makasih, makasih banyak buat yang udah baca fic ini! maaf banget karena update-nya lama karena hikari ga nulis fic ini sampe ber chapter-chapter. bener-bener baru nulis seadanya. chapter 3 aja baru mau mulai -_- yaudah, mumpung chapter 2 udah ada, silakan dibaca. semoga rasa bersalah hikari bisa nembus ke hati anda *udah lupain aja bagian yang itu*
(Hampir) Rujuk
an IchiRuki fic
Bleach belongs to Tite Kubo
Chapter 2
Sebuah meja yang cukup besar terletak di ujung restoran. Di sana, banyak sekali pria berkemeja yang sedang tertawa-tawa. Suara gelas berdentingan dan meja yang sesekali dipukul-pukul memiliki andil besar dalam kebisingan di restoran itu. Namun memang itulah suasana restoran sehari-hari. Restoran itu biasanya dikunjungi oleh orang-orang yang beristirahat saat bekerja. Makanya suasana restoran itu sengaja terkesan hangat dan bersahabat, agar para pekerja yang sedang beristirahat di sana bisa makan dengan nikmat dan dapat bercengkrama dengan rekan kerja mereka dengan santai.
Pria-pria yang duduk di sana bukan pelanggan tetap restoran tersebut namun para pelayan restoran langsung mengenali mereka karena selalu datang beramai-ramai dan selalu mengatakan celetukan-celetukan menggelikan. Pelayan-pelayan di sana tidak merasa terganggu dengan kehadiran mereka, malah mereka sanggup membalas candaan para pria itu.
Meja di sana terlihat penuh piring kotor dan gelas-gelas yang masih berisi minuman namun tidak ada tanda-tanda mereka sudah akan pergi dari tempat itu. Sepertinya mereka masih asyik bercanda di sana.
"Hei kenapa wajahmu murung begitu, Kurosaki?" tanya salah seorang pria di sana. Yang dipanggil hanya tersenyum lemah sambil menghisap minumannya sedikit-sedikit. Reaksinya malah membuat si penanya semakin penasaran dan mulai bertanya-tanya dalam hati. "Makanan yang kau pesan tidak enak?"
"Bukan," jawab pria itu sambil mendengus pelan. "Aku hanya merasa...tidak enak badan."
"Wow, sepertinya pak dokter perlu diperiksa!" canda salah seorang dari mereka. Yang lain hanya tertawa begitu mendengar itu.
"Apakah dokter perlu mendaftar di meja resepsionis? Kalian perlu menunggu di ruang tunggu atau punya semacam perlakuan khusus?"
"Maksudmu, pelayanan lebih dari susternya?"
"Ah, maksudku bukan begitu. Tapi boleh juga. Aku juga ingin dilayani suster wanita yang seksi."
"Rumah sakit kami tidak memiliki suster berbaju seksi, asal kalian tahu," potong Uryuu. Dia meminum habis teh soda yang dipegangnya sedari tadi.
"Hah, rumah sakit kalian memang membosankan. Kalian tahu, perawat-perawat di sana memakai seragam yang membosankan—seragam hijau kusam kelonggaran."
"Ah iya, aku pernah ke sana untuk medical check-up. Sayang sekali, padahal ada perawat yang sangat cantik di sana," seru salah satu dari mereka. Uryuu spontan mendelik mendengar itu. Namun tidak ada yang menangkap delikan pria berkacamata itu karena mereka lebih tertarik dengan pernyataan pria tadi. Hanya saja, mereka tidak memiliki kesempatan bertanya karena seorang pelayan tiba-tiba datang dengan suara yang agak keras.
"Wah wah, sepertinya tuan-tuan ini belum mau pulang. Mau pesan satu gelas cola, mungkin?"
"Hahaha, mungkin kalau kau bisa memberikan satu cola gratis, dia bakal membaik," balas salah satu pria sambil menunjuk Ichigo. Pelayan itu mengikuti arah tunjuk pria yang bicara tadi dan mendapati wajah Ichigo yang terlihat kurang bersemangat.
"Oh, ada apa, pak dokter? Makanannya tidak beracun, kan?" tanya pelayan itu dengan muka khawatir yang dibuat-buat.
"Haha, bisa juga kau," timpal Ichigo. Dia mendengus pelan sambil menopang dagunya dengan tangan kirinya. "Tidak, makanannya enak sampai aku ingin makan terus."
"Oh baguslah! Hari ini ada dua."
"Maksudmu?"
"Tadi ada seorang wanita yang memesan banyak sekali makanan."
"Lalu?"
"Dia sendirian, pak dokter. Dan dia wanita," kata pelayan itu. Dia mengambil notes di balik apronnya dan membuka tutup pulpen. "Jadi siapa yang mau memesan lagi?"
"Tidak, aku mau pulang," ujar Ichigo. Dia mengambil parka-nya yang digantungkan di sandaran kursi. Rekan-rekannya terlihat tidak senang dengan keputusan Ichigo yang pulang lebih cepat.
"Kau tidak asyik, Kurosaki. Masa kau kemari hanya untuk makan?"
"Memang itu tujuanku. Lagipula aku lelah. Pekerjaanku berbeda dengan kalian yang hanya duduk untuk menjawab telepon dan menerima berkas-berkas."
"Biarkan saja dia," kata Uryuu tanpa menatap orang yang dia maksud. "Dia sedang patah hati makanya labil begitu."
"Oh, kalau begitu ikut kami saja. Kami mau pergi ke bar. Kudengar, di sana banyak wanita cantik. Mungkin mereka bisa mengobati patah hatimu."
Uryuu langsung memberikan tatapan melarang pada Ichigo meskipun pria itu sama sekali tidak melihatnya. Tapi sepertinya Uryuu tak perlu memberikan tatapan itu karena Ichigo sama sekali tak terlihat berminat.
"Ah, aku pass. Aku benar-benar harus pulang," kata Ichigo sambil memakai parka-nya. "Yah sebenarnya aku ingin sekali bertemu wanita cantik dan membawanya ke rumahku. Tapi sekarang tidak bisa," lanjutnya tanpa menatap Uryuu yang melotot ke arahnya. Pria berambut orange itu sengaja mengatakan hal itu untuk membuat rekannya kesal. Hasilnya lumayan bagus.
"Ya sudah, kalau kau tak mau. Semoga kau tidak menyesal." Ichigo hanya mendesah lalu mulai berjalan menjauhi meja tempat rekan-rekannya. Uryuu memutuskan untuk tidak pulang lebih awal namun dia juga tidak berniat pergi ke bar. Dia memilih langsung pulang daripada ikut dengan mereka.
Baru beberapa detik Ichigo pergi dari meja itu, Uryuu sadar kalau Ichigo tengah berhenti di salah satu meja. Dari yang dilihatnya, Ichigo tengah berbincang-bincang dengan seorang wanita. Dasar, masih juga, pikir Uryuu. Dia berniat akan menyindir hal ini besok saat bekerja. Namun Uryuu langsung menyadari sesuatu dan dia harus cepat-cepat menyusul Ichigo yang wajahnya mulai terlihat kesal. Tentu saja wanita itu bukan wanita biasa. Itu istri Ichigo.
NNN
"Hoh, rupanya kau."
Ichigo melihat wanita itu menoleh sambil tersenyum. Seketika saja, senyum itu lenyap dari wajahnya, digantikan oleh wajah yang menunjukkan ekspresi tidak suka. Sebenarnya, Ichigo sendiri tidak tahu kenapa dia malah menyapa wanita itu—dengan kata-kata yang tidak bisa dibilang kata sapaan. Dia bisa saja kabur dari restoran dengan cepat tanpa menoleh sedikit pun. Pasti wanita itu juga tidak akan sadar. Kalaupun sadar, toh dia pasti tidak ingin repot-repot menyapa Ichigo. Tapi melihat wanita itu sendirian di situ, duduk sambil memainkan botol garam...
Kenapa dia juga makan di sini, pikir Ichigo.
Wanita itu mendecak. Botol garam yang dimainkannya tidak menarik lagi untuknya. Dia melipat tangannya di dada sambil melihat ke arah lain.
"Kenapa kau ada di sini?" kata wanita itu ketus. Jenis pertanyaan yang sebenarnya tidak butuh jawaban namun pria itu memutuskan untuk menjawab—dengan nada menyindir.
"Wah, yang kutahu, orang-orang datang kemari untuk makan." Wanita itu menoleh dengan sedikit ekspresi tidak terima.
"Sekarang kau mengatakan seolah-olah aku ini bodoh."
"Kau sendirian?" Ichigo langsung mengutuk dirinya sendiri. Mengapa dia terdengar seakan dia peduli dengan wanita itu? Tapi wanita itu tetap tidak melembut. Nada bicaranya masih seketus detik sebelumnya.
"Ya dan kau, Ichigo? Kau ke sini dengan siapa? Salah satu pasienmu?" Ichigo tertawa. Dia menangkap nada menuduh dari perkataan wanita itu. Tapi ada satu perasaan aneh yang menyusup di hati Ichigo. Perasaan senang, entah karena apa.
"Terdengar seperti kau mencurigaiku. Sepertinya kau ingin sekali tahu kehidupan pribadiku."
"Oh maaf, sepertinya tebakanku salah," ujar wanita itu. "Mungkin sebenarnya kau hanya makan di sini. Setelah kau kenyang, kau akan pergi ke bar, bertemu dengan wanita di sana dan membawanya pulang ke rumah."
Hampir benar, jawab Ichigo dalam hati.
"Jadi jika urusanmu di sini sudah selesai, silakan pergi ke bar yang ingin kau kunjungi. Aku jadi tidak nafsu makan karena melihat wajahmu hari ini."
Ichigo hanya tertawa sumbang menanggapi kata-kata wanita itu. Tawanya berhenti ketika ada seorang pelayan membawa nampan dorong dengan banyak makanan di atasnya.
"Ini pesanan anda. Paket 2, chicken cream soup, café bombón dan banana split with chocolate ice cream. Selamat menikmati, nona." Lalu pelayan itu pergi. Ichigo menatap pesanan yang diantar pelayan itu cukup lama lalu matanya beralih pada wanita yang berusaha melihat ke arah lain.
"Oh ya, tentu saja. Aku bisa lihat kau sedang tidak berselera makan."
"Berisik! Aku sedang lapar. Lagipula, makanan di sini enak!" sanggah wanita itu sambil mulai mengambil sendok dan menelan sesendok nasi. "Dan sepertinya kau juga suka makanan di sini karena enak sekali."
Alis Ichigo berkedut. Sepertinya dia tahu ke mana arah pembicaraan ini akan berujung. Tapi pikiran Ichigo terlalu berlebihan karena wanita itu mengubah topik pembicaraan.
"Ngomong-ngomong, ke mana cincinmu? Kau lepas karena bertemu dengan pasien cantik?" tanya wanita itu dengan gerakan mata mengarah ke jemari Ichigo. Pria itu meraba jari manisnya. Dia tidak merasakan ada tonjolan yang seharusnya berada di sana. Dia ingat dia melepasnya di rumah sakit dan lupa memakainya kembali. Ingin sekali Ichigo berkata 'kau juga tidak memakai cincin kawinmu' tapi diurungkannya setelah melihat cincin yang memiliki ukiran yang sama dengan cincin yang dimiliki Ichigo menghiasi jari manis di tangan kiri wanita itu.
"Kalau iya, memangnya kenapa?"
"Oh bagus, aku bakal punya alasan mengapa aku minta cerai."
Ichigo tertawa kaku. "Seperti aku selingkuh saja."
"Memang iya, kan?"
"Sepertinya kau ingin sekali bercerai."
"Ah, tidak akan terjadi kalau kau minta maaf duluan."
"Jadi semua ini salahku? Bagus sekali!"
"Kau baru sadar? Seharusnya aku memukul kepalamu dengan bambu dari dulu agar kau cepat sadar."
"Wah, Kurosaki-san!" Baik Ichigo dan wanita itu menoleh. Dilihatnya seorang pria berkacamata sedang mendekati mereka. Pria itu tersenyum kikuk. "Lama tidak berjumpa."
"Ishida, kita baru makan semeja tadi," ujar Ichigo bingung. Uryuu menoleh, memandangi rekan kerjanya itu dengan ekspresi merendahkan.
"Maksudku dia, Kurosaki. Bukan kau."
"Apa kabar, Ishida? Masih berteman dengan Ichigo? Tahan betul," cemooh Rukia—wanita itu sambil melirik Ichigo sekilas. Uryuu hanya tertawa kecil.
"Makan malam, Kurosaki-san?"
"Ah ya, aku belum makan sedari siang. Kupikir makan di sini tidak buruk juga. Tak kusangka bisa bertemu dengan Ichigo," ujar Rukia sambil tersenyum manis. Dia kembali memakan pesanannya.
"Sibuk?"
"Ya, tadi ada fashion show. Capek sih, tapi lumayan menyenangkan."
"Sepertinya kau menyukai pekerjaanmu."
"Ya, sama seperti kau, Ishida," jawab Rukia sambil tersenyum.
Uryuu balas tersenyum. "Syukurlah. Akhirnya kau tersenyum, Kurosaki-san."
"Ah, apa aku terlihat menyedihkan sebelum kau ke sini?"
"Terlihat...kesal."
"Hmm, tentu saja," jawab Rukia sambil melirik Ichigo dalam hitungan detik lalu kembali menatap makanannya yang tinggal setengah lagi. "Untung kau langsung datang, Ishida."
"Ya, untung saja," sambung Ichigo. Dia kesal karena merasa jadi pihak bersalah di sini. "Karena kalau tidak, bocah ini akan mengamuk dan memesan lebih banyak makanan lagi." Uryuu menoleh, menatap Ichigo dengan pandangan kesal.
"Haha, kupikir selama ini yang bocah itu kau."
"Kalau begitu, kau salah besar. Karena aku ini orang dewasa yang tidak mudah marah hanya karena masalah sepele."
"Oh ya, tentu saja. Aku mengerti orang dewasa sepertimu yang suka teriak-teriak tidak jelas kalau sedang marah."
Baru saja Ichigo membalas kata-kata Rukia ketika dia mendengar suara rekan-rekan yang makan bersamanya tadi.
"Oh Kurosaki! Merayu ya?"
Ishida dan pasangan Kurosaki itu menoleh bersamaan untuk melihat orang yang sepertinya berbicara pada Ichigo. Beberapa pria berkemeja berjalan menuju arah mereka. Mereka tersenyum penuh arti sambil melirik Rukia yang menatap mereka dengan tatapan bertanya-tanya.
"Kau sedang merayu gadis SMA ya?"
"Tidak, bukan!" jawab Ichigo. Dia menoleh ke arah Rukia yang berdiri sambil tersenyum pada kawan-kawan Ichigo.
"Perkenalkan," ujar Rukia sambil membungkuk. "Kuchiki Rukia, calon mantan istri Kurosaki Ichigo."
Para pria itu membelalak mendengar salam perkenalan dari Rukia. Sementara sang suami hanya bisa melihat semua itu sambil mendesah pasrah.
"Oh ya, aku tahu," ujar salah satu pria. "Kurosaki Rukia, kan? Kau istri Kurosaki."
"Ya, benar."
"Jadi maksudnya, kalian mau bercerai?"
"Tidak, tidak. Selera humornya memang buruk," sambung Ichigo. "Ah sudahlah! Kalian mau pergi kan?"
"Ah benar juga. Kau benar-benar tidak mau ikut ke—ups! Maaf, aku lupa kau punya istri yang cantik." Rukia hanya tersenyum simpul sementara Ichigo melotot, seolah mengancam rekan-rekannya. Akhirnya rekan-rekan Ichigo mengucapkan selamat tinggal lalu keluar dari restoran.
"Kurosaki, kau mau ke mana?" tanya Uryuu ketika dia melihat Ichigo mulai berjalan ke arah di mana rekan-rekannya pergi tadi.
"Tentu saja aku mau pulang. Memangnya kau tidak lelah bekerja seharian?" balas Ichigo. Dia menatap Rukia yang masih menghabiskan makanannya dengan tenang. Lalu pria berambut orange itu berseru, "Makanmu lelet sekali sih! Jangan sok jaga image di depanku!"
Rukia langsung melotot pada Ichigo. "Kalau kau mau pulang, ya pulang saja! Siapa yang mau jaim di depanmu?"
"Salahmu sendiri makan seperti itu! Aaah, sini biar aku yang makan saja!"
"Apa-apaan?! Ini makananku, Ichigo. Jangan—aaaah Ichigo, aku menyisakan itu untuk yang terakhir!"
"Berisik! Sudahlah, makan saja banana split-mu! Lihat, es krimnya sudah mencair," kata Ichigo sambil menunjuk piring banana split dengan isyarat matanya. Rukia menggerutu tidak jelas tapi akhirnya dia memakan banana split yang sudah dipesannya.
Uryuu hanya mendesah melihat kedua temannya itu. Pria berkacamata itu selalu tahu bahwa mereka berdua keras kepala dan tidak ada hari tanpa beradu mulut. Apalagi mereka sama-sama gengsi.
Dasar Kurosaki... Bilang saja kalau dia khawatir meninggalkan istrinya terlalu malam begini.
NNN
Rukia kembali menguap. Sudah setengah cangkir kopi dihabiskannya tapi kantuknya belum hilang juga. Mungkin ini karena dia susah tidur kemarin malam tapi tetap harus bangun pagi.
Rukia masih ingat kejadian kemarin malam. Ichigo benar-benar menghabiskan makanannya. Sebenarnya Rukia sudah kenyang setelah memakan chicken cream soup. Dia hanya lapar mata saat melihat menu-menu yang disajikan Ternyata perutnya tidak dapat lagi menerima makanan dalam jumlah banyak. Makanya dia agak bersyukur ketika Ichigo memakan sisa makanannya. Saat membayar pesanannya, pria itu malah langsung kabur. Tentu saja Rukia langsung marah-marah dan Uryuu yang masih di restoran menemani Rukia sembari menghina Ichigo.
Wanita itu mengembuskan napasnya. Sejam lagi dia harus segera berangkat ke kantor Yoshino. Pekerjaannya memang tidak terlalu berat seperti saat dia sibuk dengan fashion show yang baru selesai kemarin. Tapi bukan berarti dia harus bersantai-santai. Berleha-leha atau kena amukan seorang Soma Yoshino, hanya itu pilihan yang Rukia punya.
Rukia berpikir dia akan menonton acara televisi sebentar saja kalau saja ponselnya tidka berbunyi. Rukia buru-buru mengangkat panggilan teleponnya begitu tahu yang meneleponnya adalah bosnya sendiri. Speak of the devil...
"Kuchiki, kau harus datang kemari! Pria sok cantik itu sepertinya belum bangun sementara aku harus mengerjakan kerjaan yang lainnya. Aku tunggu setengah jam. Terlambat atau kau kupaksa lembur!" Dan hubungan terputus tanpa menyempatkan Rukia berkata sepatah kata pun. Wanita itu menatap ponselnya agak lama, tidak percaya betapa cepat badai yang datang menghancurkan paginya.
"Ugh!" Rukia mendengus kesal dan langsung cepat-cepat ke kamar mandi. Dia mencatat dalam hati, dia akan membantu Soma Yoshino jika bosnya itu akan membantai Yumichika!
.
.
To Be Continued
.
.
.
sebenernya hikari udah kebayang lho, masalah-masalah rumah tangga yang mau hikari liatin di fic ini. tapi nulis sampe ke masalahnya itu sulit juga ya, mana kadang suka bingung mau nulis apa. dengerin musik apa biar mood naik -_- mood saya lagi gloomy sih, sayangnya...
oh ya, sebenernya hikari nulis fic ini gara-gara komentar krisdayanti tentang mantan suaminya, anang di satu acara infotainment. udah lama sih, kalau ga salah waktu acara ultah anak perempuannya (aduh namanya siapa ya? lupa). hikari ketawa beneran lho pas denger komentar kd. dia itu udah pisah sama suaminya tapi berasa kayak perhatian karena dia tau sifat suaminya (itu pendapat hikari aja). dan akhirnya TRING!
kenapa ga buat cerita kyk gitu aja? suami istri yang misah dan terus bertengkar tapi sebenernya masih sayang satu sama lain? (lupa sama pasangan Eri dan Kogoro)
yah udahlah. maaf banget kalau NTAR apdetnya lama lagi. seperti yang hikari bilang, chapter 3 bener-bener mau mulai. dan makasih juga udah baca~
itu tombol review-nya jangan dilupain ya mbak, mas...
