan kaget, nafasnya terasa berhenti saat itu juga. Tubuhnya melemas melihat apa yang baru saja terjadi. Reflek, ia menghampiri tubuh lemah dengan cairan merah membanjiri sekitar dadanya. Saat ia mendekat masih terasa deru nafas di indera pendengarannya, tetapi itu tak bertahan lama. Beberapa detik kemudian, ia menghembuskan nafasnya... Meninggalkan Luhan dengan lelehan air hangat yang turun deras dan semakin deras...

"Sehun-ah... Oh Sehun... Bangun... Kau tak boleh mati... Oh Sehun..." teriak Luhan dalam tangisannya. Tangan halus Luhan mengguncang tubuh tak bernyawa lelaki itu..

"Sehun-ah... Jangan tinggalkan aku..." sesenggukan mengiringi kata-kata yang terucap dari bibir tipis Luhan.

Berbeda dengan Luhan, Jongin hanya menatap sinis dua sosok yang berada tak jauh darinya. Sungguh, hatinya bagaikan telah mati. Beku. Dingin. Acuh. Tak peduli lagi. Selain tatapan sinis yang diberikan Jongin, ia hanya mendengus dan berdecak menghina. Ia sama sekali tak meras bersalah dengan apa yang ia lakukan. Kecemburuan dan kemarahan telah membutakannya hingga melakukan hal yang tak semestinya.

Luhan berdiri lalu menyorot benci kedua kristal Jongin. Kemarahan menghampiri diri Luhan, ia tak tahan dengan kelakuan Jongin.

"Yaa! Kim Jongin... Apa kau sudah gila? Apa yang sudah kau lakukan..." suaranya melengking sangat tinggi. Tatapannya menghujam tajam kearahnya.

Brakkkk...

Jongin melempar pistol yang ia pegang menghantam dinding. Kedua kristalnya berbalik menatap tajam mata rusa Luhan.

"Yang harus tanya itu aku... Apa kau sering melakukan ini selama aku pergi?"

"Apa kau bilang? Aku tidak pernah melakukan hal-hal seperti di pikiranmu.." semakin bertambah kecewa, suaranya naik satu oktaf lebih tinggi.

Plaakk...

Seakan tak percaya dengan yang diucapkan Luhan, Jongin menampar keras pipi tirus Luhan.

"Jong-Jongin kau..."

Plaaakkk...

Lagi... Satu tamparan keras mengenai pipi tirus itu. Mata rusanya membulat tak percaya. Kepala Luhan menjadi pusing, sakit.. Jauh lebih sakit dari sebelumnya... Terasa perih menyerang sudut bibirnya...

Tak lama, kekuatannya berkurang lalu...

.

.

.

.

.

Luhan terjatuh... Tak sadarkan diri... Tamparan Jongin terlampau keras.. Hingga tubuh ringkih Luhan tergolek di atas lantai penuh darah...

10.00 A.M KST. October 11, 2014. Cheil General Hospital, Mukjeong-dong Joonggu Seoul.

Tiit...tiit...tiitt...

Hanya suara yang mengalun dari monitor kecil itu mengisi kekosongan ruang besar tempat terbaringnya Luhan. Sesekali, suara sesenggukan ikut meramaikannya, beradu jadi satu dan menghasilkan harmonisasi yang mampu menyayat hati. Siapa yang menangis di sebelah tubuh ringkih Luhan?

Kim Jongin...

Ia menangis... Air matanya menetes... Turun menghujam...

Jauh berbeda dari sebelumnya...

Apa yang membuatnya menangis seperti ini? Jongin mulai tahu... Mulai tahu kebenarannya...

Kebenaran bahwa Luhan memang tak bersalah..

Luhan tak melakukan hal yang ia tuduhkan..

Tak ada bekas yang membuktikan Luhan pernah melakukan itu...

Lalu saat ini? Saat ini hanya sebuah penyesalan yang menghantui diri Jongin. Apa yang telah ia lakukan benar-benar akan menghancurkannya. Dengan gelap mata ia telah mengambil nyawa orang lain.. Nyawa yang tak bersalah... Selain itu, hal yang paling penting.. Sosok yang disayanginya.. yang dicintainya.. yang dibanggakannya.. Luhan.. terbaring lemah.. belum sadarkan diri sejak tamparan yang ia terima..

Jongin baru tahu, bahwa tubuh Luhan memang sudah lemah sebelumnya. Sebuah kanker telah menggerogoti tubuhnya. Sistem imunsnya tak sekuat dulu. Pantas jika ia belum sadar setelah mendapatkan pukulan keras..

Berulang kali kepala Jongin menjadi sasaran kemarahannya. Berulang kali ia mengantuk-antukkan kepalanya di tepi ranjang Luhan. Bergumam pelan, mengharap Luhan sadar saat itu juga.

"Maaf, Kim Jongin-sshi.. Saya harus mengechek keadaan Luhan-sshi..." Dokter itu menyentuh tubuh Luhan untuk mengechek keadaannya.

"Ah, baik dok.. Kapan Luhan hyung akan sadar?" tanyanya lirih.

Dokter tersenyum, "Nanti.. setelah panas dan suhu tubuhnya mulai stabil.." setelahnya sang Dokter pergi.

Jongin hanya mampu menggenggam erat tangan Luhan. Mata basahnya memandang nanar sosok lemah itu. Bibirnya terkadang bernyanyi sendiri, menghibur diri dan mencoba membangunkan Luhan dengan lullabynya.

Tak terasa, Jongin mulai lelah terjaga di sebelah Luhan. Ia menidurkan kepalanya di ranjang Luhan. Masih dengan tangan menggenggam erat dan bibir menyium punggung tangan Luhan.

Detik..demi detik berlalu...

Menit berjalan menuju hitungan jam..

Hingga jam dinding menunjukkan pukul 05.00 P.M KST..

Di saat Jongin masih terlelap dalam tidurnya, dua orang masuk kedalam kamar tanpa ijin dari Jongin maupun Luhan.

Dua sosok itu berseragam lengkap. Kemeja biru dengan celana kain berwarna biru tua. Lebih meyakinkan lagi, beberapa tanda kepangkatan menempel rapi di kemejanya. Kedua sosok itu adalah...

Polisi...

"Saudara Kim Jongin-sshi..." panggil salah satu dari mereka seraya mengguncang tubuh Jongin. Tak butuh waktu lama, Jongin terbangun. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Pandangannya terlihat lebih jelas lalu ia memicing sejenak. "Choi Minho, Do Kyungsoo ... Apa yang sedang kau lakukan disini.." Ia tahu siapa yang datang. Rekan kerjanya dikantor.

Tapi, raut muka mereka tidak menunjukkan hal baik. Terkesan mereka sedang akan menangkap seseorang...

"Maaf, Kim Jongin-sshi.. Harap ikut kami ke kantor polisi..." perintah lelaki bername tag Choi Minho dingin.

Jongin masih belum mengerti dengan maksud kedua temannya.

"Kenapa kau seformal ini? Ada apa?" Jongin bingung.

Tak mau membuat keributan, satu anggota polisi lainnya -Do Kyungsoo- menunjukkan surat perintah penangkapan atas pembunuhan. Dan nama yang tertera disitu adalah Kim Jongin..

Jongin tersentak kaget. Ia baru menyadari jika ia telah menghilangkan satu nyawa dan ia tak mengingat itu sama sekali. Bahkan ia lupa, mayatnya masih tergeletak di apartemennya.

"Apa kau sudah tahu alasan kami..? Mari ikut kami..." ujar Minho masih dengan nada dinginnya.

"Ijinkan aku berpamitan kepada Luhan hyung.." Jongin berbalik, menatap pilu sosok yang terbaring lemah itu. Sebentar bibir tebalnya melengkung manis lantas ia berkata.

"Hyung... Aku minta maaf... Aku minta maaf tak mempercayaimu... Maaf, jika nanti kau tersadar aku tak lagi disisimu.. Aku mencintaimu... Cepat bangun hyung.. Selamat tinggal.." Ucapnya penuh kesedihan, air matanya merangsek turun. Ia mengusap lembut pipi Luhan dan mengecup pelan tapi dalam bibir tipis Luhan.

"Ayoo..." ajak Jongin dengan senyum getir yang dipaksakan.

Setelah itu, Jongin telah hidup dalam kehidupan barunya. Menyandang status baru sebagai seorang tahanan.

.

.

.

.

.

09.00 P.M KST. March 12, 2019. Songpa-Seoul.

Deru lirih angin memaksa masuk melalui celah jendela besi yang tak tertutup rapat. Dinginnya semakin membabi buta, ketika malam telah menghitamkan langit biru. Lantai di bawah bagaikan bongkahan es yang tercecer. Tubuh lelah penuh luka lebam itu terpaksa berbaring. Meski kenyataannya akan semakin menambah kesakitannya.

Matanya mencoba memejam kembali. Kali ini, perutnya tak meronta. Beberapa nutrisi telah ia santap menggantikan nutrisi yang telah lama hilang. Sesaat ia akan terpejam, suara pelan membangunkannya lagi.

"Kim Jongin... Apa kau tak kedinginan?" tanya lelaki yang bersamanya siang tadi. Jongin melempar senyum sebagai jawabannya lalu menggeleng.

"Kau sedang sakit... Ini pakailah selimutku..." ucapnya dengan nada cemas. Raut mukanya mengatakan hal yang sama.

"Terima kasih Chanyeol hyung.." Jongin menerima selimut itu dan membentangkan dibawah tubuhnya. Ia kembali berbaring dan menatap kosong langit-langit diatasnya.

Chanyeol, teman baru Jongin mendekat dan berbaring disebelahnya.

"Apa yang kau pikirkan Jongin?"

Hembusan berat lolos dari bibir penuhnya. "Aku merindukan Luhan hyung... Bagaimana keadaannya sekarang?"

"Apa kau tak bertemu dengannya setelah itu?"

"Tidak, sama sekali tidak bertemu.. Mungkin Luhan hyung membenciku dan tidak mau menjenggukku disini.. Orang menjijikkan sepertiku tak pantas untuk mendapatkan cinta dari Luhan hyung..." suara Jongin bergetar.. tak lama, cairan bening terjun dari matanya.

Chanyeol menyentuh lengan temannya. Kemudian ia menatap lembut seraya berujar.

"Aku yakin dia tak sejahat itu... Dia akan memaafkanmu..."

"Semoga..." tanggap Jongin singkat.

Jongin sangat tahu, apa yang telah ia perbuat. Tindakan konyol yang ia lakukan tak akan mendapatkan belas kasihan dan kata maaf dari Luhan. Ia tahu dan menyadari itu. Bukan salah Luhan jika nanti ia tahu kenyataan yang semakin menyiksanya saat ia telah bebas dari tahanan ini. Jika ia tahu kenyataan bahwa Luhan mungkin tak akan menerimanya lagi dan yang paling menakutkan, ia telah bersama dengan orang lain.

Matanya masih terjaga, sekilas ia melirik sosok di sebelahnya yang telah mendengkur dengan tenang. Wajahnya terlihat damai, meski dalam keadaan yang sangat menyedihkan.

"Luhan hyung... Apa kau masih mengingatku?" perlahan benda bening turun kembali dari sudut matanya. Dada kirinya terasa perih setiap kata-kata itu terucap dari bibirnya sendiri. Lantas ia mencoba memejamkan mata. Berharap belas kasih sang malam memudarkan sedikit kesakitannya.

"Aku merindukanmu Luhan hyung... Aku ingin bertemu denganmu..."

TBC


Bagaimana ?

Reviewnya yaa readers...

Biar aku tahu pendapat kalian...

Kamsahamnida...

Regards

~Deer Luvian~