She is My Wife
.
.
Super Junior Ffn..
Warning!
GS, full typo, OOC, ajaib, dan sebagainya.
Mereka adalah milik diri mereka sendiri dan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Fic ini punya saya.
Silahkan dibaca dan jangan lupa review, READERS ^o^
…
Hari ini, langit Seoul tampak cerah sekali. Aku sedang berdiri di halte bus sambil menunggu kedatangan Ryeowook yang sepertinya pagi ini sedang kesiangan. Tak lama kemudian, aku melihat sosoknya yang sedang berlari menuju tempat dimana aku berdiri sambil memasang dasinya.
"Huh.. huh.. Sudah lama ya?"
"Tidak juga. Kau kesiangan?"
"Hehe.. semalam aku sedang melewatkan malam bahagiaku bersama Yesung Noona. Makanya aku bisa bangun kesiangan."
"Kau tidak melakukan hal-hal yang aneh kan?"
"Hanya sedikit. Keke~ Lihat! Busnya sudah datang."
Ryeowook dengan cepat menarik tanganku untuk masuk kedalam bus. Seperti hari-hari sebelumnya, kami pun duduk dibangku yang bersebelahan. Setelah duduk dibus, Ryeowook langsung mengeluarkan ponselnya dan kemudian tersenyum-senyum sendiri.
"Ada apa denganmu?"
"Ah? Tidak apa. ^^"
"Pasti kau sudah berbuat yang tidak-tidak kan dengan Yesung Eonnie?"
Aku mulai menuduhnya lagi, namun dia hanya tersenyum sebagai tanggapannya.
"Jadi aku benar?"
"Kelak.. aku juga akan menikah dengannya. Aku cinta sekali dengannya~ Ah.. dia selalu membuatku melayang. *^_^*"
"Mulai lagi.. garing tahu. -_-"
"Kau irikan padaku. n_n"
"Iri denganmu? -_-a"
"Kau juga sudah punya Kyuhyun. Semalam, kalian melakukan apa berdua?"
"Tidak ada. Sudahlah.. aku tidak mau bahas lagi."
"Yayaya.."
Ryeowook menggoyang-goyangkan kepalanya kekanan dan kekiri seperti bocah lima tahun. Dia kekanakan sekali. -_-
Sepuluh menit kemudian, kami pun sampai didepan gerbang sekolah. Saat baru ingin memasuki gerbang sekolah, Kyuhyun dan teman-temannya termasuk Siwon sedang berdiri diambang pintu gerbang sambil mengecek perlengkapan siswa yang akan masuk kedalam sekolah.
Tugas ini sebenarnya adalah tugas rutin para anggota kedisiplinan setiap paginya, namun baru kali ini aku melihat Kyuhyun ikut turun tangan akan tugas pokoknya itu.
"Huh.. ada Siwon Oppa.*v*"
"Jangan genit. Itu, ada suamimu disitu. +_+ "
Ryeowook menunjuk Kyuhyun dengan gayanya yang mencolok sehingga Kyuhyun bisa tahu kalau kami sedang membicarakannya. Uhh.. Ryeowook, ingin sekali rasanya aku mencakar-cakar wajahmu itu dari kemarin. ^-_-^
"Kemana nametag mu?"
"Oh.. ketinggalan. Maafkan saya."
"Push up, lima puluh kali dan tolong berikan ini pada guru Pembina."
Kejam sekali. U_U Tak ku sangka, Kyuhyun berbuat sekejam itu hanya karna anak laki-laki itu meninggalkan nametag-nya. Ya, memang kesalahan anak itu juga sih. Kyuhyun kan hanya sedang menjalankan kewajibannya.
Entah mengapa, seperti ada dua sisi didalam tubuhku. Yang satu mencela Kyuhyun dan yang satu lagi membela namja itu. Aku bingung dan pusing sekali.
Karna merasa belum ada hubungan formal antara aku dan Kyuhyun, akupun berbaris dibarisan siswa yang akan diperiksa kelengkapannya oleh Siwon Oppa. Kyuhyun hanya memandangku datar lalu kembali menghakimi anak laki-laki lainnya dengan ganas. -_-
"Heh.. kenapa baris disini? Suamimu tatapannya aneh sekali. -_-a"
"Tidak apa. Dia belum sah menjadi suamiku kok."
"Ya, sudahlah. Dasar genit! –o—"
"Biariinn.."
Akhirnya, aku bisa melihat senyum Siwon Oppa yang benar-benar bersinar seperti matahari yang menyinari Seoul pagi ini. Rasanya sejuk sekali, teduh.. tatapan matanya itu seperti sedang memayungiku dari teriknya sinar matahari. Huh.. senangnya.
"Berhenti tersenyum, Pabbo. Kita sudah didepan kelas nih.."
"Oh.. hehe.. aku keasikan sekali. Tadi, dia tersenyum kan. Uhh.. manisnya."
"Jangan tersenyum seperti itu, kau membuatku takut tahu. -_-"
"Ya! Dasar keterlaluan!"
Semuanya pun berakhir dengan aku yang memukuli Ryeowook dengan benda apapun yang berada didekatku. Namja itupun mulai merintih kesakitan.
"Ohh.. Sungmin~ ampun! Aduhh.. sakit. ToT"
"Ya! Aku sudah sangat lama ingin sekali melakukan hal ini padamu. Huhu.. rasakan. ^n_n^"
Aku terus saja memukulinya dengan buku pelajaranku. Ryeowook kembali meringis saat aku menggoyang-goyangkan kepalanya kekanan dan kekiri. Rambut anak ini juga sudah tidak berbentuk lagi.
"Huhu.. ampun! Aku tidak akan mengulanginnya lagi. Aku janji.. Aku janji.."
Aku pun melepaskan seluruh penyiksaanku terhadapannya, Ryeowook menghela nafas lega sambil merapikan kekacauan pada dirinya termasuk baju seragamnya yang keluar dari celananya.
"Huh.. untungnya kau perempuan, kalau tidak.."
"Apa?"
"Ah? Tidak."
Ternyata seluruh anak kelas menatap kearah kami dengan takjub sambil membuka mulut mereka selebar mungkin kemudian menggelengkan kepala agar segera sadar.
"Huh.. Sungmin hebat sekali."
Puji seorang temanku yang lainnya, Jonghyun.
"Terimakasih. Kau mau coba? -_-^"
Ryeowook membalas perkataan Jonghyun dingin. Jonghyun pun menggelengkan kepalanya lalu kembali membaca bukunya dengan takut-takut. Aku dan Ryeowook memang terkesan sangat dekat sekali, maka dari itu aku tidak segan menghajarnya walaupun Donghae Oppa sering marah padaku. Sementara Yesung Eonnie, selalu saja tertawa melihat Ryeowook yang tengah kusiksa. U.u
Aku tidak sengaja memandang kearah pintu kelas yang terbuka cukup lebar dan saat itu juga pandangan mataku bertemu dengan Kyuhyun, lalu namja itu kembali berjalan bersama dengan pengikutnya yang setia. Aku juga melihat Siwon Oppa yang hanya mengendikan bahunya tanpa menatap kearah yang jelas.
"Itu, Kyuhyun kan?"
Aku tidak sadar bertanya dengan suara yang cukup keras.
"Iya. Kyuhyun Sunbae melihat semua aksimu, Min," tegur Yuri sambil tersenyum.
Aku terperangah. Kini dia sudah tahu bahwa aku tidak selugu yang dia kira. Tapi, tidak apalah. Toh, tidak ada hubungannya juga dengannya. -_-o)(o-_-
Kami pun kembali kesuasana tenang saat seorang guru datang untuk mengajari kami bagaimana reaksi kimia bisa terjadi. Yeah.. mungkin hal itu yang akan dibahasnya.
Dua jam dipusingkan oleh Kimia, akhirnya aku dan Ryeowook bisa bersantai diluar kelas sambil menghirup udara segar.
"Dimana Yesung Eonnie?"
"Itu dia~"
"Eonnie!"
"Hai~ kalian sedang apa? Ryeowook bajumu?"
"Iya. Ini ulah Sungmin. -_-"
"Haha.. kalian ini masih saja seperti anak kecil. ^o^ Kalian kan sudah SMA."
"Eonnie~ tapi, Ryeowook duluan yang mencari gara-gara."
Aku memeluk posesif Yesung Eonnie didepan Ryeowook yang tampak kesal sekali. Haha.. rasakan.
"Aku? Ah.. kau selalu saja bermanja-manja dengan pacar orang. Sana pergi. -_-^"
Ryeowook kelihatan murka sekali, aku pun melarikan diri untuk bermain bersama dengan yang lain. Aku masuk kedalam kelas lalu mengajak Yuri dan Yoona untuk mengobrol ringan.
"Hai.. sedang apa?"
"Kau pasti habis diusir Ryeowook karna dia sedang pacaran dengan Yesung Eonnie kan?"
"Huh.. jangan dibahas. Ryeowook itu memang seperti itu. Setelah pulangan ini, aku akan mematahkan semua koleksi spatulanya."
"Huhu.. kau kejam sekali, Min."
Yoona dan Yuri saling terkikik geli setelah mendengar ocehanku yang sebenarnya tidak ada manfaatnya itu. Duo gadis cantik itu kembali membaca tabloid yang memang sengaja mereka beli sebelum masuk sekolah.
"Sungmin.. ada mini dress berwarna pink lho~ cantik sekali."
"Huwaa.. cantiknya. Tapi, aku sudah ada lima yang seperti itu, Yoona."
"Ah.. benar juga."
"Sungmin! Ini jaket yang hanya ada lima di Seoul, lihat cantik sekali. Pinknya sangat lembut. Huwaa.. manis sekali."
Jaket itu bukannya sama dengan jaket yang aku pakai semalam, punyanya Noona Kyuhyun? Noona-nya itu punya jaket semahal itu? huwaa.. hebat!
"Dulu jaket mahal ini pernah diluncurkan sebanyak tiga buah saja, namun berkat banyaknya konsumen yang merasa kecewa, akhirnya jaket keren ini diluncurkan lagi untuk kedua kalinya dalam jumlah sebanyak lima. Tapi, ada perbedaannya. Kalau yang luncuran pertama itu dengan bulu halus berwarna pink shock dihoddienya sedangkan yang sekarang berwarna hitam."
"Yuri~ kau tahu itu?"
"Yah.. saat itu aku melihat seorang Eonnie yang masuk kesekolah ini saat aku mendaftar menjadi siswa. Dia cantik sekali dengan rambut panjangnya yang diikat. Eonnie itu kelihatan modis sekali saat mengenakan jaket keren ini. Huwaa.. kabarnya dia adalah kakak kandung Cho Kyuhyun Sunbae."
"Adiknya Siwon Oppa juga punya. Berarti yang satu lagi siapa yaa?"
Yoona menambahkan komentarnya dengan wajah senang kemudian berpikir keras agar ia tahu siapa yeoja beruntung yang memiliki jaket modis ini.
"Sepertinya aku pernah lihat anak perempuan disini yang memakainya.."
"Ah.. Heechul Eonnie!"
"Ah.. Si sangar!"
Yuri dengan frontal mengucapkan ejekannya pada Heechul Eonnie, Sunbae kami yang paling kejam. Sebenarnya dia tidak kejam saat kita baik-baik saja, tapi yaa itu.. agak gimana gitu. Sombong iya, pemarah sedikit, yaa.. gitu deh. Ngeselin pokoknya.
Tanpa disadari, aku mulai mengoceh tidak jelas dalam batin. Huhu.. mulai gila. -_-+ Maaf, Heechul Eonnie, maaf.. aku tidak bermaksud m-_-m
Setelah itu, kami pun kembali ketempat duduk kami masing-masing saat guru jam pelajaran selanjutnya memasuki kelas. Ryeowook duduk dengan tenang disampingku yang hanya sedang memandangi lapangan bola yang berada dekat dengan kelasku.
Kelasku berada dilantai dua dan aku bisa melihat dengan jelas, kelasnya Siwon Oppa termasuk Kyuhyun yang sedang berolah raga. Saat ini, mereka sedang bermain bola dan Kyuhyun menjadi penjaga gawang. Wajahnya tampak semangat sekali sambil meneriaki semua temannya untuk berpencar dan menyerang tim lawan.
Aku memerhatikan mereka dengan serius hingga aku lupa dengan pelajaran sejarah yang selalu saja sukses membuatku mengantuk. Pandanganku juga tidak hanya memandangi Siwon Oppa yang sedang lari sana lari sini. Aku juga bisa melihat Kyuhyun yang sedari tadi menahan bola agar tidak masuk kedalam gawangnya dengan gaya yang menakjubkan.
'Dugh..
"Huwwaaaa…"
Aku berteriak histeris saat tendangan bola Kyuhyun mengenai kepala salah satu tim lawannya. Anak laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya yang terasa pusing. Kyuhyun menghampirinya lalu…
"Sungmin! Apa yang kau lakukan?"
"Eng? Seonsaengnim. Ah.. i-itu.."
"Kau tidak memerhatikan apa yang sedang aku jelaskan yaa?"
"Ah.. itu."
"Pergi keluar dan beri hormat pada bendera hingga pelajaranku berakhir."
Sial! -_-^ Padahal jam pelajaran Si botak mengerikan ini masih ada 45 menit lagi, itu artinya aku akan bergaya konyol selama 45 menit. Aku pun segera keluar bersamaan dengan Ryeowook yang tiba-tiba saja meminta ijin ke toilet.
"Huhh.. kau ini kenapa malah mencari gara-gara dengannya. Sebenarnya apa yang kau pikirkan tadi?"
"Aku sedang melihat kelas Siwon Oppa yang sedang bermain bola dilapangan."
"Apa karna Siwon menendang bola dan masuk ke gawang makanya kau berteriak sekeras itu?"
"Bukan. Kyuhyun tidak sengaja menendang bolanya dan mengenai kepala tim lawannya hingga jatuh terduduk."
"Kyuhyun.. jadi karna itu?"
"Ya. Agak mengerikan sih."
"Huhu.. cepat sana beri hormat pada bendera. Aku mau ke toilet dulu."
"Ryeowook!"
Laki-laki tidak setia kawan itu langsung berlari menuju toilet dan mengabaikan teriakanku. Aku pun berjalan dengan lemas menuju tiang bendera dan berdiri saja tanpa melakukan apapun. Saat bel tanda pergantian pelajaran, aku pun langsung memberi hormat pada bendera agar Si botak itu tidak marah-marah lagi.
"Kau.."
Kyuhyun berdiri dibelakangku sambil memeluk bola yang tadi dimainkannya. Poni dan wajahnya masih basah karna keringat. Aku memandangnya dengan mulut menganga lebar lalu entah segaja atau tidak.. Kyuhyun melap wajahnya dengan punggung tangannya. Uhh.. sexy man!
Tanpa sadar aku menurunkan tanganku yang semula memberi hormat pada bendera.
"Kau kenapa?"
"A-aku dihukum."
"Oh."
Kyuhyun menggigit bibir bawahnya lalu menendang bolanya kearah Siwon Oppa yang langsung menangkapnya dan membawanya pergi menuju kelas mereka.
"Lee Sungmin! Uh.. bukannya memberi hormat pada bendera, kau malahan asik pacaran dengan Kyuhyun? Kau ini!"
"Saya tidak melakukan apa-apa dengannya. Maaf Pak, saya pergi dulu."
"Isshh, Sungmin! Cepat kelilingi lapangan sebanyak 5 kali! Ayo, cepat!"
"Kyuhyun! Tunggu."
"Ada apa Pak?"
"Ini. Tolong hitung larinya Sungmin. Setelah itu lepaskan dia."
"Baik, pak."
Kyuhyun berlari kearahku lalu mulai menyuruhku untuk menjalankan hukuman yang melelahkan itu.
"Kyu.. tidak usahlah~ toh, bapak-nya juga tidak melihat."
"Tapi ini perintah. Lakukan saja."
Dengan terpaksa aku mengelilingi lapangan sampai tertatih-tatih, kemudian Ryeowook bersama Yuri dan Yoona memberiku semangat sambil berjoget gila. -_-a
"Ayo Sungmin! Sungmin pasti bisa. Ayo Sungmin! Kau pasti bisa. Yyyyeeee…"
Lihat bertapa anehnya mereka, tapi tidak apalah. Dengan begini, aku tahu bahwa mereka tulus mau berteman denganku. Kyuhyun yang mendengar ocehan ketiganya hanya sanggup memengangi keningnya yang berkedut.
"Uhh.. Hosh.. hosh.."
"Ayo lanjut~ baru juga tiga putaran. ^o^!"
Untuk pertama kalinya, aku melihat Kyuhyun yang sedang tertawa nista. -_-
"Huhuhu.. tidak kuat."
"Aku tidak mau kena hukuman karna kau tidak menyelesaikan hukumanmu. -_-^"
Kyuhyun bersunggut datar sembari mengusap pergelangan tangannya yang tergores luka yang cukup panjang dan banyak.
"Itu, kenapa?"
"Eung? Tadi tergores tanah. Ya sudah, aku mau ganti baju dulu. Jangan lupa dilanjutkan larinya."
Aku tidak mendengar perkataannya lagi saat melihat Kyuhyun yang melenggang pergi sambil memegangi tangannya. Sepertinya sakit, mengingat banyaknya goresan ditangan kirinya itu. Perlahan, Kyuhyun menghilang dibalik tembok dan tanpa sadar aku terus saja memerhatikannya.
"Oi! Sedang apa?"
"Wook, tangannya Kyuhyun tergores."
"Lalu?"
"Ya, itu sakit ya?"
"Kau tidak lihat tubuhku masih mulus? Aku mana tahu kalau itu sakit atau tidak. -_-!"
"-_- Tidak berguna."
Aku melangkah kesal meninggalkan Ryeowook menuju kantin. Dahagaku sudah sampai ke tenggorokan. Lari mengitari lapangan bola ini membuatku ingin pingsan, untungnya anemiaku tidak kambuh. -_-
Sebuah kaleng coke berhasil menarik perhatianku saat diperjalanan menuju rumah. Kesal akan tindakan Kyuhyun saat aku dihukum oleh Si kepala botak dilapangan sekolah tadi membuatku ingin menendang kaleng coke ini sejauh-jauhnya sebagai pelampiasan, namun akhirnya urung kulakukan karna mengingat kaleng coke yang dulu pernah aku tendang dan mengenai kepala Kyuhyun yang langsung marah padaku. -_-a
Bagaimana kalau sampai aku melakukannya lagi dan ternyata orang itu lebih galak dari Kyuhyun? Uhh.. mengerikan. Cukup Kyuhyun yang menyeramkan dengan kilatan matanya yang tajam seolah seperti pisau yang siap menancap dijantung seseorang yang menganggunya. -_-v
Huh..
Pulangan hari ini terasa berat sekali karna aku harus berjalan kaki tanpa ada Ryeowook yang menemani. Sekarang, namja itu sedang asik kencan dengan Yesung Eonnie. Teringat akan perkataan Donghae Oppa, aku jadi tidak tega merusuh saat mereka sedang kencan disiang bolong begini. -_-a
"Sungmin-ah~"
"Jae Oppa!"
"Hai~ lama tidak jumpa. Mau kemana?"
"Pulang kerumah."
"Mau temani aku makan siang?"
"Oppa~ Inikan sudah lewat jam makan siang 2 jam. Oppa, telat makan?"
"Ya. Pekerjaan dikantor membuatku gila. Padahal aku baru masuk satu minggu. ^-^"
Namja berkulit putih mulus ini tersenyum sambil menyibakan anak poni yang menutupi keningnya.
"Kau mau kan?"
"Tentu!"
"Ayo naik!"
"Berangkaaaattt…"
Kami bersorak riang sembari meninggalkan halte bus dengan mengendarai sebuah motor matic. Brand motor ini cukup terkenal di Thailand, rasanya senang sekali bisa mencicipi naik motor keren ini di Seoul bersama Jaejoong Oppa. ^^
Jaejoong Oppa adalah sepupuku yang sudah berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai arsitektur bangunan megah yang ada di Seoul seperti apa yang dicita-citakannya dulu.
"Kau mau makan dimana?"
"Eung.. dimana saja. Terserah Oppa."
"Kalau begitu dikedai Han saja, bagaimana?"
"Ah! Ide bagus!"
Motor yang kami naiki ini pun segera melunjur kejalanan yang akan membawa kami sampai disebuah kedai cantik dipinggir kota.
Wangi makanan mulai tercium, wanginya sedap sekali. ^o^ Jaejoong Oppa segera menyeret tanganku masuk kedalam kedai dan memesan beberapa jenis makanan. Saat makanan datang, Oppa tampak sibuk dengan semangkuk sup odeng panas.
Asap supnya masih mengepul, memberikan wewangian yang menggugah selera. Wajah Jaejoong Oppa berbinar saat ingin segera mengecap rasa dari makanan tradisional khas Korea itu.
"Oi! Bagaiman kabar Donghae?"
"Dia baik."
"Dia masih kuliah yaa?"
"Ya begitulah. Tapi, gaya Oppa masih saja sama seperti sebelumnya, masih pecicilan.-_-^"
"Hahaha.. Donghae itukan namja yang periang. Terkadang aku iri dengan senyumannya. Dia juga sering mengelabuiku dulu dengan senyum riangnya itu."
"Yahh.. Oppa memang over smile. Aku hampir gila saat dia marah sambil tertawa.-_- Sebenarnya dia sakit atau tidak yaa?"
"Hahaha.. kau ini, bisa saja~"
Dua jam kami menghabiskan makanan sambil tertawa bersama, akhirnya kami memutuskan untuk segera pulang. Jaejoong Oppa mengantarkanku sampai kedepan rumah.
"Oppa, mau masuk?"
"Tidak perlu. Mobil Donghae juga tidak ada."
"Eung.. sepertinya Donghae Oppa sedang ada jam kuliah."
"Kalau begitu aku pamit. Salam untuk semuanya."
"Ne~ Hati-hati. ^o^/"
"Ok. Boss! ^_^b"
Baru akan masuk kedalam rumah, seseorang dari belakangku lari dengan terburu-buru sambil memanggil namaku. Aku hapal suara ini diluar kepala. Ini suara, Kim Ryeowook.
"Huhuhu.. kau tadi sama siapa?"
"Itu, Jae Oppa."
"Eung.. Jae Hyung? Lama sekali tidak melihatnya. Bagaimana kabarnya?"
"Baik."
Ryeowook ikut denganku masuk kedalam rumah. Sudah biasa Ryeowook berlalu lalang dirumahku, sehingga Eomma tampak biasa saja saat melihat kehadiran Ryeowook.
"Ryeowook~ apa ada resep masakan baru?"
"Ada, Ahjumma. Kali ini masakan Italia. Mau mencoba?"
"Ah.. pasta ya? Ahjumma tidak terlalu suka dengan pasta selain ramyun."
"Oh, nanti akan aku carikan lagi."
"Ne. Gomawo Wookie-ah~"
"Ne..ne.. ne.. Ahjumma. ^o^"
Aku memandang kesal pada wajah berseri Ryeowook yang sudah hampir menyamai spatula. -_- Kenapa juga dia tidak mengambil sekolah kejuruan boga? Kalau saja iya.. aku tidak akan mau berteman dengannya. -_- Yang ada nanti aku menjadi kelinci percobaannya untuk menyantap makanannya. m-_-m
"Kau kenapa ikut kemari sih?"
"Huh.. aku sedang bosan berada dirumah sendirian."
"Kenapa juga kau pulang cepat?"
"Yesung Noona harus berkerja part time di café orang tuanya."
"Oh."
Saat melihat tempat tidur, aku langsung berhambur menindihnya. Ryeowook pun juga ikut melakukan hal yang sama. Hari ini kami tidur bersama hingga malam datang dan Donghae Oppa membangunkan kami.
"Oi! Aduh.. pulas sekali sih. Cepat bangun! Sudah malam tahu~"
Donghae Oppa menghentak-hentakan kakinya diatas tempat tidurku sehingga membuat aku dan Ryeowook terpaksa bangun karna kepala kami pusing setelah terguncang-guncang hebat akibat ulah Donghae Oppa yang membangunkan kami dengan cara yang kekanakan. -_-a
"Ennngg.. Hyung~"
"Wook! Liur mu. -_-a"
"Ups.. maaf. Hehe. ^_^a"
"Huh, ada apa Oppa? Aku masih mengantuk nih~"
"Kenapa kalian tidur bersama? Bagaimana kalau pacar kalian tahu?"
"Tidak akan marah~"
Aku dan Ryeowook menjawab bersamaan dengan mata yang sayu. Oppa mendudukan kami dengan paksa.
"Wook, Min.. mandi sana. Makan malam sudah siap."
"Baiklah~"
Ryeowook langsung menuju kamar Oppa untuk mandi dan meminjam pakaiannya sedangkan aku mandi dikamarku sendiri. Setelah selesai, kami pun pergi bersama menuju ruang makan.
"Kemana Eomma dan Appa?"
"Bibi Heenim sedang sakit, makanya mereka pergi menjenguk sejak tadi sore."
"Oh.. Bibi Heenim sakit apa memangnya?"
"Suaranya mungkin. -_- Mengingat bibi yang satu itu sukanya berteriak pada anaknya. Apa Minho dan Sulli tidak tuli yaa?"
"Hahaha.. Minho sering sekali mengusap telinganya sambil berjalan menuju sekolah. Kalau Sulli, dia lebih sering terlihat memegangi bokongnya. Malang sekali.. hahaha."
"Bibi Heenim memang sedikit agak keterlaluan kalau dia sedang naik darah. Haha~"
Kami bertiga pun mulai makan malam sambil membicarakan nasib Minho dan Sulli, Si kembar yang memiliki Ibu yang super cerewet. Ngomong-ngomong, Minho kan anak buahnya Kyuhyun. Tiba-tiba saja, aku teringat dengan namja mengesalkan itu. -_-
….
"Ish.. aku tidak mau. Kau saja Won Hyung yang mengurusi mereka. Aku mau ke kelas saja."
Kyuhyun beranjak dari gerbang sekolah menuju kelasnya dengan tampang kesal. Dia yang sedari tadi ditarik oleh para Hyung-nya untuk memeriksa perlengkapan siswa malah sibuk mengomel dan pergi begitu saja.
Kyuhyun sempat menatapku yang berdiri kaku bersama Ryeowook. Dia berhenti sejenak lalu memerhatikan ku dari atas hingga kebawah.
"Panjangkan sedikit rokmu."
Suara dinginnya menghalau pendengaranku. Ryeowook juga ikut membatu. Kyuhyun kembali berjalan menuju kelasnya tanpa menolehkan kepalanya kebelakanga walaupun Siwon meneriaki namanya.
"Apa katanya? Panjangkan? Bukankah rokmu hanya dua cm dari lutut?"
"Sudahlah Wook. Dia bebas mengatakan apapun."
Ryeowook hanya berdehemria lalu kembali berjalan menuju kelas. Saat itu, indera pendengaranku mendengar suara Siwon Oppa yang cukup keras.
"Ahh.. Kyuhyun itu kenapa sih? Kalian ada menganggu mood anak itu?"
"Tidak, dia bahkan baru menginjakan kakinya disini."
Jung Ilwoo, komplotan Kyuhyun segera melanjutkan tugas Kyuhyun untuk mengecek kelengkapan para siswa.
"Iya, juga sih. Setiap hari begini, membuang waktu."
Aku tidak sengaja mendengar gumaman Siwon Oppa yang langsung menarik Ilwoo Oppa, dan Minho menjauhi pintu gerbang.
"Kali ini kita sudahi saja. Sepertinya ini bukan ide yang bagus."
"Aku setuju!"
Wajah Minho berseri sambil menganggukan kepalanya bahagia. Aku jadi kasihan melihat wajah Minho yang seperti budak yang baru terlepas dari ikatan pekerjaan yang melelahkan. T_Tv
"Hyung.. aku kan sudah bilang dari awal. Ini tidak berguna. Lihat saja Kyuhyun, dia saja sampai meninggalkan tugasnya karna merasa ini memang tidak ada gunanya."
"Huhu,yeah~ that's right. Kita tidak terlalu terlambat."
Ilwoo Oppa tersenyum senang, kelewat bahagia malah. Sebenarnya siapa sih yang membuat perjanjian seperti ini? Mengurusi ratusan murid setiap harinya, siapa juga yang akan tahan.. terlalu sulit.
….
Ryeowook menggoyang-goyangkan bokongnya dengan gelisah sambil terus mencibir kearah guru yang sedang menjelaskan berbagai rumus ajaib Fisika. Ryeowook sudah tidak tahan lagi dengan rasa sembelit yang ada diperutnya. Seakan-akan ingin meledak sekarang juga, keringat dingin mulai mengucur membasahi wajah dan seragamnya.
"Sial! Sakit.. Kapan sih guru sok cantik ini keluar? Aku sudah tidak tahan lagi. Ingin meledak rasanya. ToT"
"Hmmpphh.. Hmmpphhh…"
Aku terpaksa menahan tawa geli saat mendengar ocehan frustasi yang keluar dari mulut Ryeowook yang masih saja sibuk berkomat kamit.
"Sialan! Sakiitt…"
Ryeowook mencengkram lengan bajuku hingga terlihat sangat kusut. Kedua mataku membulat sempurna.
"Ya! Apa yang kau lakukan bodoh?"
"Aduhh.. perutku sakit. ToT"
"Wook, ijin saja ketoilet."
"Kau mau beritaku menyebar mati disini karna hantaman spidol dari guru bringas ini? Tidak Min.. -_-^"
"Arwahmu akan merasa lebih malu saat tahu kau mati karna menahan buang air. -_- Gila kau~"
"Min.. Uhh… ahh.."
"Ibu Guru~"
"Sungmin!" Jerit Ryeowook tidak terima.
Guru itu mendekatiku sambil membawa penggaris dan buku yang dipakainya untuk menerangkan materi Fisika. Dia tersenyum sekilas lalu kembali memasang wajah geram saat melihat wajah Ryeowook yang mengeram takut. Sebenarnya Ryeowook tidak takut, tapi perutnya terasa sangat sakit sekali sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa selain meringis.
"Ada apa, hmm?"
"Kim Ryeowook.."
"Ada apa denganmu, Ryeowook?"
"Sa-saya ingin ijin ke-ketoilet, bu."
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Cepat sana.."
"Huh.."
Ryeowook menghela nafas lega, padahal sebelumnya raut wajah itu seakan meringis saat menatap wajah guru yang sangat garang seakan ingin memakan Ryeowook bulat-bulat.
"Untuk kali ini.. terimakasih."
'Zeeppp…
Ryeowook menghilang dari pandanganku, secepat kilat pemuda itu berlari kearah toilet yang berada dilantai dasar gedung sekolah kami.
Huhu.. dari atas sini, aku bisa melihat dengan jelas raut wajah panik Ryeowook yang berlari sambil memegangi perutnya melewati koridor kelas.
"Hari ini, saya rasa cukup dan minggu depan akan ada kuis untuk mengasah kemampuan kalian."
"Ah~"
Aku ikut mendesah kecewa saat mendengar akan diadakannya kuis untuk mengasah kemampuan kami. Mengerti saja tidak, apa yang mau diasah? Aku memang tidak tahu apa-apa tentang Fisika. Rasanya otakku sudah buntu sekali untuk mengingat ratusan rumusnya yang membosankan. T_T
Ohh.. Tuhan, maafkan aku karna membenci Fisika. ToT
Lima belas menit kemudian, Ryeowook kembali dari toilet dengan wajah yang setengah basah karna air. Ryeowook pasti sengaja mencuci wajahnya yang tadi dipenuhi keringat. Ryeowook segera berjalan dan duduk disampingku.
"Kemana perginya Si beringas itu?"
"Ke ruang guru mungkin. Kita akan ada kuis minggu depan. Bersiap dapat nol besar!"
"Ahh.. aku sudah bosan mengumpulkan kertas bertuliskan nol besar dimana-mana. -_-^ Dasar guru payah~ Seharusnya dia prihatin, kenapa muridnya sampai ada yang mendapat nilai memalukan begitu. Bukannya malah tertawa nista. -_-T"
Aku hanya dapat tersenyum tipis mendengar omelan Ryeowook yang ada benarnya juga. Terkadang tidak hanya murid yang salah, tapi cara mengajar guru itu juga harus dapat mempermudah murid untuk menangkap semua yang ia jelaskan. Setidaknya 30% dari apa yang dia ajarkan.
"Ayo pulang.. hari ini temani aku minum yaa.."
"Minum? O.O"
"Ah.. latte bodoh. Bukan minum yang itu."
"Kau yang bodoh!"
"Huhuhu.. sudahlah."
Kami pun berjalan beriringan menyusuri koridor kelas dan pada saat langkah kami terhenti dipintu gerbang, aku melihat Kyuhyun yang sedang mendorong lengan anak perempuan yang mencoba menutupi jalannya untuk pulang.
Kyuhyun sedang berdiri diparkiran sepeda dengan wajah kusut. Beberapa kali namja itu menahan amarahnya dan menggosok-gosokan tengkuknya dengan kasar. Tatapan matanya berubah tajam.
"Mau lihat?"
"Ah.."
Aku dan Ryeowook berjalan mendekat dan tanpa sepengetahuan Kyuhyun, kami berdua mengintipnya dibalik pohon mahoni besar yang melindungi ratusan sepeda agar tidak terkena paparan sinar matahari langsung.
"Aku bilang minggir.."
"Tidak! Kau harus mendengar perkataanku dulu, Kyu."
Yeoja itu memelas manja sambil memegangi lengan Kyuhyun.
"Ishh.."
Kyuhyun meringis saat yeoja itu tidak sengaja menambah goresan dilengannya yang sudah terluka dengan kukunya yang panjang.
"Menyingkir atau kau ku pukul?"
Kyuhyun menatap yeoja itu geram, seakan-akan putih matanya sudah tidak tampak lagi. Kyuhyun mengeram sambil mencengkram stir sepedanya dengan kuat.
"Kyu.. kumohon. Untuk kali ini saja.."
"Ah, jangan sentuh aku. Sialan!"
Kyuhyun memang tidak memukul yeoja ini, tapi yeoja ini pasti merasakan nyeri didadanya akibat perkataan dingin Kyuhyun. -_T
"Baiklah.. tapi, dengarkan aku."
"Kau punya waktu lima detik.."
"Kyu~"
"Empat detik.."
"Ah, baik. Kyu, aku.. aku menyukaimu. Kau mau kan jadi pacarku? Aku tahu ini memalukan. Tapi, aku mencintaimu. Sangat. Maka dari itu, terimalah aku, Kyu. Aku akan melakukan apa pun yang kau mau. Aku janji. APAPUN.."
Yeoja itu menekan dengan jelas kata terakhirnya. Wajah Kyuhyun tidak terlihat terkejut, hanya ada raut datar dan tampak bersenandung bosan disana. Kemudian, Kyuhyun menyerigai.
"Kalau begitu.. pergi dariku sekarang. Pergi yang jauh dan jangan tampakan wajahmu didapanku."
Kyuhyun menarik paksa sepedanya lalu segera menaikinya. Yeoja itu kembali menahan seragam bagian belakang Kyuhyun sambil merintih dan menangis.
"Aku tahu.. aku tahu kau menginginkan itu. Tapi, tolong beri aku kesempatan. Aku akan mati tanpamu."
Kyuhyun turun dari sepedanya. Aku kira, dia luluh juga dengan ucapan gadis itu. Namun tidak disangka, Kyuhyun malah meludah kesembarang arah.
"Cih.. lupakan aku. Aku sudah punya istri."
"Tidak mungkin, Kyu."
"Kenapa? Kau pikir tidak ada gadis lain yang menyukaiku selain kau? Cih.."
"Kyu.. aku tidak akan menyerah."
"Kalau kau menyentuhku sekali saja, jarimu akan patah satu persatu. Minggir!"
Kali ini, Kyuhyun benar-benar pergi meninggalkan gadis malang itu. Gadis itu menangis sambil menghentak-hentakan kakinya dengan raut wajah kesal sekaligus pasrah. Sepertinya ancaman Kyuhyun barusan adalah sebuah ancaman yang akan terjadi apabila ia tetap berisi keras merayu namja dingin itu.
"Sial! Tidak mungkin, aku bisa mendapatkannya kalau sudah seperti ini."
"Ahh… anak itu. Kenapa sulit sekali mendapatkan hatinya? Siapa yaa? Siapa yeoja yang berhasil meluluhkan hati bekunya itu? Bahkan dinginnya es dikutub tidak sedingin hati dan wajahnya. Ahh.. Eomma~! Aku menyerah. TT_TT"
Yeoja itu pergi dan masuk kedalam mobil sedan berwarna hitam metalik yang sedari tadi menunggunya diparkiran mobil.
"Itu, itu suamimu yaa? Kejam."
Ryeowook bungkam setelah melihat raut wajahku yang seakan ingin bertanya banyak tentang Kyuhyun.
"Tidak. Kyuhyun sekejam itu? Memangnya, Kyuhyun itu orang yang seperti apa?"
Tanpa sadar aku mengoceh sendiri dan meninggalkan Ryeowook yang masih membatu dibawah pohon.
"Sungmin! Lee Sungmin! Bantu aku. Ada seseorang yang menarikku! Sungmin.."
"Eung?"
Aku berbalik arah dan mendapati wajah pucat Ryeowook yang tidak bisa pergi menjauh dari bawah pohon mahoni.
"Ada apa?"
Suaraku terdengar bergetar. Aku takut sekali, kalau-kalau ada seseorang atau bahkan bukan orang yang akan menyakiti kami berdua karna telah lancang mengintip dan bersembunyi dibawah pohon mahoni yang besar ini.
"Wook?"
"Min, ada yang menahanku. Aku tidak bisa lepas. T_T"
"Wook. O.O"
Aku mendekatinya, namun aku tidak melihat satu sosok pun yang berusaha menahan pergerakannya. Dengan berani, aku menatap kebagian belakang tubuh Ryeowook. Jantungku berdebar dengan kuat, sampai-sampai mataku tertutup rapat.
"Sungmin, siapa yang ada dibelakang ku?"
Mendengar suara jeritan Ryeowook membuatku memberanikan diri untuk membuka mata secara perlahan. Ternyata ini.. ternyata ini yang menahan Ryeowook! Dasar!
"Huh, kau ini! Lihat! Baju seragam-mu menyangkut didahan pohon, bodoh. Sialan kau. -_-^"
"Eung?"
"Lihat, hanya dahan pohon. Seragam-mu menyangkut."
"Oalah~ aku sudah takut sekali tadi."
"Kau benar-benar, Kim Ryeowook. -_-"
Aku segera meninggalkan namja kelewat parno ini begitu saja, Ryeowook berlari kecil untuk menyamai langkah cepat kakiku.
"Oi! Santai dong jalannya. Kenapa sih, sensi banget? Hmm.. hmm?"
"Wook!"
"Apa?-_-"
"Matamu itu mau aku colok yaa? Minggir!"
"Uh.. kejam seperti suaminya. Ayo pergi beli ice cream. Aku traktir~"
"Jeongmal? O.O"
"Huh.. iya."
"Ayo~~"
Ini kesempatan yang sangat bagus. Ryeowook memang paling tahu bagaimana cara mengubah moodku dengan baik. Aku bersyukur akan hal itu, sehingga aku tidak perlu bersusah payah untuk mengatakan apa keinginanku.
"Dua Ice cream vanilla dan strawberry ukuran medium."
"Ini.."
"Gomawo, Wook-ah~"
"Henn.."
Ryeowook tampak kesal melihat raut wajahku yang tersenyum karna ada maunya itu. Ryeowook berjalan pelan menuju bangku taman, lalu duduk disisinya dengan tenang.
"Yesung Eonnie kemana? Seharian ini, aku tidak ada melihatnya disekolah."
"Dia sedang ada di Gyeong-gi. Kakek-nya sedang sakit. Huh.. Yesung Noona menangis kemarin saat kami berkencan. Sepertinya dia tidak betul-betul pergi ke café ayah-nya kemarin."
"Tidak apa. Yang terpenting, kau harus selalu berada disampingnya dan hibur dia dengan rayuan garingmu itu."
"Kau!"
"Hahaha.."
Sore ini, kami habiskan dengan bercanda bersama ditaman kota. Betapa tidak sadarnya kami, saat matahari mulai tenggelam secara perlahan. Kami kembali tertawa terbahak saat Ryeowook kembali menceritakan sembelit parahnya tadi siang.
"Sungmin, itu Kyuhyun!"
"Mana?"
"Itu. Siapa yeoja itu?"
"Euh? O.O"
Tbc..
Review.. review.. silahkan.
Hoho.. ada yang bingung? Atau ada yang pengen ditanyain?
Mungkin ceritanya belum kebaca dengan jelas di Chap ini mengenai hubungan Kyuhyun dan Sungmin atau perasaan mereka masing-masing. Mungkin di Chap depan sudah ada kemajuan. Jadi harap bersabar~
Silahkan Review readerdeul~~
Deep Kiss for Readerdeul, See you.
805 Rae Hee
