A Ferret In Love

Author: eccentric indeed

Translate: dei-enjel

Summary:

"Aku tidak mencintai Granger. Aku hanya memiliki ini. perasaan yang jelas-jelas lucu ketika aku ada disekitarnya. Dan itu bukan cinta! Cinta itu unicorn, pelangi dan panda besar yang mengemong.", "Gila! Kau tidak pernah gagal membuatku takjub." Menjadi seorang ferret yang jatuh cinta itu sulit. Dasar Granger.


Disclaimer: Harry Potter always belongs to J.K Rowling

A Ferret in Love eccentric indeed

A/N: Wuahhh... Menerjemahkan itu bener-bener sulit. :D Tapi rasanya semangat karena lumayan banyak pembaca yang ngeliat fic ini, walaupun yang review sedikit :D

Author aslinya juga pasti seneng ada yang baca fic ini dengan bahasa yang berbeda. Jika ada temen-temen yang pengen baca aslinya aku sangat senang sekali. :D Terima kasih untuk para pembaca dan pe-review :D

Oke ini chapter kedua udah muncul. Aku harap kalian suka dengan terjemahan kali ini. Terima kasih.

Happy reading!


Chapter 2: Getting Soaked

Draco's POV

Well ini canggung.

Disini, aku hanya satu-satunya yang mengagumkan di Sabtu pagi, duduk di sofa favoritku di Asrama Ketua Murid, membaca buku dan mencoba bersikap tak acuh saat Weasel terus memberiku tatapan membunuh.

Apa yang membuat Granger begitu lama?

Aku meneguk jus labuku dan dengan pelan melirik si rambut merah. Yup, dia masih memberiku tatapan jahat. Kenapa dia melihatku seperti itu? Apa yang telah kulakukan padanya? Aku meletakkan jus labuku dan menurunkan bukuku untuk menatapnya.

Aku pikir dia sedang mencoba memenggal kepalaku dengan matanya. Mengangkat bahu, Aku balas menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi. Keheningan yang tidak menyenangkan itu mengerikan dan hanya suara dari api yang berderak dan langkah kaki Hermione yang dapat didengar.

Rasanya seperti kontes menatap. Aku menatapnya kosong dan dia menatapku dengan marah. Ini terlihat seperti kami menunggu dengan cemas siapa yang akan pertama kali berkedip. Aku dapat melihat ia duduk kaku di sofa di seberang sofaku, matanya tidak tertuju pada apapun kecuali aku.

Aku menyeringai dalam hati; kau akan kalah Weasel.

Mengambil nafas dalam-dalam, aku mulai berbisik 'Weasel pergi Pop.' Aku selalu mendengar bisikan Granger selama di shower setiap hari, dan aku hanya terjebak dalam pikiranku. Lebih baik memanfaatkannya dengan baik.

Aku dapat melihat wajah Weasel menjadi merah. "… WEASEL PERGI POP!"

Aku tersenyum penuh kemenangan saat ia mengeluarkan tongkatnya.

"Oh." Kami berdua berpaling, melihat Granger yang berdiri dekat tangga. Weasel meletakkan kembali tongkatnya dan menatapku dan aku hanya melihat kearahnya polos.

Granger mendekati kami dengan hati-hati seolah ia sedang mengganggu sesuatu. Sebenarnya, ya kau mengganggu Granger. Tapi tak masalah. "Aku lihat kau sudah mulai membaca." Dia bertanya padaku sambil menunjuk buku di tanganku.

Aku mengangguk. "Err, yeah. Ini bacaan yang menarik." Aku berpikir untuk tidak memperhatikan Weasel yang memandang Granger terkejut.

"Aku tidak tau ferret tertarik pada mantra." Granger menyatakan, pandangan tertarik terlihat di mata coklatnya yang indah.

"Well, Granger. Kau tidak tau banyak tentang ferret. Kau sebaiknya mencari tau tentang mereka lebih baik." Aku menyeringai. Dia memutar matanya dan akan mengatakan sesuatu ketika Redhead berdehem keras.

Granger tersipu dan menghadapi wajah kesal Weasel. "Apakah kita akan pergi atau tidak, Hermione?"

"Maaf Ron, erm, Aku lupa kau ada disana." Dia meminta maaf. Ron menggenggam tangannya dan pergi keluar lubang lukisan dengan marah, melampariku satu tatapan terakhir yang penuh kebencian.

Aku tertawa keras saat melihat ekspresi kesal Weasel. Itu tak ternilai.

"Well, well. Seseorang sedang dalam mood yang baik." Blaise berkata, memasuki asrama dan melihatku tertawa. Aku mengatakan padanya apa yang terjadi dan bergabung denganku dalam tawa.

"Oh, Aku harap aku bisa melihatnya!" Dia terkekeh. Aku berdiri, mencengkram kerah bajunya dan menyeretnya keluar dari Asrama Ketua Murid.

"Ayo Blaise, ini waktunya untuk pergi mengacaukan kencan Granger dan Weaselbee."


"'Chudley Cannons sangat mengagumkan Hermione, apakah kau setuju denganku?', 'Oh, aku setuju Ronald.' ." Draco meniru, memelototi pasangan yang tertawa beberapa meja jauhnya dari mereka. "Gaah! Memuakkan." Dia meludah, marah. Mereka semua berada di Three Broomsticks saat itu terlihat menjadi satu-satunya tempat yang hangat sejak Hogsmeade ditutupi salju.

Blaise Zabini memberinya tatapan aneh namun juga geli. "Ini sangat aneh untukmu Draco. Apa kau akan melakukan itu sepanjang waktu?" Blase bertanya geli. Draco melototinya. "Diam, Zabini." Dia lalu kembali menatap Ron yang sekarang mencoba memegang tangan Hermione. Amarah membakar dirinya ketika Ron akhirnya dapat memegangnya dan mengaitkan jarinya dengan jari Hermione. Draco melihat Hermione melihat jalinan tangan mereka dan tersipu.

Blaise menonton kejadian ini dengan senang, itu adalah sesuatu yang menggelikan, melihat Draco cemburu pada Weasel. Dia sudah seperti ini sejak bulan lalu dan meskipun dia terus menyangkal fakta bahwa ia menyukai Granger, senyum kecil yang merayap di wajahnya ketika dia melihat Granger selalu membuat Blaise berpikir sebaliknya.

"Drake, apa kau menyukai Granger?" Blaise bertanya padanya. Draco berbalik cepat, menoleh ke arahnya dan berkata, "Tentu saja tidak! Bagaimana bisa kau mengatakan itu?" Draco merengut pada Blaise. Blaise tersenyum dan menjelaskannya pada Draco, "Kau mencoba mengajaknya keluar kemarin…"

"Ya, tapi itu hanya karena Kepala Sekolah McGonagall menginginkan kami berdiskusi tentang pesta dansa bulan depan." Draco membela diri. Blaise menyeringai, "Jadi kau harus mengajaknya keluar? Tidakkah kau bisa membicarakannya di perpustakaan atau tempat lain?"

Draco memelototinya, kesal. "Aku—hanya, TIDAK, AKU TIDAK MENYUKAINYA!" Draco menjelaskan padanya dengan nada yang tak bisa dibantah dan kembali melihat Ron dan Hermione.

Ron berdiri dan pergi memesan beberapa Butterbeer. Draco tersenyum gembira; ia menepuk bahu Blaise dan membisikkan rencana padanya. Blaise menyeringai, "Ini akan bagus sekali." Ron kembali dan duduk disamping Hermione.

"Dengar Hermione, aku menemukan mantra yang benar-benar keren untuk memanaskan Butterbeer dengan cepat, aku rasa ini berguna karena stok di asrama benar-benar dingin dan siapa yang ingin meminum Butterbeer dingin? Ayo lihat …" Ron menjentikkan pergelangan tangannya dan menggumamkan beberapa kata.

Draco dan Blaise menyeringai dan mengayunkan tongkat mereka bersama-sama.

Kemudian kerusuhan terjadi.

"AAAAAAHHHHHHH ROOOOOONNNNN! HENTIKAN ITU!" Hermione berteriak saat Butterbeer menyembur tak terkontrol ke arahnya. Siswa yang lain di dalam Three Broomsticks menjauh, mencoba untuk tidak terkena Butterbeer yang gila. Ron memucat dan memegang Butterbeer yang terus memandikan Hermione dengan minuman lezat. Three Broomsticks segera dibanjiri dengan cairan emas.

Blaise mengayunkan tongkatnya dan itu berhenti. Mereka menyembunyikan diri dengan keramaian dan terkikik lebar saat mereka menyaksikan wajah Hermione berubah menjadi merah kemudian ungu.

"RONALD WEASLEY!"

Mereka bertos ria satu sama lain dan segera kembali ke kastil.

Draco berlari pulang ke Asrama Ketua Murid dan duduk di sofa favoritnya, mengambil buku dan mulai membaca.

Beberapa saat kemudian, "Ugh, hanya – kita hanya akan berbicara nanti Ron." Draco mendengar Hermione berkata lalu mendengar Ron menjawab ,"Ok, Hermione. Aku benar-benar minta maaf". Draco menyeringai dan kembali ke bukunya, sebuah ekspresi polos terpampang di wajahnya. Dia mendengar lubang lukisan membuka dan menutup dan dia mendongak melihat Hermione Granger bersimbah Butterbeer dari kepala hingga kaki.

Draco menggigit bibirnya untuk menahan tawa. "Apa yang terjadi di Three Broomsticks?" Dia bertanya, lalu menahan untuk menendang dirinya sendiri. Hermione menyipitkan matanya dengan curiga, "Bagaimana kau tau kami ada di Three Broomsticks?"

Dia memikirkan sesuatu dengan cepat dan mengangkat bahu, "Kau basah karena Butterbeer, dan dimana lagi kau bisa berada?"

Mata Hermione masih menyipit saat dia terus menatap Draco. Dia mendekatinya perlahan dan melihatnya dari kepala hingga kaki.

"Kau ada hubungannya dengan ini. Ini sesuatu yang bisa kau lakukan." Hermione berkata selama menatap lurus ke arah matanya. Draco tersentak, setiap kali Hermione pasti melakukan itu sehingga tak seorangpun bisa berkata bohong padanya.

Draco menelan ludah dengan suara keras. "Te-Tentu saja tidak, Granger. Aku sudah ada disini sepanjang hari."

Hermione menyengir dan perlahan menurunkan wajahnya ke arah Draco. Draco menutup matanya saat dia takut terjadi hal yang buruk. Namun kemudian membuka matanya perlahan dan menemukan dirinya menatap mata yang paling memikat yang pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Wajah Hermione hanya beberapa inci dari wajahnya.

"Kau sudah disini sepanjang hari, eh?"

Draco mengangguk. Kemudian Hermione mengangkat jari dan menyentuh hidungnya.

"Lalu kenapa ada salju di hidungmu?" Hermione membersihkan hidungnya dan berlari kembali ke atas untuk berganti pakaian, meninggalkan Draco membeku di lengan kursinya.

Blaise memasuki asrama dan melihat Draco disana. Dia mengguncang untuk menyadarkannya dan bertanya apa yang terjadi.

"Granger." Draco menjawab.

Blaise meringis. "Oooh, dia tau?"

Draco tersenyum lebar. "Dia menyentuh hidungku." Blaise menatapnya keheranan. "Er, bisa ulangi?"

"Dia menyentuh hidungku, Zabini. Dia menyentuhnya."


Catatan asli dari sang author (copy paste aj ya :D) :

Yes, Draco, we know she just touched your nose. We just read it. Hello everybody! So Draco and Blaise successfully ruined Ron and Hermione's date and Hermione just touched Draco's nose. Will Draco finally admit that he likes Hermione Granger?


Balasan review kemarin (makasih ud bersedia mereview :D)

27won: makasih atas sarannya :) udah rata kanan kiri kah yg ini? riview lagi ya :D

Antares Malfoy: Yup, ceritanya lucu banget, apalagi yg versi Englishnya. OOC sih kayaknya. Hahaa. Review lagi ya, makasih :D

megu takuma: Ini udah update chapter terbarunya. Gimana? Baca aja versi aslinya, authornya pasti seneng ada yg suka :D review lagi y :)

lianalg: Kyaa review pertama, makasih ya. Setuju! Mungkin blm diceritain gmn awal mulanya kali ya, jadi terlihat cepet, tapi di chapter ini udh diceritain sama Blaise kalo Draco ud kayak gitu sejak sebulan lalu :D review lagi ya :)


Makasih udah mau baca lagi. review lagi ya! :)

Chapter ketiga segera menyusul kalo ud ditranslate, makasih :)